Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

04 September 2017

UMKM Go Online Garut


Beberapa bulan sebelumnya saya menerima telp dari Direktur Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikas dan Informatika RI. Beliau ingin menyelenggarakan kegiatan untuk UMKM di Garut bersama Relawan TIK. Seperti biasanya saya selalu menyambut dan bersemangat kalau kegiatannya adalah untuk masyarakat, sehingga saya menyatakan kesiapan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Selanjutnya kepala sub direktorat nya meminta saya dapat menggelar acara se Garut dan Tasikmalaya. Namun saya ingat ada Relawan TIK komisariat kampus yang baru dikukuhkan di Tasikmalaya dan ingin memberi kesempatan untuk menggelar acara bersama Kementrian. Karenanya saya tawarkan penyelenggaraan di Tasikmalaya kepada ketua kampusnya. Dan kepada Kementrian saya sampaikan bahwa untuk dua wilayah berbeda ini masing-masing ada tim penyelenggaranya sendiri. 

Untuk di Garut saya ingin menyerahkan penggarapan kegiatannya kepada Relawan TIK Garut. Namun karena ketua Relawan TIK Garut menyatakan belum sanggup menggarapnya maka diputuskan saya garap kegiatannya bersama beberapa pihak yang ada di dalam WAG Smart Garut, dan tentunya Diskominfo Garut selaku mitra Sekolah Tinggi Teknologi Garut sudah pasti dilibatkan. Saya pun mencoba inbox ke Kepala Dinas Koperasi dan UKM. Beliau merespon positif dan meminta saya untuk menghubungi kepala bidangnya. Akhirnya saya kumpulkan semua kontak dalam WAG baru bernama Event UMKM Garut. Kegiatan kolaboratif antara Perguruan Tinggi atau Komunitas dengan Pemerintahan ini bukan kali pertama saya buat, sudah dijalankan sejak 2015 khususnya dengan Diskominfo Garut. 

Untuk kebutuhan peserta saya meminta bantuan pegiat UKM Garut. Beliau menyebarkan informasi kegiatan dan membuatkan WAG khusus untuk kegiatan. Walau demikian, direktorat pemberdayaan informatika membuat surat khusus yang ditujukan kepada pak bupati untuk penyediaan tempat dan peserta. Surat untuk bupati Garut dan walikota Tasikmalaya dikirimkan ke saya saat berada di Semarang. Surat tersebut kemudian saya teruskan ke sekretaris Diskominfo Garut dan tim Tasikmalaya. Saat itu disepakati waktu pelaksanaan di Garut pada tanggal 13 Agustus 2017.

Karena belum ada respon pemerintah kabupaten atas surat tersebut, kemudian diputuskan dalam WAG Event UMKM Garut waktunya diundur. Hal ini menyebabkan sedikit kekecewaan di sisi kementrian karena marketplace untuk Garut sudah dikontak. Walau demikian kementrian masih bersedia mengundurkan waktunya ke 4 September 2017. Saya berusaha untuk menjelaskan bahwa peserta sebenarnya sudah siap, hanya saja masih menunggu respon tersebut. Saya bahkan sudah menetapkan aula Musaddadiyah sebagai tempat alternatif dan meminta bantuan kampus untuk mendapatkan bantuan penggunaannya. Namun karena komitmen awal ini adalah kerja kolaboratif, saya mengikuti keputusan yang dibuat di WAG EVent UMKM Garut, dan memilih untuk menunggu jawaban dari pak Bupati yang sedang diusahakan oleh Diskominfo Garut. 

Ketua Relawan TIK Garut berhasil memobilisasi mahasiswa bidik misi Sekolah Tinggi Teknologi untuk menjadi fasilitator yang membantu pendaftaran peserta ke marketplace sesuai arahan saya. Sore hari tanggal 3 September 2017, Bibli selaku marketplace yang dipilih oleh kementrian untuk kegiatan UMKM Go Online di Garut datang dan memberikan pengarahan kepada 10 orang fasilitator di Pendopo yang sudah dikondisikan oleh Diskominfo Garut. 


Tidak lupa saya coba usahakan lagi ada manajer puncak kampus yang bisa hadir dalam acara tersebut. Saya coba menghubungi wakil ketua akademik yang sebelumnya ingin bergabung dalam kepanitiaan. Tapi beliau sedang sibuk dengan pekerjaan di kampus dan akan hadir dengan izin dari ketua. Saat itu kampus memang sedang menyiapkan akreditasi program studi Teknik Industri, di mana ketua dan semua wakil ketua di kampus sedang sibuk melengkapi dokumen kelengkapannya. Dua hari sebelumnya saya sebenarnya sudah mengundang ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan beliau dengan pertimbangan pekerjaan akreditasi yang belum rampung, mempercayakan kepada saya untuk mewakili Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Sekretaris diskominfo Garut dan kepala bidang pengembangan usaha koperasi dan usaha mikro Diskopukm Garut berhasil mengupayakan kehadiran pak Bupati untuk memberikan sambutan dalam acara tersebut. Pagi itu saya mengangkut semua yang diperlukan ke dalam mobil, mulai dari proyektor, printer, standing banner Relawan TIK Indonesia dan program studi Informatka Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan lain sebagainya. Tidak cukup waktu untuk mengambil brosur kampus untuk dibagikan ke ratusan peserta UMKM Go Online. Satu perangkat penting yang tertinggal adalah perpanjangan kabel. Untunglah ketua Relawan TIK Garut membawa motor sehingga saya bisa membeli perangkat tersebut di Indomaret dan toko listrik dengan cepat. 

Protokol Bupati kepada saya bertanya siapa saja yang duduk di depan. Saya putuskan yang duduk di depan adalah kepala sub direktorat yang mewakili direktur pemberdayaan informatika Kemkominfo, kepala Diskominfo Garut, kepala Diskopukm Garut, dan pak Bupati. Saya mendapatkan kabar wakil ketua bidang kerjasama akan hadir, namun karena kabar itu belum pasti saya putuskan tidak menyediakan kursi di depan untuk Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya sekalipun mewakili kampus, tidak bisa duduk di depan karena harus memastikan semua hal dapat berjalan. Relawan TIK Garut tidak saya tempatkan di depan, supaya nampak posisi relawannya. Namun mereka diberi kursi paling depan bersama kawan-kawan Bibli dan pejabat di lingkungan dua dinas sehingga pak Bupati bisa melihat serangam Relawan TIK Indonesia. Meja di depan sendiri tidak luas sehingga kalau semua duduk di depan tidak akan cukup. 

Dalam sambutannya pak Bupati hanya menyebutkan dua dinas sebagai penyelenggara kegiatan, mungkin karena yang dilihatnya di depan hanya kepala dinas. Beliau baru ngeuh ada Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat wakil ketua bidang kerjasama dipanggil ke depan untuk menerima piagam penghargaan dari Direktorat Pemberdayaan Informatika. Bagi saya itu tidak menjadi soal, yang penting kegiatan UMKM Go Online dapat berjalan dan manfaatnya sampai kepada peserta. Dan rangkaian kegiatan itu alhamdulillah dapat berjalan semua, sekalipun ada kendala teknis saat fasilitator meregistrasikan peserta. Dalam kesempatan itupun Relawan TIK Garut mendapatkan piagam penghargaan. 


Di dalam waktu kegiatan, ada beberapa peserta yang ingin masuk namun namanya tidak tercantum di daftar peserta. Saya memberi arahan kepada panitia registrasi ulang untuk mempersilahkan peserta tersebut untuk masuk. Di akhir kegiatan banyak peserta yang masih belum beranjak dari kursinya. Selewat saya dengar ada peserta yang mengatakan soal uang transfortasi. Saya menerima informasi dari panitia registrasi beberapa peserta menanyakan soal uang tersebut. Ternyata memang peserta menanti uang penggantian transportasi di akhir kegiatan. Dalam keseluruhan kegiatan yang pernah saya lakukan bersama kementrian di Garut, tidak pernah ada uang penggantian transportasi bagi peserta. Dalam kegiatan bersama Nawala Nusantara sebelumnya pun demikian. Saya bersama mitra hanya menyediakan kesempatan bagi UMKM atau peserta untuk mendapatkan tambahan ilmu gratis plus konsumsi. Saya juga berfikir pertemuan seperti itu seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi pengalaman langsung di antara peserta. 

Di grup peserta saya menyampaikan permintaan maaf sebagai berikut : 

"Terima kasih kpd pelaku UMKM yg telah ikut serta dlm pelatihan gratis marketplace bertajuk UMKM Go Online yg dijalankan oleh Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan didukung oleh Kemkominfo RI, Pemkab Garut (Diskominfo Garut dan Diskopukm Garut), dan kawan-kawan Relawan TIK di Garut. Semoga bermanfaat dan barokah. Maaf tdk ada amplop transportasi utk peserta seperti kegiatan Pemerintahan, karena kami melaksanakannya dgn swadaya sendiri dan hanya mendapat bantuan transportasi utk teman-teman Relawan yg membantu penyelenggara kegiatan saja".

Kemudian pengurus GUMKOMINDO Garut memberi respon sebagai berikut :

"Alhamdulillah. Haturnuhun pisan untuk Relawan TIK Garut dan STTG yang telah berkontribusi bagi pengembangan usaha para UKM dg pelaksanaan pelatihan UKM Go Online. Terkait "amplop", saya sendiri cenderung ingin mengusulkan agar kegiatan 2 yg diselenggarakan oleh pemerintah meniadakan uang saku dan mengkonversi dengan penyelenggaraan yg berkualitas dan fasilitas yg lebih bermanfaat bagi peserta. Supaya kita saat ikut pelatihan teh teu salah niat".

Ada satu hal lainnya yang lepas dari perkiraan saya. Ternyata kami juga harus memberi uang jasa kepada beberapa orang yang menyiapkan dan membereskan Pendopo. Tadinya saya berfikir dengan izin pak Bupati semuanya sudah selesai, hehehe. Awalnya teman panitia yang memegang uang memberi seratus ribu rupiah, tapi uang itu kemudian dikembalikan karena katanya tidak cukup. Lalu saya bertanya ada berapa orang dan berapa per orangnya. Beliau memberi informasi ada 10 orang yang bekerja dan mengusulkan untuk setiap orangnya 50 ribu rupiah. Setelah saya hitung, ternyata totalnya melampaui insentif relawan TIK yang disediakan oleh kementrian. Seandainya ada dana lain, saya tidak berani menawar. Tetapi karena saya tidak punya uang selain insentif untuk panitia yang berasal dari kementrian, saya pun menawar agar satuannya dikurangi. Akhirnya disepakati kami bisa membayar jasa teman-teman di Pendopo setengah dari usulan tersebut. 

Kemudian saya membayarnya dengan satu insentif punya panitia Sekolah Tinggi Teknologi Garut, sisanya lumayan bisa untuk bayar kopi yang diminum teman-teman panitia Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Teman-teman dosen dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang jadi panitia registrasi sebenarnya tidak akan keberatan bekerja tanpa insentif, karena komitmen awal yang dbangun dengan saya hanyalah sertifikat kegiatan. Relawan TIK Garut juga sama, niatnya tidak mendapatkan insentif tapi ingin membantu program pemerintah saja. Walau demikian kementrian berbaik hati memberi insentif atau tranfortasi untuk semua relawan yang terlibat, sehingga walaupun ketua Relawan TIK Garut sempat menolak insentif untuk fasilitator yang direkrutnya, saya menyerahkan amplop insentif tersebut untuk dibagikan ke semua fasilitator yang sudah mendaftarkan peserta ke marketplace. 

Banyak snack dan nasi yang tersisa dari kegiatan tersebut. Semuanya diangkut dan diturunkan di kampus. Kami bagikan kepada semua pegawai kampus, termasuk office boy dan satuan pengamanan. Satu dus dibawa untuk dibagikan ke pengajian, dan tiga dus saya turunkan di Pondok Pesantren al-Musaddadiyah untuk dibagikan kepada santri di sana. Semoga amal ibadah dan kelelahannya menjadi penghapus dosa dan tambahan berat amal di yaumil mizan kelak. Amin.   

02 Agustus 2017

Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental melalui Medsos se Jateng


2 Agustus 2017 ini saya membantu Kementrian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Kementrian Komunikasi dan Informatika dalam acara pelatihan media sosial bagi pelajar dan penggiat relawan TIK. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama dua institusi pemerintahan tersebut dengan Relawan TIK Indonesia. Ada dua kesempatan materi hari itu, dan saya kebagian mengisi materi Literasi Digital mewakili Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada pagi harinya plus malam ditemani kang Johan ketua bidang Penelitian dan Pengembangan Relawan TIK Indonesia. 

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya satu hari sebelum Musyawarah Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat, saya dihubungi Unggul Sugena pelaksana harian Relawan TIK Indonesia yang meminta saya untuk dapat mewakili Relawan TIK Indonesia untuk menjadi pemateri kegiatan tersebut di Bandung. Saat itu saya menjawab belum bisa karena masih ada yang harus dikerjakan dalam kegiatan Korea Information Technology Volunteers di Garut. Beberapa harinya lagi kang Unggul kembali menghubungi dan menanyakan kesediaan saya untuk dapat mengisi kegiatan tersebut di Yogyakarta atau Semarang. Karena waktu pelaksanaan di Yogyakarta terlalu mepet dengan waktu kepulangan Relawan TIK Korea Selatan, maka saya memilih lokasi kegiatan di Semarang. Satu hari sebelum keberangkatan saya menemui Relawan TIK Korea Selatan di Hotel Redante untuk memastikan mereka baik-baik saja sebelum saya tinggalkan sebentar ke Semarang. 

Alhamdulillah saya tidak perlu mengeluarkan uang, karena transfortasi sudah ditangani panitia kegiatan. Perjalanan dari Garut ke Bandara sempat berputar-putar karena seperti biasa Google memberikan jalan terpendek yang tidak bisa dilalui kendaraan yang saya pake. Maklumlah ini kunjungan pertama sendirian ke Bandara Husein. Agak dag-dig-dug karena khawatir tidak sempat boarding akibat habis waktu dipake puter-puter jalan. Alhamdulillah sampai beberapa menit sebelum waktu tenggat, dan ternyata pesawat Wings Air ini delay lama. 

Setelah melewati perjalanan dengan pesawat ATR yang lumayan kerasa goyangannya, tibalah di Bandara Ahmad Yani Semarang. Di sana saya ditemui sopir yang dikirim oleh panitia, namun saya meminta maaf tidak bisa ikut karena ada teman Relawan TIK Semarang akan datang menjemput. Mas Wijayanto pun datang menjemput dan langsung meluncur ke hotel Grand Candi tempat nginap pemateri dan panitia kegiatan malam itu. Di sana sudah lebih dulu tiba kang Johan, kita ngobrol lama tentang Relawan TIK hingga hampir tengah malam.


Keesokan harinya saya menyampaikan materi Literasi Digital - Peran Relawan TIK Indonesia : Mewujudkan Revolusi Mental dengan INCAKAP di hadapan pelajar pilihan dari sejumlah sekolah se Jawa Tengah. Anak-anak ini cukup responsif dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagus seputar pemanfaatan internet dalam keseharian hidup mereka. 


Malam harinya saya bertemu dengan teman-teman Relawan TIK di Semarang dan mendengarkan rencana Musyawarah Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Tengah. Dalam pembicaraan tersebut saya memberikan masukan agar sebelum melaksanakan pemilihan ketua umum baru untuk wilayah Jawa Tengah dan menyusun program kerja, sebaiknya didengarkan kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan hambatan yang ada di setiap cabang. 


Setelah itu saya bersama kang Johan duduk bersama perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Tengah dan Kementrian Kordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk mengisi acara panel di hadapan pegiat sosial media se Jawa Tengah. Dalam kesempatan itu saya menjelaskan konsep Hijrah Digital yang meliputi hijrah kondisi dari buta menjadi melek serta hijrah perangkat dari offline menjadi online. Konsep ini pertama kali saya sampaikan dalam seminar pendidikan karakter di Garut yang diselenggarakan oleh Yayasan Intan Pembangun Karakter. 

Keesokan harinya sambil menunggu waktu boarding, mas Wijayanto menawarkan kesempatan untuk berkunjung ke objek wisata di Semarang. Saya ingat dulu pernah membaca di media ada kawasan pemandian di puncak bukit mirip Darajat di Garut, hanya saja airnya tidak panas kalau di sana. Mas Wijayanto bersedia mengajak saya ke sana, yang ternyata berada di luar kota, tepatnya di kabupaten Semarang. Lokasinya ternyata di perdesaan melewati jalan kecil dan menanjak. Sekilas jalan setapak di pemandian Unggul Sidomukti ini seperti Karacak Valley, dan pemandangannya yang menampilkan pemandangan panorama kabupaten Semarang seperti Puncak Darajat. Tiket masuknya murah, pengelolaannya profesional. 


Magrib itu saya tiba di Bandara Husein Bandung. Di pintu parkir saya mendengar dua opsi pembayaran dari petugas pintu parkir. Untuk parkir selama tiga hari ini saya harus membayar mahal. Tapi saya maklum karena parkiran di sini padat sekali. Keluar dari area Bandara bertemu dengan macet yang menghiasi Bandung setiap waktu pulang kerja. Baru sekitar pukul sepuluhan saya pun tiba di rumah kembali, bertemu dengan anak dan istri yang telah tidur lelap. 

06 Juli 2017

Aku dan Relawan TIK


Perjalanan Menuju Pengukuhan

Di masa lalu aku adalah mahasiswa yang sukarela memasang komputer server dan menghubungkan jaringan lokal kantor dengan komputer server berkas sendirian, walau itu tidak ditugaskan oleh kampus. Aku tidak sama sekali merasa sungkan untuk membantu kampus ku sendiri secara sukarela, karena aku butuh ruang amal untuk kepentingan akhirat dan karena aku berfikir kampus tidak bisa maju kalau mahasiswanya hanya berpangku tangan. 

Kampuslah yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk turut membantu pengelolaan perangkat komputer dan jaringan di Laboratorium, dan aku siap bertanggung jawab atas keterlibatan mahasiswa dalam menyediakan layanan teknologi informasi secara sukarela di luar Laboratorium dan di luar kampus. Aku lah yang sejak tahun 2007 telah membuat mereka dibebani pekerjaan mandiri di luar kurikulum, terlibat dalam kelompok kerja mahasiswa yang melaksanakan beragam aktivitas layanan JAKI (Jaringan, Komputer, Aplikasi, dan Informasi) secara sukarela untuk kampus, dan menjalankan kelompok belajar untuk kaderisasi relawan yang bernama Forum TIK. Aku pernah mencoba membentuk forum ini tahun 2005, namun baru bisa berjalan dalam pengelolaan mahasiswa dua tahun kemudian. 

Wadah diskusi berbentuk forum ini sejak awal aku anggap penting. Dalam berkas laporan yang disampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada tanggal 4 Januari 2002, saat menjadi relawan di Laboratorium Komputer, ku tuliskan bahwa kampus harus memiliki Pusat Teknologi Komputer yang dilengkapi ruang diskusi. Mungkin karena aku sadar pentingnya pengetahuan yang aku dapatkan sendirian di Laboratorium Komputer ini dari buku, majalah, dan pengalaman praktik di sana. Aku juga mengusulkan adanya ruang penelitian, perpustakaan, dan pusat operasi harian layanan TIK. Usulan ini aku jadikan pegangan saat merumuskan UPT Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut tahun 2008. 

Aku selalu berkata kepada mereka di setiap angkatannya, bahwa pekerjaan sukarela ini adalah dalam rangka pengabdian, untuk pengalaman lapangan yang tidak diperoleh di dalam kelas. Mereka harus berbagi pengetahuan dan pengalaman kalau ingin pengetahuan dan pengalamannya bertambah. Banyak yang percaya dan bergabung. Dan satu tahun berikutnya aku mendengar dari mulut mereka bahwa ada bukti dari apa yang telah aku katakan itu. Oleh karenanya mereka nampak selalu semangat, walau mereka harus menjalani sistem penjenjangan hanya untuk membuka pintu pengalaman dalam proyek layanan JAKI di kampus atau kegiatan relawan lainnya. Dalam sistem penjejangan tersebut, mereka harus bergabung dalam forum TIK dulu. Satu tahun kemudian mereka membantu aktivitas layanan dalam kelompok kerja JAKI, dan satu tahun berikutnya mereka dapat dipilih sebagai kandidat koordinator kelompok kerja mahasiswa.     

Mereka juga berusaha semampunya menjalankan program kerja mingguan, bulanan, insidental, dan semesteran. Dengan program itu mereka tidak hanya mempraktikan keterampilan dalam rangka menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan nyata, tetapi juga mengajarkan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada mahasiswa lainnya. Memang agak susah untuk mendorong mereka membuat laporan tahunan terkait aktivitas yang dilaksanakan, tetapi bagi ku yang terpenting adalah mereka telah mendapat manfaat dari kegiatan relawan tersebut. Dengan semangat mereka itu aku bisa naikan level tantangannya, di mana pada tahun 2009 aku berikan kesempatan kepada mereka untuk menjalankan proyek berbayar dalam wadah bernama Balai Latihan Kerja Mahasiswa. Aku namai levelnya dengan nama donasi, karena mereka mengupayakan profit untuk untuk operasional kegiatan relawan. Level ini melengkapi level sebelumnya yakni edukasi dalam forum TIK dan dedikasi dalam kelompok kerja JAKI. Kesempatan itu juga sekalian untuk memberi gambaran kepada kampus bagaimana investasi TIK telah dihemat karena keterlibatan relawan ini. Sebelumnya aku memang sempat agak tersinggung saat kampus menganggap biaya operasional TIK teramat besar, padahal sekelompok relawan di kampus telah berusaha menekan biayanya. 

Pada sekumpulan mahasiswa itu aku berkata, bahwa jika kalian atau kampus ini sudah mendapatkan manfaat dari kegiatan ini, maka mari kita bantu kampus lain untuk mendapatkan manfaat serupa. Perkumpulan itu bernama Kelompok Pecinta TIK atau KPTIK, transformasi dari forum TIK yang ditetapkan namanya pada tahun 2011. Dalam kegiatan pengenalan Relawan TIK Indonesia, ketua bidang literasi pengurus pusat Relawan TIK Indonesia menyarankan agar kumpulan mahasiswa ini tidak hanya menjadi pecinta, tetapi juga harus membuat apa yang dicintainya dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat. Saat itulah ku putuskan untuk merubah namanya menjadi Kelompok Penggerak TIK. Dan pada tahun 2012 itu, anggota KPTIK mulai mengenalkan KPTIK kepada siswa perwakilan sekolah dan merintis KPTIK di sekolah untuk mewujudkan manfaat relawan yang luas.

Karena sejak tahun 2011 terbentuk KP2TIK (Kelompok Pengembang Platform TIK), maka keberadaan kelompok yang berbeda dengan KPTIK ini juga harus dijaga. Karenanya aku katakan kepada anggota KPTIK saat itu bahwa dua kelompok ini harus melebur menjadi Komunitas TIK. Pada tanggal 15 Oktober 2012, bersama mereka ku bentuk Komunitas TIK Garut. Semangat utamanya masih sama, yakni meluaskan manfaat relawan di kampus, selain melanjutkan kerja kolaboratif yang terbangun di antara pegiat TIK di Garut saat mendampingi program KIV (Korea Information Technology Volunteers) yang dipercayakan Relawan TIK Indonesia kepada ku. Komunitas TIK Garut akan menaungi semua Komunitas TIK di sekolah-sekolah yang didampingi oleh Komunitas TIK kampus. Oleh karenanya tidak heran kalau pada tahun 2015 Komunitas TIK SMKN 10 Garut dibentuk oleh sekolahnya dengan logo yang sama persis dengan Komunitas TIK Garut; anggota semua Komunitas TIK ikut dalam kegiatan pelatihan gabungan, dan pembinanya hadir dalam Konferensi Komunitas TIK tahunan. 

Pada tanggal 24 November 2017, aku bersama tiga pegiat TIK lainnya, baik yang telah terdaftar ataupun belum sebagai anggota Relawan TIK Indonesia, dikukuhkan dengan mengenakan seragam Relawan TIK Indonesia. Pengukuhan itu mungkin agak menyalahi target pengurus pusat, karena ketua umumnya pernah menjawab pertanyaanku tentang pembentukan kepengurusan di Garut bahwa targetnya sekarang ini adalah membentuk kepengurusan di provinsi. Pengukuhannya secara simbolis dilakukan oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Saat pengukuhan tersebut beliau bertanya, manakah yang lulusan ITB?. Hanya aku yang merupakan lulusan paskasarjana ITB dan berdiri saat itu. Ucapan beliau seakan memberi ingatan kepadaku bahwa apa yang aku peroleh dari ITB harus menjadi bekal dalam seluruh amal baktiku. 

Kehadiran beliau tidaklah disengaja, karena keterlambatan beliau menghadiri acara Wisuda kampus. Senat kampus saat itu di salah satu ruangan di gedung yang sekarang menjadi Area 306, meminta kesediaan ku untuk memberikan ruang waktu bagi beliau. Sebenarnya yang direncanakan untuk menjadi bintang utama kegiatan itu oleh Kementrian adalah Pak Cahyana Ahmadjayadi staf ahli Menkominfo. Dalam kesempatan sayup-sayup walau tidak terdengar, beliau mendorong mahasiswa ku yang hadir saat itu untuk ikut jejak langkah ku. Beliau saat itu memberi gelar kepadaku dengan nama Cahyana Junior. Beliau merasa heran ada seseorang yang memiliki nama yang sama dengan beliau dan mengira saya ada hubungan persaudaraan dengan beliau. Dan lucunya beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2015, saat digelar kegiatan Hackathon Merdeka 2.0, orang-orang Telkom yang menjadi mitra kegiatan mengira saya adalah anak perempuannya beliau. Dugaannya sudah teramat jauh, karena saya bukan anak beliau dan bukan juga perempuan, hahaha.   

Ku Dedikasikan Semuanya untuk Relawan

Seseorang dari Direktorat Pemberdayaan Informasi Kementrian Komunikasi dan Informatika mengatakan kepada saya bahwa Garut beruntung karena pengukuhannya dihadiri oleh Dewan Pembina, Pengurus Pusat, dan terutama oleh Menteri. Karena belum ada yang dikukuhkan oleh Menteri, bahkan pengurus pusat sekalipun. Sejak saat itu ku sadari diri ini adalah bagian dari Relawan TIK Indonesia. Blog Komunitas TIK Garut aku rubah namanya menjadi Pusat Komunitas dan Relawan TIK Garut, sebagai wujud komitmen ku untuk membesarkan Komunitas TIK Garut dan Relawan TIK Garut. 

Di media sosial aku sering membagikan berkas konsep KPTIK, sebagai wujud amal berbagi yang selalu aku lakukan dan ajarkan. Kawan Relawan TIK Indonesia dari Palopo bahkan menyebut Garut sebagai kiblat Relawan TIK Indonesia, hanya karena kami banyak menyediakan berkas dokumentasi kegiatan KPTIK di blog. Aku selalu bilang baik kepada teman-teman Relawan TIK Indonesia ataupun Kementrian, bahwa Garut adalah untuk Indonesia. Artinya semua yang kami buat bebas untuk diambil. Secara khusus ada ruang simpan yang aku buat untuk menyimpan semua luaran kegiatan Komunitas dan Relawan TIK Garut agar dapat diakses oleh siapa saja. 

Rupanya apa yang aku bagikan menarik perhatian Direktorat Pemberdayaan Informatika. Dalam kesempatan kunjungannya ke Garut, salah satu pejabatnya menyatakan ketertarikannya dengan sistem penjenjangan KPTIK dan menganggapnya bermanfaat bagi Relawan TIK Indonesia. Tidak hanya KPTIK, beliau juga menyatakan ketertarikannya terhadap ICT4Pesantren. Mungkin inilah sebab kenapa Antaranews dikirim oleh Direktorat tersebut untuk meliputi kegiatan KPTIK dan peluncuran ICT4Pesantren. Yang pasti aku tidak pernah memintanya atau melakukan "lobi-lobi", istilah yang sering ku dengar di kalangan pengurus pusat. Aku ingat saat Rapat Kerja Nasional di Menado ada seseorang yang mengingatkan ku (entah serius atau gurauan) agar tidak melakukan lobi-lobi, padahal yang ku sodorkan kepada orang Direktorat Pemberdayaan Informatika itu adalah surat dinas yang harus diparaf sebagai bukti perjalanan dinasku. Sekalipun untuk menghadiri kegiatan di Menado itu aku harus melewatkan sesi wawancara anugerah prestasi, aku tidak perlu mencari untung duniawi, karena aku telah mendapatkan keuntungan ukhrowi. 

Hingga kemudian pada tahun 2013 aku diundang oleh Direktorat Pemberdayaan Informasi untuk hadir dan diberi kesempatan mengikuti lelang pekerjaan membuat sistem sertifikasi untuk Relawan TIK Indonesia. Orang pertama yang aku hubungi adalah ketua umum Relawan TIK Indonesia. Melalui pesan singkat aku bertanya soal perusahaan yang harus digunakan untuk keperluan lelang tersebut. Tetapi tidak ada balasan dari beliau. Akhirnya aku menyerahkan kesempatan tersebut kepada CV Insan Akademika, badan usaha milik Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang biasa mengikuti lelang pekerjaan di pemerintahan. Hal tesebut menunjukan bahwa aku telah memprioritaskan Relawan TIK Indonesia dari pada kampusku sendiri untuk proyek tersebut. Walau demikian saat itu aku tidak terlalu memikirkan sebab kenapa Relawan TIK Indonesia tidak merespon pertanyaan ku. Bahkan aku sendiri bingung memahami apa yang harus aku buat dengan tawaran lelang tersebut.  

Takdir mengharuskan CV Insan Akademika mengerjakan proyek tersebut. Aku berusaha sebisanya untuk membantu tim mengerjakan proyek tersebut. Modal upayaku saat itu adalah ingatanku kepada pernyataan ketertarikan pejabat Direktorat Pemberdayaan Informatika terhadap sistem penjenjangan KPTIK. Gagasan yang aku buat adalah membuat sistem penjenjangan generik dengan merujukan sistem penjenjangan KPTIK dengan kegiatan relawan bidang TIK yang dilaksanakan di berbagai negara dan dilaporkan pada berbagai literatur. Direktorat Pemberdayaan Informatika sempat meminta agar bagian yang menyebutkan KPTIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dihilangkan. Permintaan tersebut membuat tulisan ini harus menjadi tulisan objektif tentang sistem penjenjangan Relawan TIK. Akhirnya produk pekerjaan itu berjudul Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK. Di dalamnya dibahas tentang pengertian Relawan TIK, aktivitas dan kompetensinya, serta sistem penjenjangan yang berkaitan dengan sertifikasi Relawan TIK. 

Pada bulan Mei 2013 hasil pekerjaan tersebut ku sajikan dalam Rapat Kerja Nasional Relawan TIK Indonesia. Baru ku sadari sekarang ini, seharusnya aku saat itu menyajikannya dengan mengenakan pakaian yang mencerminkan aku ini adalah perwakilan CV Insan Akademika. Tetapi aku terlalu larut sebagai anggota Relawan TIK Indonesia, sehingga aku menyajikan hasil pekerjaannya dengan mengenakan pakaian Relawan TIK Indonesia yang ku peroleh dari kegiatan pengukuhan satu tahun sebelumnya. Pernyataan anggota Relawan TIK Indonesia dalam forum yang masih aku ingat saat itu adalah tentang tidak mungkinnya orang Papua untuk mengikuti pelatihan TIK sehubungan kemampuannya yang tidak sama dengan orang di pulau Jawa. Saat itu aku berusaha untuk meyakinkan bahwa materi TIK yang dilatihkan kepada calon Relawan TIK adalah TIK dasar yang dibutuhkan oleh umumnya pengguna. Ketiadaan tenaga pelatih yang menguasai materi tersebut dapat disiasati dengan menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih. Walau demikian, ada sebagian yang mengapresiasi aktivitas dan kompetensi Relawan TIK yang aku sajikan dan meminta agar dapat dilaksanakan di Relawan TIK Indonesia. 

Beberapa bulan berikutnya, bertempat di Jakarta aku diundang dalam kegiatan FGD (Focus Group Discussion) sebagai upaya Direktorat Pemberdayaan Informatika menerapkan hasil pekerjaan CV Insan Akademik dalam organisasi Relawan TIK Indonesia. Dalam pertemuan itu, pengurus Relawan TIK Indonesia menyatakan bahwa hasil pekerjaan tersebut tidak ada yang bisa diterapkan oleh Relawan TIK Indonesia, dan hanya akan dijadikan literatur saja. Permasalahan yang aku tangkap dari pengurus pusat Relawan TIK Indonesia adalah soal tidak adanya istilah Relawan TIK Penggerak, Perintis, Pengembang, dan lainnya dalam AD/ART Relawan TIK Indonesia. Aku merasa pengurus pusat saat itu teramat kaku dalam menyikapi istilah-istilah yang aku buat berdasarkan sejumlah literatur. 

Aku tidak mempersoalkan hasil pekerjaannya bermanfaat atau tidak bagi Relawan TIK Indonesia, aku hanya agak sedikit tersinggung karena hasil pekerjaan yang diperoleh dengan memperhatikan literatur itu banyak dibantah tanpa menggunakan literatur. Aku sempat berfikir, seandainya semua kebutuhan pengembangan organisasi bisa diwujudkan oleh Relawan TIK Indonesia dengan tanpa meninjau kegiatan Relawan TIK di tempat lain yang didokumentasikan dalam sejumlah literatur, maka pekerjaan yang digarap oleh CV Insan Akademika ini adalah mubadzir. Direktorat Pemberdayaan Informatika tidak seharusnya mengalokasikan anggaran untuk mengembangkan Relawan TIK Indonesia dengan proyek tersebut. 

Selepas kegiatan itu aku bagikan berkas hasil pekerjaan CV Insan Akademika tersebut ke pengurus pusat Relawan TIK Indonesia yang ikut hadir dalam FGD. Namun ada tanggapan salah satu pengurus pusat yang sungguh mengagetkan. Beliau mengatakan bahwa tidak ada satupun peserta diskusi dari Relawan TIK Indonesia yang faham dan setuju isi buku yang digarap oleh CV Insan Akademika tersebut. Beliau meminta agar buku tersebut hanya dikonsumsi di Garut saja dan tidak perlu disebarkan ke luar Garut. Beliau siap mereview buku tersebut jika disebarkan yang dampaknya tidak akan baik untuk ku. 

Nampaknya beliau tidak faham kalau buku tersebut tidak membahasa tentang Relawan TIK Indonesia, tetapi tentang Relawan TIK secara umum. Saya coba menjelaskan bahwa Relawan yang bergerak dalam bidang TIK tidak hanya ada di Indonesia, sehingga untuk memudahkan dalam buku tersebut digunakan istilah Relawan TIK, tetapi tidak difahami sebagai Relawan TIK Indonesia. Oleh karenanya semua konsep yang tertuang dalam buku tersebut adalah konsep generik yang tidak harus difahami sebagai konsep Relawan TIK Indonesia. Beliau mendorong agar konsep itu untuk Komunitas TIK Garut dan istilah Relawan nya diganti dengan Komunitas saja. Tentu saja hal tersebut tidak mungkin dipenuhi karena sejak awal buku itu dibuat untuk menjelaskan sistem penjenjangan relawan dalam bidang TIK, bukan komunitas TIK. 

Satu kalimat yang cukup menyakiti perasaan adalah bahwa aku bukanlah anggota Relawan TIK kalau aku punya pemahaman yang berbeda dengan pengurus pusat Relawan TIK Indonesia. Kalau konsep dalam buku itu dijalankan di Garut maka aku tidak pantas mengenakan atribut Relawan TIK Indonesia. Kalau tetap mengenakan atributnya, maka aku dianggap mendompleng kebesaran Relawan TIK Indonesia untuk kepentingan pribadi yang kecil. Ternyata apa yang aku perbuat itu dianggap kepentingan pribadi, padahal aku lakukan dengan total untuk Relawan TIK Indonesia. 

Bagi ku itu sama dengan mengusir Relawan TIK Garut hanya karena adanya perbedaan pemahaman. Aku jelaskan kepada beliau bahwa ketua umum Relawan TIK Indonesia sangat terbuka terhadap perbedaan, tidak seperti beliau. Ketua umum Relawan TIK Indonesia mengatakan pada tahun 2012 bahwa teman-teman Komunitas TIK Garut dapat menjadi Relawan TIK Indonesia tanpa perlu melepas atribut Komunitas TIK Garut. Namun dari pernyataan dalam chat tersebut saya diberi tahu kalau di dalam Relawan TIK Indonesia anggota tidak boleh berbeda intepretasi tentang "relawan TIK" (bukan "relawan TIK di Indonesia sebagai personal" dan bahkan bukan "relawan TIK Indonesia sebagai organisasi") sekalipun pemaknaannya berdasarkan kepada literatur. Jadi ilmu pengetahuan yang diwakili literatur bisa diabaikan sekiranya besebrangan dengan pendapat pribadi atau golongan. Terus terang hal ini besebrangan sifat akademisi yang terbiasa meletakan pendapat pribadi dan golongan di atas ilmu pengetahuan.

Sejak saat itu kami melaksanakan kegiatan Relawan TIK Garut dalam bendera Komunitas TIK Garut, supaya tidak dianggap mendompleng kebesaran Relawan TIK Indonesia. Sistem penjenjangan tetap bejalan, karena sejak awal penjenjangan ini memang bukan untuk diterapkan dalam Relawan TIK Garut, tetapi dalam KPTIK. Semua kegiatan yang dilaksanakan oleh Komunitas TIK Garut kami laporkan kepada pengurus wilayah Jawa Barat sebagai kegiatan Relawan TIK Garut, dan itu tidak masalah karena aku sejak awal telah menyatakan dedikasi dan tidak membedakan antara Komunitas TIK Garut dengan Relawan TIK Garut. Dan aku tidak perlu mengatakan Relawan TIK Garut mendompleng Komunitas TIK Garut, karena aku percaya apa yang dikatakan oleh ketua umum Relawan TIK Indonesia tentang Integrasi dan Kolaborasi. Alhamdulillah, karena kegiatan tersebut Komunitas TIK Garut didaulat oleh Dinas Komunikasi dan Informatika serta Gubernur Jawa Barat sebagai Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat.

Aku sekarang duduk di kepengurusan pusat karena diminta oleh ketua umum terpilih pada tahun 2016 di Yogyakarta. Jika tidak karena melihat jasa beliau yang besar dalam membangun Komunitas dan Relawan TIK di Garut, aku tidak akan mau. Malam hari sebelumnya aku didorong-dorong seseorang di hadapan pak Fajar Eridianto yang menjabat ketua umum sekarang ini untuk ikut bursa calon ketua umum. Aku menjawab dengan tegas "tidak", jawaban sama seperti yang pernah disampaikan kepada beberapa orang sebelum datang ke Yogyakarta. Jawaban itu bukan karena aku setuju atas nasihat seseorang untuk tidak masuk dalam pengurus pusat Relawan TIK Indonesia, tetapi karena aku tidak ingin saja, dan ingin lebih fokus ke rencana studi Doktoral. Yang aku kerjakan di Yogyakarta saat ngobrol dengan teman-teman pengurus cabang atau wilayah adalah mempengaruhi agar pak Fajar Eridianto terpilih sebagai ketua umum Relawan TIK Indonesia, bukan melobi-lobi agar aku masuk bursa kandidat. Bahkan aku juga heran, kenapa nama ku harus tertulis di papan kandidat ketua umum dalam rapat tertutup itu.   

Tidak perlu meragukan dedikasi ku kepada Relawan TIK Indonesia. Aku bekerja untuk Relawan TIK Indonesia atas dasar kemanusiaan, bukan karena motif kepentingan pribadi yang kecil semisal uang proyek, ketenaran, atau apapun. Harga surga tidak bisa ditukar dengan harga dunia. Sejak tahun 2000 an aku bekerja sebagai Relawan dengan hati demi amal. Apa yang ku bagi adalah untuk melipatgandakan pahala yang di antaranya semoga dapat menggugurkan dosa. Aku tidak menjadikan liputan-liputan media / TV, proyek buku seharga 50 juta, atau hibah seharga 3 milyar, atau anugerah atas prestasi sebagai tujuan menjadi bagian Relawan TIK Indonesia. Tetapi aku tidak bisa menolak apabila orang mau memberi, utamanya untuk kepentingan kampus, Garut, Indonesia, atau Kemanusiaan. Aku bisa buatkan semampu ku buku-buku untuk Relawan TIK Indonesia atau siapapun yang berada di jalan kemanusiaan secara sukarela dan tanpa perlu melalui proyek profit. Aku bisa bantu siapa saja secara sukarela untuk kepentingan bangsa dan negara agar dia atau mereka dapat tampil di media atau mendapatkan anugerah seperti yang dilakukan kolega-kolega terhadap diriku.

Siapa saja dapat menjadikan diriku sebagai bagian dari dirinya jika ia menghendaki. Karena aku adalah kamu, dan kita adalah satu.  

Tulisan ini aku buat sebagai renungan perjalanan relawan ku dalam Relawan TIK Indonesia, sebagai bentuk rasa ikut bersyukur atas adanya Relawan TIK di Indonesia yang keenam tahunnya pada tanggal 5 Juli 2017 lalu. Semoga menjadi pelajaran yang baik dan membuat relawan bisa lebih saling memahami. Selamat milad, semoga Relawan TIK Indonesia menjadi organisasi yang lebih terbuka dan lebih matang. 

Kalau Ada Mobil Ambulan, Minggirlah Kawan


Kemarin saya terjebak macet di jalan satu arah pinggir RSHS. Mobil berjalan dua baris, di mana mobil saya berjalan di baris kanan. Di belakang terdengar suara sirine. Di spion kiri nampak mobil sedan modifikasi pake lampu strobe. Saya bilang dalam hati, anak muda kok tdk sabaran. Tapi begitu saya lihat kedua kalinya, ternyata ada mobil ambulan yg nyala lampu strobe nya. Saya pun langsung siap-siap minggir.

Nampak mobil sedan mewah warna hitam di depan ambulan terus jalan dan tdk mau minggir. Akhirnya saya injak rem sehingga ada ruang kosong di depan mobil saya. Mobil ambulan itupun akhirnya belok ke kanan di depan saya dan dapat menyiap sedan mewah tsb.

Utk ambulan kita wajib toleran kawan, wajib minggir, gak perlu tanya siapa, serta agama, ras, atau suku pasien yg dibawanya apa. Semewah atau sekeren apapun kendaraan kita, perhatikan agar kita selalu keren dgn meminggirkan kendaraan saat ambulan mau lewat.

Di Garutnya ada kemacetan panjang dekat RM Astro. Saya merasa sebal dgn kendaraan yg tdk sabaran saat macet lalu memakan bahu kiri jalan krn gak mau antri. Kalau ambulan sih gpp, kalau perlu kita yg minggir ke bahu jalan. 

24 Juni 2017

Islam dan Budaya


Menurut pemahaman saya, Islam itu bukan Arab sehingga untuk islami tidak perlu menjadi orang Arab. Nabi Muhammad SAW sendiri mengatakan bahwa pada awalnya Islam itu asing di tempat kelahirannya, banyak menyalahi budaya dan kepercayaan masyarakat Arab saat itu. Hal ini menunjukan bahwa Islam sama sekali tidak berakar dari Arab, tetapi bersumber dari Allah SWT.
Budaya Islam merupakan turunan dari atau sisi manusia yang berinteraksi dengan ajaran orisinil Allah SWT yang keorsinilannya muncul tanpa merujuk sama sekali kepada pemikiran manusia. Islam diturunkan sebagai ajaran universal, yang flexible terhadap budaya masyarakat manapun, bersifat meluruskan agar sejalan dengan ajaran Tuhan. Islam sebagaimana agama lainnya mencelupi budaya manusia.

Kalau ada usaha mengislamikan budaya, maka usaha tersebut bukan menjadikan budayanya bergeser menjadi serba Arab tetapi menjadi lurus sejalan dengan ajaran Islam. Namun usaha ini akan membawa kepada akulturasi, sehingga sangat wajar jika bahasa dan ajaran agama terserap di dalam budaya. Serapan ini tercermin dalam kata serapan asing, pakaian, prosesi, dan lain sebagainya. Sangat wajar jika al-Quran yang menggunakan bahasa Arab terserap dalam bahasa percakapan sehari-hari muslim dan tetangganya di berbagai belahan dunia, terlebih jika kata itu tidak ada padanan katanya dalam kata yang berkembang di tempatnya diamalkan. Bahkan nama Tuhan YME disebut berbeda saat nama-Nya terucap dalam berbagai budaya manusia. Akulturasi ini merupakan proses pemilihan dan peningkatan, di mana manusia dapat sampai kepada tingkat budaya yang sangat maju melalui akulturasi.

Semangat fasis yang menganggap pencapaian budaya bisa dicapai dengan hanya mengembangkan budaya sendiri dan mengisolasi dari kebaikan atau keunggulan budaya asing hanya akan menciptakan manusia asosial, lupa dari kenyataan bahwa manusia itu satu sehingga hakikat budayanya pun satu, dan diciptakan berbangsa-bangsa dan berbudaya agar saling mengenal dan belajar untuk melengkapi diri, melengkapi budayanya. Islam mengajarkan kepada ummat melalu lisan Nabi Muhammad SAW untuk mempelajari sesuatu hingga negeri Cina, sehingga umat Islam tidak menutup diri dari budaya yang sejalan atau dapat lurus dengan ajaran Islam. Allah SWT tidak mengharamkan budaya, akulturasi budaya, selama budaya tersebut sejalan dan tidak menyalahi ajaran-Nya.

Budaya dibangun oleh manusia dan sangat dipengaruhi dan bahkan dibentuk oleh pemikiran, seni, atau keyakinan mereka. Oleh karenanya hal yang sangat wajar apabila Indonesia mewarisi budaya yang sangat beragam termasuk mewarisi hasil akulturasi budaya yang sangat banyak, apakah akulturasi itu sebagai usaha memperkaya budaya yang ada atau sebagai usaha hidup bersama budaya yang ada. Ini merupakan suatu karunia. 

Yang pasti, manusia Indonesia memiliki kehendak memilih dalam usahanya tersebut, berdasarkan pengetahuan atau keyakianannya, sehingga boleh jadi tidak semua bagian dari budaya itu menyatu atau bercampur dengan budayanya. Oleh karenanya hal yang wajar apabila sebagian kelompok menolak dan menerima sebagian dari budaya kelompok lain, seperti misalnya menolak penyerapan bahasa arab ke dalam bahasa sehari-hari dan menerima penyerapan pakaian barat dalam pekerjaan sehari-hari. 

Walau demikian, setiap manusia Indonesia hidup dalam semangat bhineka tunggal ika, sikap toleransi yang menjadi komitmen hidup berbangsa, sehingga sikap penolakan tersebut tidak boleh mencegah kecuali menyalahi Pancasila dan khususnya ketuhanan YME yang menjadi dasar berbangsa dan bernegara. Dalam konteks penyerapan bahasa Arab misalnya, karena tidak menyalahi Pancasila maka sikap penolakan tidak boleh mencegah, dan cukup penolakan itu di dalam dirinya saja. Mencegah dalam bentuk apapun baik secara langsung atau tidak langsung, yang dinyatakan di ruang publik, sama saja menyalahi prinsip Bhineka Tunggal Ika, menyalahi Pancasila, dan merupkan wujud praktik rasial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kita sadar, budaya ini terus berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia, dan perkembangan budaya Indonesia ini sejatinya tidak akan menyalahi Pancasila. Budaya Pancasila inilah yang menjadi jati diri budaya Indonesia. Namun sayangnya, sebagian dari bangsa kita, mempersoalkan bagian budaya yang sama sekali tidak menyalahi Pancasila seperti bahasa yang plural namun melupakan budaya yang menyalahi Pancasila seperti sekulerisme, plurasilme, dan liberalisme. Bahasa "semakin arab semakin islami" misalnya menurut pemahaman saya memiliki dua kesalahan, pertama karena penyerapan bahasa yang bersumber dari apa yang dikonsumsi bangsa (baik kitab suci, karya sastra, dls) merupakan hal yang terakomodasi dalam kehidupan plural / bhineka tunggal ika, dan kedua karena penggunaan bahasa yang bersumber dari apa yang dikonsumsi bangsa merupakan hak asasi yang tidak menyalahi Pancasila dan bahkan dilindungi UUD 45