Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

18 April 2016

Ekspose Situs Web ke Lurah se Kecamatan Garut Kota


Senin 18 April 2016 saya diundang oleh Camat Garut Kota untuk ekspose situs web Kecamatan Garut Kota yang dibuat dalam rangka pelaksanaan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Garut dan dengan Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan alasan kenapa kecamatan atau kelurahan memerlukan situs web dan menunjukan beberapa contoh situs web kecamatan di luar Garut sebagai perbandingan. 

Menurut UU RI nomor 14 tahun 2008, informasi publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. Karena Informasi Publik itu harus bersifat terbuka, dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana, maka aplikasi internet dapat menjadi pilihan medianya. Melalui media ini setiap Badan Publik dapat memenuhi kewajibannya mengumumkan Informasi Publik secara berkala, paling singkat 6 bulan sekali. 

Dengan berdasarkan UU tersebut, maka Aplikasi web yang berjalan pada platform Google ini dibuat untuk keperluan penyampaian informasi publik di internet. Menu dalam aplikasi ini ditentukan dengan memperhatikan kriteria informasi publik dalam UU tersebut yang meliputi 1) informasi yang berkaitan dengan Badan Publik; 2) informasi mengenai kegiatan dan kinerja Badan Publik terkait; 3) informasi mengenai laporan keuangan; dan/atau 4) informasi lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Pak Basuki Eko, sebelum menjabat sebagai Camat Garut Kota, beliau adalah kepala bidang Informasi di Sekretariat Daerah Garut. Beliau yang telah mempromosikan Komunitas TIK Garut yang saya rintis bersama pegiat TIK lainnya sehingga berhasil mendapat penghargaan sebagai Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat. Dulu beliau memanfaatkan media sosial Facebook untuk menginformasikan kegiatan Bupati Garut sehingga masyarakat tahu apa yang dilakukan oleh pemimpinnya. Saat menjabat sebagai Camat Garut Kota beliau tidak menghentikan kebiasaan baik tersebut. Untuk menyempurnakan kerja informasi tersebut, beliau meminta saya untuk memobilisasi relawan TIK di Garut agar dapat membantu Kecamatan menyediakan media informasi lainnya, yang dalam hal ini adalah situs web. 

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, saya membuatkan template Blogspot. Platform Google ini dipilih karena pertimbangan efisiensi biaya. Dengan Blogspot pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyimpan berkas situs web, serta informasi atau berkas publik.  Sifat informasi yang dibagikan melalu situs web adalah informasi publik, sehingga tidak masalah apakah informasi tersebut disimpan di server dalam atau luar negeri. Selain membuatkan template, saya juga berkomunikasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut agar situs web tersebut disubdomainkan dengan domain kabupaten Garut, sehingga bisa diakses di http://kec-garutkota.garutkab.go.id/

Yang dilakukan ini termasuk kegiatan mitra pemerintah dalam unsur pengabdian kepada masyarakat, di mana semua yang dikerjakan dibutuhkan dan sejalan dengan program pemerintah. 

16 April 2016

Evaluasi Kurikulum 2016 oleh Dosen


Garut, 16 April 2016 di ruang rapat Sekolah Tinggi Teknologi Garut diselenggarakan pertemuan untuk mendapatkan masukan dari dosen tetap terkait kurikulum program studi Teknik Informatika 2016. Turut memberi sambutan pada acara pertemuan tersebut wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang Akademik yang telah membuat agenda penyusunan kurikulum untuk semua program studi. Pertemuan dibuka oleh ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Saya memulai pembahasan kurikulum dengan menunjukan analisis SWOT yang menentukan bentuk kurikulum program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut ke depan. Analisis tersebut menjelaskan kenapa kurikulum ke depan harus dikonsentrasikan ke Rekayasa Perangkat Lunak. Di antara pendorongnya adalah komitmen Yayasan al-Musaddadiyah pada tahun 2010 untuk membantu kebutuhan perangkat lunak pondok pesantren se Indonesia, prestasi nasional mahasiswa tahun 2014 terkait aplikasi web dan mobile, umumnya penelitian dosen dan mahasiswa mengarah ke rekayasa perangkat lunak, serta mayoritas lulusan berprofesi sebagai staf teknologi informasi di mana pemrograman komputer menjadi bagian pekerjaannya. 

Berdasarkan hasil analisis tersebut, program studi mengusulkan visi program studi, yakni "Menjadi penyelenggara pendidikan tinggi bidang Rekayasa Perangkat Lunak yang terkemuka dalam konsep, praktik, dan penerapan Smart Swiss van Java pada lingkup global tahun 2020". Smart Swiss van Java adalah sebuah konsep pembangunan masyarakat informasi Garut berkelanjutan untuk mewujudkan bisnis Pariwisata dan Industri Kreatif yang kompetitif agar Garut menjadi Smart Tiger tidak hanya di Jawa Barat tetapi juga di Asia. Agar bisnis kompetitifnya terwujud, para peneliti di Sekolah Tinggi Teknologi Garut harus menemukan dan membangun aplikasi yang dapat membantu masyarakat Garut untuk mendapatkan keuntungan kompetitif dari informasi pada lapisan bisnis, layanan publik, dan personalnya. 


Saya juga menunjukan kepada audien bagaimana menyusun kurikulum program studi baru Sistem Informasi berdasarkan kurikulum Rekayasa Perangkat Lunak yang sudah dibuat. Bidang ilmu komputer khusus Rekayasa Perangkat Lunak menempati area biru muda. Maka pada kurikulum Sistem Informasi, bidang ilmu komputer khusus Sistem Informasinya menempati area yang sama. Dengan demikian baik program studi Rekayasa Perangkat Lunak atau Sistem Informasi memiliki kesamaan matakuliah sebanyak 103 SKS. Dalam kurikulum juga ditunjukan bagaimana visi program studi dapat diusahakan dengan menyediakan matakuliah pilihan yang meliputi Sistem e-Commerce yang mewakili area Tourism dan Creative Industries, Sistem e-Government yang mewakili area Goverment, dan Sistem Educational Entertainment (Edutainment) yang mewakili area Education dan Religion. 


Selain matakuliah inti, diskusi juga membahas seputar matakuliah institusional yang berkenaan dengan pembentukan karakter profesional religius berwawasan nusantara. Karakter ini dimulai dengan membangun wawasan religius yang membentuk cara pandang mahasiswa terhadap dirinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, memahami kekuatan, kesempatan, kelemahan, dan kekurangan dirinya. Selain itu dibentuk pula kemampuan komunikasi mahasiswa dengan dosennya yang sesuai panduan agama untuk mencapai keberkahan ilmu dan keterampilan. Setelah mendapatkan kesadaran tersebut, mahasiswa mulai dibangun wawasan nusantaranya dengan harapan terwujud karakter cinta tanah air. Tidak hanya jiwanya yang diolah, tetapi juga raganya diolah dengan pendekatan budaya. Dua wawasan tersebut dibangun agar mahasiswa siap mentaati segala aturan yang dibuat oleh Tuhan dan manusia sehingga mereka dapat melaksanakan profesinya dengan baik dan benar. 


Dalam kaitannya dengan kemampuan komunikasi, kurikulum membentuk kemampuan berkomunikasi antar personal dan berkelompok, berbahasa Indonesia yang baik, mampu berkomunikasi dengan bahasa internasional yang diperlukan saat berada di lingkungan pekerjaan global, dan mengkomunikasikan gagasan ilmiahnya dengan mentaati aturan penulisan karya ilmiah. hal ini sejalan dengan profil lulusan, di mana mahasiswa dibentuk untuk menjadi "Profesional religius berwawasan nusantara yang menguasai konsep teoritis bidang Informatika  secara umum dan Rekayasa Perangkat Lunak secara mendalam, serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang ada dan menyelesaikan masalah prosedural dalam lingkup kasus Smart Swiss van Java dan lingkup kerja pengelolaan pemrograman dan proyek perangkat lunak"

Berikut adalah presentasi hasil evaluasi :

    

14 April 2016

Publikasi Pengabdian 2016


Garut 13 April 2016, saat menunggu tim penilai Komunitas TIK Award dari Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) provinsi Jawa Barat, kepala bidang TPDE (Telematika dan Pengolahan Data Elektronik) menunjukan media informasi Diskominfo kabupaten Garut edisi ketiga tahun 2015. Di dalamnya ada bagian Tokoh Kita yang berisi profil kegiatan relawan yang pernah saya kirimkan atas permintaan Diskominfo Garut. Ini adalah publikasi kegiatan pengabdian yang saya lakukan untuk memenuhi kewajiban profesi dosen. Diskominfo Garut telah beberapa kali mempublikasikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang saya bersama relawan TIK di Garut melalui surat kabar hingga buletin. Kebetulan banyak kegiatan yang diliput tersebut dilakukan bersama Diskominfo, seperti Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi IX di Pameungpeuk dan Hackathon Merdeka 2.0 Priangan Timur di kantor Telkom Garut. Berikut adalah isi dari liputan tersebut :

Rinda Cahyana, pria kelahiran Ciamis tanggal 17 Oktober 1979 ini merupakan anak bungsu laki-laki satu-satunya dari pasangan Tono Hartono dan Keken Sukaenah. Dibesarkan dan menempuh pendidikan hingga menengah atas di Subang. Masa remajanya di sekolah diisi dengan kegiatan kepramukaan di SMP Negeri 2 Subang, keislaman di Generasi Muslim al-Muhajirin, dan kemanusiaan di Palang Merah Remaja SMA Negeri 1 Subang. 

Tahun 1997 didorong oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu Teknik Informatika di STTG (Sekolah Tinggi Teknologi Garut) dan ilmu agama di pondok pesantren al-Musaddadiyah. Menjadi pengurus dan penulis aktif bulietin yang dikelolanya sendiri di Organisasi Pondok Pesantren Mahasiswa STTG mendorong ketua Badan Eksekutif Mahasiswa STTG mempercayakan divisi Jurnalistik dan Pengembangan Masjid kepadanya. Kegiatan jurnalistiknya memuncak saat terlibat dalam pendirian dan menjabat sebagai direktur operasional PT Radio Yamusa Pratama pada tahun 2004. 

Menjelang akhir masa perkuliahannya pada tahun 2000, STTG memintanya untuk dapat membantu pemeliharaan perangkat komputer dan jaringan di Laboratorium Komputer. Semangat pengabdian kepada kampus mendorongnya melaksanakan layanan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) secara sukarela lebih dari apa yang diminta STTG, seperti membangun dan memperbaiki perangkat TIK kampus, merekrut dan melatih adik tingkatnya sebagai relawan TIK hingga sepuluh angkatan, serta membagikan pengetahuan, keahlian, dan pengalamannya melalui kelompok belajar atau Seminar dan Pelatihan sejak tahun 2002. Seminar dan Pelatihan tersebut merupakan cikal bakal program tahunan Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi yang telah diselenggarakan oleh Komunitas TIK Garut hingga kesembilan kalinya. 

Perhatiannya terhadap pengembangan infrastruktur TIK STTG mendorongnya untuk merumuskan dan mengusulkan konsep Pusat Teknologi Komputer kepada ketua STTG pada tahun 2002, mewujudkannya pada tahun 2007 dalam bentuk Unit Teknologi Informasi, hingga kemudian konsep tersebut dapat benar-benar diwujudkan setelah masuk dalam struktur organisasi STTG dengan nama UPT Sistem Informasi pada tahun 2008. Lulusan magister Informatika Institut Teknologi Bandung tahun 2008 ini kemudian ditunjuk sebagai kepala unitnya. UPT ini lah yang mendorong munculnya Komunitas TIK STTG dan Komunitas TIK Garut. Peran pokoknya di STTG adalah sebagai dosen program studi Teknik Informatika setelah diangkat sebagai dosen Yayasan al-Musaddadiyah pada tahun 2003 dan PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang diperbantukan sebagai tenaga pendidik di STTG sejak tahun 2005. 

Perhatiannya terhadap Komunitas TIK terlihat saat meminta dosennya untuk mendirikan Kelompok Pengguna Linux Indonesia untuk mahasiswa STTG pada tahun 2003. Usahanya dalam membentuk Komunitas TIK di STTG dimulai dari perekrutan relawan TIK dari kalangan mahasiswa serta penyelenggaraan forum TIK, Kelompok Kerja JAKI (Jaringan, Aplikasi, Informasi dan Komputer), dan Balai Latihan Kerja sebagai sarana kaderisasinya pada tahun 2007. Sekumpulan relawan TIK STTG ini kemudian diberi nama Kelompok Pecinta TIK. Kelompok ini telah menyediakan informasi dan TIK berikut pelatihannya secara gratis bagi sivitas akademik STTG dan masyarakat. Infrastruktur TIK STTG dari tahun 2002 hingga sekarang dibangun dan dipelihara oleh relawan TIK tersebut. Pemikirannya untuk menyebarkan manfaat keberadaan relawan TIK di lembaga pendidikan lainnya diwujudkan dengan mendorong KPTIK STTG untuk membentuk KPTIK pelajar pada tahun 2012 dan melaksanakan pelatihan TIK dasar bagi anggota KPTIK di sejumlah lembaga pendidikan sepanjang tahun 2013. Sistem KPTIK ini kemudian diminta oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika untuk diterapkan di Relawan TIK Indonesia, dan dikerjakannya dalam tim STTG dengan luaran buku berjudul Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK.

Setelah melaksanakan kegiatan bersama Relawan TIK asing utusan National Information Society Agency Korea Selatan, pria yang menikah dengan wanita asal Garut ini mengajak sejumlah pegiat TIK yang terlibat dalam kegiatan tersebut untuk membentuk Komunitas TIK Garut pada tanggal 15 Oktober 2012, dengan tujuan agar kegiatan semacam itu yang melibatkan relawan TIK dari berbagai latar belakang organisasi dan profesi tetap ada di Garut. Satu bulan kemudian, pada tanggal 24 November 2012, menteri Pembangunan Daerah Tertinggal menyematkan pin Relawan TIK Indonesia kepadanya yang menandai terhubungnya Komunitas TIK Garut dengan jaringan Relawan TIK nasional. Kerjasama internasional dengan National Information Society Agency Korea Selatan berlangsung selama tiga tahun dengan bantuan Relawan TIK Indonesia, Kementrian Komunikasi dan Informatika, dan STTG. Pada tahun 2014, ketua umum Komunitas TIK Garut ini berhasil mendorong pengurusnya untuk mendirikan Google Educator Group Garut yang merupakan kerjasama internasional relawan TIK dengan Google dan diluncurkan oleh Bupati Garut dalam Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi XIII di STTG. Semua capaiannya bersama pengurus Komunitas TIK Garut dan pegiat TIK di Garut membuat Komunitas TIK Garut dianugerahi penghargaan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat dan Gubernur Jawa Barat sebagai Komunitas TIK terbaik se Jawa Barat kategori Mandiri 2014. 

Ketua program studi Teknik Informatika STTG ini menjadikan relawan TIK sebagai bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswanya. Ada dua matakuliah pilihan di mana mahasiswa turun ke masyarakat untuk melaksanakan layanan relawan TIK berupa pengembangan sumber daya manusia dan teknologi. Kerjasama yang dibangun STTG dengan Relawan TIK Indonesia pada tahun 2012 ditindaklanjutinya dengan kegiatan penelitian dosen dan mahasiswa yang menghasilkan konsep KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) berikut Sistem Informasinya. Konsep dan teknologi tersebut didorongnya untuk dapat diterapkan di Garut dalam Konferensi Komunitas TIK Garut tahun 2014 yang dihadiri oleh perwakilan bidang informatika Sekretariat Daerah kabupaten Garut, PT Telekomunikasi Indonesia, PT Telekomunikasi Seluler Indonesia, dan sejumlah Komunitas TIK dari berbagai sekolah, madrasah, dan pondok pesantren. 

Gagasan KPMI adalah menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat layanan relawan TIK bagi sivitas akademik dan masyarakat sekitar kampus dalam rangka membangun masyarakat informasi dan mendorong Garut sebagai Smart City. Pelaksana layanan tersebut adalah sekolompok siswa / mahasiswa yang berhimpun dalam Komunitas TIK di lembaga pendidikan tersebut. Sebagian dari gagasan ini berhasil dimasukannya dalam rumusan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Relawan TIK. Sepanjang tahun 2015 telah terbentuk kerjasama antara STTG selaku penyedia konsep dan teknologi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut selaku penanggung jawab program daerah, serta SMK Ma'arif Pameungpeuk dan SMK Negeri 10 Garut sebagai penyedia relawan TIK pelajar sekaligus sampel pusat layanan relawan TIK di wilayah selatan dan utara Garut. Diharapkan implementasi kerjasama ini sejalan dengan Peraturan Menteri tersebut yang rencananya akan dijalankan pada tahun 2016. Kesuksesan implementasinya diantaranya bergantung kepada Komunitas / Relawan TIK Garut yang merencanakan dan melaksanakan program bersama KPMI se Garut. Rinda Cahyana menganggap semua usahanya tersebut sebagai wujud kecintaannya kepada Garut dan bagian dari pelaksanaan tugas pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang harus ditunaikan oleh seorang dosen yang tersertifikasi.




13 April 2016

Visitasi Tim Penilai Komunitas TIK Award Jawa Barat


Rabu, 13 April 2016, pada pukul 10.57, di saat sedang merampungkan aplikasi Papan Informasi Digital untuk kecamatan Garut Kota, pak Ferry dari Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) Garut mengirim pesan singkat yg berisi undangan ke kantor Diskominfo Garut pukul 14.00 sehubungan dengan adanya visitasi dari tim penilai Komunitas TIK Award Jawa Barat. Waktunya berbarengan dengan jam kuliah di SAIM (Sekolah Tinggi Agama Islam al-Musaddadiyah).

Sekitar pukul 12 lebih, Nono Kartono menghubungi melalui telpon dan memberitahukan jika ia dan anggota Kelompok KPMI (Penggerak Masyarakat Informasi) dari Sekolah Menengah Kejuruan Ciledug sudah menunggu. Saya segera menutup pekerjaan aplikasi untuk menemui mereka.

Di lokasi pertemuan saya berbincang dengan para relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) tersebut menjelaskan lingkup pekerjaan membantu kecamatan Garut Kota selama satu minggu ke depan. Dari dua siswa yang ada salah satunya akan menangani grafis dan satunya lagi menangani konten grafis. Sementara Nono Kartono menjadi pimpinan tim konten tersebut.

Setelah selesai pertemuan tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Pada awalnya mau makan dulu di kantin STTG (Sekolah Tinggi Teknologi Garut), namun waktu tidak akan cukup. Akhirnya berangkatlah ke STAIM.

Ternyata hari ini sebagian besar mahasiswa matakuliah Dasar Komputer dan Internet menjadi panitia kejuaraan volley ball kampus. Saya akhirnya memutuskan untuk makan di kantin kampusnya dan berbincang dengan pak Eri Satria yang kebetulan juga memiliki jadwal mengajar yang sama. Setelah selesai berbincang, saya pergi ke masjid terlebih dahulu.

Di masjid bertemu dengan sejumlah pandega STAIM. Salah satunya menanyakan tentang Satuan Karya Pramuka Telekomunikasi dan Informatika yang saya pimpin. Saya jelaskan tahap yang direncanakan setelah penandatanganan piagam kerjasama antara STTG dengan Kwartir Cabang Garut untuk mewujudkan satu relawan Telekomunikasi dan Informatika untuk satu desa / kelurahan : 1) Penyiapan Pramuka Perintis KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi), 2) Perekrutan anggota KPMI sejumlah desa / kelurahan di wilayahnya masing-masing, 3) Pelatihan Keahlian TIK dasar setiap minggu selama 170 - 510 menit dengan total pertemuan sebanyak 16, 4) Pelaksanaan empat layanan relawan KPMI selama 16 minggu di lingkungan masing-masing, 5) Perintisan KPMI baru di Gugus Depan golongan Penegak dan Pandega. Untuk mewujudkan itu semua diperlukan waktu kerja relawan sampai tahun 2018. Para pandega STAIM sangat senang dengan rencana tersebut dan ingin segera bergabung.


Setelah melaksanakan salat Dzuhur, saya segera meluncur ke Diskominfo Garut. Ternyata ada pesan singkat yang memberi tahukan bahwa tim penilai dari Diskominfo Jawa Barat masih di Tasikmalaya dan akan tiba sekitar pukul 15.30. Akhirnya saya belok ke Kwarcab Garut.

Di lokasi bertemu dengan kak Haji Uloh wakil ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut bidang Humas, Informatika, dan Perpustakaan, yang nampak lelah dalam pekerjaan mendistribusikan majalah Warta Muda yang dikelola Kwartir Cabang Garut. Saya sekalian melaporkan hasil pertemuan dengan General Manager PT Telekomunikasi wilayah Tasikmalaya. Kegiatan di sana ditutup pembicaraan dengan pengurus sekretariat terkait surat undangan kegiatan perintis KPMI. Saya sampaikan belum bisa memastikan waktu tepatnya karena dana kegiatan masih belum ada.

Beberapa saat setelah pergi dari Kwartir Cabang Garut dan mengunjungi Malibu Computer sebentar untuk membetulkan Hard disk drive eksternal yang rusak, saya langsung bergegas ke Diskominfo Garut. Di lokasi bertemu dengan pak Ajid kepala bidang TPDE dan pak Fery. Kemudian saya melaporkan capaian pekerjaan relawan untuk Kecamatan Garut Kota, termasuk menampilkan versi beta aplikasi Papan Informasi Digital yang diampungkan sampai tengah siang tadi.


Pak Fery memberi tahu bahwa situs web Garut Kota sudah disubdomainkan. Sebelumnya situs web tersebut belum disubdomainkan dan saya memberi saran kepada Diskominfo Garut agar disubdomainkan seperti beberapa kecamatan sampel. Pilihan lain berdasarkan surat edaran Menteri Komunikai dan Informatika tahun 2015 adalah dengan memberinya domain go dot id langsung. Alhamdulillah, situs web kecamatan akhirnya sudah disubdomainkan mengikuti dua kecamatan lainnya.

Dalam diskusi dengan kepala bidang TPDE saya jelaskan bahwa fungsi situs web tersebut di antaranya adalah untuk menyebarkan informasi publik sesuai amanat undang-undang keterbukaan informasi publik. Karena diakses oleh pengguna Informasi global di dalam atau luar negeri maka tidak masalah apakah servernya di dalam atau di luar negeri. Penjelasan tersebut terkait situs web kecamatan Garut Kota yang dibuat oleh Komunita / Relawan TIK Garut menggunakan platform Blogspot dari Google. Keputusan penggunaan platform tersebut dengan dua pertimbangan : 1) Relawan TIK Garut melakukan edukasi dalam kerangka program internasional Google Educator Group yang diluncurkan Komunitas TIK Garut tahun 2014, dan 2) Blogspot menyediakan keamanan dan efisiensi ruang simpan sehingga menekan biaya. Kelemahannya posisi server yang dikelola perusahaan asing. Kelemahan ini tidak bermasalah untuk Informasi yang bersifat publik tetapi pada ketersediaan akses publik. Tetapi sebagai perusahaan raksasa, Google tidak akan menutup akses tanpa pemberitahuan, dan juga pemerintah sekarang ini banyak menjalin kerjasama dengan perusahaan semacam itu untuk menyebarkan informasi publik yang menunjang kesejahteraan masyarakat.


Di tengah diskusi tersebut tim penilai pun datang. Dalam visitasi tersebut tim penilai memuji langkah yang dibuat Jelajah Garut. Tim memberikan saran masukan agar Jelajah Garut berkolaborasi dengan Komunitas / Relawan TIK lainnya agar kebutuhan penguatan TIK nya terpenuhi. Saya menjelaskan bahwa usaha kolaborasi sudah diusahakan oleh Komunitas TIK Garut tahun 2014 sebelum Diskominfo Garut terbentuk. Jelajah Garut diundang ke pertemuan Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi untuk menyampaikan kebutuhannya kepada bidang informatika Sekretariat Daerah Garut. Namun memang saya saat itu belum sempat mendorong apa yang saya niatkan, yakni kolaborasi Jelajah Garut dengan Kelompok Pengembang Distro Linux yang sejak tahun 2011 saya dorong untuk mempromosikan pariwisata Garut melalui Distro Linux Ubuntu Garut Edition tema Swiss van Java. Dengan ada kerjasama antar komunitas tersebut diharapkan bisa saling mengisi, misalnya kelompk pengembang mengisi kesenjangan TIK dan Jelajah Garut mengisi kesenjangan konten grafisnya. Saya sampaikan dalam diskusi tersebut Distro Linux yang akan didorong untuk mewujudkan gagasan promosi dan edukasi wisata Garut adalah DodoLinux, yang sebagian pengembangnya atau anggota komuniasnya merupakan dosen dan alumni program studi Teknik Informatika STTG. Tetapi Komunitas Garut menyerahkan keputusannya kepada Garut Open Source Community dan Jelajah Garut. 

Saat diskusi penentuan Komunitas TIK yang akan mewakili Garut dengan Diskominfo Garut pada bulan-bulan sebelumnya, saya merekomendasikan dua nama Komunitas TIK, yang pertama tiGaroet yang merupakan kumpulan Usaha Kecil Menengah yang saya temui anggotanya di Kampung Sampireun saat acara Smartfren, dan kedua Jelajah Garut yang saya ikuti kegiatannya di media sosial sejak tahun 2014. Keduanya adalah Komunitas TIK, yang jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sekumpulan orang yang meminati TIK baik untuk sekedar hobi atau memanfaatkannya untuk keuntungan kompetitif. Sebelumnya saya memiliki gagasan bahwa untuk mewujudkan Smart Swiss van Java perlu dibuat repository layanan berbasis TIK yang dijalankan Komunitas TIK di wilayah TIGER (smart Tourism and creative-Industries, supported by smart Government, character built by smart Education and Religious), dan perlu dilakukan orkestrasi terhadap layanan-layanan untuk mencapai tujuan Smart Swiss van Java. Jelajah Garut mengisi area Tourism, tiGarut mengisi area Industries, Code4Garut mengisi area Goverment, KPMI mengisi area Education, ICT4Pesantren mengisi area Religoius. 

11 April 2016

Membantu Vitual Musrenbang Jawa Barat


Pada tanggal 8 April 2016 saya menerima pesan singkat dari pak Dody BAPEDDA Garut, isinya permintaan bantuan untuk kegiatan senin. Setelah surat elektroniknya dibaca ternyata pemerintah provinsi akan menyelenggarakan Musrenbang Online kembali, dan saya bersama sekretaris saya Ridwan Setiawan diminta untuk memberikan bantuan teknis. 


Pada tahun 2015 saya diminta teh Rossa dari VMeet mewakili perusahaannya dalam kapasitas sebagai relawan TIK untuk membantu BAPPEDA kabupaten Garut menyiapkan perangkat Teleconference untuk Musrenbang Online perdana di Jawa Barat. Komunikasi saya dengan Vmeet pertama kali saat memanfaatkan perangkat Teleconference yang merupakan hadiah Komunitas TIK Award 2014 untuk Seminar Online yang digelar oleh Diskominfo provinsi Jawa Barat. Komunitas TIK Garut yang saya pimpin saat itu mendapat penghargaan sebagai Komunitas TIK terbaik se Jawa Barat dengan kategori Mandiri. Hal tersebut berkat kepercayaan bapak Basuki Eko, kepala bidang informatika Sekretaris Daerah kabupaten Garut, kepada Komunitas TIK Garut.

Saat itu saya melibatkan Ridwan Setiawan, staf administrasi program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kegiatan membantu BAPPEDA Garut sebenarnya bukan kali pertama saya lakukan. Sebelumnya saya pernah diminta pak Abdusy-Syakur Amin dan pak Agus Ismail untuk membantu memperbaiki program aplikasi sistem informasi dan mengkoordinasikan relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk mengisi data program aplikasi tersebut.  

Hari senin 11 April 2016 saya baru bisa datang ke BAPEDDA Garut sekitar jam 14.00, karena harus menemui bapak Basuki Eko yang saat ini menjabat sebagai Camat Garut Kota untuk mendiskusikan kegiatan relawan TIK di kecamatan Garut Kota. Persiapanpun dilakukan hingga malam. Saya dan Ridwan Setiawan merampungkan pekerjaan mulai dari pemasangan aplikasi, konfigurasi sound system, hingga projektor. Saat itu kami dibantu salah seorang staf BAPPEDA yang mahir menggunakan aplikasi grafis. Gabungan keahlian kami menghasilkan tampilan yang unik. Hanya kabupaten Garut yang tampilannya ada logo kabupaten animasi dan lain nya seperti TV. Tim di provinsi dan beberapa kabupaten mengapresiasi hal tersebut. 


Keesokan harinya tanggal 12 April 2016 kegiatan pun dilaksanakan. Saya melihat Ridwan Setiawan dan staf BAPPEDA tersebut bisa menangani perangkat Teleconference dengan baik. Tidak ada kendala saat itu, semua lancar. Virtual Musrenbang dan Seminar Online ini merupakan terobosan yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi. Terobosan ini menggambarkan kelayakan provinsi Jawa Barat sebagai Cyber Province terkemuka di Indonesia. Tidak salah jika Sekolah Tinggi Teknologi Garut memiliki piagam kerjasama dengan Gubernur Jawa Barat, sebagai bekal pencapaian visi program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut 2015 - 2020.




07 April 2016

Pemaparan tentang ICT4Pesantren di Tasikmalaya


Kota Tasikmalaya, 7 April 2016. Sebelumnya Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) kota Tasikmalaya mengundang saya sebagai pembicara dalam acara seminar "Revolusi Dakwah melalui TIK" di Pondok Pesantren Sulalatul Huda kota Tasikmalaya. Seminar diselenggarakan dalam bentuk panel bersama pemateri lain yakni Novianto Puji Raharjo dari TIK Cerdas Surabaya dan ketua Majelis Ulama Indonesia Tasikmalaya. 

Sebelum pelaksanaan seminar, saya sempat berbincang dengan kolega di Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika tentang perkembangan surat edaran Menteri Komunikasi dan Informatika terkait Relawan TIK di mana saya pernah diundang untuk memberi masukan. Selain itu juga dibicarakan rencana kegiatan bersama Direktorat tersebut dengan Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan terkait teknologi untuk Pondok Pesantren di Indonesia. Beberapa hari sebelumnya kolega dari Direktorat tersebut pernah meminta data ICT4Pesantren untuk keperluan terkait rencana kegiatan tersebut. Sebagai akademisi saya merasa senang data tersebut dirujuk sebagai bentuk pengakuan kebermaknaan gerakan ICT4Pesantren.  Gerakan yang dideklarasikan tahun 2012 tersebut merupakan program Pengabdian kepada Masyarakat kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Majelis Muwasholah baina Ulama'il Muslimin yang didorong oleh TI Cerdas dan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika.

Dalam kesempatan tersebut saya memaparkan perjalanan ICT4Pesantren dari tahun 2007 hingga 2016. Gerakan tersebut merupakan komitmen bantuan TIK untuk Pesantren se Indonesia yang disampaikan oleh Yayasan al-Musaddadiyah pada tahun 2010 dan dilaksanakan oleh program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya memberi contoh berbagai layanan ICT4Pesantren menggunakan kerangka kerja Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi, mulai dari penyediaan informasi hingga kolaborasi, di antaranya bantuan teknologi untuk Pondok Pesantren dalam rangka memenuhi kebutuhan Majelis Muwasholah baina Ulama'il Muslimin dengan menggunakan hibah IbM (Ipteks bagi Masyarakat) Direktorat Pendidikan Tinggi pada tahun 2013. Hanya satu layanan saja yang belum efektif berjalan, yakni penyediaan informasi melalui pemanfaatan aplikasi web di alamat http://ict4pesantren.sttgarut.ac.id yang juga merupakan luaran dari hibah IbM tersebut. Seminar ditutup dengan menyampaikan apa yang sedang dikerjakan, termasuk integrasi ICT4Pesantren dalam kurikulum baru program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kurikulum dibuat sedemikian rupa sehingga luaran belajarnya dapat menunjang komitmen Yayasan al-Musaddadiyah tersebut.


Silaturahmi dengan General Manager Wilayah 3 Telkom


Hari Kamis tanggal 8 April 2016 saya bersama Leni Fitriani - staf wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang kerjasama mengunjungi kantor Divisi Telkom Regional 3. Di kantor tersebut saya bertemu dengan ibu Cucu yang pernah ikut serta dalam kegiatan Hackathon Merdeka 2.0 untuk wilayah Priangan Timur yang digelar oleh Telkom dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ibu cucu membantu saya menemui General Manager PT Telekomunikasi Indonesia wilayah Tasikmalaya, bapak Harry Aviadi Achmad. Beliau ternyata masih mengingat saya, bahkan sebelum saya mengenalkan diri sebagai ketua pelaksana Hackathon Merdeka wilayah Priangan Timur. 

Dalam kesempatan tersebut saya menjelaskan maksud kedatangan menemui beliau. Dimulai dari posisi Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai perguruan tinggi terkemuka di wilayah Priangan Timur sesuai dengan visinya. Saya memberi tahu beliau bahwa Sekolah Tinggi Teknologi Garut terbaik pertama pemeringkatan perguruan tinggi di wilayah Priangan Timur versi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi serta versi Webometric. Dalam kondisi demikian Sekolah Tinggi Teknologi Garut merasa perlu meningkatkan peran aktif dalam pembangunan masyarakat di wilayah Priangan Timur. Oleh karenanya Sekolah Tinggi Teknologi Garut melakukan pendekatan dengan Pemerintahan dan Perusahaan untuk membangun kerjasama, termasuk Divisi Telkom regional 3. 

Dalam kesempatan tersebut bapak Harry menjelaskan program CSR yang telah dilakukan terkait pendampingan masyarakat dalam kegiatan usaha mereka. Telkom mendorong peningkatan daya saing dan kesejahteraan masyarakat melalui teknologi atau  layanan yang mereka sampaikan kepada masyarakat, termasuk bantuan pinjaman bergulir. Selain itu Telkom khususnya di wilayah Jawa Barat ingin mendorong partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Telkom dapat bekerjasama dengan Relawan TIK untuk mewujudkannya. Dalam kerjasama tersebut Relawan TIK akan mendapatkan bantuan finansial.  

Peningkatan tersebut selaras dengan luaran penelitian berdasarkan standar nasional pendidikan tinggi. Oleh karenanya saya melihat adanya hubungan apa yang sedang diusahan oleh Telkom dengan apa yang sedang diusahakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Selanjutnya saya menjelaskan kepada beliau bahwa sekarang ini Sekolah Tinggi Teknologi Garut sedang membangun Technopark, di mana di dalamnya semua luaran teknologi hasil belajar atau penelitian yang diuji di Pusat Pengembangan dapat dilatihkan kepada masyarakat di Pusat Pelatihan secara gratis, untuk kemudian bergabung di Pusat Bisnis untuk mendapatkan peningkatan daya saing dan kesejahteraan. Technopark ini menunjang program CSR Telkom karena dapat digunakan untuk peningkatan kapasitas masyarakat dan juga relawan TIK yang mendampinginya. Oleh karenanya Sekolah Tinggi Teknologi Garut menawarkan kerjasama, terlebih Telkom Group di Garut telah secara rutin mengikuti Forum Quadruple Helix tahunan bernama Konferensi Komunitas TIK Garut, semacam konsorsium untuk merumuskan program bersama terkait pembangunan masyarakat informasi yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Hanya saja Sekolah Tinggi Teknologi Garut masih terkendala dana dalam pembangunan Technopark tersebut.

Dalam kaitannya dengan relawan TIK, Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah bekerjasama dengan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut untuk menerapkan program KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) dengan target adanya relawan TIK minimal di tingkat kecamatan yang dapat mendampingi masyarakat di perdesaan. Relawan TIK tersebut dapat memperkenalkan, melatihkan, dan mendampingi pemanfaatan teknologi atau layanan bermanfaat yang dimiliki Provider. Sementara kinerja pendampingan relawan TIK dapat diketahui melalui Sistem Informasi KPMI yang dikembangkan Sekolah Tinggi Teknologi Garut berdasarkan kerjasamanya dengan Relawan TIK Indonesia. Bagi Sekolah Tinggi Teknologi Garut, turunnya mahasiswa atau dosen sebagai Relawan TIK merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus memperkenalkan keberadaan kampus kepada masyarakat. 

Pertemuan yang berlangsung sekitar 50 menit tersebut ditutup dengan penyerahan berkas usulan kegiatan terkait apa yang dibicarakan. Bu Cucu berterima kasih saya datang ke kantor Telkom dan berharap saya dapat berkunjung kembali kalau ada kesempatan berkunjung ke Tasikmalaya. Bagi saya kunjungan tersebut merupakan pelaksanaan tugas jabatan sebagai ketua Program Studi Teknik Informatika, yang jika memperhatikan isi surat keputusan ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut nomor 170/STTG/A-1/III/2008, pekerjaan ini sebagai bagian usaha membina dan melaksanakan kerjasama dengan instansi, badan swasta dan masyarakat. 

Selepas pertemuan tersebut saya bergerak menuju lokasi acara Relawan TIK kota Tasikmalaya untuk memenuhi undangan sebagai pemateri dalam seminar tentang konten.  

02 April 2016

Audiensi Mahasiswa

Pada tanggal 31 Maret 2016, Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Teknologi Garut menyelenggarakan pertemuan dalam rangka audiensi mahasiswa dengan pimpinan kampus. Turut serta dalam acara tersebut perwakilan mahasiswa Teknik Informatika dan pengurus Himpunan nya. Dalam kesempatan tersebut mahasiswa Teknik Informatika mempertanyakan kenaikan biaya praktikum dan perubahan modul dari tercetak menjadi pdf. Mereka mengusulkan agar modul kembali dicetak.

Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjelaskan bahwa kenaikan biaya tersebut adalah untuk pengembangan fasilitas belajar seperti wifi corner dan laboratorium komputer Teknik industri. Beliau memutuskan di dalam pertemuan tersebut untuk kembali mencetak modul praktikum.

Kemudian perwakilan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika menyampaikan keluhannya terkait perangkat komputer di Laboratorium Komputer mereka. Saat dikonfirmasi, saya membenarkan jika spesifikasinya memang sudah tidak sesuai dengan perkembangan perangkat lunak aplikasi yang digunakan. Keluhan tersebut kemudian dicatat.

Di tengah jalan saya harus meninggalkan pertemuan karena ada jadwal mengajar. Selepas mengajar saya menemui ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan menampaikan kembali kebutuhan program studi Teknik Informatika akan pengembangan Laboratorium Komputer. Kebutuhan tersebut telah disampaikan kepada beliau dan wakil ketua II bidang keuangan sebelum pertemuan audiensi mahasiswa tersebut. Berdasarkan perhitungan, diperlukan minimal tiga ruang dengan jumlah komputer per ruang sebanyak 40 unit.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan dana yang tidak sedikit. Saya diminta untuk mencari hibah untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Di ujung pertemuan, saya meminta dana pengembangan praktikum yg terkumpul dari Teknik Informatika digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktikum Teknik Informatika. Sebelumnya saya pernah menyampaikan pemenuhan tersebut dapat dicapai beberapa semester ke depan dengan dana tersebut.