Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

16 Februari 2016

Disorientasi Akal JIL




Tulisan ini terkait artikel yang diterbitkan di situs web Jaringan Islam Liberal. Tulisan tersebut sama sekali tidak mengandung dalil naqli tentang kebolehan melakukan hubungan sejenis. Dan yang mengherankan, kata "syakilatih" pada ayat kedua al-Isra' 84 dianggap dapat ditafsirkan sebagai keadaan orientasi seksual sehingga dianggapnya hanya Allah sajalah yang tahu apakah kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah itu benar jalannya atau keliru. Padahal sudah sangat jelas kaum Nabi Luth tersebut diazab karena telah salah jalan, Allah melaknat dan mengazab mereka karena praktk homoseksual yang mereka lakukan.

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas". Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih." (QS 51: 31-37). Allah lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya serta telah menunjukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam persoalan LGBT tersebut.

Menganggap hanya Allah saja yang tahu apakah praktik LGBT itu benar atau salah adalah talbis iblis, tipu daya agar manusia menyimpang dari ajaran Allah. Padahal arti yang disepakati ahlus-sunnah adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Katsir, bahwa "syakilatih" di sana berkaitan dengan keimanan, di mana orang musyrik akan berbuat dengan keadaannya, tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya, di antara orang musyrik dengan yang tidak, dan kelak Dia akan membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Sesungguhnya tidak ada satupun juga yang tersembunyi dari pada Nya.

Yang mengerikan, para pemuda ganteng di surga ini difahami oleh si penulis tidak hanya sebagai pelayan makan dan minum saja sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, "Beredar mengelilingi mereka pemuda-pemuda yang tetap muda. Dengan mangkuk, cerek, dan piala dari air yang jernih.Tidaklah mereka pening karenanya dan tidak mabuk." (QS. Al-Waaqiah: 17-19), tetapi juga difahami sebagai pelayan seksual bagi pria penghuni surga. Tuhan menjanjikan demikian katanya karena ada banyak lelaki dalam masyarakat di mana alQuran di turunkan yang memiliki hasrat seksual terhadap anak muda tampan. Padahal kawin sejenis itu tidak berubah hukumnya dari jaman nabi Luth sampai nabi Muhammad, dilarang dan dikutuk Tuhan. Padahal Allah janji Allah itu benar, "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya)." (QS 10:55), dan mustahil bagi Allah menjanjikan kawin sejenis di surga, karena kalau demikian Allah pasti akan dianggap tidak adil oleh kaum Luth yang diazab, dan mustahil Allah tidak adil. Pendapat ahlus-sunnah adalah pemuda untuk memenuhi kebutuhan seksual pemudi.

Tentang Muhammad bin Abdurrahaman bin Hakam, dalam literatur yang dikutip sama sekali tidak disebutkan beliau melakukan praktik kawin sejenis dengan menterinya yang berwajah ganteng. Tidak secara jelas disebutkan "baju terbuka" itu apakah telanjang penuh atau bertelanjang dada. Kalau hanya bertelanjang dada, maka dada itu bukan lah aurat yang tidak boleh dilihat sesama pria. Dan tidak pula diharamkan dua pria berada dalam satu kamar tidur yang pintunya tertutup. Menganggap hal tersebut sebagai praktik homoseksual merupakan prasangka buruk. Menyangka seseorang melakukan kawin sejenis yang setara zina tanpa bukti penguat merupakan dosa.

Kalau mengikuti gaya bebas penulis artikel, ayat tersebut dapat difahami sebagai sindiran kepada mereka yang menganggap praktik seksual LGBT itu benar, bahwa mereka akan berbuat sesuai dengan keadaan mereka, tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya, di antara orang pro LGBT dan kontra LGBT, dan Dia akan membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Kita berlindung kepada Allah dari azab pembuka yakni disorientasi akal yang mendorong kepada azab besar naudzubillahi min dzalik.

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya