Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

12 Desember 2016

Relawan TIK Dengan dan Tanpa Simbol


Panggilan sebagai relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) muncul dari dalam hati kelompok melek digital yg dermawan, tidak membutuhkan simbol2 organisasi, karena dasar geraknya adalah kemanusiaan yg adil dan beradab atas dasar Ketuhanan YME. Mereka tdk membutuhkan sebutan, cukup dikenal sebagai manusia saja, sekalipun di wajahnya terpancar cahaya insan penebar kasih bagi semesta. Mereka tdk butuh pengakuan manusia, tdk perlu besar atau kecilnya amal, sedikit atau banyak amal, yg penting ikhlas dan istiqamah, karena Allah cukup bagi mereka, ridha Allah adalah tujuan mereka. 

Adapun relawan TIK yg melengkapi dirinya dgn simbol2 organisasi, bahkan dianggap tdk diakui amalnya kalau simbol2nya tdk digunakan, mereka adalah kelompok dermawan yg amanah. Di pundak mereka ada kepercayaan yg harus dipertanggungjawabkan. Simbol2 organisasi yg muncul dalam rencana, tindakan, dokumentasi, dan evaluasi itulah yg membuat mereka dapat diakui sebagai insan yg dapat dipercaya. Allah tdk ridha thd mereka sehingga kelompok pemberi amanah ridha thd mereka. 

Dengan demikian, setiap orang dermawan yg melaksanakan amal relawan TIK melalui organisasi, tanggung jawabnya jauh lebih besar dari pada mereka yg bekerja sendiri. Dan hasil serta dampaknya sudah seharusnya jauh lebih besar, karena bekerja dalam jama'ah lebih baik dari pada sendiri, tindakan terorganisir lebih kuat dibandingkan sendiri-sendiri.

06 Desember 2016

Fitur Unggah pada Google Drive


Ada kalanya kita memerlukan pengunggahan berkas pada formulir online. Google menyediakan bagi penggunanya aplikasi internet untuk membuat Formulir Online di lingkungan Google Drive yang telah mengakomodasi pengunggahan berkas. Tetapi fitur ini hanya dinikmati oleh pemilik akun Google yang sudah ikut program Google Apps for Education, Google Apps for Nonprofit Organization dan semisal lainnya. Berkas yang diunggah melalui Formulir secara otomatis disimpan dalam Google Drive pada folder yang sesuai jenis berkasnya. Jadi berkas pdf tidak disatukan dengan gambar dan jenis berkas lainnya. Yang menarik, unggahan berkasnya bisa sampai 10 GB. 



05 Desember 2016

The Power of Digital Culture

01 Desember 2016

Langkah kaki dzikrullah


Perjalanan santri Ciamis ke Jakarta untuk mengikuti dzikir bersama ini mengingatkan ku akan kebiasaan di masa muda dulu setiap bulan Ramadhan baik sendirian atau bersama kawan Generasi Muslim al-Muhajirin (GMA) di Subang.

Masih teringat di masa lalu pada bulan Ramadhan aku pernah bertekad untuk menghabiskan waktu puasa hingga berbuka dengan berjalan kaki, dan akan berhenti untuk melaksanakam salat Dzuhur di masjid Ghafarana dan salat Ashar di masjid SMAN 1 Garut. Saat itu liburan panjang kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang kebetulan bertepatam dengan bulan suci Ramadhan. Dan tekad itupun dilakukan, di tengah teriknya matahari yg kala itu aku masih terbiasa dengan panasnya.

Saat waktu Ashar tiba seperti yg telah direncanakan aku melaksanakan salat di masjid almamater, sambil mengenang kegiatan dulu di sana baik sendirian ataupun bersama teman sekelas seperti Andin dan Eko. Saat bersekolah dulu di sana aku sering menyempatkan setiap hari bersama beberapa teman kelas untuk melaksanakan salat Duha, sampai terasa panggilannya seperti salat wajib saja. Istirahat kedua sering ku habiskan dengan membaca buku agama di perpustakaannya. Ingatan ke masa lalu itu membuat ku merasa senang bisa berkunjung ke sana lagi.

Nampak di sana ada kumpulan remaja masjid. Akupun menyapa dan memperkenalkan diri sebagai alumni di sana. Rupanya perbincangan tersebut menarik bagi salah seorang remaja masjid di sana sehingga kami diskusi soal keagamaan lumayan lama. Aku lupa siapa namanya, namun ku lihat ia begitu antusias menyimak apa yg biasa kami selaku kakak kelasnya lakukan di masjid tersebut.

Perjalanan di bulan Ramadhan ini merupakan salah satu kegiatan yg pernah diselenggarakan oleh GMA, di mana aku saat itu masih duduk di bangku SMA. Malam itu kami semua berkumpul dan membawa obor. Barisan putera berbaris paling depan, sementara puteri di belakang. Kami semua menembus gelapnya malam, masuk ke dalam hutan seraya mengumandangkan dzikrullah. Ini mirip kegiatan kepramukaan. Wajarlah karena saya dan beberapa pengurus, seperti mas Muriyanto dan teh Siti Rodiah adalah aktivis Pramuka.

Rupanya rombongan kami ini membuat warga di tengah hutan keluar. Walau demikian mereka menyambut kami dengan baik. Malam itu kami menghabiskan malam di sebuah masjid.

Dalam kesempatan Ramadhan lainnya kami lakukan di waktu siang hari. Rutenya sama, melalui jalan ke dalam hutan dari TPU dan melintasi sungai hingga keluar dari BTN Ciheuleut. Seperti dulu di sepanjang jalan kami melantunkan dzikrullah. Di tengah perjalanan kami beristirahat di masjid kampung.

Ingat saat itu saya menyempatkan diskusi dengan Nursadiah Siti Mariam, salah satu pengurus lembaga pendidikan dan dakwah. Dia menanyakan tentang sesuatu yang entah kenapa jawaban yang ku temukan di dalam benak ini selalu memiliki tiga cabang, di mana setiap cabangnya bercabang lagi. Hal tersebut memberi banyak pengetahuan baru sehingga hari itu memberikan manfaat yang banyak.


21 November 2016

Menutup MABIM HIMATIF STT Garut 2016


Senin 21 November 2016 saya menghadiri penutupan MABIM (Masa Bimbingan Mahasiswa) HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut di pusat bela negara Yonif 303 Cibuluh. Sebelum upacara penutupan tidak lupa saya menyarankan kepada ketua HIMATIF agar mahasiswa baru peserta MABIM dikukuhkan sebagai anggota HIMATIF dan memberikan nomor anggota. Ketua HIMATIF memperhatikan saran tersebut dan menyatakan di dalam upacara penutupan bahwa semua peserta MABIM dinyatakan sebagai anggota HIMATIF.


Dalam kesempatan menutup acara tersebut saya menjelaskan pentingnya mahasiswa menjadi anggota HIMATIF. Mahasiswa harus memiliki kehidupan sosial yang diantaranya ditunjukan dengan kehendaknya untuk menjadi bagian dari HIMATIF.

MABIM adalah tradisi inagurasi yg dibangun oleh mahasiswa Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut angkatan pertama (1996). Saya mewakili alumni mengucapkan terima kasih kepada HIMATIF yang telah menjaga tradisi tersebut dan melakukan pengembangan prosesi inagurasinya hingga sekarang.


Sebagai ketua Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya berharap HIMATIF mulai menjadikan MABIM sebagai proses yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk mendapatkan nomor anggota HIMATIF, di mana nomor anggota tersebut menjadi syarat untuk mendapatkan layanan atau mengikuti kegiatan HIMATIF. Setiap anggota harus memiliki nomor anggota untuk menjadi pengurus atau panitia kegiatan HIMATIF.

Program studi siap memberlakukan kewajiban memiliki nomor anggota HIMATIF bagi calon asisten dosen dari kalangan mahasiswa, dan akan mendukung program kelompok belajar yang diselenggarakan HIMATIF di Laboratorium Teknik Informatika dibawah bimbingan Dosen. Saya berharap kelompok belajar ini menjadi sarana pendampingan kakak tingkat kepada adik tingkatnya dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta menjadi jalan untuk dapat menghasilkan karya ilmiah atau keterampilan yg dapat dikompetisikan, dan menjadi medium kaderidasi calon asisten dosen.

Setelah disahkannya peserta MABIM sebagai anggota baru, HIMATIF wajib melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak anggota, yakni mendapatkan pelayanan dan kegiatan peningkatan kapasitas. Saya berharap ke depan HIMATIF dapat mempublikasikan program kerja sebelum puncak MABIM dilaksanakan, agar mahasiswa dapat menyimpulkan penting atau tidak pentingnya menjadi anggota HIMATIF.


MABIM kali ini mengingatkan saya kepada kegiatan Inagurasi yg diikuti oleh angkatan kami (97). Beberapa keadaan sama, seperti lokasi di lapangan terbuka, tidur di tenda peleton, dan ada acara jelajahnya yg dilengkapi post test.


20 November 2016

Mengenang Kuliah di Garut


Tanggal 21 November 2016 saya memenuhi permintaan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyampaikan materi tentang kuliah dalam acara Masa Bimbingan (MABIM) yang diselenggarakan di Aula Yonif 303. Saya membukanya dengan menanyakan kepada peserta MABIM tentang pengertian kuliah. Hari itu saya berniat untuk memberikan gambaran kuliah berdasarkan pengalaman sendiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar peserta MABIM yang juga kuliah di tempat yang sama dapat merasakan pengalaman yang saya sampaikan tersebut.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Subang pada tahun 1997, Bapak mendorong saya untuk mengikuti proses seleksi STPDN. Bapak sangat ingin saya bersekolah Ikatan Dinas dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi seleksinya terasa ekstrem dalam kondisi saya saat itu, seperti misalnya ditelanjangi masal dan dikumpulkan dalam satu ruangan saat pemeriksaan kesehatan. Oleh karenanya saya memutuskan untuk meninggalkan proses seleksi tersebut. 

Setelah pelarian diri tersebut, saya dikirim orang tua untuk bersekolah di program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut sambil ngaji di Pondok Pesantrennya. Saya sempat mendengar penjelasan Bapak, pilihan Teknik Informatika itu karena berdasarkan banyaknya lowongan kerja bidang tersebut di surat kabar. Artinya Bapak memilihkan program studi terbaik yang diharapkan dapat menjamin kehidupan saya di masa depan. Dari tahun pertama hingga ketiga saya belum terlalu menikmati perkuliahan. 

Walau demikian saya tidak kesulitan mengikuti matakuliah terkait pemrograman karena ditunjang pengalaman memprogram kalkulator Casio FX warisan dari kakak (Retti Sulistiawati) yang dulu digunakan saat kuliah di jurusan Matematik Komputasi Institut Pertanian Bogor. Belajarnya otodidak, hanya berbekal sampel program yang dibuat oleh teman kakak dan buku petunjuk penggunaan dalam bahasa asing. Alhamdulillah, saat itu saya berhasil membuat program animasi lampu mobilnya Knight Raider, salah satu film favorit waktu kecil. 

Dengan pengalaman tersebut saya berhasil menyelesaikan tugas pemrograman dari almarhum K.H. Dr Maman Abdurrahman Musaddad walau banyak menggunakan perintah loncat label-goto sehingga jumlah baris kodenya lebih banyak dari jawaban yang beliau tunjukan. Walau demikian karena yang saya buat hasilnya benar, beliau memberikan point A untuk tugas tersebut. Dan saya sampaikan kepada peserta MABIM, bahwa saat itu kami mengerjakannya dengan pendekatan mental pemrograman, yang artinya kami tulis dan periksa sendiri validitas instruksinya, mengingat akses komputer masih agak sulit saat itu. 

K.H. Dr Maman Abdurrahman, lulusan Perancis yang saat itu juga menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus ketua Pondok Pesantrennya, adalah sosok membumi yang sangat memperhatikan mahasiswa / santrinya. Saya ceritakan kepada adik-adik bahwa pernah suatu ketika di Koperasi Pondok Pesantren beliau bertanya apakah saya telah menerima beasiswa?. Karena saya tidak merasa mengajukan, saya jawab tidak. Lalu beliau memberi tahu kalau bulan depan saya mulai mendapatkan beasiswa dari kampus, beliau mengajukannya untuk saya. Beliau mengatakan agar saya berkenan menerima beasiswa tersebut yang sementara ini dibagi dua dengan kang Abdulkholiq, santri lainnya yang merupakan kakak tingkat saya. Tentu saja saya tidak keberatan dan berterima kasih kepada beliau. 

Dengan beasiswa tersebut saya bisa membeli buku-buku bacaan mulai dari keagamaan hingga informatika. Banyak teman mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang singgah di kobong untuk ikut membaca buku tersebut. Bahkan ada yang sengaja meminjam untuk keperluan skripsi. Jadi mirip perpustakaan, padahal ada perpustakaan Ponpes di sebelah kamar. Lemari bukunya memang kosong karena pak Kyai meninggal sebelum merampungkan Perpustakaan. Tetapi akhirnya lemari itu berisi buku juga saat saya memutuskan tinggal di sana. Saya memberikan kamar kepada mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang ingin tidur di kamar.   


Saya menasihati mahasiswa baru yang jadi peserta MABIM agar mereka lebih semangat dalam belajar. Saya selaku kakak tingkat mereka saja bisa belajar dalam situasi tidak kuliah atas dasar pilihan sendiri, hanya tersedia buku panduan berbahasa asing, dan tidak ada komputer, apalagi mereka yang sekarang sudah memiliki akses mudah menuju sumber pengetahuan dengan memanfaatkan internet, komputer harganya sudah sangat murah, sudah seharusnya dapat lebih sukses belajar dari pada saya. Mereka tidak perlu mencari buku ke luar kota seperti saya, karena sumber pengetahuan bisa mereka peroleh dengan mudah saat tiduran di rumah sekalipun melalui internet. 

Saya menggambarkan tentang bagaimana dulu belajar memasang perangkat lunak secara otodidak. Suatu saat komputer pribadi saya rusak sistem operasinya. Lalu saya meminta ke kang Uli pemilik toko dan klinik komputer MALIBU untuk memasangkan sistem operasinya. Tetapi saat itu kang Uli menyuruh saya pasang sendiri dengan meminjamkan CD installernya. Dengan berbekal CD tersebut saya mulai memahami bagaimana cara memasang perangkat lunak.

Dengan cerita tersebut saya hendak memberi wawasan kepada adik-adik bahwa belajar itu tidak selalu harus di kampus atau sendiri, kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain yang sarat pengalaman teknis, seperti kang Uli. Jaman sekarang mahasiswa mudah menemukan forum di internet dan mengambil pengetahuan dari banyak orang yang memiliki pengalaman beragam. 

Dengan komputer saya semakin produktif menulis. Semasa kuliah saya menjadi penulis sekaligus redaktur dua buletin yang saya jalankan sendiri secara swadaya. Saya ingat buletin pertama yang saya buat adalah saat kelas tiga di SMP Negeri 2 Subang, ditulis di atas kertas dan diberi tema Pramuka. Ketertarikan buletin ini juga mungkin dipengaruhi buletin Islam yang kakak bawa dari Bogor ke rumah, atau kegiatan buletin yang dilakukan mas Muriyanto di Generasi Muslim al-Muhajirin pada saat SMA. Karena kegiatan buletin tersebut, Sofian Munawar selaku ketua BEM Sekolah Tinggi Teknologi Garut mempercayakan divisi Jurnalistik dan Pengambangan Masjid kepada saya. Saat itu saya menerbitkan buletin Suara Mahasiswa yang berisi liputan kegiatan dan pemikiran mahasiswa. Salah satu masukan yang direspon oleh bapak Abdusy-Syakur Amin adalah tentang menggunungkan pengetahuan, yang kemudian diwujudkan dalam kewajiban wisudawan untuk menyumbangkan buku untuk adik-adiknya.

  
Melalui buletin saya menyampaikan kritik dan masukan kepada kampus dengan bahasa tidak langsung. Cerita ini disampaikan agar mahasiswa baru memahami kalau mereka harus perduli dengan kampusnya yang ditunjukan dengan cara yang baik. Saya berharap mahasiswa minimalnya perduli dengan kebutuhan diri mereka sendiri, jangan sampai misalnya proyektor dirasakan mengganggu proses belajar tetapi mereka mengabaikan hal tersebut atau tidak bersikap pro aktif mengupayakan perbaikan kondisi. Saya mengingatkan bahwa mereka itu adalah agen perubahan yang sudah seharunya perduli kebutuhan sendiri dan orang lain dengan turun tangan mewujudkan perubahan kondisi menjadi lebih baik. 

Sebagai mahasiswa biasa saya juga memperhatikan hiburan. Saat mahasiswa saya terobsesi ingin memiliki Pemutar Kaset (Radio Tape). Tetapi karena namanya juga anak kost yang terbatas dananya, saya pun mencari Tape di loakan jalan Pramuka. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil membeli Tape bekas yang masih layak pakai, sekalian beli juga kaset nasyid bekas yang lagunya saya dengar diputar di Ponpes. Sejak saat itu saya mulai mengoleksi banyak kaset Nasyid. Saya punya koleksi Raihan lengkap dari album pertama hingga akhir, pun demikian Snada, dan lainnya. Rasanya ini dipengaruhi oleh kakak yang juga sama mengoleksi kaset Nasyid. Sebagian kasetnya diwariskan kepada saya. Sampai kemudian terjadi kebakaran tengah malam itu di kobong saya yang diisi oleh teman STAI yang menyebabkan pemutar kasetnya tidak bisa digunakan. Saya hanya tersenyum dan percaya itu semua sudah Allah kehendaki, Ia memberi dan mengambil ciptaan-Nya yang Ia kehendaki dari hamba-Nya. 

Dengan cerita tersebut saya memberi petunjuk bahwa mahasiswa tidak perlu mengisi seluruh waktunya dengan kegiatan belajar ilmu teknik. Mereka perlu menyeimbangkan dirinya, memberdayakan otak sisi lainnya dengan berbagai kegiatan seperti menikmati musik misalnya. Satu cerita yang saya lupakan saat itu adalah tentang bagaimana mendengarkan musik tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan penyiaran di Radio Yamusa FM yang mengarahkan kepada kegiatan pembuatan jingle dan Nasyid sendiri. Cerita tersebut penting agar mahasiswa dapat mendorong dirinya dari konsumen menjadi produsen dengan mengoptimalkan kreatifitas yang terbentuk saat mengkonsumsi apa yang digemarinya. Mahasiswa harus dapat sampai pada level produktif tidak hanya dalam kegiatan kurikuler tetapi juga di luar kegiatan tersebut, yang bahkan kalau memungkinkan menghasilkan prestasi yang bermanfaat bagi diri dan kampusnya.


Saya mulai menikmati kuliah di informatika begitu kakak tingkat memilih saya untuk melanjutkan tugas relawan di Laboratorium Komputer. Entah apa pertimbangannya, yang pasti saya tidak bisa menolak permintaan bapak Abdus-Syakur Amin saat itu. Pada awalnya saya merasa khawatir kegiatan tersebut akan mengganggu kegiatan aurod, tetapi kemudian kekhawatiran tersebut sirna setelah saya merasa yakin kegiatan tersebut dapat dijadikan sarana amal yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan berat amal kebaikan. Dan benar saja, ternyata mengganggu aurod. Namun ada banyak keterampilan penting yang diperoleh dari sana, yang menjadi bekal saat wawancara di PT Pratita Prama Nugraha. 

Di Laboratorium Komputer saya diminta untuk membantu bapak Drs Wahyudin yang menjabat sebagai Koordinator Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan bapak Asep Deddy Supriatna selaku stafnya. Di bawah tangga itu saya belajar secara otodidak terkait jaringan komputer, server, dan Linux. Sekolah Tinggi Teknologi Garut membelikan majalah Chip sebulan sekali, dan memberikan buku teknis untuk perpustakaan Laboratorium Komputer dan perangkat lunak yang bisa saya nikmati untuk pembelajaran gratis. Di tempat itu saya memulai inisiatif mahasiswa membangun infrastruktur teknologi informasi kampus secara sukarela dan kaderisasi relawan dalam bidang teknologi informasi hingga terbentuk Kelompok Penggerak TIK.

Walau saya saat itu adalah mahasiswa, tetapi almarhum K.H., Ir. Abdullah Margani Musaddad - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut selalu meminta pendapat apabila ada pengadaan perangkat komputer di kampus. Kampus selalu membelikan apa yang diperlukan dalam kegiatan relawan, seperti kabel jaringan dan lain sebagainya. Akhirnya seluruh komputer di kampus terhubung dengan jaringan, dan jaringan kantor dan laboratorium terhubung melalui file server. Inilah yang mungkin menyebabkan Dr Muhammad Ali Ramdhani percaya saya bisa membangun Internet Hotspot di kampus. Padahal saya baru tahu istilahnya dari lisan beliau. Tetapi atas dasar kepercayaan itu saya belajar dan berhasil mengadakan internet hotspot di kampus. Saya juga diminta pak Wahyudin untuk ikut memelihara komputer di laboratorium SMA Ciledug. Diminta juga oleh pak Nahdi Hadiyanto untuk membangun internet hotspot di lingkungan Yayasan, bahkan malah menjadi metro area network di tiga kecamatan. 

Cerita relawan tersebut saya sampaikan kepada peserta MABIM agar mereka terlibat dalam kegiatan praktik tanpa perlu menunggu masa Kerja Praktek tiba. Kegiatan relawan dapat dijadikan sarana mengasah kemampuan dan menggali pengalaman. Banyak relawan di kampus yang sukses diterima kerja karena ditunjang keterampilan yang diperoleh dari kegiatan relawan, termasuk saya dan sejumlah adik-adik atau mahasiswa yang saya asuh. Dengan kegiatan relawan mereka juga dapat berkontribusi kepada kampus. Mahasiswa harus turun tangan memajukan kampusnya sendiri. Sebagian dari relawan itu sekarang menjadi Dosen di Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, seperti Sri Rahayu dan Rickard Elsen.


Selama jadi mahasiswa dan relawan di kampus, orientasi mereka adalah pengalaman yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan memperkuat sikap kerja yang baik. Selepas lulus kuliah barulah mereka dapat membicarakan hal terkait insentif dengan kampus. Seperti yang saya alami, di mana selepas lulus saya diminta untuk membuat aplikasi keuangan oleh kampus. Dan dari aplikasi itu saya berhasil membeli mesin cuci, lumayan untuk meringankan pekerjaan saya selaku juru kunci Laboratorium Komputer, heheheh.

Kebaikan kita sebagai relawan akan berbuah baik. Banyak relawan TIK di kampus yang diminta kerja bahkan sebelum mereka lulus oleh kampus dan juga kampus lainnya. Termasuk saya yang pada akhirnya harus menjadi PNS Dosen Teknik Informatika, pekerjaan yang tidak pernah terbayang di dalam fikiran. Pada tahun 2003 saat saya berjalan hendak ke luar kompleks Yayasan Musaddadiyah, almarhum K.H. Abdullah Margani Musaddad memanggil dan bertanya rencana saya selepas lulus. Saat itu saya menjawab dengan tidak pasti, karena saya tidak terfikir akan mencari kerja di mana. Beliau meminta saya untuk mengajar di kampus. Tetapi saya tidak memberikan jawaban menerima atau menolak, hanya mengekpresikan kebingungan harus menjawab apa. 

Hingga akhirnya siang itu ibu Dini Destiani - Ketua Program Studi Teknik Informatika mendatangi saya dan menanyakan apakah saya siap diplot ngajar? Saya menjelaskan kepada beliau bahwa saya tidak memiliki rencana pasti, mungkin masih akan di Garut atau pulang ke Subang. Tapi karena jawabannya harus jelas, maka saya menjawab boleh diplot tetapi meminta beliau berkenan apabila suatu saat saya undur di tengah jalan karena harus kembali ke Subang. 

Maklumlah, saat itu memang sedang galau karena ditinggal seseorang yang memilih untuk menikah dengan pria lain dengan alasan telah bekerja sebagai PNS. Syukurlah galaunya terjadi setelah lulus, tidak terbayang apa yang akan terjadi kalau kejadiannya sebelum lulus. Banyak teman kuliah yang berhenti kuliah karena masalah seperti itu. Namun galaunya memang berat, maklumlah cinta pertama, hehehe. Sampai pernah menyengajakan diri ke almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad untuk meminta air zam zam untuk menghilangkan rasa gundah. Beliau malah menjawab, obatnya adalah perempuan lagi, hehehe.

Saya pernah mengikuti saran guru saya tersebut, tetapi tidak berhasil. Pun demikian saat beliau menelpon dan meminta saya datang ke rumah beliau untuk bertemu dengan seseorang yang hari minggu itu katanya ada di rumah beliau, saya menyatakan tidak siap karena merasa tidak memiliki kelayakan untuk memiliki dan dimiliki oleh siapapun. Beliau sering mengirim lagu ke Radio Yamusa FM untuk saya yang katanya sedang galau. Ya ampun, jadi pada tahu, hehehe. Beliau benar-benar menjadi penghibur dan pelindung dalam masa galau tersebut, hingga akhir hayat beliau. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu 

Siang itu pak Wahyu, guru SMA Ciledug yang juga tinggal di kobong dengan saya memberi informasi kalau Kopertis membuka lowongan PNS. Saya kemudian berniat mengabarkan ini kepada Dosen-Dosen di STTG. Ternyata kabar itu sudah diterima dan semuanya sedang mengurus kelengkapan syaratnya. Entah bagaimana ceritanya saya pun akhirnya ikut mengurus kelengkapan tersebut, jalannya dimudahkan oleh Dr Muhammad Ali Ramdhani. 

Saat proses seleksi, saya sempat mau mundur tetapi ditahan oleh pak Eri Satria yang juga ikut melamar. Beliau mengatakan, mungkin saja rasa malas itu pertanda ada rizqinya. Dan benar saja, saya diterima sebagai PNS. Almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad mengupayakan sejumlah dosen kampus yang diterima masuk agar dapat diperbantukan kembali di kampus, dan akhirnya saya pun kembali bertugas di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ibu saya merasa bahagia dan berkata kepada Bapak kalau Allah telah menjadikan PNS sebagai jalan hidup anaknya, maka tidak ada penghalang yang dapat mencegah. Tahun 2004 itu, saya dan kakak (Retti Sulistiawati) diangkat sebagai CPNS, di mana saya menjadi Dosen PNS dan kakak menjadi Guru PNS. Ibu saya bercanda dengan mengatakan, anak kita tidak perlu dipukuli di STPDN untuk menjadi PNS. Bapakpun tersenyum. 

Saat itu panitia memberi isyarat waktu saya sudah habis. Lalu saya segera menutup cerita tersebut dengan membuat kesimpulan. Saya berharap adik-adik dapat mengambil pelajaran dari cerita tersebut dan menjadi sosok mahasiswa dan lulusan yang lebih baik dan sukses dari pada saya. 

08 November 2016

Mengkoordinasikan Tantangan Bebras Indonesia di Garut


Hari ini tanggal 8 November 2016 saya mempimpin pelaksanaan kegiatan Tantangan Bebras Indonesia di Garut. Selaku Koordinator Site yang ditunjuk oleh Panitia Pusat, saya berusaha memastikan kegiatan ini berjalan dengan baik di Garut. Syukurlah Dr Dini Destiani selaku wakil Koordinator Site berhasil mengkondisikan sejumlah Dosen lintas program studi untuk turut serta melaksanakan peran penting kegiatan, seperti berkomunikasi dengan sekolah dan menjadi pengawas saat pelaksanaan. 

Ini adalah kegiatan perdana yang belum banyak diketahui sekolah, sehingga saya menggunakan pendekatan promosi dengan membebaskan biaya registrasi lokakarya dan tantangannya. Dosen yang terlibat dan juga Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjadikan kegiatan ini sebagai pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat secara swadaya sendiri. Hal ini sejalan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang mewajibkan Perguruan Tinggi menyediakan dana internal untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Tidak ada honorarium yang diterima Dosen untuk kegiatan ini sebagaimana dalam pelaksanaan hibah Dikti, karena Dosen telah digaji untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. 


Lokakarya Tantangan Bebras Indonesia
(Dari kiri ke kanan : Saya, Dr Hilmi Aulawi, Dr Dini Destiani)

Pada putaran berikutnya biaya registrasi ini akan diberlakukan dan mungkin juga akan dilibatkan pihak sponsor, sehingga biaya operasional tidak seluruhnya ditanggung oleh kampus. Dalam kegiatan awal yang bersifat promosi ini, saya tidak bisa mengupayakan sponsor sehubungan dengan keterbatasan waktu. Biasanya sponsor meminta proposal paling cepat satu bulan sebelum pelaksanaan. Pemikiran saya bahwa kegiatan ini dapat dibiayai oleh dana Pengabdian kepada Masyarakat yang wajib disediakan oleh kampus setiap tahunnya disampaikan oleh Dr Dini Destiani selaku panitia pelaksana kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Alhamdulillah, kampus yang setiap tahunnya menyediakan dana Pengabdian kepada Masyarakat mengeluarkan dana tersebut untuk menjalankan Tantangan Bebras Indonesia. Inilah salah satu sebab kenapa Program Studi Teknik Informatika memperoleh akreditasi B yang dianggap telah melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dengan alokasi dana ini Program Studi Teknik Informatika yang saya pimpin dan pada periode kepemimpinan sebelumnya dapat melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat baik dengan atau tanpa mitra. Ada jaminan dari Dr Hilmi Aulawi, M.T. selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar Tridharma yang tidak hanya sekedar pengajaran ini dapat ditunaikan setiap tahunnya oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dalam kurikulum baru yang dipersiapkan, saya menyiapkan matakuliah Relawan Informatika, sebagai pelaksanaan Tridharma yang menurut Standar Nasional Pendidikan Tinggi juga wajib dilaksanakan oleh mahasiswa yang mengambil program strata satu.

Melalui kegiatan ini saya bermaksud juga untuk mengenalkan Program Studi Teknik Informatika khususnya, serta Sekolah Tinggi Teknologi Garut umumnya kepada sekolah dan juga masyarakat umum. Perguruan tinggi dapat mengenalkan dirinya melalui karya nyata di tengah masyarakat sebagai wujud pelaksanaan dharma Pengabdian kepada Masyarakat. Saya berpendapat bahwa pengeluaran untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat itu sama dengan pengeluaran promosi kampus, yang keuntungannya diperoleh jangka panjang baik oleh masyarakat yang dilayani ataupun oleh kampus itu sendiri. Pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu jalan promosi kampus di tengah masyarakat umum. 

Dalam kesempatan berkumpul dengan peserta Bebras dan guru pendampingnya selepas kegiatan, saya menjelaskan bahwa Tantangan Bebras ini menggambarkan sebagian pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang digali oleh mahasiswa Teknik Informatika di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kegiatan di dalamnya merupakan upaya untuk menyelesaikan masalah secara terurut dan logis yang dikenal dengan istilah Algoritma. Tinggal satu langkah lagi untuk menerapkannya menjadi sebuah program komputer, yakni menerapkan Struktur Data sebagaimana disampaikan oleh Niklaus Wirth. 

Sebelumnya saya pernah memimpin Hackathon Merdeka Dengan Kode 2.0 se Priangan Timur yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut bekerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Regional III / Tasikmalaya. Ini adalah kompetisi membuat Program bagi mereka yang telah mampu menggabungkan Algoritma dengan Struktur Data dan menguasai Platform. Dengan demikian Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah merasakan pengalaman menyelenggarakan lomba pada area Algoritma hingga Program, mencerminkan pelaksanaan Tridharma dalam bidang Teknik Informatika. Hal ini saya upayakan atas dasar tanggung jawab sebagai ketua Program Studi (diamanatkan oleh ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut melalu Surat Keputusan) yang harus mengawal Tridharma yang sesuai dengan bidang Teknik Informatika, dan tidak mungkin terwujud jika Tuhan tidak membukakan pintu silaturahim di dunia maya dengan mas Ainun Najib untuk Hackathon dan Dr Inggriani Liem untuk Bebras yang kunci semuanya adalah pergaulan dan kegiatan di Relawan TIK Indonesia. Dengan demikian kerjasama yang saya dorong antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia pada tahun 2012 telah sejalan dengan Tridharma Perguruan Tinggi. 

30 Oktober 2016

Peran HIMATIF STT Garut


Pada hari Minggu 30 Oktober 2016 saya diminta untuk membuka acara Mubes (Musyawarah Besar) HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut di Area 306. Satu hari sebelumnya, saya memberi izin penggunaan Area 306 untuk kegiatan Mubes dengan alasan kampus yang berada di jalan Mayor Syamsu no. 1 tidak buka pada hari Minggu. Area 306 yang berada di jalan Mayor Syamsu no 2 ini merupakan Pusat Pembelajaran, Kajian, dan Layanan Profesi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Dalam kesempatan membuka acara tersebut saya mengawalinya dengan mengutip kalam Allah yang artinya bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan ciptaan terbaik itu mereka yang banyak berbuat baik kepada sesama manusia, karena saya mengetahui kemuliaan itu bukan dari kedudukan atau rupa tetapi dari ketaqwaan yang tercermin dari perbuatan baik atau ahlak mulia. HIMATIF merupakan medium yang dapat digunakan oleh mahasiswa Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk melaksanakan amal kebaikan dan membina kemuliaan akhlak Teknokrat Informatika.

Himpunan bisa difahami sebagai Himpunan Besar (Semesta) dan Himpunan Kecil (Sub). HIMATIF sebagai sebuah organisasi dapat difahami sebagai himpunan kecil yang memberikan pelayanan kepada himpunan besar. Himpunan besar ini menyediakan kader yang melanjutkan tongkat estafet kepengurusan HIMATIF. Tetapi tidak boleh bersandar pada harapan bahwa kader-kader ini sudah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai untuk memimpin dan mengelola organisasi, HIMATIF harus menyelenggarakan kursus Kepemimpinan dan Organisasi untuk memastikan kondisi organisasi modern tetap terjaga. 


Saya mengingatkan kembali beragam pelayanan HIMATIF yang pernah disampaikan pada Masa Bimbingan tahun lalu di LAPAN Pameungpeuk, yang meliputi 1) Pelayanan kepada mahasiswa untuk mengisi kekosongan pengetahuan, keterampilan, dan sikap melalui kegiatan intra kurikuler berbentuk kelompok belajar, dan untuk menyelesaikan permasalahan antar personal baik di antara mahasiswa, dengan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, atau dengan Lembaga melalui kegiatan Advokasi, dan 2) Pelayanan kepada masyarakat dalam rangka mengenalkan HIMATIF berikut Program Studinya melalui kegiatan usaha dan amal, semisal penyuluhan atau kursus terbuka bagi masyarakat di Car Free Day sambil menjual produk wirausaha seperti Kaos, CD koleksi program, dan lain sebagainya. 


Saya menjelaskan indikator kesuksesan HIMATIF adalah berdasarkan pelayanan tersebut, seperti seberapa banyak seberapa banyak prestasi mahasiswa yang berhasil diusahakan, seberapa banyak masalah antar personal dan dengan lembaga yang berhasil diselesaikan, dan seberapa banyak amal pengabdian yang sudah diperbuat di tengah masyarakat. Saya berharap pelayanan tersebut menjadi perhatian kepengurusan HIMATIF ke depan, sehingga ada divisi khusus yang menangani pelayanan tersebut. 

Pada akhirnya sambutan ditutup dengan do'a semoga pengurus HIMATIF yang akan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan diberikan pahala berlimpah atas amal sukarelanya demi almamater, dan pengurus masa depan diberikan kemampuan untuk membawa organisasi lebih maju dan berkembang. 

25 Oktober 2016

Mengenang Hackathon MDK 2.0


Tepat hari ini satu tahun yang lalu, 24 Oktober 2015 adalah pembukaan Hackathon MDK 2.0. Event nasional dalam bidang pemrograman komputer ini saya dengar dari media sosial. Saat itu saya mengajukan diri kepada mas Ainun Najib untuk menjadi penyelenggara di wilayah Garut, yang kemudian saya perluas menjadi Priangan Timur sesuai visi Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat itu. 

Langkah persiapan dilakukan dengan pengurus Relawan TIK Garut beberapa hari sebelumnya. Namun rupanya mas Ainun berhasil mendapat respon dari PT Telekomunikasi Indonesia sehingga penyelenggaraannya disponsori oleh BUMN tersebut. Saya pun dikontak dan diminta bertemu oleh pak Dadan dari Telkom regional Tasikmalaya. Ternyata proses menemukan saya menjadi cerita tersendiri di lingkungan Telkom. Pada awalnya saya disangka anak perempuannya pak Cahyana Ahmadjayadi, yang karenanya saat kontak pertama kali pak Dadan memanggil saya dengan "mbak". Sudah biasalah kalau dianggap perempuan itu, hehehe.

Dalam pertemuan tersebut disepakati panitia bersama antara Telkom dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan lokasi lomba yang awalnya diselenggarakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjadi di Kandatel Garut. Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah, apalagi Telkom berkomitmen menanggung seluruh kebutuhan Hackathon. Saya teramat senang karena memang tidak punya dana untuk mengoperaskan kegiatan ini, bahkan untuk diri sendiri. Tinggal berfikir bagaimana caranya agar ada sumber daya manusia Relawan TIK di Garut yang dapat membantu menjalankan berbagai tugas di lapangan.

Pada awalnya saya dibantu oleh Sri Rahayu dan Leni Fitriani. Namun kebetulan minggu itu bertepatan dengan acara Wisuda di kampus sehingga mereka diminta oleh kampus untuk fokus melaksanakan tugas kepanitiaan. Akhirnya saya tinggal sendirian. Namun saya tetap bersemangat memenuhi segala keperluan sendirian, seperti mengusahakan peralatan yang tidak dimiliki Telkom, menentukan tata letak tempat, mengonfigurasi perangkat teleconference. Untung saja Muhammad Rikza Nasrulloh berhasil dikontak dan bersedia membantu membuatkan produk grafis Hackathon Priangan Timur, mulai dari spanduk hingga backdrop. Dan syukurlah karena saya sudah punya JIMKAT yang setia menemani saya dalam kegiatan Relawan TIK dan kali ini memudahkan saya mengangkut aset Komunitas dan Relawan TIK Garut yang digunakan Hackathon, walau sempat mogok karena ACCU nya habis. Sukanda juga ikut hadir sebentar membantu saya memotong kartu peserta. 

Untuk kegiatan kampus sekala nasional bersama Telkom saya menghabiskan waktu cukup banyak, bahkan uang dapur sebagaimana biasanya kegiatan Relawan TIK yang saya lakukan. Saya bahkan tidak sempat foto bareng dengan wisudawan. Kondisi ini mengingatkan pada tahun 2012 silam, saat Prof Dr. Muhammad Ali Ramdhani - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat itu mendukung pelaksanaan kegiatan nasional bersama Kemkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) dan Relawan TIK Indonesia pada hari yang bersamaan dengan Wisuda. Saya sebagai sekretaris program studi saat itu tidak sempat menghadiri Wisuda karena menyiapkan acara tersebut, bahkan tidak bisa hadir saat dipanggil untuk menerima penghargaan sebagai dosen terbaik dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Namun kampus memakluminya, karena apa yang saya kerjakan juga untuk kampus juga. Dan ternyata memang ada manfaatnya, karena bapak Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal yang sedianya diundang untuk hadir dalam Wisuda, ternyata datang selepasnya. Para penjabat struktural meminta saya untuk menyambut beliau dalam acara dengan Kemkominfo dan Relawan TIK Indonesia. Akhirnya saya dengan beberapa teman yang mewakili pengurus Komunitas TIK Garut dikukuhkan sebagai Relawan TIK Garut oleh pak Menteri (menjadi Relawan TIK pertama kali yang dikukuhkan oleh Menteri), dan mendapatkan sumbangan uang dari beliau untuk kegiatan Relawan TIK di Garut. 


Dan Hackathon yang dibuka oleh General Manager Telkom serta kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut berhasil dilaksanakan. Tidak ada satupun tim dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang menang, dan saya selaku ketua panitia yang duduk bareng juri tidak ingin mengganggu keputusan tersebut. Produk mereka lebih banyak di aplikasi untuk partisipasi publik. Saya sebagai ketua panitia memiliki pandangan tersendiri tentang program aplikasi yang berbeda dengan tim juri dari Telkom grup dan Diskominfo, dan panitia pusat setuju satu tim dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut maju ke Final dengan Wildcard. Dan alhamdulillah mereka mendapatkan akomodasi dari kampus. Saya tidak berangkat ke acara final tersebut, dan menitipkan dua tim kepada Dede Kurniadi dari AMIK Garut dan Muhammad Rikza Nasrulloh dari Relawan TIK Garut.Setelah itu saya menyerahkan kembali amanat pelaksanaan lomba kepada mas Ainun Najib.




Keesokan hari setelah penutupan, terbit di surat kabar tentang kiprah Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam acara Hackaton. Bagi saya inilah kerja nyata, di mana kampus dapat lebih dekat dan bekerja sama dengan masyarakat, pemerintah, dan perusahaan untuk sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dan visi program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang terkemuka di wilayah Priangan Timur dicapai salah satunya dengan kegiatan ini. Alhamdulillah


17 Oktober 2016

Kue Ulang Tahun


Ada kejadian yang menyentuh dua hari setelah pembentukan Komunitas TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Garut, yakni saat mahasiswa saya dari KP (Kelompok Penggerak) TIK, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika, dan Himpunan Mahasiswa Teknik Komputer membuatkan kue ulang tahun dengan logo KPTIK di atasnya. Pada awalnya mereka khawatir karena saya tidak pernah merayakan ulang tahun, tetapi kemudian suasana menjadi cair setelah kita semua menikmati kue tersebut. Saat itu saya mengucapkan terima kasih, dan memberikan penghargaan kepada mereka yang telah bersusah payah membuat kue bernuansa KPTIK tersebut. Saya berharap kue tersebut merupakan tanda kesuksesan memberi manfaat kepada mereka di luar kegiatan perkuliahan. 

Mereka memang generasi pilihan yang hidup pada masa di mana perkumpulan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut bergerak ke luar menghimpunkan perkumpulan TIK sekolah dalam satu wadah bernama KPTIK pelajar. Mereka yang pertama berinteraksi dengan relawan TIK internasional dari Korea Selatan, pengelola pertama Pesantren Teknologi Informasi tujuh hari, dan ikut dalam pembentukan Komunitas TIK Garut sebagai medium kerjasama Komunitas dan Relawan TIK se Garut.

Suasana seperti itu ternyata tidak hanya berlangsung di luar kelas. Saya juga diberi kejutan oleh mahasiswa Teknik Informatika kelas A di dalam kelas. Mereka tiba-tiba mengeluarkan kue ulang tahun dan menyalakan lilinnya. Saya berterima kasih atas perhatian mereka dan mengatakan sambil tersenyum jika kue ini tidak akan mempengaruhi nilai akhir matakuliah. Saya menganggapnya sebagai bentuk perhatian tidak hanya kepada saya sebagai dosennya tetapi juga kepada saya sebagai kakak tingkatnya, karena kebetulan saya adalah alumni Teknik Informatika STT Garut angkatan kedua. 

Kue ulang tahun ini memang habis tidak perlu waktu lama, tetapi kenangannya tersimpan dalam waktu yang lama. Bagi saya kejadian tersebut memberi tahu bahwa hubungan pendidik dan peserta didik sudah seharusnya cair agar tidak ada hambatan transfer pengetahuan. Seorang pendidik harus memberikan banyak manfaat kepada muridnya agar suatu saat nanti kita mendapatkan bonus kesenangan saat mendapat kabar kesuksesan mereka. Saya berpegang pada ajaran dalam agama ini, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang banyak memberi manfaat kepada orang lain. Kebaikan itu akan berbalas kebaikan, tetapi kebaikan yang sesungguhnya itu adalah kebaikan yang abadi yg diterima dari amal saleh murid hingga tempat indah di akhirat sana.

Menjadi Juri lomba TIK di LT III Kwarcab Garut


Tanggal 17 Oktober 2016 merupakan hari pembukaan LT III yang diselenggarakan oleh Kwartir Cabang Gerakan Pramuka kabupaten Garut di kecamatan Cisurupan. Pada hari itu saya memenuhi janji menjadi juri untuk lomba TIK. Tawaran untuk menjadi juri ini disampaikan pada tanggal 9 Oktober 2016, saat itu diinformasikan kegiatannya tanggal 18 Oktober 2016. Agak telat saya datang ke lokasi karena harus mengikuti rapat kampus dulu. Begitu sampai di lokasi tidak langsung ke ruang lomba karena mengira lomba dimulai setelah upacara selesai dilaksanakan. 


Di lokasi saya menilai kelas putera. Saya baru diberi tahu kalau lomba TIK nya adalah membuat profil regu dengan menggunakan perangkat lunak aplikasi presentasi. Nampak banyak regu yang membawa laptop dan netbook untuk menuntaskan tantangan tersebut. Ada juga yang menggunakan smartphone untuk membuat aplikasinya. Dan ada dua regu yang membuatnya secara manual di atas kertas karena yang satu tidak membawa perangkat TIK dan satunya lagi batere laptopnya habis. Saya sempat bantu regu yang baterenya habis dengan melihat satu persatu charger milik semua regu, dan sayangnya tidak ada yang cocok. Yang dikerjakan secara manual kami (tim juri) izinkan untuk menghargai usahanya mengikuti lomba.  




Karya adik-adik ini beragam, ada yang hanya mengandalkan template Microsoft Power Point, ada yang menyisipkan gambar yang diperoleh dari ponsel pintar, ada juga yang putih polos tanpa menggunakan template. Satu karya regu dari Kwaran Leles dianggap oleh saya menonjol karena pemilihan warna yang pas dengan kegiatan pramuka (nuansa coklat) dan mengandung unsur lokal (pola batik). Penataan gambar juga relatif baik sekalipun tidak konsisten posisi gambar yang diulangnya. Namun secara keseluruhan hasil akhirnya unggul tipis dibandingkan regu terbaik yang penataan kontennya bagus namun mengandalkan template standar. Akhirnya berdasarkan perhitungan point, untuk kelas putera, perolehan nilai terbesar adalah regu dari kwaran Leles.


16 Oktober 2016

Konferensi Komunitas TIK Garut 2016


Minggu 16 Oktober 2016 Komunitas TIK Garut akhirnya menyelenggarakan Konferensi Komunitas TIK Garut kembali. Konferensi pertama dilaksanakan pada tahun 2014 dan diikuti oleh belasan Komunitas TIK yang ada di Garut. Konferensi ini mempertemukan Komunitas dengan helix lainnya, terutama pemerintah. Kali ini Komunitas TIK Garut mempertemukan Komunitas TIK dengan Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut. Saya selalu ingin Komunitas TIK Garut merayakan miladnya tanggal 15 Oktober dengan acara Konferensi, karena semangat pendirian Komunitas TIK Garut dulu adalah menyatukan semua Komunitas TIK untuk tetap melaksanakan kegiatan relawan dalam bidang TIK.

Koordinasi Acara dengan Diskominfo Garut

Beberapa hari sebelumnya, pagi-pagi sekali saya berkunjung ke Diskominfo Garut. Agak susah untuk masuk ke kompleks Diskominfo karena ada mobil yang parkir di jalan yang hanya cukup satu kendaraan saja. Setelah memarkirkan kendaraan, ada kendaraan plat PNS di belakang yang membunyikan klakson. Lalu saya datangi dan bapak yang ada dalam kendaraan meminta saya untuk memasukan kendaraan melalui jalan yang mustahil bagi saya untuk dimasuki. Akhirnya saya bilang ke bapaknya, saya akan bawa keluar mobilnya agar kendaraan bapak tersebut dapat parkir di tempat saya parkir. Setelah kendaraan ini dimundurkan, ternyata bapaknya malah parkir di tempat lain. 

Akhirnya saya berputar dan coba masuk melalui jalan depan kantor Diskominfo Garut. Saat kendaraan masuk, terlihat kepala Diskominfo Garut sedang memberikan santapan pagi kepada pimpinan dan staf di lingkungan Diskominfo Garut. Pak Sekretaris Diskominfo Garut yang kebetulan berdiri menghadap ke arah jalan masuk yang digunakan oleh kendaraan saya melihat dan memberi intruksi tangan agar kendaraan ini dibawa masuk lebih ke dalam dekat kantor Diskominfo. Setelah memarkirkan kendaraan di jalan yang hanya cukup dilewati satu kendaraan, saya pun berdiri menunggu depan pintu kantor Diskominfo. 

Beberapa saat kemudian upacaranya bubar, Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si - Kepala Diskominfo Garut seperti biasa menyambut dengan hangat dan membawa saya masuk ke dalam ruangannya. Menyusul kemudian Drs Diar Cahdiar Antadireja, M.Si - Sekretaris Diskominfo Garut ke dalam ruangan. Dalam ruangan tersebut saya mengkonsultasikan tanggal pelaksanaan pembukaan pelatihan Saka (Satuan Karya Pramuka) Informatika Garut di mana Diskominfo merupakan salah satu anggota Majelis Pembimbingnya. Beliau menyarankan agar pelaksanaannya tidak berbarengan dengan Konferensi Komunitas TIK Garut. Tadinya saya berencana menjadikan acara pembukaan tersebut menjadi rangkaian acara terakhir dari JotI (Jambore on the Internet). Tetapi masukan dari beliau benar sekali, karena kalau disatukan pastinya akan membutuhkan energi yang sangat besar karena saya harus memimpin relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus turun langsung menyiapkan Area 306 sebagai lokasi kegiatannya, menggelar Konferensi Komunitas TIK Garut pada pagi harinya, dan membuka Pelatihan Saka Informatika siang harinya. 

Selain itu saya juga menyerahkan surat permintaan mobil Internet dari Kwarcab Garut dan menanyakan apakah MCAP (Mobil Community Access Point) dapat dikirimkan?. Ditanyakan pula tentang kebutuhan baru dari sistem informasi yang dulu dibuat oleh relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kepala Diskominfo Garut kemudian mengundang Kepala Bidang TPDE nya serta Kepala Seksi yang menangani data dan informasi ke ruangan. Drs Ajid Syayidin - Kepala Bidang TPDE menjelaskan kesiapan Diskominfo Garut mendukung JotI untuk mengirimkan MCAP. Sementara Deden Ferry Martin, S.Ip - Kepala Seksi Data dan Informasi menjelaskan kebutuhan baru sistem terkait update informasi yang telah diterbitkan. Saya kemudian menghubungi Robi Alisandi dan menyampaikan kebutuhan tersebut. Melalui sambungan telphon tersebut Robi menjanjikan akan memenuhi kebutuhan tersebut dan akan menyempatkan waktu datang ke Konferensi Komunitas TIK Garut agar dapat bertemu dengan Diskominfo Garut.

Dalam pertemuan tersebut Drs Diar Cahdiar Antadireja - Sekretaris Diskominfo Garut mengungkapkan bahwa umumnya kelompok di Garut ini adalah bekerja sendiri-sendiri, hal tersebut mungkin saja berlaku dalam Komunitas TIK di Garut. Saya mengiyakan seraya mengambil contoh dalam pengembangan aplikasi terkait bencana banjir. Saat itu ada dua kelompok relawan pengembang aplikasi yang bekerja membuat aplikasi bencana banjir. Salah satu diantaranya adalah Relawan TIK Garut yang membuat SIKOBE dengan platform web. Kelompok lainnya mengembangkan aplikasi serupa dengan platform mobile. Saya berpendapat, seandainya dua project ini disatukan tentu saja akan membuat aplikasinya lebih baik karena akan tercipta dua platform untuk satu aplikasi. Hanya saja memang di grup Whatsapp nampaknya pengembang lainnya ingin jalan sendiri, karena yang disampaikan adalah ajakan kepada relawan TIK Garut untuk ikut membantu pengembangannya, bukan ajakan agar project nya digabungkan. Saat itu saya sampaikan kalau semua relawan TIK Garut dengan kompetensi pengembangan perangkat lunak sudah fokus pada project SIKOBE. Relawan TIK Garut memiliki dorongan secara orgaisasi untuk ikut terlibat dalam situasi bencana di Garut. Seandainya ajakannya adalah menggabungkan dua project, tentu bisa dipenuhi. Tetapi karena ajakannya dapat membuat SIKOBE tidak dilakukan, saya tidak bisa mendorong relawan TIK Garut untuk berhenti dan membantu pengembangan aplikasi lainnya yang sudah ditangani oleh tim Universitas Telkom tersebut. 

Obrolan tersebut mendorong saya untuk mengusulkan kembali pembentukan Komunitas TIK Garut sebagai wadah untuk menyatukan Komunitas TIK yang ada di Garut. Pada tahun-tahun sebelumnya, kepala bidang informasi SETDA Garut mendorong Komunitas TIK Garut untuk mendampingi Komunitas TIK di Garut agar juga dapat meraih Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat. Sejak saat itu saya selalu mengarahkan Komunitas TIK Garut menjadi asosiasi Komunitas TIK yang ada di Garut. Itulah kenapa dalam strukturnya ada ketua Perhimpunan yang menunjukan jika Komunitas TIK Garut ini menghimpunkan Komunitas TIK berdasarkan empat kelompok, yakni pengguna TIK, penggerak masyarakat informasi, pengembang platform TIK, dan entrepreneur TIK. Ujung obrolan adalah kesepakatan dengan Diskominfo Garut bahwa Komunitas TIK Garut ini perlu dibadanhukumkan sebagai organisasi berbentuk asosiasi dengan pendiri dari unsur Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Pegiat TIK. 

Demikianlah cerita di Diskominfo Garut sebelum pelaksanaan Konferensi Komunitas TIK Garut. Suasana di Diskominfo Garut yang saya rasakan selalu hangat. Ini menunjukan Diskominfo Garut telah menciptakan ruang komunikasi yang baik dengan unsur Pendidikan Tinggi dan Pegiat TIK di Garut. 

Konferensi Komunitas TIK Garut

Pagi-pagi sekali saya siapkan slide presentasi yang berisi evaluasi pelaksanaan program bersama. Slide itu tidak saya siapkan pada malam hari karena lelah paska penyiapan Area 306 mendorong saya untuk tidur lelap. Di luar gedung D Sekolah Tinggi Teknologi Garut nampak mahasiswa baru yang menjadi anggota Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sudah menunggu. Saya memberi arahan tugas kepada mereka. Hari itu Risa Kristalia yang memegang uang kas tidak bisa hadir. Untung saja di tangan saya ada sisa uang Program Studi untuk belanja kebutuhan Area 306. Dalam kapasitas sebagai ketua Program Studi saya putuskan uang tersebut dipinjamkan untuk keperluan pembelian air minum dan snack peserta Konferensi Komunitas TIK Garut. Bagi saya pinjamannya seperti itu tidaklah besar jika dibandingkan manfaat kerjasama dengan Komunitas TIK Garut yang dirasakan sejak tahun 2012.  

Saya lupa meminjam sound system ke kampus. Tetapi syukurlah sound system punya Komunitas TIK Garut ada di kantor Program Studi. Satu dari dua wireless microphone nya masih layak digunakan. Saya meminta relawan TIK untuk mengambil dan membawanya ke Area 306.  

Pesertanya hadir agak telat, sehingga acaranya saya mulai sekitar pukul sepuluh pagi. Peserta yang hadir beragam, mulai dari guru pembina hingga siswa angggota atau pengurus Komunitas TIK. Sekretaris Diskominfo Garut memenuhi janjinya untuk hadir dan menyampaikan pengalamannya dalam menerapkan TIK di Garut kepada peserta Konferensi. Beberapa pengurus Komunitas TIK Garut hadir dalam kesempatan tersebut. Sayangnya saat diminta masukan terkait program bersama tidak ada yang bersedia menyampaikan, entah bingung, enggan, atau malu, hehehe. Namun hari itu saya sebagaimana Kepala Seksi Data dan Informasi Diskominfo berhasil mencatat berbagai kegiatan yang dilaporkan oleh setiap Komunitas TIK yang hadir, sebagai bahan masukan perumusan program bersama yang akan melibatkan Komunitas TIK yang hadir hari itu. Saya juga berhasil mencatat profil Komunitas TIK melalui Google Form yang saya siapkan malam harinya, yang diperlukan juga oleh Diskominfo Garut. 

Dalam kesempatan Konferensi tersebut saya menyampaikan kegiatan yang berhasil dan tidak berhasil dilaksanakan oleh Komunitas TIK Garut berdasarkan kalender bersama Komunitas dan Relawan TIK Garut yang disosialisasikan pada pertemuan Quadruple Helix yang dihadiri oleh unsur Kemkominfo, Diskominfo Jabar, Diskominfo Garut, Relawan TIK Garut, Komunitas TIK Garut, dan Kwarcab Pramuka. Program bersama yang berhasil dilaksanakan antara lain Olimpiade Komunitas TIK pada milad Relawan TIK Garut yang ke depannya diselenggarakan setiap milad Garut, dan Forum Quadruple Helix sebagai pengganti Konferensi Komunitas TIK Garut tahun 2015 yang sedianya diselenggarakan setiap milad Komunitas TIK Garut. Program yang tidak berhasil dilaksanakan adalah bulan relawan teknologi informasi internasional. Hal tersebut karena tahun 2016 tidak ada program Relawan TIK Korea Selatan yang diselenggarakan di Garut, serta karena GEG (Google Educator Grup) Garut yang dibentuk oleh Pengurus Komunitas TIK Garut / Relawan TIK Indonesia cabang Garut melalui bidang sumber daya manusia melaksanakan kegiatannya sendiri tanpa koordinasi serta pimpinannya yang juga Koordinator Komunitas TIK wilayah Utara Garut menyatakan membebaskan GEG Garut dari Komunitas TIK Garut / Relawan TIK Indonesia cabang Garut dan menjadi bagian dari Ikatan Guru Indonesia cabang Garut yang dipimpin oleh salah satu ketua perhimpunan Komunitas TIK Garut. 

Terkait pembelotan GEG Garut ini saya tidak bisa berbuat banyak. Dulu saya mempercayakan pembentukan GEG Garut kepada bidang pengembangan SDM (sumber daya manusia) untuk dua tujuan, yakni menguatkan program pelatihan TIK dasar Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi dan menyediakan program yang dibiayai lembaga internasional selain NIA (National Information Society Agency South Korea) di Garut. Alasan kepercayaan tersebut ada dua, yakni pertama dorongan registrasi GEG ini dilakukan oleh ketua umum Relawan TIK Indonesia dan pengurus bidang pengembangan SDM Komunitas TIK Garut ini merupakan anggota Relawan TIK Indonesia, dan kedua yang bersangkutan (pengurus bidang pengembangan SDM) menjabat dalam bidang pengembangan SDM di kepengurusan Komunitas / Relawan TIK Garut. GEG ini strategis bagi Komunitas TIK Garut karena Google menyediakan dana untuk penyelenggaraan program GEG. Saat yang bersangkutan di Diskominfo Garut menyatakan bukan bagian dari Komunitas TIK Garut tetapi berada langsung di bawah Google, saya hanya bisa mengingatkan kembali bagaimana GEG Garut ini dibentuk oleh Komunitas TIK Garut, dan mengingatkan kalau sejarah akan mencatat apa yang dilakukan oleh setiap pegiat TIK. Saya sampaikan Komunitas TIK Garut sebagai perhimpunan Komunitas TIK keanggotaannya bukan personal tetapi Komunitas TIK. Jadi tidak ada alasan bagi GEG Garut untuk tidak dapat menjadi bagian dari Komunitas TIK Garut yang mendirikannya. Belakangan saya agak heran karena yang bersangkutan menuliskan asal institusi GEG Garut adalah IGI (Ikatan Guru Indonesia) cabang Garut. Bahkan dibuat grup FB dengan nama GEG IGI Garut. Tapi ya sudahlah ... setiap orang membawa amalnya masing-masing. 

Akhirnya saya berterima kasih kepada Diskominfo, Komunitas TIK, dan pengurus Komunitas TIK Garut, yang telah menyediakan waktu hari libur untuk berkumpul. Utamanya kepada relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah membantu saya menyiapkan tempat dan mengelola kegiatan, serta Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah menyediakan gratis Area 306 sebagai tempat Konferensi. Konferensi Komunitas TIK memberi masukan kepada saya sehingga dapat membawa Komunitas TIK Garut ke arah kekinian yang dibutuhkan oleh Komunitas TIK yang ada di Garut dan Pemerintah Kabupaten Garut. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada setiap orang yang berbuat baik dan memberikan pahala berlipat kepada mereka yang mengerjakannya dengan sukarela. Amin.

22 September 2016

Pengalaman Memberi Dukungan TIK Perdana untuk Bencana di Garut


Malam hari tanggal 21 September 2016, saya berbincang dengan istri tentang bencana banjir yang baru saja menimpa Garut. Istri saya kemudian bertanya, kenapa sebagai Relawan TIK saya tdk menggalang bantuan makanan atau pakaian seperti yg lainnya?. Saya jawab, bahwa yg menangani itu sudah sangat banyak. Relawan TIK akan mengambil peran yg sesuai, yakni layanan TIK. 

Malam itu saya mengerjakan croud funding di kitabisa dot com untuk SEGI (Serikat Guru Indonesia) cabang Garut. Bantuan seperti itu merupakan salah satu layanan relawan teknologi informasi, yakni penyediaan informasi. Dalam menjalankan bantuan tersebut saya dibantu oleh Syauqi Ahmad Nurulloh, anak tertua saya yang berusia 8 tahun. Dia membantu mengambil gambar saya untuk keperluan registrasi akun kitabisa dot com. Ini pengalaman pertama saya menggunakan kitabisa dot com. 


Malam itu saya juga menawarkan bantuan yang sama untuk Posko Penanggulangan Bencana Garut melalui kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Namun satu hari ini saya hanya sanggup mengerjakan cround funding untuk SEGI Garut saja yang berhasil terbit di https://kitabisa.com/SEGIperduliGarut. Alhamdulillah, menurut pak Imam Tamamu Taufiq mulai ada donasi yang masuk. Semoga menjadi kebaikan kita semua. 


Keesokan harinya saya mulai mobilisasi relawan TIK untuk melaksanakan bantuan bagi institusi pendidikan terdampak. Alhamdulillah satu mahasiswa saya yang hari ini mengikuti kuliah PTI (Pengantar Teknologi Informasi) merespon di Facebook. Di kelas PTI saya jelaskan bahwa proses pembelajaran akan memberi pengalaman kepada peserta didik sebagai relawan TIK. Dan di penghujung perkuliahan saya menawarkan kepada mahasiswa saya di kelas tersebut untuk bergabung. Alhamdulillah ada sejumlah mahasiswa yang bersedia ikut serta. Di antaranya adalah purna Kelompok Penggerak TIK pelajar. 

 


Lepas Dzuhur setelah memenuhi kewajiban sarapan telat dengan baso tahu, saya pun bertemu dengan mereka, menjelaskan apa yang akan mereka lakukan di lapangan, menyebutkan sebelas sekolah sasaran terdampak bencana yang akan dibantu, dan mendorong mereka untuk membentuk tiga tim serta memilih pimpinannya. Setiap tim diisi oleh relawan TIK yang menguasai teknis informatika (jaringan komputer, troubleshooting, dan grafis). Relawan yang tidak memiliki keahlian teknis diberi tugas dokumentasi dan bantuan umum. Setelah itu saya sebagai ketua Relawan TIK Garut mengukuhkan semuanya dengan menyematkan pin Relawan TIK Indonesia kepada tiga pimpinan tim. Dengan demikian semua yang hadir saat itu menjadi anggota Relawan TIK Indonesia angkatan 2016 untuk masa kontrak layanan relawan TIK selama satu tahun. Pin nya hanya tiga buah karena stok pin yang diberikan oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ternyata sudah mulai menipis. Demikian pula dengan seragam Relawan TIK. Dengan stok yang mulai habis, saya hanya bisa memberikan tiga seragam lokal Relawan TIK Garut yang dulu diberikan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Setidaknya setiap tim ada tanda pengenal Relawan TIK Garut sebagai alat komunikasi dengan masyarakat yang dilayani. 


Selepas pertemuan tersebut, saya mengajak semua pimpinan tim untuk survei ke salah satu sekolah sasaran di Cimacan, yakni SMP PGRI Garut. Di lokasi saya berhasil menemui pak Deni Riswandi yang diinformasikan oleh kang Buntaran Christian. Beliau menerima baik dan memberi banyak informasi terkait perangkat TIK di SMP PGRI Garut. Beberapa guru juga menemani dan membantu menunjukan lokasi komputer yang terdampak bencana. Saat pertama kali masuk ke Laboratorium Komputer, nampak sejumlah komputer dalam keadaan tergenang. Unit sistem sudah terpisah dengan peripheralnya. Saya hanya melihat unit sistem dan monitor. Sementara keyboard dan mousenya mungkin terendam lumpur atau terbawa derasnya arus sungai Cimanuk malam itu. 






Pemimpin tim yang ikut mengambil sampel komputer untuk dilihat kondisi dalamnya. Nampak lumpur sudah masuk ke dalam unit sistem tersebut. Namun kami tetap akan memeriksa kemungkinan komputer untuk dihidupkan kembali pada kesempatan kedua. Salah satu pimpinan tim menginjak pecahan kaca sehingga kakinya berdarah. Survei tersebut memberi informasi kebutuhan dan resiko di lapangan kepada kami semua. Saya juga mulai mendefinisikan bantuan seperti apa yang akan diberikan oleh Relawan TIK Garut untuk institusi pendidikan terdampak bencana. Saya memasukan bantuan buku TIK dalam program ini setelah menerima masukan dari bapak Guru di sana dan melihat kondisi Perpustakaan yang memprihatinkan. Beliau mengatakan bahwa perpustakaan tersebut sangat penting, karena baru saja dijalankan Gerakan Literasi Sekolah di mana murid membaca sebelum belajar. 


Saat berjalan ke luar dari lokasi, saya melihat seorang relawan mengambil air dari ember milik penduduk untuk membersihkan kakinya yang terkotori lumpur seperti saya. Saat itu sempat saya ingin melakukan hal serupa. Tetapi saya melihat di kiri dan kanan, banyak ibu yang sedang membersihkan pakaian dan lain sebagainya. Saya melihat saat masuk ke lokasi mobil PDAM itu mengisi air ke ember-ember tersebut. Saat mengira ketersediaan air sangat terbatas sehingga rasanya saya tidak boleh menyentuh air tersebut. Saya pun memutuskan untuk mencari penjual minuman dala kemasan untuk membersihkan kaki.

Di pinggir jalan, salah seorang pemimpin tim mengusulkan kami menuju masjid untuk membersihkan lumpur. Saya keberatan karena lumpur dari kami pasti akan mengotori masjid. Oleh karenanya saya bergegas membeli dua botol besar air dalam kemasan. Tidak lupa saya juga memberi uang kepada salah satu pimpinan tim untuk membeli plester agar lukanya tertutup. Akhirnya kaki kami lumayan bersih. Untuk itu semua kami ternyata membutuhkan tiga botol minuman dalam kemasan besar, yang dijual murah oleh pemilik toko di sana. Begitu kami sampai di mobil, air hujan mulai menetes. Alhamdulillah, kami bisa survei di lokasi tanpa ditemani hujan.  

Sementara itu, di Facebook pak Yamin dari Yayasan Nawala Nusantara mulai mencolek beberapa kolega yang dapat ikut membantu program kami. Pak Yamin ini beberapa minggu sebelumnya telah memberi contoh kepada saya bagaimana sedekah TIK dilakukan. Beliau mensedekahkan LCD untuk Laboratorium Komputer Mini bagi Komunitas Raspberry Pi Garut. 

Saya meyakini sejak gerakan ICT4Pesantren diluncurkan tahun 2013 di Garut, ada banyak orang yang siap untuk bersedekah TIK bagi masyarakat yang membutuhkan. Saya telah berusaha semampunya untuk menjadi relawan TIK yang dapat mendesekahkan TIK berupa program aplikasi kepada Sekolah Tinggi Teknolog Garut dan Pondok Pesantren sejak tahun 2002. Sedekah TIK juga saya ajarkan kepada relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang saya asuh, seperti Yusef Bustomi dan Hendri Prayugo yang mensedekahkan Ubuntu Garut Edition, Iqbal Muhammad Hikmat yang mensedekahkan Papan Informasi Digital dan aplikasi ICT4Pesantren, serta Robi Alisandi yang mensedekahkan Sistem Informasi untuk Relawan TIK. Mereka semua sekarang menjadi programmer di sejumlah institusi bisnis dan pemerintahan dan sebagian diantaranya bisa sukses berkat pengalaman sedekah TIK selama menjadi Relawan TIK Garut. Bersama pak Eri Satria, saya juga belajar mensedekahkan komputer bagi Pondok Pesantren dalam program Ipteks bagi Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2014. 


Oleh karenanya saya percaya, ada dermawan di sana yang siap mensedekahkan TIK bagi sekolah sasaran yang terdampak bencana di Garut. Gerakan #SedekahTIK ini harus dijalankan. Allah membukakan jalan tidak disangka-sangka bagi setiap hambanya yang beriman dan beramal saleh. Bismillah.

Sekitar pukul empat sore saat turun hujan saya pun menjalankan kendaraan menuju rumah mertua di Suci. Saya putuskan mengisi bensin dulu karena semua akses jalan menuju Suci melalui jembatan sungai Cimanuk yang macet karena banyaknya masyarakat yang melihat lokasi terdampak bencana. Saya sempatkan sebentar berhenti di Indomaret untuk menunaikan shalat Ashar di masjid di sampingnya. Lepas shalat saya beli roti dan minuman, lumayan mengganjal perut yang mulai keroncongan, padahal sudah diisi baso tahu tengah siang tadi, hehehe.

Beberapa menit kemudian sampailah di rumah mertua. Istri saya menyiapkan makan untuk saya dari hajatan sunat anak kakaknya istri siang tadi. Sebelum pulang saya menyempatkan diri mengunjungi rumah kakaknya istri untuk menunaikan sesuatu yang seharusnya ditunaikan dari pagi tadi. Jadi teringat saat program Relawan TIK Korea Selatan dulu, saya tidak punya waktu cukup untuk bersama Syazwan yang baru lahir karena harus memastikan program Relawan TIK Korea Selatan berjalan baik. Semuanya demi amal, demi bangsa dan negara. 

15 September 2016

Romantika Candori 2016 Yogyakarta


Pada bulan September 2016 saya ditanya oleh teh Hani - teman Relawan TIK dari Bogor, apakah sudah dikonfirmasi kehadirannya melalui telepon oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk menghadiri Festival TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Candori 2016? Saya bilang sempat ada telepon dari jakarta tetapi tidak ada suaranya, mungkin karena handphone nya saat itu sedang terhubung ke internet. 

Beberapa waktu kemudian konfirmasi yang dimaksud muncul melalu email. Karena kegiatan Relawan TIK Indonesia selama ini menjadi bagian dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian, maka saya menyanggupi untuk hadir. Sebagai penghuni pulau Jawa saya diarahkan untuk menempuh jalur darat dengan kereta api atau lainnya. Syukurlah uang sertifikasi dosen cair tepat waktu sehingga saya bisa segera membeli tiket kereta api. Simpang siur jadwal acara membuat saya mengambil tiket pulang pada hari Senin, sehingga saya akan cukup lama di Yogyakarta karena diminta untuk datang oleh Kementrian pada hari Kamis.

Pagi hari tanggal 14 September 2016, saya mencetak x-Banner Relawan TIK Garut yang saya buat dengan Microsoft Power Point tengah malam tadi. Tidak ada uang kas Relawan TIK Garut, uang pribadi pun jadi. Biar nanti kwitansinya saya kasihkan ke Bendahara agar minus saldo kasnya bertambah, xixixixi. Minus itu dicatat sebagai dana talangan dari saya yang nanti diganti oleh organisasi kapan-kapan kalau dapat uang. Entah sekarang minusnya sudah berapa rupiah, saya tidak berusaha untuk mengingatnnya. 

   
Selepas mengambil x-Banner dan mengisi bensin, mobil yang akan saya gunakan ke Statsiun Bandung mati mendadak. Agak panik karena waktu sudah menuju malam, dan kalau mobil ini tidak bisa dihidupkan kemungkinan tiket berangkat besok hangus. Syukurlah kakaknya istri datang membantu. Ternyata masalahnya pada sambungan ACCU. Orang yang bisa troubleshooting komputer tidak jamin bisa troubleshooting mobil, hahaha.

Sekitar pukul tiga pagi lebih saya berangkat menuju Statsiun Bandung. Pagi itu saya sarapan nasi di statsiun kereta api. Alhamdulillah keretanya datang tepat waktu. Gerbong Eksekutifnya lumayan nyaman walau jauh kalau dibandingkan kabin pesawat Garuda, hahaha. Kenyamanan itu sedikit terganggu saat hidung ini mulai menunjukan masalahnya. Beberapa bulan ini saya memang mengidap Alergi Kronis di mana dua lubang hidung ini menyempit kalau terkena debu atau kedinginan.  

Sayangnya kereta api Lodaya Pagi ini mengalami masalah di roda sehingga perjalanannya menjadi delay satu jam. Selain itu air di toiletnya tidak berfungsi. Tadinya mau sms petugasnya, tidak jadi karena lupa isi pulsa, hehehe. Beberapa jam sebelum tiba di Statsiun, saya sempat dihubungi bang Mihram - Relawan TIK Papua yang sama-sama turun di Statsiun Yogyakarta kalau ia pergi menuju lokasi inap duluan. Kasihan juga sih kalau nunggu lama, gara-gara delay. 


Akhirnya sore itu saya tiba di statsiun. Saya menghubungi kang Ipan - ketua Relawan TIK Tasikmalaya yang tiba bersama dengan kereta api Lodaya Pagi melalui Whatsapp dan mengatakan akan salat dulu di masjid. Dalam perjalanan menuju masjid saya melewati warung nasi Gudeg Jogja. Langsung saja rencana dibuat untuk kembali ke sana setelah salat. Tidak lupa saya memberi tahu kepada kang Ipan kalau lokasi pertemuannya di rumah makan tersebut.


Lepas salat saya menunaikan hajat mencicipi Gudeg Jogja. Beberapa saat kemudian saya menerima informasi kalau kang Ipan ternyata sudah berangkat ke lokasi inap. Akhirnya diputuskan untuk merubah jadwal kepulangan dulu menjadi Minggu, karena kebetulan sebelum turun dari kereta api saya mendapatkan informasi kalau jadwal kegiatan dari Jum'at sampai Sabtu. Agak lama antri di loket sambil menggendong tas yang berat. Tapi akhirnya tiket pulang berubah dengan membayar sekitar 80 ribu atau 20% dari harga tiketnya. Bang Mihram menghubungi kembali menanyakan di mana posisi saya. Saya sampaikan kalau saya masih di Statsiun Kereta Api untuk memperbaiki tiket pulang.

Di statsiun itu saya memilih ojeg untuk sampai ke lokasi inap. Pilihan keliru karena saya harus menahan beban tas yang berat dan mempertahankan kantung x-Banner dengan tangan kiri dari dorongan angin dari depan saat motornya melaju kencang. Dengan kelelahan akhirnya sampai di hotel tempat Relawan TIK menginap. Di depan pintu sudah menunggu wa Aboer, Relawan TIK dari Majalengka. Beliau yang didaulat sebagai koordinator pemondokan menyerahkan kunci kamarnya ke saya. Kebetulan saat dalam perjalanan kereta api sebelumnya, melalui Whatsapp beliau menawarkan diri untuk tidur sekamar. Selain dengan beliau, bang Semy - Relawan TIK Ambon juga mengonfirmasi melalui Whatsapp saat saya di kereta api siap satu kamar dengan kita berdua. 

Rasanya lelah sekali dan ingin tidur, tetapi malam itu saya sebagaimana teman-teman Relawan TIK lainnya harus berangkat menuju Graha Pustaka tempat penyelenggaraan Festival TIK. Di lokasi kita berbincang informal dengan teman-teman dari Direktorat Pemberdayaan Informatika seputar pemanfaatan TIK di desa. Ada kepala desa dan pegiat perempuan yang hadir dalam diskusi ringan malam itu. Beberapa saat kemudian datang ibu Septriana Tangkari, Direktur Pemberdayaan Informatika menyalami kami dan mengemukakan pendapat dan harapannya terhadap Relawan TIK indonesia. 



Beliau juga mengenalkan Relawan TIK Indonesia kepada staf ahli menteri bidang TIK yang menyarankan agar ke depannya Relawan TIK ini diberikan insentif seperti pendamping desa pada umumnya. Gagasan tersebut bukan hanya sekali saya dengar, tetapi pada bulan-bulan sebelumnya saya juga mendengar gagasan tersebut dari Asisten Deputi Menko Ekuin saat diskusi dalam forumnya kepala Dinas Usaha Kecil Menengah dan Koperasi provinsi Jawa Barat. Soal insentif ini saya berpegang pada literatur yang pernah saya baca pada tahun 2012 saat membuat konsep Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK untuk Direktorat Pemberdayaan Informatika, bahwa insentif itu terkadang dicari oleh mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap, dan terkadang juga mengganggu semangat relawan. Bagi pelajar, insentif yang dikejar itu berbentuk peningkatan kapasitas gratis, bukan uang. Bagi saya, untuk mewujudkan gagasan satu desa satu relawan TIK yang disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, diperlukan pengelolaan kegiatan kaderisasi dan pelayanan relawan TI yang serius. Jika pekerjaan serius ini dilakukan oleh relawan TIK pendamping desa, maka insentif tersebut merupakan hal yang masuk akal, sebagaimana masuk akalnya insentif bagi pendamping desa, walaupun umumnya relawan dapat bekerja tanpa insentif. Saya melihat penerapan insentif ini kondisional. 


Keesokan harinya saya bergegas memasang standing banner Relawan TIK Garut di lokasi. Ternyata di sana sudah berdiri sejumlah standing banner milik Relawan TIK Indonesia, pengurus wilayah, dan pengurus cabang. Juga ada standing banner milik saka Telematika yang dirintis oleh Relawan TIK Jawa Barat. Berbeda dari banner lainnya, yang saya buat ini menampilkan luaran kegiatan Relawan TIK di Garut yang dibagi ke dalam empat bagian sesuai komponen layanan pada framework tiga lapis infrastruktur pembangunan masyarakat informasi yang tertuang dalam artikel penelitian saya. Bagian tersebut meliputi kerja kolaborasi, kerja teknologi informasi, kerja literasi digital, dan kerja informasi. 



Lepas salat Jum'at, di hotel saya berbincang dengan teman-teman Relawan TIK dari Papua, Ambon, dan Lampung. Saya juga akhirnya bertemu dengan teman Relawan TIK yang mengira saya itu perempuan. Padahal namanya sudah diubah jadi Cahyana dan fotonya diganti jadi gambar Festival TIK Candori, tetap saja masih dianggap perempuan ... nasib, hahaha. Secara mendadak tiba-tiba kami berfikir untuk menggunakan sebagian waktu untuk menjelajahi Yogyakarya, karena tidak ada waktu yang disediakan oleh panitia untuk melakukan hal penting tersebut. Akhirnya kami patungan dan melaju ke Perambahan untuk kemudian berakhir di Malioboro. Mbak Nova - Relawan TIK Bojonegoro juga ikut jalan bersama kami. Ceritanya Malioboro ini makan siang yang tertunda bari Relawan TIK Garut, Papua, Lampung, dan Bojonegoro, karena pada saat berangkat kami melewatkan makan siang di Graha Pustaka. Perjalanan tersebut cukup menguras tenaga dan membuat kami semua kehausan. 

  


Malam harinya pak FED (Fajar Eri Dianto) - Ketua Relawan TIK Jawa Barat sekaligus ketua bidang literasi pusat mengumpulkan kami semua untuk mendiskusikan tentang calon ketua umum baru. Kang Gery dari Jawa Barat sudah ramai sebelumnya di grup Whatsapp Relawan TIK Indonesia untuk diangkat jadi calon ketua umum. Saya adalah satu-satunya di grup yang menyuarakan #FED2016 di saat banyak orang memasang tagar #Gery2016. Maklumlah, karena pak FED ini pernah mempengaruhi saya sehingga kata Pecinta dalam nama Kelompok Pecinta TIK saya ubah menjadi Penggerak. Saya juga melihat Relawan TIK Jawa Barat solid di bawah kepemimpinan beliau. Jadi, walau banyak orang bilang beliau terlalu senior untuk maju jadi calon ketua umum, saya melihat dalam kondisi ini beliaulah yang tepat menjadi ketua umum.  

Tentang bursa calon ketua umum ini saya jadi ingat perbincangan dengan teh Meti - Relawan TIK Bandung saat kereta api mulai berangkat. Waktu itu saya menyatakan dukungan terhadap pak FED dan bertanya bagaimana pendapatnya tentang kang Gery sebagai calon ketua umum?. Teh Meti mengatakan dua-duanya diharapkan oleh relawan TIK Jawa Barat. Kalau kang Gery maju pun di belakangnya tetap ada pak FED, hehehe. Kemudian teh Meti mendorong saya untuk juga masuk bursa ketum, karena katanya Jabar memikirkan kang Gery atau saya yang maju. Jawabannya sama seperti yang pernah disampaikan kepada pak Bambang, pak FED, dan pak Yamin, bahwa saya tidak bisa karena ingin tahun depan fokus kuliah strata tiga. 


Malam itu pak Yamin dari Yayasan Nawala Nusantara datang dan mendorong saya untuk maju jadi calon ketum. Bahkan beliau mengajak saya bicara bertiga dengan pak FED agar saya bersedia maju. Tetapi jawaban saya tetap sama dan saya mengatakan kepada pak FED kalau saya istiqomah mendukung beliau. Lepas itu, dalam kumpulan tersebut pak Yamin masih saja mengatakan kalau saya bersedia menjadi calon ketum, hahaha. Melalui Whatsapp saya memberi penjelasan kepada beliau berdua, point penting penjelasannya adalah sebagai berikut :
  • Pada prinsipnya saya sebagaimana kawan RTIK Universitas lainnya selalu ingin jadi dan membesarkan RTIK Id. Oleh krn nya saya membutuhkan dan akan mendukung siapapun caketum yg terbuka dan mampu menyatukan semua kekuatan yg Indonesia miliki dgn melepaskan segala sekat2nya. 
  • Saya melihat kawan2 yg telah sukses memimpin banyak relawan utk melaksanakan kegiatan RTIK di daerahnya (baik dgn atau tanpa konsep) adalah manusia Indonesia terbaik yg dapat dipilih utk Caketum ke depan. 
  • Selama masih ada yg lebih baik dari saya utk jadi Caketum, maka saya akan senantiasa seperti sekarang, selalu memberi dukungan dgn apa saja yg saya miliki.
  • Dengan senang hati saya membantu RTIK Id sebagai apapun, seperti sekarang ini yg walau hanya ketua RTIK Cabang kota kecil Garut secara de facto, saya senantiasa berbagi konsep yg dijalankan di Garut. 
  • Saya siap membantu sepanjang kemampuan, karena saya tahu bhw menjadi Relawan itu baik personal atau pemimpin tim hrs memiliki komitmen waktu dan kemampuan.   


Sebenarnya saya tidak ingin bersikap tidak sopan menolak dorongan para senior ini. Tetapi saya melihat tanda-tanda kalau tahun depan fikiran saya harus mantap studi strata tiga, di mana Prof Iping sudah membukakan pintu, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendorong saya untuk memikirkan kuliah strata tiga. Prof Ali Ramdhani sebagai penasihat Relawan TIK Garut mengatakan jika semua pilihan mengandung kemaslahatan dan memiliki konsekuensi, beliau mempercayakan kepada saya untuk memilih sendiri apa yang dianggap terbaik.

Malam hari itu saya berbincang dengan pak Deo Rindengan - Relawan TIK Menado yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Samratulangi. Sama seperti saya, beliau pun ada yang dorong menjadi calon ketum. Dan beliau menolak dengan alasan yang sama seperti saya, karena sudah diminta oleh Dekan untuk segera kuliah strata tiga. Sejak Rakernas Bandung tahun lalu, saya sebenarnya berkeyakinan kalau rekan dari Indonesia Timur punya kapasitas untuk menjadi calon ketum. Namun pak Deo mengubah keyakinan saya malam itu, beliau mengatakan keberadaan ketum dekat dengan Jakarta sangatlah penting. Beliau mendorong saya untuk jadi calon ketum. Kali ini menjawabnya relatif mudah karena jawaban penolakannya sama persis dengan jawaban pak Deo, hehehe. Malam itu kita sama-sama bersepakat kalau di struktur kepengurusan pusat harus ada wakil dari Perguruan Tinggi, karena Perguruan Tinggi seperti Universitas Samratulangi ataupun Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendukung budaya relawan dan menyediakan sumber daya relawan yang sangat banyak. Kita mendukung kalau pak Said dapat mewakili unsur Perguruan Tinggi, sekiranya beliau tidak sibuk dengan S3 nya, hehehe.

Keesokan harinya saya kembali mendapatkan dorongan dari beberapa pengurus Wilayah. Tetapi saya tetap tidak bergeming dari pendirian. Saya meminta semuanya satu suara untuk mendorong pak FED. Saya sempat merasa kaget saat pak Deo di sesi break menunjukan foto pertemuan Munas, karena nama saya masih muncul di daftar calon ketua umum. Tetapi semua sesuai dengan yang saya harapkan, pak FED mendapatkan suara mayoritas, yes !. Saya jadi teringat malam itu saat pak FED berusaha mempengaruhi banyak relawan TIK untuk mendukung saya ... saya berhasil membalikan dukungan relawan TIK kepada beliau, hahaha. Saat ini hanya pak FED menurut saya ketua umum yang tepat untuk membawa perubahan pada Relawan TIK Indonesia. Saya merasa yakin bukan hanya Relawan TIK di Jawa Barat saja yang berfikir demikian. 


Saat sesi ramah tamah, perkenalan Relawan TIK Jawa Barat dipimpin oleh kang Fajar yang jadi pelaksana harian Relawan TIK Jawa Barat. Dan ya ampun, kembali lagi Relawan TIK Jawa Barat mengeluh soal penolakan pengurus pusat Relawan TIK Indonesia terhadap konsep Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK yang saya buat. Saya berbisik kepada pak FED untuk menanyakan kenapa kang Fajar mengungkin lagi masalah itu? Saya serasa kembali ke masa lalu saat Rakernas di Bandung tahun lalu, saat pak FED selaku ketua Relawan TIK Jawa Barat juga mengungkit masalah tersebut. Waktu itu saya bilang ke beliau, "ya ampun pak, tidak perlu diungkit lagi". 


Bagi saya, penolakan "politis" tersebut tidak menjadi masalah. Ada banyak kepala di dalam Relawan TIK Indonesia yang berbeda pemikiran dan bahkan meragukan hal-hal berbau kajian. Saya boleh meyakini kajian dapat menstrukturkan gerakan, tetapi banyak kawan yang berfikir gerakan itu tidak perlu terstruktur, cukup lakukan apa yang bisa dilakukan. Itulah sebab kenapa saya berkata, "Saya lebih suka memimpin diri sendiri dalam kegiatan berfikir dari pada memimpin masa dengan pemikiran yang banyak". Saya lebih senang melakukan kajian dari pada berhadapan dengan perdebatan. Menerima sikap penolakan terhadap hasil kajian walau itu politis adalah lebih baik dari pada berderbat. Setidaknya itu yang saya pelajari dari kasus penolakan tersebut. Bagi saya, di dalam atau di luar, di terima atau diusir dari Relawan TIK Indonesia, aktivitas relawan akan tetap saya jalani, karena ia merupakan sedekah pembersih dosa, relawan adalah tarikat yang saya lalui untuk "membentuk hati".