Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

26 Januari 2009

Menggunakan Caldea dan Evamecal untuk Mengukur dan Meningkatkan Level Kualitas Data dan Informasi bagian 1

Suatu Enterprise sangat membutuhkan data dan informasi yang berkualitas dalam melaksanan kegiatan-kegiatannya. Karena informasi merupakan hasil pemrosesan data-data, dan data-data merupakan hasil pencarian, pengumpulan obyek yang dibutuhkan, maka untuk menjaga Data and Information Quality (DIQ) diperlukan suatu Information Management Process (IMP).

Salah satu cara untuk mengukur maturity kualitas data dan informasi suatu enterprise adalah menggunakan CALDEA dan EVAMECAL.

CALDEA = CALlidad DE Almacenes de datos, adalah model dari suatu proses manajemen data dan informasi

EVAMECAL = EVAluación y MEjora de la gestión de la CALalidad de los datos, adalah suatu metodologi yang berisi mekanisme untuk melakukan assessment dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan IMP untuk perbaikan yang merujuk kepada CALDEA.

CALDEA

CALDEA mendefinisikan level kematangan/maturity manajemen kualitas informasi untuk IMP yang terdiri dari 5 level, yaitu :

1. Initial level. Merupakan level permulaan jika tidak ada usaha untuk mencapai informasi yang berkualitas.

2. Definition level. Level ini tercapai jika IMP sudah didefinisikan dan direncanakan. Untuk mencapai level ini KPA (key process areas) yang harus dipenuhi adalah :
  • Information quality management team management (IQMTM). Manajemen kualitas Data dan informasi memerlukan orang yang bertanggungjawab langsung untuk itu dan untuk mendukung integritas semua aktifitas yang harus dilakukan. Orang-orang ini harus bekerja sesuai dengan ide dan tren organisasi dan harus mendukung organisasi secara keseluruhan untuk menunjukkan komitmen terhadap kebijakan kualitas informasi (Ballou & Tayi, 1999) dengan cara menghubungkan usaha dalam mendukung aktifitas dari model kematangan. Diantara kemampuan yang dimiliki haruslah termasuk di dalamnya kemampuan mengelola kualitas data dan informasi. Redman (2001) mengemukakan bahwa kebutuhan untuk manajer ke atas adalah untuk memimpin inisiatif atas kualitas data dan informasi. Ini berakibat pemilihan orang untuk mengelola kualitas data dan informasi melalui IMP dan aktifitas pendukung yang berhubungan dengannya seperti stadarisasi dan pengukuran. Teknik atau tools yang berhubungan dengan manajemen sumber daya manusia dapat digunakan.
  • IMP project management (IPM). Tujuan utama dari KPA ini adalah untuk membuat rencana untuk mengkoordinasikan usaha dan menghasilkan dokumen yang menggambarkan secara jelas agenda dari aktifitas dan anggaran untuk mengoptimalkan IMP. Dokumen ini bisa dibuat dengan mengikuti IEEE 1058.1 (IEEE, 1987), sebagai contoh diantara aktifitas yang telah direncanakan berikut harus dilakukan: manajemen kebutuhan data dan informasi, analisis terhadap kebutuhan, desain solusi untuk memenuhinya, implementasi proses berdasarkan desain sebelumnya dan pengetesan dari proses yang diimplementasikan. Teknik-teknik atau tools untuk pengembangan proyek bisa digunakan misalny PERT atau CPM.
  • User requirement management (URM). Kebutuhan user harus dikumpulkan dan didokumentasikan. Tiga macam kebutuhan harus diidentifikasi (Wang, Kon, & Madnick,1993): 1) Yang berhubungan dengan produk akhir (URS), 2) Yang berhubungan dengan IMP-yang harus dikumpulkan dalam User Requirement Specification untuk IMP document (URSIMP) , Dan 3) Yang berhubungan dengan kualitas informasi-yang harus dikumpulkan dalam information quality user requirements specification (URS-IQ). Kebutuhan-kebutuhan ini adalah langkah awal untuk pemodelan IMP, database atau data warehouse dan prosedur lainnya. Beberapa tools dan teknik bisa membantu pengembang untuk mendapatkan setiap dokumen seperti IEEE 830 (IEEE, 1998). Ada beberapa teknik grafis untuk permasalahan ini seperti: 1) untuk IMP • IP-MAP, oleh Shankaranarayanan, Wang, dan Ziad (2000); 2) untuk database atau data warehouse dan masalah kualitas data, adalah model extended entityrelationship yang dikenalkan oleh Wang, Ziad, dan Lee (2001).
  • Data sources and data targets management (DSTM). Berdasarkan karakteristik intrinsik tertentu dari data, penting untuk mengenali dan mendokumenkan sumber data sebaik mungkin sebagai target data dari URS-IMP dalam rangka menghindari masalah seperti redudansi data yang tidak terkendali atau masalah dengan pergantian format data (Loshin, 2001). Ballou et al.(1998) dan Hinrichs dan Aden (2001) mendiskusikan masalah ini dan menyarankan beberapa cara memperlakukan informasi dari beberapa sumber. Dalam lingkungan data warehouse , tools dan teknik seperti ETL harus digunakan dalam rangka menyeragamkan penulisan dan format data yang masuk (English, 1999).
  • Database or data warehouse acquistion, development or maintenance project management (AIMPM). Data mentah harus dikumpulkan dan disimpan dalam database atau data warehouse yang sesuai. Dengan tujuan untuk memastikan kualitas informasi, direkomendasikan sekali untuk mengeluarkan proyek untuk akuisisi, pengembangan atau pemeliharaan dari sebuah system manajemen database atau data warehouse bisa mendukung baik URS-IQ maupun URSIMP. KPA ini juga termasuk sub aktifitas kecil lain seperti jaminan kualitas data (Jarke & Vassiliou, 1997), manajemen konfigurasi, manajemen pemeliharaan atau manajemen pemilihan solusi komersial.
  • Information quality management in IMP components (DIQM). Penggunaan metric untuk mengukur efisiensi IMP dapat membantu meningkatkannya. Oleh karenanya penting untuk mengetahui dari URS-IQ dimensi dari kualitas informasi (sama dengan pada ISO 9126 (ISO, 2001) yang ditujukan untuk perangkat lunak) untuk setiap komponen kualitas informasi harus dikontrol (Hoxmaier, 2001; Huang et al., 1999), sama baiknya dengan metric yang diadaptasi dari tiap dimensi yang ada (Eppler, 2003; Kahn, Strong, & Wang, 2002; Pipino et al., 2002). Deskripsi dimensi kualitas data dan diskusi tentang apa yang paling penting bisa ditemukan pada pekerjaan mayoritas dari konsultan. Dengan tujuan untuk membuat proposal seuniversal mungkin, harus tidak ada dimensi, ini tidak mungkin (karena Pipino et al., 2002) mengingat fakta bahwa data dan kualitas informasi tergantung langsung ada masalah data/informasi. Bagaimanapun sebagai panduan, adaptasi dimensi kualitas informasi standar yang dikenalkan oleh Strong et al. (1997), direkome ndasikan pada manajer kualitas informasi yang bertanggungjawab mencari satu yang terbaik untuk menyelesaikan masalah mereka. Untuk membantu mereka, metodologi generik bisa digunakan seperti IEEE 1061 (IEEE, 1992) atau GQM, oleh van Soligen dan Berghout (1999). Bahkan penulis seperti Loshin (2001) telah memperkenalkan data lebih spesifik dan framework pengukuran kualitas informasi dengan beberapa masalah spesifik kualitas data untuk diukur: kualitas data dari model data, kualitas data dari nilai data, kualitas data dari representasi data atau kualitas data dari kebijakan informasi. Di sisi lain, penulis lan seperti Ballou dan Tayi (1999), Bouzeghoub dan Kedad (2000), atau Calero dan Piattini (2002) telah memperkenalkan metric untuk pengukuran masalah komponen spesifik dari IMP. Satu aspek pengukuran adalah kebutuhan untuk mengotomatiskan pengukuran seperti yang diinginkan Hinrichs (2000)
3. Integration level. IMP harus memenuhi persyaratan, standar dan kebijakan kualitas informasi suatu organisasi dan sudah tercapainya definition level. KPA yang harus dipenuhi adalah :
  • Information products and IMP components validation and verivication (VV). Informasi produk dan komponen IMP harus diverifikasi dan divalidasi untuk mengoreksi kekeurangan dan pertentangan antara USR-IMP, USR-IQ, dan kebijakan kualitas informasi. Teknik yang dapat digunakan bisa jadi software inspections (Fagan, 1976; Gilb & Graham, 1993) namun diadaptasikan ke masalah kualitas informasi. Metodologi yang lebih spesifik, yang bisa digunakan adalah data testing yang diperkenalkan oleh Kiszkurno dan Yankelevich (2001), diperluas ke IMP, karena model data data testing terbatas ke data tersimpan dalam system informasi. Untuk mengkoordinasikan. Usaha, rencana untuk mendesain dan dan penggambaran contohnya IEEE 1012 (IEEE, 1986).
  • Risk and poor information quality impact management (RM). Penting untuk menentukan dampak resiko terhadap kurangnya kualitas informasi dalam IMP untuk membatasinya pda level organisasi (English, 1999). Getto (2002) mengenalkan metodologi yang bisa diadatasi ke masalah kualitas informasi untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan semua resiko.
  • Information quality standardization management (IQSM). melalui pengalaman tertentu harus dikumpulkan dengan baik, didokumentasikan dan dikirimkan ke penyimpanan knowledge organisasi. Sebagai contoh standarisasi bisa jadi enamproses dari TQdM (English, 2002, hal. 86), yang mencari penyelesaian permasalahan “denganmengintegrasikan kepercayaan manajemen kualitas, prinsip dan metode ke budaya dari enterprise.” Hanya dengan mengincorporasi data terbaru dan pengalaman manajemen kualitas informasi,performansi IMP akan lebih baik dibandingkan kebalikannya.
  • Organizational information quality policies management (OIQPM). Sebuah cara untuk mengimplementasikan seleurug usaha yang sebelumnya disebutkan terdiri dari penentuan kebijakan kualitas informasi berdasaran standr yang ditetapkan sebelumny mempengaruhi bukan hanya satu IMP, tapi juga keseluruhan organisasi. Tim manajemen kualitas informasi harus bekerja pada data dan kebijakan kualita informasi, yang mencerminkan budaya organisasi. Loshin (2001) menghadirkan elemen dimana desain kebijakan data/informasi berada. Oranisasi dapat dikatakan memiliki budaya kualitas informasi saat semua prosesnya baik yang terkait dengan informasi atau manajemen kualitas informasinya ambil bagian pada masalah kualitas jumlah data dalam rangka untuk memperbaikinya.
4. Quantitative management level. IMP dikatakan berada pada level manajemen kuantitatif atau termanajemen kuantitatif bila terintegrasi (level integrasi sudah tercapai), beberapa rencana pengukuran sudah dikembangkan dan diimplementasikan dan prosedur pengukuran sudah diotomatiskan. Berarti, tujuan utama kualitas informasi dari level ini adalah untuk menentukan pelaksanaan kuantitatif otomatis yang ditunjukan IMP melalui periode waktu yang dapat diterima dan konsisten terhadap variasi dan stabilitas untuk pengukuran yang handal (Florac & Carlenton, 2002) dimensi kualitas informasidari IMP. Level ini ditentukan dari KPA berikut:
  • IMP measurement management (MM). Tujuan KPA ini aalah untuk mendapatkan beberapa metric yang harus digunakan untuk memeriksa kesesuaian dengan spesifikasi (Grimmer & Hinrichs, 2001; Loshin, 2001). Seperti penyataan Meredith (2002), rencana untuk perangkat lunak pengukuran kualitas dimulai dengan keputusan untuk melakukan pengukuran. Ini berakibat pemilihan “what,” “when,” dan “how” untuk mengukur dan bagaimana merepresentasikan pengukuran ini dan kepada siapa pengukuran ini ditujukan.
  • IMP measurement plan automation management (AMP). Dalam rangka unntuk meningkatkan reliabilitas dan repeatabilitas pengukuran, maka prosedur pengukuran dan algoritma (ditentukan pada MM KPA) harus diotomatiskan seperti yang disarankan oleh Hinrichs (2000). Tujuan KPA ini untuk mempelajari seluruh hal yang berhubungan dengan otomatisasi semua prosedur manajemen.
5. Optimizing level. IMP berada di level ini jika hasil yang tercapai digunakan untuk mengembangkan continuous improvement dengan cara menghilangkan kesalahan/cacat atau dengan cara perbaikan. KPA yang harus dipenuhi :
  • Causal analysis for defects prevention management (CADPM). Dari studi hasil pengukuran, beberapa teknik kualitas dan tools seperti statistical control process (SPC) dapat diaplikasikan untuk mendeteksi kelemahan atau kekurangan kualitas informasi dan mengidentifikasi akar penyebab permasalahannya. Kesimpulan yang didapat harus menyediakan dasar untuk proses pemeliharaan yang berhubungan satu sama lain untuk me nghilangkan kelemahan yang terdeteksi di sumber daya yang terpengaruh. Smith and Heights (2002) menawarkan framework untuk pencegahan kelemahan.
  • Innovation and organizational development management (IODM). Tahap ini adalah konsep dasar untuk perbaikan terus menerus. Mirip dengan KPA sebelumnya, disini hasilnya bisa untuk meningkatkan IMP dalam artian performansi yang lebih tinggi., waktu perencanaan lebih efisien atau anggaran yang rendah. Pelajaran yang ada dalam IMP harus menyediakan pondasi bukan hanya untuk mencegah kekurangan, tapi juga untuk perbaikan terus-menerus.
State yang mungkin untuk setiap item
  • Maturity level : {“Achieved”, “Not Achieved”}
  • KPA : {“Fully Satisfied”, “Satisfied”, “Partially Satisfied”, “Not Satisfied”}
  • Activity in each KPA : {“Fully Executed”, “Executed”, “Partially Executed”, “Not Executed”}
  • Component : {“Fully Optimized”, “Optimized”, “Partially Optimized”, “Not Optimized”}

1 komentar :

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya