Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

04 September 2017

UMKM Go Online Garut


Beberapa bulan sebelumnya saya menerima telp dari Direktur Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikas dan Informatika RI. Beliau ingin menyelenggarakan kegiatan untuk UMKM di Garut bersama Relawan TIK. Seperti biasanya saya selalu menyambut dan bersemangat kalau kegiatannya adalah untuk masyarakat, sehingga saya menyatakan kesiapan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Selanjutnya kepala sub direktorat nya meminta saya dapat menggelar acara se Garut dan Tasikmalaya. Namun saya ingat ada Relawan TIK komisariat kampus yang baru dikukuhkan di Tasikmalaya dan ingin memberi kesempatan untuk menggelar acara bersama Kementrian. Karenanya saya tawarkan penyelenggaraan di Tasikmalaya kepada ketua kampusnya. Dan kepada Kementrian saya sampaikan bahwa untuk dua wilayah berbeda ini masing-masing ada tim penyelenggaranya sendiri. 

Untuk di Garut saya ingin menyerahkan penggarapan kegiatannya kepada Relawan TIK Garut. Namun karena ketua Relawan TIK Garut menyatakan belum sanggup menggarapnya maka diputuskan saya garap kegiatannya bersama beberapa pihak yang ada di dalam WAG Smart Garut, dan tentunya Diskominfo Garut selaku mitra Sekolah Tinggi Teknologi Garut sudah pasti dilibatkan. Saya pun mencoba inbox ke Kepala Dinas Koperasi dan UKM. Beliau merespon positif dan meminta saya untuk menghubungi kepala bidangnya. Akhirnya saya kumpulkan semua kontak dalam WAG baru bernama Event UMKM Garut. Kegiatan kolaboratif antara Perguruan Tinggi atau Komunitas dengan Pemerintahan ini bukan kali pertama saya buat, sudah dijalankan sejak 2015 khususnya dengan Diskominfo Garut. 

Untuk kebutuhan peserta saya meminta bantuan pegiat UKM Garut. Beliau menyebarkan informasi kegiatan dan membuatkan WAG khusus untuk kegiatan. Walau demikian, direktorat pemberdayaan informatika membuat surat khusus yang ditujukan kepada pak bupati untuk penyediaan tempat dan peserta. Surat untuk bupati Garut dan walikota Tasikmalaya dikirimkan ke saya saat berada di Semarang. Surat tersebut kemudian saya teruskan ke sekretaris Diskominfo Garut dan tim Tasikmalaya. Saat itu disepakati waktu pelaksanaan di Garut pada tanggal 13 Agustus 2017.

Karena belum ada respon pemerintah kabupaten atas surat tersebut, kemudian diputuskan dalam WAG Event UMKM Garut waktunya diundur. Hal ini menyebabkan sedikit kekecewaan di sisi kementrian karena marketplace untuk Garut sudah dikontak. Walau demikian kementrian masih bersedia mengundurkan waktunya ke 4 September 2017. Saya berusaha untuk menjelaskan bahwa peserta sebenarnya sudah siap, hanya saja masih menunggu respon tersebut. Saya bahkan sudah menetapkan aula Musaddadiyah sebagai tempat alternatif dan meminta bantuan kampus untuk mendapatkan bantuan penggunaannya. Namun karena komitmen awal ini adalah kerja kolaboratif, saya mengikuti keputusan yang dibuat di WAG EVent UMKM Garut, dan memilih untuk menunggu jawaban dari pak Bupati yang sedang diusahakan oleh Diskominfo Garut. 

Ketua Relawan TIK Garut berhasil memobilisasi mahasiswa bidik misi Sekolah Tinggi Teknologi untuk menjadi fasilitator yang membantu pendaftaran peserta ke marketplace sesuai arahan saya. Sore hari tanggal 3 September 2017, Bibli selaku marketplace yang dipilih oleh kementrian untuk kegiatan UMKM Go Online di Garut datang dan memberikan pengarahan kepada 10 orang fasilitator di Pendopo yang sudah dikondisikan oleh Diskominfo Garut. 


Tidak lupa saya coba usahakan lagi ada manajer puncak kampus yang bisa hadir dalam acara tersebut. Saya coba menghubungi wakil ketua akademik yang sebelumnya ingin bergabung dalam kepanitiaan. Tapi beliau sedang sibuk dengan pekerjaan di kampus dan akan hadir dengan izin dari ketua. Saat itu kampus memang sedang menyiapkan akreditasi program studi Teknik Industri, di mana ketua dan semua wakil ketua di kampus sedang sibuk melengkapi dokumen kelengkapannya. Dua hari sebelumnya saya sebenarnya sudah mengundang ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan beliau dengan pertimbangan pekerjaan akreditasi yang belum rampung, mempercayakan kepada saya untuk mewakili Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Sekretaris diskominfo Garut dan kepala bidang pengembangan usaha koperasi dan usaha mikro Diskopukm Garut berhasil mengupayakan kehadiran pak Bupati untuk memberikan sambutan dalam acara tersebut. Pagi itu saya mengangkut semua yang diperlukan ke dalam mobil, mulai dari proyektor, printer, standing banner Relawan TIK Indonesia dan program studi Informatka Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan lain sebagainya. Tidak cukup waktu untuk mengambil brosur kampus untuk dibagikan ke ratusan peserta UMKM Go Online. Satu perangkat penting yang tertinggal adalah perpanjangan kabel. Untunglah ketua Relawan TIK Garut membawa motor sehingga saya bisa membeli perangkat tersebut di Indomaret dan toko listrik dengan cepat. 

Protokol Bupati kepada saya bertanya siapa saja yang duduk di depan. Saya putuskan yang duduk di depan adalah kepala sub direktorat yang mewakili direktur pemberdayaan informatika Kemkominfo, kepala Diskominfo Garut, kepala Diskopukm Garut, dan pak Bupati. Saya mendapatkan kabar wakil ketua bidang kerjasama akan hadir, namun karena kabar itu belum pasti saya putuskan tidak menyediakan kursi di depan untuk Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya sekalipun mewakili kampus, tidak bisa duduk di depan karena harus memastikan semua hal dapat berjalan. Relawan TIK Garut tidak saya tempatkan di depan, supaya nampak posisi relawannya. Namun mereka diberi kursi paling depan bersama kawan-kawan Bibli dan pejabat di lingkungan dua dinas sehingga pak Bupati bisa melihat serangam Relawan TIK Indonesia. Meja di depan sendiri tidak luas sehingga kalau semua duduk di depan tidak akan cukup. 

Dalam sambutannya pak Bupati hanya menyebutkan dua dinas sebagai penyelenggara kegiatan, mungkin karena yang dilihatnya di depan hanya kepala dinas. Beliau baru ngeuh ada Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat wakil ketua bidang kerjasama dipanggil ke depan untuk menerima piagam penghargaan dari Direktorat Pemberdayaan Informatika. Bagi saya itu tidak menjadi soal, yang penting kegiatan UMKM Go Online dapat berjalan dan manfaatnya sampai kepada peserta. Dan rangkaian kegiatan itu alhamdulillah dapat berjalan semua, sekalipun ada kendala teknis saat fasilitator meregistrasikan peserta. Dalam kesempatan itupun Relawan TIK Garut mendapatkan piagam penghargaan. 


Di dalam waktu kegiatan, ada beberapa peserta yang ingin masuk namun namanya tidak tercantum di daftar peserta. Saya memberi arahan kepada panitia registrasi ulang untuk mempersilahkan peserta tersebut untuk masuk. Di akhir kegiatan banyak peserta yang masih belum beranjak dari kursinya. Selewat saya dengar ada peserta yang mengatakan soal uang transfortasi. Saya menerima informasi dari panitia registrasi beberapa peserta menanyakan soal uang tersebut. Ternyata memang peserta menanti uang penggantian transportasi di akhir kegiatan. Dalam keseluruhan kegiatan yang pernah saya lakukan bersama kementrian di Garut, tidak pernah ada uang penggantian transportasi bagi peserta. Dalam kegiatan bersama Nawala Nusantara sebelumnya pun demikian. Saya bersama mitra hanya menyediakan kesempatan bagi UMKM atau peserta untuk mendapatkan tambahan ilmu gratis plus konsumsi. Saya juga berfikir pertemuan seperti itu seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi pengalaman langsung di antara peserta. 

Di grup peserta saya menyampaikan permintaan maaf sebagai berikut : 

"Terima kasih kpd pelaku UMKM yg telah ikut serta dlm pelatihan gratis marketplace bertajuk UMKM Go Online yg dijalankan oleh Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan didukung oleh Kemkominfo RI, Pemkab Garut (Diskominfo Garut dan Diskopukm Garut), dan kawan-kawan Relawan TIK di Garut. Semoga bermanfaat dan barokah. Maaf tdk ada amplop transportasi utk peserta seperti kegiatan Pemerintahan, karena kami melaksanakannya dgn swadaya sendiri dan hanya mendapat bantuan transportasi utk teman-teman Relawan yg membantu penyelenggara kegiatan saja".

Kemudian pengurus GUMKOMINDO Garut memberi respon sebagai berikut :

"Alhamdulillah. Haturnuhun pisan untuk Relawan TIK Garut dan STTG yang telah berkontribusi bagi pengembangan usaha para UKM dg pelaksanaan pelatihan UKM Go Online. Terkait "amplop", saya sendiri cenderung ingin mengusulkan agar kegiatan 2 yg diselenggarakan oleh pemerintah meniadakan uang saku dan mengkonversi dengan penyelenggaraan yg berkualitas dan fasilitas yg lebih bermanfaat bagi peserta. Supaya kita saat ikut pelatihan teh teu salah niat".

Ada satu hal lainnya yang lepas dari perkiraan saya. Ternyata kami juga harus memberi uang jasa kepada beberapa orang yang menyiapkan dan membereskan Pendopo. Tadinya saya berfikir dengan izin pak Bupati semuanya sudah selesai, hehehe. Awalnya teman panitia yang memegang uang memberi seratus ribu rupiah, tapi uang itu kemudian dikembalikan karena katanya tidak cukup. Lalu saya bertanya ada berapa orang dan berapa per orangnya. Beliau memberi informasi ada 10 orang yang bekerja dan mengusulkan untuk setiap orangnya 50 ribu rupiah. Setelah saya hitung, ternyata totalnya melampaui insentif relawan TIK yang disediakan oleh kementrian. Seandainya ada dana lain, saya tidak berani menawar. Tetapi karena saya tidak punya uang selain insentif untuk panitia yang berasal dari kementrian, saya pun menawar agar satuannya dikurangi. Akhirnya disepakati kami bisa membayar jasa teman-teman di Pendopo setengah dari usulan tersebut. 

Kemudian saya membayarnya dengan satu insentif punya panitia Sekolah Tinggi Teknologi Garut, sisanya lumayan bisa untuk bayar kopi yang diminum teman-teman panitia Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Teman-teman dosen dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang jadi panitia registrasi sebenarnya tidak akan keberatan bekerja tanpa insentif, karena komitmen awal yang dbangun dengan saya hanyalah sertifikat kegiatan. Relawan TIK Garut juga sama, niatnya tidak mendapatkan insentif tapi ingin membantu program pemerintah saja. Walau demikian kementrian berbaik hati memberi insentif atau tranfortasi untuk semua relawan yang terlibat, sehingga walaupun ketua Relawan TIK Garut sempat menolak insentif untuk fasilitator yang direkrutnya, saya menyerahkan amplop insentif tersebut untuk dibagikan ke semua fasilitator yang sudah mendaftarkan peserta ke marketplace. 

Banyak snack dan nasi yang tersisa dari kegiatan tersebut. Semuanya diangkut dan diturunkan di kampus. Kami bagikan kepada semua pegawai kampus, termasuk office boy dan satuan pengamanan. Satu dus dibawa untuk dibagikan ke pengajian, dan tiga dus saya turunkan di Pondok Pesantren al-Musaddadiyah untuk dibagikan kepada santri di sana. Semoga amal ibadah dan kelelahannya menjadi penghapus dosa dan tambahan berat amal di yaumil mizan kelak. Amin.   

1 komentar :

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya