Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

04 Februari 2017

Pertemuan Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia


Sabtu tanggal 4 Februari 2017 saya memacu kendaraan dengan kencang untuk mengejar Kereta Api. Waktu keberangkatan dari Garut molor satu jam dari rencana karena harus menyelesaikan terlebih dahulu slide presentasi rencana pengembangan SDM (sumber daya manusia) Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia yang akan disajikan hari ini di Jakarta. Saya tidak bisa mengerjakannya malam hari sebelumnya karena waktunya digunakan untuk merampungkan formulir pendaftaran Tugas Akhir dan Praktek Kerja Nyata yang akan digunakan besok oleh Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Saya mengikuti pilihan jalan terpendek Google untuk tiba sebelum Keretanya berangkat. Namun di daerah Alun-Alun jalan lumayan macet. Di dalam hati saya sempat berkata bahwa keberangkatan ini akan dibatalkan dan kembali ke Garut untuk mengantar istri ke resepsi undangan temannya sekiranya Keretanya telah berangkat. Namun ternyata saya bisa tiba sepuluh menit sebelum keberangkatan. Tidak lupa membeli air minum sebelum masuk ke area Kereta Api. Saya tidak memiliki cukup waktu untuk sarapan dan salat Dzuhur di Statsiun. Akhirnya saya berhasil mengisi perut dengan nasi goreng yang dijual di atas Kereta Api dan salat Dzuhur bersama Ashar di Statsiun Gambir. 

Setelah selesai menunaikan kewajiban Salat, saya pun berajak pergi ke luar dan menaiki Taxi. Walau jarak Gabir ke lokasi inap yang disediakan oleh Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia tidak jauh, tetapi abang supir meminta tarif 50 ribu tanpa menghidupkan argonya. Saya sudah cukup lelah dan tidak mau menghabiskan waktu dengan adu tawar, hanya sekedar berkata dalam perjalanan, "Tarifnya mahal banget bang". Saat keluar dari area Statsiun si abang sempat mengeluh ke saya terkait pengelolaan Statsiun yang menurutnya membuat tarif tinggi tersebut. Akhirnya kendaraan itupun dinaiki hingga sampai di hotel yang dituju. 

Ternyata lokasi acaranya dipindah ke hotel Grand Cemara, dan saya tidak nyimak di grup WhatsApp. Kebetulan sedang sesi makan malam. Namun karena perut ini keroncongan, saya putuskan makan sate kambing dulu di warung samping tempat inap. Setelah makan saya pun berjalan menuju lokasi acara. Saya harus mengatur uang seefisien mungkin, maklumlah karena sekarang ini sudah tidak ada lagi SPJ dari kampus karena kegiatan Relawan TIK Indonesia sudah tidak masuk daftar anggaran kampus lagi sejak tahun 2015, hehehe.   


Kegiatan ini diikuti selain karena saya memiliki tanggung jawab dalam bidang SDM Relawan TIK Indonesia, juga karena umumnya kewajiban Pengabdian kepada Masyarakat saya tunaikan melalui Relawan TIK Indonesia. Ada kalanya saya mengajak dosen lainnya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut sehingga banyak sekali daftar aktivitas Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang berasal dari kegiatan Relawan TIK Indonesia. Hal ini terjadi sejak tahun 2012, karena adanya kesepakatan kerjasama antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia dalam kegiatan Tridharma. 

Malam itu saya menjelaskan siapa yang dimaksud SDM Relawan TIK, bagaimana pengembangan SDM relevan dengan tujuan Relawan TIK Indonesia yang tertuang dalam Anggaran Dasar nya, menunjukan kajian yang sudah saya laksanakan di kampus terkait Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK, menyajikan hasil penelusuran data Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK Indonesia di banyak provinsi Indonesia, serta menunjukan pembentukan keterampilan apa yang diperlukan berdasarkan Aktivitas dan Kompetensi tersebut. Alhamdulillah, rekan-rekan pengurus memberi respon baik atas pemikiran yang saya sampaikan tersebut yang ditandai dengan adanya tepuk tangan setelah penyajian tersebut. Tidak sia-sia waktu dan tenaga yang saya habiskan untuk menyusun konsep tersebut, karena kemaslahan pertama sudah tercapai. Tinggal kemaslahatan kedua dan ketiga yang perlu diusahakan, yakni mewujudkannya dalam Program Kerja Nasional bidang pengembangan SDM yang kongkrit, serta pelaksanaannya sepanjang tahun 2017.

Beberapa slide terakhir saya selesaikan di tempat karena saya hanya punya waktu satu jam setengah  untuk merampungkannya di Garut siang tadi. Syukurlah bahan slide nya sudah terkumpul dalam sejumlah slide Konferensi yang saya buat saat presentasi Karya Ilmiah di  e-Indonesia Initiative di ITB tahun 2015 dan Temu Ilmiah Nasional Peneliti Puslitbang APTIKA dan IKP Kemkominfo di Bogor tahun 2016, dan sejumlah keluaran dari kajian Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi. Sejak penandatangan kerjasama tahun 2012 saya bersama mahasiswa memang membuka jalan penelitian ke arah pembangunan masyarakat informasi yang melibatkan relawan dalam bidang TIK.



Keesokan harinya kegiatan dipindah di Menara Multimedia PT Telekomunikasi Indonesia. Di tempat itu ketua umum Relawan TIK Indonesia melaksanakan tugas pekerjaannya sehari-hari. Di sesi terakhir itu kami belajar Desain Sprint dari mas Amien Karim, yang katanya diperoleh saat Digital Marketing Strategist nya Telkom tersebut berkunjung ke Silicon Valley dulu.  Tahapan desainnya yang sempat saya rekam adalah sebagai berikut : 1) Menentukan topik pembahasan, 2) Mengelompokan gagasan pengguna, alur proses, dan tujuan, 3) Mendefinisikan cara mewujudkannya dgn memperhatikan masukan pengguna, 4) Membuat peta jalan atau tahapan proses, 5) Mengidentifikasi input dan output dari cara mewujudkannya per tahap. Dalam waktu yang panjang, kami hanya selesai pada program kerja terkait Dana saja. Mas Karim mengatakan bahwa proses sebenarnya bisa memakan waktu berminggu-minggu. Saya sangat menikmati proses pembelajaran tersebut yang berkaitan dengan Silicon Valley, karena sejak tahun 2013 saya ingin mewujudkan Silicon Valley di Garut yang berpusat di kampus. Dosen pembimbing Tesis saya yakni Dr Sukrisno Mardiyanto yang mendefinisikan keinginan saya tersebut dulu dalam komunikasi di Facebook. Sekarang saya baru diberikan Area 306 oleh kampus untuk mewujudkan Pusat Kajian, Pendidikan dan Pelatihan, serta Bisnisnya. 




Siang itu dalam sesi pembahasan Anggaran Rumah Tangga, saya dengan tiga pengurus dari Bandung harus pamit pulang lebih dulu karena harus mengejar Kereta Api di Gambir. Kami menaiki mobil Grab yang dipesan oleh kang Gery dan dibayar oleh kang Fajar, walau tidak sampai karena terjebak macet kegiatan calon Gubernur di Jakarta. Akhirnya dengan tergesa-gesa kami berjalan menuju mesin cetak tiket. Syukurlah tempat kami turun dan lokasi statsiun Gambir tidak jauh. Akhirnya kurang dari lima menit saya berhasil duduk di Kereta Api. Rupanya kursi yang saya duduki posisinya ke belakang, karena ada tiga penumpang satu keluarga di sana. Kursi saya yang di samping jendela telah diisi oleh perempuan. Dalam hati saya berkata, ini konsekuensi karena datang terlambat, dan hari ini untuk pertama kalinya saya siap merasakan pengalaman naik kereta api dalam posisi duduk arah berlawanan. Syukurlah suspensi Kereta Api Indonesia di gerbong Eksekutif ini bagus sekali, sehingga goyangan kendaraan panjang ini tidak terasa. Saya tidak merasa mual dalam posisi duduk seperti ini. 

Kereta api pun sampai lepas Magrib. Dengan segera saya ke lapang parkir setelah membeli minuman suplemen untuk menahan kantuk yang disebabkan karena malam sebelumnya diskusi hingga larut dengan teman pengurus di tempat inap. Supaya cepat sampai, saya percayakan lagi kalkulasi jalan terpendek kepada Mbah Google. Dengan sedikit kantuk saya pun membawa kendaraan ini sendirian malam hari ke Garut. Di tengah perjalanan istri menanyakan posisi saya, saat kendaraan terjebak macet di Nagreg. Saya tidak membawa kunci gerbang kompleks sehingga istri saya menahan kantuk hingga saya datang. Dan begitu sampai rumah, ternyata dua jagoan kami sudah tertidur pulas di tengah rumah. Begitulah istri saya, kalau saya tidak ada semua tidur dalam satu ruangan. Dua hari ini ada pengalaman dan pengetahuan baru, yang semoga menambah kemanfaatan bagi diri dan sesama. 

Hal terpenting yang saya peroleh dari kegiatan tersebut adalah obrolan dengan om Jo yang membidangi Kajian, di mana beliau mengatakan program Relawan TIK nya di Pemalang terbantu dengan karya tulis yang saya bagikan di grup. Beliau telah membuktikan konsep saya bisa diterapkan dengan sedikit penyesuaian dengan kondisi yang ada. Hal ini sangat penting bagi saya, karena saat Temu Ilmiah Peneliti Nasional di Bogor lalu capaian pekerjaan saya hanya sampai pada perancangan. Dan Prof. Gati Gayatri, MA. selaku penguji sempat menanyakan penerapannya. Beliau minta dikontak apabila konsep yang saya buat telah diterapkan. Sepertinya saya harus merapat ke Pemalang untuk menggali sejauh mana konsep integrasi layanan Telecenter dan Relawan TIK tersebut diterapkan sebelum saya laporkan dalam Temu Ilmiah Peneliti Nasional tahun depan. Dan menuju ke sana, saya sudah diajak Prof Muhammad Ali Ramdhani untuk menerbitkan penelitian bulan Februari ini yang pastinya akan dirujuk dalam laporan tersebut. Penelitiannya bisa menindaklanjuti Metode, Framework, Sistem, atau Struktur terkait Pembangunan Masyarakat Informasi yang sudah dibuat. Alhamdulillah, kegiatan penelitian tahun akademik ini sudah ada jalannya. Semoga Allah memberikan kelancaran. Bismillah.  


20 Januari 2017

Keberadaan Forum Masyarakat Informasi di Garut



Informasi adalah data berarti dan berguna yang dihasilkan oleh proses tertentu dan disampaikan kepada pengguna tertentu melalui proses memberi tahu. Proses yang meliputi pengumpulan, pemprosesan, penyimpanan, dan penyebaran sekarang ini dilakukan dengan menggunakan bantuan TI (Teknologi informasi), yakni perangkat lunak, keras, jaringan, dan data. Lebih luas lagi, segala sesuatu yang dihasilkan dengan menggunakan perangkat TIK disebut konten. TI juga difahami sebagai TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), di mana konvergensi komputer dan jaringan memungkinkan para pengguna untuk saling  terhubung dan berbagi konten atau sumber daya lainnya.  

Masyarakat informasi adalah budaya baru yang struktur sosialnya berdasarkan kepada kebebasan dalam akses, pembuatan, distribusi, dan pemanfaatan informasi dengan TIK (Teknologi informasi dan komunikasi). Kebebasan tersebut mendorong kreatifitas intelektual di mana informasi sebagai produk kreatifnya menjadi sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan oleh masyarakat global. Oleh karenanya TIK sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang merupakan alat pembangunan ekonomi dan sosial, mesin pertumbuhan, pilar utama bangunan masyarakat dan ekonomi basis pengetahuan global, serta kesempatan bagi negara untuk membebaskan dirinya dari tirani geografi. 

Masyarakat Garut telah menginsyafi pentingnya budaya baru tersebut untuk peningkatan mutu layanan dan taraf kesejahteraan masyarakat Garut. Hal ini ditunjukan dengan diselenggarakannya Forum Masyarakat Informasi Garut sejak tanggal 16 Januari 2012 yang melibatkan Quadruple Helix (Perguruan Tinggi selaku Konseptor, Perusahaan selaku Enabler, Pemerintah selaku Regulator, dan Masyarakat selaku Akselerator). Gagasan yang muncul saat itu adalah berbagi sumber daya antar lembaga melalui Metro Area Network milik Perusahaan Provider Internet. Forum komunikasi lanjutannya diselenggarakan setelah akhir periode kerjasama antar lembaga, yakni pada tanggal 28 Oktober 2014. Saat itu forumnya dilaksankaan dalam Konferensi Komunitas TIK Garut yang dihadiri sejumlah Komunitas TIK se Garut dengan fokus optimalisasi partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat informasi. Saat itu digagas agenda tahunan bersama serta usaha membangun Kelompok Informasi Masyarakat serta Relawan TIK di sekolah dalam wujud Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi. 


Di antara agenda tahunan bersama yang telah dilaksanakan adalah Olimpiade Komunitas TIK se Garut periode kedua pada tahun 2015, dan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Informatika Garut pada tahun 2016. Dalam dua kegiatan tersebut antar lembaga berbagai peran dan sumber daya. Agenda lain yang menjadi model terbaik kerjasama antar lembaga karena semua unsur Quadruple Helix terlibat adalah Hackathon se Priangan Timur tahun 2015.  Dengan demikian Forum Masyarakat Informasi Garut ini telah berkembang selama empat tahun dari sekedar kesadaran menjadi semacam tindakan yang dilakukan bersama-sama. Bahkan Pemerintah kabupaten Garut telah menunjukan apresiasinya terhadap elemen masyarakat informasi Garut yang berprestasi, mulai dari tropi bergilir Bupati Garut untuk juara umum Olimpiade Komunitas TIK se Garut, hingga sertifikat penghargaan Bupati Garut dan kepala Diskominfo Garut terhadap Komunitas TIK di Garut yang mendapat predikat terbaik di Garut dan Jawa Barat. 




19 Januari 2017

Pembentukan Kepanitiaan Antar Lembaga Olimpiade TIK Garut 2017


Pagi itu saya menerima telpone dari Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Beliau menanyakan waktu pertemuan untuk pembahasan persiapan kegiatan TIK yang telah dibicarakan pada hari-hari sebelumnya. Saya sampaikan kemungkinan sekitar jam 11 siang, karena pagi ini saya harus hadir di kelas ujian akhir semester matakuliah yang saya ampu. Dan pada pukul 11 kurang sekian menit saya baru bisa berangkat dengan Leni Fitriani mewakili Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan Sri Rahayu mewakili Komunitas TIK Garut. Kehadiran kami mewakili lembaga yang telah saling menjalin kerjasama secara formal sejak tahun 2012.  

Setelah mencari lokasi baru kantor Dinasnya, akhirnya saya merasa yakin telah berada di kantor Dinas tersebut setelah melihat sosok tinggi besar yang hanya satu-satunya di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, yakni pak Diar Cahdiar Antadireja yang menghubungi saya pagi tadi. Kami disambut hangat oleh beliau seperti biasanya dan dipersilahkan masuk ke ruang kantor beliau. 

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh seluruh kepala bidang di lingkungan Dinas tersebut, pak Diar menyampaikan harapannya bahwa ke depan hubungan antara Relawan / Komunitas TIK Garut dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut harus selalu cair dan tidak masing-masing. Bahkan kalau perlu beliau menjadi bagian dari Relawan TIK Indonesia di Garut. Model hubungan idealnya adalah seperti dalam kesempatan kegiatan bersama Hackathon Merdeka dengan Kode se Priangan Timur yang kepanitiaannya diisi oleh Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan, dan Masyarakat. 



Hal yang disampaikan oleh pak Sekretaris Dinas tentu saja diinginkan oleh Relawan TIK Indonesia cabang Garut. Sebagai wakil Relawan TIK Indonesia di Garut saya telah berusaha mendorong agenda bersama dalam Konferensi Komunitas TIK Garut kedua, membuat model kegiatan yang dilaksanakan bersama seperti Olimpiade Komunitas TIK serta Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi 2016. Saya mendorong personel Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk duduk dalam kepengurusan Relawan TIK Indonesia cabang Garut dan Komunitas TIK Garut, dan memindahkan sekretariat Relawan TIK Indonesia cabang Garut dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut ke Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. 

Pertemuan ini merupakan pelaksanaan agenda bersama Olimpiade Komunitas TIK yang diminta oleh pak Dikdik Hendrajaya dalam masa kepemimpinannya di Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dulu agar dapat dilaksanakan dalam ranga Milad Garut. Sebelumnya kegiatan ini dilaksanakan setiap akhir tahun dalam rangka Milad Relawan TIK Garut. Pada tahun 2016 silam pak Dikdik Hendrajaya berhasil mewujudkan keinginan Komunitas TIK Garut agar Olimpiade ini memperebutkan Tropi bergilir Bupati Garut. Oleh sebab itu Olimpiade Komunitas TIK Garut yang ketiga ini juga isya Allah akan memperebutkan Tropi bergilir Bupati Garut. 


Olimpiade ini dibagi menjadi tiga kelompok lomba, yakni informasi, teknologi informasi, dan pengguna. e-Garut yang merupakan lomba Hackathon masuk dalam kelompok lomba teknologi informasi. Sebagaimana Hackathon, lomba ini diikuti oleh tim untuk membuat aplikasi skala kecil yang ditentukan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dalam rentang waktu pengembangan selama satu bulan sesuai rekomendasi dari dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Lomba tersebut menguji kemampuan rekayasa perangkat lunak. Selain itu saya mewakili Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut merekomendasikan kategori kedua, yakni lomba untuk aplikasi dengan fungsi yang lebih banyak dan dikerjakan lebih dari satu bulan dengan pemanfaatan bebas di SKPD manapun. Hal ini untuk membuka peluang keluaran dari kegiatan magang dan penelitian untuk diserap oleh Pemerintah Garut. Syarat pesertanya adalah relawan, sehingga aplikasi yang dibuat dengan swadaya sendiri oleh peserta akan diberikan kepada Pemerintah Garut secara sukarela demi amal.  

Olimpiade juga akan melanjutkan kegiatan lomba-lomba bidang teknologi informasi dan komunikasi yang telah diselenggarakan sebelumnya baik oleh Komunitas TIK Garut ataupun Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Seperti lomba Blog dan Poster yang akan masuk kelompok lomba informasi, perakitan komputer dan jaringan yang akan masuk kelompok lomba teknologi informasi, serta penyuluh literasi digital yang akan masuk kelompok lomba pengguna. Kandidat lomba yang akan diselenggarakan oleh panitia adalah sebagai berikut : 
  1. Kelompok Lomba Informasi, meliputi : Blog, Vlog, Poster, dan Video untuk kampanye "Demi Kamu" dan lainnya.
  2. Kelompok Lomba Teknologi Informasi, meliputi : e-Garut untuk kategori aplikasi ditentukan dan bebas, Perakitan Personal Computer dan Jaringan
  3. Kelompok Lomba Pengguna, meliputi Penyuluh "Demi Kamu" dan Cepat Tepat Teknologi Informasi dan Komunikasi Online
Selain lomba, saya mengusulkan dilaksanakannya Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi yang fokus pada Smart Villages. Pemateri dan instruktur sebagaimana biasa akan diisi oleh Akademisi, Masyarakat Pegiat Desa Cerdas, dan Pemerintahan. 

Bentuk kepanitian yang disepakati adalah Kepanitiaan Antar Lembaga yang diisi oleh perwakilan dari Pemerintah, Perusahaan, Perguruan Tinggi, dan Komunitas (Relawan / Komunitas TIK Garut). Saya mengusulkan agar ketua panitia untuk Olimpiade kali ini adalah dari Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut atau Telkom. Karena baik Sekolah Tinggi Teknologi Garut ataupun Relawan / Komunitas TIK Garut telah sering mengisi jabatan ketua pelaksana dalam banyak kegiatan bersama. Akhirnya disepakati ketua pelaksana adalah pak Diar Cahdiar Antadireja mewakili badan publik, wakil ketua adalah pak Undang mewakili badan usaha milik negara, sekretaris adalah saya mewakili lembaga pendidikan tinggi. Seksi-seksi diisi oleh personal dari badan publik, badan usaha, lembaga pendidikan tinggi, dan komunitas. 

Waktu kegiatan yang disepakati adalah minggu akhir bulan Februari 2017, dengan peserta bebas, utamanya dari Sekolah dan Perguruan Tinggi bidang Informatika atau Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dengan demikian saya harus mempersiapkan proposal dan kelengkapan lainnya satu minggu ke depan, agar cukup waktu untuk sosialisasi kegiatan, kegiatan dana usaha, dan pendaftaran. 

02 Januari 2017

Cukup Menjadi Hamba Allah untuk Menjadi Firman Nya yg Hidup : Sudut Pandang Muslim



Tuhan bukanlah kreasi imajinasi manusia sehingga menemukannya tdk dapat dgn cara membayangkan, hanya Dia sendiri yg dapat menjelaskan siapa Diri Nya menurut Diri Nya yg tdk diatur oleh keinginan manusia. Oleh karenanya Dia mengenalkan siapa diri Nya kpd manusia melalui lisan manusia yg dipilih Nya dgn bahasa terbaik yg dapat difahami.

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).’ (QS 43:3)

Sekumpulan lisan Tuhan yg dilisankan oleh manusia itu disebut juga sebagai firman Tuhan dan dikumpulkan semuanya tanpa tercampur dgn lisan manusia dlm sebuah kitab yg diberi nama alQuran.

Tuhan kami mengajarkan dgn perantaraan kalam / perkataan yg disampaikan Jibril kepada Muhammad SAW selaku utusan yg dipilih Nya. Semua yg dikatakan oleh Muhammad SAW itu tdk datang dari hawa nafsunya tetapi merupakan firman Tuhan.

"Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS 53:4)

Dan dia tidaklah berbicara dari dorongan hawa nafsunya, akan tetapi ucapannya tiada lain adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4)

Maka dia Muhammad SAW adalah firman Tuhan yg hidup di tengah-tengah manusia. Disebut hidup karena seluruh ahlaknya adalah firman Tuhan, tidak menyimpang sedikitpun. Jika Tuhan berkata A, Muhammad SAW akan berkata A.

"Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran.” (HR Muslim).

Tuhan menjadikannya sebagai firman Tuhan yg hidup adalah utk memperbaiki akhlak manusia agar juga menjadi firman Tuhan yg hidup.

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari

Tidak perlu menjadi tuhan untuk menjadi firman Tuhan yg hidup di tengah manusia, cukup tunduk patuh saja thd firman Tuhan. Dengan ketundukan dan kepatuhan itulah Tuhan menyebut utusan Nya dan seluruh ciptaan Nya sebagai hamba Allah. Tuhan menyebut mereka sebagai wali Nya, yg apabila mereka ingin menyembuhkan, maka dgn kuasa Nya akan sembuh.

"Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi." (Hadits Qudsi)

Dgn demikian menjadi jelaslah siapa yang menyembah dan yg Disembah, dan seluruh permohonan dapat disampaikan langsung kepada Nya tanpa melalui perantaraan firman Nya yg hidup. Dia ada tanpa perlu diperantarai oleh sesuatu yg dpt diindera. Tuhan tdk perlu menjadi manusia karena Tuhan dapat hadir melalui hamba Nya yg menjadi firman Tuhan yg hidup di tengah manusia.

12 Desember 2016

Relawan TIK Dengan dan Tanpa Simbol


Panggilan sebagai relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) muncul dari dalam hati kelompok melek digital yg dermawan, tidak membutuhkan simbol2 organisasi, karena dasar geraknya adalah kemanusiaan yg adil dan beradab atas dasar Ketuhanan YME. Mereka tdk membutuhkan sebutan, cukup dikenal sebagai manusia saja, sekalipun di wajahnya terpancar cahaya insan penebar kasih bagi semesta. Mereka tdk butuh pengakuan manusia, tdk perlu besar atau kecilnya amal, sedikit atau banyak amal, yg penting ikhlas dan istiqamah, karena Allah cukup bagi mereka, ridha Allah adalah tujuan mereka. 

Adapun relawan TIK yg melengkapi dirinya dgn simbol2 organisasi, bahkan dianggap tdk diakui amalnya kalau simbol2nya tdk digunakan, mereka adalah kelompok dermawan yg amanah. Di pundak mereka ada kepercayaan yg harus dipertanggungjawabkan. Simbol2 organisasi yg muncul dalam rencana, tindakan, dokumentasi, dan evaluasi itulah yg membuat mereka dapat diakui sebagai insan yg dapat dipercaya. Allah tdk ridha thd mereka sehingga kelompok pemberi amanah ridha thd mereka. 

Dengan demikian, setiap orang dermawan yg melaksanakan amal relawan TIK melalui organisasi, tanggung jawabnya jauh lebih besar dari pada mereka yg bekerja sendiri. Dan hasil serta dampaknya sudah seharusnya jauh lebih besar, karena bekerja dalam jama'ah lebih baik dari pada sendiri, tindakan terorganisir lebih kuat dibandingkan sendiri-sendiri.