Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

07 Agustus 2022

Keanehan Netizen KC (Kurang Cermat)


Setiap pembangunan ada perencanaan dari pakar dan pasti ada manfaatnya. Tinggal bangsa ini bekerja keras bersama-sama, seraya memohon kpd Tuhan agar mampu mewujudkannya dgn baik. Kita punya rasa takut dgn risiko, tetapi kita punya banyak ahli yg mumpuni, dan kita punya Tuhan yg selama ini telah memberikan banyak hal luar biasa kpd Indonesia melalui tangan para ahli.

Ini adalah kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Setiap orang yg selama ini baru melihatnya di Jepang, Cina, dan negara maju lainnya melalui layar TV atau internet pasti penasaran dan ingin melihatnya langsung, atau bahkan mencoba menaikinya, sekalipun sebelumnya mencibir. Sebagaimana jalan layang MBZ, sebagian pengguna tol yg mencibir pembangunannya sekarang mulai merasakan nikmatnya pengurangan waktu tempuh.

Oh ya, masih banyak yg menggunakan materi lawas utk mencemooh proyek nasional ini, misalnya Jakarta-Padalarang masih jauh ke Bandung, padahal stasiunnya sudah dibangun di Tegalluar Bandung. Terlihat di Google Maps, stasiun Kereta Api Cepat berdekatan dgn jalan tol yg terhubung ke berbagai gerbang masuk ke kota Bandung. Ini menunjukan sebagian dari netizen kurang cermat dalam memilih materi, dan mendaur ulang materi lama utk cemoohan.

Beberapa tahun kemudian, apabila diizinkan Allah stasiun tsb terhubung ke tol, penumpangnya tdk hanya bisa mengarah ke Bandung, tetapi juga ke Garut dan bandara Kertajati. Ini semacam harapan saya selaku warga Garut, semoga di masa depan bisa menggunakan jalan tol dari Garut menuju stasiun kereta api cepat di Tegalluar utk meeting di Jakarta, atau naik pesawat terbang di Kertajati utk meeting di kota selain Jakarta, dan utamanya utk mudik ke Subang.

#PersepsiCahyana

Keanehan Netizen BBM (Buru-Buru Marah)

Saya pernah males ngantri di SPBU, sehingga memutuskan utk membeli Pertamax Turbo. Mengisi tangki dgn sekian liter Pertamax Turbo seharga 100rb serasa 50rb pertalite. BBM tsb memang tdk diperuntukan bagi konsumen seperti saya yg cuma pake kendaraan LMPV dgn CC di bawah 1500. 

#Pertamina sendiri menyebut ketiga jenis BBM nonsubsidi itu hanya menyasar pada 5 persen pelanggan Pertamina secara nasional. Kalau melihat daftar kendaraan yg cocok dgn jenis BBM ini kita pastikan pelanggan yg dimaksud adalah pemilik mobil mewah. Buat kalangan tsb yg uang saku hariannya bisa ratusan ribu hingga jutaan, kenaikan sekian ribu per liter itu tdk berpengaruh. Beda dgn kita yg kondisinya berbeda jauh, mungkin ada sedikit rasa penyesalan setelah mengisi tanki mobil dgn jenis BBM tsb.

Anehnya, banyak netizen yg tdk pernah mengkonsumsi jenis BBM tsb sumpah serapah atas kenaikan harganya, sampai bawa-bawa hutang negara, keadilan sosial, dan azab Tuhan. Konsumen yg setiap hari mengisi kendaraannya dgn BBM non subsidi tsb sepertinya menahan tawa melihat reaksi semacam itu, atau bahkan tdk perduli krn tdk ada pentingnya sama sekali. 

Dari sini saya melihat memang ruang medsos kita masih dilingkupi post truth, di mana opini publik dikembangkan oleh netizen dgn emosi buta dari pada fakta. Indeks literasi kita memang rendah, terlebih semangat ricek juga masih lemah, sehingga wajar risiko teratas Indonesia menurut Microsoft adalah penipuan dan hoax. 

#PersepsiCahyana

05 Agustus 2022

Peran Sugesti dalam Praktik Tenaga Dalam


Tenaga dalam yg pernah saya pelajari merupakan kemampuan untuk memasukan pesan sugesti. Gerakan fisik tangan merupakan bahasa tubuh yg mewakili pesan sugesti, tetapi tdk mutlak diperlukan. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa kali percobaan, di mana seseorang dapat bereaksi sesuai sugesti yg saya pikirkan tanpa perlu menggerakkan tangan.

Pesan sugesti bisa diterima atau ditolak, tergantung kemauan atau tingkat kesadaran penerima. Orang yg tdk bisa mengendalikan dirinya saat emosi memuncak lebih mudah utk menerima pesan alam bawah sadar dari siapapun. Seperti orang yg mudah terprovokasi saat emosi. Oleh krn nya, siapapun yg berperan sebagai lawan dlm praktiknya diharuskan oleh instruktur utk menyerang dgn penuh amarah. Tanpa kondisi tsb, sugesti bisa ditolak oleh lawan.

Namun tdk semua harus dalam keadaan marah. Sugesti dapat diterima oleh lawan dalam kondisi mau dipengaruhi, seperti hipnosis. Dlm kondisi demikian, siapapun dapat melepaskan pengaruhnya kapanpun juga. Kesimpulan ini berdasarkan pengalaman, di mana saya dapat bangun sendiri tanpa perlu dibangunkan oleh pengirim sugesti. Waktu itu banyak teman mempertanyakan kondisi tsb. Sayangnya saya tdk menyimak jawaban dari instruktur kpd mereka.

Ada banyak penonton yg mengatakan orang yg menjatuhkan lawan tanpa sentuhan itu bohongan. Pernyataan itu tdk sepenuhnya benar, sebab bohongan itu tdk memerlukan sugesti. Sugesti itu efeknya seperti hipnosis, di mana penerima pesan sama sekali tdk bisa melakukan apa yg menurut pengirim pesan tdk bisa dilakukan, atau akan merasakan apa yg harus dirasakannya. Misalnya, seseorang akan merasakan adanya daya dorong yg berlawanan dgn gerakannya, di mana daya tsb sebenarnya datang dari dirinya sendiri. Ia mengidentifikasi daya tsb sebagai daya orang lain, seperti anak kecil yg memainkan dua tangannya dlm pertarungan dan ia memerankan salah satunya. Istilah tanpa sadar yg saya gunakan ini maksudnya gerakan yg muncul tanpa berusaha mengadakannya. Contoh sederhana gerak tanpa sadar itu seperti gerak reflek.

Komunikasi bawah sadar itu nyata adanya, seperti kita sering mengatakan sesuatu yg sama pd waktu bersamaan dgn orang lain. Kesimpulan itu saya peroleh dari percobaan, di mana saya dgn sekumpulan orang memejamkan mata dan mengosongkan fikiran. Kemudian saya mengimajinasikan cahaya dan objek tertentu, dan ternyata ada orang lain yg mengidentifikasinya dgn persis.

Penjelasan ini hanya sebatas pengalaman pribadi. Di luar sana masih ada pendekatan lain yg digunakan dalam praktik tenaga dalam. Kita tdk berhak menyamaratakan tenaga dalam berdasarkan satu pendekatan yg kita fahami saja.

#PersepsiCahyana

31 Juli 2022

Post Truth Dulu dan Sekarang


Oxford mendefinisikan post truth sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Seseorang dapat menyangkal fakta hanya karena tdk sejalan dgn emosi dan keyakinannya, dan terkadang berusaha menjaga superioritasnya dlm perdebatan dgn bahasa kasar dan julukan, semisal argumentum ad hominem yg menyerang pribadi (fisik) lawan bicaranya.

Saya jadi teringat bagaimana sikap masyarakat jahiliyah dulu terhadap Muhammad, seorang utusan Tuhan. Masyarakatnya menyangkal penjelasan yg masuk akal bukan karena tdk memahaminya, tetapi karena berlawanan dgn emosi dan keyakinan. Mereka membangun opini publik dgn menyematkan julukan kpd utusan tersebut, seperti orang gila, sekalipun selama ini mereka tahu kualitas baik sang utusan dari sisi keturunan ataupun perilaku hidup. Bahasa kasar mereka terekam dalam kitab suci:

Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila". (QS al-Hijr: 6)

Indikasi mereka mengalami post truth terekam dalam ayat lainnya:

Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila". Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu. (QS al-Mu'minun: 70)

Kata "benci" berkaitan dgn emosi yg karenanya mereka menolak kebenaran. Di antara kebenaran yg pernah diungkap oleh utusan Tuhan adalah fakta adanya kesalahan dlm sistem keyakinan mereka.

Mari kita lihat, bagaimana bapak agama Samawi menunjukan fakta tsb dalam cuplikan dialog dgn masyarakatnya yg terekam dlm surat al-Anbiya. Suatu ketika Ibrahim menghancurkan berhala hingga berkeping-keping, kecuali yang terbesar, agar ada yg bertanya kepadanya.

Sebagian bertanya, "Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim."

Sebagian lainnya menjawab, "Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim".

Lalu dikatakan saat itu, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan."

Kaum Nabi Ibrahim bertanya, "Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?"

Nabi Ibrahim menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepadanya, jika ia dapat berbicara."

Kaum Nabi Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri). Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara."

Nabi Ibrahim pun menjawab, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?"

Sebagaimana umumnya kalangan yg mengidap post truth, fakta yg masuk akal tsb dibungkam dgn tindakan menyakiti. Seseorang dapat menyakiti secara psikis dgn bahasa kasar sebagaimana yg dialami oleh Nabi Muhammad SAW, atau secara fisik seperti yg dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Kaum Nabi Ibrahim yang marah berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat."

Apabila saat ini kita menemukan ada netizen atau kalangan tertentu yg menolak fakta kesalahan mereka atau fakta kebenaran dgn cara melakukan serangan seperti itu, ternyata itu sudah menjadi karakter manusia jahiliyah dari masa lalu. Mereka menjadi demikian krn fanatisme yg terbangun oleh loyalitas atau kesukaan emosional, bukan krn akal yg sehat.

Sebagaimana kondisi kaum Nabi Ibrahim yg fanatik thd keyakinannya krn ikut-ikutan. Mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya." Kalau sekarang, sikap ikut-ikutan netizen yg membuat mereka menolak fakta terjadi krn pengaruh teman dekat dalam jejaringnya yg mempercayai sesuatu dgn penuh emosi.

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

28 Juli 2022

Pengaruh Pertemanan di Medsos


Apakah anda sempat mengira bila medsos dapat membaca pikiran? Kemampuan medsos belum sampai di sana, tetapi algoritma dlm medsos mengumpulkan kita dgn orang lain yg memiliki pola kiriman dgn kita, sehingga ada kalanya pikiran mereka adalah jawaban utk masalah kita, menguatkan pendapat atau perasaan kita. Hal demikian membuat lingkungan medsos menjadi tempat yg menyenangkan, sebab kita bertemu atau berinteraksi dgn orang dan konten yg digemari.

Nabi SAW pernah bersabda, "Kamu bersama orang yang kamu cintai" (HR. Bukhari). Konteks hadits tsb adalah tentang kebersamaan di akhirat. Tetapi di dunia ini, kebersamaan seperti itu terlihat di medsos. Kita cenderung berteman atau mengikuti (follow atau subscribe) siapapun yg gemar mengirimkan konten yg dicintai, bahkan meminta utk diberi tahu oleh medsos bila ada kiriman barunya. Sehingga kita setiap saat berkumpul dgn pengguna dan konten yg dicintai, dan berinteraksi walau sebatas memberi tanda ❤️ atau ๐Ÿ‘. Bahkan kita menunjukan sikap kontra terhadap konten yg menyelisihinya.

Nabi SAW juga pernah bersabda, bahwa seseorang akan terpengaruh oleh temannya. Beliau membuat perumpamaan demikian:

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikan mu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap. (HR. Bukhari).

Ada banyak cara bagi siapapun utk membangun pertemanan di medsos. Mereka yg fokus pada jumlah pengikut tdk memperhatikan baik atau buruknya akun yg mengikutinya. Media yg mendapat keuntungan dari berita kontroversi yg menimbulkan perdebatan yg ramai justru memelihara akun antagonis, termasuk akun anonim atau akun ternak milik buzzer. Tetapi kita biasanya membatasi diri dgn hanya memilih berinteraksi dgn siapa saja yg berinteraksi baik, dan cenderung menjauhi mereka yg tdk mau lepas dari interaksi buruknya. Bahkan sebagian pengguna medsos hanya berteman dgn siapa saja yg dikenal. Pemilihan teman di medsos bertujuan utk mendapatkan pengaruh yg baik dan menjaga suasana medsos yg baik.

Itulah sebab kenapa kita dapat memperkirakan pengguna medsos berada dalam lingkaran pertemanan seperti apa dari kiriman, komentar, dan cara interaksinya. Bila seseorang menggunakan materi (termasuk konten hoax) yg bertahun-tahun banyak digunakan oleh banyak orang utk menghina seseorang atau sekelompok orang, kemungkinan besar ia berteman atau berada dlm jaringan pertemanan yg sering membicarakan penghinaan tersebut dlm medsosnya. Perilaku seseorang dibentuk atau dipengaruhi oleh perilaku atau konten dalam jejaring pertemanannya, sehingga ia akan seperti yg dicintainya.

Imam al Mubarakfuri menjelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi, "Jika seseorang mencintai kalangan saleh dengan ikhlas, maka sebagaimana dinyatakan Nabi, ia termasuk golongan mereka kendati amalannya tidak seperti yang dilakukan orang-orang saleh tadi, sebab keterpautan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar bisa berbuat serupa."

Dalam konteks kecintaan di medsos, bila kita berteman dgn pengguna medsos yg saleh, di mana kesalehannya tercermin dari kirimannya yg berisi pemikiran, pengalaman, atau konten lainnya yg saleh, maka kita termasuk kalangan mereka krn terpaut hati dgn kontennya, sehingga kita tergerak utk menirunya di dunia maya ataupun nyata. 

Oleh krn nya, kiriman konten di medsos terkait amal saleh yg telah dilakukan tdk lah buruk selama tdk ada niat riya' atau ujub. Apalagi bila kiriman tsb dimaksudkan utk mempengaruhi orang lain agar berbuat sama yg mungkin akan lebih hebat dari amal yg ada. Ini adalah upaya utk memicu semangat berbuat baik.

"... Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan ..." (QS. al-Baqarah: 148)

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital