Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

24 Mei 2017

Menyampaikan Gagasan Karakter Digital Nusantara


Pada tanggal 24 Mei 2017, bertempat di Pendopo Garut, saya menyampaikan materi Karakter Digital Nusantara dalam kegiatan Seminar Pendidikan berbasis Karakter yang dilaksanakan oleh Yayasan Intan Pembangun Karakter. Acara tersebut dihadiri umumnya oleh guru, dosen, dan mahasiswa. Tadinya saya akan memberikan gambaran tentang kelas digital, hanya saja mengenalkan teknologinya dalam seminar tidak lebih penting dibandingkan pemahaman karakter digital nusantara yang diperlukan oleh pendidik saat berinteraksi di ruang digital dengan peserta didiknya. Ketua pelaksananya adalah bapak Dikdik Hendrajaya, yang selalu menemani kegiatan pemberdayaan informatika di Garut semasa beliau menjabat selaku kepala Diskominfo Garut.


Dalam kesempatan waktu yang terbatas tersebut saya mengenalkan beberapa istilah kepada audien. Dimulai dari dunia berbasis sinyal data / digital dan interaksi antar node (manusia dan / atau mesin) di dalamnya yang dipengaruhi oleh perilaku digital. Di dunia digital, eksistensi manusia sama dengan mesin sehingga tidak lagi dikenal sebagai someone tetapi somethink. Wlaau demikian karakter node sangat mempengaruhi interaksi dan komunikasi yang terbangun satu sama lainnya. Noise psikologi yang berkaitan dengan karakter, mengganggu komunikasi di antara node (pengirim dan penerima sinyal) di ruang antara  / media. 

Persoalan psikologi itu saya ungkapkan dalam hubungan digital native yang hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama perangkat digital, dengan digital immigrant yang kondisinya berkebalikan. Saya sampaikan bahwa digital immigrant tidak dapat mencegah digital native memperoleh keuntungan lebih dengan perangkat digital. Hijrah digital merupakan solusi agar digital immigrant memperoleh kesempatan yang sama, di mana digital native bertindak sebagai penolong / anshar bagi para immigrant / muhajirin tersebut. Digital anshar membantunya dengan memudahkan akses menuju perangkat digital yang digunakannya. 

Saya menjelaskan bahwa etika nusantara perlu diterapkan di dunia digital dalam wujud network etiquete (yang saya istilahkan etika digital). Setiap orang Indonesia harus tetap berkepribadian nusantara saat berinteraksi di dunia digital. Para pendidik memiliki tanggung jawab membangun karakter nusantara anak didiknya bukan hanya untuk digunakan di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Karakter nusantara yang digunakan di dunia digital itu saya istilahkan Karakter Digital Nusantara. Setiap orang Indonesia harus memegang teguh Pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan digital sehari-hari. 




0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya