Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

14 Februari 2020

Memahami Makna Agama yg Menjadi Musuh Pancasila secara Kontekstual



Sedang ramai ghibah masal di medsos ttg pernyataan pejabat publik. Tdk sedikit ghibah tsb dibumbui caci maki, tdk hanya kpd pribadi pejabat tsb, tetapi juga kpd setiap netizen yg berusaha menyampaikan pemahaman positifnya thd pernyataan tsb. Seakan tdk senang kalau kesempatan utk menghujat pribadi dan pemerintah itu dihambat.

Siang tadi bahkan terlihat satu konten grafis di salah satu grup FB yg menyandingkan pejabat tsb dgn tokoh komunis, lengkap dgn kalimatnya. Hal tsb menggambarkan adanya upaya kelompok tertentu utk menggiring opini publik agar ucapan tsb dianggap buah fikir komunisme. Mungkin mereka berharap agar publik meyakini pemerintah ini menyokong komunisme, sebagaimana propaganda yg banyak disebarkannya beberapa tahun ke belakang. Sungguh miris.

Ucapan pejabat tsb dibuat judul di media dgn judul "Agama Jadi Musuh Terbesar Pancasila". Saya mencoba memahami pernyataan beliau secara kontekstual dgn mencermati pernyataan lengkapnya. Bagi yg tdk suka dgn hasilnya nanti, saya meminta maaf. Tdk semua orang bisa saya puaskan. 

Dalam salah satu media, saya menemukan kutipan pernyataan beliau demikian: "Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila"

Beliau menjelaskan siapa kelompok yg dimaksud: "Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas, ini yang berbahaya".

Hal berbahaya yg dianggap oleh beliau melawan Pancasila adalah sikap memaksakan kehendak. Beliau mengungkapkan hal kebalikannya sebagaimana dikutip oleh media, "Sebagai kelompok mayoritas yang sebenarnya, NU dan Muhammadiyah mendukung Pancasila. Kedua ormas ini tak pernah memaksakan kehendak."

Bagaimana kelompok minoritas ini memaksakan kehendak? Beliau menjelaskan bahwa "Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden". Tdk ada yg salah dgn membuat Ijtima tsb.

Namun kesalahan tsb barangkali muncul saat Ijtima digunakan utk memaksakan kehendak. Beliau nampaknya menyimpulkan adanya kondisi pemaksaan kehendak tsb berdasarkan indikasi adanya kekecewaan dlm diri kelompok tsb saat politisi yg disokongnya menafikan manuver tsb. Media mengutip pernyataan beliau, "Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politisi yang disokongnya mereka pun kecewa".

Ijtima merupakan urusan agama. Saya mengira yg dimaksud oleh beliau dgn "mereduksi agama" adalah menjadikan Ijtima tsb utk memaksakan kehendak. Dlm pemahaman beliau, sikap memaksakan kehendak itu tdk sejalan dgn nilai Pancasila. Sementara Pancasila itu selaras dgn Agama. Artinya, sikap memaksakan kehendak tsb bukan hanya tdk sejalan dgn Pancasila tetapi juga dgn Agama.

Saya meyakini pemahaman beliau demikian krn beliau menyatakan bahwa ormas mayoritas seperti NU dan Muhammadiyah yg mendukung Pancasila, tdk bersikap memaksakan kehendak seperti yg dilakukan oleh kelompok minoritas tsb. Mendukung dapat berarti selaras. Siapapun yg selaras dgn Pancasila tdk akan memaksakan kehendaknya dgn tindakan mereduksi agama atau lainnya.

Dari sanalah beliau membuat kalimat ringkasnya, "Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama" yg direduksi oleh si minoritas utk melawan nilai Pancasila, yakni musyawarah yg tdk ada pemaksaan kehendak di dalamnya. 

Berdasarkan konteks paparan beliau tsb, saya memahami bahwa yg dimaksud agama oleh beliau adalah agama yg direduksi dgn adanya pemaksaan kehendak. Agama seakan membolehkan pemaksaan kehendak, padahal agama tdk membolehkannya krn melawan prinsip musyawarah.

Agama menurut KBBI adalah ajaran. Dan saya memahami dari tafsir al-Fatihah bahwa ajaran Allah SWT bisa disimpangkan ke kanan dan ke kiri. Ajaran yg disimpangkan manusia itu tdk lagi disebut sebagai ajaran Nya. Oleh karenanya, agama atau ajaran yg dimaksud oleh beliau bukanlah agama atau ajaran Islam, tetapi ajaran yg telah direduksi sehingga menyalahi ajaran Islam. Ajaran atau agama yg direduksi demikian itu bukanlah agama Islam, tetapi ajaran atau agama yg menjadi musuh Pancasila. Agama Islam itu menyokong Pancasila.

Beliau meyakini adanya keselarasan Pancasila dgn Agama sehingga Pancasila dianggapnya religius, "Konsep Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia, merupakan anugerah terbesar dari Tuhan. Dari sisi sumber dan tujuan, Pancasila itu relijius karena kelima sila yang terkandung di dalamnya dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional di republik ini".

Dengan pemahaman demikian itu, tdk mungkin beliau berpandangan agama atau ajaran yg selaras dgn Pancasila itu merupakan musuh besar Pancasila. Dan menjadi yakin bahwa agama atau ajaran yg dimaksud oleh beliau sebagai musuh Pancasila adalah ajaran yg direduksi sehingga menyalahi ajaran itu sendiri. Karena penyimpangan dari ajaran sebenarnya yg menyokong Pancasila itulah ajaran yg menyimpang ini menjadi musuh Pancasila.

Pernyataan beliau yg memiliki keilmuan dan reputasi jabatan akademik tinggi tdk bisa difahami secara tekstualis hanya dgn membaca judul atau penggalan video, tetapi harus dilihat konteksnya. Bila ada yg telah berusaha memahami berdasarkan konteksnya, dan hasilnya berbeda dgn saya, hal tsb sama sekali tdk mengherankan. Setiap orang mendapat rejekinya yg telah ditentukan oleh Yg Maha Pemberi Rejeki. 

Wallahua'lam.

12 Januari 2020

Bertetangga dengan Kucing


Sepasang kucing suka datang tiap hari dgn menuruni tangga utk meminta sesuap daging kpd kami. Kucing betinanya sekarang sedang hamil, paling rewel kalau lihat orang buka tutup meja makan. Kucing tsb paling disayang sama anak bungsu, sampai pernah nangis saat kucingnya sakit. Kucing jantannya seperti biasa tdk banyak mengeong, atau mungkin tdk bisa mengeong, tapi paling sigap ngambil makanan. 

Anaknya suka tidur di atas tumpukan ban yg ada di Garasi. Dia tdk tahu rute jalan ke atas yg dipake induknya utk mendapat sesuap daging dari kami. Di musim kemarau, anak-anak lainnya dari dua pasangan tsb menjadi penghuni saluran air yg bagian atasnya tertutup beton jalan. Dua anak kucing berwarna oranye suka keluar dan main di jalanan kompleks.

Kalau dihitung, ada 7 kucing yg suka mendatangi atau tinggal di kompleks rumah. Ada dua yg berbulu hitam lebat, yakni induk jantan dan anak jantannya. Anak jantan itu tumbuh bersama kembarannya dan lahir di atas atap rumah. Saya hanya melihat salah satunya saja yg sekarang ini tumbuh hingga dewasa. Dan seperti dulu saat masih kecil, dia berkarakter kucing liar yg tdk mau dekat-dekat dgn manusia. Padahal bulunya yg lebat menposisikannya sebagai potensial kucing rumahan.

Dulu orang merasa senang dgn adanya kucing, katanya biar tdk ada tikus di rumah. Tapi sekarang ini saya lihat kucing tdk terlalu agresif dgn tikus, atau kejar2an selayaknya T&G. Pernah sekali waktu saat hendak keluar dari kompleks, saya tengok seekor kucing berpapasan dgn tikus sebesar anaknya. Mereka cuma pandang2an, lewat, dan tdk terjadi apapun ๐Ÿ˜…

Nabi SAW bersabda yg artinya, "di dalam setiap apa yg bernyawa ada pahalanya" (HR Bukhori dan Muslim)


Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.”

06 Januari 2020

Menggerutu itu Manusiawi


Sore tadi saya menyempatkan pergi ke bengkel Yamaha utk membeli sparepart. Setibanya di lokasi, lampu tanda kiri kendaraan pun dinyalakan. Kendaraan dimundurkan sedikit supaya tdk menghalangi konsumen Yamaha yg mau masuk ke bengkel. Dari samping muncul bapak muda pengendara motor ke arah depan yg terlihat menggerutu. Hal tsb membuat saya ikut menggerutu juga, heran dgn kondisi bapak tsb yg tdk sabar menunggu saya selesai memarkirkan kendaraan.

Saya bukakan sedikit jendela utk bertanya apa yg sedang disampaikannya tsb. Tapi bapaknya langsung masuk ke dalam bengkel, mendatangi dan ngobrol dgn teknisi di sana. Dlm hati saya berkata, "oh, mungkin disangkanya saya tdk akan berhenti dan tdk ada keperluan di bengkel yg sama".

Saya pun ke luar dari kendaraan, menuju ke arah bapak tsb. Di dalam hati ada niatan utk menanyakan apa yg disampaikan barusan oleh bapak tsb. Tapi saya memutuskan utk tdk melakukannya, memperhatikan kondisi saya yg emosi sebelumnya, walau sekarang sedikit mereda. Perbuatan yg dilakukan dlm liputan emosi, sekecil apapun, tdk akan berbuah baik kalau diperturutkan. Saya rasa, tdk ada informasi penting juga dari dumelannya yg perlu dikonsumsi. Roman bapaknya juga sudah berseri-seri saat saya lewat dihadapannya.

Saya pun langsung menuju teknisi dan menanyakan sparepart yg diperlukan. Alhamdulillah semuanya tersedia. Dari kampus tadi niat saya memang membeli sparepart di bengkel Yamaha. Bila ada sesuatu yg penting di dlm perjalanannya, saya pasti berusaha utk menangkap dan menyimpannya. Sesuatu yg tdk penting, cukup diambil hikmahnya saja.

Seharian tadi suasana hati ini memang tdk terlalu baik. Mungkin krn lelah dgn masalah motor yg tdk tuntas sampai larut malam tadi. Saat kolega di ruang rapat mengatakan kalau anak informatika itu moody, dgn mencontohkan kpd saya; dgn tanpa beban saya iyakan saja. Saya fikir memang no body perfect; setiap orang lulusan bidang apapun pastinya tdk bisa selalu menyenangkan orang lain, adakalanya membuat orang lain jengkel. Bukan hanya anak informatika.

Namanya juga manusia, suasana hati manusia bisa berubah dan bisa menggerutu. Lah iman saja yazidu wa yankush, hehehe. Setelah melewati banyak pengalaman, saya memahami bhw bila diri ini sedang moody, saya sebagai pemimpin diri hrs dpt memimpin diri ini hingga beroleh manfaat dari diri, bukan malah larut dlm moody diri yg tdk bermanfaat.

Perumpamaannya seperti kendaraan. Tdk setiap saat kendaraan yg saya kendarai kondisinya baik. Sebagai pengendara, saya hrs dpt menyetir dgn baik dan aman, serta memperoleh manfaat dari kendaraan yg kondisi baik dan dari kendaraan yg kondisinya buruk. Menuntut kendaraan yg kondisinya buruk agar baik saat dikendarai itu kekanak2an. Cukup fokus saja bagaimana agar dlm kondisi demikian ada banyak manfaat yg bisa diperoleh. Lebih baik lagi bila manfaat tsb membuat kita mampu memperbaiki kendaraannya.

Teorinya mudah, tetapi menerapkannya bukan perkara mudah, perlu jihad besar. Cukup tetap mengingat bahwa kita hanya manusia biasa.

02 Januari 2020

Jangan Bodoh dan Takabur atas Nama Agama

Jangan bersikap bodoh dengan menyalahkan mereka yang menyalakan kembang api atas datangnya hujan yg menimbulkan banjir di banyak tempat.


Jangan bersikap takabur, merasa diri paling suci, menganggap mereka semua yang keluar mendatangi tempat hiburan penghujung tahun sebagai orang-orang yang sedang bermaksiat, sehingga merasa berhak mencegahnya dengan mengharap turunnya hujan dan bergembira dengan kedatangan air dari langit yang besar.


Terompet-terompet yang dibunyikan itu tidak dibuat untuk prosesi keagamaan; dan perayaan tahun baru dalam peradaban manusia sudah lama tidak selalu dihubungkan dengan prosesi keagamaan dan sudah tidak lagi dianggap milik umat Masehi. Mereka yg tdk beragama Masehi merayakan pergantian tahunnya dan bukan merayakan kelahiran yesusnya. Seyogyanya setiap orang alam fikirnya hadir dalam peradaban manusia kekinian dan tidak terjebak pada peradaban yang sudah lama berlalu.


Jaman sekarang, ustadz jadi-jadian banyak yg dipercaya. Saat ustadznya ustadz di Universitas al-Azhar Mesir mengucapkan selamat Natal, eh ini malah ikut ustadz gadungan yang menyalah-nyalahkan hingga mengkafirkan muslim yang mengucapkan selamat natal.

Pada tahun 1899, RA Kartini pernah berfikir, bahwa agama seharusnya mencegah dari perbuatan dosa, tapi kenyataannya banyak dosa dilakukan atas nama agama. Kenyataan demikian masih kita lihat hingga kini. Ada banyak orang yang bersikap bodoh dan takabur dengan mengatasnamakan agama.

01 Januari 2020

Konten Bisa Merubah Sikap Anak


Sebelumnya Syazwan males salat 5 waktu. Saya tdk bertindak kasar sekalipun usianya sudah lebih dari 7 tahun. Saya dan ibunya hanya bisa ngomel bila Syazwan males salat.

Suatu ketika saya menemukan video ceramah di FB yg membahas ular yg mendatangi orang yg melalaikan salat wajib. Video tersebut saya tunjukan kepada Syazwan seraya menyampaikan pesan agar ia jgn meninggalkan salat wajib bila tdk mau didatangi ular tersebut. Dia merasa takut dan tdk mau melanjutkan nontonnya. Tetapi setelah itu Syazwan menjadi rajin salat. Walau bangun kesiangan, ia selalu bertanya apakah masih bisa salat subuh?

Hal takut tersebut sama seperti yg saya rasakan sewaktu kecil dulu. Pernah suatu ketika mamah dan teteh ngobrol di loteng rumah. Obrolannya seputar cerita siksa kubur. Saya mendengarkannya sambil bolak balik naik turun tangga. Saat ketakutan saya turun tangga.