Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

01 November 2017

Evaluasi Masukan Lulusan 2017

Saya memulai evaluasi ini dengan mengutip kalimat Imam Syafi'i r.m, "Jika kau tdk bisa menahan lelahnya belajar, maka kau hrs bisa menahan perihnya kebodohan." Ketahuilah bahwa dimensi belajar itu luas dan proses belajar itu harus dilalui manusia dari mulai dalam buaian hingga liang kubur.

Tahun ini lebih dari seratus lulusan prodi (program studi) Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dilepas dalam acara wisuda sarjana. Prodi menerima pernyataan dari para lulusan, di mana 44 % di antaranya menyatakan permasalahan pelayanan, kemahasiswan, pembelajaran, dan kebijakan; sementara 56 % tidak menyatakan permasalahan. Dalam kaitannya dengan permasalahan, satu orang mahasiswa dapat menyatakan lebih dari satu permasalahan. Walau suara pernyataan masalahnya tidak besar, namun saya akan berusaha memberikan tanggapan. Sebagian tanggapan sudah disampaikan oleh saya baik secara online di media sosial ataupun offline di kantor program studi dan tempat lainnya. Pengulangannya diharapkan dapat bermanfaat bagi lulusan yang mungkin belum sampai kepadanya tanggapan tersebut atau belum memahami penjelasan di dalamnya. Berikut ini statistik permasalahan berdasarkan pernyataan pesan lulusan prodi Informatika dalam buku Wisuda Sarjana XVI Sekolah Tinggi Teknologi Garut :


A. PELAYANAN

Komunikasi Antar Personal

Masukan dengan persentase pernyataan 10 % adalah terkait komunikasi lembaga, prodi, dosen, dan staf dengan mahasiswa, dalam upaya menjalin hubungan baik antara semua pihak. Komunikasi pertama prodi dengan mahasiswa adalah pada saat MABIM (Masa Bimbingan) prodi Informatika pada semester pertama. Dalam kesempatan tersebut mahasiswa diberikan ruang untuk menyampaikan permasalahan dalam pengalaman pertama mereka mengikuti perkuliahan di kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Prodi dan lembaga / pihak kampus memberikan penjelasan sebagai jawaban atas permasalahan yang disampaikan.

Kesempatan lainnya diperoleh mahasiswa melalui BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Beberapa pertemuan lembaga dengan mahasiswa telah digelar dalam rangka membahas permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam proses pembelajarannya. Organisasi mahasiswa memainkan peranan penting sebagai medium atau jembatan komunikasi mahasiswa dengan lembaga. Tidak terkecuali Himpunan Mahasiswa. Sebagaimana dijelaskan oleh saya kepada Himpunan Mahasiswa Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam kesempatan MABIM pada bulan Februari 2016. Pesan tersebut diulang oleh saya dalam Musyawarah Besar pada bulan Oktober 2016 agar pengurus baru dapat melaksanakan arahan yang saya tuangkan dalam slide presentasi MABIM 2016.


Dalam MABIM 2016 tersebut, saya menjelaskan bahwa Himpunan Mahasiswa dalam kaitannya dengan ketuntasan kuliah mahasiswa harus berperan aktif mendampingi mahasiswa informatika selaku anggotanya dalam mengatasi habatan perkuliahan melalui kelompok belajar, forum komunikasi himpunan mahasiswa, serta advokasi masalah prodi dan kampus. Himpunan mahasiswa harus secara pro aktif dapat mencatat permasalahan mahasiswa melalui komunikasi lintas angkatan, menyampaikannya kepada prodi untuk permasalahan terkait prodi, dan menyampaikannya kepada BEM untuk permasalahan terkait kampus. Himpunan mahasiswa tidak boleh membiarkan permasalahan mahasiswa menjadi kegelisahan luas yang tidak kunjung selesai dan meluap ke luar kampus. Pengurus Himpunan harus berusaha membantu anggotanya seoptimal mungkin.  

Dengan demikian permasalahan komunikasi ini tidak hanya menggambarkan kelemahan kampus, prodi, dosen, atau staf, tetapi juga kelemahan mahasiswa itu sendiri terkait peran BEM dan Himpunan Mahasiswa. Prodi informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut menyediakan beragam cara bagi mahasiswa untuk menyampaikan permasalahannya dan mendapatkan jawabannya, melalui dosen wali selaku konselornya, melalui organisasi himpunan mahasiswa selaku perkumpulan yang menaunginya, atau langsung kepada ketua atau sekretaris prodi baik secara offline ataupun online. Artinya pintu komunikasi dibuka lebar oleh prodi, hanya perlu keberanian saja untuk menyampaikan permasalahan tersebut dan kedewasaan dalam menerima jawabannya. Dengan dua sikap tersebut hubungan baik kampus, prodi, dosen, dan staf dengan mahasiswa bisa terjaga.

Fasilitas Kampus

Sekitar 7 % pernyataan adalah terkait fasilitas kampus, yang secara khusus menyoroti area parkir dan toilet pria. Hampir setengah populasi mahasiswa kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut adalah mahasiswa prodi Informatika, dan populasi ini berkembang pesat. Rata-rata jumlah mahasiswa prodi Informatika per tahunnya adalah 124 orang, dan jumlah populasinya lima tahun terakhir adalah 2,489 orang mahasiswa. Tentunya apabila tingkat kepemilikan kendaraan tinggi hal ini membuat ruang parkir di dalam kampus semakin sempit. Oleh karenanya mulai tahun 2017 ini, khusus untuk kendaraan roda empat milik mahasiswa sudah mulai diarahkan untuk menempati ruang parkir di luar kampus, tepatnya di dalam kompleks yayasan al-Musaddadiyah yang terpisah jalan kecil dengan kompleks kampus. Area kompleks yayasan al-Musaddadiyah, tepatnya di depan gedung olah raga, memiliki ruang parkir yang cukup dan dijaga oleh aparat keamanan profesional dari Red Guard. Dengan demikian kampus sudah berusaha untuk menyediakan area parkir yang memadai untuk mahasiswa. Mungkin sebagian dari lulusan yang memberi pernyataan 7 % ini ada yang belum mencoba parkir di area leluasa tersebut. Boleh jadi sebabnya adalah karena harus berjalan sekian meter ke kompleks kampus.

Populasi juga mempengaruhi kebutuhan toilet. Semakin banyak mahasiswa, semakin banyak pula jumlah toilet yang dibutuhkan. Sementara ini pekerjaan terkait fasilitas yang dilaksanakan oleh bidang sarana prasarana banyak sekali. Sejumlah pekerjaan yang sudah dilaksanakan antara lain pembangunan ruang laboratorium, masjid kampus, sarana olah raga, serta perbaikan gedung berikut ruangan di dalamnya. Sekarang setiap ruang kelas sudah dilengkapi proyektor dan AC seperti ruang laboratorium komputer. Tentu saja toilet menjadi perhatian kampus, mulai dari perbaikan ruangannya hingga penambahan jumlahnya. Hanya saja penambahan toilet ini belum dilaksanakan karena waktu pelaksanaannya belum tiba.

Layanan Kampus
   
Sekitar 3 % menyatakan persoalan layanan kampus, khususnya internet gratis dan kinerja staf. Sebenarnya internet gratis sudah disediakan oleh kampus melalui dua sumber. Sumber pertama adalah jalur Wifi ID yang merupakan kerjasama kampus dengan PT Telekomunikasi Indonesia, dan sumber kedua adalah jalur internet milik kampus. Titik aksesnya tersebar di beberapa lokasi kumpul mahasiswa. Barangkali yang dimaksud oleh mahasiswa bukan pada jumlah titik akses, tetapi kecepatan / bandwidth nya. Tentu saja kampus sangat senang apabila mahasiswa mendapatkan internet berkecepatan tinggi, tetapi layanan tersebut akan berpengaruh terhadap biaya perkuliahan. Sementara ini kampus tidak ingin menjadikan internet sebagai beban pembiayaan besar bagi mahasiswa. Beban internet sendiri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kegiatan mandiri mahasiswa, tetapi juga untuk kebutuhan praktikum dan pelayanan.

Cita rasa layanan kampus bergantung kepada kinerja staf. Kinerja ini berkaitan dengan ketepatan dan kecepatan kerja layanan. Terbatasnya sumber daya manusia dan teknologi informasi lah barangkali yang menyebabkan kerja layanan tidak sangat cepat. Namun kampus telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seperti dengan menyediakan situs web, anjungan informasi mandiri, dan aplikasi mobile yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan informasi akademik lebih cepat di mana saja dan kapan saja. Prodi informatika sendiri sementara ini hanya memiliki satu staf yang melayani sekitar 200 an yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, khususnya untuk urusan praktikum, kerja praktek, dan skripsi. Hal ini barangkali berpengaruh terhadap kecepatan pelayanan. Karena suara persoalannya hanya 3 %, maka besar kemungkinan mahasiswa secara umum menganggap kinerja staf ini sudah memadai. Persoalan kinerja staf ini barangkali dihadapi oleh mahasiswa dengan keadaan yang tidak umum.

Kelas untuk Karyawan

Istilah kelas karyawan / non reguler sebenarnya tidak dikenal di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Prodi informatika hanya menyelenggarakan kelas reguler saja. Hanya saja memang ada kelas khusus yang umumnya diisi oleh karyawan dan jadwal kuliahnya didesain agar sesuai dengan waktu kerja karyawan. Walau demikian waktu kuliah tatap muka, praktikum, dan lainnya tetap memperhatikan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi). Karenanya perkuliahannya dilaksanakan sampai masuk waktu lembur / di luar rentang jam kerja. Idealnya untuk karyawan ini kampus menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh yang telah ada payung hukumnya. Hanya saja untuk sementara ini kampus belum dapat / siap melaksanakannya.

Pada tahun 2017, di saat populasi mahasiswa semakin bertambah, prodi informatika merasa tidak lagi dapat menyelenggarakan jadwal khusus bagi mahasiswa karyawan. Akhirnya diputuskan tidak lagi akan menyediakan jadwal khusus mahasiswa karyawan mulai tahun 2017. Dengan demikian, harapan yang tercermin dari 1 % suara ini mungkin tidak dapat dilaksanakan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam waktu dekat ini. Perlu waktu bagi kampus untuk menyediakan sistem pendidikan jarak jauh bagi karyawan yang ingin melanjutkan pendidikan bidang informatika di Garut.

KEMAHASISWAAN

Dalam kaitannya dengan fasilitasi kegiatan UKM, khususnya yang berelasi dengan program pengabdian kepada masyarakat, prodi telah memberikan dukungan penuh. Prodi membantu UKM Relawan / Komunitas TIK atau Pramuka dalam berbagai tindakan, termasuk bantuan dana kegiatan, untuk program Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi, Forum Masyarakat Informasi Garut, Olimpiade Komunias TIK se Garut, dan lain sebagainya. Prodi secara aktif membagikan informasi perlombaan di grup Himpunan Mahasiswa dengan harapan ada mahasiswa yang ikut serta. Tentunya juga siap membantu pembiayaannya sekiranya diajukan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Hanya saja memang belum ada mahasiswa yang mengajukan pembiayaan tersebut kepada prodi.

Prodi tahun 2017 ini tengah menjalin kerjasama dengan Himpunan Alumni Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk penyediaan dana kemahasiswa tersebut. Tidak hanya untuk keperluan akomodasi mengikuti lomba, dapat juga digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap mahasiswa informatika yang meraih juara kesatu dalam kegiatan lomba. Sekarang ini penggalangan dana sumbangan dari alumni tengah berjalan sebagaimana diketahui dari situs webnya. Rencananya dana yang terkumpul dapat dialokasikan untuk bantuan kuliah, kemahasiswaan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta fasilitas belajar.  Usaha tersebut telah disosialisasikan pada tanggal 26 Agustus 2016 kepada seluruh peserta skripsi / calon alumni dari angkatan 2013 dan 2015.  Langkah ini semoga dapat memenuhi harapan lulusan pemilik suara 2 % ini.     


PEMBELAJARAN

Peningkatan Materi Perkuliahan

Suara yang menyatakan masalah pembelajaran hanya 9 %. Walau minor, prodi sangat memperhatikan mengingat pembelajaran ini menentukan tercapainya luaran pembelajaran. Usaha peningkatan materi perkuliahan dilaksanakan oleh prodi dengan cara mengikutsertakan dosen dalam pelatihan dan sertifikasi kompetensi level internasional secara bertahap. Satu dosen telah dilatih oleh Google, dan tiga lainnya telah mendapatkan gelar Microsoft Technology Associate. Selain itu prodi juga telah menjalin kerjasama dengan Oracle Academy dan menggelar webinar bagi dosen dan mahasiswa pada 28 September 2017 silam dalam acara Inaugurasi Alumni. Oracle Academy sebagaimana Google juga menyediakan kurikulum yang dapat diadopsi oleh prodi dalam matakuliah terkait. Hal tersebut diharapkan dapat memberi masukan atau gagasan terkait materi perkuliahan.

Cara lainnya adalah dengan mendorong dosen agar dapat mengajarkan pengetahuan dan teknologi terkini, seperti menyediakan matakuliah pilihan pemrograman mobile yang pemafaatan teknologinya sekarang ini sangat banyak dan luas. Selain itu prodi memanfaatkan dana sumbangan alumni 2015 dan 2016 sebesar Rp 10,030,000 untuk dibelikan 78 buku yang mengandung pengetahuan terkini dan dapat dirujuk oleh dosen dalam perkuliahannya.  Yang pasti prodi telah mengupayakan adanya peningkatan materi perkuliahan bagi dosen. Tinggal dilakukan evaluasi untuk melihat apakah ada pembaruan rencana perkulian semesternya.   

Peningkatan Waktu Praktikum

Sekitar 2 % suara mempersoalkan waktu praktikum yang belum memadai. Barangkali pendapat minoritas ini muncul karena adanya hambatan pada sebagian kecil lulusan dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam bidang informatika.

Menurut SNPT di antara hak lulusan adalah mendapatkan sertifikat kompetensi yang tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan teoritis saja, tetapi juga keterampilan "lapangan" dalam menggunakan metode atau perangkat. Tentunya kegiatan praktikum memberi kontribusi besar selain tatap muka terhadap pemenuhan sertifikasi kompetensi tersebut. Oleh karenanya praktikum ini diberikan perhatian khusus oleh prodi, termasuk dengan menyediakan sks khusus untuk matakuliah praktikum. Pelaksanaannya sks nya pada tahun ini sama dengan kuliah tatap muka. Prodi tidak dapat membuat besar SKS nya berubah hingga dilakukan perubahan kurikulum. Oleh karenanya prodi hanya berusaha mengoptimalkan pemanfaatan waktu praktikumnya saja. Pelaksanaannya sangat bergantung kepada dosen dan pengawasan prodi.

Dosen wajib memberikan kuliah tatap muka sebagai pengantar praktikum untuk 1 SKS matakuliah praktikum yang diampunya selama 50 menit, kemudian 170 menit sisanya digunakan untuk praktikum dibantu oleh asisten praktikum. Dosen wajib melaksanakan ujian dan memberikan tugas sebagaimana kuliah tatap muka. Dan prodi telah membuat standar pembagian waktu ujian sebagai berikut : 5 menit digunakan untuk persiapan, 40 menit untuk ujian online, 60 menit praktek, dan 5 menit untuk menutup ujian.  Hal tersebut dikarenakan peserta praktikum dalam satu laboratorium dibagi dua kelompok, yang masing2 kelompok memiliki waktu 110 menit untuk ujian praktikum. Pengaturan waktu ini diharapkan memberikan waktu yang memadai bagi mahasiswa untuk mendapatkan keterampilan sesuai dengan capaian pembelajaran yang diharapkan.

Proses Skripsi yang Ketat

Mungkin proses ketat yang dimaksud adalah terkait kendali standar tata tulis laporan skripsi yang dilakukan oleh prodi. Kendali ini dilakukan saat adanya temuan lolosnya laporan skripsi yang tidak memenuhi standar tata tulis dari dosen pembimbingnya. Dan beberapa mahasiswa mengatakan kalau mereka mencontoh laporan sebelumnya dan bukan merujuk buku pedoman skripsi dalam menyusun laporan skripsinya. Kalau prodi tidak melibatkan diri dalam kendali standar tata tulis laporan skripsi, masalah ini akan terulang tahun depan. Kendali ini seharusnya dilaksanakan oleh dosen pembimbing, namun dalam kondisi seperti ini prodi berpandangan harus menerapkan kendali dua lapis. Jangan sampai ada lagi mahasiswa tahun depan yang mengatakan kesalahan tata tulisnya adalah disebabkan mencontoh laporan skripsi tahun lalu yang kenyataannya tidak memenuhi standar.

Memang benar bahwa yang esensi dari penelitian adalah isi laporannya. Namun tata tulis yang baik mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun sebuah laporan yang baik. Oleh karenanya prodi mengambil peran kendali tersebut. Dan bagi sebagian lulusan, kendali tersebut dianggap merepotkan. Bagi prodi, pendapat 2 % yang mengeluhkan pengendalian ini menggambarkan hanya sebagian kecil lulusan saja yang tidak memiliki sikap tanggung jawab terhadap almamater sekaligus serius dalam melaksanakan penelitian atau belajar. Dan hal tersebut menunjukan bahwa umumnya lulusan memiliki rasa memiliki terhadap almamaternya. Mereka rela menempuh proses skripsi yang ketat karena barangkali menyadari proses tersebut sudah seharunya dilaluinya sebagai bagian dari proses kelulusannya, dan menyadari kualitas penelitian skripsi di masa depan bergantung kepada hasil kerja penelitian mereka.

Selama perbaikan skripsi ini belum selesai, maka syarat mendapatkan ijazah belum terpenuhi. Bagi sebagian peserta sidang skripsi, memperbaiki isi dan tata tulis skripsi itu dipersyaratkan dalam sidang. Seharusnya mereka yang belum memperbaikinya belum dapat mengikuti wisuda karena nilai akhir skripsinya ditahan hingga perbaikannya selesai. Apalagi terhadap mahasiswa yang lulus skripsi dengan nilai A dan B, prodi tentu saja tidak akan membiarkannya selesai dengan kualitas tata tulis yang tidak standar, seperti misalnya daftar pustaka yang tidak sesuai dengan gaya APA. Pun demikian apabila syarat lainnya seperti keuangan, serta sertifikat kompetensi dan pengabdian kepada masyarakat yang diwajibkan SNPT belum terpenuhi, mereka tidak dapat mengikuti wisuda atau tidak dapat mengambil ijazah. Kampus atau prodi memiliki kebijakan yang ada kalanya memudahkan proses skripsi, tanpa kehilangan kendalinya akan kualitas.

Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Sekitar 3 % pernyataan menunjukan adanya masalah dalam kualitas pembelajaran. Tetapi kita tahu 87 % tidak menyatakannya demikian. Walau demikian prodi memperhatikan masalah ini. Dan sebenarnya prodi telah mengupayakan agar ada jaminan kualitas pembelajaran.

Sebagian suara minor tersebut menyatakan adanya masalah karena dosen yang tidak hadir tepat waktu. Prodi telah membuat aturan kelas, di mana dalam kaitannya dengan Pembentukan Sikap Disiplin, aturan menyatakan bahwa dosen memiliki waktu 15 menit dari awal waktu perkuliahan untuk hadir di kelas. Apabila tidak berhasil atau tidak hadir tanpa konfirmasi dalam rentang waktu tersebut, maka perkuliahan pada minggu itu diangap gagal diselenggarakan. Walau demikian mungkin saja ada dosen yang tidak mentaati aturan tersebut, sekalipun prodi telah  mensosialisasikannya pada tanggal 22 Agustus 2017 kepada seluruh dosen informatika. Mahasiswa yang juga telah mendapatkan sosialisasi melalui papan aturan atau dosen sebenarnya dapat mengingatkan dosen terhadap aturan tersebut. Kalau tidak mampu, dapat menyampaikan persoalan tersebut kepada prodi.

Soal metode dan objektivitas penilaian bergantung kepada dosen. Tentunya prodi dan lembaga penjamin mutu melakukan pengawasan terhadap metode tersebut. Prodi atau lembaga memang belum secara khusus menyelenggarakan pelatihan Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Intruksional untuk semua dosen. Walau demikian, sejumlah dosen telah mengikuti program tersebut sehingga memahami bagaimana metode pengajaran dan teknik penilaiannya. Barangkali ke depan semua dosen pemula akan diberikan program ini untuk memastikan dapat melaksanakan pengajaran secara profesional.

KEBIJAKAN

Suara yang menyoroti persoalan kebijakan ini kalau ditotalkan sekitar 13 % saja. Artinya ada sebagian kecil lulusan yang merasa kebijakan prodi bermasalah bagi mereka. Sementara mayoritas lulusan tidak merasa perlu menyampaikannya sebagai persoalan penting untuk disampaikan atau tidak menganggapnya sebagai persoalan.

Keterbukaan Kebijakan Prodi dan Sosialisasinya 

Hanya 1 % saja yang menganggap prodi tidak terbuka soal kebijakannya. Pada dasarnya prodi hanya melaksanakan kebijakan strategis kampus. Prodi membuat kebijakan taktis agar kebijakan strategis yang ditetapkan oleh ketua dan / atau wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat dilaksanakan. Kebijakan taktis yang berkaitan dengan mahasiswa selalu disosialisasikan kepada mahasiswa. Sebagai contoh kebijakan sertifikasi kompetensi, program studi mensosialisasikannya sebelum memberlakukannya.

Menurut SNPT, sertifikasi kompetensi ini wajib diberikan oleh penyelengara pendidikan kepada lulusan, selain ijazah, gelar akademik, dan sertifikat pendamping ijazah. Kebijakan strategis dibuat oleh kampus agar SNPT tersebut terpenuhi dan bahkan terlampaui. Maka pada tahun 2016, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut mewajibkan semua prodi untuk mengupayakan sertifikasi kompetensi tersebut bagi lulusannya. Selama setahun itu prodi informatika berusaha mencari lembaga sertifikasi kompetensinya. Dalam perjalanan setahun itu, sebagian mahasiswa berhasil mengikuti sertifikasi kompetensi gratis yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia di Garut. Dan pada tahun itu prodi mendapatkan kesempatan mendirikan lembaga sertifikasi, namun biayanya sangat mahal. Karena hal tersebut akan dapat membebani mahasiswa, maka prodi dengan persetujuan kampus setuju untuk menunda penyediaan serifikasi kompetensi tersebut bagi lulusan. Dan usaha tersebut diceritakan oleh saya dalam matakuliah Riset Teknologi Informasi kepada perserta kuliah yang merupakan calon peserta skripsi.

Barulah beberapa hari setelah diingatkan kembali oleh ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada tahun 2017, prodi menemukan lembaga sertifikasi yang biayanya terjangkau oleh mahasiswa di Garut. Sebelum semester Ganjil 2017/2018 dimulai, prodi mensosialisasikan syarat wajib sertifikasi kompetensi tersebut kepada peserta skripsi. Bagaimanapun sertifikasi ini harus dilaksanakan pada tahun 2017 karena merupakan kesempatan terakhir sebelum prodi melaksanakan reakreditasi. Kalau dilaksanakan tahun depan maka prodi selama masa berlaku akreditasi tidak pernah melaksanakan sertifikasi kompetensi tersebut yang diwajibkan oleh SNPT, artinya tidak layak mendapat nilai C dalam memenuhi hak lulusan. 

8 % suara menganggap sosialisasi tersebut mendadak. Bagi prodi, dengan mempertimbangkan kepentingan reakreditasi, lebih baik mendadak dari pada tidak disosialisasikan atau tidak melaksanakan sertifikasi kompetensi. Mereka mempersoalkannya karena terkait dana yang harus merek keluarkan. Padahal kita tahu untuk dapat lulus hingga mengikuti wisuda setiap mahasiswa rela mengeluarkan dana agar segala syaratnya dapat dipenuhi. Jangankan tidak mampu mengikuti sertifikasi yang biayanya 500 ribu, tidak punya uang untuk mencetak dua laporan skripsi saja menjadi sebab tidak dapat diambilnya ijazah.

Prodi menetapkan sertifikat kompetensi tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan ijazah. Kebijakan teknis tersebut untuk menjamin seluruh lulusan mendapatkan sertifikat kompetensi sebagaimana yang dikehendaki oleh SNPT. Prodi dengan nilai akreditasi C saja wajib menjalankan SNPT, apalagi yang nilai akreditasinya B. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa mereka hanya membutuhkan gelar dan ijazah saja, sehingga bersikukuh menolak ikut sertifikasi tersebut. Mereka tidak faham bahwa lulusan di masa depan bergantung kepada diberikan atau tidaknya hak sertifikasi kompetensi kepada mereka. Kita faham bahwa sebagian kecil dari kita ini sedang terkungkung oleh egosime yang menjauhkan diri mereka dari semangat kebersamaan, ingin menyelamatkan diri sendiri dan membiarkan adik tingkatnya menjadi korban. Saya berkata demikian dalam posisi sebagai kakak tingkat.

Mereka juga menganggap kebijakan tersebut baik strategis ataupun taktis disebut sebagai kebijakan sepihak yang diputuskan tanpa mendengarkan keinginan mahasiswa. Pada dasarnya kebijakan dibuat memang harus memperhatikan masukan dari mahasiswa, tetapi bagaimana mungkin kampus melanggar SNPT karena mengikuti keinginan mahasiswa? Bukankah mengikuti SNPT itu adalah juga untuk kebaikan atau masa depan kampus, prodi, mahasiswa, dan lulusan?

Bagi sebagian kecil lulusan, kebijakan taktis seperti itu dianggap memaksakan kehendak. Padahal kita tahu sebagai prodi dengan akreditasi melampaui SNPT, kita memang harus mengikuti kehendak SNPT. Sivitas akademik harus memaksa kehendaknya sendiri, tidak perlu dipaksa oleh kehendak orang lain untuk mengikuti SNPT tersebut. Bagaimana mungkin seorang lulusan yang merasa senang dengan nilai akreditasi B prodi nya itu merasa terpaksa memenuhi SNPT, memangnya nilai akreditasi tersebut diperoleh sesuai dengan kehendak mereka? Atau mungkin mereka adalah kelompok kecil individualistis yang hanya perduli kebutuhan mereka sendiri, dan tidak memperdulikan masa depan lulusan berikutnya yang mewarisi nilai akreditasi baru berdasarkan nilai pelaksanaan SNPT pada masa mereka.

Pada akhirnya prodi tetap melaksanakan kebijakan tersebut. Hampir setengah dari peserta skripsi ikut sertifikasi kompetensi internasional dengan hasil memuaskan. Sisanya mengikuti sertifikasi kompetensi gratis yang disediakan oleh kampus, hasil kerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi di Garut. Sebagian yang sudah mendaftar sertifikasi kompetensi internasional yang diselenggarakan oleh prodi dan PKSTI, uangnya dikembalikan kembali karena mereka semua diarahkan prodi untuk mengikuti sertifikasi kompetensi gratis. Keputusan memilih sertifikasi kompetensi internasional dengan biaya termurah dan pembatalan sertifikasi tersebut agar mahasiswa mengikuti sertifikasi gratis cukuplah sebagai bukti bahwa prodi tidak seperti tuduhan mereka. Prodi tidak mencari untung dari kegiatan sertifikasi kompetensi tersebut. Seandainya sertifikasi tersebut boleh tidak dilaksanakan, maka prodi akan memilih untuk tidak melaksanakannya agar energi ini bisa dioptimalkan untuk pekerjaan lainnya yang membutuhkan perhatian.

Kebijakan yang Tidak Konsisten

Di antara 3 % suara itu, ada yang menganggap kebijakan prodi tidak konsisten. Beberapa dari mereka yang sedikit itu mempersoalkan perubahan pedoman, padahal perubahan pedoman itu diperlukan untuk memperbaiki kualitas penelitian. Perubahannya sendiri sudah disosialisasikan saat mereka mengikuti perkuliahan riset teknologi informasi satu tahun sebelum mereka melaksanakan skripsi. Ada juga yang mengatakan kepada saya bahwa alasannya selalu salah dalam tata tulis skripsi adalah karena pedomannya yang diterbitkan oleh prodi selalu berubah, padahal perubahan itu bukan pada tata tulisnya tetapi pada isi pembahasan setiap bagian laporannya.

Mereka juga mempersoalkan banyaknya formulir yang harus mereka lengkapi, padahal formulir yang diberlakukan oleh ketua prodi itu hanya satu, yakni formulir skripsi. Sementara formulir satunya lagi diterbitkan oleh unit kerja lain sebagai sistem kendali yang terpisah dari prodi. Mereka juga merasa marah ijazahnya ditarik kembali karena nama prodi dan gelarnya tercetak belum sesuai dengan edaran dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Padahal mereka telah mendapat sosialisasi dalam perkuliahan satu semester sebelumnya bahwa nama prodi dan gelar akan ada perubahan. Secara keseluruhan sikap sebagian kecil lulusan ini didasarkan kepada dugaan dan keinginan sepihak - diri mereka sendiri. Padahal mereka harus sadar, bukan kampus yang harus ikut aturan atau keinginan mereka, tetapi merekalah yang harus mengikuti aturan kampus dan keinginan SNPT.

PENUTUP

Demikianlah tanggapan prodi terhadap 44 % masukan lulusan 2017. Pada dasarnya saya memaklumi kondisi tidak fahamnya lulusan terhadap landasan berfikir kebijakan yang dibuat oleh kampus atau prodi. Saya juga tidak mempermasalahkan segala masukan yang mungkin datangnya lebih karena emosi atau prasangka buruk. Namun saya merasa senang karena sebagian besar dari 44 % itu memberikan masukan konstruktif. Dan uraian masukan dan tanggapan ini semoga menjadi masukan bagi sivitas akademik di lingkungan prodi informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar hubungan kita di masa depan tetap terjaga dengan baik. Bagaimanapun yang menyebabkan hubungan memburuk adalah penyakit hati, seperti tergesa-gesa, ikut-ikutan orang lain tanpa pengetahuan, bersangka buruk, dan lain sebagainya. Semoga kita semua terhindar dari padanya dan tetap hidup dalam tradisi kebersamaan. 

28 Oktober 2017

Sumpah Alumni Informatika STT Garut


Tanggal 28 Oktober 2017 ini merupakan hari Sumpah Pemuda, di mana pada masa lalu sejumlah pemuda dari berbagai daerah berikrar untuk mewujudkan semangat kebersamaan dalam satu Indonesia. Pada tanggal yang sama, saya menyaksikan inisiatif alumni informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dari berbagai angkatan mewujudkan cita-cita satu gerak dalam satu perkumpulan bernama HALIF (Himpunan Alumni Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah dibangun landasannya satu tahun yang silam oleh beberapa alumni lintas angkatan dengan disaksikan oleh Himpunan Mahasiswa Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Inisiatif ini tercermin dalam penyerahan KTA (Kartu Tanda Anggota) sebagai bukti komitmen alumni untuk aktif berkontribusi selama periode pengabdian 2017/2018, dari satu reuni ke reuni lainnya. 

Sebagai ketua program studi informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya berkepentingan dengan kontribusi alumni ini. Karena menurut SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) lembaga pendidikan dapat mengusahakan sumber eksternal untuk biaya pendidikan di antaranya dari dana lestari alumni. Dan sebagai alumni informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut saya selalu tergerak hati untuk berusaha membesarkan almamater, termasuk ingin membantu persoalan yang dihadapi adik tingkat terkait fasilitas dan biaya pendidikan. 

Sejak masih kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya telah berusaha membangun almamater secara sukarela seperti memasang dan memperbaiki komputer dan jaringannya, karena ingin infrastruktur teknologi informasinya tidak tertinggal dari perguruan tinggi lainnya. Saya pun dengan senang hati membangun aplikasi sistem informasi untuk kampus dan tidak mengambil melampaui 10 % dari biaya pengembangannya, serta menggratiskan biaya pemeliharaan tahunan dan insidental. Hal tersebut dilakukan selama kurang lebih 13 tahun sejak tahun 2002 hingga 2015. Dalam rentang waktu tersebut saya juga mengajak serta adik tingkat untuk melakukan kegiatan relawan tersebut, dan mereka mengambil manfaat ilmu dan silaturahmi dari padanya yang memudahkan jalan rizkinya.  

Oleh karena adanya ikatan hati dengan almamater itulah yang membuat satu tahun yang silam, tepatnya 4 Juli 2016 saya mengupayakan pertemuan dengan alumni lintas angkatan untuk menyampaikan gagasan perlunya membentuk HALIF Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai upaya mengajak serta alumni informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar dapat bergerak bersama mewujudkan kontribusi alumni bagi almamater. Alhamdulillah beberapa alumni memberikan respon, hingga akhirnya terbentuklah Komite HALIF Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang diketuai oleh Devi Hilsa Farida, alumni angkatan pertama 1997. Penggalangan dana pertama kali dilakukan oleh beberapa dosen informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang juga alumni. Dananya disisihkan dari insentif sebagai instruktur pelatihan TIK yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia pada tahun 2017. Dana tersebut dianggap sebagai dana registrasi anggota HALIF. Menyusul kemudian ketua Komite Halif yang merintis sumbangan sukarela. 

Saya berusaha mendorong HALIF untuk dapat berkontribusi pengetahuan. Pada tanggal 12 Juni 2017, saya menyediakan waktu bagi wakil HALIF untuk menyampaikan materi bagi adik tingkat khususnya dan masyarakat umum dalam kegiatan Pesantren Teknik Tujuh Hari. Saya memberi kesempatan demikian karena berpandangan alumni dapat membantu dengan pengetahuan, keterampilan, dana, dan lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam pertemuan 4 Juli 2016

Sebagai pembuat kebijakan taktis, saya membantu mewujudkan kebijakan strategis terkait biaya pendidikan yang harus diusahakan oleh lembaga pendidikan. Kebijakan tersebut di antaranya adalah dengan menjadikan keanggotaan HALIF sebagai syarat untuk mendapatkan ijazah. Syarat tersebut dapat mewujudkan sumber biaya pendidikan eksternal, sekaligus mewujudkan kontribusi alumni yang memberikan point tersendiri untuk akreditasi program studi atau institusi. Dan nilai akreditasi ini sangat penting bagi alumni, mengingat badan publik atau beberapa badan usaha mensyaratkan nilai akreditasi tertentu sebagai syarat masuk seleksi lowongan kerja. Artinya alumni didorong oleh program studi untuk ikut terlibat memenuhi kebutuhan kolektifnya tersebut. Alumni tidak dibiasakan untuk menuntut, tetapi bahu membahu dengan almamaternya dalam memenuhi kebutuhannya. 

Tidak lupa saya mensosialisasikan HALIF dan kebijakan tersebut kepada mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan skripsi pada tanggal 26 Agustus 2017. Hingga kemudian beberapa mahasiswa mulai mendaftarkan dirinya sebagai anggota HALIF. Tidak lupa saya sosialisasikan pula di grup alumni baik di facebook ataupun di whatsapp. Alhamdulillah, beberapa alumni memberikan respon dengan mendaftarkan dirinya sebagai anggota HALIF. Total anggota hingga 28 Oktober 2017 ini adalah 41 orang alumni sebagaimana tersebut dalam laporan keuangan HALIF.

Penyerahan prototipe KTA dilakukan dalam acara Inaugurasi Alumni pada tanggal 28 September 2017 yang diisi oleh Oracle Academy Virtual Student Day. HALIF saat itu diwakili oleh Sri Rahayu, wakil Komite HALIF. Prototipe KTA diberikan kepada alumni baru oleh wakil Komite HALIF, kepala Pusat Pengembangan Karir Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan perwakilan dosen informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Prototipe saya buat mendadak saat itu berdasarkan data pendaftar dari bendahara Komite HALIF, karena berfikir hari itu merupakan hari yang tepat untuk menyerahkannya. Saya membantu tidak dalam kapasitas sebagai ketua program studi tetapi alumni.



Dan KTA aslinya dibagikan pada tanggal 28 Oktober 2017. Proses pencetakannya mengalami masalah teknis sehingga pihak percetakan tidak bisa memenuhi janjinya untuk menyelesaikan KTA sebelum jam 10 pagi. Akibatnya pagi itu saya tidak mengikuti acara ramah tamah dengan calon wisudawan. Dan KTA itu baru selesai mendekati pukul 13.30, sehingga saya harus melewatkan acara gladi. Melewatkannya sebenarnya tidak menjadi soal bagi saya mengingat proses gladinya dari tahun ke tahun masih seperti itu, apalagi tidak semua anggota senat ikut dalam gladi tersebut. 

Dan syukurlah saya tidak melewatkan sesi foto bersama calon wisudawan informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya masuk aula beberapa saat setelah dua program studi lainnya selesai sesi foto. Saya tidak segera ke lokasi ambil foto karena melihat sesi tersebut belum dimulai. Sementara beberapa calon wisudawan meminta foto bersama yang tentu saja tidak bisa saya tolak. Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa sesi itu akan dimulai, hingga kemudian ketua dan wakil ketua bidang akademik memanggil begitu keduanya melihat saya. 

Apapun yang terjadi hari itu, setidaknya saya memiliki sesuatu yang layak untuk disyukuri, karena saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk membantu lembaga pendidikan tempat saya bekerja mendapatkan sumber biaya pendidikan eksternal dan membantu alumni mendapatkan KTA yang merupakan wujud sumpahnya untuk berkontribusi kepada masyarakat internal dan eksternal kampus. Dan saya menganggap pekerjaan tersebut sebagai bagian dari tugas jabatan, dan bagian pengabdian saya selaku alumni. 

Mungkin bagi sebagian orang, saya bukanlah orang yang layak untuk mendapatkan sangkaan baik atau kepercayaan bahwa seluruh tindakan yang saya perbuat untuk almamater itu bernilai. Karenanya semua feed back buruk dari keputusan atau tindakan yang saya lakukan harus dapat saya terima dengan tanpa merasa sakit, karena untuk sesuatu yang maslahat saya harus rela mengorbankan diri.

Setidaknya saya memiliki niat, rencana, dan tindakan dengan tujuan yang baik. Dan sebaik-baiknya orang adalah yang memberi kemaslahatan bagi orang banyak walau jalan yang ditempuh penuh dengan duri. Saya tidak perlu menuntut orang yang tidak tahu untuk faham atau bersangka baik.

Dan saya bersumpah untuk tetap menjadi alumni yang perduli dengan almamaternya, walau mungkin ada orang yang tidak suka. 

20 Oktober 2017

Memetakan data di sejumlah Sheet pada sejumlah baris Sheet lainnya



Aplikasi Incremental Formula Generator ini dibuat untuk mereka yang tidak tahu cara memetakan rumus yang melibatkan data yang terdapat pada seluruh sheet dalam posisi baris-kolom yang seragam di seluruh sheetnya, ke baris pada kolom tertentu pada sheet lainnya. Seperti tampak pada contoh berikut ini :


Dalam contoh berkas di atas diketahui ada tabel rujukan di sheet yang diberi nama angka dua digit. Sheet Unit Sistem akan menggunakan data pada posisi M23 di seluruh sheet dengan rumus "='<nama sheet>'!M23". Tentunya kita perlu menuliskan untuk setiap barisnya mulai dari "='01'!M23'", "='02'!M23'", "='03'!M23'", dan seterusnya sampai "='<nama sheet terakhir>'!M23'". Aplikasi ini membantu anda membangkitkan rumusnya dengan syarat nama sheetnya merupakan angka menaik satu, i:=i+1; Seperti dalam contoh nama sheet nya 01, 02, 03 hingga sheet terakhir misalnya 10. 

Prosedur penggunaan aplikasinya sebagai berikut :
  1. Tuliskan satu rumus sampel, kemudian ganti nama sheetnya dengan karakter pengganti. Seperti dalam gambar aplikasinya, karakter penggantinya adalah titik (.). 
  2. Tentukan jumlah digit nama sheetnya. Berdasarkan contoh spreadsheet di atas, jumlah digitnya dua (2). 
  3. Kemudian tentukan berapa jumlah sheetnya. Pastikan label sheet ditulis benar jumlah digit dan sheetnya. Misalnya untuk jumlah dua digit dan sepuluh sheet anda harus memiliki sheet dengan nama 01, 02, 03, dan seterusnya hingga 10. 
  4. Klik tombol Generate sehingga muncul daftar rumusnya.
  5. Klik tombol Clipboard lalu Paste di kolom target dengan terlebih dahulu memblok sejumlah baris sebanyak jumlah sheet yang ditentukan. 
Saya sediakan link aplikasinya yang dapat anda unduh secara gratis, selamat mencoba.

04 September 2017

UMKM Go Online Garut


Beberapa bulan sebelumnya saya menerima telp dari Direktur Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikas dan Informatika RI. Beliau ingin menyelenggarakan kegiatan untuk UMKM di Garut bersama Relawan TIK. Seperti biasanya saya selalu menyambut dan bersemangat kalau kegiatannya adalah untuk masyarakat, sehingga saya menyatakan kesiapan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Selanjutnya kepala sub direktorat nya meminta saya dapat menggelar acara se Garut dan Tasikmalaya. Namun saya ingat ada Relawan TIK komisariat kampus yang baru dikukuhkan di Tasikmalaya dan ingin memberi kesempatan untuk menggelar acara bersama Kementrian. Karenanya saya tawarkan penyelenggaraan di Tasikmalaya kepada ketua kampusnya. Dan kepada Kementrian saya sampaikan bahwa untuk dua wilayah berbeda ini masing-masing ada tim penyelenggaranya sendiri. 

Untuk di Garut saya ingin menyerahkan penggarapan kegiatannya kepada Relawan TIK Garut. Namun karena ketua Relawan TIK Garut menyatakan belum sanggup menggarapnya maka diputuskan saya garap kegiatannya bersama beberapa pihak yang ada di dalam WAG Smart Garut, dan tentunya Diskominfo Garut selaku mitra Sekolah Tinggi Teknologi Garut sudah pasti dilibatkan. Saya pun mencoba inbox ke Kepala Dinas Koperasi dan UKM. Beliau merespon positif dan meminta saya untuk menghubungi kepala bidangnya. Akhirnya saya kumpulkan semua kontak dalam WAG baru bernama Event UMKM Garut. Kegiatan kolaboratif antara Perguruan Tinggi atau Komunitas dengan Pemerintahan ini bukan kali pertama saya buat, sudah dijalankan sejak 2015 khususnya dengan Diskominfo Garut. 

Untuk kebutuhan peserta saya meminta bantuan pegiat UKM Garut. Beliau menyebarkan informasi kegiatan dan membuatkan WAG khusus untuk kegiatan. Walau demikian, direktorat pemberdayaan informatika membuat surat khusus yang ditujukan kepada pak bupati untuk penyediaan tempat dan peserta. Surat untuk bupati Garut dan walikota Tasikmalaya dikirimkan ke saya saat berada di Semarang. Surat tersebut kemudian saya teruskan ke sekretaris Diskominfo Garut dan tim Tasikmalaya. Saat itu disepakati waktu pelaksanaan di Garut pada tanggal 13 Agustus 2017.

Karena belum ada respon pemerintah kabupaten atas surat tersebut, kemudian diputuskan dalam WAG Event UMKM Garut waktunya diundur. Hal ini menyebabkan sedikit kekecewaan di sisi kementrian karena marketplace untuk Garut sudah dikontak. Walau demikian kementrian masih bersedia mengundurkan waktunya ke 4 September 2017. Saya berusaha untuk menjelaskan bahwa peserta sebenarnya sudah siap, hanya saja masih menunggu respon tersebut. Saya bahkan sudah menetapkan aula Musaddadiyah sebagai tempat alternatif dan meminta bantuan kampus untuk mendapatkan bantuan penggunaannya. Namun karena komitmen awal ini adalah kerja kolaboratif, saya mengikuti keputusan yang dibuat di WAG EVent UMKM Garut, dan memilih untuk menunggu jawaban dari pak Bupati yang sedang diusahakan oleh Diskominfo Garut. 

Ketua Relawan TIK Garut berhasil memobilisasi mahasiswa bidik misi Sekolah Tinggi Teknologi untuk menjadi fasilitator yang membantu pendaftaran peserta ke marketplace sesuai arahan saya. Sore hari tanggal 3 September 2017, Bibli selaku marketplace yang dipilih oleh kementrian untuk kegiatan UMKM Go Online di Garut datang dan memberikan pengarahan kepada 10 orang fasilitator di Pendopo yang sudah dikondisikan oleh Diskominfo Garut. 


Tidak lupa saya coba usahakan lagi ada manajer puncak kampus yang bisa hadir dalam acara tersebut. Saya coba menghubungi wakil ketua akademik yang sebelumnya ingin bergabung dalam kepanitiaan. Tapi beliau sedang sibuk dengan pekerjaan di kampus dan akan hadir dengan izin dari ketua. Saat itu kampus memang sedang menyiapkan akreditasi program studi Teknik Industri, di mana ketua dan semua wakil ketua di kampus sedang sibuk melengkapi dokumen kelengkapannya. Dua hari sebelumnya saya sebenarnya sudah mengundang ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan beliau dengan pertimbangan pekerjaan akreditasi yang belum rampung, mempercayakan kepada saya untuk mewakili Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Sekretaris diskominfo Garut dan kepala bidang pengembangan usaha koperasi dan usaha mikro Diskopukm Garut berhasil mengupayakan kehadiran pak Bupati untuk memberikan sambutan dalam acara tersebut. Pagi itu saya mengangkut semua yang diperlukan ke dalam mobil, mulai dari proyektor, printer, standing banner Relawan TIK Indonesia dan program studi Informatka Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan lain sebagainya. Tidak cukup waktu untuk mengambil brosur kampus untuk dibagikan ke ratusan peserta UMKM Go Online. Satu perangkat penting yang tertinggal adalah perpanjangan kabel. Untunglah ketua Relawan TIK Garut membawa motor sehingga saya bisa membeli perangkat tersebut di Indomaret dan toko listrik dengan cepat. 

Protokol Bupati kepada saya bertanya siapa saja yang duduk di depan. Saya putuskan yang duduk di depan adalah kepala sub direktorat yang mewakili direktur pemberdayaan informatika Kemkominfo, kepala Diskominfo Garut, kepala Diskopukm Garut, dan pak Bupati. Saya mendapatkan kabar wakil ketua bidang kerjasama akan hadir, namun karena kabar itu belum pasti saya putuskan tidak menyediakan kursi di depan untuk Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya sekalipun mewakili kampus, tidak bisa duduk di depan karena harus memastikan semua hal dapat berjalan. Relawan TIK Garut tidak saya tempatkan di depan, supaya nampak posisi relawannya. Namun mereka diberi kursi paling depan bersama kawan-kawan Bibli dan pejabat di lingkungan dua dinas sehingga pak Bupati bisa melihat serangam Relawan TIK Indonesia. Meja di depan sendiri tidak luas sehingga kalau semua duduk di depan tidak akan cukup. 

Dalam sambutannya pak Bupati hanya menyebutkan dua dinas sebagai penyelenggara kegiatan, mungkin karena yang dilihatnya di depan hanya kepala dinas. Beliau baru ngeuh ada Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat wakil ketua bidang kerjasama dipanggil ke depan untuk menerima piagam penghargaan dari Direktorat Pemberdayaan Informatika. Bagi saya itu tidak menjadi soal, yang penting kegiatan UMKM Go Online dapat berjalan dan manfaatnya sampai kepada peserta. Dan rangkaian kegiatan itu alhamdulillah dapat berjalan semua, sekalipun ada kendala teknis saat fasilitator meregistrasikan peserta. Dalam kesempatan itupun Relawan TIK Garut mendapatkan piagam penghargaan. 


Di dalam waktu kegiatan, ada beberapa peserta yang ingin masuk namun namanya tidak tercantum di daftar peserta. Saya memberi arahan kepada panitia registrasi ulang untuk mempersilahkan peserta tersebut untuk masuk. Di akhir kegiatan banyak peserta yang masih belum beranjak dari kursinya. Selewat saya dengar ada peserta yang mengatakan soal uang transfortasi. Saya menerima informasi dari panitia registrasi beberapa peserta menanyakan soal uang tersebut. Ternyata memang peserta menanti uang penggantian transportasi di akhir kegiatan. Dalam keseluruhan kegiatan yang pernah saya lakukan bersama kementrian di Garut, tidak pernah ada uang penggantian transportasi bagi peserta. Dalam kegiatan bersama Nawala Nusantara sebelumnya pun demikian. Saya bersama mitra hanya menyediakan kesempatan bagi UMKM atau peserta untuk mendapatkan tambahan ilmu gratis plus konsumsi. Saya juga berfikir pertemuan seperti itu seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi pengalaman langsung di antara peserta. 

Di grup peserta saya menyampaikan permintaan maaf sebagai berikut : 

"Terima kasih kpd pelaku UMKM yg telah ikut serta dlm pelatihan gratis marketplace bertajuk UMKM Go Online yg dijalankan oleh Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan didukung oleh Kemkominfo RI, Pemkab Garut (Diskominfo Garut dan Diskopukm Garut), dan kawan-kawan Relawan TIK di Garut. Semoga bermanfaat dan barokah. Maaf tdk ada amplop transportasi utk peserta seperti kegiatan Pemerintahan, karena kami melaksanakannya dgn swadaya sendiri dan hanya mendapat bantuan transportasi utk teman-teman Relawan yg membantu penyelenggara kegiatan saja".

Kemudian pengurus GUMKOMINDO Garut memberi respon sebagai berikut :

"Alhamdulillah. Haturnuhun pisan untuk Relawan TIK Garut dan STTG yang telah berkontribusi bagi pengembangan usaha para UKM dg pelaksanaan pelatihan UKM Go Online. Terkait "amplop", saya sendiri cenderung ingin mengusulkan agar kegiatan 2 yg diselenggarakan oleh pemerintah meniadakan uang saku dan mengkonversi dengan penyelenggaraan yg berkualitas dan fasilitas yg lebih bermanfaat bagi peserta. Supaya kita saat ikut pelatihan teh teu salah niat".

Ada satu hal lainnya yang lepas dari perkiraan saya. Ternyata kami juga harus memberi uang jasa kepada beberapa orang yang menyiapkan dan membereskan Pendopo. Tadinya saya berfikir dengan izin pak Bupati semuanya sudah selesai, hehehe. Awalnya teman panitia yang memegang uang memberi seratus ribu rupiah, tapi uang itu kemudian dikembalikan karena katanya tidak cukup. Lalu saya bertanya ada berapa orang dan berapa per orangnya. Beliau memberi informasi ada 10 orang yang bekerja dan mengusulkan untuk setiap orangnya 50 ribu rupiah. Setelah saya hitung, ternyata totalnya melampaui insentif relawan TIK yang disediakan oleh kementrian. Seandainya ada dana lain, saya tidak berani menawar. Tetapi karena saya tidak punya uang selain insentif untuk panitia yang berasal dari kementrian, saya pun menawar agar satuannya dikurangi. Akhirnya disepakati kami bisa membayar jasa teman-teman di Pendopo setengah dari usulan tersebut. 

Kemudian saya membayarnya dengan satu insentif punya panitia Sekolah Tinggi Teknologi Garut, sisanya lumayan bisa untuk bayar kopi yang diminum teman-teman panitia Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Teman-teman dosen dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang jadi panitia registrasi sebenarnya tidak akan keberatan bekerja tanpa insentif, karena komitmen awal yang dbangun dengan saya hanyalah sertifikat kegiatan. Relawan TIK Garut juga sama, niatnya tidak mendapatkan insentif tapi ingin membantu program pemerintah saja. Walau demikian kementrian berbaik hati memberi insentif atau tranfortasi untuk semua relawan yang terlibat, sehingga walaupun ketua Relawan TIK Garut sempat menolak insentif untuk fasilitator yang direkrutnya, saya menyerahkan amplop insentif tersebut untuk dibagikan ke semua fasilitator yang sudah mendaftarkan peserta ke marketplace. 

Banyak snack dan nasi yang tersisa dari kegiatan tersebut. Semuanya diangkut dan diturunkan di kampus. Kami bagikan kepada semua pegawai kampus, termasuk office boy dan satuan pengamanan. Satu dus dibawa untuk dibagikan ke pengajian, dan tiga dus saya turunkan di Pondok Pesantren al-Musaddadiyah untuk dibagikan kepada santri di sana. Semoga amal ibadah dan kelelahannya menjadi penghapus dosa dan tambahan berat amal di yaumil mizan kelak. Amin.   

02 Agustus 2017

Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental melalui Medsos se Jateng


2 Agustus 2017 ini saya membantu Kementrian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Kementrian Komunikasi dan Informatika dalam acara pelatihan media sosial bagi pelajar dan penggiat relawan TIK. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama dua institusi pemerintahan tersebut dengan Relawan TIK Indonesia. Ada dua kesempatan materi hari itu, dan saya kebagian mengisi materi Literasi Digital mewakili Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada pagi harinya plus malam ditemani kang Johan ketua bidang Penelitian dan Pengembangan Relawan TIK Indonesia. 

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya satu hari sebelum Musyawarah Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat, saya dihubungi Unggul Sugena pelaksana harian Relawan TIK Indonesia yang meminta saya untuk dapat mewakili Relawan TIK Indonesia untuk menjadi pemateri kegiatan tersebut di Bandung. Saat itu saya menjawab belum bisa karena masih ada yang harus dikerjakan dalam kegiatan Korea Information Technology Volunteers di Garut. Beberapa harinya lagi kang Unggul kembali menghubungi dan menanyakan kesediaan saya untuk dapat mengisi kegiatan tersebut di Yogyakarta atau Semarang. Karena waktu pelaksanaan di Yogyakarta terlalu mepet dengan waktu kepulangan Relawan TIK Korea Selatan, maka saya memilih lokasi kegiatan di Semarang. Satu hari sebelum keberangkatan saya menemui Relawan TIK Korea Selatan di Hotel Redante untuk memastikan mereka baik-baik saja sebelum saya tinggalkan sebentar ke Semarang. 

Alhamdulillah saya tidak perlu mengeluarkan uang, karena transfortasi sudah ditangani panitia kegiatan. Perjalanan dari Garut ke Bandara sempat berputar-putar karena seperti biasa Google memberikan jalan terpendek yang tidak bisa dilalui kendaraan yang saya pake. Maklumlah ini kunjungan pertama sendirian ke Bandara Husein. Agak dag-dig-dug karena khawatir tidak sempat boarding akibat habis waktu dipake puter-puter jalan. Alhamdulillah sampai beberapa menit sebelum waktu tenggat, dan ternyata pesawat Wings Air ini delay lama. 

Setelah melewati perjalanan dengan pesawat ATR yang lumayan kerasa goyangannya, tibalah di Bandara Ahmad Yani Semarang. Di sana saya ditemui sopir yang dikirim oleh panitia, namun saya meminta maaf tidak bisa ikut karena ada teman Relawan TIK Semarang akan datang menjemput. Mas Wijayanto pun datang menjemput dan langsung meluncur ke hotel Grand Candi tempat nginap pemateri dan panitia kegiatan malam itu. Di sana sudah lebih dulu tiba kang Johan, kita ngobrol lama tentang Relawan TIK hingga hampir tengah malam.


Keesokan harinya saya menyampaikan materi Literasi Digital - Peran Relawan TIK Indonesia : Mewujudkan Revolusi Mental dengan INCAKAP di hadapan pelajar pilihan dari sejumlah sekolah se Jawa Tengah. Anak-anak ini cukup responsif dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagus seputar pemanfaatan internet dalam keseharian hidup mereka. 


Malam harinya saya bertemu dengan teman-teman Relawan TIK di Semarang dan mendengarkan rencana Musyawarah Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Tengah. Dalam pembicaraan tersebut saya memberikan masukan agar sebelum melaksanakan pemilihan ketua umum baru untuk wilayah Jawa Tengah dan menyusun program kerja, sebaiknya didengarkan kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan hambatan yang ada di setiap cabang. 


Setelah itu saya bersama kang Johan duduk bersama perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Tengah dan Kementrian Kordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk mengisi acara panel di hadapan pegiat sosial media se Jawa Tengah. Dalam kesempatan itu saya menjelaskan konsep Hijrah Digital yang meliputi hijrah kondisi dari buta menjadi melek serta hijrah perangkat dari offline menjadi online. Konsep ini pertama kali saya sampaikan dalam seminar pendidikan karakter di Garut yang diselenggarakan oleh Yayasan Intan Pembangun Karakter. 

Keesokan harinya sambil menunggu waktu boarding, mas Wijayanto menawarkan kesempatan untuk berkunjung ke objek wisata di Semarang. Saya ingat dulu pernah membaca di media ada kawasan pemandian di puncak bukit mirip Darajat di Garut, hanya saja airnya tidak panas kalau di sana. Mas Wijayanto bersedia mengajak saya ke sana, yang ternyata berada di luar kota, tepatnya di kabupaten Semarang. Lokasinya ternyata di perdesaan melewati jalan kecil dan menanjak. Sekilas jalan setapak di pemandian Unggul Sidomukti ini seperti Karacak Valley, dan pemandangannya yang menampilkan pemandangan panorama kabupaten Semarang seperti Puncak Darajat. Tiket masuknya murah, pengelolaannya profesional. 


Magrib itu saya tiba di Bandara Husein Bandung. Di pintu parkir saya mendengar dua opsi pembayaran dari petugas pintu parkir. Untuk parkir selama tiga hari ini saya harus membayar mahal. Tapi saya maklum karena parkiran di sini padat sekali. Keluar dari area Bandara bertemu dengan macet yang menghiasi Bandung setiap waktu pulang kerja. Baru sekitar pukul sepuluhan saya pun tiba di rumah kembali, bertemu dengan anak dan istri yang telah tidur lelap.