Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

24 November 2020

8 Tahun Relawan TIK Garut dalam Aktivitas Tridharma


Tepat hari ini, tgl 24 November, 8 tahun yg silam, Relawan TIK Indonesia di Garut berdiri. Penyematannya secara simbolis oleh pak Helmy Faishal Zaini yg saat itu menjabat sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Sedianya beliau disiapkan oleh kampus utk memberikan orasi ilmiah dalam acara Wisuda. Namun krn halangan, beliau hanya bisa hadir setelah acaranya selesai. Dan sedianya penyematan itu menurut rencana Kemenkominfo RI akan dilakukan oleh pak Cahyana Ahmaddjayadi.

Pimpinan kampus mengajak saya diskusi di salah satu ruang basecamp Komunitas TIK Garut yg sekarang jadi laboratorium Sistem dan Teknologi Informasi. Dulu Area 306 seluruhnya adalah basecamp Komunitas TIK Garut. Prof Ali meminta kesediaan saya utk memasukan pak Menteri dlm rangkaian kegiatan kampus yg saya selenggarakan selepas wisuda di tempat yg sama. Dgn senang hati permintaan itu saya iyakan. Terlebih kegiatan literasi digital tsb juga merupakan kegiatan kampus bekerjasama dgn Kemenkominfo RI, Relawan TIK Indonesia, ICT Watch, Nawala, dan lainnya. Selanjutnya saya menghubungi Kemenkominfo RI utk meminta persetujuannya, dan syukurlah permintaan tsb disetujui.

Dlm acara itu saya sibuk ke sana ke mari, sehingga tdk menyimak materi yg disampaikan oleh narasumber. Teman pengurus pusat Relawan TIK Indonesia yg menyimak narasumber memberi tahu saya kalau pak Ahmaddjayadi dlm kesempatan ceramahnya menyebut saya sebagai Cahyana junior. Kebetulan nama saya sama dengan beliau. Dlm kesempatan berbincang, beliau menyatakan keheranannya krn nama saya bisa sama dgn beliau dan sempat mengira kami ada hubungan kekeluargaan. Beberapa tahun kemudian, dalam acara Hackathon Merdeka Garut, saya disangka anak pak Cahyana Ahmaddjayadi oleh pihak Telkom Tasikmalaya. Saya tersenyum dan bilang, "ya, saya Cahyana junior".

Dalam kesempatan penyematan oleh pak Helmy, beliau mendatangi kami berempat lalu bertanya, "mana yg lulusan ITB?". Saya menjawab, "saya pak". Saya lupa isi perbincangan singkatnya, mungkin krn grogi berhadapan dengan pak Menteri.

Dalam kesempatan ceramahnya, beliau menyatakan akan memberikan bantuan kegiatan sebesar 10 juta utk kegiatan Relawan TIK di Garut dan mengajak Relawan TIK Indonesia utk ikut terlibat dalam pembangunan daerah tertinggal. Alhamdulillah, bantuan tsb kami terima melalui kampus, di mana sebagian di antaranya kami belanjakan utk keperluan pemasangan karpet di basecamp Komunitas TIK yg sering digunakan kegiatan TIK oleh Komunitas TIK di Garut.

Beberapa waktu kemudian Kemenkominfo RI mengirimkan Antaranews utk meliput gerakan ICT4Pesantren yg merupakan kolaborasi Relawan TIK Garut dengan Relawan TIK Surabaya, dalam kerangka kerjasama kampus dengan Majelis Muwasholah. Kemenkominfo RI juga mengirimkan TVOne ke Garut utk meliput kiprah Relawan TIK di Indonesia. Dlm program acara tsb, TVOne menyebut Relawan TIK Garut bermuara pada kegiatan TIK di Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Alhamdulillah, kegiatan Relawan TIK di Garut tetap hidup. Kampus menjaganya utk tetap berkegiatan dgn memasukannya dalam kurikulum Prodi Informatika STT Garut sebagai mata kuliah penciri lokal. Sebagai ketua tim penyusun kurikulumnya, saya menghubungkan mata kuliah Relawan TIK dgn topik Komputer dan Masyarakat. Mata kuliah tsb merupakan adopsi mata kuliah pilihan pd kurikulum sebelumnya yg bernama IT Volunteering 1 dan 2.

Dulu ketua prodi Informatika mengusulkannya masuk ke dalam kurikulum agar kegiatan ekstrakurikuler relawan TIK memberi nilai akademik. Di masa sekarang, pemikiran seperti itu disebut Kampus Merdeka, di mana beban belajar lapangannya sebesar 20 sks. Mata kuliah tersebut merupakan wujud pelaksaan kerjasama Tridharma kampus dengan Relawan TIK Indonesia dari tahun 2012 hingga sekarang.

Mata kuliah Relawan TIK yg saya ampu ini merupakan fase penyiapan mahasiswa informatika calon peserta KKN agar mewarisi profil pengabdi relawan TIK. Pembekalan keterampilan TIK dasarnya diberikan dalam mata kuliah Sistem dan Teknologi Informasi. Dengan demikian, Komunitas TIK tidak perlu lagi memberikan pembekalan TIK dasar dgn buku C2C (Component to Cloud) yg diluncurkan saat pengukuran Relawan TIK. Semua mahasiswa mengikuti pembekalan TIK dasar dan menerapkannya dalam program Relawan TIK Abdi Masyarakat.

Sejumlah penelitian dlm topik Relawan TIK saya lakukan utk keperluan pengayaan konten materi mata kuliah Relawan TIK. Mulai dari kegiatan Korea IT Volunteers, Pesantren Teknologi Informasi 7 hari, Pandu Digital, hingga konsep integrasi Relawan TIK dgn Sistem Pendidikan Tinggi dan desain sistem informasi Relawan TIK saya publikasikan pada Jurnal Ilmiah dan diseminasikan pada temu ilmiah. Saya mulai menikmati topik kajian terkait pengelolaan sumber daya Relawan TIK.

Saya telah menapaki jalan relawan dalam bidang TIK ini mulai dari jaman mahasiswa melalui pengabdian kpd kampus. Sekarang saya menjalaninya melalui pengabdian kpd masyarakat yg merupakan tugas pokok saya selaku dosen di kampus yg sama. Dan tentunya, apa yg saya lakukan bersama Relawan TIK ini merupakan pengabdian kpd bangsa dan negara sebagai wujud kecintaan yg semoga bernilai ibadah dan menjadi amal jariyah di sisi Allah.

Sejak mahasiswa saya menganggapnya sebagai jalan pensucian jiwa, dan sepanjang perjalannya Tuhan telah membukakan banyak jalan rejeki yg tdk disangka-sangka. Hampir tdk ada satupun orang yg dapat menghambat amal relawan yg saya mimpikan dan lakukan. Tuhan selalu memberikan jalan keluar dari segala hambatannya. Tidak ada satupun mahluk Nya, termasuk saya yg bisa mencegah Nya. Dia lah sebaik-baiknya yg diharapkan pertolongan dan keridhaan Nya. 

23 November 2020

Selamat Jalan pak Wahyudin


Saat kuliah di Prodi Informatika STT Garut, saya mendapat ilmu informatika dari pak Wahyudin. Selain sebagai dosen, beliau mendapat tugas tambahan sebagai Koordinator Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sekitar tahun 2002-2003, saya diminta oleh kampus utk menjadi asisten beliau di Labkom (Laboratorium Komputer), menggantikan kakak tingkat.

Beliau sangat mendukung pengembangan diri mahasiswa dalam bidang TIK di Labkom. Beliau mengalokasikan anggaran Labkom utk buku dan majalah Chip, sehingga saya mendapatkan tambahan wawasan tentang TIK dan mempelajari teknik komputer dan jaringan secara otodidak. Saat itu saya berbagi tugas dengan teman asisten lain, di mana urusan pembukuan dan perpustakaan ditangani Asep Saepudin, sementara saya menangani bantuan teknis. Di luar tugas bantuan teknis, saya menjadi relawan TIK yg membangun jaringan komputer dan memperbaiki komputer kantor secara sukarela, semata krn pengabdian kpd kampus.

Kemampuan teknis yg saya peroleh dari kegiatan di Labkom membuat beliau mempercayakan pekerjaan instalasi komputer dan jaringan komputer kampus dan SMA Cildug Musaddadiyah kepada saya. Saat melaksanakan pekerjaan instalasi di sekolah itulah saya menunjukan siswi Smkciledug Al-musaddadiyah yang saya sukai kepada beliau. Siswi tsb adalah teman hidup saya sekarang.

Saat beliau dipindahtugaskan ke SMK Ciledug, saya diajak serta utk menjadi pengajarnya. Saya menjadi guru dalam mata pelajaran yg sama dengan beliau. Namun saya tdk lama menjadi guru, lebih memilih utk menghabiskan waktu di Labkom kampus. Selepas lulus kuliah tahun 2003, saya menggantikan tugas beliau di Labkom. Beberapa tahun kemudian beliau menjadi kepala sekolah.

Saat menjadi asisten beliau saya mendapat saran masukan agar bekerja di luar Garut. Sama seperti saran dari pak Febi yg menyarankan saya utk bekerja di perusahaannya atau di perusahaan multinasional. Dgn pengalaman di Labkom itulah saya memiliki cukup kemampuan teknis, sehingga di terima di PT Pratita Prama Nugraha yg gajinya 5 kali lipat dari gaji yang saya miliki. Namun sehari setelah diterima, saya memutuskan utk kembali ke kampus dan menyibukan diri di Labkom, hingga kemudian diterima sebagai CPNS Kemendiknas RI pada tahun 2005 yg diperbantukan di kampus.

Ruang kebebasan berkegiatan yg diberikan oleh beliau dan kampus (dari masa kepemimpinan alm Dr Maman Abdurrahman Musaddad, alm Ir KH Abdullah Margani Musaddad, dan Prof Muhammad Ali Ramdhani) telah membukakan pintu bagi saya utk merintis infrastruktur TIK kampus dan Komunitas / Relawan TIK. Alhamdulillah, hingga sekarang UPT Sistem Informasi dan Komunitas TIK masih ada dan memberi manfaat bagi kampus dan masyarakat.

Semoga segala pahala kebaikan yg saya peroleh dari kegiatan pengajaran dan relawan TIK mengalir kpd pak Wahyudin, sebagai wujud keberkahan dari kebaikannya yg telah memberikan ruang pengetahuan dan pengalaman. Semoga Allah menghapus dosa dgn nya dan meninggikan derajatnya sebagai orang yg bermanfaat bagi orang lain. Amin.

#BiografiCahyana

21 November 2020

Melawan Provokasi di Tengah Pandemi


Apabila ada narasi jihad sebagai jalan alternatif selain revolusi. Yg menarasikannya menjelaskan bahwa revolusi ditawarkan dgn dialog damai, tanpa pertumpahan darah, tdk mau berperang. Tapi kalau yg diajak dialog dianggapnya congkak, angkuh, dan sombong, maka akan dilakukan jihad. Contoh yg diangkat adalah sikap Nabi SAW yg sebelum berperang terlebih dahulu berdialog. 

Dgn kontruksi seperti itu, narasinya terdengar seperti ancaman thd persatuan dan tantangan berperang. Hal demikian dapat mendatangkan respon peringatan dari tentara agar tdk coba2 mengancam persatuan. Saat tentara menunjukan kekuatan militernya, siapa saja yg berfikir utk memerangi pemerintahan yg sah akan dapat melihatnya. Tentara memiliki kemampuan utk melawan semua propaganda narasi yg membahayakan persatuan bangsa, baik tercetak atau selainnya. Semua itu demi keutuhan bangsa dan negara, yg bagi saya merupakan sikap patriotik.

Saya pribadi berfikir, dlm situasi pandemi seperti ini, seharusnya urusan politik dikemas lebih bijak lagi, tdk perlu provokatif, apalagi sampai menarasikan sesuatu yg terdengar mengancam persatuan bangsa. Bencana pandemi yg merupakan masalah kemanusiaan lebih penting utk diselesaikan bersama-sama agar segera berlalu. Kepentingan kemanusiaan seharusnya lebih dipentingkan dari pada kepentingan politik. Upaya mencegah penyebarluasan infeksi virus jauh lebih penting dari pada pertunjukan kekuatan masa atau politik. 

Saat Hoax Dihalalkan

"Bikinlah konten-konten media sosial yang menyejukkan masyarakat sebagai tandingan terhadap konten-konten hoaks yang merusak moral masyarakat" (Prof KH Ma'ruf Amin, Wapres RI). 

Buzzer penyebar hoax yg merusak itu meliputi BuzzerR (Relawan) dan BuzzerRp (Rupiah). Terkadang konten keilmuan yg menyejukan para penikmat ilmu pun membuat gerah mereka, krn materinya menyinggung keburukan hoax yg dibuat atau disebarkannya. Mereka melakukannya utk beragam kepentingan. 

Sebagian dari mereka yg diadukan atas hoax nya akhirnya mendekam di penjara. Padahal  kepentingannya bisa diperjuangkan tanpa hoax. Walau demikian, masih ada yg berfikir pemenjaraan tsb bukan krn keburukan hoax, tapi kedzaliman, seakan hoax atau keburukan apapun menjadi halal saat digunakan utk kepentingannya. Mungkin ini yg disebut menghalalkan segala cara.

19 November 2020

Kemampuan Menahan Amarah Murid Diwarisi dari Gurunya

Lumrah bila murid merasa marah saat gurunya disakiti. Namun marahnya terkendali dan energinya dapat diarahkan kpd tindakan positif berkat teladan atau pengajaran gurunya. Kemampuan murid dlm menundukan amarahnya diwarisi dari gurunya. Murid yg benar2 berguru akan merasa gagal bila tdk mewarisi teladan dan pengajaran baik gurunya. Dan mereka akan sangat bersyukur bila dapat mengikuti gurunya.

Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri berkata, "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dgn bahasa kasar dan caci maki, aku bersyukur kpd Allah tdk memahami Islam lewat lisan mereka".

Santri Pesantren Krapyak Yogyakarta pastinya akan bersyukur dapat mengendalikan amarah krn teladan dan pengajaran dari KH Ali Maksum (Allah yarham). Saat itu beliau dipukul dgn linggis di tengah ceramah hingga luka parah dan harus opname selama hampir dua bulan. Beliau berpesan kpd satrinya, “kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel (semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci)". Sikap beliau ini sama seperti yg ditunjukan Syekh al-Jaber. 

Mungkin inilah sikap ulama yg telah disentuh oleh kalam Nya yg qadim (al-Quran) sehingga hatinya berlimpah rahmat. Sikap seperti itu belum tentu bisa dimiliki oleh orang biasa yg baru menyentuh atau melafalkan mushaf al-Quran sebatas kerongkongan. Kekuatan memaafkan ini lebih "ampuh", dari pada sekedar kekuatan fisik. Akhlaq mulia tsb telah dibuktikan oleh Nabi SAW dan pengikut sunnahnya, dapat membukakan pintu hidayah bagi para pembencinya. 

Menahan amarah adalah kemampuan orang yg bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT yg artinya, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran 133-134)

Oleh karenanya, para pembelajar agama akan sangat memperhatikan pengajaran seperti tausiyahnya KH Gus Luqman al-Karim. Beliau mengingatkan agar jgn salah memilih guru dan ilmu. Salah memilih guru akan tersesat, salah memilih ilmu akan tdk bermanfaat.