Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

20 Januari 2017

Keberadaan Forum Masyarakat Informasi di Garut



Informasi adalah data berarti dan berguna yang dihasilkan oleh proses tertentu dan disampaikan kepada pengguna tertentu melalui proses memberi tahu. Proses yang meliputi pengumpulan, pemprosesan, penyimpanan, dan penyebaran sekarang ini dilakukan dengan menggunakan bantuan TI (Teknologi informasi), yakni perangkat lunak, keras, jaringan, dan data. Lebih luas lagi, segala sesuatu yang dihasilkan dengan menggunakan perangkat TIK disebut konten. TI juga difahami sebagai TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), di mana konvergensi komputer dan jaringan memungkinkan para pengguna untuk saling  terhubung dan berbagi konten atau sumber daya lainnya.  

Masyarakat informasi adalah budaya baru yang struktur sosialnya berdasarkan kepada kebebasan dalam akses, pembuatan, distribusi, dan pemanfaatan informasi dengan TIK (Teknologi informasi dan komunikasi). Kebebasan tersebut mendorong kreatifitas intelektual di mana informasi sebagai produk kreatifnya menjadi sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan oleh masyarakat global. Oleh karenanya TIK sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang merupakan alat pembangunan ekonomi dan sosial, mesin pertumbuhan, pilar utama bangunan masyarakat dan ekonomi basis pengetahuan global, serta kesempatan bagi negara untuk membebaskan dirinya dari tirani geografi. 

Masyarakat Garut telah menginsyafi pentingnya budaya baru tersebut untuk peningkatan mutu layanan dan taraf kesejahteraan masyarakat Garut. Hal ini ditunjukan dengan diselenggarakannya Forum Masyarakat Informasi Garut sejak tanggal 16 Januari 2012 yang melibatkan Quadruple Helix (Perguruan Tinggi selaku Konseptor, Perusahaan selaku Enabler, Pemerintah selaku Regulator, dan Masyarakat selaku Akselerator). Gagasan yang muncul saat itu adalah berbagi sumber daya antar lembaga melalui Metro Area Network milik Perusahaan Provider Internet. Forum komunikasi lanjutannya diselenggarakan setelah akhir periode kerjasama antar lembaga, yakni pada tanggal 28 Oktober 2014. Saat itu forumnya dilaksankaan dalam Konferensi Komunitas TIK Garut yang dihadiri sejumlah Komunitas TIK se Garut dengan fokus optimalisasi partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat informasi. Saat itu digagas agenda tahunan bersama serta usaha membangun Kelompok Informasi Masyarakat serta Relawan TIK di sekolah dalam wujud Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi. 


Di antara agenda tahunan bersama yang telah dilaksanakan adalah Olimpiade Komunitas TIK se Garut periode kedua pada tahun 2015, dan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Informatika Garut pada tahun 2016. Dalam dua kegiatan tersebut antar lembaga berbagai peran dan sumber daya. Agenda lain yang menjadi model terbaik kerjasama antar lembaga karena semua unsur Quadruple Helix terlibat adalah Hackathon se Priangan Timur tahun 2015.  Dengan demikian Forum Masyarakat Informasi Garut ini telah berkembang selama empat tahun dari sekedar kesadaran menjadi semacam tindakan yang dilakukan bersama-sama. Bahkan Pemerintah kabupaten Garut telah menunjukan apresiasinya terhadap elemen masyarakat informasi Garut yang berprestasi, mulai dari tropi bergilir Bupati Garut untuk juara umum Olimpiade Komunitas TIK se Garut, hingga sertifikat penghargaan Bupati Garut dan kepala Diskominfo Garut terhadap Komunitas TIK di Garut yang mendapat predikat terbaik di Garut dan Jawa Barat. 




19 Januari 2017

Pembentukan Kepanitiaan Antar Lembaga Olimpiade TIK Garut 2017


Pagi itu saya menerima telpone dari Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Beliau menanyakan waktu pertemuan untuk pembahasan persiapan kegiatan TIK yang telah dibicarakan pada hari-hari sebelumnya. Saya sampaikan kemungkinan sekitar jam 11 siang, karena pagi ini saya harus hadir di kelas ujian akhir semester matakuliah yang saya ampu. Dan pada pukul 11 kurang sekian menit saya baru bisa berangkat dengan Leni Fitriani mewakili Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan Sri Rahayu mewakili Komunitas TIK Garut. Kehadiran kami mewakili lembaga yang telah saling menjalin kerjasama secara formal sejak tahun 2012.  

Setelah mencari lokasi baru kantor Dinasnya, akhirnya saya merasa yakin telah berada di kantor Dinas tersebut setelah melihat sosok tinggi besar yang hanya satu-satunya di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, yakni pak Diar Cahdiar Antadireja yang menghubungi saya pagi tadi. Kami disambut hangat oleh beliau seperti biasanya dan dipersilahkan masuk ke ruang kantor beliau. 

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh seluruh kepala bidang di lingkungan Dinas tersebut, pak Diar menyampaikan harapannya bahwa ke depan hubungan antara Relawan / Komunitas TIK Garut dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut harus selalu cair dan tidak masing-masing. Bahkan kalau perlu beliau menjadi bagian dari Relawan TIK Indonesia di Garut. Model hubungan idealnya adalah seperti dalam kesempatan kegiatan bersama Hackathon Merdeka dengan Kode se Priangan Timur yang kepanitiaannya diisi oleh Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan, dan Masyarakat. 



Hal yang disampaikan oleh pak Sekretaris Dinas tentu saja diinginkan oleh Relawan TIK Indonesia cabang Garut. Sebagai wakil Relawan TIK Indonesia di Garut saya telah berusaha mendorong agenda bersama dalam Konferensi Komunitas TIK Garut kedua, membuat model kegiatan yang dilaksanakan bersama seperti Olimpiade Komunitas TIK serta Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi 2016. Saya mendorong personel Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk duduk dalam kepengurusan Relawan TIK Indonesia cabang Garut dan Komunitas TIK Garut, dan memindahkan sekretariat Relawan TIK Indonesia cabang Garut dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut ke Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. 

Pertemuan ini merupakan pelaksanaan agenda bersama Olimpiade Komunitas TIK yang diminta oleh pak Dikdik Hendrajaya dalam masa kepemimpinannya di Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dulu agar dapat dilaksanakan dalam ranga Milad Garut. Sebelumnya kegiatan ini dilaksanakan setiap akhir tahun dalam rangka Milad Relawan TIK Garut. Pada tahun 2016 silam pak Dikdik Hendrajaya berhasil mewujudkan keinginan Komunitas TIK Garut agar Olimpiade ini memperebutkan Tropi bergilir Bupati Garut. Oleh sebab itu Olimpiade Komunitas TIK Garut yang ketiga ini juga isya Allah akan memperebutkan Tropi bergilir Bupati Garut. 


Olimpiade ini dibagi menjadi tiga kelompok lomba, yakni informasi, teknologi informasi, dan pengguna. e-Garut yang merupakan lomba Hackathon masuk dalam kelompok lomba teknologi informasi. Sebagaimana Hackathon, lomba ini diikuti oleh tim untuk membuat aplikasi skala kecil yang ditentukan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dalam rentang waktu pengembangan selama satu bulan sesuai rekomendasi dari dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Lomba tersebut menguji kemampuan rekayasa perangkat lunak. Selain itu saya mewakili Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut merekomendasikan kategori kedua, yakni lomba untuk aplikasi dengan fungsi yang lebih banyak dan dikerjakan lebih dari satu bulan dengan pemanfaatan bebas di SKPD manapun. Hal ini untuk membuka peluang keluaran dari kegiatan magang dan penelitian untuk diserap oleh Pemerintah Garut. Syarat pesertanya adalah relawan, sehingga aplikasi yang dibuat dengan swadaya sendiri oleh peserta akan diberikan kepada Pemerintah Garut secara sukarela demi amal.  

Olimpiade juga akan melanjutkan kegiatan lomba-lomba bidang teknologi informasi dan komunikasi yang telah diselenggarakan sebelumnya baik oleh Komunitas TIK Garut ataupun Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Seperti lomba Blog dan Poster yang akan masuk kelompok lomba informasi, perakitan komputer dan jaringan yang akan masuk kelompok lomba teknologi informasi, serta penyuluh literasi digital yang akan masuk kelompok lomba pengguna. Kandidat lomba yang akan diselenggarakan oleh panitia adalah sebagai berikut : 
  1. Kelompok Lomba Informasi, meliputi : Blog, Vlog, Poster, dan Video untuk kampanye "Demi Kamu" dan lainnya.
  2. Kelompok Lomba Teknologi Informasi, meliputi : e-Garut untuk kategori aplikasi ditentukan dan bebas, Perakitan Personal Computer dan Jaringan
  3. Kelompok Lomba Pengguna, meliputi Penyuluh "Demi Kamu" dan Cepat Tepat Teknologi Informasi dan Komunikasi Online
Selain lomba, saya mengusulkan dilaksanakannya Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi yang fokus pada Smart Villages. Pemateri dan instruktur sebagaimana biasa akan diisi oleh Akademisi, Masyarakat Pegiat Desa Cerdas, dan Pemerintahan. 

Bentuk kepanitian yang disepakati adalah Kepanitiaan Antar Lembaga yang diisi oleh perwakilan dari Pemerintah, Perusahaan, Perguruan Tinggi, dan Komunitas (Relawan / Komunitas TIK Garut). Saya mengusulkan agar ketua panitia untuk Olimpiade kali ini adalah dari Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut atau Telkom. Karena baik Sekolah Tinggi Teknologi Garut ataupun Relawan / Komunitas TIK Garut telah sering mengisi jabatan ketua pelaksana dalam banyak kegiatan bersama. Akhirnya disepakati ketua pelaksana adalah pak Diar Cahdiar Antadireja mewakili badan publik, wakil ketua adalah pak Undang mewakili badan usaha milik negara, sekretaris adalah saya mewakili lembaga pendidikan tinggi. Seksi-seksi diisi oleh personal dari badan publik, badan usaha, lembaga pendidikan tinggi, dan komunitas. 

Waktu kegiatan yang disepakati adalah minggu akhir bulan Februari 2017, dengan peserta bebas, utamanya dari Sekolah dan Perguruan Tinggi bidang Informatika atau Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dengan demikian saya harus mempersiapkan proposal dan kelengkapan lainnya satu minggu ke depan, agar cukup waktu untuk sosialisasi kegiatan, kegiatan dana usaha, dan pendaftaran. 

02 Januari 2017

Cukup Menjadi Hamba Allah untuk Menjadi Firman Nya yg Hidup : Sudut Pandang Muslim



Tuhan bukanlah kreasi imajinasi manusia sehingga menemukannya tdk dapat dgn cara membayangkan, hanya Dia sendiri yg dapat menjelaskan siapa Diri Nya menurut Diri Nya yg tdk diatur oleh keinginan manusia. Oleh karenanya Dia mengenalkan siapa diri Nya kpd manusia melalui lisan manusia yg dipilih Nya dgn bahasa terbaik yg dapat difahami.

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).’ (QS 43:3)

Sekumpulan lisan Tuhan yg dilisankan oleh manusia itu disebut juga sebagai firman Tuhan dan dikumpulkan semuanya tanpa tercampur dgn lisan manusia dlm sebuah kitab yg diberi nama alQuran.

Tuhan kami mengajarkan dgn perantaraan kalam / perkataan yg disampaikan Jibril kepada Muhammad SAW selaku utusan yg dipilih Nya. Semua yg dikatakan oleh Muhammad SAW itu tdk datang dari hawa nafsunya tetapi merupakan firman Tuhan.

"Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS 53:4)

Dan dia tidaklah berbicara dari dorongan hawa nafsunya, akan tetapi ucapannya tiada lain adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4)

Maka dia Muhammad SAW adalah firman Tuhan yg hidup di tengah-tengah manusia. Disebut hidup karena seluruh ahlaknya adalah firman Tuhan, tidak menyimpang sedikitpun. Jika Tuhan berkata A, Muhammad SAW akan berkata A.

"Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran.” (HR Muslim).

Tuhan menjadikannya sebagai firman Tuhan yg hidup adalah utk memperbaiki akhlak manusia agar juga menjadi firman Tuhan yg hidup.

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari

Tidak perlu menjadi tuhan untuk menjadi firman Tuhan yg hidup di tengah manusia, cukup tunduk patuh saja thd firman Tuhan. Dengan ketundukan dan kepatuhan itulah Tuhan menyebut utusan Nya dan seluruh ciptaan Nya sebagai hamba Allah. Tuhan menyebut mereka sebagai wali Nya, yg apabila mereka ingin menyembuhkan, maka dgn kuasa Nya akan sembuh.

"Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi." (Hadits Qudsi)

Dgn demikian menjadi jelaslah siapa yang menyembah dan yg Disembah, dan seluruh permohonan dapat disampaikan langsung kepada Nya tanpa melalui perantaraan firman Nya yg hidup. Dia ada tanpa perlu diperantarai oleh sesuatu yg dpt diindera. Tuhan tdk perlu menjadi manusia karena Tuhan dapat hadir melalui hamba Nya yg menjadi firman Tuhan yg hidup di tengah manusia.

12 Desember 2016

Relawan TIK Dengan dan Tanpa Simbol


Panggilan sebagai relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) muncul dari dalam hati kelompok melek digital yg dermawan, tidak membutuhkan simbol2 organisasi, karena dasar geraknya adalah kemanusiaan yg adil dan beradab atas dasar Ketuhanan YME. Mereka tdk membutuhkan sebutan, cukup dikenal sebagai manusia saja, sekalipun di wajahnya terpancar cahaya insan penebar kasih bagi semesta. Mereka tdk butuh pengakuan manusia, tdk perlu besar atau kecilnya amal, sedikit atau banyak amal, yg penting ikhlas dan istiqamah, karena Allah cukup bagi mereka, ridha Allah adalah tujuan mereka. 

Adapun relawan TIK yg melengkapi dirinya dgn simbol2 organisasi, bahkan dianggap tdk diakui amalnya kalau simbol2nya tdk digunakan, mereka adalah kelompok dermawan yg amanah. Di pundak mereka ada kepercayaan yg harus dipertanggungjawabkan. Simbol2 organisasi yg muncul dalam rencana, tindakan, dokumentasi, dan evaluasi itulah yg membuat mereka dapat diakui sebagai insan yg dapat dipercaya. Allah tdk ridha thd mereka sehingga kelompok pemberi amanah ridha thd mereka. 

Dengan demikian, setiap orang dermawan yg melaksanakan amal relawan TIK melalui organisasi, tanggung jawabnya jauh lebih besar dari pada mereka yg bekerja sendiri. Dan hasil serta dampaknya sudah seharusnya jauh lebih besar, karena bekerja dalam jama'ah lebih baik dari pada sendiri, tindakan terorganisir lebih kuat dibandingkan sendiri-sendiri.

06 Desember 2016

Fitur Unggah pada Google Drive


Ada kalanya kita memerlukan pengunggahan berkas pada formulir online. Google menyediakan bagi penggunanya aplikasi internet untuk membuat Formulir Online di lingkungan Google Drive yang telah mengakomodasi pengunggahan berkas. Tetapi fitur ini hanya dinikmati oleh pemilik akun Google yang sudah ikut program Google Apps for Education, Google Apps for Nonprofit Organization dan semisal lainnya. Berkas yang diunggah melalui Formulir secara otomatis disimpan dalam Google Drive pada folder yang sesuai jenis berkasnya. Jadi berkas pdf tidak disatukan dengan gambar dan jenis berkas lainnya. Yang menarik, unggahan berkasnya bisa sampai 10 GB.