Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

08 Agustus 2016

Gembel di Akhirat karena Gila di Dunia


Gila itu kondisi tdk mampunya akal menolak dorongan jiwa. Jika jiwanya terdorong kuat utk berjalan ke arah tertentu, akalnya tdk bisa digunakan utk menolak dorongannya walau banyaknya godaan yg menariknya keluar dari jalan tsb. Cinta buta salah satu contoh gila, di mana akal tdk bisa digunakan utk menolak dorongan cinta.

Org yg menyepelekan solat itu akan gembel di akherat nanti. Orang yg menyepelekan solat itu gila di dunia ini karena tdk mampu menggunakan akalnya utk memahami pahitnya konsekuensi kegembelannya di akhirat kelak.

Gembel itu melarat. Orang yg menyia-nyiakan salat itu akan melarat di akhirat, karena masa depan seseorang itu di antaranya bergantung kepada baik dan buruk solatnya. Seseorang yg sudah tahu pentingnya solat tetapi menyia-nyiakannya, ngerinya akibat menyia-nyiakan solat di akhirat namun tidak membuat solatnya menjadi baik, adalah pemilik akal dan nurani yg lemah. Tidak mampu melawan kecenderungan yg menyalahi akal dan nurani merupakan tanda kegilaan. 

Banyak orang gila seperti itu di dunia yg kelak di akhirat menyesal dan meminta kembali ke dunia utk melawan kegilaannya tsb. Tetapi Allah telah membuat penyesalan seperti itu tdk berguna lagi, karena hidup di dunia tdk ada dua kalinya. 

07 Agustus 2016

Satu Slide untuk Satu Pengetahuan

Dalam penyiapan slide ini saya selalu mengamalkan ajaran guru saya Dr Husni Sastramiharja dalam kesempatan kuliah dulu di ITB untuk dapat menyampaikan banyak hal hanya dengan menggunakan slide minimalis. Beliau dalam kesempatan pembelajaran tatap muka di kelas memberi contoh dengan membahas topik berbeda hanya dengan menggunakan slide yang sama selama lebih dari satu pertemuan. Dari pengajaran beliau saya faham bahwa bakat yang saya dapatkan pada saat SMA dulu bisa digunakan untuk mengamalkan ajaran beliau, yakni membuat model rancangan organisasi yang membahas kelengkapan organisasi hanya dalam satu gambar saja. 

Sejak mendapatkan pengajaran tersebut saya membiasakan diri untuk menyampaikan satu tema pengetahuan menggunakan bahasa visual hanya satu slide saja. Memodelkan pengetahuan ini juga terbantu oleh pengetahuan dan keterampilan pemodelan analisis dan desain yang diperoleh saat kuliah strata satu Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ajaran Dr Husni "Satu bab tesis satu slide" saya ajarkan kembali kepada mahasiswa bimbingan, sehingga saya selalu protes jika mahasiswa bimbingan menyalin kalimat yang ada dalam laporan Tugas Akhir ke slide presentasi mereka.  

Slide bab I Tesis

06 Agustus 2016

Memisahkan Lagu Format mp3 yang Bersatu

Mungkin anda pernah mendapatkan berkas mp3 yang berisi sejumlah lagu dalam satu album. Adakalanya anda ingin memutar sebagian lagu saja dan tidak ingin mendengarkan satu album. Untuk mewujudkan keinginan tersebut anda memerlukan alat pemotong berkas mp3. Ada dua pendekatan yang disediakan oleh perangkat lunak aplikasi pemotong mp3, yakni manual di mana anda memotong-motong berkas secara manual, dan otomatis di mana aplikasi memotongkan untuk anda berdasarkan kondisi tertentu. Di antara pernagkat lunak aplikasi yang tersedia untuk memotong berkas mp3 dengan dua pendekatan tersebut adalah mp3splt-gtk yang dapat diunduh di Sourceforce. Apabila aplikasinya sudah tidak tersedia, anda bisa mengunduhnya dari repository saya pada folder Software | Multimedia.

Setelah anda mengunduh dan menjalankan aplikasinya, masuklah ke tab Batch & automatic split, lalu tambahkan berkas mp3 nya, dan pilih Silence di mana aplikasi akan memotong otomatis begitu terdeteksi threshold level senyap yang secara default ditentukan -48 dB. Proses pemotongan otomatis terjadi setelah anda menekan tombol Batch split !. 


Hasil pemotingan berkasnya seperti tampak pada gambar berikut ini :


Mungkin anda ingin mengubah format namanya untuk semua berkas yang dihasilkan. Cara umumnya adalah dengan cara manusia, di mana satu persatu anda ubah berkas dengan menggunakan fungsi rename yang disediakan pada Windows Ekspoler. Namun cara tersebut lumayan memakan waktu apabila jumlah berkasnya banyak. Cara termudah adalah dengan menggunakan aplikasi yang dapat merubah nama sejumlah berkas dalam format tertentu secara otomatis. Aplikasi apakah itu, ikuti kiriman selanjutnya. 

05 Agustus 2016

Talk show Digital Literasi dalam Pameran Buku Bapusida Garut


Mendadak sekali Blogger Garut - Ipan Setiawan memberi tahu kalau pelaksanaan talk show tentang Digital Literacy diundurkan jadi selepas salat Jum'at tanggal 5 Agustus 2016. Presentasi pendukung talk show belum disiapkan. Tapi untunglah sekarang ini semua konten yang diperlukan sudah tersedia di internet yang bisa ditemukan dengan menggunakan mesin pencari seperti Google. Dengan wasilah Google konten tersebut pun akhirnya ditemukan. Saya berkata di dalam hati, cukup satu slide saja untuk menghabiskan waktu selama dua jam yang disediakan oleh panitia. 


Kegiatan bertema Digital Literacy ini sesuai dengan tanggung jawab Ipan Setiawan sebagai ketua Perhimpunan Pengguna TIK Komunitas TIK Garut yang harus meningkatkan kapasitas pengguna TIK sehingga menjadi cerdas, kreatif, dan produktif. Posisi Ipan Setiawan ini sesuai dengan hobinya di dunia Blogger yang tentu saja sarat pengalaman terkait pemanfaatan konten, yakni luaran perangkat lunak aplikasi.  

Sedianya narasumber dalam Talk Show tersebut saya dan Kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut, Drs Dikdik Hendrajaya, M.Sc. Hanya saja beliau berhalangan hadir sehingga digantikan oleh kepala TPDE Diskominfo Garut, Drs Ajid yang juga merupakan penanggung jawab program pendampingan Komunitas TIK yang ada di Garut. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan apresiasi kepada Diskominfo Garut yang telah menyediakan 16 titik internet hotspot gratis yang tersebar di beberapa kecamatan di Garut sebagai usaha memenuhi kebutuhan akses internet yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut sebagai Hak Asasi Manusia. Saya menjelaskan bahwa kunci Digital Literacy adalah Melek TIK (Teknologi Infomasi dan Komunikasi) dan Melek Informasi. Melek TIK adalah kondisi seseorang yang telah mampu menggunakan perangkat TIK, sementara melek informasi adalah kondisi seseorang yang telah mampu memenuhi kebutuhan informasinya dengan menggunakan perangkat TIK. Digital literacy atau melek digital memberi arah kepada para pengguna TIK untuk berancak dari peran konsumen konten menjadi produsen konten yang memperoleh keuntungan profit dari distribusi konten di internet. 

27 Juli 2016

Temu Ilmiah Nasional Peneliti Kemkominfo 2016


Temu Ilmiah Nasional Peneliti 2016 yang diselenggarakan oleh Kemkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia merupakan kegiatan diseminasi oral kedua yang saya ikuti setelah e-II (e-Indonesia Initiative) ITB tahun lalu. Apabila dalam Konferensi e-II saya mengangkat pemodelan analisis Sistem Informasi Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi, dalam Temu Ilmiah Nasional Peneliti 2016 saya menjelaskan integrasi layanan Relawan TI (Teknologi Informasi) dengan layanan Telecenter sekaligus menjelaskan bagaimana Saka (Satuan Karya Pramuka) Informatika sebagai organisasi Relawan TI dapat mengisi layanan relawan TI di Telecenter yang dikelola oleh BUM Desa. Kegiatan Kemkominfo ini saya ikuti setelah mendapatkan surat undangan presentasi paper pada tanggal 21 Juli 2016. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa saya berhasil lolos seleksi berdasarkan penilaian tim yang beranggotakan Prof Dr.Ing Ir. Kalamullah Ramli, M.Eng, Prof. Gati Gayatri, M.A., Dr. Aswin Sasongko, M.Sc, Dr. Onno W. Purbo, Dr. Riant Nugroho, Dr. Irwansyah, M.A., dan M. Shauqie Azar, MPP.

Perjalanan menuju Bogor tanggal 27 Juli 2016 tidaklah mudah. Namun saya tidak ingin melewatkan kesempatan unik ini. Saya pun meminta bantuan dana kepada Dr Hilmi Aulawi, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Alhamdulillah beliau mendukung sehingga saya dapat berangkat pada hari Rabu selepas salat Subuh dalam kondisi lemes karena sakit. Sebagian dana dari kampus saya belikan obat-obatan yang diperlukan. Dan benar saja, setelah menempuh tiga jam perjalanan, saya memutuskan untuk beristirahat karena nafas terasa sesak dan sangat ngantuk sekali. Hari itu saya memutuskan untuk selalu berhenti per tiga jam. 

Di kesempatan perhentian terakhir saya memutuskan untuk mengisi perut dulu di rumah makan di daerah Cipanas Cianjur. Saat menyantap makanan ada telpon dari pak Rahmat yang menginformasikan sedang berada di Garut bersama Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo - ibu Septriana Tangkari dalam kegiatan dinas di Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) Garut. Sayang sekali saya tidak bisa menemani. Walau demikian saya ingin ada Relawan TIK Garut yang mendampingi rombongan Direktorat yang membina Relawan TIK Indonesia tersebut. Oleh karenanya saya kirimkan nomor WA (Whatsapp) Rikza (PLH), Leni Fitriani (Bendahara), dan Ridwan (Sekretaris). Saya titip permohonan maaf tidak bisa silaturahmi di Garut melalui WA nya Sekretaris Diskominfo Garut, pak Diar Antadireja. 

Ini adalah perjalanan kali pertama saya dari Garut menuju Bogor melalui Cianjur. Alhamdulillah dengan bantuan Google Map saya pun sampai ke lokasi kegiatan, Hotel Aston menjelang tengah siang. Di lokasi saya melakukan registrasi lalu duduk bersama peserta yg juga baru datang. Jantung ini terasa berdebar-debar karena kelelahan. Istri saya melalui telpon menyarankan agar tubuh ini dibaluri minyak kayu putih. Segera saya menuju toilet dan mengikuti saran istri saya tersebut. Setelah itu saya menunggu waktu pembukaan dengan duduk santai di kursi sofa agar bisa istirahat. 

Di lokasi saya lihat ada pak Onno W. Purbo. Dalam kesempatan makan siang saya menyapa beliau, teman perjalanan pulang dari Rapat Kerja Nasional Relawan TIK Indonesia di Menado tahun lalu, dan berbincang tentang materi yg akan disampaikan dalam kegiatan IT Camp di Pemalang. Kami berdua diminta oleh panitia IT Camp utk memberi materi sesuai pengalaman masing-masing. 

Setelah selesai makan acara pembukaan pun digelar oleh panitia. Nampak banyak wajah yang tidak asing bagi saya. Saya melihat Prof Gati Gayatri yang pernah saya temui saat kegiatan Sertifikasi Profesional di Garut. Ada juga Dr Aswin Sasongko yang pernah saya temui saat didaulat oleh Kemkominfo untuk menyerahkan laporan kegiatan Korea IT Volunteers mewakili Relawan TIK Indonesia di Jakarta tahun 2012. Saya melihat ada Prof Dr Kalamullah Ramli yang diperkenalkan oleh ibu Mariam Barata di Surabaya saat mengisi seminar di Rapat Kerja Nasional Relawan TIK Indonesia. 

Akhirnya peserta yang berjumlah 30 orang dikelompokan menjadi tiga. Saya masuk di kelompok 3 yang diuji oleh Prof Gati dan Dr Riant. Sebelum mengikuti acara saya melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar dulu karena kegiatan ini akan berakhir menjelang Maghrib. Karena itu saya kesiangan dan tidak mengikuti sesi perkenalan. Urutan saya nomor 10, di penghujung acara. Semakin sore kondisi tubuh semakin lelah, seakan detak jantung ini tidak bisa dirasakan. Sempat agak pusing, terlebih AC di ruangan itu sangat dingin sekali. 

Sebagai peserta paling akhir, saya mendapatkan waktu sisa. Sebisa mungkin saya sampaikan 4 slide itu selama 10 menit. Saya merasa waktunya terlalu singkat untuk menjelaskan kenapa riset tersebut penting. Saya hanya bisa menjelaskan relasi riset dengan riset sebelumnya dan sejumlah fakta di Garut yang menyebabkan munculnya integrasi layanan relawan TI dengan Telecenter. Tapi ya sudahlah, setidaknya saya sudah menyerahkan artikelnya sehingga Kemkominfo bisa mempelajarinya lagi lebih dalam. 

Dalam kesempatan tanya jawab, Prof Gati menanyakan apakah konsep yang saya buat ini sudah diterapkan. Saya tidak punya waktu untuk menjelaskan bahwa riset ini dibatasi sampai perancangan. Dalam waktu singkat tersebut saya hanya berhasil menjelaskan jika penerapannya sedang akan dimulai bulan September 2016. Beliau membutuhkan bukti dampak penerapannya untuk menilai riset ini berhasil atau tidak, sesuatu yang tidak bisa saya berikan karena waktu pembuktiannya tidak cukup hanya satu tahun. 

Selepas acara, saat bersalaman dengan Dr Riant, beliau memuji artikel yg saya buat. Alhamdulillah, ternyata hasil pekerjaan penelitian semester genap 2015/2016 tersebut bermanfaat, walau sekedar ungkapan apresiasi dari Dr Riant tsb. Sebelumnya beliau mengatakan kalau riset ini harus dinikmati, periset hrs bisa meyakinkan dan mampu merekomendasikan atau memberi arahan berdasarkan hasil riset. 

Selama dua malam di lokasi saya masih didera sakit. Saya coba kurangi sakitnya dengan senantiasa mengkonsumsi jamu Tolak Angin dan membaluri tubuh dengan minyak kayu putih. Acaranya sangat padat sekali sehingga saya hampir tidak bisa istirahat. 

Akhirnya saya pun bisa pulang. Tidak lupa saya beli minuman dalam kemasan yang mengandung Oksigen ekstra. Minuman tersebut berhasil membuat tubuh ini lumayan bugar di hari pertama. Sebelum keluar dari Bogor saya antar dulu teman yang juga peserta Temu Ilmiah ke Statsiun Kereta Api. Banyak obrolan dalam perjalanan ke Statsiun, mulai dari radio komunitas hingga ketangguhan istri. Setelah itu saya pun pulang menempuh perjalanan selama enam jam. Sempat istirahat dulu di Puncak Cianjur untuk menyantap gule Domba. 

Sesampainya di rumah, saya bilang ke istri kalau pernafasan ini bermasalah hingga sekarang. Saya mengajaknya untuk mencari Dokter THT. Sebelum berangkat ke Bogor sebenarnya saya sudah diperiksa oleh Dokter keluarga dan diberikan surat rujukan ke Dokter THT. Dokter Spesialis THT, Dr Gunawan mengatakan bahwa saya mengalami Rakhitis Kronis yang timbul karena alergi turunan. Beliau memberi saya obat yang membuat saya tidak bisa tidur pulas selama satu minggu. Pada awalnya sempat kaget karena reaksi obatnya seperti itu. Pada hari pertama saya tidur selama setengah jam lalu terbangun, begitu seterusnya hingga adzan subuh berkumandang. Laa hawla wa laa quwata illa billah. 

Oh iya lupa, di hari kedua saya bertemu dengan ibu Mariam Barata. Beliau ini yg jasanya selalu dikenang oleh pegiat TIK Garut seperti saya krn telah membukakan kesempatan bagi anak muda Garut yg diwakili oleh Muhammad Rikza Nashrulloh utk melaksanakan kegiatan relawan TIK Indonesia yg pertama di luar negeri, mempercayakan kegiatan internasional relawan TI Korea Selatan di Garut, yg telah membuat Sekolah Tinggi Teknologi Garut didaulat oleh media sebagai akar Relawan TIK di Garut, dan yg percaya konsep penjenjangan dan sertifikasi relawan TIK Garut dapat diterapkan secara Nasional yg mana konsep tsb telah menjadi bagian dari roadmap penelitian saya dari tahun 2012 hingga sekarang. Barakallah.


Slide dan Artikel Presentasi di Bogor tgl 28 Juli 2016 dalam kegiatan Temu Ilmiah Nasional Peneliti, Puslitbang APTIKA dan IKP, Badan Litbang SDM Kemkominfo RI, "Memfungsikan Telecenter sebagai Pusat Pembangunan Ekonomi Digital di Perdesaan dengan Melibatkan Relawan Teknologi Informasi". Barangkali bermanfaat.