Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

22 September 2016

Pengalaman Memberi Dukungan TIK Perdana untuk Bencana di Garut


Malam hari tanggal 21 September 2016, saya berbincang dengan istri tentang bencana banjir yang baru saja menimpa Garut. Istri saya kemudian bertanya, kenapa sebagai Relawan TIK saya tdk menggalang bantuan makanan atau pakaian seperti yg lainnya?. Saya jawab, bahwa yg menangani itu sudah sangat banyak. Relawan TIK akan mengambil peran yg sesuai, yakni layanan TIK. 

Malam itu saya mengerjakan croud funding di kitabisa dot com untuk SEGI (Serikat Guru Indonesia) cabang Garut. Bantuan seperti itu merupakan salah satu layanan relawan teknologi informasi, yakni penyediaan informasi. Dalam menjalankan bantuan tersebut saya dibantu oleh Syauqi Ahmad Nurulloh, anak tertua saya yang berusia 8 tahun. Dia membantu mengambil gambar saya untuk keperluan registrasi akun kitabisa dot com. Ini pengalaman pertama saya menggunakan kitabisa dot com. 


Malam itu saya juga menawarkan bantuan yang sama untuk Posko Penanggulangan Bencana Garut melalui kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Namun satu hari ini saya hanya sanggup mengerjakan cround funding untuk SEGI Garut saja yang berhasil terbit di https://kitabisa.com/SEGIperduliGarut. Alhamdulillah, menurut pak Imam Tamamu Taufiq mulai ada donasi yang masuk. Semoga menjadi kebaikan kita semua. 


Keesokan harinya saya mulai mobilisasi relawan TIK untuk melaksanakan bantuan bagi institusi pendidikan terdampak. Alhamdulillah satu mahasiswa saya yang hari ini mengikuti kuliah PTI (Pengantar Teknologi Informasi) merespon di Facebook. Di kelas PTI saya jelaskan bahwa proses pembelajaran akan memberi pengalaman kepada peserta didik sebagai relawan TIK. Dan di penghujung perkuliahan saya menawarkan kepada mahasiswa saya di kelas tersebut untuk bergabung. Alhamdulillah ada sejumlah mahasiswa yang bersedia ikut serta. Di antaranya adalah purna Kelompok Penggerak TIK pelajar. 

 


Lepas Dzuhur setelah memenuhi kewajiban sarapan telat dengan baso tahu, saya pun bertemu dengan mereka, menjelaskan apa yang akan mereka lakukan di lapangan, menyebutkan sebelas sekolah sasaran terdampak bencana yang akan dibantu, dan mendorong mereka untuk membentuk tiga tim serta memilih pimpinannya. Setiap tim diisi oleh relawan TIK yang menguasai teknis informatika (jaringan komputer, troubleshooting, dan grafis). Relawan yang tidak memiliki keahlian teknis diberi tugas dokumentasi dan bantuan umum. Setelah itu saya sebagai ketua Relawan TIK Garut mengukuhkan semuanya dengan menyematkan pin Relawan TIK Indonesia kepada tiga pimpinan tim. Dengan demikian semua yang hadir saat itu menjadi anggota Relawan TIK Indonesia angkatan 2016 untuk masa kontrak layanan relawan TIK selama satu tahun. Pin nya hanya tiga buah karena stok pin yang diberikan oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ternyata sudah mulai menipis. Demikian pula dengan seragam Relawan TIK. Dengan stok yang mulai habis, saya hanya bisa memberikan tiga seragam lokal Relawan TIK Garut yang dulu diberikan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Setidaknya setiap tim ada tanda pengenal Relawan TIK Garut sebagai alat komunikasi dengan masyarakat yang dilayani. 


Selepas pertemuan tersebut, saya mengajak semua pimpinan tim untuk survei ke salah satu sekolah sasaran di Cimacan, yakni SMP PGRI Garut. Di lokasi saya berhasil menemui pak Deni Riswandi yang diinformasikan oleh kang Buntaran Christian. Beliau menerima baik dan memberi banyak informasi terkait perangkat TIK di SMP PGRI Garut. Beberapa guru juga menemani dan membantu menunjukan lokasi komputer yang terdampak bencana. Saat pertama kali masuk ke Laboratorium Komputer, nampak sejumlah komputer dalam keadaan tergenang. Unit sistem sudah terpisah dengan peripheralnya. Saya hanya melihat unit sistem dan monitor. Sementara keyboard dan mousenya mungkin terendam lumpur atau terbawa derasnya arus sungai Cimanuk malam itu. 






Pemimpin tim yang ikut mengambil sampel komputer untuk dilihat kondisi dalamnya. Nampak lumpur sudah masuk ke dalam unit sistem tersebut. Namun kami tetap akan memeriksa kemungkinan komputer untuk dihidupkan kembali pada kesempatan kedua. Salah satu pimpinan tim menginjak pecahan kaca sehingga kakinya berdarah. Survei tersebut memberi informasi kebutuhan dan resiko di lapangan kepada kami semua. Saya juga mulai mendefinisikan bantuan seperti apa yang akan diberikan oleh Relawan TIK Garut untuk institusi pendidikan terdampak bencana. Saya memasukan bantuan buku TIK dalam program ini setelah menerima masukan dari bapak Guru di sana dan melihat kondisi Perpustakaan yang memprihatinkan. Beliau mengatakan bahwa perpustakaan tersebut sangat penting, karena baru saja dijalankan Gerakan Literasi Sekolah di mana murid membaca sebelum belajar. 


Saat berjalan ke luar dari lokasi, saya melihat seorang relawan mengambil air dari ember milik penduduk untuk membersihkan kakinya yang terkotori lumpur seperti saya. Saat itu sempat saya ingin melakukan hal serupa. Tetapi saya melihat di kiri dan kanan, banyak ibu yang sedang membersihkan pakaian dan lain sebagainya. Saya melihat saat masuk ke lokasi mobil PDAM itu mengisi air ke ember-ember tersebut. Saat mengira ketersediaan air sangat terbatas sehingga rasanya saya tidak boleh menyentuh air tersebut. Saya pun memutuskan untuk mencari penjual minuman dala kemasan untuk membersihkan kaki.

Di pinggir jalan, salah seorang pemimpin tim mengusulkan kami menuju masjid untuk membersihkan lumpur. Saya keberatan karena lumpur dari kami pasti akan mengotori masjid. Oleh karenanya saya bergegas membeli dua botol besar air dalam kemasan. Tidak lupa saya juga memberi uang kepada salah satu pimpinan tim untuk membeli plester agar lukanya tertutup. Akhirnya kaki kami lumayan bersih. Untuk itu semua kami ternyata membutuhkan tiga botol minuman dalam kemasan besar, yang dijual murah oleh pemilik toko di sana. Begitu kami sampai di mobil, air hujan mulai menetes. Alhamdulillah, kami bisa survei di lokasi tanpa ditemani hujan.  

Sementara itu, di Facebook pak Yamin dari Yayasan Nawala Nusantara mulai mencolek beberapa kolega yang dapat ikut membantu program kami. Pak Yamin ini beberapa minggu sebelumnya telah memberi contoh kepada saya bagaimana sedekah TIK dilakukan. Beliau mensedekahkan LCD untuk Laboratorium Komputer Mini bagi Komunitas Raspberry Pi Garut. 

Saya meyakini sejak gerakan ICT4Pesantren diluncurkan tahun 2013 di Garut, ada banyak orang yang siap untuk bersedekah TIK bagi masyarakat yang membutuhkan. Saya telah berusaha semampunya untuk menjadi relawan TIK yang dapat mendesekahkan TIK berupa program aplikasi kepada Sekolah Tinggi Teknolog Garut dan Pondok Pesantren sejak tahun 2002. Sedekah TIK juga saya ajarkan kepada relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang saya asuh, seperti Yusef Bustomi dan Hendri Prayugo yang mensedekahkan Ubuntu Garut Edition, Iqbal Muhammad Hikmat yang mensedekahkan Papan Informasi Digital dan aplikasi ICT4Pesantren, serta Robi Alisandi yang mensedekahkan Sistem Informasi untuk Relawan TIK. Mereka semua sekarang menjadi programmer di sejumlah institusi bisnis dan pemerintahan dan sebagian diantaranya bisa sukses berkat pengalaman sedekah TIK selama menjadi Relawan TIK Garut. Bersama pak Eri Satria, saya juga belajar mensedekahkan komputer bagi Pondok Pesantren dalam program Ipteks bagi Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2014. 


Oleh karenanya saya percaya, ada dermawan di sana yang siap mensedekahkan TIK bagi sekolah sasaran yang terdampak bencana di Garut. Gerakan #SedekahTIK ini harus dijalankan. Allah membukakan jalan tidak disangka-sangka bagi setiap hambanya yang beriman dan beramal saleh. Bismillah.

Sekitar pukul empat sore saat turun hujan saya pun menjalankan kendaraan menuju rumah mertua di Suci. Saya putuskan mengisi bensin dulu karena semua akses jalan menuju Suci melalui jembatan sungai Cimanuk yang macet karena banyaknya masyarakat yang melihat lokasi terdampak bencana. Saya sempatkan sebentar berhenti di Indomaret untuk menunaikan shalat Ashar di masjid di sampingnya. Lepas shalat saya beli roti dan minuman, lumayan mengganjal perut yang mulai keroncongan, padahal sudah diisi baso tahu tengah siang tadi, hehehe.

Beberapa menit kemudian sampailah di rumah mertua. Istri saya menyiapkan makan untuk saya dari hajatan sunat anak kakaknya istri siang tadi. Sebelum pulang saya menyempatkan diri mengunjungi rumah kakaknya istri untuk menunaikan sesuatu yang seharusnya ditunaikan dari pagi tadi. Jadi teringat saat program Relawan TIK Korea Selatan dulu, saya tidak punya waktu cukup untuk bersama Syazwan yang baru lahir karena harus memastikan program Relawan TIK Korea Selatan berjalan baik. Semuanya demi amal, demi bangsa dan negara. 

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya