Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

11 November 2018

Interaksi Saya dengan Front Pembela Islam


Sejak tahun 1997 saya mukim di pondok pesantren mahasiswa. Saya pernah bertemu dengan al-Habib Muhammad Rizieq Syihab di rumah pimpinan pondok pesantren mahasiswa. Sungguh kebetulan sekali karena pertemuan itu terjadi dalam periode penelaahan mandiri karya tulis Ibnul-Qayyim, topik pergerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin, dan sebelum interaksi saya dengan Syabab Hizbut Tahrir di Garut. Kebetulan pimpinan pondok pesantren memiliki hubungan yang cukup baik dengan pucuk pimpinan FPI (Front Pembela Islam) tersebut. Pertemuannya dilaksanakan pada malam hari yang dihadiri oleh seluruh santri mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Waktu itu saya banyak mendengar di kalangan pegiat Islam bahwa Laskar Jihad pimpinan Jafar Umar Thalib diupamakan seperti tentaranya umat Islam, dan Laskar FPI diumpamakan seperti polisinya umat Islam. Apa yang saya dengar tersebut kemudian ditanyakan maksudnya kepada Habib. Dengan lemah lembut beliau menjelaskan fungsi laskar FPI dalam kaitannya dengan amar ma'ruf nahyi munkar dan menyampaikan pendapatnya tentang Laskar Jihad secara ringkas. Penjelasan beliau memberi tambahan pengetahuan saya seputar pergerakan Islam, khususnya yang ada di Indonesia.

Beberapa waktu kemudian saya diminta oleh pimpinan pondok pesantren untuk memimpin suatu kegiatan se Jawa Barat di Garut. Saya sering menyelenggarakan kegiatan saat aktif di Generasi Muslim al-Muhajirin atau Palang Merah Remaja. Tetapi untuk yang satu ini saya merasa tidak bisa menyelenggarakannya sendirian. Syukurlah saya memiliki banyak kenalan teman-teman kampus, adik-adik tingkat yang aktif di organisasi mahasiswa Islam eksternal kampus. Pimpinan pondok dan teman-teman menunjuk saya sebagai ketua pelaksana, sekalipun saya sudah menyampaikan usulan agar salah satu teman yang bergabung dalam kepanitiaan yang menjadi ketua pelaksananya. Saya setuju dengan catatan bahwa teman tersebut bertanggung jawab atas operasional kegiatannya. 

Kegiatan tersebut adalah Musyawarah Daerah FPI Jawa Barat yang pertama. Saya tidak terlalu faham FPI itu apa, tetapi pimpinan pondok pesantren lebih faham karena banyak berinteraksi dengan pengurus pusatnya. Saya melaksanakan tugas tersebut dengan dua alasan, 1) Menghormati permintaan ketua pondok pesantren, dan 2) Ingin membantu sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam. Dengan alasan tersebut saya menyanggupi untuk menjadi ketua pelaksana kegiatannya. 

Saat kegiatan itu berlangsung, saya hampir tidak mengikuti kegiatannya. Saya stand-by di kobong. Saya telah menyerahkan operasional kegiatannya secara penuh kepada teman yang saya percayai tersebut. Rupanya dia sangat handal sehingga dapat mengelola kegiatan pemilihan ketua FPI Jawa Barat yang pertama itu hingga selesai. Itulah sebab kenapa saya memilihnya, karena saya yakin dia lebih faham dari pada saya soal tata tertib dan administrasi pemilihan ketua kepengurusan. Walau saya diminta sebagai ketua pelaksana Musyawarah Daerah FPI Jawa Barat, tetapi saya tidak pernah diminta untuk menjadi anggota FPI. Oleh karenanya, setelah selesai kegiatan tersebut, saya kembali melaksanakan rutinitas di kobong, mengikuti pengajian, membaca buku, dan mengamalkan aurod, jauh dari kegiatan organisasi apapun. 

Beberapa tahun kemudian saya mendengar berita tentang FPI, mulai dari berita positif dan negatif. Saya membaca bagaimana gesekan FPI dengan akar rumput Nahdiyin mengeras saat Habib mulai mengkritik dengan gaya bicara orang Betawinya kepada Gus Dur. Saya membaca bagaimana media mengeksploitasi gesekan FPI dengan masyarakat untuk kepentingan rating. Bahkan ada lembaga independen yang secara khusus membuat daftar masalah tersebut dan mempublikasikannya di internet, yang dimanfaatkan oleh banyak perkumpulan untuk mendorong pembubaran FPI. Dan sekarang ini saya membaca bagaimana FPI yang didirikan pada tanggal yang sama dengan kemerdekaan Indonesia itu dikait-kaitkan dengan organisasi teroris. 

Sebenarnya FPI ini memiliki banyak kegiatan yang pasti akan dinilai positif oleh umumnya masyarakat, seperti misalnya kegiatan relawan dalam kejadian Tsunami Aceh. Namun pemberitaan yang banyak dimunculkan di media sosial lebih banyak seputar gesekan tersebut. Nahyi munkar yang menjadi penciri umat Islam itu penting adanya di tengah masyarakat yang mulai melepaskan kearifan lokalnya. FPI memiliki prosedur nahyi munkar yang tidak melanggar aturan pemerintah dan telah melaksanakannya. Hanya tinggal mengendalikan pelaksana dan mengelola pemberitaannya saja agar direspon positif oleh masyarakat yang membutuhkan ketertiban umum. Semoga saja Rabithah Alawiyah sebagai induk dari segala organisasi habaib (seperti Majelis Rasulullah, Nurul Mustafa, FPI, dan lain sebagainya) dapat memberikan pendampingan agar FPI dapat menjadi organisasi yang dapat melaksanakan nahyi munkar dalam wajah yang lebih simpatik lagi, sekalipun kita tahu tidak mungkin semua orang dibuat simpatik dengan nahyi munkar, seperti pelaku maksiat yang melanggar aturan pemerintah, syariat agama, atau nilai dan norma budaya bangsa. Karena bagaimanapun, FPI yang dianggap sebagai organisasi habaib oleh Habib Zen, harus dapat mewujudkan rahmatan lil alamin dan menjadi "telaga al-kautsar" yang menghilangkan dahaga masyarakat yang terganggu oleh kemunkaran dengan kelezatan rasa yang abadi di dalam hati.

Kendali Nafsu


Hawa nafsu itu tunggangan yang buta bagi setan dan raja hati, syahwat dan ilmu yang jadi tali kekangnya.

Nafsu itu beragam kondisinya, dari yang terendah hingga tertinggi, dari amarah hingga kamilah. Kondisi nafsu manusia tergantung syahwat mana yang diikutinya. Syahwat itu ada yang baik dan buruk. Bila akal / ilmu / kebenaran diikuti dan digunakan untuk memilih syahwat yang baik dan menguatkan hawa untuk terus mengikutinya, maka kondisi akhir nafsunya bisa menjadi baik. Namun tidak halnya jika sebaliknya.

Raja hati itu istilah yang saya temukan dalam tulisannya Ibnu Arabi. Beliau mengatakan bahwa manusia itu seharusnya jadi penguasa / raja dalam hatinya. Jangan manusia sampai diperbudak oleh syahwat yg buruk sebagai akibat berpaling dari kebenaran / ilmu. Bila kondisinya diperbudak, nafsu ini akan jatuh ke dalam kondisi amarah yg selalu mendorongnya kepada keburukan. Bila nafsu kondisinya demikian maka setan dengan leluasa menungganginya, menjadikannya sebagai kaki tangan dalam keburukan. Namun jika sebaliknya dan menjadi penguasa hati yg berdaulat, maka dia akan menjadi kaki tangan Allah, yang dengannya Dia berbuat kebaikan bagi semesta alam.

Pada dasarnya nafsu / jiwa kita ini buta. Pada saat Allah memberinya pemahaman, maka jadilah ia melihat / mengetahui segala sesuatu. Dengan literasi itu manusia menjadi dimuliakan oleh mahluk dengan perintah Nya, kecuali oleh iblis yg sombong. Demikianlah kondisi manusia pertama, Adam a.s., yang pada awalnya beliau buta dari mengetahi sesuatu, lalu Allah membuatnya melek setelah memberitahu nama-nama ciptaan Nya. Namun kebutaan itu tetap ada dan tanpa batas, tersibak sebagian kecilnya dgn ilmu yg datang padanya melalui keenam inderanya.

07 November 2018

Mengkonfigurasi GMail pada GSuite untuk NBO Bebras Indonesia


Dalam kegiatan Workshop Bebras di Jakarta tanggal 31 Agustus 2018 silam, saya merespon kebutuhan email berdomain bebras dari ibu Inge (Inggriani Liem). Kebetulan saya pernah membantu setengah jalan mengonfigurasi GSuite Forum Dosen Indonesia. Saya menyediakan diri untuk mengajukan NBO Bebras agar mendapatkan hibah GSuite for Nonprofit. Dan di penghujung workshop, pak Adi Mulyanto menawarkan kepada saya untuk bergabung dalam OC NBO Bebras Indonesia. Saya menerimanya agar dapat membantu kebutuhan email tersebut.

Untuk pengajuan tersebut saya membuat akun email Bebras Indonesia di GMail pada tanggal 3 September 2018. Pada tanggal yang sama saya berhasil mendaftarkan NBO Bebras Indonesia sebagai anggota Techsoup Asia. Beberapa berkas terkait AKTA dan SK Kemkumham yang diperlukan untuk keperluan verifikasi diperoleh dari pak Adi. Dan pada tanggal 6 September 2018, NBO Bebras Indonesia terkualifikasi untuk mengakses donasi software melalui Techsoup Asia, termasuk donasi dari Google. 

Pada tanggal 9 September 2018, dengan berbekal token Techsoup Asia, saya mulai mengajukan permohonan kepada Google agar NBO Bebras Indonesia dapat mengikuti program Google untuk Lembaga Nonprofit, dan pada hari itu pula disetujui. Dan pada tanggal yang sama Google mengirimkan petunjuk untuk memproses G Suite for Nonprofits. Pengajuannya disetujui pada tanggal 13 September 2018. Dalam prosesnya saya membuat akun khusus untuk admin Google berdomain bebras.or.id di Konsol Admin G Suite. Oh ya, karena rekaman tag meta dari Google yang harus ditambahkan ke DNS untuk verifikasi agar G Suite nya aktif, saya dibantu oleh pak Naryo yang menjadi admin DNS Bebras Indonesia. 

Setelah G Suite nya aktif, saya kemudian menghubungi pak Adi untuk mendapatkan daftar akun biro. Pada tanggal yang sama, saya mendapatkan daftarnya untuk kemudian ditambahkan melalui konsol admin. Pada tanggal 10 September 2018, saya membuatkan folder di Google Drive untuk seluruh biro untuk keperluan pelaporan kegiatan. Saya juga membuatkan folder khusus yang bisa dibaca oleh akun berdomain bebras.or.id atau akun biro. Saya membantu pak Adi untuk membuatkan template peserta dalam format spreadsheet yang kemudian disimpan di folder khusus tersebut dan dibagikan di WAG Koordinator Biro. 

Saya baru ngeuh aplikasi Gmail nya belum bisa digunakan setelah mendapatkan informasi dari teman Biro dari ITB. Tanggal 29 Oktober 2018 saya mendapatkan akses ke cpanel bebras dari pak Naryo setelah mendapat izin dari pak Adi. Setidaknya ada dua langkah penting untuk penyiapan aplikasi GMail nya: 1) penyesuaian MX di Setelan Lanjutan Gmail, dan penambahan rekaman MX di hosted-domain Bebras; serta 2) penambahan rekaman spf di DNS nya di Bebras. Setelah mencari waktu lapang untuk menindaklanjutinya, akhirnya langkah pertama bisa selesai sendiri pada tanggal 2 November 2018, dan langkah kedua selesai dibantu oleh Nikki dari Google Support pada hari ini tanggal 7 November 2018.


Sampai tahap pertama akun email bisa menerima email dari luar, tetapi tidak bisa mengirimkan email ke luar. Hal ini saya tanyakan ke Google Support. 


Akhirnya dengan bantuan dari Nikki (Google Support) rekaman SPF ini berhasil ditambahkan :

v=spf1 include:_spf.google.com ~all

Setelah penambahan rekaman tersebut, saya bisa membalas email atau mengirim email ke luar.


28 Oktober 2018

Pengamalan Agama adalah Penampilan Muslim yang Sebenarnya


Saat di Pondok dulu saya suka mengenakan jubah, terbawa kebiasaan pakaian di GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin). Beberapa teman di GMA mengenakannya krn terinsfirasi wali songo dan merasa semangat keagamaannya terdorong dgn pakaian tsb. Beberapa teman GMA lainnya (dgn sumber insfirasi yg sama) memilih utk mengenakan atribut pakaian adat seperti bendo dan iket dlm kegiatan keagamaannya.

Pilihan warna hitam dari jubah yg saya kenakan mengikuti semangat asketis, bukan krn pengaruh aliran harokah jihadi apalagi syiah, hehehe. Harokah saya adalah Mujahadah Ratisejiwa (Meraba Hati Mensejahterakan Jiwa), perang besar melawan hawa nafsu utk memperoleh Cahaya, melalui laku dzikir dan tafakur.

Saat itu di pondok ada dua kebiasaan pakaian harian. Santri mahasiswa teknik Sekolah Tinggi Teknologi Garut secara umum berbeda dgn santri salafiyah, mereka tdk sarungan. Tapi kalau ngaji semuanya pasti sarungan dgn pakaian seragam jenis koko.



Pernah saya mengusulkan agar pakaian santri teknik bentuknya jubah. Beberapa santri menyetujuinya. Lalu saya mendengar yg baru saya dengar dari salah satu teman (seorang guru sekolah yg tinggal di pondok) bahwa muslim seharusnya tdk terjebak dgn simbol. Makna dari perkataan teman tsb adalah ingatan bahwa agama itu yg terpenting adalah pengamalan dan tdk sekedar penampilan atau simbol2.

Usulan saya tsb tdk pernah saya wujudkan. Cukup pak Kyai saja yg mengenakan jubah putih, krn keluhuran ilmu dan amaliahnya. Bagi santri teknik yg sedang belajar, perhatian thd pengamalan agama lebih penting dari pada penampilan. Pengamalan agama adalah penampilan muslim yg sebenarnya.

20 Oktober 2018

Seminar dan Pelatihan Nasional Masyarakat Informasi XII


SPNMI (Seminar dan Pelatihan Nasional Masyarakat Informasi) merupakan agenda tahunan Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang dilaksanakan oleh Prodi (Program Studi) Teknik Informatika. Tahun ini kegiatan tersebut masuk pelaksanaan yang ke-12 (dua belas). Untuk tahun ini kami berkolaborasi dengan Ikatan Guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan EPSON. 

Pada tanggal 3 September 2018, pak Wijaya Kusumah menghubungi saya melalui Telegram. Beliau menawarkan kerjasama pelaksanaan workshop elearning di Garut dengan target peserta 100 orang. Tawaran ini saya sambut dengan baik, karena kebetulan tahun ini saya merencanakan akan menyelenggarakan kegiatan dengan topik elearning. Saya menganggapnya sebagai jalan kemudahan yang Allah berikan. 


Seperti yang telah disampaikan pak Wijaya, koordinasi kami dengan Ikatan Guru TIK melalui ibu Wiwin. Dan malam itu saya dihubungi oleh ibu Wiwin melalui WhatsApp. Dalam kesempatan komunikasi tersebut saya menanyakan apa yang harus disiapkan oleh panitia lokal. Beliau menjelaskan bahwa kami hanya perlu menyiapkan peserta dan tempat tidur untuk pemateri. Insentif pemateri sudah ditanggung oleh EPSON, termasuk 3 (tiga) unit printer yang dua diantaranya disediakan untuk peserta dan satu untuk kami selaku panitia lokal. Melalui media sosial itu kami menyepakati tanggal pelaksanaannya yakni 20 Oktober 2018. 

Seperti kebiasaan saya, pengelolaan kegiatan Prodi Teknik Informatika saya tawarkan kepada dosen. Untuk tahun ini SPNMI saya percayakan kepada ibu Leni Fitriani. Saya buatkan proposal kegiatan sampai estimasi waktunya, dan ibu Leni Fitriani selaku ketua pelaksana melengkapi estimasi biayanya. Hasil diskusi saya dengan ketua pelaksana, kami memutuskan pematerinya yang sedianya diisi oleh pak Aldy yang akan menyampaikan materi tentang Revolusi Industri 4.0, digantikan oleh ibu Dewi Tresnawati agar kegiatan Bebras Challenge tanggal 15 November 2018 tersosialisasikan kepada para guru yang hadir sebagai peserta. 

Dalam proses pembuatan proposal tersebut, saya mengajak ketua pelaksana SPNMI dan ibu Dewi Tresnawati selaku ketua pelaksana Bebras Challenge untuk berkoordinasi dengan ketua PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk mendapatkan dukungan dan bantuan penyebaran informasi. Komunikasi kami dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dibantu oleh ibu Kiki Aisyah yang merupakan alumni Prodi Teknik Informatika, sementara komunikasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika melalui pak Diar Cahdiar Antadireja - Sekretaris Dinas. 


Dalam komunikasi dengan ibu Kiki, beliau siap membantu mengkomunikasikan kebutuhan surat rekomendasi kegiatan dan penyediaan piala untuk Bebras Challenge kepada Pelaksana Harian Dinas. Dalam komunikasi dengan Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, beliau siap membantu kegiatan kompetisi informatika tahunan NBO Bebras Indonesia di Garut dan akan mengupayakan piala bergilir dari Bupati Garut. Sementara ketua PGRI Garut siap membantu menyebarkan informasi kegiatan di lingkungannya. Setelah adanya partisipasi dari tiga institusi tersebut, kami letakan logo PGRI Garut dan Pemerintah Daerah Garut di dalam poster kegiatan.

Tinggal dua minggu lagi menuju pelaksanaan, kami masih menunggu surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta surat rekomendasi dari Ikatan Guru TIK. Dalam masa menunggu itu kami mengandalkan poster untuk menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat yang disebarkan di grup Whatsapp, grup Facebook dan Instagram. Surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan keluar beberapa hari setelah surat rekomendasi dari Ikatan Guru TIK disampaikan ke ibu Kiki. Dengan berbekal surat rekomendasi tersebut, kami sebarkan surat ke sekolah di sekitar Garut. Penyebarannya dibantu oleh mahasiswa Prodi Teknik Informatika. 

Pemateri dari Ikatan Guru TIK adalah ketua dan bidang humas pengurus pusat. Pematerinya mengonfirmasi kedatangannya pada hari kamis, 18 Oktober 2018, pukul 2 dini hari di Stasiun Kadungora. Saya memutuskan agar ketua Pelaksana menginapkan tamu pemateri tersebut di Area 306. Karena jumlah tamu yang datang sebanyak tiga orang, maka saya memberi arahan agar ruangan yang digunakan untuk menginap adalah ruang biru. Hari Rabu sore hingga maghrib itu, saya, ketua pelaksana, dan mahasiswa membereskan ruangan. Kasur dan bantal dari ruang tamu dipindahkan ke ruang biru Area 306. Siang hari sebelumnya saya mengintruksikan kepada Office Boy untuk memasang kipas angin di ruang biru tersebut. 

Lepas Maghrib saya meminta ibu Dewi Tresnawati datang untuk membicarakan sponsorship Bebras Challenge dengan Ipan Setiawan yang datang sore itu ke Area 306. Untuk mempersingkat waktu, pembicaraannya dilakukan di dalam mobil ibu Dewi Tresnawati yang mengarah ke Ramayana Mal. Malam itu ketua Pelaksana saya arahkan untuk membeli sejumlah kebutuhan tamu, mulai dari makanan, alat mandi dan selimut. Pukul 8 malam lebih seluruh selesai dibeli. Belanja kebutuhan tersebut menggunakan dana pengabdian kepada masyarakat untuk SPNMI dari STTG. 


Pagi harinya, ketua Pelaksana dan suaminya menjemput tamu. Saya ketiduran dan terbangun menjelang pukul 4. Saya buka WhatsApp dan melihat status aktif terakhir ketua Pelaksana. Saya lega setelah melihat status aktif nya pukul 3, artinya tamu sudah ditangani. Kepada mahasiswa yang menginap di Area 306 saya berpesan agar pagi itu mereka memasak sarapan untuk mereka dan tamu yang menginap. Bahan masakannya kami belikan di Ramayana. 

Pagi hari itu saya menghubungi mahasiswa agar memandu pak Bambang, pak Youri, dan temannya yang menginap di ruang biru menuju ruang Prodi Teknik Informatika. Pertemuan yang direncanakan pukul 9 itu mundur karena kami masih sibuk mengurus surat ke sekolah. Kami bertemu pukul 10 lebih. Dan setelah berbincang sebentar saya mengajak tamu, bu Leni Fitriani, dan bu Dewi Tresnawati untuk mengunjungi ketua PGRI. Karena hari itu Jum'at dan waktu salat Jum'at telah tiba, saya serahkan mobil ke ibu Dewi Tresnawati setelah saya dan tamu turun di area Masjid Agung Garut. Sebelum berangkat saya mengarahkan ibu Dewi dan ibu Leni untuk membeli kebutuhan lain untuk SPNMI sambil menunggu kami salat. Hari itu saya meminjam mobil milik mertua untuk kebutuhan kegiatan. Mobil kampus kebetulan sedang digunakan oleh mahasiswa Prodi Teknik Informatika dalam acara Masa Bimbingan di Cikajang.

Lepas salat Jum'at, saya ajak tamu untuk menuju Pendopo dan mengenalkan Babancong yang merupakan salah satu bangunan penciri Garut. Di sana saya menerima telepon dari ibu Dewi yang menanyakan keberadaan kami. Setelah diskusi sebentar saya putuskan bertemu di Chochodot. Saya ingin mengenalkan salah satu produk kuliner di Garut berbahan coklat dengan kemasan unik. Untunglah ibu Leni membekali saya uang sehingga saya bisa membelikan oleh-oleh untuk semua tamu. 


Selanjutnya bu Dewi membawa kami semua ke Wisma PGRI untuk menemui ketua PGRI di sana. Kami berempat masuk ke wisma, sementara ibu-ibu memutuskan untuk menunggu di mobil. Di sana saya merencanakan agar pertemuannya tidak lebih dari setengah jam. Saya tinggalkan sebentar pertemuan itu untuk menemui ibu-ibu di luar. Rupanya ibu-ibu sudah ingin segera kembali karena dari EPSON sudah akan datang ke kampus untuk persiapan tempat. Tadinya mereka mau pulang naik Grab, tapi saya minta mereka menunggu sebentar.



Dan kami pun tiba di kampus. Tamu kami arahkan ke Area 306 untuk makan siang. Malam sebelumnya ibu Leni mendapat kiriman cumi dari mahasiswa asal Selatan Garut. Ibu Leni menyerahkan cumi itu ke ibu Dewi Tresnawati untuk jadi santapan makan siang tamu di Area 306. Dalam kegiatan ini, ibu Dewi menangani makanan untuk pembicara, panitia, dan peserta. 

Beberapa menit setelah kami tiba, EPSON datang ke kampus. Syukurlah ruangan sudah tertata, hanya tinggal kursi tamu dan pasokan listrik untuk peserta yang belum siap. Saya menghubungi ketua Prodi Teknik Sipil untuk peminjaman kursi tamu. Selanjutnya saya intruksikan office boy untuk mengangkut kursi tamu dari ruang Prodi Teknik Informatika dan Teknik Sipil, serta meminta ketua Pelaksana untuk menghubungi petugas instalasi listrik untuk segera memasang listrik. 

Saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada pak Youri tentang Area 306 yang diinapi semalam. Beliau menilai fasilitas tersebut sangat cukup dan mewah. Saat saya tawarkan lokasi menginap yang lain, beliau mengatakan tempat tidur di Area 306 ini sudah sangat memadai sehingga tidak perlu pindah ke tempat lain. Area 306 memang dirancang untuk kegiatan kreatif bidang Informatika di lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Di dalamnya tersedia kamar tidur dan dapur. Area 306 menjadi semacam rumah singgah bagi pegiat TIK nasional yang singgah di Garut. Mas Noviyanto dari Relawan TIK Jawa Timur sering menyempatkan diri istirahat di sana dalam kegiatannya di Jakarta. Area 306 juga sejak 2013 telah menjadi rumah bagi Komunitas TIK yang ada di Garut. 

Setelah diskusi dengan ibu Leni dan ibu Dewi, kami memutuskan makan malam bersama tamu dilaksanakan di Rumah Makan Cibiuk, sekalian mengenalkan sambal Cibiuk yang berasal dari kecamatan Cibiuk Garut. Dana yang digunakan adalah dari alokasi untuk penginapan pemateri. Kami membawa serta ketua MGMP Garut dalam acara makan malam tersebut yang kebetulan ada agenda pertemuan dengan ketua Ikatan Guru TIK. 



Tibalah saatnya kegiatan dilaksanakan. Kegiatan mundur 45 menit menunggu seluruh peserta hadir. Malam itu saya memberi masukan kepada ketua Pelaksana melalui Whatsapp apa saja yang harus disampaikan dalam dalam laporan kegiatannya. Point penting yang saya pesankan untuk disampaikan adalah tentang SPNMI, Bebras Challenge, serta asal peserta dan mitra kegiatan. 


Turut memberikan sambutan dalam acara tersebut ketua PGRI Garut, ketua Ikatan Guru TIK, dan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Garut. Dr Hilmi Aulawi, Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut selaku tuan rumah memberikan sambutan, apresiasi untuk panitia, dan membuka acara tersebut. Sesi pembukaan ditutup oleh penandatanganan kerjasama antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Ikatan Guru TIK. Dinas Komunikasi dan Informatika tidak kami undang karena peran mitranya ada di acara Bebras Challenge 15 November mendatang. 



Sesi materi pertama diisi oleh EPSON. Dalam kesempatan tersebut EPSON menyerahkan secara simbolis satu unit printer untuk panitia lokal. EPSON juga menyediakan door prizes bagi peserta, termasuk satu unit printer EPSON. Satu unit printer lagi diserahkan oleh pak Youri di penghujung acara kepada peserta terbaik dalam pembuatan soal dan materi online. Saya memutuskan printer untuk panitia lokal akan digunakan untuk menunjang kegiatan dosen Teknik Informatika di Area 306. 




Setelah materi EPSON dimulai, saya berangkat ke Cikajang untuk mengisi materi Prodi di acara Masa Bimbingan. Pagi itu saya tidak bisa hadir membuka program tahunan untuk mahasiswa baru, karena harus mengawal SPNMI. Ibu Leni yang sedianya diundang untuk memberikan materi kemahasiswaan dan ibu Sri Rahayu yang memberikan materi Bantuan Alumni di Masa Bimbingan saya putuskan tetap di lokasi SPNMI. Sebelumnya ibu Dini Destiani yang sedianya memberikan materi seputar akademik di Masa Bimbingan mengonfirmasi tidak bisa hadir karena sakit. Akhirnya saya putuskan, materi sosialisasi Proker Prodi dan Kemahasiswaan saya tangani, materi layanan Prodi dan Bantuan Alumni ditangani oleh Sekretaris saya, dan materi akademik diganti dengan motivasi dan disampaikan oleh pak Eri Satria, ketua Prodi Teknik Informatika periode sebelum saya. 




Karena mengejar penutupan SPNMI, saya dan pak Eri Satria bergegas meninggalkan lokasi acara Masa Bimbingan. Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk mengisi perut dulu. Pak Eri mentraktir saya dengan insentif pemateri Masa Bimbingan. Sesaat setelah masuk ke dalam mobil, pak Eri menerima telepon dari bu Dewi yang menanyakan keberadaan kami, karena acara telah selesai dan pak Youri menanyakan saya. Saya melewatkan materi bu Dewi Tresnawati tentang Bebras Challenge dan pak Youri tentang Elearning selama kegiatan di Cikajang tersebut. Dan rupanya Prof Ali Ramdhani, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut periode sebelumnya juga menyempatkan nengok kegiatan tersebut dan berbincang dengan teman-teman dari Ikatan Guru TIK. Alhamdulillah, kegiatan tersebut jadi istimewa dengan hadirnya pimpinan Kampus dan Prodi periode sebelumnya.




Setelah sampai di lokasi dan beres-beres lokasi sebentar, kami memutuskan untuk melaksanakan pembubaran panitia sambil makan Bakso. Makan baksonya selesai selepas Isya. Untuk terakhir kalinya saya sempatkan membawa pak Youri melihat Garut malam hari, menuju pusat Industri kulit. Begitu sampai di kampus, saya sempat menawarkan diri untuk mengantar pulang ketua Panitia. Tapi ibu Leni katanya sudah memesan ojek online. Sebagai pimpinannya saya merasa khawatir, tetapi saya tidak pernah memaksakan pilihan yang diberikan kepada bawahan. 

Malam itu saya menyempatkan diri pulang dulu ke rumah menemui anak dan istri. Dan sesuai rencana, pukul 9 malam itu saya menjemput teman-teman Ikatan Guru TIK dari Area 306 yang akan pulang dengan kereta api di Stasiun Kadungora. Dalam perjalanan saya mengucapkan terima kasih kepada Ikatan Guru TIK karena telah bermitra dalam program pengabdian kepada masyarakat. Teman-teman menyapaikan ucapan terima kasihnya atas pelayanan baik kami selama di Garut.

Pulang mengantar, saya sempatkan diri dulu untuk jalan-jalan menikmati malam Garut untuk menghilangkan penat seharian. Tidak ada tempat yang disinggahi, tetapi lagu dari JOOQ yang pas cukup membuat perjalanan malam sendirian itu sedikit menghibur. Dan sesampainya di rumah, ternyata radiator mobil bocor. Syukurlah mesinnya tidak saya matikan saat teman-teman turun di Statsiun. Kalau dimatikan, mungkin mobil tidak akan bisa dijalankan seperti di rumah. 

Alhamdulillah, kegiatan yang menjadi program kerja Prodi yang saya pimpin ini berhasil terlaksana. Agak sedih juga mendengar ketua Pelaksana jatuh sakit, sekalipun telah menerima penjelasan sakitnya itu sebagai akumulasi kelelahan pekerjaan sebelumnya. Saya merasa bangga karena sebagai alumni Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagaimana saya, ibu Leni sudah melaksanakan pekerjaan dengan total. Tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih di WAG kepada EPSON, teman-teman Ikatan Guru TIK, dan peserta. WAG peserta selanjutnya saya ubah menjadi Grup Akademisi Informatika. Dalam melaksanakan Prokernya, Prodi memang membuat rencana pembentukan dua Forum, yakni Forum Masyarakat Informatika Garut untuk akademisi bidang Informatika, dan Forum Masyarakat Informasi Garut untuk pengguna TIK di Garut.