Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

20 November 2016

Mengenang Kuliah di Garut


Tanggal 21 November 2016 saya memenuhi permintaan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyampaikan materi tentang kuliah dalam acara Masa Bimbingan (MABIM) yang diselenggarakan di Aula Yonif 303. Saya membukanya dengan menanyakan kepada peserta MABIM tentang pengertian kuliah. Hari itu saya berniat untuk memberikan gambaran kuliah berdasarkan pengalaman sendiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar peserta MABIM yang juga kuliah di tempat yang sama dapat merasakan pengalaman yang saya sampaikan tersebut.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Subang pada tahun 1997, Bapak mendorong saya untuk mengikuti proses seleksi STPDN. Bapak sangat ingin saya bersekolah Ikatan Dinas dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi seleksinya terasa ekstrem dalam kondisi saya saat itu, seperti misalnya ditelanjangi masal dan dikumpulkan dalam satu ruangan saat pemeriksaan kesehatan. Oleh karenanya saya memutuskan untuk meninggalkan proses seleksi tersebut. 

Setelah pelarian diri tersebut, saya dikirim orang tua untuk bersekolah di program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut sambil ngaji di Pondok Pesantrennya. Saya sempat mendengar penjelasan Bapak, pilihan Teknik Informatika itu karena berdasarkan banyaknya lowongan kerja bidang tersebut di surat kabar. Artinya Bapak memilihkan program studi terbaik yang diharapkan dapat menjamin kehidupan saya di masa depan. Dari tahun pertama hingga ketiga saya belum terlalu menikmati perkuliahan. 

Walau demikian saya tidak kesulitan mengikuti matakuliah terkait pemrograman karena ditunjang pengalaman memprogram kalkulator Casio FX warisan dari kakak (Retti Sulistiawati) yang dulu digunakan saat kuliah di jurusan Matematik Komputasi Institut Pertanian Bogor. Belajarnya otodidak, hanya berbekal sampel program yang dibuat oleh teman kakak dan buku petunjuk penggunaan dalam bahasa asing. Alhamdulillah, saat itu saya berhasil membuat program animasi lampu mobilnya Knight Raider, salah satu film favorit waktu kecil. 

Dengan pengalaman tersebut saya berhasil menyelesaikan tugas pemrograman dari almarhum K.H. Dr Maman Abdurrahman Musaddad walau banyak menggunakan perintah loncat label-goto sehingga jumlah baris kodenya lebih banyak dari jawaban yang beliau tunjukan. Walau demikian karena yang saya buat hasilnya benar, beliau memberikan point A untuk tugas tersebut. Dan saya sampaikan kepada peserta MABIM, bahwa saat itu kami mengerjakannya dengan pendekatan mental pemrograman, yang artinya kami tulis dan periksa sendiri validitas instruksinya, mengingat akses komputer masih agak sulit saat itu. 

K.H. Dr Maman Abdurrahman, lulusan Perancis yang saat itu juga menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus ketua Pondok Pesantrennya, adalah sosok membumi yang sangat memperhatikan mahasiswa / santrinya. Saya ceritakan kepada adik-adik bahwa pernah suatu ketika di Koperasi Pondok Pesantren beliau bertanya apakah saya telah menerima beasiswa?. Karena saya tidak merasa mengajukan, saya jawab tidak. Lalu beliau memberi tahu kalau bulan depan saya mulai mendapatkan beasiswa dari kampus, beliau mengajukannya untuk saya. Beliau mengatakan agar saya berkenan menerima beasiswa tersebut yang sementara ini dibagi dua dengan kang Abdulkholiq, santri lainnya yang merupakan kakak tingkat saya. Tentu saja saya tidak keberatan dan berterima kasih kepada beliau. 

Dengan beasiswa tersebut saya bisa membeli buku-buku bacaan mulai dari keagamaan hingga informatika. Banyak teman mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang singgah di kobong untuk ikut membaca buku tersebut. Bahkan ada yang sengaja meminjam untuk keperluan skripsi. Jadi mirip perpustakaan, padahal ada perpustakaan Ponpes di sebelah kamar. Lemari bukunya memang kosong karena pak Kyai meninggal sebelum merampungkan Perpustakaan. Tetapi akhirnya lemari itu berisi buku juga saat saya memutuskan tinggal di sana. Saya memberikan kamar kepada mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang ingin tidur di kamar.   


Saya menasihati mahasiswa baru yang jadi peserta MABIM agar mereka lebih semangat dalam belajar. Saya selaku kakak tingkat mereka saja bisa belajar dalam situasi tidak kuliah atas dasar pilihan sendiri, hanya tersedia buku panduan berbahasa asing, dan tidak ada komputer, apalagi mereka yang sekarang sudah memiliki akses mudah menuju sumber pengetahuan dengan memanfaatkan internet, komputer harganya sudah sangat murah, sudah seharusnya dapat lebih sukses belajar dari pada saya. Mereka tidak perlu mencari buku ke luar kota seperti saya, karena sumber pengetahuan bisa mereka peroleh dengan mudah saat tiduran di rumah sekalipun melalui internet. 

Saya menggambarkan tentang bagaimana dulu belajar memasang perangkat lunak secara otodidak. Suatu saat komputer pribadi saya rusak sistem operasinya. Lalu saya meminta ke kang Uli pemilik toko dan klinik komputer MALIBU untuk memasangkan sistem operasinya. Tetapi saat itu kang Uli menyuruh saya pasang sendiri dengan meminjamkan CD installernya. Dengan berbekal CD tersebut saya mulai memahami bagaimana cara memasang perangkat lunak.

Dengan cerita tersebut saya hendak memberi wawasan kepada adik-adik bahwa belajar itu tidak selalu harus di kampus atau sendiri, kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain yang sarat pengalaman teknis, seperti kang Uli. Jaman sekarang mahasiswa mudah menemukan forum di internet dan mengambil pengetahuan dari banyak orang yang memiliki pengalaman beragam. 

Dengan komputer saya semakin produktif menulis. Semasa kuliah saya menjadi penulis sekaligus redaktur dua buletin yang saya jalankan sendiri secara swadaya. Saya ingat buletin pertama yang saya buat adalah saat kelas tiga di SMP Negeri 2 Subang, ditulis di atas kertas dan diberi tema Pramuka. Ketertarikan buletin ini juga mungkin dipengaruhi buletin Islam yang kakak bawa dari Bogor ke rumah, atau kegiatan buletin yang dilakukan mas Muriyanto di Generasi Muslim al-Muhajirin pada saat SMA. Karena kegiatan buletin tersebut, Sofian Munawar selaku ketua BEM Sekolah Tinggi Teknologi Garut mempercayakan divisi Jurnalistik dan Pengambangan Masjid kepada saya. Saat itu saya menerbitkan buletin Suara Mahasiswa yang berisi liputan kegiatan dan pemikiran mahasiswa. Salah satu masukan yang direspon oleh bapak Abdusy-Syakur Amin adalah tentang menggunungkan pengetahuan, yang kemudian diwujudkan dalam kewajiban wisudawan untuk menyumbangkan buku untuk adik-adiknya.

  
Melalui buletin saya menyampaikan kritik dan masukan kepada kampus dengan bahasa tidak langsung. Cerita ini disampaikan agar mahasiswa baru memahami kalau mereka harus perduli dengan kampusnya yang ditunjukan dengan cara yang baik. Saya berharap mahasiswa minimalnya perduli dengan kebutuhan diri mereka sendiri, jangan sampai misalnya proyektor dirasakan mengganggu proses belajar tetapi mereka mengabaikan hal tersebut atau tidak bersikap pro aktif mengupayakan perbaikan kondisi. Saya mengingatkan bahwa mereka itu adalah agen perubahan yang sudah seharunya perduli kebutuhan sendiri dan orang lain dengan turun tangan mewujudkan perubahan kondisi menjadi lebih baik. 

Sebagai mahasiswa biasa saya juga memperhatikan hiburan. Saat mahasiswa saya terobsesi ingin memiliki Pemutar Kaset (Radio Tape). Tetapi karena namanya juga anak kost yang terbatas dananya, saya pun mencari Tape di loakan jalan Pramuka. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil membeli Tape bekas yang masih layak pakai, sekalian beli juga kaset nasyid bekas yang lagunya saya dengar diputar di Ponpes. Sejak saat itu saya mulai mengoleksi banyak kaset Nasyid. Saya punya koleksi Raihan lengkap dari album pertama hingga akhir, pun demikian Snada, dan lainnya. Rasanya ini dipengaruhi oleh kakak yang juga sama mengoleksi kaset Nasyid. Sebagian kasetnya diwariskan kepada saya. Sampai kemudian terjadi kebakaran tengah malam itu di kobong saya yang diisi oleh teman STAI yang menyebabkan pemutar kasetnya tidak bisa digunakan. Saya hanya tersenyum dan percaya itu semua sudah Allah kehendaki, Ia memberi dan mengambil ciptaan-Nya yang Ia kehendaki dari hamba-Nya. 

Dengan cerita tersebut saya memberi petunjuk bahwa mahasiswa tidak perlu mengisi seluruh waktunya dengan kegiatan belajar ilmu teknik. Mereka perlu menyeimbangkan dirinya, memberdayakan otak sisi lainnya dengan berbagai kegiatan seperti menikmati musik misalnya. Satu cerita yang saya lupakan saat itu adalah tentang bagaimana mendengarkan musik tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan penyiaran di Radio Yamusa FM yang mengarahkan kepada kegiatan pembuatan jingle dan Nasyid sendiri. Cerita tersebut penting agar mahasiswa dapat mendorong dirinya dari konsumen menjadi produsen dengan mengoptimalkan kreatifitas yang terbentuk saat mengkonsumsi apa yang digemarinya. Mahasiswa harus dapat sampai pada level produktif tidak hanya dalam kegiatan kurikuler tetapi juga di luar kegiatan tersebut, yang bahkan kalau memungkinkan menghasilkan prestasi yang bermanfaat bagi diri dan kampusnya.


Saya mulai menikmati kuliah di informatika begitu kakak tingkat memilih saya untuk melanjutkan tugas relawan di Laboratorium Komputer. Entah apa pertimbangannya, yang pasti saya tidak bisa menolak permintaan bapak Abdus-Syakur Amin saat itu. Pada awalnya saya merasa khawatir kegiatan tersebut akan mengganggu kegiatan aurod, tetapi kemudian kekhawatiran tersebut sirna setelah saya merasa yakin kegiatan tersebut dapat dijadikan sarana amal yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan berat amal kebaikan. Dan benar saja, ternyata mengganggu aurod. Namun ada banyak keterampilan penting yang diperoleh dari sana, yang menjadi bekal saat wawancara di PT Pratita Prama Nugraha. 

Di Laboratorium Komputer saya diminta untuk membantu bapak Drs Wahyudin yang menjabat sebagai Koordinator Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan bapak Asep Deddy Supriatna selaku stafnya. Di bawah tangga itu saya belajar secara otodidak terkait jaringan komputer, server, dan Linux. Sekolah Tinggi Teknologi Garut membelikan majalah Chip sebulan sekali, dan memberikan buku teknis untuk perpustakaan Laboratorium Komputer dan perangkat lunak yang bisa saya nikmati untuk pembelajaran gratis. Di tempat itu saya memulai inisiatif mahasiswa membangun infrastruktur teknologi informasi kampus secara sukarela dan kaderisasi relawan dalam bidang teknologi informasi hingga terbentuk Kelompok Penggerak TIK.

Walau saya saat itu adalah mahasiswa, tetapi almarhum K.H., Ir. Abdullah Margani Musaddad - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut selalu meminta pendapat apabila ada pengadaan perangkat komputer di kampus. Kampus selalu membelikan apa yang diperlukan dalam kegiatan relawan, seperti kabel jaringan dan lain sebagainya. Akhirnya seluruh komputer di kampus terhubung dengan jaringan, dan jaringan kantor dan laboratorium terhubung melalui file server. Inilah yang mungkin menyebabkan Dr Muhammad Ali Ramdhani percaya saya bisa membangun Internet Hotspot di kampus. Padahal saya baru tahu istilahnya dari lisan beliau. Tetapi atas dasar kepercayaan itu saya belajar dan berhasil mengadakan internet hotspot di kampus. Saya juga diminta pak Wahyudin untuk ikut memelihara komputer di laboratorium SMA Ciledug. Diminta juga oleh pak Nahdi Hadiyanto untuk membangun internet hotspot di lingkungan Yayasan, bahkan malah menjadi metro area network di tiga kecamatan. 

Cerita relawan tersebut saya sampaikan kepada peserta MABIM agar mereka terlibat dalam kegiatan praktik tanpa perlu menunggu masa Kerja Praktek tiba. Kegiatan relawan dapat dijadikan sarana mengasah kemampuan dan menggali pengalaman. Banyak relawan di kampus yang sukses diterima kerja karena ditunjang keterampilan yang diperoleh dari kegiatan relawan, termasuk saya dan sejumlah adik-adik atau mahasiswa yang saya asuh. Dengan kegiatan relawan mereka juga dapat berkontribusi kepada kampus. Mahasiswa harus turun tangan memajukan kampusnya sendiri. Sebagian dari relawan itu sekarang menjadi Dosen di Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, seperti Sri Rahayu dan Rickard Elsen.


Selama jadi mahasiswa dan relawan di kampus, orientasi mereka adalah pengalaman yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan memperkuat sikap kerja yang baik. Selepas lulus kuliah barulah mereka dapat membicarakan hal terkait insentif dengan kampus. Seperti yang saya alami, di mana selepas lulus saya diminta untuk membuat aplikasi keuangan oleh kampus. Dan dari aplikasi itu saya berhasil membeli mesin cuci, lumayan untuk meringankan pekerjaan saya selaku juru kunci Laboratorium Komputer, heheheh.

Kebaikan kita sebagai relawan akan berbuah baik. Banyak relawan TIK di kampus yang diminta kerja bahkan sebelum mereka lulus oleh kampus dan juga kampus lainnya. Termasuk saya yang pada akhirnya harus menjadi PNS Dosen Teknik Informatika, pekerjaan yang tidak pernah terbayang di dalam fikiran. Pada tahun 2003 saat saya berjalan hendak ke luar kompleks Yayasan Musaddadiyah, almarhum K.H. Abdullah Margani Musaddad memanggil dan bertanya rencana saya selepas lulus. Saat itu saya menjawab dengan tidak pasti, karena saya tidak terfikir akan mencari kerja di mana. Beliau meminta saya untuk mengajar di kampus. Tetapi saya tidak memberikan jawaban menerima atau menolak, hanya mengekpresikan kebingungan harus menjawab apa. 

Hingga akhirnya siang itu ibu Dini Destiani - Ketua Program Studi Teknik Informatika mendatangi saya dan menanyakan apakah saya siap diplot ngajar? Saya menjelaskan kepada beliau bahwa saya tidak memiliki rencana pasti, mungkin masih akan di Garut atau pulang ke Subang. Tapi karena jawabannya harus jelas, maka saya menjawab boleh diplot tetapi meminta beliau berkenan apabila suatu saat saya undur di tengah jalan karena harus kembali ke Subang. 

Maklumlah, saat itu memang sedang galau karena ditinggal seseorang yang memilih untuk menikah dengan pria lain dengan alasan telah bekerja sebagai PNS. Syukurlah galaunya terjadi setelah lulus, tidak terbayang apa yang akan terjadi kalau kejadiannya sebelum lulus. Banyak teman kuliah yang berhenti kuliah karena masalah seperti itu. Namun galaunya memang berat, maklumlah cinta pertama, hehehe. Sampai pernah menyengajakan diri ke almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad untuk meminta air zam zam untuk menghilangkan rasa gundah. Beliau malah menjawab, obatnya adalah perempuan lagi, hehehe.

Saya pernah mengikuti saran guru saya tersebut, tetapi tidak berhasil. Pun demikian saat beliau menelpon dan meminta saya datang ke rumah beliau untuk bertemu dengan seseorang yang hari minggu itu katanya ada di rumah beliau, saya menyatakan tidak siap karena merasa tidak memiliki kelayakan untuk memiliki dan dimiliki oleh siapapun. Beliau sering mengirim lagu ke Radio Yamusa FM untuk saya yang katanya sedang galau. Ya ampun, jadi pada tahu, hehehe. Beliau benar-benar menjadi penghibur dan pelindung dalam masa galau tersebut, hingga akhir hayat beliau. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu 

Siang itu pak Wahyu, guru SMA Ciledug yang juga tinggal di kobong dengan saya memberi informasi kalau Kopertis membuka lowongan PNS. Saya kemudian berniat mengabarkan ini kepada Dosen-Dosen di STTG. Ternyata kabar itu sudah diterima dan semuanya sedang mengurus kelengkapan syaratnya. Entah bagaimana ceritanya saya pun akhirnya ikut mengurus kelengkapan tersebut, jalannya dimudahkan oleh Dr Muhammad Ali Ramdhani. 

Saat proses seleksi, saya sempat mau mundur tetapi ditahan oleh pak Eri Satria yang juga ikut melamar. Beliau mengatakan, mungkin saja rasa malas itu pertanda ada rizqinya. Dan benar saja, saya diterima sebagai PNS. Almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad mengupayakan sejumlah dosen kampus yang diterima masuk agar dapat diperbantukan kembali di kampus, dan akhirnya saya pun kembali bertugas di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ibu saya merasa bahagia dan berkata kepada Bapak kalau Allah telah menjadikan PNS sebagai jalan hidup anaknya, maka tidak ada penghalang yang dapat mencegah. Tahun 2004 itu, saya dan kakak (Retti Sulistiawati) diangkat sebagai CPNS, di mana saya menjadi Dosen PNS dan kakak menjadi Guru PNS. Ibu saya bercanda dengan mengatakan, anak kita tidak perlu dipukuli di STPDN untuk menjadi PNS. Bapakpun tersenyum. 

Saat itu panitia memberi isyarat waktu saya sudah habis. Lalu saya segera menutup cerita tersebut dengan membuat kesimpulan. Saya berharap adik-adik dapat mengambil pelajaran dari cerita tersebut dan menjadi sosok mahasiswa dan lulusan yang lebih baik dan sukses dari pada saya. 

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya