Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

14 Juli 2020

Meningkatkan Kapasitas Guru SMKN 2 Garut



Tanggal 13 Juli 2020 adalah hari terakhir kegiatan Pelatihan Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Pagi itu saya harus menyelang sebentar ke SMKN 2 Garut untuk menyampaikan materi seputar Google Classroom. Kegiatan di sekolah tersebut tidak bisa saya lewatkan mengingat undangannya telah lebih dulu datang sebelum undangan dari Kementrian. Saya langsung berangkat dari Hotel Harmoni Garut. Malam itu saya menginap di sana setelah saya memfasilitasi materi Online Marketplace hingga pukul 9 malam. 


Kegiatan yang saya hadiri di SMKN 2 Garut adalah IHT (In House Training) dengan judul Adaptasi Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal. Sesuai surat permintaan bantuan yang dikirimkan oleh kepala sekolahnya kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya harus menjadi pengajar yang menyampaikan materi kepada peserta. Beberapa hari sebelumnya, sebelum kegiatan tiga hari Kementrian dilaksanakan, saya telah merampungkan buku saku Google Classroom dalam format pdf untuk dibagikan kepada para guru yang menjadi peserta IHT. Malam itu di kamar hotel, saya siapkan slide presentasi materi Pengantar IHT nya. Lumayan melelahkan karena maraton dengan kegiatan Kementrian, tetapi harus saya kerjakan agar berbuah manfaat sedekah ilmu yang banyak.

Dalam kesempatan tersebut, saya menjelaskan kepada para Guru yang menjadi peserta kegiatan IHT bahwa karakteristik pribumi digital yang dimiliki oleh peserta didik merupakan kekuatan dalam penerapan teknologi pembelajaran jarak jauh. Tuntutan untuk mengarahkan peserta didik menjadi CAKAP (Cerdas, Kreatif, dan Produktif) dalam memanfaatkan teknologi informasi menjadi kesempatan dalam pemanfaatannya. Saya menunjukan beberapa contoh kasus pelanggaran UU ITE oleh siswa, guru, dan kepala sekolah di beberapa daerah sebagai sampel kelemahan komunitas akademik dalam pemanfaatan internet. Kelemahan lainnya yang saya tunjukan adalah persebaran internet hotspot yang belum merata di wilayah Garut yang harus menjadi perhatian para guru. Menurut pendapat saya, guru memiliki kewajiban untuk mengingatkan peserta didiknya agar dapat memenuhi dasar etika jaringan semata karena tanggung jawabnya selaku penyelenggara kegiatan pembelajaran di internet. Lembaga pendidikan seyogyanya memastikan peserta didik yang berada di zona internet blank spot agar dapat mengikuti pembelajaran daring, agar hak belajarnya terpenuhi.

   
Slide presentasi dapat diunduh di sini
Buku Saku Google Classroom dapat diunduh di sini
 
   

03 Juli 2020

Bukan karena Cita-cita


Selepas SMA, bapak memasukan saya ke test masuk STPDN. Pertimbangannya adalah krn sekolahnya gratis, dan setelah lulus bisa jadi PNS. Saya memutuskan utk berhenti dari tesnya krn ada hal yg saat itu saya anggap tdk sejalan dgn nilai agama, seperti berdiri telanjang di atas meja utk pemeriksaan kesehatan dgn dilihat oleh banyak peserta lain yg juga dlm kondisi telanjang.

Selepas itu sempat daftar masuk informatika ITB dan manajemen industri IPB, tapi mungkin krn kurang persiapan krn waktu tersita oleh tes STPDN, atau krn peminatnya membludak, saya tdk diterima masuk di sana. Intinya, belum rejekinya masuk dua kampus tsb.

Orang tua kemudian memasukan saya ke kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut yg saat itu muatan pembelajaran agamanya sangat banyak. Mata kuliah agamanya dari semester I sampai VI. Pembelajaran agamanya ditambah selepas Maghrib dan Subuh di ponpes kampus. Pemahaman agama ini menjadi lebih terhubung sanad keilmuannya dan akademis.

Selepas kuliah, saya ikutan tes CPNS Pemkab Garut bareng teman utk bidang informatika. Tesnya tdk pernah saya ikuti krn surat panggilannya tertahan di teman tsb. Saya tdk marah dan menganggapnya angin lalu.

Saya mulai mengajar di kampus setelah ditawari oleh pak kyai yg saat itu menjabat pimpinan kampus dan bu guru yg saat itu menjabat kaprodi. Saya tdk menolak pekerjaan tsb, tetapi juga tdk memberi kepastian tetap akan bekerja di Garut. 

Sempat melamar ke perusahaan Multi-Nasional di Jakpus dan diterima, tetapi memilih pulang lagi ke kampus krn pertimbangan spirituil. Saat itu saya berfikir, lebih baik bekerja di lingkungan yg sejuk walau gajinya tdk sebanyak di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian, setelah dua tahun menjadi asisten dosen dan diberi info penerimaan CPNS di Kemendikbud RI oleh teman, saya berniat memberi tahu info tsb kpd para guru di kampus. Tapi kemudian malah ikut daftar. Sempat mau mundur dari tesnya, tapi dinasihati oleh guru utk melanjutkannya, sehingga akhirnya diterima masuk CPNS. Dan atas usaha pak kyai, alhamdulillah jadi diperbantukannya di almamater.

Orang tua tentunya senang, sebab akhirnya PNS menjadi pekerjaan kedua anaknya di tahun yg sama, dan sama2 di lembaga pendidikan bidang informatika, hanya jenjangnya saja yg berbeda. Anak lelakinya tdk perlu menjadi PNS melalui jalan yg ada pukulan fisiknya. Bila sdh ditakdirkan, pekerjaan itu tdk akan ke mana. Dan semuanya terwujud krn kesungguhan orang tua dlm mencerdaskan kehidupan anak-anaknya dgn doa dan usaha. 

Jalan karir saya memang tdk selancar kakak yg satu angkatan PNS nya. Utk naik ke golongan III/b saya hrs kuliah S2 dulu. Dan utk naik ke golongan IV seperti kakak, saya hrs kuliah S3. Kakak tdk menemui hambatan seperti itu. Ibu sempat menyarankan agar saya pindah tugas, tetapi saya memilih utk ikhlas menjalaninya. 

Orang tua sangat demokratis, membiarkan anak memilih yg terbaik dari pilihan terbaik yg ada. Orang tua mengajarkan kepemimpinan, di mana anak harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya atas diri. Hal tsb seakan kebebasan yg menyenangkan, padahal merupakan beban yg besar. Sebab anak hrs bersikap amanah thd kebebasan memilih yg diberikan oleh orang tuanya, tdk mengecewakan orang tuanya.

Saya dapat mensyukuri nikmat ilmu di almamater dgn berkontribusi apapun, seperti membawa mahasiswa asing ke kampus dan membawa mahasiswa kampus ke luar negeri. Nikmat itu ditambah oleh almamater dlm wujud bantuan biaya kuliah saat menempuh pascasarjana di ITB. Allah membukakan jalan mensyukurinya dgn membangun Unit Kerja Sistem Informasi, sesuai konsentrasi bidang ilmu komputasi saya di ITB. Sekarang unit kerja tsb sudah masuk dalam struktur organisasi, dan menjadi ujung tombak pelaporan kinerja tridharma perguruan tinggi. Jalan lainnya yg terbuka selepas kuliah adalah dgn memunculkan mata kuliah pilihan Sistem Informasi dlm kurikulum baru prodi Informatika, lengkap dgn kelompok keilmuannya.

01 Juli 2020

Bekerja untuk Bersedekah


Seorang pria, sebelum ia menikah, uang yg diperolehnya dari bekerja dinikmatinya sendiri. Tetapi setelah ia menikah, uang itu ia bagikan dgn anggota keluarganya. Ia tdk merasa sedih dgn hal itu krn dua sebab, yakni sadar akan tanggung jawabnya utk menafkahi; dan sadar betapa banyaknya keuntungan akhirat yg ia peroleh dari menafkahi. Semakin banyak uang yg dicari, dan semakin banyak dikeluarkannya, semakin banyak pula pahala sedekahnya.

Harta yg dikeluarkan sebagai makanan utk mu dinilai sebagai sedekah utk mu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah (HR. Ahmad)

Kesadaran yg pertama boleh jadi terwujud krn rasa takut kpd Allah,

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya (HR. Ibnu Hibban)

Dan kesadaran kedua boleh jadi terwujud krn dorongan harap kpd Allah agar selamat dari neraka,

Selamatkan diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma (HR. Bukhari)

Dgn bekerja & menafkahi keluarga setiap hari, seorang suami mendapatkan fasilitas ampunan dosa setiap hari,

Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api (HR. At-Tirmidzi).

Dgn demikian, seorang suami yg beriman kpd Allah dan Rasul Nya senantiasa diampuni & diselamatkan oleh Allah dari neraka setiap harinya dgn karunia kemampuan dari Nya utk bekerja yg halal, mendapatkan uang, dan menafkahi setiap hari. Dan seorang istri, ikut terciprati krn membantu suami mengelola sedekahnya.

29 Juni 2020

Pengabdian adalah Branding

Dlm Pengabdian kpd Masyarakat, sivitas akademika menyengajakan diri turun ke tengah masyarakat utk memberikan manfaat  keahlian atau luaran Tridharmanya dlm rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tsb merupakan blusukan gaya akademisi yg memberi manfaat pencitraan positif bagi kampus. 

Oleh krnnya kegiatan pengabdian merupakan bagian dari promosi kampus. Kegiatannya hrs dioptimalkan utk campus branding dgn sasaran terpenting menghasilkan intimacy antara kampus dgn masyarakat, sehingga kampus semakin dikenal dan berpengaruh.

Luaran pengabdian berupa publikasi artikel berita di media masa menjadi salah satu kunci sukses promosinya, cara personal branding yg tdk boleh dilewatkan oleh kampus, selain krn memang dapat menambah nilai kinerja di SIMLITABMAS. Setiap tim pengabdi adalah branding agent yg dapat menghasilkan citra positif kampus di tengah masyarakat dan dlm persepsi pembaca media. Semakin banyak pemberitaan pengabdian, semakin kuat upaya promosinya.

Pengelolaan media daring bisa dilakukan oleh divisi khusus di bawah unit bisnis kampus. Tentunya dikelola secara profesional dgn tim redaktur dan perizinan yg lengkap. Divisi tsb bisa menjadi medium pengembangan diri mhs dlm bidang jurnalistik, laboratorium bahasa, sekaligus menyediakan kesempatan kerja bagi alumni. Hal ini dimaksudkan agar dana mengalir di dalam lingkaran kampus.

Gambar ilustrasi: Relawan TIK Abdi Masyarakat II Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

27 Juni 2020

Pancasila Tidak Hendak Diganti, Tetapi Diberi Ciri


Kalau dicermati, pd pasal 7 RUU HIP tdk ditemukan kalimat yg arahnya mengganti Pancasila dgn Trisila atau Ekasila. Yg ada adalah penetapan Trisila sebagai ciri pokok Pancasila pd ayat (2), dan Ekasila sebagai kristalisasi Trisila pd ayat (3). 

Apakah ciri merupakan sesuatu yg sama dgn Pancasila sehingga dapat berpotensi menggantikan, atau bagian dari Pancasila sehingga melengkapi wujudnya? Mari kita ambil contoh penggunaan kata ciri pd mahluk hidup. Ciri pokok mahluk hidup itu bernapas, bergerak, iritabilitas, membutuhkan makan, tumbuh berkembang, bereproduksi, adaptasi, ekskresi. Bernafas itu bukan mahluk lain selain mahluk hidup, tetapi ia adalah atribut pengenal. Sehingga kita tdk bisa mengatakan bernafas adalah mahluk lain selain mahluk hidup yg berpotensi mengancam keberadaan mahluk hidup. 

Sampai di sini, kita sdh memahami bhw Trisila dlm pasal tsb diletakan oleh perumusnya bukan sebagai Ideologi lain yg akan menggantikan Pancasila, tetapi sebagai atribut pengenal Pancasila, di mana segala wujud Pancasila tdk akan seperti Pancasila kalau tdk bercirikan Trisila tsb. Seperti wujud mahluk tdk akan seperti mahluk hidup kalau tdk bernafas dls. 

Yg menjadi persoalan adalah apakah bangsa kita menyepakati Pancasila yg tertuang dlm UUD ini dicirikan oleh Trisila seperti pendapat Sukarno yg mengajukan nama Pancasila? Bila tdk diberikan ciri, apakah Pancasila ini tdk akan ditafsirkan keluar dari apa yg disepakati bangsa? Tentunya kita khawatir Pancasila ini dibawa terlalu ke kanan atau ke kiri. Kalangan Islam tentunya tdk suka Pancasila dibawa terlalu sekuler. Cirilah yg memastikan wujud Pancasila itu ajeg.

Oleh krnnya harus ada ciri tengahnya, tdk ke kanan atau ke kiri. Tugas perumus RUU ini mencari ciri tengahnya, menyepakati beberapa di antara banyak usulan ciri dari sisi kanan dan kiri. Sementara ini, Trisila diusulkan oleh tim perumus utk menjadi ciri tengah tsb, bukan menjadi pengganti Pancasila. 

Bila di tengah jalan ada yg tdk sepakat dgn ciri tsb, tim perumus dgn sokongan pakar bisa mengusulkan ciri yg dianggap bisa diterima oleh kalangan Nasionalis, Islam, dan lainnya. Tentunya yg memusyawarahkannya adalah politisi di parlemen yg menjadi wakil rakyat. Politisi yg memilih berjuang di luar parlemen, di luar sistem demokrasi, bukanlah entitas yg terlibat dlm musyawarah, tdk perlu dijadikan ikutan oleh rakyat Indonesia.