Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

08 Februari 2016

Kenapa harus Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi?


Pada tahun 2012 Kementrian Komunikasi dan Informatika meminta agar metode relawan TIK yang berjalan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat diterapkan untuk kepentingan sertifikasi kompetensi Relawan TIK Indonesia. Pada awalnya seluruhnya berdasar kepada data di Sekolah Tinggi Teknologi Garut saja. Namun Kementrian mendorong agar metodenya berlaku umum, sehingga dilakukan pengembangan ulang metode dengan memperhatikan sejumlah literatur yang merekam konsep dan kegiatan relawan TIK di berbagai dunia. Laporannya diselesaikan pada tahun 2013 dan didiseminasikan dalam rapat kerja nasional Relawan TIK Indonesia di Surabaya dan Focus Group Discussion di Jakarta. Beberapa tahun kemudian laporan ini terus digali dan diterapkan di Garut melalui Komunitas TIK Garut yang dibentuk sebelum dikukuhkannya Relawan TIK Garut, serta melalui program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan pelaksanaan piagam kerjasama dengan RelawanTIK Indonesia tahun 2012. Luaran terakhirnya adalah KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) dan sistem informasinya yang didiseminasikan terakhir di pameran dan workshop Festival TIK Sabuga Bandung tahun 2014. 

Konsep KPMI ini digali dari real-world berdasarkan laporan kegiatan relawan TIK yang dibuat oleh Acevendo. Agar metode yang berlaku di Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengakomodasi aktivitas relawan dalam laporan Acevendo, maka dibuatlah metode generik dengan harapan relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat melaksanakan layanan relawan TIK di luar negeri yang dilaporkan oleh Acevendo tanpa meninggalkan sistem kaderisasi dan layanannya, dan demikian pula sebaliknya. Jadi ini semacam menggabungkan dua kelebihan yang bisa dimanfaatakan oleh Telecenter di mana Acevendo merekam dan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut di mana metode generik ini dikembangkan. 

Yang terpenting dari KPMI ini adalah adanya variabel pengukuran sebagai acuan evaluasi kemajuan. Variabel tersebut merupakan rekaman luaran dari layanan yang dilaksanakan, yang meliputi : 
  1. Jumlah relawan dan masyarakat, serta relawan mana yang mendidiknya, 
  2. Jumlah perangkat teknologi informasi, relawan mana yang membuat atau memasangnya, serta di mana dipasangnya, 
  3. Jumlah informasi, relawan mana yang memproduksinya dan dimana disebarkannya, serta 
  4. Jumlah basis KPMI, di mana lokasinya, dan siapa yang merintisnya. 
Variabel tersebut menjadi indikator apakah metodenya berjalan atau tidak, apakah pertumbuhan relawan TIK mendorong pertumbuhan populasi melek TIK, informasi, perangkat TIK terpasang, dan program bersama tidak? Karena kalau tidak tumbuh, relawan TIK tidak memberi dampak apa-apa terhadap lingkungannya. Kalau perangkat teknologi bertambah tetapi populasi melek TIK di mana teknologi informasi itu berada tidak bertambah, maka relawan TIK belum menuntaskan pekerjaannya. Kalau program kolaborasi tidak ada, partisipasi masyarakat masih rendah. Apabila KPMI dijalankan sepenuhnya, maka akan terjadi luaran berkelanjutan dari layanannya, sehingga ada peningkatan jumlah relawan, informasi, teknologi terpasang, dan program kolaborasi. Kampus sudah menerima manfaatnya, demikian pula tahun 2015 ini SMK Negeri 10 Garut sudah menerima manfaatnya. 

Keberadaan relawan bisa membantu pelaksanaan layanannya dalam kondisi minim biaya. Manfaat dari empat layanan umum tersebut sebenarnya tidak hanya dibutuhkan oleh sekolah atau telecenter, tetapi mungkin juga oleh instansi pemerintahan atau kelompok masyarakat seperti KIM misalnya. Jauh sebelum Pusat Komunitas TIK Garut dibentuk tahun 2012, pemkab Garut pernah menghimpun relawan TIK di Balai Masyarakat Telematika untuk membantu pelaksanaan layanan TIK pemerintah. Semua orang yang berkepentingan dengan informasi dan teknologinya tentu akan sangat senang mendapatkan solusi efisien. Seperti Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang hingga saat ini merasa terbantu dengan keberadaan relawan TIK yang berhasil meningkatkan jumlah informasi dan jumlah teknologi informasi terpasang dengan biaya pemasangan minimum dan pengadaan yang diantaranya bisa ditekan. Relawan TIK nya yang dari kalangan mahasiswa pun merasa senang karena mendapatkan tambahan pengetahuan dari kerja lapangannya. 

Ada instansi yang memang tidak memerlukan sistem KPMI, yakni 
  1. Yang tidak suka menggunakan produk dan tenaga relawan, 
  2. Yang tidak perlu keberadaan relawan dan luaran dari layanannya secara berkelanjutan, cukup sebatas trigger / pemicu saja, dan 
  3. Yang tidak menganggap perlu semua layanan dilaksanakan. 
 KPMI ini penting atau tidak bersandar kepada pertanyaan berikut: 
  1. Apakah indikator kemajuan yang telah disebutkan diperlukan sebagai bahan evaluasi kinerja relawan dan organisasinya? 
  2. Apakah peningkatan jumlah variabel tersebut perlu terjadi secara berkelanjutan? 
  3. Dengan adanya informasi berbasis indikator tersebut apakah kelompok sponsor tidak akan tertarik?

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya