Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

26 Januari 2009

Aku Adalah Hijab Yang Diam Diantara Segala Gerakan

Aku bersaksi bahwa Alloh meliputi (menguasai segala hal dalam diri) hamba-Nya. Tidak ada yang lepas dari genggaman-Nya. Ku saksikan dengan pandangan lahirku, bahwa mahluk adalah bukan Alloh. Dan aku tak dapat mengungkapkan pandangan batinku, karena aku tidak memiliki kelayakan untuk mengemukakan pandangan tersebut.

Kekuasaan Alloh meliputi bagian terluar (lahir) ku hingga bagian terdalam (batin). Walaupun demikian, aku bukanlah Dia. Aku adalah mahluk-Nya, sebagai manifestasi perbuatan, kekuasaan, dan kemampuan-Nya. Dan Alloh adalah pemilik perbuatan, kekuasaan, dan kemampuan yang sempurna dan tak terhingga.

Pada saat aku melihat segala hal pada diriku adalah gerakan-Nya, aku tersadar, kemudian melihat bahwa selama ini diriku terhijabi. Hijaban ini telah menyebabkan aku melihat bahwa diri ini tidak digerakan oleh Alloh.

Yang terlihat dalam hijaban hanya semata wilayah terluar, yang meliputi diriku, langit dengan gugusan bintangnya, dan bumi dengan hamparan tanah dan samuderanya. Sementara wilayah terdalam, yakni batinku, dan alam Ghaib seringkali tidak tersaksikan.

Jika hijab yang menutupi ku dari wilayah terdalam dihilangkan, maka akan tampak oleh ku bahwa diri ini adalah hijab yang tidak menghijabi1, bahwa diri ini adalah sesuatu yang menyaksikan dirinya sendiri, sehingga sampailah aku kepada esensi diri ini.

Dalam penyaksian tersebut, aku melihat bahwa diri ini bukanlah sesuatu yang hilang bersama hilangnya wilayah luar ataupun dengan wilayah dalam2. Bahkan keadaan diri ini menjadi lebih nyata setelah hilangnya kedua wilayah tersebut.

Dalam penyaksian ini, aku melihat bahwa diriku adalah sesuatu yang terdiam, seumpama kain hijab yang diam karena angin tidak meniupnya. Tatkala Alloh menghendaki agar aku bergerak (sehingga kemudian bergerak), tetapi dalam penyaksian setelah hilangnya kedua wilayah tersebut, aku tidak melihat dirinya bergerak sedikitpun. Aku telah lepas dari ikatan ruang dan waktu yang ikut hilang bersama wilayah dalam dan wilayah luar. Untuk melihat gerakan dirinya, maka aku harus terikat oleh ruang dan waktu (memasuki salah satu dari kedua wilayah tersebut) yang tidak bebas (dibatasi oleh Alloh).

Kenyataan ini membuat ku merasa bahwa diri ini seakan tidak ke mana-mana (tidak bergerak). Aku hanya menyaksikan kepada citra diri yang tidak bergerak dan bukan kepada realita diri yang bergerak. Aku melihat bahwa esensi diriku bukan diri yang bergerak, tetapi diri yang tidak bergerak. Seakan-akan aku seumpama matahari yang planet-planet berputar mengelilinginya. Tubuhku, fikiran, alam semesta, serta segala sesuatu selain diriku adalah sesuatu yang bergerak disekitarku.

Setelah penyaksian tersebut, aku melihat dua hal sebagai berikut:Pertama, esensi diriku berada dalam ruang, dan tidak bersatu dengan ruang. Esensi tersebut adalah dzat ku, sementara ruang bukanlah diriku. Jika tanpa dikuasakan oleh Penguasa ruang dan waktu, maka mustahil ruang dapat menguasai ku dan aku menguasai ruang.Kedua, aku memang terikat oleh waktu, tetapi waktu bukanlah diriku dan aku bukan sang waktu.
Catatan :1 Dalam kesadaran sebagai hijab, aku yang melihat ke wilayah terdalam tidak lagi melihat diri ini sebagai hijab.2 Aku tidak lagi menyaksikan wilayah dalam atau wilayah luar, tetapi menyaksikan sesuatu yang tidak dapat dilihat lagi kecuali diriku sendiri.

Tentang Waktu dan Ikatannya

Usiaku bertambah begitu aku mengarungi detik demi detik, dan setiap helaan nafas di dunia ataupun di akhirat. Apabila aku keluar dari ruang dan menghabiskan perjalanan dalam kurun waktu yang panjang, kemudian kembali lagi, apakah akan ada perubahan bagi usiaku?.

Aku berfikir pasti orang-orang yang tidak merasakan kurun waktu panjang yang dapat dihitungitu, tidak akan menganggap sesuatu yang tidak terlihat. Mereka akan menghitung usiaku berdasarkan waktu yang mereka lihat. Sehingga waktu yang yang dihitung oleh mereka adalah waktu dari saat aku keluar dari ruang dan waktu hingga aku kembali lagi.

Apabila aku menjadi tua karena perjalanan itu, maka penuaan itu dianggap sebagai percepatan proses penuaan yang tidak dapat difahami sebabnya di dunia orang-orang yang tidak merasakan perjalanan. Apabila aku tetap muda, aku akan menjadi heran … kecuali perjalanan itu tidak menggunakan fisik, tetapi menggunakan bathin, dan waktu dalam perjalanan itu lebih cepat jika dilihat pada waktu sesungguhnya, maka aku tidak menjadi heran.

Aku melihat waktu adalah kekuatan yang tidak dapat aku tahan. Ia menggilasku, sehingga aku memiliki masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Apabila aku dapat melampaui waktu sehingga tiba di masa depan, aku tidak akan dapat menembus lebih dari batas usiaku. Rabb telah menentukan batasnya, yang mustahil aku hindari.

Aku harus menanggalkan ragaku untuk melampauinya. Terbang menuju masa depan dengan ruh, kemudian kembali ke pada raga dan hidup di masa yang sedang dijalani. Ruh yang terbang itu aku sebut harapan dan mimpi. Rabb yang akan menentukan, apakah yang dilihat olehnya akan terwujud atau tidak. Aku percaya, apa yang dilihat dan diharap oleh Mukmin pasti terjadi, tidak ada yang meleset dengan firasat Mukmin dan tak ada yang tak mungkin dengan mimpi yang benar.

Waktu menyentuhku begitu aku tercipta. Karena sebelum ruh ditiupkan dari mulut-Nya ke dalam ragaku, aku berada di alam tanpa ruang dan waktu. Waktu adalah maha karya-Nya, Rabb yang ada di segala ruang dan waktu, yang tidak terikat oleh keduanya. Hanya dengan keberadaan waktu aku bisa mengetahui bahwa Rabb Penciptaku sendiri sebelum segala sesuatunya tercipta. Dan hanya dengan waktu aku mengetahui bahwa aku tidak berdaya setelah segala sesuatu pada diriku tercipta.

Sewaktu kecil di atas kursi aku didatangi lintasan fikiran, sebelum mahluk-Nya ada maka Sang Pencipta sendiri. Sebelum Sang Pencipta ada, siapakah yang ada? Lintasan fikiran yang tidak layak ini datang untuk menguji, apakah hamba-Nya bisa mengenali Ketuhanan Alloh.

Pertanyaan tidak perlu dijawab karena aku sudah tahu bahwa tidak ada siapapun sebelum Sang Pencipta, karena Dia tidak diciptakan. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Rabbku tidak diciptakan sebagaimana mahluk diciptakan. Aku seperti orang yang menutupi benda miliknya, kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, “Apakah benda yang ditutupi itu?”

Kalimat “Sebelum Sang Pencipta ada” mengindikasikan bahwa lintasan itu sedang mengatakan bahwa Rabbku terbelenggu oleh waktu yang diciptakan-Nya sendiri, dan itu mustahil. Alloh lah pengendali waktu, dan waktu tidak mengendalikan-Nya. Alloh Yang Awal dan Yang Akhir. Alloh ada selamanya, dengan atau tanpa waktu ciptaan-Nya. Pada saat waktu belum tercipta, maka kata “Sebelum” dalam pertanyaan tersebut adalah sesuatu yang aneh.

Waktu tidak mengikat Alloh, sehingga tidak layak jika dikatakan waktu telah dahulu ada sebelum Alloh ada. Jika waktu ada sebelum Alloh ada, maka ada yang menciptakan Alloh, karena tidak mungkin Alloh tiba-tiba begitu saja ada. Lalu siapakah yang menciptakan waktu? Atau waktu yang menciptakan Alloh? Atau yang menciptakan Alloh adalah yang menciptakan waktu. Lintasan fikiran ini berusaha mengecohkan diriku sehingga kemudian aku berfikir bahwa Alloh yang ku sembah adalah bukan Rabb Pencipta yang tidak pernah diciptakan.

Alloh yang menciptakanku adalah Rabb yang pernah sendiri tanpa ciptaan-Nya, tanpa waktu yang diciptakan-Nya, tanpa pena-Nya yang menuliskan istilah awal dan akhir. Dialah pencipta segala sesuatu, dan selain segala sesuatu yang diciptakan-Nya adalah Dia saja. Tidak ada selain Dia sebelum segala ciptaan-Nya diciptakan. Dialah Rabb Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak beranak dan dipernakan. Tidak akan pernah ada satupun yang menandingi -Nya.

Sesungguhnya waktu dicipta untuk mahluk yang Dia ciptakan. Waktu tidak memberi kemanfaatan kecuali kepada mahluk-Nya. Rabbku dapat ada tanpa waktu yang diciptakan-Nya. Setelah waktu diciptakan, dan setelah Rabb dikenal sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, Dia tetap ada tanpa terikat waktu. Dan sebagaimana keberadaan-Nya yang tersaksikan pada ciptaan-Nya, Rabb pun hadir di segala waktu. Hal itu tidak mustahil, bagi Dia yang menguasai waktu. Demi masa, sesungguhnya mahluk itu terikat waktu, dan Alloh lah penguasa waktu, yang mengulur dan mempersingkat waktu.

Alloh Sebelum Segala Sesuatunya Ada

Apakah Alloh merasa kesepian sehingga kemudian Dia menciptakan mahluk?. Tentu saja tidak, karena Dia tidak bergantung, tidak lemah, dan tidak ditaklukan oleh mahluk-Nya yang bernama kesepian. Bagaimana Alloh bergantung kepada sesuatu, padahal tidak ada siapapun atau apapun yang menjadi tempat bergantung Alloh. Alloh tempat bergantung hamba-Nya, dan Alloh tidak bergantung kecuali kepada diri-Nya sendiri.

Tak ada yang mendorong untuk menciptakan mahluk, kecuali diri-Nya sendiri. Jika Nur Muhammad yang menjadi alasan Alloh menciptakan mahluk, maka alasan itu tidak datang dari selain diri-Nya. Dia tidak bersekutu dalam menciptakan Nur Muhammad, dan Dia tidak lemah sehingga perlu didorong untuk berkehendak dan menciptakan Nur Muhammad.

Jika Alloh berkehendak untuk menciptakan mahluk, bukan berarti Dia membutuhkan kehadiran mahluk. Jika dengan keberadaan mahluk kemudian Alloh menjadi satu-satunya yang disembah, tidak berarti Alloh butuh untuk disembah, disucikan, dan diagungkan. Keberadaan mahluk tidak menambah kemasalahan sedikit pun bagi diri-Nya, tidak bertambah ataupun berkurang. Tidak pula kemudian penciptaan-Nya adalah sia-sia, karena ada kemaslahatan dalam penciptaan. Bukan bagi diri-Nya, tetapi bagi mahluk-mahluk-Nya.

Jika Alloh hendak menunjukkan kesempurnaan penciptaan-Nya, maka pertunjukan itu untuk dilihat oleh mahluk-Nya, sehingga bertambah atau berkuranglah kedekatan mahluk-Nya. Maka maha Suci Alloh yang menciptakan tanpa rasa butuh, yang menciptakan dengan kemaslahatan yang tidak sia-sia bagi mahluk-Nya. Sungguh tidak ada pengaruh bagi-Nya, apakah mahluk diciptakan-Nya atau tidak.

Menggunakan Caldea dan Evamecal untuk Mengukur dan Meningkatkan Level Kualitas Data dan Informasi bagian 2

Sambungan dari bagian sebelumnya ...

Maturity Level Kualitas Data dan Informasi, Source : Idea group ( 2007 )


Rumus untuk menghitung ML-IQV

Ekivalensi dari rentang nilai untuk IQV dan state terkait

EVAMECAL
Definisi dari EVAMECAL merupakan gabungan dari PDCA Deming dengan metodologi assessment data perbaikan kualitas data dan informasi Ballou and Tayi (1999) dan terdiri dari 4 phase.

1. EVAMECAL-PLAN (EMC-P)
EMP-P.1. Penilaian kondisi saat ini terhadap data dan kualitas informasi IMP. Tahapan ini terbagi dalam dua langkah, yaitu :
EMC-P.1.1. Penilaian data dan tingkat kematangan manajemen kualitas dari IMP dengan menggunakan seperangkat kuesioner.
EMP-P.1.2. Penghitungan nilai kualitas informasi (IQV = information quality values) untuk komponen IMP dengan mengukur dimensi kualitas informasi.
EMP-P.2. Mendefinisikan Tujuan perbaikan

EVAMECAL-DO (EMC-D)
EMP-D.1. Analisia penyebab potensial dan rencana perbaikan. Tahapan ini Terbagi dalam dua langkah, yaitu :
EMC-D.1.1. Analisa dan pemahaman permasalahan untuk memeriksa komponen yang dapat menimbulkan masalah dengan menggunakan beberapa uji.
EMP-D.1.2. Analisa untuk menemukan penyebab masalah yang sebenarnya.
EMC-D.1.3. Rencana perbaikan dengan tujuan yang jelas.
EMP-D.2. Pelaksanaan rencana perbaikan .

EVAMECAL-CHECK (EMC-C)
EMP-C.1. Memeriksa efisiensi rencana perbaikan. Untuk validasi secara empiris dari rencana untuk sukses melalui serangkaian uji yang dilakukan. Mengukur ulang tingkat kematangan dan memeriksa apakah tujuan kualitas informasi telah tercapai.

EVAMECAL-ACT (EMC-A)
EMP-A.1. Memperoleh kesimpulan. Kesimpulan diperoleh dengan membandingkan kondisi sesudah perbaikan dengan permasalahan dan kondisi awalnya. Kesimpulan ini bisa dijadikan dasar untuk menghindari permasalah di masa depan dan menjadi suatu pemecahan untuk masalah yang sama.
EMP-A.2. Standarisasi yang telah dipelajari untuk menghindari permasalahan masa datang. Knowledge yang diperoleh berdasarkan pengalaman harus di standardisasikan oleh Team standardisasi untuk menghindari masalah yang sama dan memperoleh hasil yang lebih baik.

REFERENSI
  1. Huang, K. T., Lee, Y., & Wang, R. (1999). Quality information and knowledge. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
  2. Ismael Caballero, M Piattini (2007). Assessment and Improvement of Data and Information Quality, Idea Group.
  3. Price, R., & Shanks, G. (2005). A semiotic information quality framework: Development and comparative analysis. Journal of Information Technology, 20(2), 88-102.

Menggunakan Caldea dan Evamecal untuk Mengukur dan Meningkatkan Level Kualitas Data dan Informasi bagian 1

Suatu Enterprise sangat membutuhkan data dan informasi yang berkualitas dalam melaksanan kegiatan-kegiatannya. Karena informasi merupakan hasil pemrosesan data-data, dan data-data merupakan hasil pencarian, pengumpulan obyek yang dibutuhkan, maka untuk menjaga Data and Information Quality (DIQ) diperlukan suatu Information Management Process (IMP).

Salah satu cara untuk mengukur maturity kualitas data dan informasi suatu enterprise adalah menggunakan CALDEA dan EVAMECAL.

CALDEA = CALlidad DE Almacenes de datos, adalah model dari suatu proses manajemen data dan informasi

EVAMECAL = EVAluación y MEjora de la gestión de la CALalidad de los datos, adalah suatu metodologi yang berisi mekanisme untuk melakukan assessment dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan IMP untuk perbaikan yang merujuk kepada CALDEA.

CALDEA

CALDEA mendefinisikan level kematangan/maturity manajemen kualitas informasi untuk IMP yang terdiri dari 5 level, yaitu :

1. Initial level. Merupakan level permulaan jika tidak ada usaha untuk mencapai informasi yang berkualitas.

2. Definition level. Level ini tercapai jika IMP sudah didefinisikan dan direncanakan. Untuk mencapai level ini KPA (key process areas) yang harus dipenuhi adalah :
  • Information quality management team management (IQMTM). Manajemen kualitas Data dan informasi memerlukan orang yang bertanggungjawab langsung untuk itu dan untuk mendukung integritas semua aktifitas yang harus dilakukan. Orang-orang ini harus bekerja sesuai dengan ide dan tren organisasi dan harus mendukung organisasi secara keseluruhan untuk menunjukkan komitmen terhadap kebijakan kualitas informasi (Ballou & Tayi, 1999) dengan cara menghubungkan usaha dalam mendukung aktifitas dari model kematangan. Diantara kemampuan yang dimiliki haruslah termasuk di dalamnya kemampuan mengelola kualitas data dan informasi. Redman (2001) mengemukakan bahwa kebutuhan untuk manajer ke atas adalah untuk memimpin inisiatif atas kualitas data dan informasi. Ini berakibat pemilihan orang untuk mengelola kualitas data dan informasi melalui IMP dan aktifitas pendukung yang berhubungan dengannya seperti stadarisasi dan pengukuran. Teknik atau tools yang berhubungan dengan manajemen sumber daya manusia dapat digunakan.
  • IMP project management (IPM). Tujuan utama dari KPA ini adalah untuk membuat rencana untuk mengkoordinasikan usaha dan menghasilkan dokumen yang menggambarkan secara jelas agenda dari aktifitas dan anggaran untuk mengoptimalkan IMP. Dokumen ini bisa dibuat dengan mengikuti IEEE 1058.1 (IEEE, 1987), sebagai contoh diantara aktifitas yang telah direncanakan berikut harus dilakukan: manajemen kebutuhan data dan informasi, analisis terhadap kebutuhan, desain solusi untuk memenuhinya, implementasi proses berdasarkan desain sebelumnya dan pengetesan dari proses yang diimplementasikan. Teknik-teknik atau tools untuk pengembangan proyek bisa digunakan misalny PERT atau CPM.
  • User requirement management (URM). Kebutuhan user harus dikumpulkan dan didokumentasikan. Tiga macam kebutuhan harus diidentifikasi (Wang, Kon, & Madnick,1993): 1) Yang berhubungan dengan produk akhir (URS), 2) Yang berhubungan dengan IMP-yang harus dikumpulkan dalam User Requirement Specification untuk IMP document (URSIMP) , Dan 3) Yang berhubungan dengan kualitas informasi-yang harus dikumpulkan dalam information quality user requirements specification (URS-IQ). Kebutuhan-kebutuhan ini adalah langkah awal untuk pemodelan IMP, database atau data warehouse dan prosedur lainnya. Beberapa tools dan teknik bisa membantu pengembang untuk mendapatkan setiap dokumen seperti IEEE 830 (IEEE, 1998). Ada beberapa teknik grafis untuk permasalahan ini seperti: 1) untuk IMP • IP-MAP, oleh Shankaranarayanan, Wang, dan Ziad (2000); 2) untuk database atau data warehouse dan masalah kualitas data, adalah model extended entityrelationship yang dikenalkan oleh Wang, Ziad, dan Lee (2001).
  • Data sources and data targets management (DSTM). Berdasarkan karakteristik intrinsik tertentu dari data, penting untuk mengenali dan mendokumenkan sumber data sebaik mungkin sebagai target data dari URS-IMP dalam rangka menghindari masalah seperti redudansi data yang tidak terkendali atau masalah dengan pergantian format data (Loshin, 2001). Ballou et al.(1998) dan Hinrichs dan Aden (2001) mendiskusikan masalah ini dan menyarankan beberapa cara memperlakukan informasi dari beberapa sumber. Dalam lingkungan data warehouse , tools dan teknik seperti ETL harus digunakan dalam rangka menyeragamkan penulisan dan format data yang masuk (English, 1999).
  • Database or data warehouse acquistion, development or maintenance project management (AIMPM). Data mentah harus dikumpulkan dan disimpan dalam database atau data warehouse yang sesuai. Dengan tujuan untuk memastikan kualitas informasi, direkomendasikan sekali untuk mengeluarkan proyek untuk akuisisi, pengembangan atau pemeliharaan dari sebuah system manajemen database atau data warehouse bisa mendukung baik URS-IQ maupun URSIMP. KPA ini juga termasuk sub aktifitas kecil lain seperti jaminan kualitas data (Jarke & Vassiliou, 1997), manajemen konfigurasi, manajemen pemeliharaan atau manajemen pemilihan solusi komersial.
  • Information quality management in IMP components (DIQM). Penggunaan metric untuk mengukur efisiensi IMP dapat membantu meningkatkannya. Oleh karenanya penting untuk mengetahui dari URS-IQ dimensi dari kualitas informasi (sama dengan pada ISO 9126 (ISO, 2001) yang ditujukan untuk perangkat lunak) untuk setiap komponen kualitas informasi harus dikontrol (Hoxmaier, 2001; Huang et al., 1999), sama baiknya dengan metric yang diadaptasi dari tiap dimensi yang ada (Eppler, 2003; Kahn, Strong, & Wang, 2002; Pipino et al., 2002). Deskripsi dimensi kualitas data dan diskusi tentang apa yang paling penting bisa ditemukan pada pekerjaan mayoritas dari konsultan. Dengan tujuan untuk membuat proposal seuniversal mungkin, harus tidak ada dimensi, ini tidak mungkin (karena Pipino et al., 2002) mengingat fakta bahwa data dan kualitas informasi tergantung langsung ada masalah data/informasi. Bagaimanapun sebagai panduan, adaptasi dimensi kualitas informasi standar yang dikenalkan oleh Strong et al. (1997), direkome ndasikan pada manajer kualitas informasi yang bertanggungjawab mencari satu yang terbaik untuk menyelesaikan masalah mereka. Untuk membantu mereka, metodologi generik bisa digunakan seperti IEEE 1061 (IEEE, 1992) atau GQM, oleh van Soligen dan Berghout (1999). Bahkan penulis seperti Loshin (2001) telah memperkenalkan data lebih spesifik dan framework pengukuran kualitas informasi dengan beberapa masalah spesifik kualitas data untuk diukur: kualitas data dari model data, kualitas data dari nilai data, kualitas data dari representasi data atau kualitas data dari kebijakan informasi. Di sisi lain, penulis lan seperti Ballou dan Tayi (1999), Bouzeghoub dan Kedad (2000), atau Calero dan Piattini (2002) telah memperkenalkan metric untuk pengukuran masalah komponen spesifik dari IMP. Satu aspek pengukuran adalah kebutuhan untuk mengotomatiskan pengukuran seperti yang diinginkan Hinrichs (2000)
3. Integration level. IMP harus memenuhi persyaratan, standar dan kebijakan kualitas informasi suatu organisasi dan sudah tercapainya definition level. KPA yang harus dipenuhi adalah :
  • Information products and IMP components validation and verivication (VV). Informasi produk dan komponen IMP harus diverifikasi dan divalidasi untuk mengoreksi kekeurangan dan pertentangan antara USR-IMP, USR-IQ, dan kebijakan kualitas informasi. Teknik yang dapat digunakan bisa jadi software inspections (Fagan, 1976; Gilb & Graham, 1993) namun diadaptasikan ke masalah kualitas informasi. Metodologi yang lebih spesifik, yang bisa digunakan adalah data testing yang diperkenalkan oleh Kiszkurno dan Yankelevich (2001), diperluas ke IMP, karena model data data testing terbatas ke data tersimpan dalam system informasi. Untuk mengkoordinasikan. Usaha, rencana untuk mendesain dan dan penggambaran contohnya IEEE 1012 (IEEE, 1986).
  • Risk and poor information quality impact management (RM). Penting untuk menentukan dampak resiko terhadap kurangnya kualitas informasi dalam IMP untuk membatasinya pda level organisasi (English, 1999). Getto (2002) mengenalkan metodologi yang bisa diadatasi ke masalah kualitas informasi untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan semua resiko.
  • Information quality standardization management (IQSM). melalui pengalaman tertentu harus dikumpulkan dengan baik, didokumentasikan dan dikirimkan ke penyimpanan knowledge organisasi. Sebagai contoh standarisasi bisa jadi enamproses dari TQdM (English, 2002, hal. 86), yang mencari penyelesaian permasalahan “denganmengintegrasikan kepercayaan manajemen kualitas, prinsip dan metode ke budaya dari enterprise.” Hanya dengan mengincorporasi data terbaru dan pengalaman manajemen kualitas informasi,performansi IMP akan lebih baik dibandingkan kebalikannya.
  • Organizational information quality policies management (OIQPM). Sebuah cara untuk mengimplementasikan seleurug usaha yang sebelumnya disebutkan terdiri dari penentuan kebijakan kualitas informasi berdasaran standr yang ditetapkan sebelumny mempengaruhi bukan hanya satu IMP, tapi juga keseluruhan organisasi. Tim manajemen kualitas informasi harus bekerja pada data dan kebijakan kualita informasi, yang mencerminkan budaya organisasi. Loshin (2001) menghadirkan elemen dimana desain kebijakan data/informasi berada. Oranisasi dapat dikatakan memiliki budaya kualitas informasi saat semua prosesnya baik yang terkait dengan informasi atau manajemen kualitas informasinya ambil bagian pada masalah kualitas jumlah data dalam rangka untuk memperbaikinya.
4. Quantitative management level. IMP dikatakan berada pada level manajemen kuantitatif atau termanajemen kuantitatif bila terintegrasi (level integrasi sudah tercapai), beberapa rencana pengukuran sudah dikembangkan dan diimplementasikan dan prosedur pengukuran sudah diotomatiskan. Berarti, tujuan utama kualitas informasi dari level ini adalah untuk menentukan pelaksanaan kuantitatif otomatis yang ditunjukan IMP melalui periode waktu yang dapat diterima dan konsisten terhadap variasi dan stabilitas untuk pengukuran yang handal (Florac & Carlenton, 2002) dimensi kualitas informasidari IMP. Level ini ditentukan dari KPA berikut:
  • IMP measurement management (MM). Tujuan KPA ini aalah untuk mendapatkan beberapa metric yang harus digunakan untuk memeriksa kesesuaian dengan spesifikasi (Grimmer & Hinrichs, 2001; Loshin, 2001). Seperti penyataan Meredith (2002), rencana untuk perangkat lunak pengukuran kualitas dimulai dengan keputusan untuk melakukan pengukuran. Ini berakibat pemilihan “what,” “when,” dan “how” untuk mengukur dan bagaimana merepresentasikan pengukuran ini dan kepada siapa pengukuran ini ditujukan.
  • IMP measurement plan automation management (AMP). Dalam rangka unntuk meningkatkan reliabilitas dan repeatabilitas pengukuran, maka prosedur pengukuran dan algoritma (ditentukan pada MM KPA) harus diotomatiskan seperti yang disarankan oleh Hinrichs (2000). Tujuan KPA ini untuk mempelajari seluruh hal yang berhubungan dengan otomatisasi semua prosedur manajemen.
5. Optimizing level. IMP berada di level ini jika hasil yang tercapai digunakan untuk mengembangkan continuous improvement dengan cara menghilangkan kesalahan/cacat atau dengan cara perbaikan. KPA yang harus dipenuhi :
  • Causal analysis for defects prevention management (CADPM). Dari studi hasil pengukuran, beberapa teknik kualitas dan tools seperti statistical control process (SPC) dapat diaplikasikan untuk mendeteksi kelemahan atau kekurangan kualitas informasi dan mengidentifikasi akar penyebab permasalahannya. Kesimpulan yang didapat harus menyediakan dasar untuk proses pemeliharaan yang berhubungan satu sama lain untuk me nghilangkan kelemahan yang terdeteksi di sumber daya yang terpengaruh. Smith and Heights (2002) menawarkan framework untuk pencegahan kelemahan.
  • Innovation and organizational development management (IODM). Tahap ini adalah konsep dasar untuk perbaikan terus menerus. Mirip dengan KPA sebelumnya, disini hasilnya bisa untuk meningkatkan IMP dalam artian performansi yang lebih tinggi., waktu perencanaan lebih efisien atau anggaran yang rendah. Pelajaran yang ada dalam IMP harus menyediakan pondasi bukan hanya untuk mencegah kekurangan, tapi juga untuk perbaikan terus-menerus.
State yang mungkin untuk setiap item
  • Maturity level : {“Achieved”, “Not Achieved”}
  • KPA : {“Fully Satisfied”, “Satisfied”, “Partially Satisfied”, “Not Satisfied”}
  • Activity in each KPA : {“Fully Executed”, “Executed”, “Partially Executed”, “Not Executed”}
  • Component : {“Fully Optimized”, “Optimized”, “Partially Optimized”, “Not Optimized”}

Pemetaan Produk Informasi

Informasi kini menjadi aset yang sangat berharga bagi organisasi (Huang, Lee, & Wang, 1999), di mana pengambilan keputusan dan operasi efektif sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan informasi (Price & Shanks, 2005). Bahkan kualitas data dan informasi menentukan kepuasan customer dan keuntungan perusahaan. Misalnya dalam proses bisnis pencatatan kehadiran dan penggajian Dosen, kualitas data dan informasi merupakan jaminan kepuasan Dosen dan Biro Keuangan. Data dan informasi yang tidak berkualitas akan menyebabkan kerugian baik dari pihak Dosen ataupun Biro Keuangan.

Agar informasi dapat menjadi suatu aset atau produk yang baik, maka suatu organisasi harus mempunyai prinsip :
  • Memahami kebutuhan terhadap informasi
  • Mengelola informasi sebagai produk dari suatu proses produksi yang didefinisikan dengan baik.
  • Mengelola informasi sebagai produk dengan siklus hidup.
  • Menugaskan seorang manajer produk informasi untuk mengelola produk informasi.
Untuk menyajikan pembuatan produk informasi secara sistematis dan proses-proses yang terkait, maka digunakan Information Product – Maps atau biasa disingkat IP-Maps. Information production map (IP-Map) adalah model grafis yang dirancang sebagai alat bantu untuk memahami, mengevaluasi dan menggambarkan tentang produk informasi dirakit (Shankaranarayanan, Wang, & Ziad, 2000). Pembuatan IP-Map adalah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
  • Memilih Produk Informasi yang akan dipetakan
  • Identifikasi kolektor data, pemelihara data, dan konsumen data.
  • Menggambarkan aliran data
  • Identifikasi peran-peran fungsional

REFERENSI
Elizabet M. Pierce (2007). Integrating IP-Map with Business Process Modeling, Idea Group.

18 Januari 2009

Catatanku tentang Israel

Aku melihat dalam perang ini Israel adalah:
  1. Negara yang dilindungi oleh Amerika Serikat, sehingga di saat semua anggota Dewan Keamanan PBB mengecam Israel, Amerika melindunginya.(http://www.tempo.co.id/hg/timteng/2009/01/09/brk,20090109-154482,id.html)

  2. Negara yang menyerang kepentingan Perserikatan Bangsa Bangsa (menyerang gudang bantuan kemanusiaan, sekolah, dan kendaraan PBB). (http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/16/07252772/Gudang.PBB.Hancur.Dihantam.Bom.Fosfor.Israel)

  3. Negara yang membunuh orang hidup dari anak-anak hingga wanita tua, bahkan orang yang sudah mati pun (makamnya) dibom oleh Israel. http://www.eramuslim.com/berita/palestina/bom-israel-mengintai-anak-anak-gaza.htm

  4. Negara yang ditentang Amerika karena memiliki senjata kimia (bom fosfor) dan menggunakannya dalam pertempuran di Palestina, tetapi Amerika tidak menentangnya atau bahkan menyerangnya sebagaimana terhadap Irak. http://www.inilah.com/berita/politik/2009/01/14/75889/inilah-bukti-israel-pakai-fosfor-putih/

  5. Negara yang menyerang kemanusiaan dengan memblokade bantuan kemanusiaan, bahkan menyerang (seperti rumah sakit dan ambulan), dan tak segan-segan membunuh petugas kemanusiaan. http://www.antara.co.id/arc/2009/1/15/israel-usir-kapal-siprus-pembawa-bantuan-kemanusiaan/

Kesimpulannya:
  • ISRAEL MUSUH BANGSA PALESTINA BAIK YANG HIDUP MAUPUN YANG MATI

  • ISRAEL MUSUH AMERIKA

  • ISRAEL MUSUH BANGSA-BANGSA DI DUNIA

  • ISRAEL MUSUH KEMANUSIAAN
Tapi tentara Israel hanya menjalankan kewajiban agama mereka:
Yosua 6:21 “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun PEREMPUAN, baik TUA maupun MUDA, sampai kepada LEMBU, DOMBA, dan KELEDAI”

Ulangan 20:16 “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, JANGANLAH KAU BIARKAN HIDUP APAPUN YANG BERNAFAS”

Samuel 15:3 “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan padanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun PEREMPUAN, KANAK-KANAK MAUPUN ANAK-ANAK YANG MENYUSU, LEMBU maupun DOMBA, UNTA maupun KELEDAI”

Penjahat perang yang berbangga dengan darah ribuan mayat palestina di tangannya.

Wajar jika Cyber Mujahidin melakukan serangannya ke situs internet!

09 Januari 2009

Memperbaharui Enterprise Architecture dengan Pemeliharan, Pengawasan, dan Pengaturan


Diterjemahkan dari Enterprise Architecture and New Generation of Information System, Dimitris N. Chorafas. ST Lucie Press. 2002.

1. Pemeliharaan

Pemeliharaan EA harus dipenuhi dalam struktur pelaksanaan peraturan dan mekanisme kendali konfiguasi perusahaan. Pemeliharaan EA adalah tangung jawab Chief Information Officer (CIO), Chief Architec (CA), dan Enterprise Architecture Program Management Office (EAPMO). Tim inti arsitektur secara periodik menilai dan menyelaraskan EA dengan perubahan praktik bisnis dan menerapkan teknologi. EA harus tetap diselaraskan dengan proyek modernisasi organisasi dan begitupula sebaliknya.

1.1. Memelihara EA Dalam Rangka Meningkatkan Perusahaan

Jika EA tidak sesuai dengan kondisi terkini, maka ia akan segera menjadi sesuatu yang tidak berguna, padahal ia dibuat untuk meningkatkan perusahaan dari kondisi terkini. Jika kondisinya seperti itu perusahaan akan terbatasi kemampuannya dalam mencapai tujuan dan misinya. EA mengharuskan organisasi spesifik dan struktur proses yang menjamin muatan EA terkini berlaku sepanjang waktu. EA harus merefleksikan pengaruh dari perubahan berkelanjutan dalam fungsi bisnis dan teknologi pada perusahaan, dan dalam peralihan, mendukung perencanaan modal dan manajemen investasi dalam rangka memelihara dari perubahan tersebut. Konsekuensinya, setiap komponen dari EA – baseline architecture, target architecture, sequencing plan, dan semua produk yang membuatnya – harus dipeliharan, tetap akurat, dan terkini.

1.1.1. Menilai ulang EA Secara Periodik

Secara berkelanjutan, khususnya dalam hubunganya dengan CPIC, EA harus ditinjau ulang dan dipastikan:
  • Baseline architecture secara akurat harus dapat merefleksikan status infrastruktur TI terkini .
  • Target architecture secara akurat harus dapat merefleksikan visi bisnis perusahaan dan teknologi yang sesuai.
  • Sequencing Plan merefleksikan prioritas perusahaan yang berlaku dan sumber daya yang secara nyata tersedia.
    Penilaian harus menghasilkan pembaharuan terhadap EA dan perubahan sesuai dengan
proyek terkait. Baseline harus terus merefleksikan aksi yang diambil untuk menerapkan sequencing plan dan aksi sebaliknya yang dilakukan untuk memperbaharui lingkungan yang ada sebagai bentuk modernisasi organisasi. Penilaian EA dan pembaharuannya harus dikelola dan dijadwalkan.

1.1.2. Mengelola Produk untuk Merefleksikan Realitas

Agensi adalah entitas bisnis yang harus memperhatikan pendorong bisnis (termasuk aturan baru dan arahan eksekutif), memunculkan teknologi, dan kesempatan untuk perbaikan. EA merefleksikan perubahan dari Agensi, dan harus senantiasa merefleksikan kondisi terkini (baseline architecture), kondisi yang diharapkan (target architecture), serta strategi jangka panjang dan pendek untuk mengelola perubahan (sequencing plan).
Berikut ini adalah point penting dalam pemeliharaan EA:
  1. Pastikan selalu arah bisnis dan proses harus merefleksikan operasi.
  2. Pastikan agar arsitektur terkini merefleksikan perubahan sistem
  3. Evaluasi kebutuhan pemeliharan sistem pada sequencing plan
  4. Pemeliharaan sequencing plan sebagai perencanaan program yang terintegrasi
  5. Lanjutkan untuk mempertimbangkan proposal untuk modifikasi EA
Proposal tesebut harus dipresentasikan dan ditinjau oleh Technical Resource Connection (TRC) (untuk peninjauan dilakukan oleh tim arsitekural dan Subject Matter Experts (SME)) dan diluluskan ke Enterprise Architecture Executive Steering Committee (EAESC) melalui rekomendasi. Apabila EAESC tidak mencapai konsensus, kelompok kerja akan ditugaskan untuk melakukan investigasi dan mengajukan rekomendasi tindakan.

2. Pengawasan Dan Pengaturan Program EA Secara Berkelanjutan

Tujuan dari pengawasan dan pengaturan EA adalah untuk memastikan bahwa praktik pengembangan EA, penerapan, dan diikutinya praktik pemeliharaannya yang didefinisikan dalam panduan praktis dan panduan EA terkait yang dirujuk oleh panduan ini (misalnya framework EA), dan untuk membantu pada situasi apapun dan bagaimanapun. Pengawasan dan pengaturan dilaksanakan secara berkelanjutan, fungsi terus menerus dilakukan melalui proses daur hidup EA. 

Pengawasan dan pengaturan adalah kunci yang menjamin kesuksesan program EA. Melaluinya, informasi dikumpulkan bagi para pengambil keputusan akuntabel untuk mengetahui apakah EA yang efektif telah dikembangkan, diterapkan, dan aktivitas pemeliharaan sudah dilaksanakan dan tujuan program EA telah dicapai sesuai dengan jadwal dan anggaran. EAESC, CIO, dan CA harus teliti dalam memastikan dan memvalidasi bahwa proses EA dan standar produk telah didefinisikan, dan referensi dalam panduan ini sedang dikerjakan. 

2.1. Memastikan Pengawasan Manajemen Program EA Berfungsi 

Pengawasan diterapkan untuk menjaga agar program senantiasa berada dalam relnya. Dengan melakukannya, EAESC, CIO, dan CA akan mendapatkan laporan (berupa perkataan atau tulisan, rutin dan ad hoc, formal dan informal) dan melakukan peninjauan untuk melihat apa yang terjadi dalam program dan apa yang diharapkan. Adalah tanggung jawab dari entias yang akuntabel untuk mendefinisikan kebutuhan informasi mereka, kapan seringnya dan bagaimana mereka memerlukannya, dalam bentuk dan muatan apa informanya, apakah harus divalidasi dulu atau tidak, dan lain sebagainya. Melalui informasi, EAESC, CIO, dan CA dapat memposisikan dirinya apakah pengawasan dan pengaturan telah sudah berada di tempatnya dan berfungsi dengan baik atau belum? 

2.2. Mengidentifikasi Program EA Yang Diharapkan Yang Tidak Ditemukan 

Melalui laporan dan tinjuan aktivitas, EAESC, CIO, dan CA akan dapat mengidentifikasi program EA yang diharapkan yang tidak dtemukan. Sebagai contoh, jika manajemen resiko telah efektif diterapkan, maka daftar resiko program secara regular dibuat, strategi mitigasi resiko didefinisikan, laporan dibuat dalam menerapkan strateg tersebut, dan apakah perkembangan yang sedang terjadi berhasil menunjukan item resiko. Juga audit konfigurasi secara periodik harus dilaksanakan untuk memastikan item konfigurasi EA telah didefinisikan, diawasi, dan dilaporkan. EAESC, CIO, dan CA dapat juga mempercayakan peninjauan independen kepada fungsi jaminan kualitas atau agen verivikasi dan validasi untuk memberi penjelasan deviasi dari ekspektasi. 

Deviasi tersebut mungkin terkait dengan rencana pengelolaan program, seperti penghilangan tugas pekerjaan, delay dalam menyelesaikan tugas pekerjaan, atau biaya tambahan untuk menyelesaikan tugas pekerjaan; atau mungkin terkait dengan funsi pengelolaan, seperti tidak mengikuti prosedur kendali perubahan, tidak bertahan pada framework EA yang dipilih, atau tidak melibatkan SME dan pemilik domain dalam area bisnis dan teknis.

2.3. Mengambil Tindakan Yang Tepat Bagi Deviasi 

Manajemen harus segera mengambil dan menentukan tindakan untuk memperbaiki masalah berdasarkan prioritas. Contoh tindakan misalnya memasukan sumber daya tambahan (orang, alat, uang), membuat rencana tidak terduga, dan mendefinisikan tujuan dan lingkup EA, memperkenalkan mekanisme kontrol eksis yang hilang atau menguat dan peningkatan kesalahan.
Setiap perubahan rencana, proyek, dan / atau muatan arsitektur untuk menentukan deviasi harus dijustifiasi dalam basis biaya, keuntungan dan resiko. Dokumen perubahan harus menandai masalah, solusi, serta alternatif yang diambil dan yang ditolak karena pertimbangan prioritas.

2.4 Memastikan Peningkatan Yang Berkelanjutan

Kunci factor sukses bagi Enterprise Architecting:
  • Proses EA harus sebagai kunci elemen pendukung dar operasi agensi, dan harus membantu fungsi operasi dalam performa misinya yang difokuskan kepada pelanggan.
    Keberhasilan Enterprise Architecting tidak hanya bergantung kepada fungsi organisasi TI, tetapi juga kepada partisipasi perusahaan yang total.
  • Enterprise Architecting yang efektif memerlukan jaringan social, yakni komunikasi internal dan eksternal dan berbagi pelajaran yang dipelajari.

04 Januari 2009

Enterprise Architecture dan peningkatan performa TI

Definisi Enterprise Architecture (EA)

Definisi EA menurut MIT Center for Information Systems Research: “Enterprise Architecture is the organizing logic for business processes and IT infrastructure reflecting the integration and standardization requirements of the firm’s operating model”.[MIT. 2007]

Sementara menurut Federal CIO Council [CIO, 2001]:

A strategic information asset base, which defines the mission, the information necessary to perform the mission and the technologies necessary to perform the mission, and the transitional processes for implementing new technologies in response to the changing mission needs. An enterprise architecture includes a baseline architecture, target architecture, and a sequencing plan.

Menurut John Zachman: “The set of primitive, descriptive artifacts that constitute the knowledge infrastructure of the enterprise.” [CIO, 2001]

Seringkali praktek bisnis EA muncul untuk membuat struktur system eksplisit dalam abstrak deskripsi arsitektur. Para praktsi menyebutnya sebagai “enterprise architects." Dalam praktik “enterprise architects.", dihasilkan dokumen dan model yang keduanya kemudian disebut artifak. Artifak menjelaskan organisasi logika dari strategi bisnis, metric, kemampuan bisnis, proses bisnis, sumber data informasi, sistem bisnis, infrastruktur jaringan dalam perusahaan.

EA menggunakan berbagai metode bisnis dan alat untuk memahami dan mendokumentasikan stuktu perusahaan. Framework EA adalah koleksi peralatan, model proses, dan panduan yang digunakan oleh arsitek dalam membuat deskripsi arsitektural organisasi secara spesifik.

Kebanyakan framework EA diturunkan dalam praktik pengembangan artifak ke dalam empat area praktik. Ini memungkinkan perusahaan untuk menjelaskan dari empat sudut pandang yang penting. Dengan pendekatan ini, arsitek perusahaan dapat meyakinkan business stakeholder mereka bahwa mereka memiliki ketersediaan informasi yang cukup untuk membuat kebijakan efektif.


Keuntungan dan Kegunaan

EA dapat [CIO, 2007]:
  • Menangkap fakta tentang misi, fungsi, dan landasan bisnis dalam bentuk yang difahami untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan yang baik.
  • Memperbaiki komunikasi di antara organisasi TI dan bisnis dalam perusahaan menggunakan kosa kata standar.
  • Memberikan pandangan arsitektural yang membantu mengkomunikasikan kompleksitas sistem besar dan memfasiltasi manjemen luas dengan lingkungan kompleks.
  • Fokus pada penggunaan strategi dari tekologi yang muncul untuk pengelolaan informasi perusahaan yang baik dan konsistesi dalam penerapan teknologi tersebut di perusahaan.
    Meningkatkan konsistesi, akurasi, tepat waktu, integritas, kualitas, ketersedian, akses, dan berbagi informasi pengelolaan TI di perusahaan.
  • Mendukung proses CPIC dengan menyediakan alat untuk mengukur keuntungan, akibat, dan ukuran investasi dana dan mendukung analisa altenatif, resiko dan tradeoff.
    Menggarisbawahi peluang untuk membangun kualitas yang lebih baik dan fleksibilitas dalam aplikasi tanpa peningkatan biaya.
  • Mencapai skala ekonomi dengan menyediakan mekanisme berbagi layanan di seluruh bagian perusahaan.
  • Mempercepat integrasi sistem yang eksis, migrasi, dan yang baru.
  • Memastikan pemenuhan hukum dan regulasi.
Kegunaan primer dari EA adalah menginformasikan, memandu, dan membatasi keputusan bagi perusahaan, khususnya yang terkat dengan investasi TI. EA merupakan jalan untuk meningkatkan efisiensi Teknologi informasi (TI) pada saat inovasi bisnis dikembangkan. Organisasi dapat menggunakan EA framework untuk mengelola system yang kompleks dan menyelaraskan bisnis dengan TI. [Kourdi, 2007], sekaligus mengungkap inovasi dalam struktur organisasi, proses bisnis terpusat atau federasi, kualitas dan ketepatan waktu informasi bisnis, atau memastikan uang yang dibelanjakan untuk teknologi informasi (TI) dapat dipertanggungjawabkan [Wikipedia, 2009].
Alasan penggunaan EA secara umum dan esensial [CIO, 2007] antara lain sebagai berikut:
  • Penyelarasan. Memastikan kenyataan perusahaan yang diimplementasikan selaras dengan maksud manajemen.
  • Integrasi. Mengungkapkan konsistensi penerapan aturan dalam perusahaan, bahwa data dan penggunaannya adalah untuk selamanya, antarmuka dan aliran informasi terstadarisasikan, koneksi dan interoperabilitas dalam perusahaan terkelola.
  • Perubahan. Memfasilitasi dan mengelola perubahan pada aspek apapun di perusahaan.
  • Time-to-market. Mengurangi pengembangan sistem, pembangkitan aplikasi, modernisasi timeframe, dan kebutuhan sumber daya.
  • Konvergensi. Mengarahkan agar portofolio produk standar TI terkandung dalam Technical Reference Model (TRM)
Bagaimana EA Meningkatkan Performa TI
dalam presentasinya si Spanyol Profesor Peter Weill memberi gambaran tentang bagaimana peranan EA dalam meningkatkan performa [WEILL, 2007] sebagai berikut :

Apa yang penting bagi perusahaan ? Operating model, yakni level dari integrasi dan standarisasi proses bisnis yang diinginkan untuk mengirimkan barang dan jasa kepada pelanggan.

Bagaimana mencapainya?
  • EA, yakni organisasi logika untuk kunci proses bisnis dan kemampuan TI yang merefleksikan integrasi dan standarisasi kebutuhan model operasi perusahan.
  • IT Governance, yakni keputusan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan untuk penggunaan TI yang efektif
Modal pencapaiannya? Foundation for execution, yakni infrasrukur TI dan otomatisasi proses bisnis digital dari kemampuan inti perusahaan.

Hasil yang dicapai? Lebih tangkas, keuntungan tinggi, resiko TI yang rendah, manajer senior lebih terpenuhi kebutuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
  • Federal Chief Information Officer Council (FCIOC). A Practical Guide to Federal Enterprise Architecture. Februari 2007.
  • MIT Center for Information Systems Research, Peter Weill, Director, as presented at the Sixth e-Business Conference, Barcelona Spain, 27 March 2007
  • Shah, H. Kourdi, M.E. Framework for Enterprise Archiecture. IEEE Xplore, sept 2007.
    Prof. Peter Weill, J. Ross, D. Robertson. Enterprise Architcture as Strategy: Creating Foundation for Business Execution. Harvard Business School Press, 2006.
  • Wikipedia. Enterprise Architecture. Diakses tanggal 4 Januari 2009.