Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

29 Februari 2016

Uji Kompetensi SMK IT Nurul Amien


Garut, 29 Februari 2016 adalah hari pertama uji kompetensi di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Islam Terpadu Nurul Amien di kecamatan Leuwigoong untuk bidang Rekayasa Perangkat Lunak. Saya datang ke lokasi sebagai penguji siswa-siswi yang akan lulus dari sekolah tersebut. Ini adalah pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan kurikuler di sekolah. 

Beberapa minggu sebelumnya saya mendapat telpon dari kak Makmul Arief, rekan pengurus Kwartir Cabang Garut, yang meminta saya untuk dapat menjadi penguji kompetensi di sekolah yang dipimpinnya. Saya menyanggupinya, dan membantunya untuk mendapatkan satu penguji lagi dari Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Yang menarik, ternyata guru-guru produktifnya merupakan mahasiswa program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Informasi ini menambah peta lulusan program studi yang bekerja sebagai guru produktif di SMK bidang Informatika dan tersebar di berbagai kecamatan di Garut. Jadi ingat kepada diri saya sendiri, lulusan program studi yang ditakdirkan harus meniti karir sebagai tenaga pendidik di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dan tidak disadari, penguji dari Dinas Komunikasi dan Informatika Garut pun ternyata mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Jadi tim penguji dan guru produktifnya serba Sekolah Tinggi Teknologi Garut, hehehe.

Tahun ini memang banyak permintaan uji kompetensi ke saya, di mana dua lokasi dialamatkan sekolahnya ke Komunitas TIK Garut yang saya pimpin dan satu lokasi ke Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Salah satu sekolah yang mengajukan uji kompetensi ke Komunitas TIK Garut mengemukakan alasannya yakni karena di Komunitas TIK Garut terdapat banyak orang yang kompeten di bidang TIK. Alhamdulillah karena memang umumnya pengurus Komunitas TIK Garut adalah tenaga pendidik baik di sekolah ataupun di perguruan tinggi. Di Komunitas TIK Garut, pembicaraan uji kompetensi ini sejak tahun 2014. Saat itu layanan uji kompetensi diwacanakan akan dilaksanakan oleh Komunitas TIK Garut. 

Di SMK Nurul Amien saya melihat kemampuan peserta ujian dalam pengembangan aplikasi komputer. Mereka bisa menggunakan kreatifitasnya untuk membuat aplikasi sesuai dengan kekhasan mereka. Ada sejumlah keahlian yang belum mereka capai, dan ini membuat saya terdorong untuk menyelenggarakan kegiatan di Garut yang bisa mengisi kesenjangan tersebut. Program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut harus dapat turut serta meningkatkan kemampuan siswa SMK Informatika dan mendorong mereka bisa berprestasi minimal pada level Garut. 

Sebelumnya saya sudah membawa Hackathon Merdeka 2.0 ke Garut, di mana dalam lomba nasional tersebut programmer di Garut memperlombakan aplikasi komputer yang dibuatnya. Berdasarkan pengalaman ini kemudian Dinas Komunikasi dan Informatika Garut mempersiapkan lomba pengembangan aplikasi eGoverment tahun ini, yang direncanakan rutin digelar setiap tahunnya. Tinggal peran pendampingannya yang harus diisi oleh program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan juga oleh Komunitas TIK Garut. 

25 Februari 2016

Smartfren Community and Media Gathering


Pada tanggal 23 Februari 2016, mas Tri Herlambang dari Klix Digital memberitahu rencana kegiatan melalui Facebook yang akan melibatkan Blogger Garut. Undangannya saya terima melalui email Komunitas TIK Garut pada hari yang sama dengan penjelasan bahwa pada acaranya nanti akan hadir jajaran manajemen Smartfren yang akan berbagi layanan Smartfren tahun 2016 dan beramah tamah dengan Blogger Garut. Ipan Setiawan yang ditunjuk sebagai koordinator Smartfren Community di Garut merekomendasikan kepada Smartfren beberapa Blogger Garut untuk diundang ke acara tersebut. Sebagian besar dari Blogger tersebut saya kenali di grup Kelompok Pengguna TIK yang yang dikelola oleh pengurus Komunitas TIK Garut. Jadi undangan tersebut bagi saya sekalian merupakan temu darat dengan Blogger Garut.

Malam Jum'at tanggal 25 Februari 2016 saya memenuhi undangan Smartfren untuk menghadiri Community and Media Gathering di Kampung Sampireun. Blogger yang hadir dalam acara tersebut beragam, mulai dari dosen, guru, penyiar, hingga pelajar. Di lokasi setiap Blogger diberi salah satu produk unggulan Smartfren, yakni router 4G LTE Mifi Andromax M2Y untuk menjajal kemampuannya. Saya menunjukan produk yang sama kepada mas Tri yang diberikan oleh teh Rosa dari VMeet sebagai hadiah saat Teleconference Diskominfo Jawa Barat bersama Smartfren. Artinya sebelum mengikuti acara yang mengenalkan 4G LTE saya sudah merasakan sendiri berselancar di internet menggunakan jaringan tersebut. Layanan internet Smartfren ini sudah saya kenali dan rasakan beberapa tahun yang silam saat Smartfren masih fokus di pasar CDMA. Saya mengenalnya pertama kali dari KH Abdul Halim Musaddad saat membantu menghubungkan jaringan lokal Sekolah Tinggi Agama Islam al-Musaddadiyah dan Yayasan al-Musaddadiyah ke internet menggunakan router CDMA Smartfren.

Suasana Pertemuan Blogger Garut dengan Manajemen Smartfren

Dalam kesempatan memperkenalkan diri, saya mengemukakan pengalaman menggunakan Smartfren. Pada tahun 2012 saya menerima dua unit MPLIK (Mobil Pusat Layanan Informasi Kecamatan) dari PT Rahajasa Media Internet untuk dioperasikan oleh Kelompok Pecinta TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Koneksi internet MPLIK sebenarnya menggunakan VSat. Hanya saja kendala teknis menyebabkan sambungan internetnya tidak berfungsi. Saat itu saya memutuskan untuk menggunakan dua buah router CDMA Smartfren agar semua laptop di dalam mobil tersebut bisa digunakan oleh pengguna layanannya.

Gambar Operator MPLIK dari KPTIK STTG

Gambar Potongan email yang dikirim setelah MPLIK ditarik dari KPTIK STTG

Dalam pertemuan tersebut, manajemen Smartfren menjelaskan Smartfren Community. Komunitas ini dibangun sebagai saluran komunikasi antara manajemen Smartfren dengan pengguna produk dan layananya. Selain itu anggota komunitas Smartfren juga diharapkan dapat menangani masalah teknis yang dihadapi oleh pengguna produk Smartfren dan memberikan literasi produk dan layanan Smartfren kepada masyarakat. 

Smartfren adalah provider pertama yang membawa teknologi 4G LTE ke Garut dan memiliki jaringan 4G terluas di Indonesia. Bicara tentang 4G ini saya teringat sosok Prof. DR. Khoirul Anwar, ilmuan Indonesia lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung yang menemukan sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing. Beliau adalah Dosen sekaligus peneliti yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.

Ilmuan 4G Indonesia

Smartfren menggunakan teknologi 4G LTE Advanced, di mana frequensi Time Division Duplex yang menyediakan kapasitas bandwidth yang besar dan Frequensi Division Duplex yang menyediakan jarak jangkau dalam satu pipa. Agar jaringan ini tersebar merata di Garut, Smartfren memprioritaskan penggunaan Frequensi Division Duplex. Dengan prioritas ini pengguna 4G Smartfren dapat menikmati kecepatan internet dari 2 sampai 8 Mbps. Pengalaman saya menggunakan router 4G LTE Andromax M2Y, kecepatan tertinggi yang pernah dicapai adalah 4 Mbps. Kecepatan ini berubah-ubah tergantung jumlah pengguna dan jaraknya dengan jaringan. Gambar berikut ini merupakan rekaman kecepatan dari Mifi Andromax pemberian teh Rosa yang saya gunakan. Dengan kualitas jaringan optimum, fitur terbaik dari teknologi Smartfren yakni Voice over LTE dapat dinikmati dengan kualitas tinggi dan waktu respon terbaik dibandingkan teknologi lainnya.  


Hasil pengujian kecepatan dan koneksi Smartfren

Kombinasi harga dan kecepatan yang beragam dari semua layanan penyedia internet di Garut membukakan kesempatan bagi masyarakat Garut untuk memilih layanan internet sesuai dengan kemampuannya. Kebutuhan internet berkaitan dengan kecepatan, dan pengguna akan memilih berdasarkan perbandingan tarifnya. Selamat merasakan dan memilih.

21 Februari 2016

Pengantar Himpunan Mahasiswa


Minggu, 22 Februari 2016, hingga pukul setengah satu pagi presentasi ini diselesaikan untuk disampaikan dalam acara Mabim (Masa Bimbingan) mahasiswa baru Prodi (Program Studi) Teknik Informatika STTG (Sekolah Tinggi Teknologi Garut) yang diselenggarakan oleh HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika). Sebagai ketua Prodi saya ingin memberikan gambaran kepada mahasiswa dan pengurus HIMATIF tentang bentuk kegiatan seperti apa yang harus dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa agar sejalan dengan kebijakan pemerintah dan kepentingan akreditasi Prodi. Melalui presentasi ini saya berusaha mendorong mahasiswa agar turut serta bersama Prodi dalam memenuhi standar kemahasiswan dengan melakukan kegiatan relevan dibawah pengelolaan HIMATIF. 

Karena pengerjaan presentasi ini hingga pagi, saya memerlukan waktu tidur tambahan di pagi hari. Memastikan tubuh bugar diperlukan mengingat lokasi pelaksanaan Mabim lumayan jauh, yakni di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional Pameungpeuk, sekitar perjalanan 3 jam dari pusat kota. Saya berencana pulang pergi mengingat anak bungsu dari kemarin hingga hari ini demam, khawatir memburuk dan perlu dibawa ke klinik. Selain itu besok harinya di STTG ada pertemuan untuk mengenalkan Prodi Teknik Informatika kepada calon mahasiswa.

Jam 10 an saya mengontak pak Eri Satria, berharap beliau punya waktu untuk menemani ke lokasi Mabim. Alhamdulillah, walau sudah menjelang siang ternyata beliau bisa menemani, sehingga saya tidak perlu sendirian menyusuri jalan ke Pameungpeuk yang berkelok. Namun perlu perjuangan untuk menjemput beliau. Jarak tempuh yang diperlukan ke rumah beliau biasanya sekitar belasan menit, kini harus hampir satu jam. Jalanan dikepung oleh kemacetan karena hari ini adalah pawai milad Garut. Dari jalan pembangunan saya memutar ke copong, bunderan Tarogong, hingga ke hampor. Dalam perjalanan sempat melihat dan berusaha menyapa sekretaris Dinas Komunikasi Informatika Garut yang berada di barisan depan dan mengayuh sepeda ontel bersama komunitasnya. Sempat bertanya di dalam hati, kapan Komunitas / Relawan TIK Garut ikut konvoi atau pameran dalam milad Garut. Tapi pikiran itu buyar setelah menyadari perkumpulan ini belum didaftarkan ke Kesbangpol Garut. Masih perlu waktu untuk bisa melakukan itu, sementara cukup puas dengan kesanggupan menjalankan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Akhirnya jam 12 siang berhasil keluar dari kecamatan Samarang, dan perjalanan menuju Pameungpeuk pun lancar. Acara Mabim dibuka siang hari tanpa kehadiran saya. Syukurlah ada ketua STTG didampingi Wakil Ketua II STTG dan Sekretaris saya membuka acara tersebut. Sementara itu saya masih di daerah Batu Numpang, istirahat sebentar di rumah makan dan menyantap makanan dengan lahapnya saking enaknya masakan di sana. Sampai di lokasi jam 15 an. Setelah berbincang sebentar dengan Wakil Ketua II STTG dan Sekretaris saya, waktu menuju Maghrib dimanfaatkan untuk melengkapi materi presentasi. 

Sekretaris saya menginformasikan kalau materi saya dilaksanakan sekitar jam tujuh malam. Waktu menunggu dimanfaatkan untuk makan Seafood bersama pak Eri di tepi pantai. Satu jam kemudian panitia menghubungi melalui sms dan telpon menginformasikan sesi saya sudah akan dimulai. Makanan enak tersebut pun segera dihabiskan untuk dapat kembali ke lokasi. Ternyata ada dua orang alumni sudah menunggu, yang salah satunya adalah Koordinator Komunitas TIK wilayah Selatan Garut. Saya yang mengundang untuk mengevaluasi pelaksanaan Olimpiade Komunitas TIK se Garut bulan lalu. Karena waktunya bertepatan dengan sesi materi tersebut, saya ajak keduanya untuk menemani penyampaian materi di depan mahasiswa baru dan HIMATIF.

Dalam sesi tersebut saya jelaskan semua bagian Slide, di mana HIMATIF perlu menjalankan tiga kegiatan yakni 1) Kaderisasi anggota dan pengurus HIMATIF yang akan menjamin keberlanjutan program kemahasiswaan, 2) Mewujudkan prestasi akademik dan non akademik, serta 3) Melaksanakan pelayanan kepada masyarakat internal dan eksternal kampus sebagai usaha mendorong ketuntasan kuliah mahasiswa dan bagian dari promosi Prodi. Dan yang terpenting dari itu semua adalah HIMATIF harus mewujudkan transparansi kepengurusan, di mana laporan pertanggung jawaban kepengurusan, pengurus bidang, dan panitia ad-hoc disimpan di Cloud Storage, diterbitkan di situs web HIMATIF, dan disebarluaskan di media sosial. Keterbukaan dokumen di internet dan banyaknya akses kepadanya diharapkan dapat meningkatkan rangking Webometric STTG dari posisi terakhir 1 se Garut, 114 se Indonesia, dan 8010 se dunia. Selain itu juga untuk menjamin tidak terputusnya pengetahuan dari generasi ke generasi sehingga diharapkan ada peningkatan kualitas kegiatan setiap generasinya. 

Presentasi ditutup dengan yel-yel "Informatika, Satu !", dengan makna bersatu untuk menjadi nomor satu. Berikut adalah slide presentasi yang disampaikan :
    


17 Februari 2016

Teleconference tentang Pos Penyuluhan Desa


Rabu, 17 Februari 2016, saya mengikuti Teleconference dengan Asisten Daerah II provinsi Jawa Barat yang digagas oleh Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Ciamis / Desa Melek IT (Information Technology) Ciamis. Satu hari sebelumnya teman dari VMeet menghubungi agar Garut ikut dalam Teleconference tersebut dan diupayakan menghadirkan perwakilan desa. Komunitas TIK Garut saat didaulat provinsi sebagai Komunitas TIK terbaik memang diberi hadiah perangkat Teleconference, sehingga setiap ada kegiatan Teleconference se Jawa Barat, VMeet selalu menawarkan kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan tersebut. Pembahasan tentang desa ini menarik karena saya sekarang ini banyak melihat konten tentang desa di internet. Sebelumnya saya dilibatkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika dalam pembahasan Peraturan Menteri tentang Relawan TIK di mana satu relawan TIK untuk satu desa. Belum lagi bulan ini proposal hibah bina desa dibuka, sehingga Teleconference ini sangat penting diikuti oleh saya dan teman-teman di Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk melihat kesenjangan yang ada di desa dan menemukan gagasan penyelesaiannya. 

Oleh karenanya malam itu juga saya hubungi wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang kerjasama untuk mengajukan penyelenggaraan kegiatan tersebut di kampus. Saya yakinkan beliau bahwa memberikan pelayanan kepada desa terdekat kampus merupakan tanggung jawab pengabdian masyarakat yang wajib ditunaikan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Pelayanan yang dimaksud adalah menghubungkan aparatur dan masyarakat desa dengan pihak-pihak terkait yang terlibat dalam Teleconference tersebut. Akhirnya beliau megatakan bahwa saya mendapat izin dari ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sehingga kegiatan pun dapat dilaksanakan di ruang rapat kampus jam 15.30. Setelah itu saya bagikan di Facebook dengan menandai beberapa kontak seperti Diskominfo Garut dan Kecamatan Garut Kota. Dan saat itu ada konfirmasi ingin hadir dari dua instansi pemerintahan tersebut baik melalui Facebook ataupun Whatsapp.

Pagi hari pada hari pelaksanaan kegiatan saya harus menuntaskan dulu nilai matakuliah Dasar Komputer dan Internet, koordinasi dengan bagian sarana untuk memberi daftar kebutuhan perangkat Teleconference, lalu membuat dan mengirimkan surat ke kantor Desa. Di kantor desa kebetulan bertemu dengan kepala Desa sehingga saya bisa sekalian menjelaskan kepada beliau dengan siapa beliau akan melaksanakan Teleconference. 

Tadinya sekitar jam 13.00 akan menyiapkan ruang dan perangkat Teleconference, tapi ternyata pada jam itu saya punya jadwal mengajar perdana matakuliah Dasar Komputer dan Internet di program studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam al-Musaddadiyah. Saya minta izin ke kolega di VMeet untuk gabung pengujian perangkat sekitar jam 14.00. Lepas dari kelas, sayapun menyiapkan ruangan dan perangkat Teleconference.

Ternyata sound system yang dimiliki STTG tidak bisa digunakan untuk Teleconference, akhirnya saya pulang ke sekretariat Komunitas TIK Garut dan membawa sound system. Hari itu saya siapkan semuanya mulai dari ruangan, perangkat, dan lainnya. Hal ini bukan masalah buat saya karena dalam kegiatan relawan TIK kerja self-service itu biasa dilakukan. Lagi pula ini saya lakukan untuk kepentingan penelitian dan pengabdian masyarakat yang diharapkan akan dapat membantu masyarakat desa, minimalnya di Garut.

Dalam kegiatan Teleconference tersebut dibahas tentang Pos Penyuluhan Desa. Di ruangan tersebut saya sempat ditemani Prof DR Muhammad Ali Ramdhani yang merekam Teleconference tersebut untuk disampaikan ke Kementrian Desa sebagai sampel komunikasi pemerintah dengan desa. Dalam kegiatan tersebut saya memberikan masukan kepada pemerintah provinsi Jawa Barat agar pengetahuan tentang permasalahan dan solusi yang muncul dalam interaksi antara penyuluh desa dan masyarakat yang dilayaninya disimpan dalam basis pengetahuan yang dapat diakses melalui portal desa nasional. Dengan adanya basis pengetahuan tersebut diharapkan pengetahuan yang muncul di desa tertentu dapat diketahui oleh masyarakat desa lainnya. Hal ini meringankan pekerjaan penyuluh desa dan juga mempercepat pertumbuhan pengetahuan masyarakat desa. Selain itu pemerintah juga mudah untuk mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh masyarakat desa secara umum sehingga program yang dirumuskan berdasarkan masalah tersebut lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa.


Saya keluar dari Teleconference tersebut sebelum waktunya karena kedatangan tamu dari TELKOM dan mendiskusikan tentang program yang bisa diselaraskan antara TELKOM dengan program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Diskusi dilakukan di kantin kampus sampai jam 18.00, lumayan lah karena ditraktir sama TELKOM, hehehe. Saya menjelaskan rencana pengembangan Technopark sebagai pusat kajian dan inkubasi bisnis. Saya berharap mahasiswa program studi yang saya pimpin tersebut dapat terlibat dalam pendampingan UKM (usaha kecil menengah) yang dibina oleh TELKOM dan dapat merintis UKM nya yang berbasis TIK sejalan dengan kerangka Tridharma TIGER program studi saya untuk mewujudkan Smart Swiss van Java. Selain itu hasil-hasil penelitian yang didiseminasikan baik melalui konferensi algoritma, booklet dan situs web etalase tridharma, proseding atau jurnal aloritma, diharapkan dapat memberikan masukan atau gagasan bagi TELKOM. Lebih jauh saya berharap akan ada karya penelitian yang menjadi startup dan ditindaklanjuti oleh TELKOM. Sebelumnya, di Hackathon Merdeka 2.0 kemarin saya menunjukan kepada TELKOM kemampuan mahasiswa Garut dalam membuat program aplikasi. TELKOM mengapresiasi. Semoga Technopark terwujud sehingga bisa mendorong tumbuhnya UKM berbasis TIK di Garut.

16 Februari 2016

Disorientasi Akal JIL




Tulisan ini terkait artikel yang diterbitkan di situs web Jaringan Islam Liberal. Tulisan tersebut sama sekali tidak mengandung dalil naqli tentang kebolehan melakukan hubungan sejenis. Dan yang mengherankan, kata "syakilatih" pada ayat kedua al-Isra' 84 dianggap dapat ditafsirkan sebagai keadaan orientasi seksual sehingga dianggapnya hanya Allah sajalah yang tahu apakah kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah itu benar jalannya atau keliru. Padahal sudah sangat jelas kaum Nabi Luth tersebut diazab karena telah salah jalan, Allah melaknat dan mengazab mereka karena praktk homoseksual yang mereka lakukan.

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas". Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih." (QS 51: 31-37). Allah lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya serta telah menunjukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam persoalan LGBT tersebut.

Menganggap hanya Allah saja yang tahu apakah praktik LGBT itu benar atau salah adalah talbis iblis, tipu daya agar manusia menyimpang dari ajaran Allah. Padahal arti yang disepakati ahlus-sunnah adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Katsir, bahwa "syakilatih" di sana berkaitan dengan keimanan, di mana orang musyrik akan berbuat dengan keadaannya, tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya, di antara orang musyrik dengan yang tidak, dan kelak Dia akan membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Sesungguhnya tidak ada satupun juga yang tersembunyi dari pada Nya.

Yang mengerikan, para pemuda ganteng di surga ini difahami oleh si penulis tidak hanya sebagai pelayan makan dan minum saja sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, "Beredar mengelilingi mereka pemuda-pemuda yang tetap muda. Dengan mangkuk, cerek, dan piala dari air yang jernih.Tidaklah mereka pening karenanya dan tidak mabuk." (QS. Al-Waaqiah: 17-19), tetapi juga difahami sebagai pelayan seksual bagi pria penghuni surga. Tuhan menjanjikan demikian katanya karena ada banyak lelaki dalam masyarakat di mana alQuran di turunkan yang memiliki hasrat seksual terhadap anak muda tampan. Padahal kawin sejenis itu tidak berubah hukumnya dari jaman nabi Luth sampai nabi Muhammad, dilarang dan dikutuk Tuhan. Padahal Allah janji Allah itu benar, "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya)." (QS 10:55), dan mustahil bagi Allah menjanjikan kawin sejenis di surga, karena kalau demikian Allah pasti akan dianggap tidak adil oleh kaum Luth yang diazab, dan mustahil Allah tidak adil. Pendapat ahlus-sunnah adalah pemuda untuk memenuhi kebutuhan seksual pemudi.

Tentang Muhammad bin Abdurrahaman bin Hakam, dalam literatur yang dikutip sama sekali tidak disebutkan beliau melakukan praktik kawin sejenis dengan menterinya yang berwajah ganteng. Tidak secara jelas disebutkan "baju terbuka" itu apakah telanjang penuh atau bertelanjang dada. Kalau hanya bertelanjang dada, maka dada itu bukan lah aurat yang tidak boleh dilihat sesama pria. Dan tidak pula diharamkan dua pria berada dalam satu kamar tidur yang pintunya tertutup. Menganggap hal tersebut sebagai praktik homoseksual merupakan prasangka buruk. Menyangka seseorang melakukan kawin sejenis yang setara zina tanpa bukti penguat merupakan dosa.

Kalau mengikuti gaya bebas penulis artikel, ayat tersebut dapat difahami sebagai sindiran kepada mereka yang menganggap praktik seksual LGBT itu benar, bahwa mereka akan berbuat sesuai dengan keadaan mereka, tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya, di antara orang pro LGBT dan kontra LGBT, dan Dia akan membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Kita berlindung kepada Allah dari azab pembuka yakni disorientasi akal yang mendorong kepada azab besar naudzubillahi min dzalik.

15 Februari 2016

Semua karena LGBT "bebas pilih"



Saya pernah nonton di TV, seorang ABG ditanya oleh reporternya tentang alasannya menjadi lesbi. Dia menjawab karena bisa terhindar dari kehamilan. Berdasarkan data dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia DIY, 1.078 remaja puteri yang semestinya masih berstatus pelajar melahirkan bayi, di mana 976 diantaranya berasal dari kehamilan yang tak diinginkan. Artinya sekitar 90% menerima akibat dari pergaulan bebas dan mungkin di antaranya melakukan Aborsi. Kepala BKKBN Fasli Djalal mengatakan perempuan yang melakukan aborsi di daerah perkotaan besar di Indonesia umumnya berusia remaja dari 15 tahun hingga 19 tahun. Umumnya aborsi tersebut dilakukan akibat kecelakaan atau kehamilan yang tidak diinginkan. 

Kalau LGBT difasilitasi oleh negara hingga perkawinan, tidak menutup kemungkinan banyak pelajar yang akan berfikir seperti ABG lesbi tersebut karena menurutnya lebih baik dan aman LGBT (karena difasilitasi negara) dari pada aborsi dan tidak seks bebas. Pada awalnya mungkin dia hanya berfikir jadi lesbi sekedar untuk menyalurkan libidonya saja, tapi bagaimana jika kemudian dia tenggelam dan jadi lesbi selamanya? 

Sementara itu perkembangan homoseksual di kalangan pelajar juga meresahkan. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kepulauan Riau mengungkapkan data di mana sekitar 3.000 pelajar di Kota Batam Kepulauan Riau diketahui sebagai lelaki penyuka lelaki. Apakah sebagian di antara ribuan pelajar tersebut menjadi demikian supaya tidak mudah dicurigai kalau sekamar? Entahlah, kenyataannya sebagian remaja putera atau puteri menjadikan LGBT yang "bebas pilih" di negara kita ini sebagai strategi penyaluran libido. Dan sebagian di antaranya karena pengaruh teman. Setelah populasi LGBT membesar, tiba-tiba bangsa kita mendapat tekanan dari dunia untuk memfasilitasi LGBT hingga pernikahan. 

Di dalam kisah Nabi Luth, istri beliau yang pro perbuatan disorientasi seksual kaum LGBT terkena adzab besar dari Allah. Naudzubillahi min dzalik. Adzab terkecil yang menimpa adalah "mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap" seperti mengalami disorientasi akal yang secara perlahan mendorong diri dan masyarakatnya ke arah adzab besar yakni "percikan apinya mengenai pakaian" seperti yang menimpa kaum LGBT nya nabi Nuh. Rasulullah SAW telah berbicara soal pertemanan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628) 

Disebutkan dalam UU Perkawinan nomor 1 tahun 1974, "perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu". Menurut agama Islam, operasi kelamin itu hanya boleh untuk mereka yang terlahir dengan alat kelamin ganda atau ketidaknormalan alat kelamin lainnya. Pernikahan sesama jenis itu, apakah kelaminnnya dioperasi atau tidak, tetaplah tidak sah. Kalau ada agama yang diakui di Indonesia membolehkan pernikahan sejenis ya silahkan. Yang jelas umat Islam mengikuti apa yang disampaikan Rasulullah SAW, di mana "Tidak diperbolehkan bagi orang laki-laki melihat aurat laki-laki, dan wanita melihat aurat wanita. Dan tidak boleh seorang laki-laki dengan orang laki-laki lain dalam satu selimut, dan wanita dengan wanita lain dalam satu selimut". (Hadits Riwayat Muslim), karena “Lesbianisme adalah [bagaikan] zina di antara wanita”. (HR Thabrani), dan “Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR Ahmad) 

Di negara Indonesia, LGBT mendapatkan hak berpolitik dan bekerja. Tetapi saat mereka menuntut atau berpendapat tentang hak menikahi sesama jenis, mereka akan berhadapan dengan kelompok beragama yang meyakini penikahan semacam itu mendatangkan bencana Tuhan. Dan sampai kapanpun tidak akan ada ruang untuk hak demikian karena dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan YME, di mana segala sesuatunya tidak boleh menyalahi hukum Tuhan. 
  
Mari #SelamatkanAnakDariLGBT dan dari penyakit #Liberalism.

08 Februari 2016

Kenapa harus Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi?


Pada tahun 2012 Kementrian Komunikasi dan Informatika meminta agar metode relawan TIK yang berjalan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat diterapkan untuk kepentingan sertifikasi kompetensi Relawan TIK Indonesia. Pada awalnya seluruhnya berdasar kepada data di Sekolah Tinggi Teknologi Garut saja. Namun Kementrian mendorong agar metodenya berlaku umum, sehingga dilakukan pengembangan ulang metode dengan memperhatikan sejumlah literatur yang merekam konsep dan kegiatan relawan TIK di berbagai dunia. Laporannya diselesaikan pada tahun 2013 dan didiseminasikan dalam rapat kerja nasional Relawan TIK Indonesia di Surabaya dan Focus Group Discussion di Jakarta. Beberapa tahun kemudian laporan ini terus digali dan diterapkan di Garut melalui Komunitas TIK Garut yang dibentuk sebelum dikukuhkannya Relawan TIK Garut, serta melalui program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan pelaksanaan piagam kerjasama dengan RelawanTIK Indonesia tahun 2012. Luaran terakhirnya adalah KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) dan sistem informasinya yang didiseminasikan terakhir di pameran dan workshop Festival TIK Sabuga Bandung tahun 2014. 

Konsep KPMI ini digali dari real-world berdasarkan laporan kegiatan relawan TIK yang dibuat oleh Acevendo. Agar metode yang berlaku di Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengakomodasi aktivitas relawan dalam laporan Acevendo, maka dibuatlah metode generik dengan harapan relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat melaksanakan layanan relawan TIK di luar negeri yang dilaporkan oleh Acevendo tanpa meninggalkan sistem kaderisasi dan layanannya, dan demikian pula sebaliknya. Jadi ini semacam menggabungkan dua kelebihan yang bisa dimanfaatakan oleh Telecenter di mana Acevendo merekam dan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut di mana metode generik ini dikembangkan. 

Yang terpenting dari KPMI ini adalah adanya variabel pengukuran sebagai acuan evaluasi kemajuan. Variabel tersebut merupakan rekaman luaran dari layanan yang dilaksanakan, yang meliputi : 
  1. Jumlah relawan dan masyarakat, serta relawan mana yang mendidiknya, 
  2. Jumlah perangkat teknologi informasi, relawan mana yang membuat atau memasangnya, serta di mana dipasangnya, 
  3. Jumlah informasi, relawan mana yang memproduksinya dan dimana disebarkannya, serta 
  4. Jumlah basis KPMI, di mana lokasinya, dan siapa yang merintisnya. 
Variabel tersebut menjadi indikator apakah metodenya berjalan atau tidak, apakah pertumbuhan relawan TIK mendorong pertumbuhan populasi melek TIK, informasi, perangkat TIK terpasang, dan program bersama tidak? Karena kalau tidak tumbuh, relawan TIK tidak memberi dampak apa-apa terhadap lingkungannya. Kalau perangkat teknologi bertambah tetapi populasi melek TIK di mana teknologi informasi itu berada tidak bertambah, maka relawan TIK belum menuntaskan pekerjaannya. Kalau program kolaborasi tidak ada, partisipasi masyarakat masih rendah. Apabila KPMI dijalankan sepenuhnya, maka akan terjadi luaran berkelanjutan dari layanannya, sehingga ada peningkatan jumlah relawan, informasi, teknologi terpasang, dan program kolaborasi. Kampus sudah menerima manfaatnya, demikian pula tahun 2015 ini SMK Negeri 10 Garut sudah menerima manfaatnya. 

Keberadaan relawan bisa membantu pelaksanaan layanannya dalam kondisi minim biaya. Manfaat dari empat layanan umum tersebut sebenarnya tidak hanya dibutuhkan oleh sekolah atau telecenter, tetapi mungkin juga oleh instansi pemerintahan atau kelompok masyarakat seperti KIM misalnya. Jauh sebelum Pusat Komunitas TIK Garut dibentuk tahun 2012, pemkab Garut pernah menghimpun relawan TIK di Balai Masyarakat Telematika untuk membantu pelaksanaan layanan TIK pemerintah. Semua orang yang berkepentingan dengan informasi dan teknologinya tentu akan sangat senang mendapatkan solusi efisien. Seperti Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang hingga saat ini merasa terbantu dengan keberadaan relawan TIK yang berhasil meningkatkan jumlah informasi dan jumlah teknologi informasi terpasang dengan biaya pemasangan minimum dan pengadaan yang diantaranya bisa ditekan. Relawan TIK nya yang dari kalangan mahasiswa pun merasa senang karena mendapatkan tambahan pengetahuan dari kerja lapangannya. 

Ada instansi yang memang tidak memerlukan sistem KPMI, yakni 
  1. Yang tidak suka menggunakan produk dan tenaga relawan, 
  2. Yang tidak perlu keberadaan relawan dan luaran dari layanannya secara berkelanjutan, cukup sebatas trigger / pemicu saja, dan 
  3. Yang tidak menganggap perlu semua layanan dilaksanakan. 
 KPMI ini penting atau tidak bersandar kepada pertanyaan berikut: 
  1. Apakah indikator kemajuan yang telah disebutkan diperlukan sebagai bahan evaluasi kinerja relawan dan organisasinya? 
  2. Apakah peningkatan jumlah variabel tersebut perlu terjadi secara berkelanjutan? 
  3. Dengan adanya informasi berbasis indikator tersebut apakah kelompok sponsor tidak akan tertarik?

Kompetensi Relawan TIK berdasarkan Perannya


Setelah menyelesaikan persiapan Ujian Akhir Semester dan kegiatan sosialisasi Saka Telematika dalam Rapat Kerja Cabang Pramuka Kwartir Cabang Garut, teringat ada permintaan contoh silabus pelatihan relawan TIK yang berjalan di Garut dari kolega di Kementrian Komunikasi dan Informatika untuk kepentingan sertifikasi relawan TIK. Sebelumnya telah disampaikan kepadanya bahwa gambaran kompetensi relawan TIK sudah dijelaskan dalam buku "Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK" yang dibuat tahun 2013 untuk keperluan sertifikasi Relawan TIK. Akhirnya disempatkan waktu libur Imlek ini untuk memberi petunjuk bagaimana menggunakan buku tersebut untuk menentukan kompetensi yang harus diberikan kepada Relawan TIK.

Di dalam buku tersebut pada bagian Aktivitas Relawan TIK, ditunjukan tabel peran relawan TIK yang membagi contoh aktivitas relawan TIK yang diberikan oleh Acevendo ke dalam empat layanan, yakni penyediaan informasi, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan sumber daya TIK, dan kolaborasi. Agar semua peran tersebut dapat dilaksanakan oleh relawan TIK, maka diperlukan kompetensi. Pembahasan kompetensi ini ada dalam buku tersebut yakni pada bagian Kerangka Kerja Pemenuhan Informasi dan Kompetensi Relawan TIK. Dengan bersandar kepada dua bagian tersebut dan pengalaman relawan TIK di Garut, dipetakanlah kompetensi relawan TIK berdasarkan peran-perannya. Hasilnya adalah sebagai mana tampak pada tabel di bawah. Setelah dipetakan, bisa dirujuk untuk menyusun silabus sertifikasi relawan TIK untuk kemudian diterjemahkan ke dalam buku Diklat (pendidikan dan pelatihan) Relawan TIK. Khusus di Garut, luaran ini akan dirujuk untuk membuat buku Diklat Relawan Telematika untuk anggota Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi Komunitas TIK dan Saka Telematika.



07 Februari 2016

Video Kilas Kegiatan Kwarcab Garut


Pertemuan pengurus Gerakan Pramuka Kwarcab / Kwartir Cabang Garut rerkait Rakercab / Rapat Kerja Cabang mengamanatkan kepada bidang Humas, Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan untuk membuat video tentang Kwarcab Garut yang akan disajikan dalam Rakercab tersebut. Kebetulan di bidang ini yang menangani teknologi informasi adalah saya. Untuk membuat video ini diperlukan skenario atau minimalnya dokumentasi kegiatan yang meliputi satu foto per kegiatan yang disusun berdasarkan waktunya. Dokumen foto ini rupanya tersebar di beberapa komputer dan belum diunggah di Google Drive Kwarcab Garut, hal ini menjadi hambatan dalam penggarapan video tersebut. 

Setelah lama menanti, akhirnya ada kabar dua hari sebelum kegiatan bahwa dokumen foto tersebut sudah siap dan akan disampaikan. Sayangnya saat itu masih di luar kota melaksanakan tugas dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan baru sampai keesokan harinya. Satu hari menjelang pelaksanaan pada pagi hari ternyata belum bisa sampai Garut, sehingga akhirnya dokumen foto tersebut dititipkan oleh Kwarcab Garut di kantor Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dokumen foto tersebut baru diambil sore harinya begitu sampai di Garut. 

Dokumen foto tersebut berisi empat CD-ROM yang di dalamnya foto kegiatan sudah dimasukan dalam folder dan disusun sesuai dengan waktu kegiatan. Hanya saja harus dicari foto yang mewakili setiap kegiatannya. Setelah membuat slide presentasi "Pramuka sebagai Relawan Telematika" untuk Rakercab, dimulailah pemrosesan video. Pencarian fotonya berlangsung dari jam 20.00 sampai dengan 00.00. Karena waktu yang tersedia terbatas, diputuskan video dibuat sederhana saja menggunakan Microsoft Movie Maker. Kegiatan pembuatan video ini selesai sekitar pukul 02.00 dini hari. Video ini sekalian menjadi sampel produk konten layanan informasi KPMI / Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi dalam presentasi tersebut keesokan harinya. 

Membuat video dengan aplikasi Microsoft tersebut merupakan keahlian dasar teknologi informasi yang dapat dilakukan oleh Relawan Telematika binaan Saka Telematika Kwarcab Garut yang direncanakan akan dilatih dan dihimpunkan dalam KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) di setiap Kwartir Ranting seputar Garut. Pelatihan Relawan Telematika sebagai perintis KPMI ini akan dilakukan dengan mengintegrasikan program Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Diawali dengan permintaan dari Saka Telematika ke Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk  menyelenggarakan pelatihan dengan waktu setara kegiatan satu semester, yang akan menjadi tambahan kum fungsional untuk setiap Dosen yang ditunjuk sebagai Instrukturnya.

06 Februari 2016

Mendorong KPMI di Kwarcab Garut


KPMI / Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi merupakan satuan relawan TIK (teknologi Informasi dan Komunikasi) yang dirintis kegiatannya, konsepnya, dan penerapannya sejak menjadi asisten Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Melihat besarnya kemanfaatan KPMI bagi kampus menyebabkan munculnya pemikiran untuk menyebarkan KPMI di Garut. Usaha pertama kali adalah dengan merintis KPTIK / Kelompok Penggerak TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Pelajar Garut di mana KPTIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut didorong untuk membagikan konsep kegiatan kepada perwakilan pelajar yang hadir di acara Seminar dan Pelatihan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan membentuk kepengurusan KPTIK pelajar. Perintisan KPTIK pelajar dan kegiatannya terus dilaksanakan hingga KPTIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut diubah namanya menjadi Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. KPTIK ini bagi UPT Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang pernah saya kelola sebelum tahun 2015 merupakan usaha saya menyediakan relawan TIK dari kalangan mahasiswa untuk penyampaian layanan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut kepada para penggunanya. Disebut relawan karena semua aktivitasnya semata untuk pengabdian kepada kampus, demi amal dan pengalaman lapangan.

Setelah diangkat menjadi ketua Program Studi Teknik Informatika, KPMI ini diarahkan agar menjadi program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat andalan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Konsep dan teknologi KPMI telah dihasilkan baik melalui penelitian mandiri atau bersama mahasiswa. Walau demikian penerapan KPMI di lembaga pendidikan dibatasi oleh komitmen untuk menjadikan KPMI sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Hanya satu lembaga pendidikan saja yang sukses mendorongnya sebagai kegiatan ekstra kurikuler Komunitas TIK, yakni SMK Negeri 10 Garut. Hal ini tidak memberi cukup peluang untuk menunjukan dampak KPMI bagi masyarakat sekitarnya atau bagi Garut khususnya. 

Sementara itu, kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Garut merekomendasikan saya kepada ketua Kwartir Cabang Garut untuk memimpin Saka Telematika. Sebelumnya Kwartir Cabang Garut atas rekomendasi dari Relawan TIK Indonesia dalam acara sosialisasi rintisan Saka Telematika dan  PanduApps di Sukabumi, meminta saya untuk bergabung di kepengurusan Humas, Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan. Amanat ini sempat ditolak dan sempat berfikir untuk mengundurkan diri karena khawatir terhambat oleh kesibukan menerapkan KPMI di Komunitas TIK Garut. Namun demi menghormati kepercayaan tersebut, amanat tersebut pun diemban, tentu saja dengan kinerja yang lamban karena adanya pembagian waktu antara dua pekerjaan di dua tempat yang saat itu dianggap berbeda. Namun lambat laun terfikir bahwa Saka Telematika Garut ini bisa menjadi solusi kebutuhan penelitian KPMI yang selama ini sulit dipenuhi oleh Komunitas TIK Garut. KPMI bisa diadakan di setiap lembaga pendidikan yang memiliki Gugus Depan, sejalan dengan apa yang telah dilakukan di Komunitas TIK Garut. Selain itu ada kesempatan di mana Gerakan Pramuka memiliki budaya relawan sebagaimana Komunitas / Relawan TIK Garut.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan agar dampak luas yang diharapkan dari KPMI dapat terwujud, saya mendorong ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk membangun kerjasama dengan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut. Selain penerapan KPMI yang bermanfaat untuk riset Sekolah Tinggi Teknologi Garut, kerjasama ini juga bermanfaat bagi Kwartir Cabang Garut untuk memenuhi kebutuhan instruktur dan teknologi informasi. Sebagai bentuk komitmennya, saya mendorong beliau untuk menyediakan ruang multimedia Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai tempat di mana konsep KPMI ini akan saya jelaskan kepada ketua Kwartir Ranting se kabupaten Garut.

Hal ini saya jelaskan pula kepada ketua Kwartir Cabang Garut di kantor program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat menunggu kegiatan Rapat Kerja Kwaran dimulai. Beliau melihat pentingnya kerjasama ini sehingga mengintruksikan kepada sekretarisnya agar di sela-sela pembukaan disisipkan acara penandatanganan piagam kerjasama. Saya kemudian mengintruksikan kepada sekretaris program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyiapkan piagamnya. Akhirnya piagam tersebut berhasil ditandatangani, insya Allah menjadi bekal bagi Saka Telematika Garut mewujudkan Praja Muda Karana yang dapat menggerakan masyarakat informasi di Garut dan bekal bagi saya untuk terus mengembangkan KPMI sebagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.