Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

28 Februari 2009

Kekuasaan-Nya dalam Perjalanan Ku

Masa penghisaban adalah saat di mana manusia menyaksikan pemberian Tuhan menurut apa yang Tuhan berikan di dunia. Saat itu manusia tidak dapat berbuat banyak, melainkan lebih banyak berharap pertolongan-Nya dan tidak menentang karena rasa malu kepada-Nya.

“… yang tiada hak apapun bagi mereka mempertanyakan apapun kepada Nya.” (An Naba 37)

Tidak bermanfaat sedikitpun perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa Alloh itu dzalim karena manusia tidak diberikan kebebasan dari aturan Alloh sehingga kemudian mereka harus berjalan di dunia ini mengikuti jalan kehidupan yang telah ditetapkan dalam agama-Nya yang lurus. Tidakkah mereka memahami bahwa seandainya mereka diberikan kebebasan, maka mereka akan binasa dan perilakunya akan mengguncangkan semesta raya ini. Siapakah yang menentukan masa perubahan, hidup dan matinya mahluk dengan sebaik-baiknya? Hanya Alloh selama ini yang dikenal oleh manusia di sepanjang jaman yang mampu mengaturnya dengan begitu sempurna. Kenapa tidak percaya dengan pengaturan-Nya?

Hanya dengan pengaturan-Nya lah kiamat tertahan tibanya. Siapakah yang tahu kapan kiamat itu tibanya? Hanya yang melihat kiamat yang tahu kapan kiamat itu terjadi, dan hanya Alloh di masa sekarang ini yang telah melihat kapan kiamat itu terjadinya. Bagaimana Dia yang telah merencanakan kiamat tidak mengetahui apa yang direncanakan-Nya?. Kelak manusia akan menyaksikan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat tersebut. Dan hanya kepada-Nya manusia bersujud dan bertaklid buta.

Kekuasaan-Nya Dalam Ketiadaanku

Apabila dikatakan, tangannya adalah tangan Alloh, kakinya adalah kaki Alloh, tetap saja ia dikuasai oleh Alloh karena ia mahluk-Nya. Selama dirinya adalah mahluk-Nya, maka Alloh tetap menguasainya dengan takdir yang telah ditetapkan-Nya. Apabila ia berhasil melenyapkan dirinya dalam cahaya Alloh, tetap ia tidak dapat mengelak dari kekuasaan-Nya. Ikatan itulah yang menjadi pembeda antara hamba dengan Alloh, bahwa tidak ada siapapun yang dapat mengikat Alloh sebagaimana mahluk-Nya yang terikat oleh kekuasaan Alloh. Alloh menciptakan perjalananku kemudian aku berjalan di atasnya tanpa dapat menyimpang sedikitpun.

Apabila dalam kekuasaan aku tersingkir karena kekuasaan-Nya dan eksistensiku hilang karena Keesaan-Nya, maka aku harus tetap dapat membedakan bahwa aku bukanlah Dia. Setelah tercipta, kemusnahan itu tidak menyebabkan aku kembali menyatu dengan-Nya sebagaimana dulu sebelum tercipta, tetapi tetap terpisah sebagaimana terpisahnya minyak dengan air.

Apabila aku menatap Alloh sampai tidak melihat kepada selain-Nya, mereka masih tetap melihat keberadaanku. Aku melihat setiap mahluk digerakan-Nya, dan dalam sirnanya mahluk dalam pandanganku yang ku lihat hanya diri-Nya saja. Dalam posisi ini aku dapat membedakan aku, Alloh, dan selainnya. Aku masih sadar bahwa aku adalah orang ketiga. Namun apabila aku berada diposisi mahluk lainnya, tidak ada yang akan melihat bahwa aku sebagaimana mahluk lainnya berada dalam kekuasaan-Nya selain Alloh saja. Alloh adalah diri-Nya dan aku adalah perbuatan-Nya.

Saat aku belum diciptakan-Nya, aku adalah diri-Nya tanpa keakuanku. Aku tidak ada pada Diri-Nya karena aku belum tercipta. Tidak ada wujudku pada diri-Nya, yang ada hanya wujud-Nya saja. Alloh sendiri tanpa diriku saat itu. Sebelum aku dijadikan-Nya sebagai mahluk-Nya, aku tiada, yang ada hanyalah diri-Nya.

Aku adalah sesuatu yang diadakan-Nya. Bukti bahwa aku telah diadakan-Nya adalah aku dapat mengatakan bahwa aku ada. Saat aku tiada dan Alloh saja yang ada, aku tidak dapat mengatakan apapun. Alloh mengadakan aku sebelum aku diciptakan-Nya, Alloh tidak menciptakan aku dalam ketiadaanku, dan Alloh tidak menjadikan aku adalah diri-Nya.

Kekuasaan-Nya Dalam Adanya Aku

Sesungguhnya aku berada di dalam penguasaan Alloh dan tak dapat melepaskan diri dari pada-Nya. Jika aku faham tentang kelemahanku dan penguasaan-Nya, maka aku akan yakin betapa aku akan sangat membutuhkan Alloh. Aku membutuhkan bimbingan-Nya dalam menghadapi keinginanku, karena aku tahu Alloh memutuskan perkaraku tidak berdasar kepada keinginanku, tetapi kepada keinginan-Nya.

Aku tahu bahwa hidup ini berdasar kepada atau terikat oleh takdir yang Alloh tetapkan. Walau demikian aku tidak boleh merasa tersiksa karena ikatan-Nya. Apabila aku merasa tersiksa, maka termasuklah aku kepada golongan yang menyombongkan diri karena bodoh dalam memahami hakikat penciptaan dirinya. Apabila aku ingin lepas dari ikatan-Nya, maka jadilah aku sebagai golongan yang tidak beriman sepenuhnya kepada Alloh.

Kenapa aku harus meminta-Nya agar melepaskan ikatan ini, padahal Alloh adalah Tuhan yang menguasai seluruh ciptaan-Nya? Bukankah yang tidak boleh mengikatku hanyalah mahluk saja? Sebab apabila mahluk mengikatku aku tidak akan merdeka. Padahal kemerdekaan adalah hal penting yang dapat meringankan beban hidup di dunia ini, beban ikatan-Nya.

Aku tidak akan pernah dapat memerdekakan diri dari kekuasaan Alloh, sebab aku atau siapapun tidak dapat mengalahkan-Nya. Aku harus tunduk di bawah kekuasaan Rabb yang telah menciptakanku. Dengan penyerahan diri kepada-Nya, aku akan beroleh kemerdekaanku. Tanpa penyerahan diri, kemerdekaan itu akan pergi dan siksa menimpaku.

Apabila Alloh memberikan kemerdekaan kepada ku dari ikatan-Nya, maka aku akan hancur binasa. Apabila kemerdekaan itu ada padaku, maka berarti aku diberi kekuasaan yang sama dengan Alloh oleh Alloh. Dan itu mustahil sebab hanya Alloh Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada satu mahlukpun yang memiliki kekuasaan yang sama dengan kekuasaan-Nya, apalagi mengalahkan kekuasaan-Nya. Tuhan tidak akan memberikan kekuasaan-Nya kecuali kepada diri-Nya, karena tidak ada Tuhan selain Dia. Dan kekuasaan itu tidak dapat dimiliki oleh selain-Nya.

Aku tidak dapat lepas dari penguasaan-Nya setelah aku tercipa. Yang lepas dari kekuasaan-Nya adalah sesuatu yang belum atau tidak tercipta. Sesuatu yang berada dalam diri-Nya, sehingga tidak disebut mahluk-Nya. Ia adalah Alloh, yang kekuasaannya dikuasai oleh kehendak-Nya.

Luapan Rasaku Wahai Guru

Pernahkah kau kunjungi kampung beliau yang sederhana? Rumahnya yang tak megah? Kebanggaan dan kebahagiaan beliau tidak dengan limpahan kekayaan fatamorgana, tetapi dengan kekayaan Akhirat yang abadi. Beliau tidak duduk di kursi seperti singasana Romawi atau Yunani, karena kursi agungnya ada di Syurga.

Lihatlah, para pecinta dari segala penjuru dunia memuji-mujinya dengan shalawat dan salam padanya. Beliau tersenyum bahagia, karena ummatnya begitu cinta dan merindukannya. Dalam kekaguman dan rasa cinta ku hadapkan pandangan mataku kepadanya. Ku tarik lengannya dan ku kecup. Duhai … betapa halus … menggetarkan hati. Berderai air mataku dalam lantunan syairku padanya.

Namun saat ku hendak menggapai tubuhnya, lengan ini dilepaskannya. Beliau tersenyum, berlalu meninggalkanku, sehingga hatiku jadi tak menentu. Tubuhnya hilang di kepulan awan. Senandung terlantun menagisi kepergianya.

Kini mataku menatap kosong, hatiku menjerit sakit. Bertanya aku pada diriku, “Apakah guru meninggalkanku karena kehinaanku, karena dosaku?”

Tak kusangka beliau di belakang menyentuh bahuku. Seketika hatiku berteriak bahagia, aku terjatuh, dan terucap dari lisanku, “Wahai Rasulullah”. Lalu kucium lagi lengannya yang putih, lebut, dan bercahaya.

Kemudian beliau mengangkat tubuhku dan mencium keningku. Aku menghiba padanya, “Biarkan saja aku terjatuh wahai Rasulullah, aku tak sanggup berdiri dengan dosa-dosa ini. Doakanlah agar aku pergi menemuimu saat jiwaku merindukan-Nya”.

Kemudian datanglah kesadaran dalam diriku, bahwa syarat utama menghadap kepada-Nya adalah kesungguhan dalam beribadah.

24 Februari 2009

Tiada Kekhawatiran Dan Kesedihan Atas Diri Mereka

Ketenangan hidup dicapai oleh manusia salah satunya dengan jalan membebaskan diri mereka dari rasa khawatir dan kesedihan di hati. Cara untuk membebaskan diri dari dua keadaan di hati tersebut dapat ditempuh dengan berbagai cara. Alloh menunjukkan cara pembebasan diri dari padanya di dalam al-Qur’an, melalui jalan-jalan berikut ini :
  1. Bertaubat dan menjalani hidup selanjutnya dengan mengikuti petunjuk Alloh. (al-Baqoroh 38)
  2. Beriman dengan sungguh-sungguh kepada Alloh dan hari akhir. (al-Baqoroh 62)
  3. Berserah diri kepada Alloh dengan tunduk patuh atau hidup di atas Minhaj-Nya. (al-Baqoroh 112)
  4. Beramal soleh, lahir dan bathin, dengan penuh keikhlasan dan mengharap keridloan Alloh, dan dengan jalan Islam. (al-Baqoroh 277)
  5. Mengevaluasi amal dan melakukan perbaikan terhadap semua amal yang telah dilakukannya. (al-An’am 48)
  6. Menjadi penolong-penolong Alloh atau berada dekat dengan mereka.
  7. Meyakini Alloh sebagai Rabb-nya dan kuat dalam memegang pendirian tersebut. (al-Ahqaaf 13)
  8. Menjadi hamba yang setia dan pengikut-Nya yang fanatis (bukan kepada madzhab).
Bertaubat Dan Menjalani Hidup Selanjutnya Dengan Mengikuti Petunjuk Alloh
Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (al-Baqoroh 38)

Sesungguhnya perbuatan dosa akan melahirkan kegelisahan di dalam hati orang yang beriman. Kegelisahan itu terwujud karena mereka khawatir akan datangnya siksa Alloh dan mereka sedih karena perbuatan dosa telah menjauhkan mereka dari kehidupan Muqorrobin (orang-orang yang dekat kepada Alloh) yang indah. Tiada yang sangat mereka syukuri selain petunjuk Alloh, yang bisa mengembalikan kehidupan indah kepada mereka.

Mereka akan sangat bersyukur kepada Alloh karena petunjuk-Nya telah membuat diri memiliki kesanggupan untuk tidak tenggelam di dalam perbuatan dosa, menyesali dan membencinya. Mereka menyucikan diri dari kotoran dosa dengan melakukan amaliah kebaikan yang ditunjukkan-Nya. Usaha tersebut membuat perjalanan kembali mereka kepada taman kedekatan menjadi mudah dan efektif.

Maka demi Alloh, sesungguhnya Alloh tidak menelantarkan hamba-hamba-Nya yang melampaui batas setelah Ia turunkan petunjuk-Nya di muka bumi (al-Furqon). Terlebih Alloh selalu membukakan pintu ampunan-Nya hingga batas maut hamba tersebut. Alloh menunjukkan perhatiannya kepada para pendosa dengan firman-Nya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (ali-Imran 133)

Alloh menghibur para pendosa yang menyesali dosa-dosanya dan ingin kembali kepada-Nya dengan firman-Nya, Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(az-Zumar 53)

Sesungguhnya petunjuk Alloh jelas dan mundah. Hati tentram di saat petunjuk tersebut dilaksanakan. Siapa yang kembali kepada petunjuk Alloh, maka ia telah berlindung dalam benteng yang kokoh dari gangguan ketakutan dan kesedihan. Alloh memberi mereka yang diberi petunjuk, kelapangan. Dan jika Alloh menghendaki untuk lebih dekat dalam kedudukan di sisi-Nya, maka ditanamkan oleh Alloh di dalam hati hamba-Nya dzikrullah yang menenangkan.

Maka mengalirlah dari lubuk hati, kelezatan rahasia yang Alloh beri sebagai bentuk buah amal dari dzikrulloh. Kelezatan itu menentramkan, membuat hati menjadi damai dan tenang di segala keadaan. Tidak ada satupun ancaman yang akan menakutkan. Tidak ada satupun yang menandingi apa yang di rasa di hati. Direlakan semuanya pergi, karena di hati ada sesuatu yang telah mencukupi.

Inilah syurga dunia yang sesungguhnya. Dan mereka, para pewaris hidayah, yang bertaubat, berdzikir, dan beramal soleh … mereka telah kembali ke dalam ‘syurga’, walau mereka berjalan di atas muka bumi.

Beriman Dengan Sungguh-Sungguh Kepada Alloh Dan Hari Akhir

Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqoroh 62)

Amaliah yang diteggakkan atas dasar keyakinan yang kuat kepada Alloh dan hari akhir, yang ditujukan untuk mengejar akhir kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat akan mendatangkan ketenangan di dalam hati. Apabila kita telah melihat bukti bahwa amaliah baik kita mendatangkan kebahagiaan bagi diri kita dan orang lain, maka kita akan tenang karenanya. Sebaliknya, apabila ternyata amaliah kita mendatangkan kesedihan dan petaka bagi kita dan orang lain, maka kitapun akan bersedih dan hati kita tak akan tenang.

Apabila kita melihat bukti bahwa amaliah baik di dunia seperti yang diajarkan oleh Alloh dan Rasul-Nya mendatangkan kebaikan, maka kita tak boleh ragu terhadap apa yang diserukan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Kita harus meyakinkan diri bahwa hidup kita untuk kebaikan, karena hati kita tentram padanya, jauh dari siksaan. Kita harus meyakinkan diri untuk mengikuti segala ajaran kebaikan, ajaran Alloh dan Rasul-Nya.

Membanyakkan kebaikan akan memupuk ketenangan hati. Kebaikan akan melahirkan situasi-situasi yang menenangkan dan mebahagiakan hati. Tapi memang terkadang untuk menegakkan suatu kebaikan, kita harus meminum air kesedihan dan kekhawatiran. Kesedihan karena kebaikan ternyata selalu mendapat penentangan yang banyak dari orang-orang. Kekhawatiran karena kefakiran diri membuat kita berada dalam ketidakpastian, apakah kita akan dapat menegakkan kebaikan itu atau tidak?. Dalam perjuangan menghadapi halang-rintang saat menegakkan amaliah baik, kita hanya menghibur diri dengan keyakinan yang kuat kepada Alloh, solat, dan perkataan, “Semuanya dikehendaki oleh Alloh, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolngan Alloh.”

Dalam perjuangan menghadapi halang-rintang saat menegakkan amaliah baik, kita hanya menghibur diri dengan keyakinan yang kuat kepada Alloh, solat, dan perkataan, “Semuanya dikehendaki oleh Alloh, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolngan Alloh.”

Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Tunduk Patuh Atau Hidup Di Atas Minhaj-Nya

Agama adalah ajaran kebaikan, yang di dalamnya ada petunjuk dan pengetahuan. Hidup di dalam agama, tidak sekedar mengikuti jalan amal kebaikannya saja, tetapi juga berserah diri kepada Alloh dengan meyakini segala apa yang Ia sampaikan di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya. Maka agama pada akhirnya menjadi sebuah keyakinan, yang akan membentuk pola pikir dan amal baik apabila diikuti. Kesetiaan padanya akan membuat arah penghambaan kita bergeser, dari penghambaan kepada selain Alloh menjadi penghambaan kepada Alloh.

Bagaimana mereka yang banyak beramal baik akan tenang dan damai hidupnya, apabila mereka tidak tunduk menyerah kepada Alloh dengan mengikuti agama-Nya. Tidakkah mereka tahu bahwa amal mereka kelak akan seumpama debu di atas batu yang diterbangkan angina?. Mereka memang terbebas dari kekhawatiran dan rasa sedih di dunia ini. Itu semua diberikan Alloh sebagai pahala yang akan diberikan-Nya kepada sispapun yang telah melakukan amal kebaikan. Tetapi di akhirat ? … saat amal kebaikan mereka bagaikan debu yang ditiup angin kencang. Adakah ketenangan di hati mereka kini?

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqoroh 112)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqoroh 277)

Kebaikan yang utama adalah menolong orang dari kesulitan hidupnya. Alloh mengukur kualitas hamba-Nya dari kesanggupan ia merealisasikan ketakwaan dan kecintaan-Nya pada Alloh dalam wilayah amaliah ghoir mahdoh (hubungan dengan selain Alloh). Segala kebaikan yang dilakukan di dunia ini untuk orang lain, akan mendatangkan kebaikan di akhirat kelak.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Rasululloh SAW pernah bersabda bahwa barangsiapa yang memudahkan urusan hamba-Nya di dunia ini, maka Alloh akan memudahkannya urusannya kelak di Akhirat. Maka demi Alloh, karenanya orang yang ditolong menjadi penolong orang yang menolong. Penolong yang mengharapkan pertolongan Alloh kelak di akhirat, akan merasa senang menolong.

Kita akan nampak lemah di akhirat kelak. Tidak ada sedikitpun pada diri kita yang bisa diandalkan untuk bisa menebus keselamatan dan menghindari ancaman ketidaksukaan-Nya. Maka tidak ada yang lebih berarti di akhirat kelak, selain pertolongan Alloh.

Tidak ada artinya segala apa yang diterima si penolong di dunia ini, jika dibandingkan apa yang diterimanya kelak di akhirat kelak. Semestinya, si penolong bahagia sebagaimana keadaan hamba Alloh yang ditolongnya. Keduanya wajib bersyukur, karena Alloh telah membebaskan yang ditolong dari kesulitan dunia dan si penolong dari kesulitan akhirat. Berbuat kebaikan dengan cara yang baik, adalah termasuk sebagian dari amal kesyukuran.

Beramal Soleh, Lahir Dan Bathin, Dengan Penuh Keikhlasan Dan Mengharap Keridloan Alloh, Dan Dengan Jalan Islam

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqoroh 262)

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqoroh 274)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa melakukan amaliah kebaikan akan melahirkan ketenangan dan kebahagiaan di hati orang-orang yang beriman. Tetapi kita perlu tahu bahwa yang dimaksud amaliah baik oleh orang-orang beriman, yang dapat melahirkan rasa bahagia dan melahirkan ketenangan di hati hanyalah amaliah yang mendatangkan simpati-Nya dan bukan amaliah yang mendatangkan celaan-Nya.

Tentu saja banyak cara untuk bisa membahagiakan orang sehingga hati kita bahagia karenanya. Tetapi tidak setiap jalan kebahagiaan menenangkan hati orang yang beriman. Jika orang yang beriman telah membahagiakan orang lain tetapi dengan jalan yang dicela oleh Alloh, maka pastilah ia tidak akan merasa bahagia, karena celaan Alloh telah menutupi jalan kebahagiaan di hatinya dan membukakan jalan keresahan di hatinya. Celaan Alloh akan membuat pahala kebaikan sirna, kebahagiaan menjauh.

Hanya jiwa yang tinggi yang dapat meraih kebahagiaan dalam keadaan pintu keresahan dan kesedihan tertutup dari hatinya. Jiwa yang rendah bisa merengkuh kebahagiaan dengan tidak merasakan apa-apa sekalipun celaan menimpanya. Pintu keresahannya tidak terbuka dengan adanya celaan Alloh kepada dirinya lantaran jiwanya tidak memiliki keimanan kepada Alloh sebagaimana jiwa yang tinggi.

Berikut ini syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kebahagiaan dan ketenangan tetap ada di hati:
  1. Memiliki keimanan yang melahirkan perasaan sedang diawasi oleh Alloh.
  2. Melakukan amaliah soleh di semua sisi kehidupan, yang dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa melampaui batasan agama, dan mengikuti sunnah Nabi-Nya.
  3. Menegakkan segala kefardluan yang ditetapkan Alloh dalam agama-Nya, khususnya solat yang mendekatkan diri kepada Alloh dan zakat yang mensucikan lahir-bathin
Mengevaluasi Amal Dan Melakukan Perbaikan Terhadap Semua Amal Yang Telah Dilakukannya

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-An’am 48)

Alloh mengingatkan kita akan kesalahan-kesalahan kita dengan Rasul-Nya. Melalui lisan Rasul-Nya, kita bisa mengatahui atau menyadari segala perbuatan yang merugikan kita di dunia dan di akhirat. Terkadang kita merasakan kemadlaratan dari perbuatan salah yang kita lakukan, tetapi kita ragu untuk meninggalkannya karena dari perbuatan salah tersebut kita menemukan kebahagiaan dan ketenangan. Tetapi setelah Rasul-Nya menjelaskan bahwa perbuatan itu sesungguhnya tidak menguntungkan, atau hanya memberi keuntungan di dunia saja dan merugikan kelak di akhirat, maka orang yang beriman pasti akan kehilangan keraguannya setelah terbitnya keyakinan terhadap apa yang disampaikan oleh Rasul yang ia imani. Dan tatkala ia melakukan perbaikan dengan meninggalkan perbuatan tersebut, maka iapun menemukan kebahagiaan dan ketenangan yang lain. Sementara ia tak melihat ada kebahagiaan dan ketenangan di dalam hatinya apabila ia melakukan kembali perbuatan buruk yang telah ditinggalkannya.

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-A’raf 35)

Satu hal yang mendorong orang untuk dapat meninggalkan keburukan yang menenangkan dan membahagiakannya, serta untuk dapat mengubah ketenangan dan kebahagiaan padanya menjadi keresahan dan kesedihan, adalah rasa takut yang terlahir dari keimanan yang kuat kepada Alloh.

Jika Alloh mengatakan bahwa sesuatu itu harus ditinggalkan, maka pastilah ada kemadharatan yang akan menimpanya. Dengan pengetahuan dan keyakinan atas hal tersebut, maka kita akan dapat melahirkan rasa takut di hatinya. Ketakutan itu akan mengubah segala keindahan pada hal yang dilarang menjadi sesuatu yang sangat memalukan dan meresahkan.

Takut adalah pelita yang memekarkan bunga-bunga kebahagiaan dan ketenangan di dalam hati. Dengan rasa takut, hidup kita akan penuh awas, kritis terhadap segala gerakanan buruk jiwa kita, dan memiliki banyak kekuatan untuk mengarahkan jiwa kita kepada sesuatu yang dirahmati Alloh.

Menjadi Penolong-Penolong Alloh Atau Berada Dekat Dengan Mereka

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yunus 62)

Sesungguhnya Alloh adalah penolong (aulia) orang-orang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan yang menyesakkan menuju cahaya yang menenangkan dan menggembirakan. Sementara orang-orang kafir, para penolong mereka adalah setan. Mereka dikeluarkan dari cahaya kepada kegelapan. Dan kegelapan telah menggelapkan hati mereka, sehingga mereka tidak melihat kepada kebenaran atau petunjuk Alloh.

Diriwayatkan dari al-Bazzar bahwa Ibnu Abbas berkata: Seseorang bertanya, “Ya Rasululloh siapakah wali Alloh itu?.” Beliau menjawab, “Ialah orang-orang yang apabila dilihat maka teringat kepada Alloh.”

Yakinlah kita bahwa memang mengingat Alloh itu menenangkan hati dan menggembirakan hati orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d 28)

Jika hati kita tak kunjung bisa tenang dengan melajimkan dzikrullah di hati, atau malah terganggu karenanya, maka bsia dipastikan hati kita mati dan tidak tersisa keimanan di dalam hati kecuali sedikit saja, atau hati kita dikuasai nafsu. Walau hati kita mati, tetapi tetap kita harus terus memaksa agar hati menyuarakan asma-Nya. Degan mengharap kedekatan-Nya, maka kita terus meminta pertolongan Alloh dan berusaha memaksakan dzikrullah ke dalam hati kita sebagaimana dipaksakannya makanan oleh seorang ibu kepada anaknya yang tidak mau makan. Kalaupun masuknya dzikrullah ke dalam hati tidak membuat hati cepat mengerti akan esensi dzikrullah dan sadar akan keindahan-keindahan yang ditimbulkannya, tetapi terisinya hati oleh dzikrulah lebih baik dari pada hampanya hati dari dzikrullah.

Syekh Ahmad Athoillah dalam Hikam mengatakan bahwa melakukan kesalahan dalam keadaan hati berdzikir lebih baik dari pada melakukannya dalam keadaan hati lalai. Beliau mengatakan demikian karena dzikir menguatkan keimanan di hati. Apabila orang yang memiliki keimanan melakukan kesalahan maka dzikrullah akan membuat dirinya melihat akan kesalahan-kesalahannya. Dan keimanan akan membuat dirinya berusaha memperbaiki diri.

Hal tersebut ditegaskan oleh firman Alloh SWT, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (ali-Imran 135)

Dan juga firman Alloh SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raf 201)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasululloh SAW bersabda, “Di antara hamba-hamba Alloh itu ada sejumlah hamba yang membuat para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” Beliau ditanya, “Ya Rasululloh, siapakah mereka itu mungkin kami dapat mencintainya?.” Beliau bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Alloh, bukan karena harta dan keturunan. Wajah mereka bagaikan cahaya. Mereka berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Mereka tidak merasa takut saat orang-orang takut, dan mereka tidak bersedih tatkala orang-orang sedih.” Kemudian beliau membaca ayat, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
Sebentuk ketenangan dan kebahagiaan meliputi orang-orang yang saling mencintai karena Alloh, bukan karena harta atau keturunan. Tentu saja bukan ketenangan sebagaimana tenangnya kita karena harat kita berlimpah atau keturunan kita bermartabat, dan bukan pula kebahagiaan sebagaimana bahagianya kita karena kita bisa membeli apapun denga harta yang berlimpah atau karena kita bisa melakukan apapun karena kita orang terhormat. Tetapi ketenangan dan kebahagiaan ruhiyah yang merasuki hati dan membuat hidup berarti sekalipun diliputi kemiskinan atau tidak memiliki kedudukan apapun di tengah masyarakat.

Sebuah keberatian misterius yang sukar difahami kecuali oleh orang yang saling mencintai karena Alloh. Ketidakfahaman tersebut terjadi karena selain orang yang saling mencintai karena Alloh tidak memiliki faktor yang bisa membangkitkan kebahagiaan orang-orang yang saling mencintai karena Alloh, yakni cinta Alloh. Ketenangan dan kebahagiaan diraih oleh mereka yang mencintai karena Alloh karena Alloh mencintai mereka. Ketenangan dan kebahagiaan itu merupakan akibat dari adanya cinta Alloh kepada mereka. Sebuah ketenangan dan kebahagiaan yang lain dan sangat misterius. Sebuah rahasia keindahan cinta orang-orang yang saling mencintai karena Alloh.

Meyakini Alloh Sebagai Rabb-Nya Dan Kuat Dalam Memegang Pendirian Tersebut

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (al-Ahqaaf 13)

Salah satu kekuatan yang membuat orang-orang beriman dapat tetap hidup bahagia bersama Alloh adalah keseriusannya dalam meyakini dan setia kepada Alloh. Kebahagiaan mereka tergantung kepada keistiqomahan mereka dalam memegang keyakinan dan kesetiaannya kepada Alloh. Sementara keistiqomahan mereka berdiri dengan topangan ma’rifatullah yang bersumber dari pengetahuan dan penyaksian.

Menjadi hamba yang setia dan pengikut-Nya yang fanatis

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Ali Imran 169-170)

Menjadikan hidup di dunia sebagai ibadah kepada-Nya, dan segala usahanya sebagai bagian jihad menegakkan agama-Nya adalah penghantar menuju kebahagiaan dan ketenangan. Tetapi hidup seperti itu hanya diwarisi oleh orang-orang yang berjiwa tinggi. Mereka yang berjiwa rendah, akan merasa tersiksa atau tidak betah dengan cara hidup seperti itu. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak mewarisi apa yang diwarisi oleh mereka yang berjiwa tinggi, yakni kehendak untuk setia kepada Alloh dan hidup dengan cara-Nya.

Jika seseorang telah sampai pada jiwa yang tinggi, maka ia akan melihat bahwa apa yang ia rasakan sebagai penderitaan, kesusahan, ketidakberuntungan, atau kepahitan pada saat jiwanya rendah, ternyata adalah sebuah minuman yang sangat nikmat dan sentuhan Alloh yang menenangkan. Ingatlah, bahwa orang akan bahagia sekalipun dirinya disakiti, kalau yang menyakitinya adalah kekasihnya, dan kalau sakit tersebut akan memberinya kehidupan bahagia bersama kekasihnya. Dan orang-orang yang tidak tahu akan keuntungan tersebut atau yang lemah semangatnya karena ragu, akan menganggap gila orang-orang yang rela disakiti tersebut.
Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (az-Zumar 61)

Orang yang bertakwa tidak bersedih dengan kekalahan mereka di dunia, karena di akhirat mereka akan mendapatkan kemenangan sekalipun mereka kalah di dunia. Mereka memang seakan tidak mendapatkan syurga dunia dalam pandangan orang-orang dunia, tetapi mereka punya syurga sendiri di dunia dan di akhirat yang sangat beda dengan syurganya orang-orang dunia. Hidup mereka seperti sebuah neraka dalam pandangan orang-orang dunia, tetapi sesungguhnya mereka terbebas dari neraka dunia dan akhirat.

Mereka sama sekali tidak berduka dengan apa yang diucapkan oleh orang-orang dunia atas diri mereka. Mereka hidup tenang dengan jaminan Alloh. Mereka mencukupkan hidup mereka dengan Alloh, dengan minhaj-Nya dan dengan pahala serta keridloan-Nya.

Sejarah Perkembangan Aktivitas Keislaman Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut 1997 - 2004

Posisi Strategis Masjid Kampus

Masjid kampus al-Musaddadiyah merupakan salah satu sentra dakwah di komplek pesantren al-Musaddadiyah. Posisinya yang tepat berada di antara berbagai institusi pendidikan dan dakwah, menyebabkan masjid tersebut sering digunakan oleh berbagai kalangan untuk kegiatan-kegiatan Islam. Tidak hanya santri, pelajar, mahasiswa, atau peserta pengajian umum al-Musaddadiyah yang menggunakan masjid tersebut, tetapi juga beberapa ormas dan orpol Islam menjadikannya sebagai sentra aktivitas Islam. Tercatat ormas seperti Front Pembela Islam dan Dewan Imamah Umat Islam Garut, juga orpol seperti Partai Keadilan, Partai Persatuan Pembanguna dan Partai Kebangkitan Bangsa, pernah dan bahkan memiliki kegiatan rutin di masjid tersebut.

Pondok Pesantren Mahasiswa dan Mahasiswi STAIM

Bangunan tertua di kompleks pesantren al-Musaddadiyah tersebut adalah Masjidil-Ula al-Musaddadiyah. Didirikan oleh alm. Prof. K.H. Anwar Musaddadd r.m. Bersama-sama dengan putera beliau, K.H. Cecep Abdul Halim, Lc (kini menjadi ketua MUI Garut), beliau membangun pondok pesantren mahasiswa yang berada tepat di belakangnya. Khusus untuk mahasiswi, dibangun pesantren di Ciledug. Pesantren mahasiswi tersebut dipimpin oleh K.H. Toto Tantowi Musaddad bersama Istri beliau.

Setelah masjid dan pondok pesantren mahasiswa berdiri, masjid tersebut menjadi masjid jami di lingkungan Jayaraga, serta menjadi salah satu pusat pendidikan dan dakwah di Garut. Secara rutin masyarakat umum menghadiri kajian pengetahuan keislaman yang diberikan oleh alm. Prof. K.H. Anwar Musaddadd r.m. di masjid tersebut. Sementara itu, santri Sekolah Tinggi Agama Islam al-Musaddadiyah (STAIM) yang tinggal dibelakangnya, juga melakukan aktivitas di masjid tersebut, mulai dari kegiatan pengajaran hingga keorganisasian.

Beberapa tahun kemudian, pondok pesantren mahasiswa pindah ke Muara Sanding. Pondok persantren tersebut masih dipimpin oleh K.H. Cecep Abdul Halim Musaddad. Beliau memberi nama pondok pesantren dengan nama ‘al-Bayyinah’. Dengan dipindahkannya pesantren maka pusat aktivitas Islam santri mahasiswa beralih dari Masjidil-Ula ke tempatnya yang baru.

Anak Bimbingan al-Musaddadiyah (ABIM)

Setelah santri mahasiswa pindah ke Muara Sanding, bukan berarti masjid menjadi sepi dari kegiatan mahasiswa. ABIM adalah salah satu bentuk pelembagaan kegiatan mahasiswa STAIM di masjid tersebut. Jajaran pengurus generasi awal ABIM yang terdiri dari mahasiswa/i dan santri/iah mahasiswa/i STAIM, merupakan bukti bahwa sekalipun santri mahasiswa pindah ke Muara Sanding dan santriah mahasiswi tinggal di Ciledug yang lokasinya jauh dari Masjidil-Ula, mereka tetap menjadikan Masjidil-Ula sebagai sentra kegiatan mereka. Kebetulan Masjidil-Ula merupakan masjid kampus mereka dan mereka memiliki cukup banyak waktu untuk menyelenggarakan pengajian anak-anak serta kegiatan lainnya di Masjidil-Ula. Beberapa tahun kemudian, Yayasan al-Musaddadiyah menjadikan ABIM sebagai bagian dari institusi pendidikan dan dakwahnya.

Kemudian peran mahasiswa/i dan santri/iah mahasiswa/i STAIM di ABIM jadi berkurang. Bahkan terkesan bahwa ABIM bukan lagi merupakan bagian dari kegiatan mereka. ABIM dikelola oleh sebagian dari mereka yang sudah lulus dan menjadi pengurus atau tenaga pengajar di lingkungan pondok pesantren dan institusi pendidikan formal al-Musaddadiyah. Di tahun 2004 ini kita bisa melihat, bahwa ABIM telah menjadi lembaga independent yang terpisah dari aktivitas mahasiswa/i dan santri/iah mahasiswa/i STAIM.

Pondok Pesantren Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Beberapa tahun sebelum pondok pesantren mahasiswa STAIM dipindahkan ke Muara Sanding, Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STT-Garut) sudah berdiri. Beberapa mahasiswanya (khususnya dari rantauan), tinggal di pondok pesantren mahasiswa STAIM.

Setelah pondok pesantren dipindahkan, beberapa santri mahasiswa dari STT-Garut masih tinggal di lokasi pesantren lama. Kemudian, lembaga STT-Garut resmi menyelenggarakan Pondok Pesantren Mahasiswa STT-Garut bagi mahasiswanya dan menjadikannya sebagai bagian dari program pendidikannya. Pondok pesantren mahasiswa lama dijadikan pondok pesantren mahasiswa STT-Garut. Santriah mahasiswinya ditempatkan di pondok pesantren siswi al-Musaddadiyah yang dipimpin oleh K.H Abdullah Margani Musaddad, Ir.

Pondok pesantren Mahasiswa/i STT-Garut dipimpin oleh alm. Dr. Maman Abdurrahman Musaddad, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada waktu itu. Kegiatan santri mahasiswa di pondok pesantren tidak jauh beda dengan santri mahasiswa sebelumnya, yakni mengkaji pengetahuan Islam klasik setiap ba’da Maghrib dan ba’da Subuh.

Metode salaf yang diterapkan di pesantren mahasiswa STT-Garut adalah merupakan kelanjutan dari tradisi pesantren mahasiswa sebelumnya. Kekhususan mahasiswa teknik dari sisi karakter, latar belakang pendidikan, kebutuhan pengetahuan, dan tuntutan propesinya di masa depan, kemudian menjadi sebab terjadinya upaya penyesuaian metode, kurikulum dan bentuk kegiatan di pondok pesantren ini.

Menjelang tahun 1998, alm. Dr. Maman Abdurrahman Musaddad mengajukan usulan untuk mengadakan aktivitas keteknikan dalam aktivitas pondok pesantren. Beliau telah mempersiapkan format sistem yang dipandang mendukung keterbutuhan menyeluruh santri mahasiswa STT-Garut. Sebagai langkah persiapan, beliau membangun perpustakaan yang rencananya akan diisi oleh referensi-referensi keagamaan dan keteknikan. Seandainya usia beliau panjang, mungkin pondok pesantren ini akan seperti pondok pesantren pertanian di Bogor. Namun Alloh berkehendak lain, beliau dipanggil-Nya pada tahun 1998. Selanjutnya kedudukan beliau digantikan oleh Ust. Drs. Asep Saepuddin Musaddad.

Pergeseran Menuju Pergerakan

Di masa kepemimpinan Ust. Drs. Asep Saepuddin Musaddad, santri mahasiswa STT-Garut dikenalkan kepada bentuk aktivitas baru, yakni pergerakan. Puncak persentuhan santri mahasiswa dengan aktivitas pergerakan dirasakan oleh angkatan terakhir. Keterlibatan mereka dalam Musayawarah Daerah Front Pembela Islam I Jawa Barat telah membukakan ide-ide pergerakan dalam benak. Mereka kini mulai memiliki banyak referensi tentang pergerakan. Diskusi dan tulisan yang awalnya lebih didominasi oleh materi kejiwaan, kini mulai bergeser ke arah pergerakan. Lembar propaganda “Independent” merupakan salah satu contoh bentuk aktivitas pergerakan mereka yang bersifat politis.

Hingga penghujung tahun 1999, aktivitas dakwah mereka baru sebatas pemikiran-pemikiran tertulis yang dipublikasikan melalui jaringan persaudaraan yang mereka miliki. Tahun 2000, barulah mereka mulai mengadakan kajian terbuka. Mereka adalah yang pertama kali mengadakan kajian Audio-Visual di lingkungan pesantren al-Musaddadiyah. Bisa ditebak, kajian Auido-Visualnya tidak jauh dari ide-ide pergerakan. Mereka mengangkat isu Palestina dan perjuangan Islam lainnya dalam kajian-kajiannya.

Di akhir tahun 2000, mereka memunculkan ide Komunitas Ilmiah al-Musaddadiyah, yang merupakan forum komunikasi dan komite bersama kegiatan Islam antar mahasiswa dan pelajar di lingkungan al-Musaddadiyah. Beberapa bulan setelah ide itu lahir, bahkan ada upaya untuk menjadikan ide lebih besar lagi, yakni membangun komunitas aktivis Islam. Secara informal mereka mulai melakukan dialog dan pendekatan dengan aktivis organisasi mahasiswa seperti HMI dan KAMMI. Kesibukan mereka dalam membangun usaha-usaha mempertahankan eksistensi pondok pesantren mahasiswa telah menyedot perhatian, sehingga ide besar tersebut terabaikan.

Masa Kemunduran

Tidak semua mahasiswa teknik yang menjadi santri di sana, memiliki latar belakang pengetahuan agama yang baik dan semangat keislaman yang kuat. Inilah kiranya yang menjadi sebab pada tahun-tahun kedua, beberapa ustadz mengundurkan diri. Metode salaf yang dirasa memberatkan santri mahasiswa, telah menyebabkan sistem terbentuk tidak seperti yang diharapkan oleh beberapa ustadz. Sementara itu, tidak ada orang di sana selain alm. Dr. Maman Abdurrahman Musaddad yang dapat berbicara dan merealisasikan sistem yang tepat bagi santri mahasiswa teknik.

Sekalipun telah dilakukan upaya penyesuaian kurikulum dan kegiatan, namun perubahan itu tidak menyentuh aspek pembentukan kepribadian santri mahasiswa. Oleh karenannya, keadaan sistem tidak berubah, malah menjadi mundur. Terlebih setelah fungsi pengasuhan tidak berjalan, mahasiswa yang memang pada awalnya tidak memiliki ketertarikan pada sistem, lebih leluasa menjadikan sistem jauh keadaannya dari yang diharapkan.

Ketidaktertarikan sebagian besar ustadz dalam mengurusi pondok pesantren mahasiswa STT-Garut, ikut menjadi faktor kemunduran sistem. Walau demikian, sebagian kecil santri yang memang pada awalnya membutuhkan keberadaan sistem, tetap berusaha menjaga eksistensi kegiatan pondok pesantren. Seandainya ustadz yang kebanyakan berlatar belakang pendidikan pesantren salaf memiliki pengetahuan tentang keteknikan, dan sebagian kecil santri mahasiswa tersebut memiliki pengetahuan dan semangat keislaman yang cukup, tentu sistem bisa dipertahankan untuk tidak jatuh dan tidak pasif.

Ide alm. Dr. Maman Abdurrahman Musaddad masih diikuti oleh sebagian santri mahasiswa STT-Garut yang berusaha mempertahankan kegiatan pondok pesantren. Keadaan sistem yang tidak menguntungkan mereka telah membuat mereka tertuntut untuk membuat rumusan tentang Pesantren Teknik al-Musaddadiyah.

Rumusan tersebut merupakan implementasi dari ide, pemikiran, dan rencana alm. Dr. Maman Abdurrahman Musaddad. Diharapkan rumusan tersebut dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh pondok pesantren mahasiswa STT-Garut. Namun sebelum sempat rumusan itu diajukan dan dibicarakan, penyelenggaraan pondok pesantren mahasiswa STT-Garut dihentikan. Sekalipun mereka sempat mengajukan keberatan dengan keputusan penghentian tersebut, tetapi pada akhirnya mereka tidak dapat mencegah penghentiannya. Tidak banyak kekuatan yang mereka miliki.

STT-Garut telah melepaskan pondok pesantren mahasiswa dari programnya pada saat sistem menjadi mundur. Setelah pondok pesantren dihentikan, keberadaannya berubah menjadi asrama bagi mahasiswa STT-Garut. Hingga saat ini, beberapa mahasiswa STT-Garut masih tinggal di sana. Beberapa tahun ke depan, asrama itupun akan ditiadakan. Tidak banyak aktivitas keislaman mahasiswa STT-Garut yang bisa dilihat setelah pondok pesantren mahasiswa STT-Garut ditiadakan. Sebagian santri yang masih tinggal di sana memiliki aktivitas pribadi. Selanjutnya, gerakan dakwah mereka beralih ke kampus.

Realisasi Ide Pesantren Teknik

Beberapa santri mahasiswa STT-Garut yang memiliki ide Pesantren Teknik masih tinggal di sana. Mereka masih tetap melakukan aktivitas keislaman. Ide Pesantren Teknik direalisasikan oleh mereka dalam bentuk buletin kampus “Persepsi”. Mereka tetap melakukan diskusi keagamaan dan menghimpun karya tulis mereka dalam bulletin “Raudlotul-Ulum” yang kemudian dipublikasikan melalui jaringan persaudaraan mereka yang berada di kota Purwakarta, Tasikmalaya, Subang, dan Garut.

Tujuan kajian mereka di buletin Persepsi adalah memasukan pemikiran-pemikiran yang dapat menjadikan kampus STT-Garut sebagai ‘Pesantren Teknik’ bagi mahasiswa/i STT-Garut. Tetapi mereka mencukupkan diri dengan hanya sekedar mewujudkan Pesantren Teknik dalam buletin saja, artinya buletin tersebut merupakan Pesantren Teknik mereka dan pembacanya.

Lain dengan bulletin Raudlotul-Ulum yang lebih didominasi oleh kajian Tazkiyatun-Nafs, Persepsi lebih dipenuhi oleh pemikiran kritis terhadap sistem pendidikan STT-Garut. Buletin itu mencoba menawarkan rumusan dan solusi bagi sistem yang dibangun berdasarkan referensi-referensi Islam. Sebagian rumusan yang ditawarkannya, ada yang diterima dan direalisasikan oleh lembaga STT-Garut.

Gerakan Dakwah Kampus

Di tahun 2000, mereka mulai dekat dengan senat mahasiswa dan lembaga mahasiswa lainnya. Kedekatan tersebut membuat mereka dilibatkan dalam beberapa kegiatan dan persoalan aktivitas mahasiswa secara umum. Kesempatan tersebut merupakan jalan bagi mereka untuk melakukan Islamisasi dalam komunitas mahasiswa.

Kesempatan terbesar mereka dimulai dengan diberinya mereka kesempatan untuk merancang acara diklat senat mahasiswa sesi keislaman. Setelah itu, mereka terlibat dalam dialog tentang format baru orientasi pengenalan kampus bagi mahasiswa baru. Hingga pada akhirnya konsep orientasi pengenalan kampus mereka yang dibangun atas dasar keislaman diterima dan dijalankan pada orientasi pengenalan kampus. Komite menuliskan konsepnya dalam bentuk panduan bagi panitia, lalu disosialisasikan kepada semua panitia yang terlibat.

Selain melakukan kegiatan pengkritisan terhadap sistem secara single fighter, dalam suatu kesempatan merekapun menerima ajakan dari salah satu unit kerja mahasiswa untuk melakukan aktivitas pengkritisan isu tertentu. Mereka tidak memperdulikan soal ideologi yang dianut oleh mahasiswa di unit kerja tersebut yang berbeda dengan mereka. Yang terpenting bagi mereka adalah apa yang dilakukan tidak bertentangan dengan ide dan mereka bekerja dalam lingkungan toleransi yang baik.

Sebelum Persepsi terlahir, bulletin sebelumnya adalah Jurnal Kampus. Jurnal ini terbit pada saat mereka bergabung dalam aktivitas senat mahasiswa. Jurnal tersebut merupakan media pemikiran dan sosialisasi hasil-hasil yang dicapai oleh mahasiswa dalam kegiatannya di kampus. Isinya seputar kegiatan senat mahasiswa, dan tidak ditemukan kajian keislaman padanya. Jurnal itu diterbitkan setelah secara formal ketua senat mahasiswa meminta mereka untuk meluncurkan sebuah jurnal yang mengulas kegiatan mahasiswa di seputar orientasi pengenalan kampus.

Pada satu kesempatan, mereka menjadikan jurnal menjadi alat untuk menengahi konflik yang terjadi di antara mahasiswa, khususnya yang terjadi antara senat mahasiswa dengan oposisi mereka, yakni MAPALA yang merupakan salah satu unit kerja mahasiswa di STT-Garut. Kedekatan mereka dengan senat mahasiswa dan MAPALA telah menjadikan mereka sebagai alat untuk mengkomunikasikan aspirasi MAPALA dengan bahasa yang dapat diterima oleh senat mahasiswa, dan juga begitu juga sebaliknya

Pada saat jurnal ini terbit, bulletin Raudlotul-Ulum dan Lembar Independent telah terbit. Dengan demikian mereka tetap menuliskan kajian keislamannya dan tidak terjadi pergeseran ide dan semangat mereka.

Ada satu tujuan yang ingin dicapai oleh mereka dalam kedekatan mereka dengan senat mahasiswa, yakni bertambahnya kekuatan mereka untuk mempertahankan eksistensi pondok pesantren mahasiswa STT-Garut. Saat mereka bergabung dalam kegiatan di kampus, mereka sedang menghadapi masa-masa sulit mempertahankan eksistensi pondok pesantren mereka. Mereka ingin agar kemudian senat mahasiswa ikut memperjuangkan apa yang sedang mereka perjuangkan.

Apa yang mereka harapkan terwujud, ketua senat mahasiswa saat itu bersedia berusaha bersama mereka. Senat mahasiswa kemudian memilih mereka untuk menduduki jabatan di senat mahasiswa, dalam urusan jurnalistik dan pengembangan masjid. Pembentukan pesantren Teknik al-Musaddadiyah merupakan salah satu tujuan dari urusan pengembangan masjid.

Setelah upaya mempertahankan eksistensi pondok pesantren mahasiswa STT-Garut gagal, kemudian muncul ide pembentukan Lembaga Dakwah Kampus. Di awali dengan perkenalan mereka dengan salah satu Ikhwan jaringan Depok yang menawarkan pembentukan Lembaga Dakwah Kampus di STT-Garut. Beberapa minggu kemudian, salah satu anggota senat mahasiswa yang merupakan aktivis HMI mengusulkan hal serupa.

Seiring dengan mundurnya gerakan mahasiswa di kampus di tahun 2001, senat mahasiswa dan unit kerjanyapun menjadi mundur pula. Demikian pula halnya dengan divisi jurnalistik dan pengembangan masjid. Terlebih setelah lembaga STT-Garut menarik pengelola Persepsi yang juga menjadi pengurus divisi jurnalistik dan pengembangan masjid menjadi pengurus di laboratorium komputer, maka kegiatannya jadi lebih tersita untuk kegiatan di laboratorium. Setelah itu, Persepsi tidak terbit lagi.

Untuk beberapa bulan, kampus sepi dari segala bentuk aktivitas ekstra kampus. Tetapi di akhir tahun 2003, beberapa aktivis mulai menggagas kegiatan di unit kerjanya masing-masing. Mereka menggerakkan kegiatan di tingkat local (himpunan atau unit kerja) untuk kemudian menggabungkannya dengan kekuatan local lainnya, sehingga senat mahasiswa kemudian dapat hidup kembali. Di saat itu, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) berdiri.Hingga tahun 2004, LDK memiliki kepengurusan dan aktivitas di Masjid Kampus. Hanya hingga saat ini, belum ada kegiatan besar yang melibatkan seluruh anggota komunitas Ilmiah di STT-Garut yang diadakan oleh LDK. Mungkin beberapa waktu ke depan, insya Alloh LDK akan lebih maju dan berkembang, serta memberi kontribusi strategis bagi pembentukan karakter ilmiah islamiah di STT-Garut.

15 Februari 2009

Moses Leadership Development Life Cycle


Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir`aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (Q.S. al-A’raaf : 129)
Moses LDLC (Source: Rinda Cahyana, Pelajaran Kepemimpinan dari Sumber Hukum Islam)

Setiap Manusia Memiliki Kelengkapan Diri Untuk Menjadi Seorang Pemimpin
Sejak awal, manusia diciptakan dengan membawa kelengkapan atau potensi dasar seperti perasaan (hati), penglihatan (mata) dan pendengaran (telinga) untuk dapat menjalankan berbagai kewajiban dalam kepemimpinan, seperti pelayanan, perhitungan, pengorganisian dan pertanggungjawaban. Manusia diberikan potensi akal budi dan panca indra untuk melihat, mendengar, meresapi, memikirkan, membuat berbagai bentuk pelayanan, dan kemudian menjalankannya. Juga memiliki hati untuk memilih jenis pelayanan dan jalan pengamalannya, serta memiliki kemampuan berkomunikasi untuk menyampaikan hasil kepemimpinannya. Lebih dari itu, manusia mampu mengorganisir aktifitas pelayanannya dalam sistem kepemimpinan atau pemerintahan.

Dengan potensi dan karunia yang dimilikinya, manusia dapat tampil di muka bumi sebagai pemimpin yang unggul dalam membangun peradaban di muka bumi (berikut sistem kepemimpinannya) dibandingkan mahluk lainnya. Hal itu disebabkan karena tingkat pencapaian ilmu manusia melebihi mahluk lainnya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (Q.S. al-Baqarah : 30-33)

Tanpa karunia dari Alloh ini, manusia tidak akan pernah sampai pada tingkat pencapaian seperti itu.

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (Q.S. an-Naml : 62)

Dan apabila manusia tidak menggunakan potensi dasar kepemimpinannya dengan sebaik-baiknya, maka mereka tidak akan menjadi seorang pemimpin yang sukses. Misi kepemimpinannya akan gagal, dan ia akan dicemooh dan menderita setelah tidak dapat melaksanakan dan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya sebaik-baiknya.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. al-A’raaf: 179)

Definisi Pemimpin
Muhammad bin Abdullah SAW mendefinisikan pemimpin sebagai pelayan bagi kaum yang dipimpinnya, sebagaimana sabda beliau. “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (H.R. Abu Na’im) Artinya, seorang pemimpin akan melakukan tugas pelayanan, yakni memenuhi segala kebutuhan kaumnya dan tidak berlaku semena-mena. Dengan kata lain, kepemimpinan adalah tugas pelayanan. Maka pemimpin yang tidak memperhatikan nasib dan tidak melayani kebutuhan orang yang dipimpinnya, dianggap belum menjalankan tugas kepemimpinan.

Di tempat yang lain, Muhammad SAW memperluas arti kepemimpinan, bahwa kepemimpinan itu bukan hanya dalam berbangsa atau bernegara saja, tetapi juga dalam pekerjaan, keluarga, dan pemimpin bagi dirinya sendiri.

Setiap kamu adalah pemimpin (mas_uulun) dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin dan bertanggung jwab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (H.R. Bukhori – Muslim)

Mengingat pentingnya masalah kepemimpinan dan kesuksesannya bagi manusia, maka setiap manusia tertuntut untuk memiliki wawasan kepemimpinan, dan memiliki acuan untuk membangun metode atau jalan yang tepat menuju kepemimpinan yang sukses. Wawasan tersebut minimalnya harus meliputi soal daur kepemimpinan, tujuan kepemimpinan, bentuk-bentuk kepemimpinan, dan pengatahuan akan factor penghambat dan pendukungnya.

B. PEMBAHASAN
Kewajiban Pemimpin

Dalam hadits riwat Bukhori dan Muslim tersebut Beliau SAW menegaskan bahwa setiap pemimpin selain wajib melayani orang yang dipimpinnya juga wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, yakni presiden kepada rakyat atau bangsanya, karyawan kepada atasannya, istri kepada suaminya, anak kepada ayahnya, dan seseorang kepada dirinya sendiri. Maka pemimpin yang tidak dapat atau tidak mau mempertanggungjawabkan kepemimpinannya dianggap tidak memenuhi kewajibannya yang kedua setelah melakukan tugas pelayanan.

Lelaki Pemimpin Perempuan
Seperti yang tergambar dalam hadits riwayat Bukhori dan Muslim terdahulu, seorang lelaki memiliki tugas kepemimpinan, dan demikin pula dengan wanita. Dalam konteks rumah tangga, kepemimpinan rumah tangganya secara umum dipegang oleh lelaki, dan kepemimpinan atas harta dan rumah suami dipegang oleh istri.

Dalam Islam, kaum lelaki akan menjadi pemimpin bagi kaum perempuan karena ada kelebihan yang Alloh berikan kepada lelaki yang tidak diberikan kepada perempuan. Di dalam surat an-Nisaa’ kepemimpinan juga didasarkan kepada siapa yang memberi nafkah maka dia yang dianggap pemimpin. Seandainya pada jaman sekarang wanita dapat mencari nafkah untuk suaminya atau dipilih menjadi pemimpin Negara, tetapi kelebihan yang Alloh berikan kepada lelaki tidak dimiliki oleh perempuan, yang karenanya tidak merubah status lelaki sebagai pemimpin wanita.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Q.S. an-Nisaa’ : 34)

Kewajiban Utama Kepemimpinan Wanita
Tentang ayat “Lelaki memiliki beberapa kelebihan atas wanita”, Muqatil, as-Sadi, dan adh-Dhahak berkata, maka wanita wajib menaati laki-laki sebagaimana telah diperintahkan Alloh untuk menaati Alloh dan suaminya, berlaku baik terhadap suami, dan memelihara hartanya (ar-Rifa’i: 703).

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasululloh SAW bersabda, “Sebaik-baiknya wanita ialah seorang istri yang jika kamu (suaminya) memandangnya maka ia menyenangkanmu; jika kamu menyuruhnya, dan dia menaatimu; dan jika kamu tidak ada, dia menjaga dirinya untukmu dan menjaga hartanya.”

Dari hadits tersebut diketahui bahwa lingkup kepemimpinan wanita yang utama adalah di dalam keluarganya, dengan menjalankan tugas pelayanan kepada keluarga seperti menjaga nama baik keluarga, menjaga hubungan dan kepercayaan sang pemimpin (suami) kepada dirinya, menjaga asset keluarga seperti harta keluarga, dan lain sebagainya.

Keadilan Sebagai Kunci Keberhasilan Dalam Kepemimpinan
Prinsip keadilan dianggap sebagai faktor utama dalam mewujudkan kepemimpinan yang berhasil. Keberhasilan kepemimpinan umat Islam dalam memimpin dunia, membangun peradaban besar di muka bumi sepanjang sejarah manusia adalah disebabkan karena ajaran agamanya telah membina mereka sebagai umat yang adil yang menerapkan keadilan dalam sistem kepemimpinannya, baik dalam lingkup individu, keluarga, berbangsa, maupun bernegara.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Q.S. al-Baqarah : 143)

Secara keseluruhan, ajaran Islam merupakan ajaran kehidupan yang mengarahkan manusia untuk mewujudkan perikehidupan yang berkeadilan,sebagaimana firman Alloh SWT, “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-An’aam : 115)

Agama Islam mengajarkan keadilan dan menyeru umat Islam untuk menerapkan prinsip keadilan dalam seluruh bidang kehidupan, sebagaimana firman Alloh SWT, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. an-Nahl: 90)

Misalnya dalam pengurusan anak yatim oleh Negara atau oleh siapapun, Islam mengajarkan: Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya". (Q.S. An-Nisaa’ 127)

Dan dalam urusan niaga, Islam mengajarkan: Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu., (Q.S. ar-Rahman: 9)

Prinsip keadilan dalam berniaga ini bukan hanya berlaku pada masa Islam pimpinan Muhammad bin Abdullah SAW saja, tetapi telah berlaku pada masa Islam sebelumnya Dan Syu`aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Q.S. Huud: 85)

Semua Nabi dan Rasul agama Islam dari jaman dulu hingga Muhammad SAW, yang membawa risalah keadilan dan meletakkan dasar-dasarnya untuk pertama kali, meraih kesuksesan kepemimpinan dalam agama dengan keadilan: Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (Q.S. Yunus 47)

Dan Alloh yang mengajarkan manusia untuk bersikap adil telah mewajibkan keadilan atas diri-Nya sendiri, yang karenanya Dia dinamai al-Adl (Yang Maha Adil). Keberhasilan kepemimpinan dan kekuasaan Alloh atas manusia khususnya dan seluruh mahluk-Nya di alam Dunia dicapai dengan penghisaban yang adil di Akhirat:

Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. (Q.S. Yunis: 4)

Beberapa Sikap Yang Menjadi Faktor Keberhasilan Pemimpin
Untuk mewujudkan keadilan, diperlukan sikap kepemimpinan. Sikap ini meliputi itikad atau komitmen pribadi, amal pelayanan terpuji yang patut dicontoh, menjaga hubungan baik dengan sesama pemimpin lainnya, dan dakwah kepada kepemimpinan yang sebaik-bainya.

1. Penegak Keadilan
Seorang pemimpin dalam misi pelayanannya harus menjadi penegak keadilan, jujur, dan menahan diri dari mengikuti hawa nafsu diri sendiri maupun orang lain.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. (Q.S. an-Nisaa’ : 135)

2. Pembangun dan Pengamal Budaya Fastabiqul Khoirot Dalam Lingkungannya
Pemimpin harus berpegang teguh kepada aturan dan jalan kepemimpinan yang benar, membangun budaya fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan, termasuk di dalamnya bidaya disiplin kerja) dalam lingkungan kepemimpinannya.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (al-Maidah: 48)

3. Mengikuti Aturan Dalam Setiap keputusan
Pemimpin harus memutuskan segala persoalan dengan menurut apa yang ditetapkan oleh Alloh, dan oleh peraturan organisasi dan administrasi, atau norma social yang diridloi Alloh, bersikap waspada terhadap orang-orang yang memiliki motif untuk mempermainkan atau bahkan menggagalkan kepemimpinan, dan bertawakal kepada Alloh SWT.

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. al-Maidah: 49)

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Q.S. Shaad : 26)

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Q.S. al-Mu’minuun 71)

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Q.S. al-Jaatsiyah: 18)

4. Menjadi Teladan (Uswatun Hasanah)
Dan seharusnya pemimpin itu menjadi uswatun hasanah, atau teladan baik bagi orang yang dipimpinnya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (Q.S. An-Nahl : 120)

5. Bersikap Objektif
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Maidah: 8)

6. Tugas Kepemimpinan Yang Proporsional
Alloh telah membagi karunia yang berbeda antara lelaki dan wanita dengan maksud agar lelaki dapat menjadi pemimpin bagi wanita. Dan Alloh telah meletakan tugas utama kepemimpinan wanita di lingkungan keluarganya. Alloh melarang ketidaktaatan atas pembagian ini dan sikap mengambil urusan kepemimpinan yang bukan bagiannya. Contoh pelarangan Alloh diperlihatkan dalam hadist berikut ini: “Tidak akan memperoleh keberhasilan suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita” (HR Bukhori)

Dengan kata lain, bahwa tugas kepemimpinan diberikan atau diambil dengan memperhatikan kompetensi dari pengemban amanah kepemimpinan, dan didistribusikan dengan porsi yang tepat.

Pengawasan Sebagai Modal Dasar Dalam Mencapai Keberhasilan
Alloh mengingatkan baik dalam surat an-Nisaa’ ayat 58 ataupun suart al-Maidah ayat 8, bahwa sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh manusia atau seorang pemimpin. Sikap sadar kaum muslimin akan adanya pengawasan dan adanya konsekuensi atas hasil kepemimpinannya (penghargaan atau hukuman, pahala atau siksa) dari dirinya sendiri, orang-orang yang dipimpinnya, dan dari Atasannya inilah yang jadi control atau sumber kekuatan untuk mencapai keberhasilan.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (Q.S. Az-Zalzalah : 7-8)

Sementara kegagalan manusia dalam kepemimpinannya, adalah disebabkan “karena mereka melupakan hari perhitungan”. (Q.S. Shaad : 26). Dalam tafsir hari perhitungan yang di maksud adalah di Akhirat. Sementara di dunia, manusia dimintai pertanggungjawabannya oleh orang yang dipimpinnya (sesama) atau yang memberinya amanat kepemimpinan (Atasan).

Dalam Islam, kekuatan kepemimpinan bersumber dari takwa kepada Alloh, yakni istiqomah (berketetapan) dalam menaati Alloh, Tuhan yang mengajarkan dan mengarahkan manusia melalui agamanya pada pola kehidupan yang berkeadilan, dan menjauhi segala larangannya yang termasuk didalamnya adalah mengikuti hawa nafsu.

Islam memberi lawan dari menaati hukum dengan hawa nafsu. Demikian pula Islam akan menyebut perilaku manusia yang tidak menjalankan prinsif keadilan dan prinsif lainnya yang dapat membawa manusia kepada kegagalan dalam kepemimpinannya sebagai mengikuti hawa nafsu.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. An-Nisaa’ : 58)

Daur Kepemimpinan Musa : Perjalanan Untuk Menjadi Seorang Pemimpin Yang Sukses
Musa A.S. mengemukakan perjalanan kepemimpinan yang berhasil mengikuti alur perjalanan berikut ini:



  1. Memerdekakan diri (RIYADHOH)


  2. Melaksanakan tugas pelayanan (AMAL),


  3. Mengawasi kelurusan langkah (MUHASABAH)


  4. Mempertanggungjawabkan kepemimpinannya (AMANAH).


Sebagaimana terkandung dalam doa beliau untuk Bani Israil: Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir`aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (Q.S. al-A’raaf : 129)

Kalimat "membinasakan musuhmu" interpretasinya bisa berarti membebaskan diri kita dari segala hal yang mengganggu atau mengancam kepemimpinan. Sementara kalimat "menjadikan kamu Khalifah di bumi" artinya menjadi pemimpin dalam arti yang luas, dengan menjalankan semua proses bisnis pelayanan. Kalimat "maka Alloh akan melihat bagaimana perbuatanmu" mengingatkan pemimpin untuk dapat bersikap ihsan, taat kepada aturan dalam konteks luas dan takut melanggar aturan. Untuk mendapatkan pribadi bertaqwa dengan ihsan, maka harus ditempuh dengan melakukan inrospeksi diri dengan berbagai pengukuran (assesment), menganalisa proses yang telah dilakukan, menangani resiko (risk management) yang mungkin akan muncul sebagai akibat proses tersebut, melihat perkembangan untuk mengukur tingkat pencapaian (maturity level) yang dilakukan dalam rangka process improvement. Semua itu dilakukan dalam rangka mewujudkan kepemimpinan yang berhasil berdasarkan strategi dan kebijakan yang matang, untuk terlepas dari jerat hukum dan bahkan mendapatkan value added yang tidak terhingga atau yang tiak terkirakan.

Memerdekakan diri dalam artian membangun berbagai hal yang menjadi factor keberhasilan dan menghindarkan diri atau meruntuhkan berbagai hal yang menjadi factor kegagalan dalam kepemimpinan. Apabila para pemimpin berhasil mencapai kemerdekaan diri dan menggunakan segala kebaikan dari kebebasan untuk mewujudkan segala amal saleh yang merupakan bagian tugas pelayanan, dengan mengikuti jalan yang baik, yang dipuji oleh pemberi amanat, dan terhindar dari amal sebaliknya yang dicela, maka mereka akan mendapatkan kesuksesan dalam kepemimpinannya. Mereka akan merasa aman sentausa karena merasa tidak akan terjadi hal yang buruk dalam acara pertanggungjawabannya nanti dan akan memperoleh balasan kebaikan yang banyak, apakah itu pengampunan dari kesalahan ataupun berbagai kesenangan;

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. an-Nuur : 55)

Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (Q.S. Thaahaa: 112) Aman sentosa itu dirasakan sepanjang mereka meyakini bahwa pemberi amanat yang menilai akan bersikap adil terhadap dirinya.

Kesuksesan tidak akan tercapai kecuali sorang pemimpin selalu melakukan penilaian terhadap pekerjaan (Muhasabah) untuk mengukur tingkat keberhasilannya, yang kemudian dilanjutkan dengan mengakui kekuarang (taubat) dan memperbaiki diri.. Selain itu, pemimpin harus sering mengikuti pendidikan dan latihan (Riyadloh) untuk memperbaharui sikap istiqomah dalam menaati perintah dan aturan pemberi amanah atau pemimpinnya, dan meningkatkan daya juang, agar kepercayaan pemberi amanah meningkat padanya.

Selain itu, seorang pemimpin harus memperbaharui amal dengan mengambil pelajaran atas segala keberhasilan dan kegagalan amal. Dan yang terakhir seorang pemimpin harus Amanah, serta meyakni bahwa kegagalan itu harus dihindari, dan keberhasilan itu menjadi tujuan. Keyakinan tersebut kemudian akan menjadi stimulus atau motivasi yang bisa melahirkan amal perbaikan.

Empat Golongan Pemimpin
Pertama Pemimpin yang bersikap berlebih-lebihan (ekstrim) terhadap aturan dan jalan kepemimpinan dengan cara yang tidak benar. Pemimpin seperti ini membutuhkan penyadaran dengan dialog sehingga menjadi jelas yang benar dan yang keliru, tetapi tidak perlu memberinya motivasi dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." (Q.S. al-Maidah: 77)

Kedua, Pemimpin yang bersikap seakan-akan tahu dalam ketidaktahuannya. Pemimpin seperti ini harus diberikan pengetahuan dan diberi pendidikan dan latihan pembinaan ahlak.

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.(Q.S. al-An’aam: 119)

Ketiga, Pemimpin yang mendustakan aturan dan jalan kepemimpinan atau bersikap sombong. Pemimpin seperti ini harus ditegur dan jika perlu diberikan sangsi.

dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka. (Q.S. al-An’aam: 150)

Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Q.S. Muhammad: 16)

Keempat, sikap pemimpin yang faham dan sadar atas kekurangan dalam kepemimpinannya, melakukan perbaikan, dan menjalankan tugas kepemimpinan dengan sebaik-bainya. Sikap ini tercermin dalam pribadi Yusuf A.S. Pemimpin seperti ini harus diberi dukungan.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Yusuf: 53)

Enam Golongan Musuh Kepemimpinan
Yang menjadi musuh bagi kepemimpinan manusia adalah orang-orang berdosa. Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. (Q.S. asy-Syu’araa’ : 99). Golongan mereka antara lain sebagai berikut:

Pertama, musuh biasa yang terbukti berkeinginan keras untuk menggagalkan kepemimpinan, namun makarnya tidak berpengaruh terhadap pemimpin yang memperhatikan aturan dan dilindungi hukum.

Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.(Q.S. Ali Imran: 69)

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.(Q.S. Luqman: 6)

Kedua, orang yang nampak atau besikap seperti teman dekat, namun menjadi musuh karena mempengaruhi atau mengajak kepada jalan atau aturan yang tidak benar.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (Q.S. an-Nisaa’: 60)

Ketiga, pengikut hawa nafsu yang menyeru orang untuk meninggalkan aturan kepada hawa nafsunya tanpa pengetahuan, dan kekuatannya terletak pada banyaknya orang yang berfikiran sama dengan dirinya.

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. al-An’aam: 119)

Keempat, musuh yang memiliki kekuasaan yang memaksa dan para penyokong yang selalu menawarkan keuntungan-keuntungan yang berhasil mereka peroleh dari penyimpangan tugas kepemimpinan.

Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (Q.S. al-Ahzab: 67)

“Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). “(Q.S. al-A’raaf: 202)

“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (Q.S. al-An’aam: 113)

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih.” (Q.S. Yunus: 88)

Kelima, adalah diri sendiri, yang berlaku sombong dan tidak mengindahkan aturan dalam kepemimpinannya.

‘Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. al-An’aam: 43)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. at-Taubah: 115)

Keenam, musuh paling berbahaya yang memiliki sikap iri dengki yang sangat besar, memiliki ambisi kepemimpinan yang kuat namun jalan yang digunakannya sangat kotor, tidak segan untuk mendeklarasikan perang terhadap kepemimpinan orang yang dibencinya, dan memiliki catatan kesuksesan dalam menghancurkan kepemimpinan.

Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Q.S. Yaa siin: 62)

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"., (Q.S. al-Hijr: 39-40)

Siapa Yang Memastikan Pemimpin Telah Menjalankan Kewajibannya?
Yang memastikan seorang pemimpin telah menjalankan kewajibannya adalah siapapun yang dipimpinnya. Sebagaimana hadits berikut:

Setiap kamu adalah pemimpin (mas_uulun) dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin dan bertanggung jwab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (H.R. Bukhori – Muslim)

Merekalah yang akan mengukur tingkat keberhasilan suatu kepemimpinan adalah dirinya sendiri, orang yang dipimpinnya, atau atasan yang mengamanati kepemimpinan tersebut.

Majelis Pertanggungjawaban Yang Adil
Majelis pertanggungjawaban yang adil mengharuskan penilai memberikan bukti otentik dan juga saksi-saksi yang adil dalam dakwaan yang disampaikan kepada para pemimpin yang telah melaksanakan tugasnya, juga keputusan yang adil, sebagaimana tergambar dalam majelis pertanggungjawaban Alloh SWT dalam firman-Nya berikut ini:

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. (Q.S. az-Zumar: 69)

Demikian pula dengan pengadilan yang dilakukan pemimpin terhadap dirinya sendiri harus berdasarkan tuduhan dan keputusan yang objektif, dengan berdasarkan kepada fakta dan takaran aturan atau hukum dan ilmu.

C. KESIMPULAN
Setiap manusia memiliki potensi kepemimpinan, sehingga mampu menjalankan tugas kepemimpinan yang meliputi pelayanan dan pertanggung jawaban. Setiap manusia adalah pemimpin, yang karena kemampuannya bervariasi sehingga kemudian tugas kepemimpinannya bervariasi pula. Kesuksesan pemimpin dalam mencapai tujuan kepemimpinannya dan dalam menghadapi musuh kepemimpinannya terletak pada kesanggupannya dalam menegakan keadilan atas diri sendiri dan orang lain.

Untuk mewujudkan keadilan tersebut seorang pemimpin harus memiliki komitmen kepada keadilan, taat pada aturan, mengambil atau memberi tugas pelayanan secara proporsional (disesuaikan dengan kemampuan atau kompetensinya dan dengan prinsip mengutamakan orang yang lebih utama atas tugas tersebut), mengawasi rencana, amal, dan hasil kepemimpinannya, dan selalu mengadakan usaha perbaikan. Allohu a’lamu,

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. al-Furqaan : 74)

REFERENSI
[1] Choiruddin Hadhiri S.P. 1993. Klasifikasi kandungan al-Qur’an, Gema Insani Press, Indonesia.
[2] Dr. Muhammad Faiz Almath. 1974. Qobasun min nuri Muhammad SAW, Darul Kutub Alarabiyyah, Syria.
[3] Muhammad Nasib ar-Rifa’i. 1999. Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, Gema Insani Press, Jakarta.