Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

30 Oktober 2016

Peran HIMATIF STT Garut


Pada hari Minggu 30 Oktober 2016 saya diminta untuk membuka acara Mubes (Musyawarah Besar) HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut di Area 306. Satu hari sebelumnya, saya memberi izin penggunaan Area 306 untuk kegiatan Mubes dengan alasan kampus yang berada di jalan Mayor Syamsu no. 1 tidak buka pada hari Minggu. Area 306 yang berada di jalan Mayor Syamsu no 2 ini merupakan Pusat Pembelajaran, Kajian, dan Layanan Profesi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Dalam kesempatan membuka acara tersebut saya mengawalinya dengan mengutip kalam Allah yang artinya bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan ciptaan terbaik itu mereka yang banyak berbuat baik kepada sesama manusia, karena saya mengetahui kemuliaan itu bukan dari kedudukan atau rupa tetapi dari ketaqwaan yang tercermin dari perbuatan baik atau ahlak mulia. HIMATIF merupakan medium yang dapat digunakan oleh mahasiswa Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk melaksanakan amal kebaikan dan membina kemuliaan akhlak Teknokrat Informatika.

Himpunan bisa difahami sebagai Himpunan Besar (Semesta) dan Himpunan Kecil (Sub). HIMATIF sebagai sebuah organisasi dapat difahami sebagai himpunan kecil yang memberikan pelayanan kepada himpunan besar. Himpunan besar ini menyediakan kader yang melanjutkan tongkat estafet kepengurusan HIMATIF. Tetapi tidak boleh bersandar pada harapan bahwa kader-kader ini sudah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai untuk memimpin dan mengelola organisasi, HIMATIF harus menyelenggarakan kursus Kepemimpinan dan Organisasi untuk memastikan kondisi organisasi modern tetap terjaga. 


Saya mengingatkan kembali beragam pelayanan HIMATIF yang pernah disampaikan pada Masa Bimbingan tahun lalu di LAPAN Pameungpeuk, yang meliputi 1) Pelayanan kepada mahasiswa untuk mengisi kekosongan pengetahuan, keterampilan, dan sikap melalui kegiatan intra kurikuler berbentuk kelompok belajar, dan untuk menyelesaikan permasalahan antar personal baik di antara mahasiswa, dengan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, atau dengan Lembaga melalui kegiatan Advokasi, dan 2) Pelayanan kepada masyarakat dalam rangka mengenalkan HIMATIF berikut Program Studinya melalui kegiatan usaha dan amal, semisal penyuluhan atau kursus terbuka bagi masyarakat di Car Free Day sambil menjual produk wirausaha seperti Kaos, CD koleksi program, dan lain sebagainya. 


Saya menjelaskan indikator kesuksesan HIMATIF adalah berdasarkan pelayanan tersebut, seperti seberapa banyak seberapa banyak prestasi mahasiswa yang berhasil diusahakan, seberapa banyak masalah antar personal dan dengan lembaga yang berhasil diselesaikan, dan seberapa banyak amal pengabdian yang sudah diperbuat di tengah masyarakat. Saya berharap pelayanan tersebut menjadi perhatian kepengurusan HIMATIF ke depan, sehingga ada divisi khusus yang menangani pelayanan tersebut. 

Pada akhirnya sambutan ditutup dengan do'a semoga pengurus HIMATIF yang akan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan diberikan pahala berlimpah atas amal sukarelanya demi almamater, dan pengurus masa depan diberikan kemampuan untuk membawa organisasi lebih maju dan berkembang. 

25 Oktober 2016

Mengenang Hackathon MDK 2.0


Tepat hari ini satu tahun yang lalu, 24 Oktober 2015 adalah pembukaan Hackathon MDK 2.0. Event nasional dalam bidang pemrograman komputer ini saya dengar dari media sosial. Saat itu saya mengajukan diri kepada mas Ainun Najib untuk menjadi penyelenggara di wilayah Garut, yang kemudian saya perluas menjadi Priangan Timur sesuai visi Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat itu. 

Langkah persiapan dilakukan dengan pengurus Relawan TIK Garut beberapa hari sebelumnya. Namun rupanya mas Ainun berhasil mendapat respon dari PT Telekomunikasi Indonesia sehingga penyelenggaraannya disponsori oleh BUMN tersebut. Saya pun dikontak dan diminta bertemu oleh pak Dadan dari Telkom regional Tasikmalaya. Ternyata proses menemukan saya menjadi cerita tersendiri di lingkungan Telkom. Pada awalnya saya disangka anak perempuannya pak Cahyana Ahmadjayadi, yang karenanya saat kontak pertama kali pak Dadan memanggil saya dengan "mbak". Sudah biasalah kalau dianggap perempuan itu, hehehe.

Dalam pertemuan tersebut disepakati panitia bersama antara Telkom dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan lokasi lomba yang awalnya diselenggarakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjadi di Kandatel Garut. Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah, apalagi Telkom berkomitmen menanggung seluruh kebutuhan Hackathon. Saya teramat senang karena memang tidak punya dana untuk mengoperaskan kegiatan ini, bahkan untuk diri sendiri. Tinggal berfikir bagaimana caranya agar ada sumber daya manusia Relawan TIK di Garut yang dapat membantu menjalankan berbagai tugas di lapangan.

Pada awalnya saya dibantu oleh Sri Rahayu dan Leni Fitriani. Namun kebetulan minggu itu bertepatan dengan acara Wisuda di kampus sehingga mereka diminta oleh kampus untuk fokus melaksanakan tugas kepanitiaan. Akhirnya saya tinggal sendirian. Namun saya tetap bersemangat memenuhi segala keperluan sendirian, seperti mengusahakan peralatan yang tidak dimiliki Telkom, menentukan tata letak tempat, mengonfigurasi perangkat teleconference. Untung saja Muhammad Rikza Nasrulloh berhasil dikontak dan bersedia membantu membuatkan produk grafis Hackathon Priangan Timur, mulai dari spanduk hingga backdrop. Dan syukurlah karena saya sudah punya JIMKAT yang setia menemani saya dalam kegiatan Relawan TIK dan kali ini memudahkan saya mengangkut aset Komunitas dan Relawan TIK Garut yang digunakan Hackathon, walau sempat mogok karena ACCU nya habis. Sukanda juga ikut hadir sebentar membantu saya memotong kartu peserta. 

Untuk kegiatan kampus sekala nasional bersama Telkom saya menghabiskan waktu cukup banyak, bahkan uang dapur sebagaimana biasanya kegiatan Relawan TIK yang saya lakukan. Saya bahkan tidak sempat foto bareng dengan wisudawan. Kondisi ini mengingatkan pada tahun 2012 silam, saat Prof Dr. Muhammad Ali Ramdhani - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat itu mendukung pelaksanaan kegiatan nasional bersama Kemkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) dan Relawan TIK Indonesia pada hari yang bersamaan dengan Wisuda. Saya sebagai sekretaris program studi saat itu tidak sempat menghadiri Wisuda karena menyiapkan acara tersebut, bahkan tidak bisa hadir saat dipanggil untuk menerima penghargaan sebagai dosen terbaik dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Namun kampus memakluminya, karena apa yang saya kerjakan juga untuk kampus juga. Dan ternyata memang ada manfaatnya, karena bapak Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal yang sedianya diundang untuk hadir dalam Wisuda, ternyata datang selepasnya. Para penjabat struktural meminta saya untuk menyambut beliau dalam acara dengan Kemkominfo dan Relawan TIK Indonesia. Akhirnya saya dengan beberapa teman yang mewakili pengurus Komunitas TIK Garut dikukuhkan sebagai Relawan TIK Garut oleh pak Menteri (menjadi Relawan TIK pertama kali yang dikukuhkan oleh Menteri), dan mendapatkan sumbangan uang dari beliau untuk kegiatan Relawan TIK di Garut. 


Dan Hackathon yang dibuka oleh General Manager Telkom serta kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut berhasil dilaksanakan. Tidak ada satupun tim dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang menang, dan saya selaku ketua panitia yang duduk bareng juri tidak ingin mengganggu keputusan tersebut. Produk mereka lebih banyak di aplikasi untuk partisipasi publik. Saya sebagai ketua panitia memiliki pandangan tersendiri tentang program aplikasi yang berbeda dengan tim juri dari Telkom grup dan Diskominfo, dan panitia pusat setuju satu tim dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut maju ke Final dengan Wildcard. Dan alhamdulillah mereka mendapatkan akomodasi dari kampus. Saya tidak berangkat ke acara final tersebut, dan menitipkan dua tim kepada Dede Kurniadi dari AMIK Garut dan Muhammad Rikza Nasrulloh dari Relawan TIK Garut.Setelah itu saya menyerahkan kembali amanat pelaksanaan lomba kepada mas Ainun Najib.




Keesokan hari setelah penutupan, terbit di surat kabar tentang kiprah Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam acara Hackaton. Bagi saya inilah kerja nyata, di mana kampus dapat lebih dekat dan bekerja sama dengan masyarakat, pemerintah, dan perusahaan untuk sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dan visi program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang terkemuka di wilayah Priangan Timur dicapai salah satunya dengan kegiatan ini. Alhamdulillah


17 Oktober 2016

Kue Ulang Tahun


Ada kejadian yang menyentuh dua hari setelah pembentukan Komunitas TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Garut, yakni saat mahasiswa saya dari KP (Kelompok Penggerak) TIK, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika, dan Himpunan Mahasiswa Teknik Komputer membuatkan kue ulang tahun dengan logo KPTIK di atasnya. Pada awalnya mereka khawatir karena saya tidak pernah merayakan ulang tahun, tetapi kemudian suasana menjadi cair setelah kita semua menikmati kue tersebut. Saat itu saya mengucapkan terima kasih, dan memberikan penghargaan kepada mereka yang telah bersusah payah membuat kue bernuansa KPTIK tersebut. Saya berharap kue tersebut merupakan tanda kesuksesan memberi manfaat kepada mereka di luar kegiatan perkuliahan. 

Mereka memang generasi pilihan yang hidup pada masa di mana perkumpulan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut bergerak ke luar menghimpunkan perkumpulan TIK sekolah dalam satu wadah bernama KPTIK pelajar. Mereka yang pertama berinteraksi dengan relawan TIK internasional dari Korea Selatan, pengelola pertama Pesantren Teknologi Informasi tujuh hari, dan ikut dalam pembentukan Komunitas TIK Garut sebagai medium kerjasama Komunitas dan Relawan TIK se Garut.

Suasana seperti itu ternyata tidak hanya berlangsung di luar kelas. Saya juga diberi kejutan oleh mahasiswa Teknik Informatika kelas A di dalam kelas. Mereka tiba-tiba mengeluarkan kue ulang tahun dan menyalakan lilinnya. Saya berterima kasih atas perhatian mereka dan mengatakan sambil tersenyum jika kue ini tidak akan mempengaruhi nilai akhir matakuliah. Saya menganggapnya sebagai bentuk perhatian tidak hanya kepada saya sebagai dosennya tetapi juga kepada saya sebagai kakak tingkatnya, karena kebetulan saya adalah alumni Teknik Informatika STT Garut angkatan kedua. 

Kue ulang tahun ini memang habis tidak perlu waktu lama, tetapi kenangannya tersimpan dalam waktu yang lama. Bagi saya kejadian tersebut memberi tahu bahwa hubungan pendidik dan peserta didik sudah seharusnya cair agar tidak ada hambatan transfer pengetahuan. Seorang pendidik harus memberikan banyak manfaat kepada muridnya agar suatu saat nanti kita mendapatkan bonus kesenangan saat mendapat kabar kesuksesan mereka. Saya berpegang pada ajaran dalam agama ini, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang banyak memberi manfaat kepada orang lain. Kebaikan itu akan berbalas kebaikan, tetapi kebaikan yang sesungguhnya itu adalah kebaikan yang abadi yg diterima dari amal saleh murid hingga tempat indah di akhirat sana.

Menjadi Juri lomba TIK di LT III Kwarcab Garut


Tanggal 17 Oktober 2016 merupakan hari pembukaan LT III yang diselenggarakan oleh Kwartir Cabang Gerakan Pramuka kabupaten Garut di kecamatan Cisurupan. Pada hari itu saya memenuhi janji menjadi juri untuk lomba TIK. Tawaran untuk menjadi juri ini disampaikan pada tanggal 9 Oktober 2016, saat itu diinformasikan kegiatannya tanggal 18 Oktober 2016. Agak telat saya datang ke lokasi karena harus mengikuti rapat kampus dulu. Begitu sampai di lokasi tidak langsung ke ruang lomba karena mengira lomba dimulai setelah upacara selesai dilaksanakan. 


Di lokasi saya menilai kelas putera. Saya baru diberi tahu kalau lomba TIK nya adalah membuat profil regu dengan menggunakan perangkat lunak aplikasi presentasi. Nampak banyak regu yang membawa laptop dan netbook untuk menuntaskan tantangan tersebut. Ada juga yang menggunakan smartphone untuk membuat aplikasinya. Dan ada dua regu yang membuatnya secara manual di atas kertas karena yang satu tidak membawa perangkat TIK dan satunya lagi batere laptopnya habis. Saya sempat bantu regu yang baterenya habis dengan melihat satu persatu charger milik semua regu, dan sayangnya tidak ada yang cocok. Yang dikerjakan secara manual kami (tim juri) izinkan untuk menghargai usahanya mengikuti lomba.  




Karya adik-adik ini beragam, ada yang hanya mengandalkan template Microsoft Power Point, ada yang menyisipkan gambar yang diperoleh dari ponsel pintar, ada juga yang putih polos tanpa menggunakan template. Satu karya regu dari Kwaran Leles dianggap oleh saya menonjol karena pemilihan warna yang pas dengan kegiatan pramuka (nuansa coklat) dan mengandung unsur lokal (pola batik). Penataan gambar juga relatif baik sekalipun tidak konsisten posisi gambar yang diulangnya. Namun secara keseluruhan hasil akhirnya unggul tipis dibandingkan regu terbaik yang penataan kontennya bagus namun mengandalkan template standar. Akhirnya berdasarkan perhitungan point, untuk kelas putera, perolehan nilai terbesar adalah regu dari kwaran Leles.


16 Oktober 2016

Konferensi Komunitas TIK Garut 2016


Minggu 16 Oktober 2016 Komunitas TIK Garut akhirnya menyelenggarakan Konferensi Komunitas TIK Garut kembali. Konferensi pertama dilaksanakan pada tahun 2014 dan diikuti oleh belasan Komunitas TIK yang ada di Garut. Konferensi ini mempertemukan Komunitas dengan helix lainnya, terutama pemerintah. Kali ini Komunitas TIK Garut mempertemukan Komunitas TIK dengan Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut. Saya selalu ingin Komunitas TIK Garut merayakan miladnya tanggal 15 Oktober dengan acara Konferensi, karena semangat pendirian Komunitas TIK Garut dulu adalah menyatukan semua Komunitas TIK untuk tetap melaksanakan kegiatan relawan dalam bidang TIK.

Koordinasi Acara dengan Diskominfo Garut

Beberapa hari sebelumnya, pagi-pagi sekali saya berkunjung ke Diskominfo Garut. Agak susah untuk masuk ke kompleks Diskominfo karena ada mobil yang parkir di jalan yang hanya cukup satu kendaraan saja. Setelah memarkirkan kendaraan, ada kendaraan plat PNS di belakang yang membunyikan klakson. Lalu saya datangi dan bapak yang ada dalam kendaraan meminta saya untuk memasukan kendaraan melalui jalan yang mustahil bagi saya untuk dimasuki. Akhirnya saya bilang ke bapaknya, saya akan bawa keluar mobilnya agar kendaraan bapak tersebut dapat parkir di tempat saya parkir. Setelah kendaraan ini dimundurkan, ternyata bapaknya malah parkir di tempat lain. 

Akhirnya saya berputar dan coba masuk melalui jalan depan kantor Diskominfo Garut. Saat kendaraan masuk, terlihat kepala Diskominfo Garut sedang memberikan santapan pagi kepada pimpinan dan staf di lingkungan Diskominfo Garut. Pak Sekretaris Diskominfo Garut yang kebetulan berdiri menghadap ke arah jalan masuk yang digunakan oleh kendaraan saya melihat dan memberi intruksi tangan agar kendaraan ini dibawa masuk lebih ke dalam dekat kantor Diskominfo. Setelah memarkirkan kendaraan di jalan yang hanya cukup dilewati satu kendaraan, saya pun berdiri menunggu depan pintu kantor Diskominfo. 

Beberapa saat kemudian upacaranya bubar, Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si - Kepala Diskominfo Garut seperti biasa menyambut dengan hangat dan membawa saya masuk ke dalam ruangannya. Menyusul kemudian Drs Diar Cahdiar Antadireja, M.Si - Sekretaris Diskominfo Garut ke dalam ruangan. Dalam ruangan tersebut saya mengkonsultasikan tanggal pelaksanaan pembukaan pelatihan Saka (Satuan Karya Pramuka) Informatika Garut di mana Diskominfo merupakan salah satu anggota Majelis Pembimbingnya. Beliau menyarankan agar pelaksanaannya tidak berbarengan dengan Konferensi Komunitas TIK Garut. Tadinya saya berencana menjadikan acara pembukaan tersebut menjadi rangkaian acara terakhir dari JotI (Jambore on the Internet). Tetapi masukan dari beliau benar sekali, karena kalau disatukan pastinya akan membutuhkan energi yang sangat besar karena saya harus memimpin relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus turun langsung menyiapkan Area 306 sebagai lokasi kegiatannya, menggelar Konferensi Komunitas TIK Garut pada pagi harinya, dan membuka Pelatihan Saka Informatika siang harinya. 

Selain itu saya juga menyerahkan surat permintaan mobil Internet dari Kwarcab Garut dan menanyakan apakah MCAP (Mobil Community Access Point) dapat dikirimkan?. Ditanyakan pula tentang kebutuhan baru dari sistem informasi yang dulu dibuat oleh relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kepala Diskominfo Garut kemudian mengundang Kepala Bidang TPDE nya serta Kepala Seksi yang menangani data dan informasi ke ruangan. Drs Ajid Syayidin - Kepala Bidang TPDE menjelaskan kesiapan Diskominfo Garut mendukung JotI untuk mengirimkan MCAP. Sementara Deden Ferry Martin, S.Ip - Kepala Seksi Data dan Informasi menjelaskan kebutuhan baru sistem terkait update informasi yang telah diterbitkan. Saya kemudian menghubungi Robi Alisandi dan menyampaikan kebutuhan tersebut. Melalui sambungan telphon tersebut Robi menjanjikan akan memenuhi kebutuhan tersebut dan akan menyempatkan waktu datang ke Konferensi Komunitas TIK Garut agar dapat bertemu dengan Diskominfo Garut.

Dalam pertemuan tersebut Drs Diar Cahdiar Antadireja - Sekretaris Diskominfo Garut mengungkapkan bahwa umumnya kelompok di Garut ini adalah bekerja sendiri-sendiri, hal tersebut mungkin saja berlaku dalam Komunitas TIK di Garut. Saya mengiyakan seraya mengambil contoh dalam pengembangan aplikasi terkait bencana banjir. Saat itu ada dua kelompok relawan pengembang aplikasi yang bekerja membuat aplikasi bencana banjir. Salah satu diantaranya adalah Relawan TIK Garut yang membuat SIKOBE dengan platform web. Kelompok lainnya mengembangkan aplikasi serupa dengan platform mobile. Saya berpendapat, seandainya dua project ini disatukan tentu saja akan membuat aplikasinya lebih baik karena akan tercipta dua platform untuk satu aplikasi. Hanya saja memang di grup Whatsapp nampaknya pengembang lainnya ingin jalan sendiri, karena yang disampaikan adalah ajakan kepada relawan TIK Garut untuk ikut membantu pengembangannya, bukan ajakan agar project nya digabungkan. Saat itu saya sampaikan kalau semua relawan TIK Garut dengan kompetensi pengembangan perangkat lunak sudah fokus pada project SIKOBE. Relawan TIK Garut memiliki dorongan secara orgaisasi untuk ikut terlibat dalam situasi bencana di Garut. Seandainya ajakannya adalah menggabungkan dua project, tentu bisa dipenuhi. Tetapi karena ajakannya dapat membuat SIKOBE tidak dilakukan, saya tidak bisa mendorong relawan TIK Garut untuk berhenti dan membantu pengembangan aplikasi lainnya yang sudah ditangani oleh tim Universitas Telkom tersebut. 

Obrolan tersebut mendorong saya untuk mengusulkan kembali pembentukan Komunitas TIK Garut sebagai wadah untuk menyatukan Komunitas TIK yang ada di Garut. Pada tahun-tahun sebelumnya, kepala bidang informasi SETDA Garut mendorong Komunitas TIK Garut untuk mendampingi Komunitas TIK di Garut agar juga dapat meraih Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat. Sejak saat itu saya selalu mengarahkan Komunitas TIK Garut menjadi asosiasi Komunitas TIK yang ada di Garut. Itulah kenapa dalam strukturnya ada ketua Perhimpunan yang menunjukan jika Komunitas TIK Garut ini menghimpunkan Komunitas TIK berdasarkan empat kelompok, yakni pengguna TIK, penggerak masyarakat informasi, pengembang platform TIK, dan entrepreneur TIK. Ujung obrolan adalah kesepakatan dengan Diskominfo Garut bahwa Komunitas TIK Garut ini perlu dibadanhukumkan sebagai organisasi berbentuk asosiasi dengan pendiri dari unsur Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Pegiat TIK. 

Demikianlah cerita di Diskominfo Garut sebelum pelaksanaan Konferensi Komunitas TIK Garut. Suasana di Diskominfo Garut yang saya rasakan selalu hangat. Ini menunjukan Diskominfo Garut telah menciptakan ruang komunikasi yang baik dengan unsur Pendidikan Tinggi dan Pegiat TIK di Garut. 

Konferensi Komunitas TIK Garut

Pagi-pagi sekali saya siapkan slide presentasi yang berisi evaluasi pelaksanaan program bersama. Slide itu tidak saya siapkan pada malam hari karena lelah paska penyiapan Area 306 mendorong saya untuk tidur lelap. Di luar gedung D Sekolah Tinggi Teknologi Garut nampak mahasiswa baru yang menjadi anggota Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sudah menunggu. Saya memberi arahan tugas kepada mereka. Hari itu Risa Kristalia yang memegang uang kas tidak bisa hadir. Untung saja di tangan saya ada sisa uang Program Studi untuk belanja kebutuhan Area 306. Dalam kapasitas sebagai ketua Program Studi saya putuskan uang tersebut dipinjamkan untuk keperluan pembelian air minum dan snack peserta Konferensi Komunitas TIK Garut. Bagi saya pinjamannya seperti itu tidaklah besar jika dibandingkan manfaat kerjasama dengan Komunitas TIK Garut yang dirasakan sejak tahun 2012.  

Saya lupa meminjam sound system ke kampus. Tetapi syukurlah sound system punya Komunitas TIK Garut ada di kantor Program Studi. Satu dari dua wireless microphone nya masih layak digunakan. Saya meminta relawan TIK untuk mengambil dan membawanya ke Area 306.  

Pesertanya hadir agak telat, sehingga acaranya saya mulai sekitar pukul sepuluh pagi. Peserta yang hadir beragam, mulai dari guru pembina hingga siswa angggota atau pengurus Komunitas TIK. Sekretaris Diskominfo Garut memenuhi janjinya untuk hadir dan menyampaikan pengalamannya dalam menerapkan TIK di Garut kepada peserta Konferensi. Beberapa pengurus Komunitas TIK Garut hadir dalam kesempatan tersebut. Sayangnya saat diminta masukan terkait program bersama tidak ada yang bersedia menyampaikan, entah bingung, enggan, atau malu, hehehe. Namun hari itu saya sebagaimana Kepala Seksi Data dan Informasi Diskominfo berhasil mencatat berbagai kegiatan yang dilaporkan oleh setiap Komunitas TIK yang hadir, sebagai bahan masukan perumusan program bersama yang akan melibatkan Komunitas TIK yang hadir hari itu. Saya juga berhasil mencatat profil Komunitas TIK melalui Google Form yang saya siapkan malam harinya, yang diperlukan juga oleh Diskominfo Garut. 

Dalam kesempatan Konferensi tersebut saya menyampaikan kegiatan yang berhasil dan tidak berhasil dilaksanakan oleh Komunitas TIK Garut berdasarkan kalender bersama Komunitas dan Relawan TIK Garut yang disosialisasikan pada pertemuan Quadruple Helix yang dihadiri oleh unsur Kemkominfo, Diskominfo Jabar, Diskominfo Garut, Relawan TIK Garut, Komunitas TIK Garut, dan Kwarcab Pramuka. Program bersama yang berhasil dilaksanakan antara lain Olimpiade Komunitas TIK pada milad Relawan TIK Garut yang ke depannya diselenggarakan setiap milad Garut, dan Forum Quadruple Helix sebagai pengganti Konferensi Komunitas TIK Garut tahun 2015 yang sedianya diselenggarakan setiap milad Komunitas TIK Garut. Program yang tidak berhasil dilaksanakan adalah bulan relawan teknologi informasi internasional. Hal tersebut karena tahun 2016 tidak ada program Relawan TIK Korea Selatan yang diselenggarakan di Garut, serta karena GEG (Google Educator Grup) Garut yang dibentuk oleh Pengurus Komunitas TIK Garut / Relawan TIK Indonesia cabang Garut melalui bidang sumber daya manusia melaksanakan kegiatannya sendiri tanpa koordinasi serta pimpinannya yang juga Koordinator Komunitas TIK wilayah Utara Garut menyatakan membebaskan GEG Garut dari Komunitas TIK Garut / Relawan TIK Indonesia cabang Garut dan menjadi bagian dari Ikatan Guru Indonesia cabang Garut yang dipimpin oleh salah satu ketua perhimpunan Komunitas TIK Garut. 

Terkait pembelotan GEG Garut ini saya tidak bisa berbuat banyak. Dulu saya mempercayakan pembentukan GEG Garut kepada bidang pengembangan SDM (sumber daya manusia) untuk dua tujuan, yakni menguatkan program pelatihan TIK dasar Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi dan menyediakan program yang dibiayai lembaga internasional selain NIA (National Information Society Agency South Korea) di Garut. Alasan kepercayaan tersebut ada dua, yakni pertama dorongan registrasi GEG ini dilakukan oleh ketua umum Relawan TIK Indonesia dan pengurus bidang pengembangan SDM Komunitas TIK Garut ini merupakan anggota Relawan TIK Indonesia, dan kedua yang bersangkutan (pengurus bidang pengembangan SDM) menjabat dalam bidang pengembangan SDM di kepengurusan Komunitas / Relawan TIK Garut. GEG ini strategis bagi Komunitas TIK Garut karena Google menyediakan dana untuk penyelenggaraan program GEG. Saat yang bersangkutan di Diskominfo Garut menyatakan bukan bagian dari Komunitas TIK Garut tetapi berada langsung di bawah Google, saya hanya bisa mengingatkan kembali bagaimana GEG Garut ini dibentuk oleh Komunitas TIK Garut, dan mengingatkan kalau sejarah akan mencatat apa yang dilakukan oleh setiap pegiat TIK. Saya sampaikan Komunitas TIK Garut sebagai perhimpunan Komunitas TIK keanggotaannya bukan personal tetapi Komunitas TIK. Jadi tidak ada alasan bagi GEG Garut untuk tidak dapat menjadi bagian dari Komunitas TIK Garut yang mendirikannya. Belakangan saya agak heran karena yang bersangkutan menuliskan asal institusi GEG Garut adalah IGI (Ikatan Guru Indonesia) cabang Garut. Bahkan dibuat grup FB dengan nama GEG IGI Garut. Tapi ya sudahlah ... setiap orang membawa amalnya masing-masing. 

Akhirnya saya berterima kasih kepada Diskominfo, Komunitas TIK, dan pengurus Komunitas TIK Garut, yang telah menyediakan waktu hari libur untuk berkumpul. Utamanya kepada relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah membantu saya menyiapkan tempat dan mengelola kegiatan, serta Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah menyediakan gratis Area 306 sebagai tempat Konferensi. Konferensi Komunitas TIK memberi masukan kepada saya sehingga dapat membawa Komunitas TIK Garut ke arah kekinian yang dibutuhkan oleh Komunitas TIK yang ada di Garut dan Pemerintah Kabupaten Garut. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada setiap orang yang berbuat baik dan memberikan pahala berlipat kepada mereka yang mengerjakannya dengan sukarela. Amin.