Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

11 Februari 2010

Bukan hanya Isa yang menunjukan jalan lurus

Sebagian di antara manusia ada yang menyangka hanya Isa yang menunjukan jalan lurus berdasarkan ayat berikut ini:

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.(QS 43:61)

Padahal aku di sana bukan Isa, tetapi TUHAN. Jalan lurus dalam konteks ayat tersebut dalam tafsir Ibn Katsir adalah mengikuti Tuhan mengenai apa yang telah Tuhan beritakan dan meyakini kebenarannya. Kebalikan dari jalan lurus adalah menolak kebenaran karena dipalingkan oleh setan.

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (AQ 43:44)

Walau demikian sebagaimana Nabi lainnya, Isa pun menunjukan manusia kepada jalan yang lurus.

Dalam al-Fatihah disebutkan:

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS 1:6-7)

Sangat jelas bahwa jalan lurus itu bukan jalan yang hanya ditunjukan Isa saja, melainkan juga oleh Nabi dan Rasul lainnya. Karena mereka yang menapaki jalan lurus itu hidup pada masa sebelum, pada saat, dan setelah Isa.

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS: 4:69).

Menurut tafsir Ibn Katsir, mereka yang berpaling dari jalan lurus karena mengikuti setan adalah mereka yang dimurkai, yakni yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya, dan mereka yang sesat, yakni mereka yang beramal tanpa ilmu.

Sifat Yahudi yang paling spesifik adalah dimurkai, sebagaimana firman ALLAH:

Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi424 dan (orang yang) menyembah thaghut ?". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS: 5:60)

Sifat Nasrani yang paling spesifik ialah kesesatan, sebagaimana firman ALLAH:

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (QS:5:77)

Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu adalah melampaui batas dalam menghormati Isa sehingga mengeluarkan Isa dari kerangka kenabiannya ke kerangka ketuhanan sehingga Isa dijadikan Tuhan selain ALLAH. Kesesatan itu disebabkan karena orang kalian mengikuti Paulus yang sesat dengan mengatakan Isa sebagai Tuhan padahal jelas Isa menyuruh umatnya untuk menegakan hukum utama yakni tidak menyekutukan Tuhan. ALLAH menyuruh anda untuk mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dari jalan yang lurus.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (ALI ‘IMRAN (KELUARGA ‘IMRAN) ayat 64)

03 Februari 2010

Ikhlas dalam Kekhusyuan

Wujud diri sendiri itu adalah dosa paling besar, lebih besar dibandingkan semua dosa yang ada
(Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Sirril Asrar)

Apabila kita khusyu, melihat dengan mata hati kita sehingga tersaksikan oleh kita hal-hal yang mengingatkan kepada sumber ketentraman bathin, maka akan bersinarlah wajah kita. Kita yang tertutup mata hatinya, maka wajah kita tidak bersinar sama sekali. Walau demikian, bukan sinar wajah yang kita butuhkan dan kita tuju, sebab sinar itu merupakan akibat dari khusyu dan ujian keikhlasan. Yang kita tuju adalah khusyu dan khlas, hingga kita benar-benar dekat kepada Allah.

Karena Allah menyeru agar hamba-Nya tidak melupakan dunia dan agama dijadikan-Nya jalan meluruskan jiwa dalam mengelola dunia, maka usaha kita dilaksanakan untuk dua alam, yakni alam duniawi dan ukhrowi. Alam ukrowi tidak seperti duniawi, ia tidak bisa dilihat, karena kita terhijabi oleh usia, dan kita bukanlah orang kepercayaan-Nya yang dimampukan untuk melihat akirat di dunia. Maka penyaksian kita kepada akhirat hanyalah ingatan dan perasaan sebagai penyempurna ingatan. Yang kita perjuangkan adalah menyaksikan dunia dengan penyaksian kepada akhirat, pembandingan-pembandingan, dan konsekuensi di akhirat atas semua amal dunia.

Ikhlas itu adalah kita ingin memberi kemaslahatan kepada orang lain namun tidak menganggap diri mampu memberi kemaslahatan tersebut; Melihat tidak ada kemaslahatan yang dapat diperoleh dari orang lain, namun tetap menuntut diri untuk selalu mengambil manfaat dari keberadaan orang lain. Kemaslahatan itu dari Allah, dan bukan dari mahluk-Nya.

Muamalah dengan manusia adalah untuk menghadapi karunia Allah yang dapat berupa ni'mat mapun bala. Karunia itu diadakan-Nya sebagai jalan untuk mencapai derajat pengbdi yang mengetahui dan memahami Allah Sang Penguji.

Dalam keikhlasan, saat kita memberi dan menyadari bahwa Allah lah yang sesungguhnya memberi, maka kita sirna sebagai subjek pemberi. Tidak ada dalam pemberian itu istilah Allah dan hamba-Nya yang memberi, tetapi Allah lah saja yang memberi. Dengan hadirnya Allah, maka kita harus sirna sebagai subjek pemberi. Namun tidak perlu lupa kepada yang lainnya dalam kehadiran-Nya tersebut, karen kehadiran-Nya bukanlah kehadiran Dzat-Nya.