Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

23 Mei 2013

Keberkahan yang Pertama Bukan yang Terakhir


Tanggal 21 Mei 2013 adalah saat pertama saya keluar Jawa Barat ... selama ini saya hanya berputar-putar saja antara Garut, Bandung, dan Subang, hehehe. Kali ini Allah membukakan pintu bagi saya  melakukan penerbangan ke Surabaya untuk memenuhi undangan Direktorat Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia sebagai pemateri dalam Rapat Kerja Nasional Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Mumpung gratis, kenapa enggak ... dinikmati saja perjaanan terbangnya. Kenikmatan pembuka yang dirasakan dalam perjalanannya adalah melihat bagaimana awan diarak dan melayani Allah untuk meneduhi dan menyirami bumi.

Surabaya lebih panas sedikit dibandingkan Subang, kesejukan Garut hanya bisa dinimkati di dalam ruangan saja (pake AC maksudnya, hehehe). Walau demikian, pertemuan dengan relawan TIK se Indonesia, dari Sabang hingga Papua lebih penting dari pada sekedar memikirkan suhu udara. Dari pertemuan itu harapannya saya bisa mengetahui bagaimana respon relawan TIK Indonesia terkait kerangka kerja tiga jenjang fungsional dari empat jenis kerelawanan yang akan saya buat dan disajikan tangga 22 Mei 2013.

Malam hari itu, di saat relawan TIK Indonesia setiap wilayah provinsi memberikan laporan pertanggung jawaban, saya merampungkan slide presentasi di salah satu kamar Oval. Untuk merampungkannya dengan berat hati saya harus menolak ajakan ikhwan qarib, mas Novianto Puji Raharjo, mengikuti pengajian di rumahnya. Dan syukur alhamdulillah, slide presentasinya selesai menjelang tengah malam. Akhirnya bisa tidur juga ...

Tanggal 22 Mei 2013, saya baru sadar kalau deretan pembicara dalam acara tersebut adalah pengurus pusat Relawan TIK Indonesia, sementara saya hanyalah pengurus cabang dari kota kecil bernama Garut. Dan sayapun harus menjadi pemateri pertama untuk kajian yang menurut saya akan diperdebatkan di kalangan relawan TIK. Namun saya sama sekali tidak khawatir karena apa yang akan saya sampaikan ini berdasarkan kepada literatur dari peneliti dan praktisi kerelawanan.

Setelahnya menyampaikan kajian tersebut, syukur alhamdulillah ada balikan dari teman Relawan TIK Indonesia. Teman dari Papua memberi petunjuk jika pengembanan sumber daya manusia relawan TIK tidak akan berjalan di sana sehubungan dengan keterbatasan sumber daya manusia di bidang TIK. Sementara tiga teman dari provinsi lainnya mendukung dan menganggap penting pengelolaan sumber daya manusia relawan TIK dilaksanakan di Indonesia. Yang jelas, empat jenis tindakan relawan TIK yang mendorong keberhasilan telecenter adalah penting untuk diadakan di basis-basis relawan TIK. Karena relawan TIK membangun masyarakat informasi tidak hanya dapat mengandalkan keahlian cerdas TIK saja, tetapi juga melek TIK dan melek informasi.

Tanggal 23 Mei 2013 ini saya harus pulang ke Garut, walau tidak mengikuti tour Surabaya-nya mas Novianto. Tapi syukurlah karena mas Novianto mau mengantarkan saya ke Suramadu malam hari sebelumnya untuk mencari sedikit oleh-oleh untuk keluarga di rumah dan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Pada akhirnya, saya berterima kasih kepada bu Mariam Barata (direktur Pemberdayaan Informatika KEMOMINFO RI) dan stafnya seperti pa Boni dan lainnya yang telah memberi kesempatan bagi saya untuk berbagi pengetahuan, dan prof M. Ali Ramdhani (ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut) dan bu Rina Kurniawati (PK Keuangan) yang telah mendukung kerelawanan di dalam dan di luar kampus selama lebih dari sepuluh tahun, serta sahabat Relawan TIK kampus khususnya dan Garut umumnya yang bergabung menerapkan konsep ini. Utamanya untuk para guru di Institut Teknologi Bandung yang sudah berjasa menstimulus potensi dalam diri sehingga jauh menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga, ini adalah keberkahan yang pertama dan bukan yang terakhir ...

Download presentasi di sini

17 Mei 2013

Sekolah Tinggi Teknologi Garut Sebagai Basis Relawan TIK di Garut




Sekolah Tinggi Teknologi Garut merupakan salah satu perguruan tinggi yang mendukung budaya relawan. Lebih dari sepuluh tahun kampus ini konsisten mendukung mahasiswanya untuk menjadi relawan. Sebelum milenium ketiga dimulai, kampus ini telah menunjuk dua mahasiswa dari program studi Teknik Informasi untuk membantu kepala Laboratorium Komputer memberikan dukungan teknis, seperti memasang dan memelihara komputer berikut perangkat lunak dan jaringannya. Penunjukan tersebut bukan dengan maksud memberi kesempatan bekerja melainkan memberikan kesempatan untuk belajar melalui kerja nyata. Insentif uang yang diberikan tidak difahami sebagai gaji karena keduanya tidak diangkat sebagai pegawai, melainkan difahami sebagai bentuk penghargaan.

Kerelawanan ini menjadi jelas pada tahun 2001 tatkala mahasiswa melakukan pekerjaan secara sukarela di luar tugas yang diberikan kampus. Mahasiswa tidak hanya melakukan pekerjaan dukungan teknis di Laboratorium Komputer, tetapi juga melakukan pekerjaan di luar unit kerja tersebut, seperti membangun jaringan kampus yang meliputi ruang peralatan, lemari telekomunikasi, kabel intrabuilding backbone, kabel horisontal, kabel patc, dan lain sebagainya. Pada tahun 2007 kerelawanannya mulai keluar kampus saat terlibat dalam penyambungan jaringan sekolah-sekolah yang berada dalam kompleks Yayasan al-Musaddadiyah,  serta jaringan sejumlah instansi pendidikan, perusahaan, dan pemerintahan yang tersebar di empat kecamatan ke sambungan internet satelit yang berada di Sekolah Tinggi Teknologi Garut (Sekolah Tinggi Teknologi Garut, 2008).

Sekalipun pada awalnya motivasi kerelawanan ini bukan latihan gratis karena relawan TIK mendapatkan pengetahuan dengan cara belajar sendiri, namun pada tahun 2011 relawan TIK di kampus ini mulai mendapatkan pelatihan dari relawan TIK seniornya. Forum TIK yang awalnya diadakan untuk mempersiapkan pengganti empat relawan TIK kampus berubah menjadi komunitas pecinta TIK tahun 2011.

Keinginan untuk menyebarkan pengalaman kerelawanan di luar kampus telah mendorong komunitas ini mempersiapkan jaringan relawan kampus Garut dengan mensosialisasikan kegiatan Komunitas Pecinta TIK kepada pelajar yang mewakili beberapa sekolah pada tanggal 16 Januari 2012. Keinginan ini menjadi kuat setelah berinteraksi dengan Relawan TIK Indonesia, yang memberi pengaruh dalam perubahan nama komunitas menjadi Kelompok Penggerak TIK pada tahun 2012. Perubahan nama tersebut menunjukan bahwa kumpulan relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut tidak hanya ingin berbagi pengalaman dalam mengelola infrastrutur TI kampus tetapi juga ingin menggerakan semua anggota komunitas untuk dapat turut serta dalam pengelolaannya.

Dan pada tahun 2013 ini, relawan perintis dari Kelompok Penggerak TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut membangun jaringan relawan kampus Garut dengan mendirikan sejumlah basis relawan di beberapa sekolah di Garut dan menyelenggarakan kegiatan mingguan di sana untuk mempersiapkan relawan TIK pelajar pengganti tugas mereka. Usaha ini merupakan bukti keseriusan relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam membangun masyarakat informasi Garut.


Gambar 4.1. Pengurus basis relawan TIK se Garut tahun 2012

Sebagian relawan dari Kelompok Penggerak TIK dan relawan TIK lainnya yang ikut mendampingi relawan TIK Korea, kemudian mendeklarasikan pendirian Komunitas TIK Garut pada tanggal 15 Oktober 2012. Kemudian secara nasional, pengurus Komunitas TIK Garut dikukuhkan sebagai Relawan TIK Indonesia cabang Garut pada tanggal 24 November 2012 oleh Menteri Pengembangan Daerah Tertinggal dan Staf Menteri Bidang Poilitik dan Keamanan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, yang disaksikan oleh pendiri, pembina, dan pengurus Relawan TIK Indonesia.


Gambar 4.2. Pelantikan Relawan TIK Indonesia Cabang Garut

Sekarang ini program studi teknik informatika pun mendorong dosennya untuk mengintegrasikan kerelawanan dalam perkuliahan, sehigga terbentuklah relawan kelompok pengembang platform TIK. Bahkan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan dukungan dari Komunitas TIK Garut telah melaksanakan kerelawanan melalui program seminar dan pelatihan TIK tahunan yang telah dilaksanakan sebanyak lima kali. Dalam program yang dilaksanakan tahun 2012, Sekolah Tinggi Teknologi Garut bersama Institut Teknologi Bandung dan Politeknik Pos Bandung memberikan pelatihan melek informasi dan melek TIK gratis yang diikuti oleh staf TIK pesantren di dalam dan di luar Garut. Dan bersama Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia memberikan pendidikan cerdas TIK dalam progam internet sehat dan aman.

Akhirnya pada tanggal 2 Maret 2013, dengan dihadiri oleh perwakilan dari Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika dan ketua Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat, secara resmi Sekolah Tinggi Teknologi Garut memberi dukungan penuh terhadap kerelawanan mahasiswanya yang telah berkontribusi lebih dari sepuluh tahun kepada kampus dengan menetapkan unit kegiatan mahasiswa Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai wadah bagi relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Insentif uang bukan motivasi utama mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjadi relawan TIK, tetapi latihan TIK gratis dalam forum TIK, pengalaman kerja satu tahun menangani masalah TIK di UPT Sistem Informasi, dan kesempatan untuk mendapat pekerjaan dengan mudah. Banyak di antara relawan TIK kampus yang diminta bekerja sebagai staf TIK oleh lembaga pendidikan dan Internet Service Provider sebelum mereka lulus kuliah. 

10 Mei 2013

Cerdas TIK dengan perangkat lunak alternatif


Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia dalam peluncuran produk Microsoft Office 365 Home Premium di Jakarta, sebagaimana dikutip oleh republika.co.id (13/2/2013), mengatakan bahwa penggunaan produk Microsoft bajakan tidak hanya merugikan Microsoft tetapi juga pengguna produk bajakannya sendiri, karena tidak ada jaminan produk bajakan itu aman dari mallware.  Dalam konteks tersebut, cerdas TIK adalah kondisi di mana seseorang yang melek informasi dan TIK mengetahui bahaya penggunaan aplikasi bajakan dan menghindarinya dengan membeli dan menggunakan produk asli atau menggunakan produk alternatif sesuai dengan kemampuannya. 

Dalam usahanya membangun kapasits cerdas TIK, relawan TIK tidak boleh berpihak kepada manufaktur platform tertentu, dan harus berorientasi pada kegunaan platform. Mahal atau murah, nyaman atau tidak nyaman, adalah pilihan yang tidak boleh dipaksakan kepada pengguna TIK. Relawan TIK tidak boleh memaksakan pandangan dan pengalaman subjektif dirinya. Relawan TIK sekedar menunjukan pandangan dan pengalaman yang dianggap dapat menjadi masukan bagi pengguna atau solusi bagi permasalahan yang dihadapi pengguna, dan penggunalah yang memutuskan apakah ia mau atau tidak mau menjalani pengalaman tersebut. 

Persoalan perangkat lunak bajakan ini menjadi perhatian saya. Dalam acara pelatihan bagi guru Madrasah Tsanawiyah yang diselenggarakan oleh penerbit Erlangga 12 Desember 2012 di Cibatu Garut, relawan TIK menemukan fakta bahwa selama ini umumnya peserta pelatihan berfikir hanya bisa menggunakan Microsoft Office 2003. Apabila pemikiran tersebut menimpa seseorang yang melek informasi dan melek TIK tanpa kemampuan membeli produk asli, akan menyebabkan dibuatnya keputusan untuk tidak menggunakan produk tersebut atau menggunakan produk bajakan. Dua keputusan ini tentu saja tidak membangun dalam masyarakat informasi. 


Gambar 4.1. Pengenalan aplikasi alternatif oleh relawan TIK di Garut

Dalam kesempatan tersebut, saya menunjukan sejumlah aplikasi tidak berbayar penunjang kegiatan pengajaran. Salah satu aplikasi yang diperkenalkan adalah Kingsoft Office Suit Free 2012, yakni aplikasi tidak berbayar yang tampilannya sangat mirip dengan Microsoft Office 2003. Setelah mengetahui dan mengalami penggunaannya, fikiran peserta pun berubah menjadi lebih baik. Peserta memiliki kesempatan untuk memiliki opsi keputusan baru, yakni menggunakan Kingsoft Office Suit Free 2012 apabila tidak sanggup membeli Microsoft Office. Opsi ini lebih baik dari pada dua opsi keputusan lainnya.

02 Mei 2013

Bagaimana seharusnya MPLIK?



MPLIK sebagai sarana umum bagi daerah terpencil atau tertinggal harusnya tidak semata menjalankan jasa internet tetapi juga harus mampu mengedukasi masyarakat yang dilayaninya. Oleh karenanya pengelola MPLIK tidak cukup hanya sanggup atau mampu memfungsikan MPLIK sebagai warnet bergerak tetapi juga sanggup menfungsikan MPLIK sebagai sarana edukasi TIK bergerak. Dengan demikian operator MPLIK tidak hanya "pedagang" tetapi juga "pendidik". 

Selain itu, di daerah pelosok yang hanya dapat mengandalkan koneksi jaringan satelit diperlukan kemampuan pembiayaan yang besar. Masalahnya, dengan jumlah pengguna yang sedikit (karena banyak di daerah pelosok / blank spot yang belum melek internet), pengelola harus mengeluarkan biaya yang banyak. Ketidaksanggupan membiayai konseksi satelit telah menyebabkan MPLIK tidak dapat menjangkau daerah "blank spot". Menurut saya, MPLIK ini sebaiknya tidak dikomersialkan karena susah mengambil untung darinya. Diserahkan saja kepada organisasi yang mau mengeluarkan dana atau mendapat dukungan dana untuk mengedukasi (dalam rangka menambah pengguna internet) dan memaksimalkan pemanfaatan TIK untuk kesejahteraan masyarakat.

Seandainya relawan adalah personil TIK yang dapat diandalkan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarkat dengan TIK, maka menyerahkan MPLIK kepada relawan TIK hanya mungkin jika dalam dua kondisi: pertama, jika relawan TIK memiliki sponsor yang menyediakan dana CSR; kedua, jika relawan TIK adalah orang atau organisasi yang memiliki dana besar dari kantug probadi atau sayap bisnis organisasi  Sponsor yang mungkin bagi relawan TIK menurut model quadruple helix adalah pemerintah, perusahaan, atau masyarakat itu sendiri (baik internal relawan TIK atau eksternal). Dan dalam kondisi sekarang ini hanya dua yang mungkin, yakni pemerintah dan perusahaan.