Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

15 Januari 2010

Tenggelam Dalam Cinta-Nya [3] - Tawadlu

Bebanilah wajahmu dengan tawadlu, hingga engkau merasa berat untuk menampakan dirimu kepada hamba-hamba yang membutuhkan-Nya. Malulah kepada Allah apabila pada hati hamba-hamba-Nya engkau maujud. Karena kenampakan-Nya lebih pantas dibandingkan kenampakanmu.

Wahai jiwa, jika engkau menghendaki kewujudan-Nya dan tidak menghendaki kewujudanmu yang menghijabi, maka tawadlulah engkau kepada-Nya. Jangan engkau sebut-sebut dirimu dan sebut-sebutlah Dia. Lihatlah segala kebaikan yang ada padamu sebagai amal-Nya. Dan lihatlah segala keburukan yang ada pda dirimu sebagai bukti keterbutuhanmu kepada-Nya. Agar dengannya engkau elalu menyadari bahwa dirimu tidak dapat hidup tanpa diri-Nya.

Sesungguhnya adanya penyebutan atas dirimu atau tersaksikannya wujud kebaikanmu alam benak akan membuat-Nya tidak tersaksikan. Maka musnahkan dirimu di manapun dan kapanpun. Semoga dengannya engkau menjadi orang-orang yang disebut-sebut Allah di sisi-Nya. Sesungguhnya keagungan tersebut akan membuat dirimu diliputi oleh maghfirah Allah yang dipintakan oleh para malaikat-Nya yang menyaksikan bagaimana Ia menyebut-nyebut dirimu.

Engkau yang berusaha mengangungkan-Nya dalam hatimu dan hati hamba-hamba-Nya yang harus merasa malu kepada Allah apabila Ia buat engkau mujud di dalam hati hamba-Nya. Karena Ia telah menunjukan kesyukuran-Nya kepda dirimu atas pegagunganmu. Karna sekalipun Ia pasti akan menyebut-nyebut dirimu di antara hamba-hamba-Nya karena engkau telah menyebut-nyebu-Nya, engkau tetap tidak layak untuk maujud dalam hati siapapun.

Sesungguhnya kebaikan yang nampak pada dirimu, yang membuat engkau dicintai oleh hamba-hamba-Nya, dan yan membuat engkau terpatri dalam lubuk hati mereka adalah milik-Nya. Maka malulah jika engkau tidak berusaha mengingatkan mereka bahwa engkau yang fakir. tidak memiliki apapun atas terwujudnya semua yang mereka cintai pada dirimu. Dan malulah jika mereka tetap diliputi oleh kebutaan cinta dan tidak melepaskan pngagungannya kepada dirimu. Karena hanya Allah yang layak diagungkan, dan tidk pernah sedikitpun hamba Allah yang tawadlu memandang, ada seorang hamba yang berhak mendapatkan pengagungan karena keagungan dirinya yang tidak dia miliki.

2 komentar :

  1. sepakat terhadap apa yang anda utarakan,namun kata-kata seperti ini terlalu mendalam bagi orang awam,perkatan seperti ini biasanya di utarakan oleh orang-orang sufi yang tingkatannya sudah tinggi,karena prkataan seperti ini adalah perkataan tengtang tuhan terhadap hambanya yang boleh saya katakan adalah bahwa ini adalah lingkaran allah,atau sifatullah.di mana allah swt.menggagungkan hamba di depan mahluk.namun perlu saya koreksi di sini bahwa ujud allah adalah ujudnya dan bukan ujud mahluk,sedangkan ujud mahluk adalah ujud allah,karena bagaimana mahluk ada kalau allah swt tiada.masaalah tawadhu itu adalah penyerahan hamba terhadap halik,di mana seorang hamba menyerahkan dirinya pada halik,yang boleh jadi seperti apa yang anda katakan bahwa allah telah menjadi mahluk(manunggaling kawula gusti).atau bersatunya hamba dengan haliknya.semantara tengtang kebaikan dengan kejahatan itu hanya allah yang mengetahuinya,karena apa yang kita lakukan apakah itu kejahatan atau kebaikan catatannya hanya pada allah semata.karena menurut kita itu adalah kebaikan padahal bagi allah itu adalah kejahatan,menurut kita itu adalah kejahatan padahal bagi allah itu adalah kebaikan,dst.memang ketika seorang hamba telah bersatu dengan haliknya maka tiadalah kejahatan bagi mahluk tersebut sekalipun di mata manusia itu adalah ke jahatan(prilaku ia terhadap orang lain,seperti yang di contohkan khidir as.terhadap nabi musa as.)demikianlah komentar saya yang mungkin agak membingunkan.

    BalasHapus
  2. Saya melihat dari perkataan anda "Allah telah menjadi mahluk" sedang menggambarkan proses, di mana tatapan kita kepada Allah yang telah membuat mahluk sebagai gerbang menuju Allah menjadi sirna, sehingga bukan dia yang kita lihat tetapi Dia. Dalam situasi seperti ini, tidak tepat mengatakan mahluk bersatu dengan Khaliq, karena Khaliq ada di mana-mana, bukan hanya pada dirinya tetapi juga pada mahluk lainnya. Bagaimana seseorang menganggap dirinya bersatu dengan Khalik sementara pada selainnya dia melihat Khalik? Penyatuan itu tanpa penyebutan. Yang benar menurut pemahaman saya adalah Allah tidak pernah menjadi mahluk karena Dia sebenarnya "selalu di sana". Proses penyaksianlah yang menipu kita.

    Allah memang bisa menghilangkan nilai baik dan jahat dari sesuatu, tetapi kebaikan dan kejahatan sudah ditetapkan atas mahluk oleh Allah. Jadi apa yang dianggap-Nya sebagai kejahatan adalah kejahatan, dan apa yang dianggapnya sebagai kebaikan adalah kebaikan. Manusia bisa melihat sesuatu sebagai kebaikan atau kejahatan dengan merujuk kepada alQuran dan sunnah. Dalam dimensi kebaikan dan kejahatan, melihat "bersatu" hanya menyadarkan manusia kepada si Pencipta tetapi tidak menghindarkan ciptaannya menerima akibat. Dengan demikian, bukan hanya kesadaran yang perlu, tetapi juga keselarasan dengan syariat-Nya. Karena syariat tanpa tauhid itu syirik, tauhid tanpa syariat itu zindiq.

    Khidir memang menunjukan sesuatu yang tidak diketahui Musa, tetapi Khidir tidak menyalahi syariat-Nya. Semoga Tuhan memberi petunjuk.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya