Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

24 Januari 2013

Maulid Nabi, Bolehkah?


Jalaluddin As-Suyuthi dalam Husnul Maqsad fi Amalil Maulid mengatakan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan maulid Nabi adalah Malik Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi (1153 - 1232 M atau 549 - 630 H). Adapun Dr. Sulaiman bin Salim As Suhaimi dalam Al A’yad wa Atsaruha alal Muslimin mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi ini dimulai pada masa dinasti Daulah Fathimiyah di Mesir pada akhir abad keempat Hijriyah atau abad keduabelas masehi. Dan Shalahuddin Al Ayyubi (1138 - 1193 M) diyakini sebagai orang yang pertama kali melakukan peringatan Maulid Nabi secara resmi. 

Tentang hukum perayaan Maulid Nabi ini, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1330 H - 1420 H / 1910 M - 1999 M) Rektor Universitas Islam Madinah dan Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi mengatakan "Tidak boleh merayakan maulid (kelahiran) Nabi dan lainnya karena termasuk bid'ah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi, khalifah yang empat, dan Sahabat lain dan tabi'in. Padahal mereka yang lebih tahu tentang sunnah dan lebih sempurna kecintaannya pada Rasul dan lebih mengikuti syariahnya daripada generasi setelahnya" (http://www.khayma.com/kshf/B/Moled.htm)

Sementara Jalaluddin As-Suyuthi berpendapat Maulid Nabi adalah bid'ah hasanah. Istilah bid'ah hasanah dan qabihah tersebut dalam kitab Tahdzibul Asma' wal Lughat karya Imam Nawawi. Imam Al hafidh Abu Syaamah guru Imam Nawawi membolehkan Maulid Nabi ini. Yang membolehkan lainnya adalah Ismail bin Umar bin Katsir, penulis tafsir Al Quran Ibnu Katsir. (Jalaluddin As-Suyuthi, ibid. Link: almoslem.net/modules.php?name=News&file=article&sid=27)

Yusuf Qardhawi berkata, "Saya yakin bahwa di balik beberapa peringatan ini terdapat hasil yang positif yaitu mengikat umat dengan Islam dan mengikat mereka dengan sejarah Nabi untuk diambil suri tauladan dan panutan. Adapun hal-hal yang keluar dari ini, maka itu bukanlah perayaan dan kami tidak mengakuinya" (http://qaradawi.net/fatawaahkam/30/1444.html)

ALLAAHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN 'ABDIKA WANABIYYIKA WARASUULIKAN NABIIYYIL UMMIYYI

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya