Wahai Alloh … pada akhirnya semua kembali kepada Engkau sebagaimana yang telah Engkau firmankan. Dan tidak ada yang dapat memahami kecuali Engkau Yang Maha Pencipta. Sekarang tubuh si gila yang fakir ini akan dapat menikmati tidurnya di atas lantai berdebu, yang suci lagi mensucikan.

O Allah ... in the end it all back to You, as You have spoken. And no one can understand, except You, O the Creator. Now the body of the indigent insane, will be able to enjoy sleeping on the dusty floor, which is pure and purifies.

Translator

24 Juni 2014

Islam itu bukan Arab



Menurut pemahaman saya Islam itu bukan Arab, sehingga untuk islami tidak perlu menjadi orang Arab. Nabi Muhammad SAW sendiri mengatakan bahwa pada awalnya Islam itu asing di tempat kelahirannya, banyak menyalahi budaya dan kepercayaan masyarakat Arab saat itu. Hal ini menunjukan bahwa Islam sama sekali tidak berakar dari Arab, tetapi bersumber dari Allah SWT.

Budaya Islam merupakan turunan dari atau sisi manusia yang berinteraksi dengan ajaran orisinil Allah SWT yang keorsinilannya muncul tanpa merujuk sama sekali kepada pemikiran manusia. Apalagi Islam diturunkan sebagai ajaran universal, yang karenanya Islam flexible terhadap budaya masyarakat manapun, bersifat meluruskan agar sejalan dengan ajaran Tuhan.

Islam sebagaimana agama lainnya mencelupi budaya manusia. Kalau ada usaha mengislamikan budaya, maka usaha tersebut bukan menjadikan budayanya bergeser menjadi serba Arab tetapi menjadi lurus sejalan dengan ajaran Islam. Namun usaha ini akan membawa kepada akulturasi, sehingga sangat wajar jika bahasa dan ajaran agama terserap di dalam budaya. Serapan ini tercermin dalam kata serapan asing, pakaian, prosesi, dls.

Sangat wajar jika al-Quran yang menggunakan bahasa Arab terserap dalam bahasa percakapan sehari-hari muslim dan tetangganya di berbagai belahan dunia, terlebih jika kata itu tidak ada padanan katanya dalam kata yang berkembang di tempatnya diamalkan. Bahkan nama Tuhan YME disebut berbeda saat nama-Nya terucap dalam berbagai budaya manusia. Akulturasi ini merupakan proses pemilihan dan peningkatan, di mana manusia dapat sampai kepada tingkat budaya yang sangat maju melalui akulturasi. Semangat fasis yang menganggap pencapaian budaya bisa dicapai dengan hanya mengembangkan budaya sendiri dan mengisolasi dari kebaikan atau keunggulan budaya asing hanya akan menciptakan manusia asosial, lupa dari kenyataan bahwa manusia itu satu sehingga hakikat budayanya pun satu, dan diciptakan berbangsa-bangsa dan berbudaya agar saling mengenal dan belajar untuk melengkapi diri, melengkapi budayanya.

Islam mengajarkan kepada ummat melalu lisan Nabi Muhammad SAW untuk mempelajari sesuatu hingga negeri Cina, sehingga umat Islam tidak menutup diri dari budaya yang sejalan atau dapat lurus dengan ajaran Islam. Allah SWT tidak mengharamkan budaya, akulturasi budaya, selama budaya tersebut sejalan dan tidak menyalahi ajaran-Nya.

Budaya dibangun oleh manusia dan sangat dipengaruhi dan bahkan dibentuk oleh pemikiran, seni, atau keyakinan mereka. Oleh karenanya hal yang sangat wajar apabila Indonesia mewarisi budaya yang sangat beragam termasuk mewarisi hasil akulturasi budaya yang sangat banyak, apakah akulturasi itu sebagai usaha memperkaya budaya yang ada atau sebagai usaha hidup bersama budaya yang ada. Ini merupakan suatu karunia. 

Yang pasti, manusia Indonesia memiliki kehendak memilih dalam usahanya tersebut, berdasarkan pemikirannya, sehingga boleh jadi tidak semua bagian dari budaya itu menyatu atau bercampur dengan budayanya. Oleh karenanya hal yang wajar apabila sebagian kelompok menolak dan menerima sebagian dari budaya kelompok lain, seperti misalnya menolak penyerapan bahasa arab ke dalam bahasa sehari-hari dan menerima penyerapan pakaian barat dalam pekerjaan sehari-hari. 

Walau demikian, setiap manusia Indonesia hidup dalam semangat bhineka tunggal ika, sikap toleransi yang menjadi komitmen hidup berbangsa, sehingga sikap penolakan tersebut tidak boleh mencegah kecuali menyalahi Pancasila dan khususnya ketuhanan YME yang menjadi dasar berbangsa dan bernegara. Dalam konteks penyerapan bahasa Arab misalnya, karena tidak menyalahi Pancasila maka sikap penolakan tidak boleh mencegah, dan cukup penolakan itu di dalam dirinya saja. Mencegah dalam bentuk apapun baik secara langsung atau tidak langsung, yang dinyatakan di ruang publik, sama saja menyalahi prinsip Bhineka Tunggal Ika, menyalahi Pancasila, dan merupkan wujud praktik rasial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kita sadar, budaya ini terus berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia, dan perkembangan budaya Indonesia ini sejatinya tidak akan menyalahi Pancasila. Budaya Pancasila inilah yang menjadi jati diri budaya Indonesia. Namun sayangnya, sebagian dari bangsa kita, mempersoalkan bagian budaya yang sama sekali tidak menyalahi Pancasila seperti bahasa yang plural namun melupakan budaya yang menyalahi Pancasila seperti sekulerisme, plurasilme, dan liberalisme. Bahasa "semakin arab semakin islami" misalnya menurut pemahaman saya memiliki dua kesalahan, pertama karena penyerapan bahasa yang bersumber dari apa yang dikonsumsi bangsa (baik kitab suci, karya sastra, dls) merupakan hal yang terakomodasi dalam kehidupan plural / bhineka tunggal ika, dan kedua karena penggunaan bahasa yang bersumber dari apa yang dikonsumsi bangsa merupakan hak asasi yang tidak menyalahi Pancasila dan bahkan dilindungi UUD 45.

10 Juni 2014

Materi dan Platform Mata Pelajaran Teknologi Informasi

http://2.bp.blogspot.com/-hxqNLj3NPjI/UXgDRLf9Z6I/AAAAAAAAAqM/dRHMO3_P4ak/s400/Pelatihan+Kompetensi+KPTIK.jpg

Jika kurikulum yang mengandung matpel (mata pelajaran) TI (teknologi informasi) ini berlaku umum, tidak hanya Sekolah Menengah Kejuruan Informatika, maka matpel TI ini harus menyediakan keahlian TI dasar yang diperlukan oleh umumnya pengguna, yang diajarkan sistematis dari PC component hingga cloud Apps (kami sering menyebutnya dengan c2c). Tidak hanya membuat mereka menjadi melek TI saja, tetapi juga cerdas TI. Mereka diajarkan cara pemanfaatan TI yang cerdas (efisien dan efektif) dari lapisan component hingga cloud dari berbagai sudut pandang: hukum, agama, psikologi, sosiologi, kesehatan, dls. Setelah melek dan cerdas TI dasar itu disampaikan, baru masuk ke aplikasi sesuai bidang studi atau rumpun yang dipilih untuk menciptakan kapasitas. Tujuan penciptaan kapasitas adalah siswa mendapatkan manfaat dari TI dalam bidang yang sedang ditekuninya. Akhir dari semuanya, diharapkan bukan hanya mendapat manfaat dari TI dan memutuskan dengan penuh kesadaran dari bahaya TI, tetapi mereka mampu berbagi konten sesuai bidang masing-masing di internet dan memanfaatkan konten untuk kesejahteraan mereka. Adakah kurikulum dari SD sampai SMA yang mengakomodasi itu?


Jangan lupa bahwa TI ini bukan hanya kepentingan mereka yang berada dalam bidang informatika saja, dan tidak setiap orang perlu untuk menjadi pengembang platform TI untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Mungkin bagi siswa elektro dan informatika membuat platform TI itu membawa kepada kesejahteraan, tetapi bagi siswa di luar bidang itu, mereka cukup menjadi pengguna akhir yang memanfaatkan platform TI jadi dan tidak perlu jadi pengguna spesialis yang membuat platform TI. Terkait idealisme menggunakan platform TI sendiri, sungguh sangat luar biasa. Tetapi kita juga harus realistis bahwa tidak semua platform TI yang dibutuhkan (produk dalam negeri) itu tersedia, baik yang berbayar ataupun FOSS. Jadi fokus terpenting adalah pada pengetahuan dan keahlian apa yang harus diberikan. Pemilihan platform TI itu urusan kedua.

Menurut yang saya fahami sebab pemilihan platform TI itu dua, yakni kebutuhan dan gaya hidup. Kalau fungsi suatu platform TIK memadai, maka yang berorientasi kebutuhan pasti mencukupkan diri dengan platform TI tersebut. Tetapi kalau bicara gaya hidup, yang dilihat bukan hanya fungsi tetapi dorongan-dorongan subjektif. Dorongan-dorongan itu manusiawi sehingga gaya hidup ini merupakan HAM (hak asasi manusia yang harus dihormati). Dengan demikian kebebasan memilih platform TI juga HAM yang harus diindahkan, selama pemilihannya dilakukan secara cerdas, tidak merugikan diri sendiri dan orang banyak. Menurut survei Android itu digemari anak muda, sementara blackberry itu digemari kalangan mapan. Biarkan saja kondisinya seperti itu, mengalir begitu saja, karena setiap platform TI menciptakan segmen gaya hidupnya sendiri. Tidak perlu saling ganggu.

http://boulderes.com/images/Services/Embedded/cross_platform.jpg

Pada akhirnya kebebasan memilih platform TIK yang merupakan HAM ini berujung pada kata sederhana yakni "pokoknya bisa dipake", soalnya kalau tidak terpakai otomatis ditinggalkan bukan?  Frasa "bisa digunakan" maknanya sangat dalam, meliputi mereka yang berorientasi kebutuhan dan juga gaya hidup. Jadi frasa itu merupakan frasa umum mewakili semua orang dengan platform TI yang dipilihnya. Seseorang boleh jadi bisa menggunakan suatu sistem operasi tetapi tidak bisa menerima jika harus meninggalkan kenyamanan sistem operasi lainnya. Jadi kata "bisa" ini juga bersifat umum. Oleh karenanya cara sekolah memilihnya adalah "yang bisa digunakan siswa atau yang bisa digunakan dalam materi yang sedang digunakan". Tidak perlu dilakukan pengaturan harus platform A, B, atau C. Yang suka menggunakan platform berbayar dalam sistem pengajarannya silahkan, yang tidak suka juga silahkan.

(Dikutip dari komentar saya dalam diskusi malam bersama bapak Michael S. Sunggiardi di grup Facebook Asosiasi Guru TIK dan KKPI Nasional)