Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

17 April 2018

Pengalaman di AASEC 2018


Pada hari Selasa tanggal 17 April 2018 saya menghadiri AASEC (Annual Applied Science and Engineering Conference) ketiga di Bandung sebagai penyaji makalah. Ada sebelas dosen Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang ikut serta dalam kegiatan tersebut sebagai penyaji.

Pagi-pagi sekali saya berangkat menuju Hotel Grand Tjokro Premier Bandung ditemani oleh pak Eri dan bu Dewi yang juga akan tampil sebagai penyaji. Kendaraannya agak cepat saya pacunya karena para penyaji harus registrasi ulang maksimum pukul delapan di lokasi. Kami datang ke lokasi telat beberapa menit karena di tengah perjalanan menyempatkan sarapan sebentar di rest area Bojongsoang. Sarapan yang saya pilih saat itu salah satu makanan kesukaan saya, yakni soto Bandung.

Ada banyak pengetahuan seputar penulisan karya ilmiah yang saya peroleh dari kelas coaching clinic. Pengetahuan tersebut mengokohkan gagasan penelitian yang telah saya sampaikan sebelumnya kepada dosen dan mahasiswa informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, seperti soal pengutipan penelitian yang dikerjakan sebelumnya untuk keberlanjutan penelitian, konten latar belakang yang harus mengandung state of the art, dan lain sebagainya. Terbetik di dalam hati semoga pengetahuan tersebut juga sampai kepada dosen di kelas lainnya, sehingga dalam rapat dosen akhir semester nanti ada sambutan yang lebih baik dari banyak dosen terhadap mimpi penelitian program studi yang telah dihembuskan selama ini.

Kegiatan coaching clinic tersebut selesai tengah siang. Saya harus menunggu sekitar tiga jam setengah ke depan untuk mengikuti kelas seminar yang menjadi tempat penyajian makalah. Dan jadwal saya menyampaikan makalah adalah 17.45, penyaji terakhir di kelas itu. Saya pun menghabiskan waktu duduk di kursi sambil mendengarkan lagu Jazz untuk mengolahragakan otak agar rileks saat masa menunggu tersebut. 

Ternyata Tuhan berkehendak lain, saya menjadi penyaji ke lima karena empat penyaji belum hadir. Di kelas itu, hanya saya dan pak Prof Ali Ramdhani yang mengangkat tema e-Government. Saya sendiri menyajikan makalah berjudul Preliminary Analysis of Government Information System using Ishikawa Diagram and Sectoral Statistics. Makalah tersebut merupakan hasil perenungan terhadap kegiatan penyusunan buku statistik sektoral kategori infrastruktur teknologi informasi yang dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya. 

Kegiatan di kelas tersebut ternyata selesai tidak sampai pukul enam sore. Tidak ada kegiatan penutupan yang tersebut dalam jadwal kegiatannya, sehingga saya mengajak pak Eri dan bu Dewi untuk pulang segera agar tidak terjebak macet sore hari di Bandung. Tetapi syukurlah perjalanan dari Cihampelas menuju gerbang Pasteur relatif cepat dari pengalaman sebelumnya. Mungkin karena ada perubahan lokasi gerbang keluar Pasteur yang agak jauh dari perempatan, atau mungkin baru kali ini saya mengalaminya. Bu Dewi turun di tengah perjalanan karena akan pulang bersama saudaranya. 

Di tengah perjalanan pak Eri mengatakan ada kabar di grup Whatsapp bahwa saya dan beberapa dosen lainnya menjadi penyaji terbaik AASEC. Baru saya lihat foto sertifikatnya setelah tiba di rumah. Alhamdulillah, semoga pengalaman ini menjadi tambahan kekuatan bagi saya selaku dosen yang mengemban tugas penelitian dan bagi program studi Informatika yang saya pimpin untuk bergerak maju. Bersyukur karena Sekolah Tinggi Teknologi Garut membiayai penuh kegiatan dosen di AASEC tersebut. Semoga Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan khususnya program studi Informatikanya senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah SWT untuk maju berkembang. Amin.


28 Maret 2018

KIA Spectra Wing dan Carens 2


Tidak banyak orang yang mengenal mobil sedan KIA Spectra Wings. Bahkan mungkin montir bengkel KIA pun ada yang belum pernah melihatnya, seperti penuturan salah satu personel di salah satu bengkel KIA di Bandung. Sebagian ada yang menyebutnya KIA Shuma, padahal seberanya berbeda sekalipun tampilannya hampir identik. 

Penampilan mobil ini elegan, teman saya bilang seumpama Mercy nya KIA. Harga jual bekas termahal untuk keluaran 2002 sekitar 65 jutaan, hampir sama dengan harga jual bekas KIA Carens I tahun 2002. Harga bekas sedan dengan tampilan elegan ini tentu saja jauh lebih murah dibandingkan sedan lain keluaran tahun yang sama dengan brand yang dikenal seperti Toyota, Honda, dan lain sebagainya. Harga barunya saat itu adalah sekitar 125 jutaan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar saat itu sekitar 9.049 rupiah, sehingga harganya kalau mengikuti nilai tukar saat ini (13.764) adalah sekitar 190 jutaan. Dengan demikian harga bekasnya sekarang kurang dari setengahnya. Penyebab utamanya seperti biasa adalah karena pajak sedan yang lumayan, serta brand KIA yang konon spare-part nya jarang dan mahal. 

Mungkin pemilik KIA Spectra Wings merasa gelisah saat bagian kendaraannya mulai bermasalah, membayangkan betapa sulitnya dan mahalnya menemukan spare-part mobil tersebut.  Tetapi jangan khawatir, ternyata spare-part KIA Carens 2 cocok untuk mobil ini, dan harganya pun relatif lebih murah dibandingkan spare-part aslinya. Berikut ini beberapa komponen Carens 2 dan harganya yang saya peroleh dari beberapa bengkel dan toko sparepart di Tasikmalaya dan Bandung :

  1. CV-Joint, Rp. 425.000
  2. Starter Assy, Rp. 2.060.000
  3. Shock-breaker belakang, Rp. 650.000
  4. Disc Pad, Rp. 345.000
  5. Kop, Dekrup, dan Druk, Rp. 1.250.000

Salah satu toko spare-part terkenal dan lumayan lengkap untuk kendaraan Korea ada di Bandung, yakni Kosambi Express, lokasinya di sini :

24 Maret 2018

Coba Jalur Tol Cileunyi - Cipali Menuju Subang


Hari Sabtu tanggal 24 Maret 2018 saya sekeluarga mudik ke Subang dari Garut. Rute biasanya yang kami gunakan adalah melalui Rancakalong. Tetapi istri males melewati jalan mengularnya dan meminta agar melewati Lembang. Setelah salat di masjid dekat rumah makan Astro, saya pun langsung mengarah ke Cileunyi dan tidak belok kanan ke arah Parakan Muncang. 

Saat laju kendaraan mulai melambat di daerah Rancaekek, istri saya menghawatirkan macet hari Sabtu di daerah Bandung. Saya pun membayangkan arus masuk melalui tol Pasteur yang biasa saya lewati menuju ke Subang. Akhirnya saya memutuskan untuk menepi di Rest Area baru di daerah Tegal Luar Bojong Soang Bandung, beberapa km dari gerbang tol Cileunyi. Seperti biasa saya coba bertanya ke Google untuk mengetahui rute tercepat. Ternyata menurut kalkulasi Google rute paling cepat adalah melalui jalan tol. 

Menurut Google, rute menuju Subang lewat tol Cipularang sekitar 3 jam 11 menit, lewat Rancakalong sekitar 3 jam 19 menit, dan lewat Cikalong Wetan sekitar 3 jam 51 menit.

Dulu saya pernah coba rute ini dari Subang menuju Cileunyi, dan menghabiskan jarak dan biaya tol yang lumayan. Dan istri saya ternyata ingin menggunakan rute yang dipilihkan Google. Berdasarkan itu semua saya putuskan untuk mengisi token tol dan isi bensin dulu di Rest Area tersebut. Setelah itu kendaraan pun melaju mengikuti petunjuk Google. Saya tidak ingin lepas dari navigasi Google karena khawatir salah mengambil jalan keluar seperti pengalaman sebelumnya.

Tol Cikopo-Palimanan merupakan jalur baru sehingga belum ada plang arah ke Subang di titik putarannya. Sebenarnya di tengah perjalanan ada plang arah ke Subang, tetapi Google menunjukan arah keluarnya bukan dari tol Cikopo tetapi menuju Cikalong. Titik putarannya ada di daerah Cikampek, dengan tanda petunjuk Bukit Indah, Cikampek, Cirebon. Lebih mudah patokannya adalah jembatan Kota Bukit Indah yang melintang di jalan tol.


Dari Rest Area hingga gerbang tol Subang hanya membutuhkan waktu 1 jam 39 menit dengan jarak tempuh 132 km.  Berarti kecepatan rata-rata saya saat itu sekitar 80 km/jam.  Tarif tol yang harus saya bayar untuk perjalanan dari gerbang tol Cileunyi hingga gerbang keluar tol Cikopo-Palimanan adalah 83500 rupiah.  


Kesimpulannya, bagi anda yang ingin pergi ke Subang dan senang dengan rute tidak mengular, maka jalan tol Cikopo-Palimanan adalah pilihan terbaik, tetapi harus mengisi bahan bakar ekstra dan membayar uang tol. Rute Rancakalong sebenarnya menyenangkan walau mengular, karena banyak pemandangan alam yang bisa dilihat. Bahan bakar relatif lebih sedikit dan tentunya uang tol nya bisa digunakan untuk tambahan uang cemilan di jalan, hehehe.

23 Februari 2018

Melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat dengan Relawan TIK


Dunia relawan dalam bidang TIK sudah digeluti sejak Sekolah Tinggi Teknologi Garut menunjuk saya (saat masih menjadi mahasiswa) pada tahun 2002 sebagai relawan dengan tugas membantu pemeliharaan perangkat komputer dan jaringan di Laboratorium Komputer. Beberapa bulan menjadi relawan membuat saya merasa terpanggil untuk membangun infrastruktur TIK kampus, sehingga lapisan platform, personel, dan layanannya dibangun hingga tahun 2008 saat di mana Unit Sistem Informasi mulai saya fungsikan.

Setelah lulus kuliah, saya direkrut oleh kampus menjadi kepala Laboratorium Komputer. Dalam posisi jabatan tersebut ada keleluasan bagi saya untuk mempertahankan tradisi perekrutan mahasiswa sebagai relawan. Dan tradisi itu berhasil dipertahankan hingga beberapa generasi, sehingga layanan JAKI (jaringan, aplikasi, komputer, dan informasi) dapat terus dibantu oleh mahasiswa.

Keinginan agar pengalaman lapangan relawan sampai kepada mahasiswa lainnya diwujudkan dengan membentuk Forum TIK pada tahun 2007, yang kemudian berkembang menjadi unit kegiatan mahasiswa bernama Kelompok Pecinta TIK pada tahun 2011. Perhimpunan tersebut berubah nama menjadi Kelompok Penggerak TIK / KPTIK pada tahun 2012 dan Komunitas TIK pada tahun 2013. 

Keempat relawan yg membantu saya menjalankan layanan JAKI berhasil menekan biaya operasional TIK kampus.  Mereka mengajak serta anggota Forum TIK dalam pelayanan sukarelanya dengan menjanjikan pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pengalaman lapangan dan tidak diperoleh di bangku kuliah. Pengabdian kepada almamater pun dilaksanakan oleh anggota Forum TIK dalam Kelompok Kerja Mahasiswa JAKI yang dipimpin oleh relawan terkait.

Selain itu mereka juga melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan  melaksanakan aktivitas pendampingan terhadap Komunitas TIK sekolah untuk mewujudkan mimpi saya menularkan manfaat relawan ke luar kampus. Aktivitas yang dilaksanakan di belasan sekolah tersebut berhasil membentuk KPTIK pelajar , yang darinya program studi Informatika berhasil mendapatkan satu kelas mahasiswa baru.

Semangat kolaborasi mendorong terbentuknya Komunitas TIK Garut pada bulan Oktober 2012, yang dengannya forum Quadruple Helix, Seminar dan Pelatihan, serta Olimpiade TIK berhasil digelar beberapa kali setiap tahunnya dengan melibatkan banyak Komunitas TIK sekolah. Hingga kemudian Gubernur Jawa Barat menganugerasi Komunitas TIK Garut sebagai Komunitas TIK Terbaik se Jawa Barat kategori Mandiri pada tahun 2014. 

Pada tahun 2011 mulai berdiri Relawan TIK Indonesia, yakni organisasi sosial kemasyarakatan tempat berhimpunnya komunitas dan relawan TIK untuk berkoordinasi, berkomunikasi dan bekerjasama dalam mewujudkan visi pembangunan masyarakat informasi Indonesia bersama pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, dan unsur masyarakat lainnya. Saat itu saya ikut bergabung dalam milisnya. Media komunikasi tersebut dimanfaatkan untuk meminta Relawan TIK Indonesia agar dapat menyentuh Garut. Pada akhirnya ketua umum pengurus pusat Relawan TIK Indonesia berkenan hadir dalam Seminar dan Pelatihan TIK keempat pada tanggal 16 Januari 2012, kegiatan rutin tahunan yang digelar oleh Unit Sistem Informasi yang saya pimpin. Dalam kesempatan itu saya yang juga menjabat selaku Sekretaris Program Studi Teknik Informatika berhasil mewujudkan kesepakatan kerjasama antara Program Studi dengan Relawan TIK Indonesia. 

Dengan kesepakatan itulah Relawan TIK Garut terbentuk pada tanggal 24 November 2012, dan Sekolah Tinggi Teknologi Garut terus berupaya melaksanakan isi kesepakatan kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia terkait Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Hingga kini, program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut berhasil mengintegrasikan Relawan TIK Indonesia dengan Tridharma. Perguruan Tinggi. Dalam bidang Pendidikan, diselenggarakan matakuliah IT Volunteering yang merupakan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pembelajaran yang menurut Standar Nasional Pendidikan Tinggi wajib dilaksanakan oleh mahasiswa program sarjana. Dalam bidang Penelitian, berhasil disebarluaskan karya ilmiah terkait relawan bidang TIK di dalam konferensi ataupun jurnal ilmiah. Dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat, program studi menyelenggarakan kegiatan semesteran bersama Relawan TIK Garut. 

Pengetahuan yang diperoleh dari perjalanan tersebutlah yang mengisi buku Relawan TIK Abdi Masyarakat. Buku yang dibuat dari tanggal 8 hingga 23 Februari 2018 tersebut merupakan intisari dari pengalaman usaha mengintegrasikan Relawan TIK dengan Tridharma Perguruan Tinggi di Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan pengalaman berinteraksi dengan anggota dan pengurus Relawan TIK Indonesia. Buku tersebut merupakan luaran kepemimpinan saya dalam kepengurusan Relawan TIK Indonesia pusat selaku kepala Divisi Kampus. Buku ini penting dibuat agar ada kesamaan persepsi tentang Relawan TIK Kampus. Diharapkan buku ini menjadi bahan diskursus di antara pegiat, anggota, dan pengurus Relawan TIK Indonesia tentang penelitian dan pengembangan komisariat kampus yang disediakan bagi sivitas akademik perguruan tinggi. Semoga bermanfaat.


04 Desember 2017

Apa Kegunaan Kendaraan Buat Dosen ?


Kendaraan membantu mobilitas dosen, terlebih dosen dengan tugas tambahan yang menduduki posisi jabatan di kampus. Dengan terbatasnya kendaraan operasional di kampus, adakalanya dosen memerlukan alternatif kendaraan, mulai dari kendaraan umum, kendaraan rental, hingga kendaraan pribadi. Dalam tuntutan pekerjaan yang membutuhkan fleksibilitas dan kecepatan, pilihan menyewa kendaraan rental diambil oleh dosen. Namun adakalanya biaya operasional tidak cukup untuk menyewa kendaraan, sehingga terpaksa dosen harus menggunakan kendaraan umum dengan resiko tidak tepat waktu, atau membeli kendaraan pribadi yang menjanjikan lebih banyak fleksibilitas. 

Jenis kendaraan yang dipilih oleh dosen tergantung jarak tempuh ke lokasi kegiatan. Untuk kegiatan di dalam kota, mungkin mobil berumur tua cukup bagi dosen. Tetapi untuk jarak jauh, pilihan umumnya adalah kendaraan yang berumur relatif muda. 


Untuk kendaraan yang hanya digunakan sendirian, mungkin kendaraan dengan jumlah jok empat cukup memadai. Tetapi kalau dalam pengabdian kepada masyarakat sering melibatkan mahasiswa atau kolega, kendaraan dengan jumlah jok lebih dari empat sangat direkomendasikan. Kalau tidak cukup dana, yang penting kendaraannya ada jok penumpangnya dan bisa digunakan, hehehe.

Kendaraan pribadi tidak lagi diperlukan saat dosen mengikuti studi lanjut, seandainya kendaraan memang disediakan oleh dosen hanya untuk mendukung tugas fungsionalnya. Tetapi kita tahu kalau dosen tidak semuanya jomblo, ada banyak yang sudah berkeluarga, dan bahkan sudah memiliki satu anak atau lebih. Pak polisi selalu memberi tahu kalau kendaraan roda dua itu tidak boleh digunakan oleh lebih dari dua penumpang, sehingga anak dan istrinya tidak bisa diangkut sekaligus. Oleh karenanya, tidak sedikit dosen yang kemudian memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum, kendaraan rental, atau memaksakan diri memiliki kendaraan roda empat untuk kebutuhan keluarganya.


Apapun pilihannya, yang jelas dosen juga manusia, punya keluarga yang harus dilindungi dan dibuat nyaman. Kepentingan keluarga dan pekerjaan harus diperhatikan dengan seimbang oleh dosen. Seiap dosen pasti akan berkata, "Tidak ada satupun manusia yang bisa diharapkan untuk memperhatikan dengan penuh keluarga kita melainkan diri kita sendiri"

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dosen menggunakan atau memiliki kendaraan adalah karena tuntutan pekerjaan tridharma serta memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan membuat nyaman keluarganya. Selain itu hanya dosen entepreneur dan "gaya hidup" yang tahu, hehehe.