Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

29 Mei 2016

Peluncuran Garut Smartfren Community


Garut, 29 Mei 2016 di Aula Sekolah Tinggi Teknologi Garut diselenggarakan acara peluncuran Garut #SmartfrenCommunity #Generasi4G. Kegiatan Smartfren yang dikelola oleh Ipan Setiawan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, Komunitas / Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Garut, Komunitas TIK SMK Negeri 10 Garut, Komunitas TIK SMK Ciledug, serta pelajar dan mahasiswa se Garut. 

Pada tanggal 12 Mei 2016, melalu Whatsapp Ipan menghubungi saya, menanyakan mekanisme penyelenggaraan kegiatan kopi darat Blogger di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya memberi petunjuk bahwa mekanismenya sama seperti yang biasa ditempuh ASGAR Muda saat menyelenggarakan kegiatan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, tinggal memasukan proposal ke Wakil Ketua bidang Kerjasama. Bahkan saya memberikan gambaran kemungkinan Sekolah Tinggi Teknologi Garut memberi pinjam ruang Multimedia secara gratis asal ada bantuan promosi kampus di internet yang melibatkan peserta. 

Ipan Setiawan adalah ketua Penghimpunan Kelompok Pengguna TIK dalam kepengurusan Komunitas / Relawan TIK Garut. Tugasnya di kepengurusan memang memberdayakan komunitas dan para pengguna TIK seperti Blogger. Posisi jabatannya ini tepat mengingat Ipan adalah Blogtivist tergiat di Garut dengan segudang prestasi. Tidak salah jika Smartfren memilih alumni Madrasah Aliyah Negeri 1 Garut ini sebagai pemimpin Komunitasnya di Garut. 

Sambil menunggu Ipan menyelesaikan proposalnya, saya melakukan komunikasi dengan ketua dan wakil ketua III Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Alhamdulillah tanggapannya positif. Hal ini tidak mengherankan mengingat Sekolah Tinggi Teknologi Garut dari dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi di Garut yang melaksanakan kegiatan, mendorong pembentukan, dan sinergi dalam setiap program Relawan TIK. Dikukuhkannya Relawan TIK Garut oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan Pejabat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Google Educator Group Garut, dan Komunitas TIK terbaik se Jawa Barat tidak lepas dari kiprah dan bantuan Sekolah Tinggi Teknologi Garut baik tenaga pendidik ataupun para pejabatnya. Membantu masyarakat dalam bidang TIK dan para pegiat TIK merupakan salah satu amal pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan secara istiqamah oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut.


Saya berhasil meyakinkan Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyediakan hadiah untuk peserta yang paling banyak tweet @stt_garut, karena berdasarkan pengalaman saya, mengenalkan organisasi itu tidak cukup hanya dengan melakukan kunjungan dari satu sekolah ke sekolah lain di dunia nyata tetapi juga harus ditunjang kegiatan pengenalan kampus melalui jejaring sosial di dunia maya. Staf wakil ketua III, Leni Fitriani dipercaya untuk mengawal kepentingan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam kegiatan tersebut.

Sebagai ketua umum Komuntas TIK Garut saya juga melaporkan rencana kegiatan pertemuan Blogger Garut ke kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut sebagai Dewan Penasihat, sekaligus meminta kesediaan beliau untuk berkenan membuka acara, pada tanggal 13 Mei 2016. Setelah beliau menyatakan kesediaannya, saya menanyakan kepada Ipan Setiawan apakah kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, pada tanggal 20 Mei 2016. Ipan menjawab akan mengundang beliau.

Pada hari Jum'at tanggal 27 Mei 2016 pukul 09.43, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika menanyakan apakah acara kumpulan Blogger jadi dibuka oleh beliau. Setelah bertanya kepada Ipan kembali, saya menyampaikan jawaban dari Ipan pada pukul 10.53 bahwa kegiatan jadi dibukan oleh beliau dan surat undangan akan dikirim segera. Pukul 14.23 Ipan bergerak ke kantor Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk mengirimkan surat undangan. Ipan ini seperti saya, semua dikerjakan sendiri tatkala tidak ada seorang pun yang memiliki waktu untuk membantu, dan memiliki komitmen untuk menuntaskan kegiatan. Hal ini saya lihat sendiri, saat Ipan turut terlibat dalam pengepakan konsumsi untuk peserta. Relawan sejati yang bersedekah secara total.

Transkrip Percakapan dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika
  • [08:09, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Assalamualaikum.. Wilujeng enjing akang.. πŸ™‚
  • [08:09, 5/12/2016] Saya: Wa alaikum salam
  • [08:10, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Akang punten sateacana ngawagel waktosna πŸ™‚
  • [08:11, 5/12/2016] Saya: Siap
  • [08:12, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Kang rinda upami hoyong bade ngayaken kegiatan pelatihan menulis dan kopdar blogger di STTG tiasa, upami mekanismena sareng kampus kumaha kang?
  • [08:14, 5/12/2016] Saya: Siga kegiatan ASGAR MUDA na kang nono, lebetkeun proposalna ka ketua STTG
  • [09:49, 5/12/2016] Saya ke DR Hilmi : Minta peserta utk tweet #sttgarut.ac.id di Twitter dan Facebook.
    [09:50, 5/12/2016]
    Saya ke DR Hilmi : Kalau perlu buat lomba keliling STTG lalu semua peserta buat review kampus. Pengunjung terbanyak kasih hadiah. 
  • [09:50, 5/12/2016] Saya: Saya kira STTG bisa kasih aula gratis kang Ipan.
  • [09:58, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah hatur nuhun kang rinda informasina πŸ™‚
  • [09:58, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Abdi kantun ngadamel proposalna hela muhun kang 
  • [10:05, 5/12/2016] DR Hilmi A: Mangga sae
  •  [07:36, 5/13/2016] DR Hilmi A: πŸ‘
  • [14:20, 5/13/2016] Saya: Nembe aya Ipan nu bade nyelenggarakeun kegiatan kumpulan Blogger Garut di STTG bareng Smartfren, nyandak serat sareng proposal :
  • [14:33, 5/13/2016] DR Hilmi A: Ok, untuk prosedurnya mhn proposal fisiknya di sampaikan ke saya untuk didisposisikan ke baa
  • [14:46, 5/13/2016] Saya: Proposalnya ada di saya pak, besok saya sampaikan
  • [14:47, 5/13/2016] DR Hilmi A: Oh iya sip
  • [18:55, 5/13/2016] Saya: Manawi gaduh waktos kanggo ngabuka acara teman2 Blogger πŸ™πŸ»
  • [18:59, 5/13/2016] Kadiskominfo Garut: Insya allah. Sekalian silaturahmi. Malah Abdi hoyong bikin blogger.
  • [19:00, 5/13/2016] Saya: Siap. 
  • [10:34, 5/14/2016] Ipan Setiawan: Akang untuk aulanya Ibu Rina dan Bapak Hilmi sudah mengizinkan untuk penggunaan acaranya? Bismillah, supaya saya langsung cantumkan di posternya πŸ™‚πŸ˜Š
  • [10:34, 5/14/2016] Ipan Setiawan: Akang untuk aulanya, Ibu Rina dan Bapak Hilmi sudah mengizinkan untuk penggunaan acaranya? Bismillah, supaya saya langsung cantumkan di posternya πŸ™‚πŸ˜Š
  • [10:40, 5/14/2016] Saya: Diizinkan, hanya proposalnya belum sampai ke pa Hilmi karena beliau sedang kegiatan di luar Garut
  • [10:41, 5/14/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah...terima kasih akang... πŸ™
  • [10:41, 5/14/2016] Saya ke DR Hilmi : Pak Hilmi, proposal kegiatan Blogger saya sampaikan ke bu Yanti ya, untuk pemesanan aula STTG
  • [10:41, 5/14/2016] DR Hilmi A: Oh iya pak 
  • [15:08, 5/22/2016] Rina Kurniawati: Naon eta teh? 
  • [15:08, 5/22/2016] Saya: Yg proposalnya minggu lalu ke ibu in
  • [15:08, 5/22/2016] Saya: Yg pinjem aula
  • [15:09, 5/22/2016] Rina Kurniawati: Ooo iya iya, sip ari eta nu tengah saha asa kenal
  • [15:09, 5/22/2016] Saya: πŸ˜„ Ipan
  • [15:10, 5/22/2016] Saya: Yg blm dibahas itu reward utk top reviewer blogger ttg kampus STTG
  • [15:41, 5/22/2016] Rina Kurniawati: Oo iya tar atuh ya bsknkita ngobrol 
  • [09:09, 5/27/2016] Saya: Teu ngulem Diskominfo Garut?
  •  [09:42, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Assalamualaikum akang
  • [09:43, 5/27/2016] Kadiskominfo Garut: Dupi minggu acara genetasi 4 g ktratif di bukana ku abdi ?
  • [09:43, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Kantenan Bade Akang, Kedah atuh akang Diskominfo mah anu Utami kangπŸ™‚
  • [09:44, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Insya Alloh dinten ayena undangan Nana didamel akang, upami masihken Nana Kantor na di palih mana ya kang?
  • [10:17, 5/27/2016] Saya ke Kadiskominfo Garut: Ku abdi ditaroskeun heula  
  • [10:26, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah sumuhun Akang, hatur nuhun akang
  • [10:53, 5/27/2016] Saya ke Kadiskominfo Garut: Kata Ipan, dibuka oleh Diskominfo Garut pak.
  • [10:53, 5/27/2016] Saya ke Kadiskominfo Garut: Suratnya dikirimkan segera
  • [12:36, 5/27/2016] Kadiskominfo Garut: Siap.
  • [10:54, 5/27/2016] Saya: Lokasina di simpang lima. Kedah ayeuna, kumargi enjing pemerintah libur.
  • [12:05, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah sumangga akang Rinda, saparantos jumatan langsung dipaparin undangan nana πŸ™‚
  • [14:23, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Akang Upami di simpang lima na kantor Disdik teh dipalih mana?
  • [14:23, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Diskominfo maksadna teh πŸ™‚
  • [08:37, 5/29/2016] Rina Kurniawati: Rinda maaf saya ga bisa dateng hari ini ngedadak ada acara ka bdg yang ga bisa di hibdarin, yang ngebuka acara Rinda Aja ya?
  • [10:11, 5/29/2016] Saya: Ok

Dalam kesempatan memberi sambutan, Drs Dikdik Hendrajaja, M.Si, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut mengingatkan pentingnya Blogger dalam pembangunan informasi positif di kabupaten Garut. Blogger harus memperhatikan kualitas informasi, menghindarkan diri dari amal penyebaran informasi yang tidak dibenarkan agama. Beliau berharap Blogger Garut dapat dihimpun dan luaran Blognya dapat diakses dalam satu portal untuk memudahkan setiap orang membaca tulisan Blogger Garut.


Dalam kesempatan menyampaikan sambutan, saya mengucapkan selamat kepada Ipan dan Smartfren atas terbentuknya Garut Smartfren Community, mengucapkan selamat bergabung dalam perhimpunan Komunitas dan Relawan TIK se Garut yang dibimbing oleh kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Garut. Saya menyatakan harapan kepada komunitas ini untuk dapat menapaki dua kondisi selanjutnya agar Garut Smartfren Community menjadi Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat. Kondisi tersebut meliputi : 1) Terkumpul, yakni mendata semua personal yang memiliki kegiatan dan minat yang sama, 2) Terorganisir, yakni penataan komunitas mulai dari pembentukan kepengurusan, pembuatan rencana kerja tahunan, hingga pengurusan badan hukum, dan 3) Terbuka, yakni memastikan tersedianya dokumentasi kegiatan yang bersifat publik untuk konsumsi seluruh stakeholder. Komunitas TIK yang telah memenuhi tiga kondisi tersebut layak mewakili Komunitas TIK di Garut untuk mengikuti Komunitas TIK Award Jawa Barat. Komunitas / Relawan TIK Garut merekomendasikan Jelajah Garut kepada Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk mewakili Garut ikut dalam kegiatan Award tersebut.


Di penghujung sambutan, dalam kapasitas sebagai ketua umum Komunitas TIK Garut, saya mengingatkan kepada ketua Perhimpunan Kelompok Pengguna TIK agar menindaklanjuti pembangunan Portal Garut Citizen Jounalism yang merupakan portal menuju blog-blog urang Garut. Portal yang dibangun oleh Ikbal Muhammad Hikmat, staf Perhimpunan Kelompok Pengembang TIK ini telah diluncurkan oleh Bupati Garut pada tahun 2015. Keberadaan portal ini akan memudahkan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk mengetahui informasi yang dibuat oleh Blogger dan mengukur dampaknya bagi pembangunan Garut. Semoga Jang Ipan bisa menghimpun Blogger Garut, personalnya di dalam Komunitas dan membuka akses ke Blog nya melalui Portal tersebut.

Pembicara dari Smartfren menjelaskan bahwa Komunitas Smartfren ini dibentuk untuk memudahkan Smartfren mendapatkan feed back dari pengguna Smartfren. Dalam kesempatan presentasinya, diputarkan video yang menggambarkan perilaku pengguna smartphone masa kini yang dekat dengan yang jauh dan jauh dengan yang dekat. Hal ini harus dijauhi oleh para pengguna Smartfren. Teknologi Advanced LTE 4G yang disediakan Smartfren menyediakan kenyamanan kepada para penggunanya dalam menikmati konten di internet. Namun kenyamanan ini tidak boleh menyebabkan para pengguna mengabaikan kehidupan nyatanya di internet dan membatasi waktu berselancar di internet.   



25 Mei 2016

Begini pengalaman ku dengan BNI, bagaimana dengan kamu ?


Saya Rinda Cahyana, PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang diperbantukan sebagai Tenaga Pendidik di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Aktif sebagai PNS sejak tahun 2006, dan sejak saat itu pula aktif sebagai nasabah BNI (Bank Negara Indonesia) Syariah. Pertama kali memilih BNI Syariah karena kantor mengirimkan gaji PNS melalui rekening BNI dan saya merasa nyaman dengan Perbankan Syariah. Walau saat mendaftar di Bandung, tetapi pelayanan tetap dapat dinikmati dengan nyaman di Garut. Saat kampus menawarkan perumahan karyawan yang dibiayai BNI, saya pun mulai membuka rekening BNI non Syariah.    

Rumah Pertama yang dibiayai BNI

Sejak awal saya tertarik dengan salah satu layanan BNI yang dikenal dengan SMS (Short Message Service) dan Internet Banking. Hal tersebut boleh jadi dipengaruhi oleh gaya hidup orang informatika yang selalu berorientasi kerja efisien dengan mesin otomatis. Kebetulan saya lulusan dan dosen informatika yang selalu mengembangkan gagasan akses informasi di mana saja dan kapan saja. Layanan elektronik dari BNI tersebut merupakan bagian dari gagasan tersebut. 

Keuntungan yang diperoleh dari SMS Banking adalah mendapatkan kabar uang masuk ke rekening, dan tentu ini kabar yang ditunggu dan menggembirakan untuk pegawai dengan sistem gaji bulanan seperti saya. Sementara internet Banking memungkinkan saya untuk melalukan transaksi perbankan, seperti membeli token PLN, pulsa seluler, transfer uang, membeli tiket kereta api, termasuk membaca riwayat transaksi dalam rekening. Semuanya bisa dilakukan melalui smartphone atau laptop, tidak perlu ke luar rumah dan menggunakan ATM (Anjungan Transaksi Mandiri). Transaksi Perbankan dalam Genggaman. 



Saat melakukan restorasi dan modifikasi mobil jenis Jeep, saya banyak mendengar informasi dan berdiskusi di grup Facebook, memperoleh masukan seputar suku cadang dan aksesoris apa yang diperlukan. Kemudian saya membeli suku cadang dan aksesoris tersebut secara online dari toko online. Pembayarannya melalui Internet Banking. Prosesnya cepat sehingga barang cepat sampai di rumah dan mobil pun cepat berubah. Semua kemudahan ini terwujud karena layanan BNI, yang mampu mengikuti kebutuhan gaya hidup digital jaman sekarang. Terima kasih BNI

         

14 Mei 2016

Peningkatan Kapasitas Masyarakat Informatika di Garut

Masyarakat informasi merupakan bentuk budaya di mana setiap orang di dalamnya menggunakan TIK  (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk mendapatkan keuntungan kompetitif dari penguasaan informasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui International Telecommunication Union ataupun pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika mendorong penetrasi internet hingga ke perdesaan dan berusaha menyediakan Telecenter seperti Warung Internet Perdesaan dan Community Access Point agar masyarakat dapat mengakses internet untuk memanfaatkan informasi sedemikian rupa sehingga meningkat tarap kehidupan, bidang ekonomi, sosial, dan budayanya. Masyarakat harus menguasai teknologi, informasi dan komunikasi terlebih dahulu agar peningkatan itu terwujud, sebagaimana dijelaskan dalam buku Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK yang dibuat oleh peneliti Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk Kementrian Komunikasi dan Informatika tahun 2013 [1]. 

Gambar 1. Peran Relawan TIK di Telecenter [1]

Kebutuhan masyarakat sekitar Telecenter akan penguasaan teknologi, informasi, dan komunikasi terekam dalam artikel jurnal berjudul Peran Relawan Teknologi Informasi dalam Pemanfaatan Warung Internet Perdesaan [2]. Kesenjangan yang ada dalam usaha penyediaan Warung Internet Perdesaan oleh pemerintah yang terekam di Garut pada tahun 2012 antara lain lambatnya dukungan teknis dan kurangnya kemampuan TIK dasar. Solusi yang diusulkan dalam rangka mengatasi kesenjangan tersebut adalah mendorong partisipasi masyarakat, di mana sekelompok anggota masyarakat dermawan dan terlatih memberikan layanan relawan TIK untuk mendukung pemanfaatan TIK di lingkungannya. 

Di dalam artikel jurnal yang berjudul The Stages, Three-Layer Infrastructure, and Function Level Regulation for Development of Information Society within of Information Technology Volunteers Actions [3] layanan relawan TIK meliputi penyediaan informasi dan teknologi informasi, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi. Keempat layanan tersebut dilaksanakan oleh kelompok relawan bernama KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi).

Gambar 2. Layanan KPMI [4]

Becermin dari kisah sukses Telecenter berkat bantuan Relawan TIK yang direkam oleh Acevendo [5], anggota masyarakat yang bersedia menjadi relawan TIK diharapkan dapat mewujudkan Telecenter sebagai Pusat Pembangunan Lokal masyarakat informasi. Lokasi lain yang dapat dijadikan Pusat Pembangunan lokal adalah lembaga pendidikan, mengingat adanya budaya relawan dan kegiatan relawan di sana, serta banyaknya remaja yang direkrut sebagai relawan [1]. Pusat Pembangunan Lokal ini diharapkan dapat menjadi tempat mobilisasi relawan TIK dan titik akses layanannya.

Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengembangkan konsep dan teknologi KPMI melalui kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejak ditandatanganinya piagam kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia pada tahun 2012. Konsep KPMI dirumuskan berdasarkan kegiatan mahasiswa Relawan TIK di Unit Sistem Informasi sejak tahun 2001, serta dikombinasikan dengan kegiatan sejenis di berbagai negara berdasarkan literatur dan kegiatan bersama Relawan TIK Korea Selatan tahun 2012 sampai 2014. Konsepnya pertama kali disajikan melalui buku atas permintaan Kementrian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2013. Sementara teknologinya dalam bentuk Sistem Informasi KPMI sebagai media pelaporan atau pengawasan kegiatan Relawan TIK dibuat melalui penelitian dosen dan mahasiswa berdasarkan konsep tersebut. Rancangannya didiseminasikan dalam seminar e-Indonesia Initiative yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung pada tahun 2015, sementara teknologinya dipamerkan serta diperkenalkan ke khalayak umum dalam Festival TIK di Bandung.
Program KPMI telah dirintis oleh Relawan TIK Garut dan dilaksanakan di beberapa Sekolah Menengah Atas / Sederajat. Sejak tahun 2014, Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengusulkan program bersama terkait KPMI dalam Konferensi Komunitas TIK Garut / forum Quadruple Helix yang dihadiri oleh unsur Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan, dan Komunitas TIK di Garut. Secara khusus Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah menandatangani piagam kerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Negeri 10 Garut dan SMK Ma'arif Pameungpeuk Garut untuk melaksanakan program tersebut pada tahun 2015. Bagi Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, KPMI ini menunjang program Telecenter / mobil Community Access Point yang menyasar lembaga pendidikan dan Kelompok Informasi Masyarakat di perdesaan. 

Dalam kesempatan Seminar di Lampung, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyatakan bahwa idealnya satu desa terdapat satu orang relawan TIK [6]. Sementara itu Sekolah Tinggi Teknologi Garut tengah mendorong agar KPMI di sekolah dapat melayani satu atau beberapa desa di sekitarnya. 

Anggota masyarakat yang dapat direkrut sebagai Relawan Penggerak Masyarakat Informasi ini dapat berusia antara 16 - 24 tahun [1]. Setidaknya di setiap kecamatan harus ada satu atau beberapa Sekolah Menengah Atas / Sederajat dan / atau Perguruan Tinggi yang berfungsi sebagai Pusat Pengembangan Lokal di mana anggota KPMI melaksanakan layanannya untuk internal kampus dan masyarakat desa sekitar kampus. Kaderisasi dan kegiatan anggota KPMI dapat dilaksankaan dalam bentuk kegiatan intra ataupun ekstra kurikuler melalui unit kegiatan yang ada di kampus. Di antara unit kegiatan yang telah terbentuk di kampus dan dapat didorong untuk melaksanakan program KPMI adalah Komunitas TIK dan Gerakan Pramuka.

Disebutkan dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 170.A tahun 2008, bahwa Saka (Satuan Karya) merupakan wadah pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan Pramuka Penegak (usia 16 - 18 tahun) dan Pramuka Pandega (19 - 24 tahun) dalam bidang yang berguna baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat serta melakukan pengabdian kepada masyarakat sesuai aspirasi pemuda Indonesia dengan menerapkan prinsip dasar Kepramukaan dan metode Kepramukaan serta sistem Among. Partisipasi anggota Saka dalam membangun masyarakat informasi secara sukarela merupakan amal pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian Pramuka Penegak dan Pandega yang menjadi anggota Saka dapat melaksanakan empat jenis layanan Relawan TIK yang berguna bagi dirinya dan masyarakat berdasarkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang dibentuk oleh Saka.

Pada tanggal 13 Agustus 2015, ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut mengesahkan ketua Relawan TIK Garut sebagai ketua Saka Telematika (Telekomunikasi dan Informatika), yang selanjutnya berubah nama menjadi Saka Informatika. Kondisi ini membukakan komunikasi antara Relawan TIK Indonesia dengan Gerakan Pramuka sehingga pembangunan masyarakat informasi di Garut dapat dilaksanakan secara bersama-sama. Karena Saka ini merupakan rintisan dan kebetulan KPMI yang dikembangkan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut dibangun mengikuti pola kegiatan Kepramukaan, maka ditandatanganilah piagam kerjasama antara Kwartir Cabang Garut dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam Rapat Kerja Cabang bulan Februari tahun 2016. Berdasarkan kerjasama tersebut, Saka Informatika mulai menerapkan konsep dan teknologi KPMI dalam bentuk Krida Bina Pengguna mulai tahun 2016 untuk mewujudkan Gugus Depan sebagai Pusat Pengembangan Lokal serta anggota Pramuka Penegak dan Pandega sebagai relawan penggerak dan tulang punggung masyarakat informasi Garut. 

Sementara itu Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika pada pertengahan tahun 2016 meminta agar Relawan TIK Garut memobilisasi relawan TIK dari kalangan pelajar dan mahasiswa untuk menjalankan program API (Agen Perubahan Informatika) di Indonesia yang dimaksudkan untuk mewujudkan keinginan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut. Yang jadi persoalan adalah kabupaten Garut memiliki wilayah yang sangat luas dan Relawan TIK Garut belum memiliki komisariat di setiap kecamatan. Kondisi ini menyulitkan Relawan TIK Garut untuk memastikan keberlanjutan program API di setiap kecamatan.

Karena Relawan TIK Indonesia mengawal pelaksanaan API di daerah, maka hambatan atau kelemahan apapun di sisi Relawan TIK Garut akan mempengaruhi program API. Dalam kasus di Garut, solusi yang mungkin ditempuh memperhatikan kerjasama atau komunikasi yang sudah terbangun adalah dengan mendorong Kwartir Cabang Garut untuk terlibat dalam program API ini. Gugus Depan yang merupakan pangkalan anggota Pramuka di lembaga pendidikan hampir tersebar di setiap kecamatan. 
Saka Informatika melalui Krida Bina Pengguna sedang memulai program pelatihan untuk pelatih bagi anggota Pramuka Penegak dan Pandega agar dapat melaksanakan empat layanan relawan TIK. Kumpulan tindakan API di tengah masyarakat merupakan layanan informasi serta literasi informasi dan TIK yang akan dilaksanakan oleh anggota Krida Bina Pengguna. Sementara itu Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut tengah menjalankan program Mobil Community Access Point, Desa Melek TIK dan Sejuta Domain Indonesia yang juga berkaitan dengan program API. 
Sekolah Tinggi Teknologi Garut, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dan Relawan TIK Garut bersama unsur Kwartir Cabang Garut mengisi kelengkapan organisasi Saka Informatika. Sementara itu Relawan TIK Garut dan Saka Informatika menyandarkan konsep dan penerapan KPMI kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah menandatangani piagam kerjasama dengan badan publik, organisasi masa, dan gerakan tersebut sehingga dipastikan semuanya dapat melaksanakan program API secara bersama-sama dalam rangka melaksanakan piagam kerjasama. Skema kerjasama di Garut sampai tahun 2020 sebagaimana tampak pada gambar  3.


Gambar 3. Skema Pendampingan Desa dengan Unsur Pentahelix

Dari skema tersebut API merupakan program dari Pemerintah, sementara KPMI merupakan program Pendidikan dan Komunitas. Dua program tersebut saling mengisi, di mana kemampuan anggota KPMI yang dibangun oleh instruktur Komunitas TIK sekolah oleh Relawan TIK Garut serta kemampuan anggota Krida Bina Pengguna yang dibangun oleh instruktur Saka Informatika Kwartir Pramuka Cabang Garut digunakan untuk melaksanakan layanan informasi dan literasi dalam program API. Program dan manusia dari organisasi dan gerakan tersebut merupakan aset bersama yang digunakan dalam lingkungan kerjasama yang disebut Technopark. 
Dalam kaitannya dengan API, Pusat Pelatihan meliputi Open Class Komunitas TIK dan Sanggar Bakti Saka tempat dipenuhinya spesifikasi kecakapan TIK oleh peserta program KPMI dan pelatihan Krida Bina Pengguna. Sertifikasi merupakan penilaian yang memastikan terpenuhinya spesifikasi kecakapan yang diperlukan untuk melakukan empat layanan relawan TIK. Dengan sertifikasi ini, personel Relawan TIK Garut ataupun Saka Informatika dipastikan memiliki kecakapan yang memadai untuk melaksanakan sekumpulan tindakan API. Selain itu kegiatan sertifikasi juga untuk profesi informatika. 
Khusus untuk pembentukan Smart Business di desa, Saka Informatika menyiapkan pendamping badan usaha desa melalui Krida Bina Usaha. Anggota Pramuka yang menguasai kecakapan khusus dalam Krida Bina Usaha dapat menjembatani produk dan jasa di desa dengan konsumen di dunia maya atau mendampingi badan usaha di desa sampai mampu melakukan pemasaran di internet secara mandiri. Perusahaan yang bergabung dan memiliki program Company Sosial Responsibility untuk badan usaha dapat menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bisnis dan teknologi bekerjasama dengan Pendidikan (Perguruan Tinggi) bagi para pengusaha yang didampingi tersebut. 
Selain melaksanakan pelatihan secara mandiri atau bersama mitranya, lembaga pendidikan dapat terlibat dalam penyediaan Teknologi. Setiap Kelas dan Laoratoriumnya yang berisi pelajar dan mahasiswa Rekayasa Perangkat Lunak atau bidang Komputasi lainnya merupakan lokus-lokus pengembangan yang menyediakan Teknologi yang diperlukan dalam pembentukan Smart Village. Teknologinya sebagaimana teknologi milik perusahaan dapat dibawa oleh relawan TIK untuk diterapkan dan dilatihkan kepada masyarakat. Para pengembang di lembaga pendidikan tersebut bahkan dapat sekaligus berperan sebagai relawan TIK tersebut. Dukungan teknis seputar persoalan terkait teknologi tersebut diberikan secara online oleh pengembang teknologinya melalui helpdesk yang diperankan oleh stafnya atau oleh relawan TIK. Bantuan di lapangan dapat diperankan oleh relawan TIK yang tersebar di setiap kecamatan. 
Pada akhirnya, tanda munculnya kondisi Smart Village adalah keberadaan kantor elekrtronik di dunia maya yang digunakan oleh badan publik, badan usaha, serta pendidikan untuk menyampaikan layanan dan informasi publik serta kehadiran para penggunanya. Ketiganya menjadi perhatian mengingat tujuan akhir dari masyarakat informasi adalah keuntungan kompetitif dari industri informasi yang bersandar kepada karakter smart people sebagai akselerator dan konseptor yang dibentuk oleh lembaga pendidikan, smart business sebagai enabler yang dikembangkan oleh badan usaha, serta smart (public) service sebagai regulator yang diperankan badan publik dan harus bekerja efisien. Di luar itu semua, media merupakan unsur pentahelix lainnya yang berperan sebagai katalisator bagi industri informasi. Media juga mempersiapkan komunikasi di antara helix, menciptakan dorongan psikologis / pengaruh yang menggeser keadaan dari aras konseptual menuju praktik dan penerapan.


DAFTAR PUSTAKA

  1. R. Cahyana, "Aktivitas dan Kompetensi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi," Garut, Insan Akademika, 2013. 
  2. R. Cahyana, "Peran Relawan Teknologi Informasi dalam Pemanfaatan Warung Internet Perdesaan," Algoritma, vol. 9, 2012. 
  3. R. Cahyana, "The stages, three-layer infrastructure, and functional level regulation for development of information society within of information technology volunteer actions," International Journal of Basic and Applied Science, vol. 3, no. 1, pp. 28-35, 2014. 
  4. R. Cahyana, "Model Analisis Sistem Informasi Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi," in Konferensi dan Temu Nasional TIK untuk Indonesia, Bandung, 2015. 
  5. M. Acevendo, "ICTlogy," 24 March 2009. [Online]. Available: http://ictlogy.net/bibliography/reports/projects.php?idp=1284. [Accessed 2012].
  6. [6] "ANTARA News," 23 April 2016. [Online]. Available: http://www.antaranews.com/berita/556862/menkominfo--butuh-74000-relawan-tik-di-desa. [Accessed 12 Mei 2016].


05 Mei 2016

Rapat Koordinasi SAKO dan SAKA di lingkungan Kwarcab Garut


Kamis, 5 Mei 2016. Bertempat di sekretariat Gerakan Pramuka Kwarcab (Kwartir Cabang) Garut diselenggarakan pertemuan koordinasi antara pimpinan Kwarcab Garut dengan pimpinan Sako (Satuan Komunitas) dan Saka (Satuan Karya) se Garut. Hadir dalam pertemuan tersebut unsur pimpinan dari Saka Wira Kartika, Saka Telematika (Telekomunikasi dan Informatika), Sako Ma'arif Nahdatul Ulama, Sako Hizbul Wathon Muhammadiyah, dan Sako Sekawan Persada Nusantara LDII. 

Bagi saya pertemuan ini penting karena ada banyak pengetahuan dan pengalaman yang disampaikan pimpinan Saka dan Sako yang akan menjadi masukan pengembangan Saka Telematika. Maklum saja saya dengan tanpa pengalaman Kesakaan harus mengemban amanat pada tahun 2015 sebagai pimpinan Saka Telematika. Sempat menolak, namun karena banyak yang memberikan kepercayaan dan sejalannya kesakaan ini dengan gagasan Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi, saya pun akhirnya meraba-raba sambil membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan harapan pemberi kepercayaan. 



Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan kepada ketua Kwarcab Garut bahwa Saka Telematika selama tahun ini sedang membentuk dirinya berdasarkan peraturan Kesakaan yang berlaku, menjalin komunikasi dengan unsur pemerintahan, perusahaan, dan pendidikan tinggi, serta merumuskan program pengabdian kepada masyarakat yang akan dilaksanakan oleh anggota Saka Telematika. Selama setahun ini saya membuat konsep kegiatan yang dapat dilaksanakan bersama-sama oleh Gerakan Pramuka dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut, Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut, PT Telekomunikasi Indonesia, serta Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia. Konsep tersebut terbentuk seiring komunikasi yang saya lakukan dengan keempat unsur tersebut. Terakhir yang berhasil dibuat adalah penandatanganan piagam kerjasama antara Gerakan Pramuka dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut, yang dalam pelaksanaannya akan dikaitkan dengan Saka Telematika. 

Saya memaparkan rencana kegiatan Saka Telematika yang akan dilaksanakan tahun ini, mulai dari sosialisasi hingga pelaksanaan pelatihan Krida Saka Telematika. Anggota Saka Telematika ini akan dilibatkan dalam program Kementrian Komunikasi dan Informatika yakni Agen Perubahan Informatika dan program Diskominfo Garut yakni Demi Kamu terkait Desa melek Internet dan Kelompok Informasi Masyarakat. Sebelum pemaparan tersebut, ketua Kwartir Cabang Garut menjelaskan rencana saya untuk melibatkan Dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam pelatihan sebagai instruktur Saka Telematika. Sangat kebetulan sekali menurut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 170.A 2008 kegiatan Saka ini merupakan wadah untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dapat juga menjadi wadah bagi Dosen untuk melaksanakan pengabdian kepada masyaraakt yang diwajibkan Peraturan Presiden nomor 44 tahun 2015. 

Setelah menghadapi banyak kendala dari tahun 2012 dalam menerapkan konsep KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) baik di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, Relawan TIK Indonesia ataupun Komunitas TIK Garut, saya melihat ada kesempatan yang besar untuk menerapkannya di Gerakan Pramuka. Banyak konsep operasional KPMI yang sama dengan aturan Kesakaan, seperti waktu ToT dan jumlah peserta latih. Sejak awal memang saya mengembangkan KPMI ini berangkat dari pengalaman Kepramukaan di SMP Negeri 2 Subang dulu, sehingga tidak heran apabila KPMI ini bisa "plug and play" pada Gerakan Pramuka.