Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

20 November 2018

Saya, Persepsi, dan MAPALA


Tahun 2000 an saya aktif mengelola Buletin Kampus sendiri bernama PERSEPSI. Buletin tersebut di antaranya berisi ide dan gagasan saya selaku mahasiswa utk pengembangan kampus. Di antara manfaat buletin yang dirasakan sampai sekarang adalah kebijakan kampus tentang sumbangan lulusan berupa buku. Munculnya kebijakan tersebut didorong oleh tulisan dalam buletin PERSEPSI tentang menggunungkan ilmu dengan latar cerita perpustakaan Baghdad di masa kejayaan Islam. Kepastian manfaat buletin tersebut saya dapatkan dari pak Syakur Amin. 

Pada masa tersebut saya berkesempatan berdiskusi seputar sosialisme dengan kang Prisani dari MAPALA. Diskusinya malam hari di sekretariat MAPALA, yang sekarang tempatnya menjadi mini market Ponpes al-Musaddadiyah. Awal pertemuannya tidak disengaja, niat awalnya hanya membantu MAPALA memperbaiki komputernya yang rusak. Hubungan saya dgn tokoh MAPALA Sekolah Tinggi Teknologi Garut tersebut pada awalnya hanya sebatas kawan diskusi saja. Pemahamannya tentang sosialisme sama sekali berbeda dengan saya. Diskusi seputar kampuslah yang lebih banyak mempertemukan pemikiran saya dengannya.

Dalam satu kesempatan ia meminta saya untuk membuat jejak pendapat tentang kenaikan uang kuliah. Saya siapkan kuesionernya, dicetak dengan tinta warna hijau di atas kertas putih. Satu lembarnya berisi dua kuesioner. Jejak pendapat tersebut disebarkan kepada sejumlah mahasiswa lintas jurusan. Setelah datanya saya olah dan analisis, hasilnya didiskusikan dengan MAPALA.

Saya diajak untuk menyampaikan hasil tersebut kepada kampus. Saat itu yang menemui saya dan kang Prisani adalah pak Eko Retnadi yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua bidang kemahasiswaan. Beliau menerima kami dengan baik dan menganggap yang saya lakukan sebagai bentuk pengembangan diri. Diskusi dengan beliau berjalan cukup baik, namun saya lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu.

Interaksi saya dengan kang Prisani menguatkan pemahaman bahwa tidak perlu pemahaman yang sama untuk mencapai tujuan yang sama. Saya tidak berminat membangun jarak dengan memanfaatkan perbedaan pemahaman sosialisme. Minat saya adalah kontribusi kepada kampus. Saya sangat menyayangkan kondisi yang nampak di media sosial sekarang ini. Banyak fans-army yang lebih fokus dengan mempertikaikan pemahaman berbeda dari pada merajut silaturahmi dan bekerjasama membangun Indonesia.

Sayangnya tradisi menulis ini tidak berhasil saya wariskan saat dipercaya sebagai bidang Jurnalistik dan Pengembangan Masjid oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Juga tidak berhasil saya wariskan ke Kelompok Penggerak Teknologi Informasi dan Komunikasi, sekalipun saya sudah membentuk kelompok kerja khusus bidang informasi. Walau demikian saya berhasil mendorong Rikza Nasrulloh anggota kelompok kerja tersebut untuk membangun sub domain situs web kampus yang bernama liputan kampus dan masih bermanfaat hingga sekarang. Saat itu saya memang fokus pada community development dan platform development. Semoga akan tiba lagi masa bagi mhs utk membangkitkan kembali jurnalistik di kampus sebagai jalan kontribusi pembangunan kampus melalui pemikiran.


0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya