Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

06 Agustus 2018

Kurikulum Informatika untuk Mewujudkan Gagasan Kyai Anwar Musaddad


Kurikulum Prodi (Program Studi) Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang baru dibuat untuk membangun sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa sesuai visi atau luaran pembelajaran Prodi. Beberapa matakuliah di dalamnya ada yang membentuk pondasi, pilar, dan atap bangunan tersebut. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan pondasi bangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa. Tahun kedua hingga ketiga difokuskan pada pembangunan pilar bangunannya. Dan tahun keempat difokuskan pada pembangunan atap bangunan yang merupakan puncak bangunannya.  

Pemahaman mahasiswa terhadap kehidupan sosial khas dan ragam budaya di Indonesia dibangun melalui matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang berada dalam kelompok matakuliah Penciri Perguruan Tinggi. Mahasiswa didorong secara aktif untuk turut serta memetakan aktivitas sosial dan warisan budaya lokal Garut dengan menggunakan teknologi. Pengetahuan dan pengalaman lapangan tersebut diharapkan dapat mendekatkan mahasiswa kepada kearifan lokal sehingga dapat menjadi insfirasi atau pegangan dalam menghasilkan luaran pengajaran atau pemanfaatan teknologi / aplikasi informatika. Hal ini selaras dengan visi PS yang menekankan luaran harus berbasis kearifan lokal. Matakuliah penciri perguruan tinggi ditentukan memperhatikan visi PS. 

Visi : Menjadi Penyelenggara Program Studi Informatika Yang Unggul di Bidang Rekayasa Perangkat Lunak dengan Luaran Yang Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal pada Tahun 2030

Pengetahuan dan pengalaman lapangan tersebut diharapkan dapat memudahkan mahasiswa untuk memahami Pancasila yang merupakan konsensus hidup bersama dari bangsa Indonesia yang memiliki karakteristik sosial khas nusantara dan budaya yang beragam. Penerimaan terhadap kekhasan karakteristik sosial dan keragaman budaya Indonesia menguatkan penerimaan mahasiswa terhadap Pancasila. 

Budaya masyarakat Indonesia tentu saja berkembang sebagaimana budaya bangsa lainnya, di antaranya dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi. Indonesia sebagaimana bangsa lainnya tengah memasuki era revolusi industri 4.0 dengan struktur budaya baru yang dikenal dengan masyarakat informasi. Tujuan umum masyarakat informasi adalah mendapatkan keuntungan kompetitif dari informasi yang tersedia secara global menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Penyediaan informasinya melibatkan berbagai jenis sistem informasi yang aktivitasnya ditunjang oleh komponen sumber daya teknologi informasi (perangkat lunak, perangkat keras, perangkat jaringan, dan perangkat data), serta sumber daya manusia (pengguna akhir dan pengguna spesialis). 

Untuk melengkapi pemahaman mahasiswa terhadap budaya Indonesia yang berkembang, khususnya terhadap masyarakat informasi Indonesia sebagai budaya baru di Indonesia, maka diberikan matakuliah Komputer dan Masyarakat yang menjelaskan bagaimana masyarakat memanfaatkan komputer dalam kehidupannya sehari-hari. Pemahaman mahasiswa terhadap sistem informasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat informasi secara personal atau di dalam organisasi sebagai sumber informasi dibangun melalui matakuliah Sistem dan Teknologi Informasi. Keterampilan teknologi informasi dan komunikasi dasar yang dikuasai oleh pengguna akhir diberikan melalui matakuliah praktikum Sistem dan Teknologi Informasi agar mahasiswa dapat menjadi bagian masyarakat informasi atau berperilaku sebagaimana halnya individu dalam masyarakat informasi. Dengan demikian mahasiswa telah menempuh dua tahapan penting dalam membangun struktur budaya masyarakat informasi, yakni penyadaran serta pelatihan teknologi informasi dan komunikasi dasar. Hal tersebut sejalan dengan semboyan Prodi yakni the Power of Digital Culture

Visi PS mengamanatkan agar luaran pembelajaran mahasiswa berdaya saing global. Sementara budaya baru masyarakat informasi di era revolusi industry 4.0 mengkondisikan setiap individu untuk menguasai dan mengendalikan informasi di dunia nyata dan maya agar mendapatkan kesuksesan atau daya saing global. Matakuliah Bahasa Inggris diberikan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang memudahkan akses serta penyebaran data dan informasi global.

Prof KH Anwar Musaddad merupakan tokoh nasional yang ikut serta merumuskan gagasan Pesantren Luhur. Beliau mendirikan Yayasan al-Musaddiyah untuk mewujudkannya gagasan tersebut. Gagasannya diwujudkan dalam boarding schools dengan tujuan untuk mencetak socio-religious leader. Prodi Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang berada di bawah naungan Yayasan al-Musaddadiyah mengemban amanat mewujudkan gagasan tersebut. Mahasiswanya harus dibentuk sebagai pemimpin di tengah masyarakatnya yang selalu mempertimbangkan faktor atau melibatkan kombinasi elemen sosial dan agama. Prof KH Anwar Musaddad menyebutkan sifat pemimpin tersebut, antara lain : tidak emosional, terbuka, berorientasi ke depan, tidak “kurung batok”, efisien, dan produktif. Hal tersebut dapat mewujudkan pribadi Pancasilais yang Berketuhanan YME dan berkeadilan sosial. 

Matakuliah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah merupakan landasan bagi pembangunan pribadi socio-religious leader. Matakuliah kelompok penciri perguruan tinggi ini disediakan upaya untuk mempertahankan Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar senantiasa menjadi boarding school, sebagai upaya Prodi dalam melanjutkan gagasan Pesantren Luhur Prof KH Anwar Musaddad selaku pendiri Yayasan al-Musaddadiyah. Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dipilih oleh Prof KH Anwar Musaddad sebagai elemen agama yang membentuk socio-religious leader. Karakteristik pribadinya dibangun oleh sikap, pengetahuan, dan keterampilan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang meliputi akidah, akhlak / adab, dan ibadah / amaliah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

Elemen sosialnya diidentifikasi oleh mahasiswa dari matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Komputer dan Masyarakat, dan Pancasila. Pemahaman terhadap struktur budaya baru yang dibentuk oleh matakuliah Komputer dan Masyarakat serta penempatan diri di dalamnya melalui matakuliah Sistem dan Teknologi Informasi membantu penciptaan karakter socio-religious leader yang berorientasi ke depan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi membentuk karakter efisien dalam bertindak. 

Komunikasi efektif sangat penting bagi semua pemimpin. Agar menjadi efektif, pesan yang mengalir antara pengirim dan penerima dalam proses komunikasi harus bebas dari semantic noise. Matakuliah Bahasa Inggris dan Indonesia disediakan untuk mengatasi noise tersebut. Kesuksesan mahasiswa dalam mengentaskan noise tersebut dapat menjadikan dirinya sebagai socio-religious leader yang efisien dan produktif. Kondisi tanpa semantic noise menjauhkan mahasiswa dari kesalahfahaman yang dapat memicu emosi. Idealnya mahasiswa atau lulusan sebagai socio-religious leader mampu bersikap tidak emosional, namun setidaknya socio-religious leader dapat menghindarkan diri dari segala kemungkinan yang dapat memicu emosi. 

Penguasaan Bahasa Indonesia dan Inggris memberi bekal bagi mahasiwa untuk bepergian jauh di dunia nyata dan maya sehingga tidak “kurung batok”. Penguasaan tersebut juga menunjang produktifitas dan kualitas publikasi luaran pembelajaran dan lainnya. Matakuliah Bahasa diletakan pada semester pondasi bangunan (satu dan dua) karena menunjang pembangunan pilar dan atap bangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa. Pengalaman  dan pemahaman terhadap keragaman dapat membentuk sifat terbuka. 


0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya