Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

18 September 2020

Pengembangan SDM Relawan Di Penghujung Waktu


Tidak terasa sudah di penghujung waktu, setelah sekian tahun memenuhi permintaan pak Fajar Eri Dianto di Yogyakarta untuk menyertainya dalam kepengurusan Relawan TIK Indonesia. Hal tersebut bukan sesuatu yang diinginkan, sebab keinginan yang sebenarnya adalah tetap berkontribusi pemikiran atau apapun yang membangun di luar struktur kepengurusan sebagaimana yang dilakukan di awal bergabung dengan organisasi ini. Pak Boni Pudjianto yang saat itu masih bertugas di Direktorat Pemberdayaan Informatika, sangat mendukung cara kontribusi seperti itu. 

Beberapa hari sebelum Rakernas Yogyakarta 2016, saya ditanya oleh pak Bambang dari Direktorat Pemberdayaan Informatika soal minat mengikuti bursa pencalonan ketua umum Relawan TIK Indonesia. Pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, "Ada orang di wilayah timur yang lebih bagus dari saya". Beliau menanggapinya dengan penuh canda, "Iya, sebelah timur Jakarta"

Saya yakinkan beliau bahwa saya tidak minat ikut bursa calon tersebut. Memang bukan sifat alami saya menginginkan yang demikian. Jabatan sebagai ketua program studi pun saya terima setelah sebelumnya menolak karena khawatir dengan adanya fitnah kepemimpinan dan merasa ada orang yang jauh lebih baik. Hanya saja karena profesor Ali meyakinkan saya tidak ada orang lain yang dipilihnya, dan saya telah mendapat restu dari ibu, jabatan itupun saya terima. Sekalipun saya merasakan akan adanya fitnah tersebut, namun saya bernafas lega karena saya bukanlah orang yang meminta jabatan, dan insya Allah akan ditolong Allah saat menghadapi fitnah tersebut.

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allah). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allah) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffarah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)” (HR Bukhori dan Muslim)

Di Yogyakarta, saat perhelatan Festival TIK satu hari sebelum Rakernas Relawan TIK Indonesia, saya mendapat pertanyaan yang sama dari pak Yamin Nawala. Jawabannya tetap sama, saya tidak berfikir ke arah sana, fokus saya tahun depan adalah kuliah lagi. Ada kekhawatiran bila saya kuliah, amanah jabatannya tidak terlaksana. Dalam suatu riwayat Abu Dzar bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku jabatan?". Kemudian Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar, lalu beliau bersabda, ''Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau itu lemah, sedangkan jabatan itu amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memerolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.'' (HR Muslim).  


Saya menyampaikan kepada beliau agar jabatan tersebut sebaiknya dipercayakan oleh teman-teman Relawan TIK Indonesia kepada pak Fajar Eri Dianto. Pernyataan ini bukan tanpa alasan, sebab saya merasakan benar bagaimana pengasuhan beliau kepada Relawan TIK Garut. Saya tidak menggunakan istilah pengasuhan orang tua kepada anak-anaknya, hahaha. 

Di venue, teman Relawan TIK yang berasal dari kampus menyampaikan pertanyaan yang sama. Jawaban saya tetap sama, menolaknya dengan menambahkan masukan agar teman-teman kampus mendukung pak Fajar Eri Dianto. Dan akhirnya, di Munas itu pak Fajar Eri mendapatkan dukungan suara yang banyak untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dari pak Indriyatno Banyumurti.


Setelah itu, pak Fajar Eri meminta saya untuk melengkapi kepengurusan beliau. Rasa permintaan ini sama seperti saat profesor Ali meminta kepada saya, permintaan dari orang yang pernah memberikan kebaikan yang sulit untuk ditolak. Akhirnya saya pun bersedia membantu beliau dan tampil saat dipanggil bersama teman-teman lain untuk duduk sebagai Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia. Saya dipercayakan untuk mengurusi bidang pengembangan SDM Relawan TIK Indonesia. 

Sebenarnya saya agak gundah menerima jabatan ketua dalam bidang tersebut, sebab masih teringat sewaktu di Rakernas Surabaya dan FGD Jakarta, ada sebagian Relawan TIK yang tidak setuju dengan sistem pemberdayaan Relawan TIK berjenjang yang saya buat dan diusulkan oleh Kementrian kepada Relawan TIK Indonesia. Saya hanya melihat suara yang setuju hanya berasal dari kalangan akademisi. Namun saya juga mengingat saat Rakernas di Menado, Eko Prasetya menyampaikan bahwa Relawan TIK Indonesia sudah siap dengan metode pemberdayaan saya yang disebut oleh ibu Mariam Barata dalam Rakernas tersebut sebagai sistem berjenjang. Atas dasar pertimbangan itu semua, saya memutuskan untuk menjalaninya, berkontribusi semampunya.


Selama periode kepengurusan, saya tidak mengoperasionalkan sistem penjenjangan. Saya mencukupkan diri menuangkannya ke dalam buku yang berjudul "Mobilisasi Relawan TIK Indonesia" yang disusun sebagai panduan bagi pengurus organisasi tingkat cabang dan komisariat. Tidak ada permintaan untuk di SK kan oleh ketua umum, tidak ada seremoni launcing, dan tidak ada tindak lanjut pendidikan dan pelatihannya. Saya berlaku sebagaimana sebelum menjadi pengurus, membagikan konten yang dipandang bermanfaat, dan tidak memikirkan apakan konten itu dimanfaatkan atau tidak oleh orang lain, baik sedikit ataupun banyak. Kemanfaatannya diserahkan kepada Allah saja.


Buku tersebut dibuat agar di kabupaten / kota tersedia pelatih anggota dan pengurus; pengurus komisariat dapat menjalankan program mobilisasi tahunan di mana layanannya selaras dengan program pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan mitra; dan terukurnya layanan relawan TIK berdasarkan data kinerja layanan dan kepengurusan. Saya mengelompokan SDM yang melaksanakan layanannya menjadi tiga, yakni kelompok layanan perangkat TIK, kelompok layanan pengguna akhir, dan kelompok layanan informasi. Kelompok yang melaksanakan layanan di lapangan ini disebut Relawan TIK fungsional, dan pengelola layanan dari kalangan pengurus disebut Relawan TIK struktural. Untuk menjamin pengalaman berorganisasi yang beragam, dibuatlah jenjang karir fungsional dari komisariat hingga pusat. 


Dalam konteks pengembangan SDM, saya memberikan gambaran perbedaan tugas pengembangan SDM antara jenjang organisasi komisariat, cabang, wilayah, dan pusat. Di setiap jenjang organisasi harus tersedia SDM pelatih, di mana komisariat bertanggung jawab atas pelatihan anggota (fungsional), sementara organisasi cabang hingga pusat bertanggung jawab atas pelatihan pengurus (struktural) organisasi di bawahnya. Saya mendefinisikan jenjang jabatan fungsional meliputi anggota biasa, pelatih anggota, pengelola komisariat, perintis komisariat, dan pelatih komisariat.
 

Di dalam buku Mobilisasi Relawan TIK Indonesia itu dituangkan konsep mobilisasi Relawan TIK berwujud daur hidup mobilisasi, dan work breakdown structure (WBS) proyek layanan Relawan TIK untuk pelaksanaan serentak nasional. 

Selanjutnya fikiran saya berpusat pada penerapannya di kampus, sehingga munculah gagasan tentang bagaimana relawan TIK terintegrasi dalam sistem pendidikan tinggi. Gagasan tersebut saya terbitkan dalam artikel pada Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi dengan judul "Integrasi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Sistem Pendidikan Tinggi". Gagasan tersebut berdasarkan apa yang saya kutip dalam buku "Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK". Ada sumber pustaka yang menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan TIK dapat diintegrasikan dengan sistem sekolah reguler, di mana sistem tersebut menerima budaya relawan dan menyediakan SDM relawan berkelanjutan. Oleh karenanya, saya selalu mempromosikan lembaga pendidikan sebagai basis relawan kepada siapa saja yang fokus dengan pemberdayaan relawan. 


Piloting mobilisasi ini saya laksanakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, berdasarkan piagam kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia, dalam wujud program Relawan TIK Abdi Masyarakat sebagai tugas besar mata kuliah Relawan TIK pada program studi Teknik Informatika. Mata kuliah ini dirancang sebagai turunan dari topik Komputer dan Masyarakat dan melengkapi mata kuliah Kuliah Kerja Nyata. Setelah mahasiswa mendapatkan bekal karakter nasionalis religius dari mata kuliah dasar umum, mata kuliah Relawan TIK membentuk karakter tersebut menjadi karakter pengabdi dalam bidang TIK yang lingkup pelayanannya khas TIK. Pembentukan karakter ini diperlukan sebelum mahasiswa bersentuhan dengan problem TIK yang dihadapi oleh masyarakat. Pengalaman lapangan dari para pengabdi dalam program Relawan TIK Abdi Masyarakat yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah diharapkan menjadi material pengkayaan materi ajar mata kuliah Relawan TIK.


Untuk keperluan piloting mobilisasi, saya membuat buku kedua berjudul "Relawan TIK Abdi Masyarakat". Buku yang menjadi materi mata kuliah Relawan TIK melengkapi daur hidup mobilisasi tahunan dan menunjang pelaksanaan metodenya / WBS. Sebelum melaksanakan tugas besar, peserta mata kuliah Relawan TIK mendapatkan materi pembekalan yang bersumber dari buku tersebut. Dalam WBS, kegiatannya disebut Pelatihan Tim. Alhamdulillah, Relawan TIK Abdi Masyarakat #rtikabdimas sudah dilaksankaan selama 3 angkatan. Saya terus berupaya membuat kegiatannya secara efektif berhasil mewujudkan maksud mobilisasi dan dapat dilaksanakan secara efisien. Setelah menemukan model terbaik, bila ada umur, saya akan tuangkan dalam edisi kedua "Relawan TIK Abdi Masyarakat". 


Dengan buku tersebut saya berusaha menjelaskan bahwa ormas modern memerlukan pengelolaan faktor produksi yang baik, meliputi manusia pengabdi, mesin digital yang digunakan dalam pengabdiannya, material pengabdiannya, dana kegiatan pengabdiannya, dan metode pengabdiannya. Ormas harus memikirkan sumber pendapatannya yang tidak hanya bersumber dari donasi atau sponsorship saja, tetapi juga dari kegiatan usaha yang memanfaatkan sumber daya internal yang menjadi faktor produksinya. Sumber pendapatan itu dapat beroperasi seiring dengan perjalanan karir anggotanya. Sementara anggota ini terus menerus ada karena dipenuhi oleh komisariat lembaga pendidikan. Dengan demikian, Relawan TIK tidak hanya menjadi medium mobilisasi untuk tujuan pemberdayaan masyarakat dalam konteks ekonomi digital, tetapi juga medium pemberdayaan ekonomi Relawan TIK itu sendiri.  


Mungkin hanya itu yang bisa saya kerjakan selama menjabat sebagai ketua bidang pengembangan SDM Relawan TIK Indonesia. Kalau diumpamakan sebagai proses riset, yang saya kerjakan baru sampai pada milestone pertengahan dalam lingkup kluster kampus. Saat mencapai milestone penelitian dasar, saya menghasilkan naskah "Mobilisasi Relawan TIK Indonesia"; dan saat mencapai milestone penelitian terapan, saya menghasilkan naskah "Relawan TIK Abdi Masyarakat" dan piloting moblisasi Relawan TIK kluster Kampus di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Milestone terakhir yakni pengembangan (hilirisasi) tercapai setelah ditemukan model terbaik dan generik dari praktik piloting tersebut yang akan dituangkan dalam buku Relawan TIK Abdi Masyarakat edisi berikutnya. Semoga saja peta jalannya diulang dari milestone pertama dan dilengkapi dalam pendidikan Doktoral nanti. Semoga segala amal baik yang dikaruniakan Tuhan selama berkegiatan Relawan TIK menjadi wasilah kemudahan prosesnya. Amin.

Masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan untuk menerapkan "Relawan TIK Abdi Masyarakat" ini. Di antaranya adalah mewujudkan BAKORTIKA (Badan Koordinasi Relawan TIK Kampus) yang sebenarnya hanya tinggal mengajukan SK kepada ketua umum saja karena struktur kepengurusannya sudah disusun. Idealnya BAKORTIKA ini menjadi luaran akhir dari tugas yang diberikan ketua umum kepada saya selaku "Gugus Tugas" Kampus. Rakernas Relawan TIK Indonesia di Pemalang telah menyepakati perlunya klusterisasi Relawan TIK dengan mempertimbangkan kekhasan bidang layanannya, sehingga didefinisikan sejumlah kluster, diantaranya adalah kluster kampus. 

Pembentukan BAKORTIKA sah menurut AD/ART Relawan TIK Indonesia. Disebutkan dalam pasal 14, badan merupakan satu kesatuan organisasi, bukan organisasi maya atau organisasi di dalam organisasi. Badan adalah perangkat taktis organisasi dalam menangani bidang-bidang khusus yang bersifat strategis untuk mencapai tujuan Relawan TIK Indonesia berikut ini:
  • Internal (mikro) menyiapkan anggota dalam penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan individual maupun kerjasama kelompok guna menyelenggarakan tugas‐tugas edukasi sosial, pemberdayaan maupun kegiatan insidental;
  • Organisasional (meso) menjadikan Relawan TIK sebagai sebagai satuan yang mampu bereaksi cerdas, tanggap, bergerak cepat serta bertindak cermat dalam menjalankan tugasnya;
  • Nasional (makro) berkontribusi dan partisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan, kemasyarakatan serta berperan dalam tugas kemanusiaan, dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan TIK bagi kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa Indonesia.
Kesepakatan klusterisasi Relawan TIK di Rakernas Pemalang yang ditindaklanjuti dengan sosialisasinya dalam Rakernas TIK di Cirebon menunjukan bahwa Kampus termasuk bidang-bidang khusus yang dimaksud. Terlebih kampus adalah tempat strategis yang dapat mewujudkan tiga tujuan Relawan TIK Indonesia. Piloting mobilisasi Relawan TIK Indonesia di Sekolah Tinggi Teknologi Garut menunjukan bahwa tujuan Relawan TIK Indonesia tercapai melalui program Relawan TIK Abdi Masyarakat yang sinergis dengan program pemerintah daerah dan pusat. Sekolah Tinggi Teknologi Garut berhasil menujukan kemampuan taktis Relawan TIK dalam menanggapi bencana yang ada di wilayahnya, seperti bencana banjir bandang dan covid-19


BAKORTIKA ini merupakan kelengkapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan milestone ketiga. Hilirisasi konsep integrasi Relawan TIK dengan Sistem Pendidikan Tinggi memerlukan komitmen banyak perguruan tinggi. Moblisasi Relawan TIK Kampus akan menjadi masif dan berdampak nasional bila mobilisasi kampus dijalankan dan medium koordinasinya disediakan. BAKORTIKA diharapkan menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan, sehingga organisasi Relawan TIK Indonesia dapat berdiri kokoh di atas dalil-dali ilmiah yang mendasari gerakan sosialnya.       



13 September 2020

Anda Berdiri di Sisi Khawarij?

Dlm pemahaman semantik saya, anak yg dimaksud dalam kutipan di atas bukanlah SEMUA anak hafiz yg good looking dan penguasaan bhs Arabnya bagus, tetapi HANYA anak dari kelompok MEREKA saja. Yg dimaksud mereka di sana adalah kelompok yg IDE2NYA MENAKUTKAN, seperti takfiri dls. Alasannya adalah krn anak itu bersedia dikirimkan utk melaksanakan misi kelompoknya, yakni membuka ruang pertemuan di masjid yg bisa dimasuki oleh kelompoknya sehingga ide2 tsb bisa disampaikan kpd jemaah masjid. 

Apakah ada hafiz yg menguasai bhs Arab tetapi memiliki ide2 yg menakutkan seperti itu? Ingat saja Ibnu Muljam. Dia adalah hafiz yg tentu saja menguasai bhs Arab, tetapi membunuh Sayidina Ali krn alasan yg menakutkan kita semua. Kelompok nya yg dinamai Khawarij ini senantiasa ada sampai sekarang. Wajar saja bila umat Islam, termasuk pemerintah kita mewaspadai infiltrasi kelompok ini ke dalam pemerintahan. Sangat heran bila ada dari kita yg melindungi kelompok berbahaya ini dan menyerang siapa saja yg berusaha menangkalnya. 

Pemahaman semantik terhadap isi pesan yg dikutip seperti yg saya tunjukan ini biasanya dihidari oleh mereka yg punya masalah psikologis, seperti rasa tdk suka kepada pemberi pesan. Alasannya krn tdk akan menemukan alasan utk mengarahkan "serangan" kpd pemberi pesan. Saya menuliskan ini bukan krn suka atau tdk suka kpd pemberi pesan, tetapi krn agama mengajarkan agar berlaku adil kpd seseorang walau tdk suka kpd dirinya sekalipun. 

Setelah ini mari saya bertanya, di manakah anda berdiri, di sisi Khawarij?

31 Agustus 2020

Cerita di Balik Webinar dengan KOMPAK dan KEMENDESPDTT

Pada tanggal 25 Agustus 2020, saya mendapat telpon dari mas Faun, teman Relawan TIK Bojonegoro. Mas Faun menyampaikan kepada saya bahwa tim KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan utk Kesejahteraan Kemitraan Pemerintah Australia - Indonesia) sedang mencari narasumber yang dapat menyampaikan pengalaman KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa. Mas Faun yang selama ini menyimak kegiatan Relawan TIK Abdimas di desa yang saya bagikan di komunitas maya Relawan TIK Indonesia kemudian merekomendasikan saya untuk menjadi narasumber.

Pada tanggal yang sama, teh Oli dari tim KOMPAK kemudian menghubungi. Dalam hubungan melalui sambungan telpon tersebut, teh Oli memperkenalkan KOMPAK dan apa yang menjadi fokusnya, khususnya platform teknologinya yang menjembatani komunikasi antara Perguruan Tinggi dengan Desa. Saya diminta untuk menjadi narasumber pada tanggal 31 Agustus 2020 untuk melengkapi pengetahuan yang sebelumnya sudah diisi oleh perguruan tinggi lain di Indonesia.   

Saya menyambut baik permintaan tersebut. Kebetulan sekali tanggal tersebut merupakan akhir pelaksanaan KKN STT Garut, sehingga bisa dijadikan sebagai kegiatan penutup pelaksanaan KKN yang dihadiri oleh mitra KKN berikut para pengabdi (mahasiswa dan dosen pembimbingnya). Selanjutnya saya komunikasikan rencana kegiatan ini kepada bu Ida Farida selaku ketua pelaksana KKN sekaligus wakil ketua I yang membidangi urusan Triharma. Rencana tersebut direspon baik, lalu surat undangan mengikuti kegiatan tersebut dibuat dan dibagikan kepada para pengabdi. 

Tim KOMPAK meminta ada kepala desa yang dapat dihadirkan sebagai narasumber. Proses pencariannya tidak mudah, mengingat saya harus memastikan tim KKN nya melaksanakan kegiatan penerapan TIK di desa tersebut, agar sesuai dengan tema kegiatannya. Akhirnya ada personel tim KKN di komunitas maya KomTIK Garut yang merespon pencarian tersebut dan menginformasikan kegiatannya membangun situs web desa. Selanjutnya saya meminta staf dan kang Rikza selaku dosen pembimbingnya untuk mengawal penyiapan video dokumentasi dan kesiapan kepala desa selaku narasumber.

Perkembangan tersebut saya sampaikan kepada tim KOMPAK. Akhirnya pada hari Jum'at, 28 Agustus 2020, flyer kegiatan dibuat dengan narasumber lengkap, dibagikan di media sosial dan dikutipkan dalam surat undangan STT Garut yang dibuat untuk para pengabdi dan mitra.

Sebelumnya tim KOMPAK menunjukan antusiasnya apabila Dirjen PENDIS KEMENAG dapat hadir dalam Webinar untuk menyampaikan pengalamannya sebagai ketua STT Garut saat itu dalam mendorong pendampingan masyarakat desa melalui Relawan TIK. Pada tahun 2012, di masa beliau masih menjabat, Menteri PDT yang saat itu rencananya akan menghadiri Wisuda Sarjana STT Garut, diarahkan untuk mengukuhkan Relawan TIK Garut. Dikarenakan kesibukan beliau, posisi narasumber yang disiapkan oleh tim KOMPAK kemudian saya usulkan untuk digantikan oleh pak Hilmi selaku ketua STT Garut. Kang Rikza juga diminta oleh Tim KOMPAK untuk menyampaikan testimoninya mewakili Relawan TIK dalam webinar tersebut.

Dalam kesempatan pertemuan teknis pada hari Jum'at tersebut, saya menjanjikan untuk menyerahkan slide presentasi pada hari Minggu. Slidenya baru bisa saya serahkan pukul 10 malam setelah dibuat dari pukul 09 hari Minggu pagi.  

 
Alhamdulillah, hari Senin itu kegiatan berjalan lancar. Saya lupa menyakan durasi waktu penyampaian materinya sehingga slide saya buat utk penyampaian satu jam. Syukurlah saya hanya mengambil waktu 10 menit saja dari 20 menit yang disediakan oleh tim KOMPAK. 

25 Agustus 2020

Tetap Hidup dalam Nasihat


Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Turut berduka atas wafatnya KH Umar Abdulhakim (Mama Dudu Pst Sumur). 

Pertama kali bertemu beliau beberapa tahun yg lalu saat mengunjungi Ponpes Sumur bersama teman2 Relawan TIK Jawa Timur selepas kegiatan peluncuruan program ICT4Pesantren Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Alhamdulillah rezeki kami bertemu dengan beliau. Saat itu beliau keluar dari kamar selepas salat, padahal sebelumnya dicari di sana tdk ada. 

Bertemu dgn beliau serasa terangkat seluruh beban di dalam hati. Saat itu saya bertanya kpd beliau, apa yg harus dilakukan utk kembali kpd Allah? Beliau menjawab, bacalah "Allah" terus menerus. 

Saat itu saya tertegun, sebab wirid tsb sudah lama pergi dari hati. Wirid di masa lalu yg tdk pernah berhenti sekalipun telah masuk ke alam mimpi. Wirid yg telah menghantarkan ke alam perenungan yg mendamaikan di masa kuliah dulu. Jawaban beliau tersebut saya anggap sebagai nasihat sekaligus ingatan dan ijazah. 

Warid adalah karunia, tdk mudah mendapatkannya. Tdk bisa kembali hanya dgn sebuah buku ttg Allah yg diberikan seseorang yg bisa mencerabutnya. Sampai detik ini saya blm mendapatkannya, memetik ketenangannya. Sekalipun beliau telah wafat, beliau tetap hidup dlm nasihat yg akan selalu diingat. Saat pertama bertemu dan hingga kini, perasaan saya tetap sama, bersama beliau secara ruhiyah lebih baik dari pada dunia dan isinya.

Relatifnya Penilaian Keadaban


Sombong itu berpaling dari kebenaran yg relatif. Seseorang disebut sombong oleh orang lain saat ia berpaling dari sesuatu yg dianggap benar oleh orang lain tersebut. Alasan berpalingnya dua, yakni karena ia menentang anggapan tsb yg diyakininya sebagai kekeliruan dgn alasan semantik atau lainnya, atau ia setuju dgn anggapan tsb tetapi memilih utk menentangnya dgn alasan psikologis.

Sikap seseorang yg berpaling dari sesuatu yg dianggap benar oleh orang lain karena meyakini kekeliruannya, bagi orang lain tersebut dianggap sebagai kesombongan, namun bagi dirinya dianggap sebagai kebenaran. Membalas kesombongan dgn kesombongan di antaranya adalah dgn berpaling dari kebenaran tsb sebagai wujud penentangan kpd anggapan orang lain tsb. Sikap tersebut dianggap sebagai sedekah yg adakalanya dilakukan dgn tetap menjaga adab dan ada pula yg sebaliknya. 

Adakalanya seseorang mendiamkan ketidakadaban orang lain yg disukainya, dan bersuara lantang menolak ketidakadaban orang lain yg tdk disukainya. Pada dasarnya yg ditolak bukan ketidakadabannya, dan boleh jadi bukan krn tdk setuju dgn kebenaran anggapannya, tetapi krn masalah psikologis.