Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

17 Agustus 2010

Solusi SOA Untuk Fleksibilitas Bisnis Perguruan Tinggi Terhadap Perubahan


SOA adalah kerangka kerja (Proteans, 2009) atau arsitektur teknologi yang menganut prinsip-prinsip berorientasi layanan (Erl, 2005), yang menghubungkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan perusahaan dengan tanpa memperhatikan lanskap teknologi dan batasan organisasi (Gabhart dan Bhattacharya, 2008). SOA adalah gaya arsitektural yang memodularisasi sistem informasi (SI) ke dalam layanan (Erl, 2005), yang menyediakan fungsionalitas bisnis terstandarisasi sebagai sekumpulan layanan yang umum dan dapat digunakan kembali (Proteans, 2009).

Sebelum konsep SOA muncul, dalam rangka memenuhi kebutuhan bisnis yang baru, organisasi berhadapan dengan masalah pemborosan waktu dan biaya karena para pengembang perangkat lunak harus melakukan modifikasi maksimum terhadap komponen sistem (Miller, dkk, 2002). Hashimi (2003) menjelaskan bagaimana kesulitan dihadapi pemrogram saat menggunakan pendekatan demi pendekatan komputasi sebagaimana tampak pada tabel II.1 sehingga kemudian masalahnya sekarang dapat diselesaikan dengan SOA dan web services.

(Sumber : Gabhart dan Bhattacharya, 2008)
Approach
Time Frame
Programming Model
Business Motivation
Mainframe timesharing
1960s-1980s
Procedural (COBOL)
Automated Business
Client/Server
1980s-1990s
Database (SQL) and fat client (VB, Powerbuilder, etc.)
Computing power on the desktop
N-Tier/Web
1990s-2000s
Object-oriented (Java, PHP, COM, etc.)
Internet/eBusiness
Service Oriented
2000s
Message-oriented (XML)
Business Agility

Hashimi (2003) menjelaskan, bahwa pada awalnya menulis kode program dilakukan dengan tanpa dapat menghindari penulisan kode yang sama berulang-ulang. Hingga kemudian muncul konsep desain modular, di mana kode yang sama ditulis dalam modul sub-routine, procedure, atau function. Namun saat terjadi masalah pada modul tersebut, pemrogram harus menelusuri seluruh unit yang menggunakannya, sebuah pekerjaan yang menghamburkan waktu dan biaya. Pemrogram lebih menyukai high level abstraction, sehingga kemudian munculah classes dan perangkat lunak Object Oriented. Saat kompleksitas perangkat lunak dan perangkat keras semakin meningkat, munculah perangkat lunak berbasis komponen untuk penggunaan kembali, pemeliharaan, dan mempertahankan fungsi, bukan hanya kode. Namun tentu saja tawaran ini tidak berlaku untuk semua kompleksitas yang dihadapi pengembang saat ini seperti perangkat lunak terdistribusi, integrasi aplikasi, keragaman platform, keragaman protokol, keragaman perangkat, internet dan lain sebagainya. SOA bersama dengan Web Services menjawab persoalan tersebut. Dengan SOA kerumitan protokol dan platform dapat dikurangi dan aplikasi dapat diintegrasikan.

SOA merepresentasikan pergeseran dalam organisasi dari SI yang monolotik dan silo menuju fleksibilitas di mana sistem memberikan solusi bagi pelanggan dengan menggunakan sejumlah variasi rakitan layanan (Gabhart dan Bhattacharya, 2008). Layanan yang saling berkomunikasi, melibatkan data yang sederhana, dan berkordinasi dengan beberapa aktivitas (www.service-architecture.com) dapat didistribusikan (Erl, 2005), dikonfigurasi ulang (Sprott, 2005), dikombinasi ulang dengan berbagai cara (Brown, 2008), dan rantai layanan dapat disusun kembali setiap saat sesuai dengan kebutuhan perubahan bisnis (Sprott, 2005) untuk menerapkan proses bisnis yang baru atau untuk meningkatkannya (Brown, 2008). Layanan SOA yang flexible, reusable, dan configurable (Gabhart dan Bhattacharya, 2008) menyebabkan bisnis dapat merespon perubahan secara cepat (Sprott, 2005).

Layanan dan dapat digunakan pada beragam proyek atau oleh sejumlah aplikasi layanan multi-platform (Proteans, 2009). Layanan tersedia untuk setiap permintaan layanan yang disampaikan dari lokasi manapun dalam jaringan kerja tanpa dibatasi oleh sistem operasi, bahasa pemrograman, atau platform teknologi. Orientasi layanan memungkinkan bisnis menggunakan layanan yang tersedia di luar organisasi melalui jaringan komputer (Sprott, 2005)

Untuk mendapatkan keuntungan dari TI, perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya untuk pembaruan infrastruktur dan penyampaian layanan TI (Educause, 2003). Weil dan Ross (2004) menemukan fakta bahwa pengeluaran TI mencapai 50% dari total biaya belanja organisasi. Beban tersebut dapat diringankan dengan SOA yang membantu peningkatan kegesitan bisnis (business agility) dan efektifitas biaya (Erl, 2009). Menghindari biaya pengembangan di masa depan dapat dilakukan dengan cara penggunaan kembali layanan (Brown, 2008). 

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa fleksibilitas bisnis terhadap perubahan dapat dicapai melalui pengembangan berorientasi layanan dengan pendekatan SOA. Sekolah dan universitas yang sebelumnya mendapatkan kekuatan dan keuntungan bisnis Salira, setelah menerapkan SOA diharapkan mendapatkan tambahan kemampuan berupa business agility, yakni kemampuan organisasi untuk fleksibel, responsive, adaptif, dan menunjukan inisiatif saat terjadi perubahan dan ketidakpastian (dictionary.bnet.com), serta kemampuan untuk menghindari (Brown, 2008) atau mencapai efektifitas biaya (Erl, 2009). Di dalam Wikipedia1 disebutkan bahwa business agility adalah kemampuan bisnis untuk beradaptasi secara cepat dengan biaya yang efisien dalam menanggapi perubahan dalam lingkungan bisnis.

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya