Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

26 April 2017

Mengenalkan Manfaat Smartphone kepada UKM Cinderamata bersama Disbudpar Garut



Garut, 26 April 2017, bertempat di Hotel Redante saya memenuhi permintaan Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) kabupaten Garut untuk mengenalkan kegunaan smartphone bagi pelaku usaha kecil menengah khusus cinderamata. Permintaan pertama disampaikan oleh pak Irno Sukarno pada hari Senin. Beliau menemukan saya di internet dengan kata kunci "Komunitas TIK" berbekal informasi dari Bappeda Garut. Dalam komunikasi pertama, sempat salah dengar terkait tanggal pelaksanaan. Saya mengira bulan Mei sehingga saya menyampaikan kepada beliau akan melihat rencana kegiatan dulu pada tanggal tersebut. Seandainya tidak bisa saya akan merekomendasikan nama pegiat TIK lainnya yang kompeten sebagai pemateri utk menggantikan saya. 

Keesokan harinya, dalam perjalanan menuju ITB, Kabid (kepala bidang) Promosi Disbudpar Garut mengontak untuk mengonfirmasi kesediaan saya sebagai pemateri. Panggilannya tidak bisa diangkat karena sedang membawa kendaraan, dan juga karena hanphonenya agak bermasalah. Akhirnya saya dapat menghubungi beliau dan menyampaikan kesiapan menyampaikan materi tersebut pada hari esok. 

Malam hari saya siapkan materinya dengan bantuan mbah Google. Sebagian slide saya ambil dari presentasi sebelumnya terkait Ekonomi Digital. Akhirnya slide pun selesai pukul setengah dua pagi dan langsung dibagikan di Facebook agar yang tidak hadir bisa ikut melihat apa yang akan saya sampaikan dalam acara nanti. Setelah itu saya berusaha untuk tidur walau agak susah mata ini terpejam. Perut ini keroncongan, tetapi saya tidak ingin mengisi makanan apapun ke dalamnya. 

Keesokan harinya, seperti yang disampaikan oleh pak Kabid saya hadir sekitar pukul delapan pagi. Ternyata saya kebagian mengisi materi tidak di sesi pertama. Karena masih banyak pematerinya, saya mohon izin untuk ke kampus terlebih dahulu karena ada undangan rapat pimpinan yang masuk melalui Whatsapp. 

Setelah selesai mengikuti rapat, dan makan siang di rumah, saya pun beranjak ke lokasi kegiatan lagi. Di sesi terakhir itu saya dipandu oleh pak Irno Sukarno. Materi yang saya sampaikan dibagi menjadi tiga termin, 1) Sadar Teknologi, 2) Melek Teknologi, dan 3) Pendampingan. 

Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan bahwa manfaat jejaring sosial bagi usaha sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya "Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim). Semangat persaudaraan yang utama adalah melayani orang lain. Pebisnis akan bertanya kepada temannya di media sosial apa yang bisa dibantu, termasuk menawarkan kesempatan bisnis. 

Saya pun menjelaskan bahwa pertemanan ini tidak dibatasi hanya orang-orang yang dikenal dan di Indonesia saja, tetapi harus lintas bangsa. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13). Inilah kesempatan yang ada pada dunia datar internet, yakni interaksi dengan siapa saja secara efisien untuk kepentingan apapun, termasuk bisnis. 

Saya tunjukan grafik pengguna smartphone di Asia Pasifik dan Asia Tenggara. Nampak di sana bahwa pengguna terbanyak adalah Cina dan pertumbuhan penggunanya di Indonesia signifikan. Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh UKM di Indonesia dengan mengoptimalkan pemanfaatan smartphone. Smartphone harus dijadikan pekakas untuk membanjiri Cina dengan produk made in Garut. Hal itu sangat mungkin karena marketplace Cina saja sekarang sudah masuk ke dalam rumah-rumah di Garut.  

Ternyata masih ada peserta yang tidak memiliki akun Facebook, media sosial kedua yang paling banyak digunakan di Indonesia. Saya menyampaikan kepada peserta bahwa Facebook harus diakses karena di sana terdapat pengguna produk potensial. Facebook adalah salah satu media sosial yang menyediakan solusi marketplace gratis dan promosi menguntungkan karena penggunanya yang sangat banyak. Saya menunjukan caranya, termasuk mengkombinasikannya dengan Bukalapak sebagai salah satu marketplace terbaik di Indonesia. 

Terakhir saya sampaikan bahwa Prodi (program studi) Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjadikan Smart TIGER sebagai acuan kegiatan Tridharma nya. TIGER bermakna Pariwisata / Tourism yang ditunjang oleh pilar Industri Kreatif, Pendidikan / Educations, dan Agama / Religious, dengan yang berdiri dengan dukungan Pemerintahan / Goverment. Banyak produk akademik dalam topik Pariwisata seperti Aplikasi Pemandu Wisata. Prodi juga memiliki Area 306, pusat layanan profesi dan keahlian. Di dalamnya terdapat inkubator bisnis digital. Tidak lupa saya informasikan rencana kegiatan workshop e-Commerce yang akan digelar Area 306 dengan NAWALA pada bulan Mei 2017 yang akan diselenggarakan selama dua hari, di mana satu hari untuk Entepreneur Kampus dan satu hari lagi untuk UKM umum.  Saya juga menginformasikan kegiatan Dinas Koperasi Jawa Barat dan HIPMI terkait UKM. 

Hal penting selain membagikan pengetahuan dalam kegiatan tersebut adalah diskusi dengan kepala Disbudpar Garut. Beliau tertarik bermitra dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut terkait pemanfaatan teknologi informasi untuk promosi pariwisata. Beliau berharap kemitraan ini dapat mewujudkan mimpi berbasis teknologi informasi yang sementara ini belum terwujud. Sangat kebetulan sekali karena penanggung jawab untuk pengembangan teknologi informasinya adalah Diskominfo, dan Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah menjalin kerjasama formal dengan Dinas tersebut. Alhamdulillah, semoga barokah. 


15 April 2017

Non Muslim boleh disebut Sunan atau Santri ?



Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Sunan memiliki dua pengertian, 1 sebutan raja untuk keraton Surakarta (di Jawa); 2 penyebutan nama untuk para wali: -- Kalijaga; Secara umum kita memahami bahwa sunan itu tidak selalu waliyullah tetapi mungkin juga hanya seorang pemimpin pemerintahan yang disebut kesunanan. 

Sunan Bagus yang tersebut dalam buku Mistik Kejawen pujangga Ronggowarsito yang ditulis oleh Purwadi dan Mendamaikan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang ditulis oleh A.M. Waskito tidak lain adalah Sri Susuhunan Pakubuwana IV atau Raden Mas Subadya. Beliau adalah raja pengusung gagasan Persatuan Kerajaan Mataram yang tertarik dengan ajaran Wahabi. Dengan memperhatikan fakta sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa Sunan dapat merupakan gelar pemimpin pemerintahan, yang tidak harus Ahlus-Sunnah wal Jama'ah. Gelar ini berbeda dengan Sunan untuk Walisongo yang merupakan pemimpin agama yang memiliki karomah, sebagian di antaranya adalah juga pemimpin pemerintahan, dan mengikuti ajaran Ahlus-Sunnah wal Jama'ah. Dengan memperhatikan ini, maka gelar Sunan menurut pendapat saya dapat disematkan kepada pejabat pemerintahan non muslim. 

Adapun Santri, KBBI mengartikannya sebagai 1 orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh; Disebutkan dalam buku Pribadi Akhlakul Karimah yang ditulis oleh A. Fatih Syuhud disebutkan bahwa Santri secara etimologis adalah seorang pelajar yang sedang menimba ilmu di Pesantren, sehingga yang tidak mukim di pondok Pesantren tidaklah disebut santri. Walau demikian dalam konteks sosiologis Santri dapat difahami lebih luas lagi, yakni setiap orang Islam yang relatif taat dalam menjalankan ajaran Islam, baik dia alumnus pesantren atau bukan. Dengan kata lain Santri adalah mereka yang dalam perilaku kesehariannya menjalankan ajaran Islam, baik mereka itu santri mukim ataupun santri kalong (tidak mukim). 

Ada juga yang berpendapat Santri itu berasal dari kata cantrik yang berarti pembantu resi (yang dalam Islam disebut Kyai atau Ulama) yang diberi upah berupa ilmu. Dengan bahasa umum kita bisa memahami bahwa santri ini adalah mereka yang berkhidmat kepada pimpinan agama demi ilmu. Artinya siapa saja yang mencari ilmu dari pemimpin / guru agama disebut sebagai santri, karena syarat disebut santri adalah adanya interaksi dengan pemimpin agama tersebut, bukan sebarapa dalam atau mampu mengamalkan ilmunya. Seseorang yang datang ke hadapan guru agama / ulama / kyai untuk mendapatkan ilmu disebut sebagai santri. Sepulangnya dari sana dia tidak disebut santri seandainya tidak berusaha mengamalkan ilmu yang sudah diperolehnya, dan baru disebut santri lagi setelah dia kembali menghadap atau mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.       

Dalam salah satu pengertian disebutkan orang yang dimaksud harus beragama Islam. Tetapi kita tahu yang mempelajari islam tidak harus seorang muslim, dan seorang muslim disebut santri walau menimba ilmu sebentar dari guru agama. Artinya non muslim yang menghadap kyai, mendengarkan ilmu agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dia boleh disebut sebagai santri. Kita ingat pada abad pertengahan di masa kejayaan Islam, lembaga pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu duniawi berbasis agama, di mana peserta didiknya tidak hanya muslim tetapi juga non muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Tidak berbeda dengan apa yang sudah berjalan di masa lampau, Pondok Pesantren di Indonesia pun membuka kesempatan bagi non muslim untuk menjadi santri

03 April 2017

Bimbingan Teknis VMeet di Garut


Pada tanggal 3 April 2017 dilaksanakan bimbingan teknis bagi tim teknis Vmeet untuk Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pengembangan) Online Jawa Barat di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Secara umum peserta berasal dari Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia di wilayah Jawa Barat. Seminggu sebelumnya saya bergerilya di grup Relawan TIK Indonesia dan Facebook untuk menemukan orang yang dapat bertugas sebagai tim teknis Vmeet mewakili kabupaten / kotanya. Hingga hari pelaksanaan bimbingan teknis, masih tersisa empat kabupaten / kota yang belum ada tim teknisnya. 

Satu hari sebelumnya saya menyiapkan kebutuhan untuk acara tersebut, mulai dari penyediaan perlengkapan tidur bagi peserta. Peserta yang mengonfirmasi akan menginap sebanyak sembilan orang, sementara kasur yang dimiliki kampus hanya enam buah sehingga saya harus mengusahakan sisanya ke Ponpes (Pondok Pesantren) al-Musaddadiyah Garut. Siang itu saya minta office boy untuk memindahkan kasur dari ruang Prodi (Program Studi) Teknik Informatika dan ruang penelitian ke Area 306. Pukul dua siang saya ke Ponpes untuk membawa kasur dan bantal yang dipinjam. Masih ingat bagaimana anehnya kondisi mobil sedan yang digunakan setelah lima buah kasur itu dijejalkan ke bagian bagasinya. 

Peserta kegiatan yang pertama pun datang, yakni kang Yudiana dari Karawang. Beliau yang ditemani keluarganya saya arahkan ke rumah. Menjelang maghrib beliau dan keluarga pergi ke lokasi wisata yang saya rekomendasikan. 

Setelah itu tetangga rumah silaturahim. Keasikan ngobrol membuat saya tidak membaca pesan masuk dari mas Wid, salah satu peserta lainnya dari Bandung. Setelah hampir satu jam saya baru membaca dan segera menemuinya yang sudah lama menunggu di pos Satpam kampus. Setelah beberapa saat ngobrol di Area 306, saya mengajaknya untuk makan malam di rumah. Alhamdulillah istri selalu sigap menyiapkan makanan untuk para tamu.

Peserta terakhir datang sekitar tengah malam. Yang menginap di Area 306 Sekolah Tinggi Teknologi Garut antara lain 1) Widyo Utomo dari Kab. Bandung, 2) Suranto dari Depok, 3) Yusuf Maulana dari Kab. Bekasi, 4) Sumedi Saputra dari Kab. Sukabumi, 5) Aris Ripandi, Kota Sukabumi, dan 6) Gery, pelaksana harian ketua Relawan TIK Jawa Barat. Semuanya menggunakan kasur milik kampus, sehingga lima kasur yang dipinjang dari Ponpes tidak digunakan. Namun karena bantal punya Prodi hanya dua, kekurangannya menggunakan bantal yang dipinjam dari Ponpes. Syukurlah semuanya bisa tidur di atas kasur dan bantal. 


Tengah malam itu saya diskusi dengan ketua Relawan TIK Jawa Barat hingga pukul dua membahas tentang pilot project Relawan TIK Indonesia di wilayah Jawa Barat. Bahasan tersebut yang akan didiskusikan selepas bimbingan teknis dengan peserta yang merupakan anggota Relawan TIK Indonesia. Setelah diskusi dirasa cukup, saya pun pamit pulang ke rumah. Agak was-was juga pulang jalan kaki pukul dua itu dari kampus ke rumah, walau jaraknya tidak terlalu jauh. Takut disangka maling, apalagi baju yang digunakan hitam-hitam, hahaha. 

Keesokan harinya saya ke kampus pukul 08.30. Peserta mulai berdatangan di Area 306. Saya ajak semua yang telah hadir untuk sarapan pagi di kantin al-Musaddadiyah. Tidak lupa saya izin ke teh Rosa dan kang Budi dari VMeet untuk membawa teman-teman sarapan. Alhamdulillah, di kantin saya bertemu kembali dengan penjual makanan yang sering saya temui saat mahasiswa dulu. Saya memang hampir tidak pernah main ke kantin lagi selepas pindah rumah. Bapak penjualnya senang bertemu lagi dengan saya. Syukurlah saya bawa uang pendaftaran kuliah paskasarjana saya di tas, sehingga bisa membayar semuanya. Maklumlah, gajinya baru hari ini cair dan belum diambil di ATM. 

Sebelum ke Area 306 saya ajak teman yang memerlukan sistem informasi kampus untuk melihat aplikasi dan bertemu dengan kepala Unit SIstem Informasinya. Sementara saya ajak teman lainnya untuk mengunjungi kantor tempat saya bekerja sambil mencetak skema alat teleconference yang ada di dalam smartphone dengan menggunakan printer nirkabel di kantor. Skema tersebut diperlukan untuk keperluan bimbingan teknis. 

Acarapun saya pimpin dan dimulai dengan menjelaskan rencana kegiatan. Teh Rosa mewakili Vmeet membuka kegiatan, sementara kang Budi memberi pengantar tentang VMeet dan Musrenbang Online. Dalam kesempatan tersebut tidak lupa saya menyampaikan usulan agar VMeet bekerjasama dengan Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat. Setelah itu kang Maman Darmawan, salah satu tim teknis tahun lalu memimpin latihan penggunaan aplikasi Vmeet nya. 


Di tengah pelatihan tersebut, Dr Hilmi Aulawi - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut menyempatkan waktu hadir di tengah kesibukannya menerima tamu di kampus. Satu hari sebelumnya saya memang meminta beliau untuk memberi sambutan selaku tuan rumah sekaligus memperkenalkan kampus kepada para peserta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan tentang pentingnya HKI. Beliau siap membantu Relawan TIK Indonesia dalam pengurusan HKI. Hal ini sejalan dengan tugas saya selaku ketua bidang pengembangan sumber daya manusia yang tidak hanya membentuk kapasitas anggota Relawan TIK Indonesia tetapi juga mengumpulkan dan melindungi produk hasil berfikirnya. Saya memberi isyarat kepada peserta dari Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat dan ketuanya agar dapat membuat HKI pada tahun 2017. Bagi saya HKI ini merupakan jalan pengakuan terhadap pembuat karya intelektual yang penting untuk dilakukan sekalipun semua yang dihasilkan oleh Relawan TIK berangkat dari niat beramal dan dilakukan secara sukarela. Jangan sampai sesuatu yang dibuat secara sukarela untuk masyarakat tersebut diambil oleh perusahaan atau siapapun untuk kemudian dikomersialkan tanpa izin dari pemilik kekayaannya. 


Alhamdulillah, sebagaimana janjinya Vmeet memberikan uang pengganti transportasi kepada peserta yang hadir. Dari semua yang hadir saya menuliskan nol rupiah untuk saya karena merasa tidak mengeluarkan uang untuk perjalanan dari rumah ke Area 306. Hal ini juga untuk menjadi perhatian peserta lainnya untuk menuliskan usulan biaya transportasi sesuai kebutuhan yang sebenarnya. Estimasi biayanya yang telah saya sesuaikan sesuai dengan kebutuhan disampaikan kepada seluruh peserta. Saya meminta persetujuan semua peserta atas etimasi tersebut. Semua peserta yang hadir saya pastikan menerima uang penggantian transportasi, termasuk peserta yang tidak menuliskan jumlah rupiahnya di dalam daftar. Beberapa di antaranya saya tambah dan kurangi jumlah rupiahnya berdasarkan pola usulan. Saya meminta persetujuan perubahan tersebut di dalam forum kepada peserta yang bersangkutan. Alhamdulillah tidak ada yang keberatan, yang semoga itu mengartikan saya telah membaginya dengan adil atau proporsional. Berkas estimasi yang telah ditandatangani oleh seluruh peserta kemudian saya kirim di grup Whatsapp sehingga semua peserta mengetahui apa yang saya laporkan kepada Vmeet sama dengan apa yang ditandatangani. 

Teh Rosa sempat bertanya soal nol rupiah untuk saya. Pun demikian di penghujung bahasan soal estimasi ada peserta yang mengusulkan saya mendapatkan alokasi transportasi. Tapi saya berhasil menjelaskan bahwa itu tidak diperlukan karena saya memang tidak mengeluarkan uang perjalanan. Yang penting bagi saya adalah uang pendaftaran kuliah yang terpakai sebelumnya kembali ke saku saya, dan ada uang infaq ke Ponpes terkait peminjaman peralatan tidur. 

Kegiatanpun selesai selepas Ashar. Di akhir pertemuan tersebut saya meminta maaf karena tidak menyediakan makan siang karena tidak ada anggaran untuk itu, dan berharap semua peserta dapat membelanjakan sebagian dari biaya penggantian transportasi untuk makan siang tertunda. Memang acaranya mendadak dan saya tidak bisa menggunakan tenaga staf atau mahasiswa karena kebetulan kampus sedang ujian tengah semester. Begitulah relawan dalam kegiatan relawan, terkadang tidak hanya sekedar kemampuan yang disedekahkan kepada masyarakat, tetapi juga uang. Semoga semua anggota Relawan TIK Indonesia yang hadir diberikan rizqi berlimpah dan tidak kurang sedikit pun, amin. Saya sempat berpesan kepada kang Maman untuk makan dulu sebelum pulang ke Ciamis agar tidak masuk angin. 

Luar biasanya hampir semua peserta hadir dalam pertemuan anggota Relawan TIK Indonesia walaupun yang ada yang bukan anggota. Katanya tertarik untuk mengetahui Relawan TIK Indonesia itu apa. Beberapa di antaranya menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Relawan TIK Indonesia setelah mendapatkan penjelasan dari saya dan kang Gery dalam kegiatan sesi kedua tersebut. Kegiatan sesi kedua tersebut ditutup dengan pembuatan rekomendasi anggota kepada Pengurus wilayah Jawa Barat terkait permasalah organisasi dan kegiatan Relawan TIK Indonesia di wilayah Jawa Barat. 


Tim teknis yang hadir bimbingan teknis hari itu antara lain : 1) Saya dari Garut, 2) Maman Darmawan dari Ciamis, 3) Aris Ripandi dari kota Sukabumi, 4) Sumedi Saputra dari kabupaten Sukabumi, 5) Nazrudin Latif dari kota Bandung, 6) Suranto dari Depok, 7) Muchamad Khaerudin dari kota Cirebon, 8) M. Ridwan dari kabupaten Cirebon, 9) Ipan Zulfikri dari kota Tasikmalaya, 10) Yusuf Maulana dari kota Bekasi, 11) Irsan Maulana dari kota Cimahi, 12) Dik dik Nursidik dari Banjar, 13) Widyi Utomo dari kabupaten Bandung, 14) A. Nuroni dari Cianjur, 15) Deden dari Sumedang, dan 16) Yudiana dari Karawang, ditambah pelaksana harian ketua Relawan TIK Jawa Barat.

Saya tidak punya cukup tenaga untuk membereskan kabel, printer, dan lainnya. Syukurlah staf Prodi masih ada di Area 306 sehingga saya dapat memintanya untuk membereskan semuanya. Rasanya saya tidak sanggup untuk mengembalikan perlengkapan tidur yang dipinjam dari Ponpes sore itu sesuai yang dijanjikan. Saya pun memutuskan untuk pulang, salat Ashar dan minum. Perut kanan saya lumayan sakit, mungkin karena kurang minum atau belum diisi. Syukurlah kondisinya menjadi baik setelah saya makan di rumah. 

Malam ini pukul 21, sebagaimana biasanya selepas kegiatan saya menuliskan pengalaman ini untuk menjadi evaluasi pribadi di masa mendatang, dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Amin. 

26 Maret 2017

Rikza pun Berangkat ke Thailand


Dahulu saya punya beberapa orang mahasiswa yang membantu penyediaan TIK, informasi, dan pengguna terlatih di Unit Sistem Informasi secara sukarela, di antaranya adalah Muhammad Rikza Nasrulloh dan Iqbal M. Hikmat. Keduanya selalu ikut dalam kegiatan Relawan TIK Indonesia yang saya buat bersama pegiat TIK lainnya di kabupaten Garut, termasuk menemani Korea IT Volunteers. 


Suatu ketika ada pengumuman dari Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika di dalam grup Relawan TIK Indonesia tentang rencana memberangkatkan Relawan TIK Indonesia sebagai Relawan TIK Internasional ke Thailand. Saya kemudian mendorong kedua mahasiswa yang sudah teruji penguasaan bahasa Inggrisnya untuk mendaftarkan diri. Alhamdulillah mereka ternyata mau dan mengirimkan lamarannya kepada Kementrian mewakili Relawan TIK Garut.

Setelah itu saya tidak mengikuti perkembangan rencana keberangkatan ke Thailand tersebut. Tiba-tiba pak Boni dari Kementrian menghubungi dan menanyakan apakah Rikza merupakan Relawan TIK Garut? Beliau menjelaskan Kementrian telah memilih empat delegasi Relawan TIK Indonesia untuk berangkat ke Thailand, hanya saja satu di antaranya mengundurkan diri. Beliau menawarkan kesempatan mengganti satu personel tersebut kepada Rikza melalui saya. Namun Rikza harus bisa menyiapkan segala kebutuhannya, termasuk Passpor dalam waktu yang sangat singkat. Semuanya saat itu bergantung kepada jawaban saya di hand phone. Bismillah, sayapun memutuskan untuk menyanggupinya, sehingga tercatatlah Rikza sebagai pengganti salah satu delegasi. 

Kabar tersebut kemudian saya diskusikan dengan Prof Ali Ramdhani, beliau membantu menghubungi kolega di Pemerintah Kabupaten Garut untuk mendapatkan bantuan pengurusan Passpor yang cepat. Saya sama sekali tidak berfikir pengurusan itu memerlukan uang. Namun alhamdulillah, kampus memberi pinjam uang sehingga pengurusan passpor nya lancar. Saya berjanji akan mengembalikan pinjaman tersebut sepulangnya Rikza dari Thailand. 

Keberangkatan Rikza tersebut bukan hanya kebahagiaan saya selaku Dosennya, tetapi juga Relawan TIK Garut. Syukurnya orang tua Rikza mendukung keberangkatan anaknya ke Thailand. Rikza di Thailand melaksanakan tugas Relawan TIK yang juga pengabdian kepada masyarakat selama dua bulan dari tanggal 17 Oktober hingga 11 Desember 2013. Otomatis Rikza tidak ikut kuliah hampir setengah semester. Saya yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Teknik Informatika meminta kepada pak Eri Satria selaku Ketua Program Studi untuk memberikan dispensasi untuk Rikza yang akan menjalankan tugas negara tersebut.


Syukuran Relawan TIK Garut untuk Keberangkatan Rikza 

Akhirnya bertepatan dengan hari ulang tahun saya, Rikza pun berangkat ke Thailan bersama tiga relawan TIK lainnya, setelah mendapatkan pengarahan dari Direktorat Pemberdayaan Informatika. Di Thailand Rikza bersama Relawan TIK Indonesia lainnya membantu beberapa pekerjaan di International Telecommunication Union selain juga mengunjungi beberapa lembaga pendidikan. 


Rikza pulang ke Garut dan tiba malam hari. Pertama kali yang dituju adalah rumah saya. Dia meminta saya untuk memilih oleh-oleh yang dibawanya itu dari Thailand. Keesokan harinya saya berbicara kepada bu Rina Kurniawati, wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang keuangan, meminta beliau untuk bersedia menggunakan uang pinjaman yang akan dikembalikan untuk syukuran. Alhamdulillah beliau menyetujuinya, sehingga uang itu akhirnya dibelikan nasi tumpeng. Semua pejabat struktural di kampus dan juga staf sangat gembira. Satu hal yang paling menggembirakan saya adalah, Rikza memenuhi permintaan saya untuk tidak melupakan kampus di Thailand. Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut ini banyak membantu Relawan TIK Indonesia di Garut, mulai dari fasilitas hingga pembiayaan kegiatan.  


Tentang pak Boni, beliau sangat antusias terhadap kegiatan KPTIK (Kelompok Penggerak Teknologi Informasi dan Komunikasi) di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, termasuk kegiatan ICT4Pesantren. Mungkin hal tersebut yang menyebabkan beliau memutuskan Relawan TIK Garut yang menjadi pengganti untuk berangkat ke Thailand, dan memasukan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam daftar kandidat penerima hibah Internet Access Center lebih dari satu Milyar dari Korea Selatan.   


Kunjungan NIA terkait hibah IAC ke STT Garut

Ke depan Insya Allah saya akan bercerita tentang bagaimana konsep KPTIK ini didorong oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika untuk diadopsi oleh Relawan TIK Indonesia, yang dalam perkembangan berikutnya menyebabkan Relawan TIK Garut mengibarkan dua bendera pegiat TIK dalam melaksanan misi pembangunan masyarakat informasi yang diembannya sejak tahun 2012 saat pengukuhannya sebagai Relawan TIK Garut. Cerita tersebut diharapkan dapat menghilangkan sak wasangka yang selama ini berkembang di Relawan TIK Indonesia. 

Semut pun Bersyukur


Sewaktu kecil setiap kali buang hajat saya selalu memperhatikan bagaimana umat yang satu ini berjalan dan bersalaman setiap kali bertemu satu sama lainnya. Sesekali beberapa di antaranya jatuh ke dalam bak dan berusaha berenang di atas permukaan airnya. Saya merasa kasihan sehingga setiap kali ada semut yang terjatuh saya angkat dengan jari ke permukaan. Hal ini sering saya lakukan setiap kali berada di toilet. 

Hari itu sangatlah tidak biasa, karena saya mengetahui sesuatu yang baru dari umat semut ini. Jemaah semut yang sering ditolong itu menunjukan apa yang bisa dilakukannya kepada saya. Semut-semut itu melingkari salah satu di antaranya, yang saya kira itu pemimpinnya. Kemudian semuanya mengangkat tangannya untuk beberapa saat. Setelah itu pemimpin semut itu beranjak ke salah satu sisi lingkaran, dua semut kemudian berada di depannya sambil berpegangan tangan. Semut yang awalnya melingkar kemudian mengikuti pemimpinnya dari belakang, seperti permainan "oray orayan luar leor mapay sawah". 


Sejak saat itu saya memperlakukan semut seperti manusia, tidak membunuhnya tanpa alasan. Dan sejak saat itu di mana saya berada di ruangan, tidak ada semut yang tampak. Hingga setelah anak saya yang kecil suka membunuh semut, rumah saya mulai didatangi semut lagi. Dengan pengalaman tersebut saya mengetahui jika semut pun dapat bersyukur atas kebaikan mahluk lainnya. Dan semut sebagaimana umat lainnya memiliki cara menunjukan rasa syukurnya. Setiap umat ada syariatnya sendiri-sendiri. 

Pada saat kuliah saya menemukan buku Risalah Qusyairiyah. Di dalamnya ada bab khusus pembahasan tentang sikap tidak membedakan mahluk Allah yang bernama al-Futuwwah. berikut ini sebagian kutipan yang menggambarkan sikap ahli futuwwah terhadap semut :

Sekelompok ahli ahli futuwah pergi mengunjungi seorang laki-laki yang terkenal karena futuwwahnya. Laki-laki itu menyuruh pelayannya membawa tilam makanan. Si pelayan tidak mengerjakan perintahnya, maka orang itu lalu memanggilnya hingga berulang-ulang. Para tamu saling berpandangan seraya berkata : “Ini tidak benar. Dalam aturan futuwwah, seseorang tidak boleh mempekerjakan perintahnya, maka orang itu lalu memanggilnya sekali lagi dan sekali lagi.” Laki-laki itu bertanya kepada pelayannya : “Mengapa begitu lama engkau baru datang membawakan tilam itu?” Si pelayan menjawab : “Ada seekor semut pada tilam itu. Tidaklah patut menurut futuwwah, membentangkan tilam uantuk para tamu yang ahli futuwwah manakala ada semut di atasnnya, sebalikya, tidaklah benar pula mencampakkan semut dari kain tilam itu. Jadi, saya meunggu sampai semut itu merayap meninggalkan tilam.” Para tamu berkata kepada pelayan itu : “Engkau telah menunjukkan pemahaman yang tinggi. Orang sepertimu patut dilayani para ahli futuwwah.”