Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

27 September 2012

Arsitektur Sistem Kabel Telekomunikasi



Contoh Arsitektur Sistem Kabel Telekomunikasi

Menurut standar komersial EIA/TIA 569B untuk jalur dan ruang telekomunikasi, terdapat enam sub sistem dari sistem pengkabelan terstruktur (Beasley, 2009) :
  1. Pintu masuk bangunan / Building Entrance atau disebut juga Fasilitas Masuk / Entrance Facilities (EF), yakni titik di mana kabel eksternal dan layanan nirkabel terhubung dengan kabel internal gedung dalam ruang perangkat (equipment room). EF mengandung kabel, perangkat keras penghubung, perangkat pengaman yang digunakan sebagai antarmuka antara kabel internal dan eksternal gedung, dan layanan nirkabel dengan equipment room. Wilayah ini digunakan baik penyedia akses private atau public. 
  2. Ruang perangkat / Equipment Room (ER), yakni ruang untuk perangkat elektronik kompleks seperti server atau PBX. Ruang EF dan ER biasanya dikombinasikan oleh main cross-connect (MC). Cross-connect adalah ruang di mana anda menghubungkan satu atau banyak kabel dengan satu atau banyak kabel atau perangkat. MC dihubungkan oleh kabel interbuilding backbone dengan intermediate cross-connect (IC). Biasanya media transmisi yang digunakan untuk mengubungkan MC dengan IC ini adalah fiber. 
  3. Lemari telekomunikasi / Telecommunication Closet (TC) atau Ruang Telekomunikasi / Telecommunication Room, yakni lokasi titik terminasi kabel yang terhubung dengan kabel horizontal dan backbone. Kabel intrabuilding backbone menghubungkan IC dengan TC / horizontal cable (HC). Media transmisi yang digunakan biasanya UTP kategori 5 atau yang lebih baik, namun standarnya adalah UTP kategori 6.
  4. Kabel Backbone, yakni kabel yang menghubungkan lemari telekomunikasi, ruang perangkat, dan kabel masuk di dalam gendung yang sama atau antar gedung.
  5. Kabel Horisontal atau Horizontal Cable, yakni kabel yang memperpanjang keluar dari lemari telekomunikasi ke dalam Local Area Network (LAN), terhubung dengan satu atau beberapa Telecommunication Outlet (TCO) / Wall Plate. 
  6. Area kerja, yakni lokasi komputer, printer, patch cable, jack, kabel adapter komputer, dan jumper fiber.


Diagram Blok Sistem Kabel Horisontal

15 September 2012

Perang Teror Melawan Umat Islam

Kita semua prihatin atas aksi melawan kesakralan agama dengan cara-cara yang melanggar hukum internasional. Seperti yang dipraktekan oleh sebagian umat manusia dalam bentuk film Innocence of Muslims, atau oleh pendeta Terry Jones dengan melakukan aksi bakar alQuran. Memang ada hukuman yang diberikan, namun ringannya hukuman membuat teror terhadap keyakinan Islam tidak berhenti. 

Bagi muslim, teror tersebut sama sekali tidak asing. Di masa awal kelahiran Islam, Nabi SAW dan sahabatnya r.a. juga mengalami teror. Hanya saja setelah dunia Arab dientaskan oleh Nabi SAW dari teror terhadap agama dengan Penaklukan Mekah, ternyata praktek teror tersebut masih berlaku hingga sekarang. Dan sebagaimana di masa Nabi SAW, umat Islam tidak akan bersikap diam saat agama dan Nabi nya dilecehkan. 

Mungkin sebagian kalangan merasa takut dengan kebangkitan Islam, terlebih takut jika umat ini bersatu kembali dan sulit untuk dipecah belah. Di masa lalu khilafah Utsmaniyah sebagai simbol kekuatan persatuan Islam sangat ditakuti dan dianggap menghambat upaya sebagian negara untuk mengekspoitasi sumber daya di wilayah Islam. Negara penjajah ini melakukan politik adu domba dengan bantuan orientalis sehingga negara super power ini bubar. Setelah bubar itulah negara penjajah dengan leluasa dapat membagi-bagikan wilayah Islam dan mengeruk sumber daya di dalamnya untuk kesejahteraan bangsanya semata. 

Teror yang didapatkan muslim sebagian di antaranya sebagai feed back dari citra buruk yang berhasil dibangun dengan tanpa sadar oleh sebagian dari umat Islam. Citra buruk tersebut sudah sering dicatat sejarah sebagai hasil usaha penjajah untuk melemahkan kekuatan Islam dalam menjaga sumber dayanya. Umat Islam mendapatkan serangan dari dalam dan dari luar, untuk mencegah kebangkitannya yang mengancam hegemoni para pejajah, dan untuk menjaga kelangsungan penjajahan di muka bumi.