Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

15 Mei 2018

Saresehan Penguatan KIM Garut


Garut, 15 Mei 2018 bertempat di vila kampung Buleud diselenggarakan kegiatan Saresehan Penguatan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Garut. Saya diundang mewakili Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia oleh Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut selaku penyelenggara kegiatan untuk menyampaikan materi Pemanfaatan TIK dalam Aktivitas KIM. Pemateri lainnya yang diundang antara lain perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, ketua Forum KIM Jawa Barat, dan ketua Forum KIM Garut. Ada tiga pembahasan yang saya sampaikan di dalam acara tersebut, yang meliputi analisis KIM menurut Permenkominfo (Peraturan Meteri Komunikasi dan Informatika) nomor 8/PER/M.KOMINFO/6/2010 dan desain e-KIM berdasarkan Permen tersebut, serta penerapannya dalam BUMDes 4.0.

Berikut ini adalah slide presentasi yang saya sampaikan dalam saresehan tersebut :

03 Mei 2018

SEMILOKA Relawan TIK Kampus


Kamis, 3 Mei 2018 digelar acara SEMILOKA dengan tema "Layanan Relawan TIK sebagai Dharma Pengabdian kepada Masyarakat". Acara ini merupakan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia, yang merupakan tindak lanjut penyusunan buku Relawan TIK Abdi Masyarakat. Setelah buku tersebut dirampungkan 23 Februari 2018, akhirnya buku tersebut diserahterimakan oleh tim penyusun dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut kepada pengurus pusat Relawan TIK Indonesia dan kepada komunitas perguruan tinggi yang diwakili oleh APTIKOM Jawa Barat. 

Pada awalnya saya berharap acara ini dapat dihadiri oleh perwakilan komisariat dari beberapa wilayah agar segera terwujud konsensus komisariat kampus se Indonesia terkait kebijakan, standar, dan program komisariat kampus, namun keterbatasan dana lah yang menyebabkan target jumlah dan lingkup asal pesertanya dibatasi hanya 20 orang perwakilan dari wilayah Jawa Barat. Walau demikian beberapa komisariat dari luar Jawa Barat ikut hadir, seperti dari Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur. Perwakilan dari Universitas PGRI Semarang telah berusaha untuk hadir, namun dalam perjalanan ke Garut terpaksa harus kembali karena ada pertemuan penting yang harus dihadiri. Beberapa perwakilan kampus di wilayah Jawa Barat turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain dari Universitas Islam Nusantara, STMIK Sumedang, STMIK DCI, dan STMIK Tasikmalaya.

Kampus merupakan salah satu pusat mobilisasi relawan TIK yang sangat penting mengingat setiap tahun kampus melaksanakan perekrutan mahasiswa baru yang dapat menjadi sumber daya manusia relawan TIK, dan setiap semesternya dosen melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan mahasiswa yang dapat menjadi layanan relawan TIK. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kampus di antaranya dengan dana internal kampus. Relawan TIK Indonesia sangat perlu untuk bekerjasama dengan kampus agar dapat membangun masyarakat Indonesia secara bersama-sama dengan memanfaatkan fasilitas, manusia, dan dana yang ada. 

Kejelasan apa yang harus dilakukan oleh anggota Relawan TIK dan bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus sangat penting untuk menjamin keberlanjutan eksistensi anggota dan layanannya di kampus. Tidak adanya acuan kegiatan mingguan, bulanan, semesteran, atau tahunan adakalanya membuat pengurus menjadi lalai, merasa tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakannya. Sepi atau tidak jelasnya kegiatan dapat menurunkan semangat anggota untuk tetap bergabung bersama organisasi relawan TIK. 

Buku Relawan TIK Abdi Masyarakat disusun sebagai tindak lanjut hasil rapat kerja nasional Relawan TIK Indonesia di Pemalang yang mengamanatkan pertumbuhan jumlah komisariat kampus dan kegiatannya di Indonesia. Buku tersebut memberikan konsep dan panduan organisasi dan layanan Relawan TIK Indonesia yang dapat diikuti oleh dosen dan mahasiswa, yang dapat diberikan kepada anggota dan pengurus baru di lingkungan komisariat kampus. Di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, buku tersebut merupakan hand-out matakuliah IT Volunteering program studi Informatika. 

Langkah selanjutnya setelah fase konseptual adalah fase aplikasi, di mana komisariat kampus harus didorong untuk dapat melaksanakan standar yang memberi acuan layanan relawan TIK terukur. Sejumlah instrumen dan fasilitas harus disediakan, seperti buku pedoman dan medium publikasi online, serta medium koordinasi yang mengemban amanat standarisasi dan penilaian. 

Dalam kesempatan diskusi dengan perwakilan Universitas Singaperbangsa Karawang dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur di Area 306, saya memberikan jawaban atas pertanyaan tentang siapa yg paling baik mengisi kepengurusan komisariat kampus, dosen atau mahasiswa?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah tergantung sudut pandang paling baiknya utk siapa atau utk apa. Jika kebaikan itu dioptimalkan utk kampus atau dosen maka posisi kepemimpinannya harus diisi oleh dosen dgn pertimbangan periode kegiatan dosen dlm kepengurusan relawan TIK yg secara umum relatif panjang dibandingkan mahasiswa. Mahasiswa aktif sebagai relawan di kampus antara satu hingga tiga tahun, setelah lulus kemungkinan besar mereka fokus meniti karir. Sementara dosen bekerja di kampus relatif lama dan selalu mengemban kewajiban pengabdian kpd masyarakat hingga berhenti menjadi dosen. 

Kampus melaksanakan kepemimpinan publiknya di tengah masyarakat melalui dosen. Relawan TIK menyediakan kesempatan kepemimpinan publik bagi kampus mana saja melalui musyawarah. Dosen yg menjadi pengurus komisariat dan diutus utk menghadiri musyawarah cabang berkesempatan terpilih menjadi pengurus cabang. Kepercayaan musyawarah cabang atas posisi jabatan di pengurus cabang menjadikan kepemimpinan publik kampus naik level kontribusinya, dari sebatas lingkup kampus menjadi lingkup kabupaten / kota. Dan melalui musyawarah wilayah dan musyawarah nasional, kepemimpinan kampus naik level kontribusinya lagi.

Tdk ada satu waktu pun yg dilakukan dosen dalam kepemimpinan publiknya melainkan harus bermanfaat bagi tugas profesinya. Orientasi kepemimpinan dosen dalam relawan TIK adalah Tridharma, khususnya pengabdian kpd masyarakat. Luaran kepemimpinannya seperti standar, kebijakan, dan program relawan TIK yg dipimpinnya akan diorientasikan ke sana. Setiap orang yg melaksanakan pengabdian kpd masyarakat disebut sebagai relawan masyarakat.

Dosen punya waktu yg panjang utk meniti pengalaman sekaligus membagikan pengalamannya dari anggota dan pengurus komisariat hingga pusat. Kumpulan pengalaman panjang tsb menjadi modal penting pengembangan organisasi Relawan TIK. Sementara mahasiswa berhasil mengumpulkan pengalaman parsial, sebatas di satu tingkatan organisasi saja, seperti misalnya komisariat. Tetapi pengalaman parsial tersebut akan memperkaya pengalaman lengkap dosen yg menapaki tugas jabatan dlm kepengurusan komisariat hingga pusat. 

Dalam kepengurusan yg diisi oleh dosen, mahasiswa dapat ditempatkan sebagai anggota bidang yg memberikan layanan RTIK internal organisasi kpd bidangnya atau dikelompokan dalam tim2 kecil yg menyampaikan layanan RTIK eksternal kpd masyarakat. Kepengurusan komisariat tdk akan terlalu terganggu dgn penggantian satu tahun sekali personel anggota bidang atau tim relawan.

17 April 2018

Pengalaman di AASEC 2018


Pada hari Selasa tanggal 17 April 2018 saya menghadiri AASEC (Annual Applied Science and Engineering Conference) ketiga di Bandung sebagai penyaji makalah. Ada sebelas dosen Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang ikut serta dalam kegiatan tersebut sebagai penyaji.

Pagi-pagi sekali saya berangkat menuju Hotel Grand Tjokro Premier Bandung ditemani oleh pak Eri dan bu Dewi yang juga akan tampil sebagai penyaji. Kendaraannya agak cepat saya pacunya karena para penyaji harus registrasi ulang maksimum pukul delapan di lokasi. Kami datang ke lokasi telat beberapa menit karena di tengah perjalanan menyempatkan sarapan sebentar di rest area Bojongsoang. Sarapan yang saya pilih saat itu salah satu makanan kesukaan saya, yakni soto Bandung.

Ada banyak pengetahuan seputar penulisan karya ilmiah yang saya peroleh dari kelas coaching clinic. Pengetahuan tersebut mengokohkan gagasan penelitian yang telah saya sampaikan sebelumnya kepada dosen dan mahasiswa informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, seperti soal pengutipan penelitian yang dikerjakan sebelumnya untuk keberlanjutan penelitian, konten latar belakang yang harus mengandung state of the art, dan lain sebagainya. Terbetik di dalam hati semoga pengetahuan tersebut juga sampai kepada dosen di kelas lainnya, sehingga dalam rapat dosen akhir semester nanti ada sambutan yang lebih baik dari banyak dosen terhadap mimpi penelitian program studi yang telah dihembuskan selama ini.

Kegiatan coaching clinic tersebut selesai tengah siang. Saya harus menunggu sekitar tiga jam setengah ke depan untuk mengikuti kelas seminar yang menjadi tempat penyajian makalah. Dan jadwal saya menyampaikan makalah adalah 17.45, penyaji terakhir di kelas itu. Saya pun menghabiskan waktu duduk di kursi sambil mendengarkan lagu Jazz untuk mengolahragakan otak agar rileks saat masa menunggu tersebut. 

Ternyata Tuhan berkehendak lain, saya menjadi penyaji ke lima karena empat penyaji belum hadir. Di kelas itu, hanya saya dan pak Prof Ali Ramdhani yang mengangkat tema e-Government. Saya sendiri menyajikan makalah berjudul Preliminary Analysis of Government Information System using Ishikawa Diagram and Sectoral Statistics. Makalah tersebut merupakan hasil perenungan terhadap kegiatan penyusunan buku statistik sektoral kategori infrastruktur teknologi informasi yang dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya. 

Kegiatan di kelas tersebut ternyata selesai tidak sampai pukul enam sore. Tidak ada kegiatan penutupan yang tersebut dalam jadwal kegiatannya, sehingga saya mengajak pak Eri dan bu Dewi untuk pulang segera agar tidak terjebak macet sore hari di Bandung. Tetapi syukurlah perjalanan dari Cihampelas menuju gerbang Pasteur relatif cepat dari pengalaman sebelumnya. Mungkin karena ada perubahan lokasi gerbang keluar Pasteur yang agak jauh dari perempatan, atau mungkin baru kali ini saya mengalaminya. Bu Dewi turun di tengah perjalanan karena akan pulang bersama saudaranya. 

Di tengah perjalanan pak Eri mengatakan ada kabar di grup Whatsapp bahwa saya dan beberapa dosen lainnya menjadi penyaji terbaik AASEC. Baru saya lihat foto sertifikatnya setelah tiba di rumah. Alhamdulillah, semoga pengalaman ini menjadi tambahan kekuatan bagi saya selaku dosen yang mengemban tugas penelitian dan bagi program studi Informatika yang saya pimpin untuk bergerak maju. Bersyukur karena Sekolah Tinggi Teknologi Garut membiayai penuh kegiatan dosen di AASEC tersebut. Semoga Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan khususnya program studi Informatikanya senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah SWT untuk maju berkembang. Amin.


28 Maret 2018

KIA Spectra Wing dan Carens 2


Tidak banyak orang yang mengenal mobil sedan KIA Spectra Wings. Bahkan mungkin montir bengkel KIA pun ada yang belum pernah melihatnya, seperti penuturan salah satu personel di salah satu bengkel KIA di Bandung. Sebagian ada yang menyebutnya KIA Shuma, padahal seberanya berbeda sekalipun tampilannya hampir identik. 

Penampilan mobil ini elegan, teman saya bilang seumpama Mercy nya KIA. Harga jual bekas termahal untuk keluaran 2002 sekitar 65 jutaan, hampir sama dengan harga jual bekas KIA Carens I tahun 2002. Harga bekas sedan dengan tampilan elegan ini tentu saja jauh lebih murah dibandingkan sedan lain keluaran tahun yang sama dengan brand yang dikenal seperti Toyota, Honda, dan lain sebagainya. Harga barunya saat itu adalah sekitar 125 jutaan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar saat itu sekitar 9.049 rupiah, sehingga harganya kalau mengikuti nilai tukar saat ini (13.764) adalah sekitar 190 jutaan. Dengan demikian harga bekasnya sekarang kurang dari setengahnya. Penyebab utamanya seperti biasa adalah karena pajak sedan yang lumayan, serta brand KIA yang konon spare-part nya jarang dan mahal. 

Mungkin pemilik KIA Spectra Wings merasa gelisah saat bagian kendaraannya mulai bermasalah, membayangkan betapa sulitnya dan mahalnya menemukan spare-part mobil tersebut.  Tetapi jangan khawatir, ternyata spare-part KIA Carens 2 cocok untuk mobil ini, dan harganya pun relatif lebih murah dibandingkan spare-part aslinya. Berikut ini beberapa komponen Carens 2 dan harganya yang saya peroleh dari beberapa bengkel dan toko sparepart di Tasikmalaya dan Bandung :

  1. CV-Joint, Rp. 425.000
  2. Starter Assy, Rp. 2.060.000
  3. Shock-breaker belakang, Rp. 650.000
  4. Disc Pad, Rp. 345.000
  5. Kop, Dekrup, dan Druk, Rp. 1.250.000

Salah satu toko spare-part terkenal dan lumayan lengkap untuk kendaraan Korea ada di Bandung, yakni Kosambi Express, lokasinya di sini :

24 Maret 2018

Coba Jalur Tol Cileunyi - Cipali Menuju Subang


Hari Sabtu tanggal 24 Maret 2018 saya sekeluarga mudik ke Subang dari Garut. Rute biasanya yang kami gunakan adalah melalui Rancakalong. Tetapi istri males melewati jalan mengularnya dan meminta agar melewati Lembang. Setelah salat di masjid dekat rumah makan Astro, saya pun langsung mengarah ke Cileunyi dan tidak belok kanan ke arah Parakan Muncang. 

Saat laju kendaraan mulai melambat di daerah Rancaekek, istri saya menghawatirkan macet hari Sabtu di daerah Bandung. Saya pun membayangkan arus masuk melalui tol Pasteur yang biasa saya lewati menuju ke Subang. Akhirnya saya memutuskan untuk menepi di Rest Area baru di daerah Tegal Luar Bojong Soang Bandung, beberapa km dari gerbang tol Cileunyi. Seperti biasa saya coba bertanya ke Google untuk mengetahui rute tercepat. Ternyata menurut kalkulasi Google rute paling cepat adalah melalui jalan tol. 

Menurut Google, rute menuju Subang lewat tol Cipularang sekitar 3 jam 11 menit, lewat Rancakalong sekitar 3 jam 19 menit, dan lewat Cikalong Wetan sekitar 3 jam 51 menit.

Dulu saya pernah coba rute ini dari Subang menuju Cileunyi, dan menghabiskan jarak dan biaya tol yang lumayan. Dan istri saya ternyata ingin menggunakan rute yang dipilihkan Google. Berdasarkan itu semua saya putuskan untuk mengisi token tol dan isi bensin dulu di Rest Area tersebut. Setelah itu kendaraan pun melaju mengikuti petunjuk Google. Saya tidak ingin lepas dari navigasi Google karena khawatir salah mengambil jalan keluar seperti pengalaman sebelumnya.

Tol Cikopo-Palimanan merupakan jalur baru sehingga belum ada plang arah ke Subang di titik putarannya. Sebenarnya di tengah perjalanan ada plang arah ke Subang, tetapi Google menunjukan arah keluarnya bukan dari tol Cikopo tetapi menuju Cikalong. Titik putarannya ada di daerah Cikampek, dengan tanda petunjuk Bukit Indah, Cikampek, Cirebon. Lebih mudah patokannya adalah jembatan Kota Bukit Indah yang melintang di jalan tol.


Dari Rest Area hingga gerbang tol Subang hanya membutuhkan waktu 1 jam 39 menit dengan jarak tempuh 132 km.  Berarti kecepatan rata-rata saya saat itu sekitar 80 km/jam.  Tarif tol yang harus saya bayar untuk perjalanan dari gerbang tol Cileunyi hingga gerbang keluar tol Cikopo-Palimanan adalah 83500 rupiah.  


Kesimpulannya, bagi anda yang ingin pergi ke Subang dan senang dengan rute tidak mengular, maka jalan tol Cikopo-Palimanan adalah pilihan terbaik, tetapi harus mengisi bahan bakar ekstra dan membayar uang tol. Rute Rancakalong sebenarnya menyenangkan walau mengular, karena banyak pemandangan alam yang bisa dilihat. Bahan bakar relatif lebih sedikit dan tentunya uang tol nya bisa digunakan untuk tambahan uang cemilan di jalan, hehehe.