Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

15 Oktober 2020

Hanya Ilmuan yang Memahami Ilmuan

 


Ilmuan itu terbiasa berkontribusi pengetahuan, sehingga sudut pandangnya diletakan di ruang kosong yg blm diisi oleh ilmuan lainnya, tdk perduli berada di posisi kubu politik manapun. Menyuruh semua ilmuan utk berada atau tdk berada di satu sisi kubu politik saja, dan mencelanya bila berada di sisi sebaliknya, sama artinya dgn menjadikan politik sebagai belenggu pengetahuan. Akibatnya, pengetahuan hanya akan berkembang ke satu sisi yg disukai kubu politik tertentu, dan sisi lainnya tetap menjadi ruang hampa pengetahuan yg tdk memberi manfaat bagi manusia. 

Padahal kebijaksanaan dlm berpolitik dibangun oleh pengetahuan yg diperoleh dari berbagai sudut pandang pd posisi kubu politik manapun. Pembelengguan pengetahuan oleh politik hanya diminati oleh orang yg tdk faham bagaimana kebijaksanaan dicapai oleh manusia, atau diminati oleh orang yg tdk ingin politik dimainkan secara bijaksana. 

Sebagai ilustrasi, kebijakan tentang benar dan salah hanya terwujud setelah memiliki pengetahuan ttg benar dan salah serta menerapkannya dgn cara yg benar. Dlm sesuatu yg dianggap benar, mungkin saja ada kesalahan yg tersembunyi yg perlu diungkap, demikian pula sebaliknya. Pengetahuan tentang kebenaran dan kesalahan sangat perlu dikuasai, mengingat dlm menerapkan suatu kebenaran, mungkin kita harus memperhatikan kesalahan sebagai faktor hambatan dan kelemahan yg hrs diperhatikan. Dgn demikian, sudut pandang ilmuan tdk hanya perlu diletakan di sisi kebenaran, tetapi juga di sisi yg berlawanan, agar pandangan thd kebenaran menjadi lebih objektif dan komprehensif. 

Orang yg dapat memahami fikiran intelektual hanyalah intelektual yg mampu menggunakan cara kerja intelektualnya. Kalangan awam mungkin hanya sampai pada kulit pengetahuannya yg blm tentu bisa menghantarkannya kpd daging pengetahuannya, apalagi inti pengetahuannya Mungkin saja penjelasan ringkas tdk akan dapat menghantarkannya kpd pintu pemahaman, sampai penjelasannya diulang atau semua pengetahuan prasyaratnya diberikan. Dan kalangan intelektual yg tdk menggunakan cara kerja tsb telah meletakan nasib akhir perjalanan pemikirannya hanya sampai pada capaian kalangan awam.

Kerumitan adalah konsumsi ilmuan, sebab dari padanya ia dapat menemukan pintu penemuan setelah pisau analisisnya digunakan. Kerumitannya dapat tersaji dlm bentuk kalimat pendek ataupun panjang. Di dalam kalimat pendek, terkandung sejumlah pengetahuan dlm deksripsi panjang yg merujuk kpd pengetahuan. Di dalam kalimat panjang, mungkin saja terkandung banyak kalimat pendek tsb. 

Mungkin bagi kalangan awam, pengetahuan adalah seupama kebenaran dan kesalahan yg sdh final. Namun boleh jadi blm final bagi kalangan ilmuan. Satu kalimat tdk harus menjadi akhir dari kegiatan penjelajahan pengetahuan. Walau demikian, dlm kebenaran dan kesalahan, ada dua jenis ilmuan: mereka yg tdk berhenti menemukan kebenaran dari sesuatu yg dianggap salah, atau sebaliknya; dan mereka yg membenarkan kesalahan atau sebaliknya krn cenderung pd selain pengetahuan, semisal tahta, harta, atau wanita.

12 Oktober 2020

Indahnya Bebek

Dari kecil sampai sekarang, saya selalu senang melihat rombongan bebek yg lewat. Sekalipun perjalanan harus terhenti sejenak sampai rombongannya lewat, tetapi bebek2 itu tetap enak dilihat. 

Bebek2nya berjalan satu arah, dlm kelompok yg tdk bercerai berai, dan tdk anarkistis semacam mematuk2 kendaraan yg dilewatinya. Saya merasa agak panik saat rombongan bebek nya menghampiri, tetapi tdk merasa khawatir akan terjadi apa-apa yg tdk diinginkan. 

Itulah sebab kenapa hadirnya rombongan bebek membuat hati tetap tenang. Itulah bebek, mahluk yg isi kepalanya tdk lebih besar dari kepalan tangan manusia.

Berlatih Kemampuan Interaksi Sosial Maya di Medsos

Selama ini saya mengisi waktu dgn berinteraksi di medsos di antaranya adalah utk melatih kemampuan interaksi sosial virtual. Dari jaman wordpress dan di awal gabung di medsos saya terus berlatih agar memiliki kemampuan seperti yg Gus Nadir sampaikan. Tujuannya adalah bukan utk berdebat, apalagi debat kusir yg tdk jelas arah dan ujung pangkalnya, tetapi mempelajari bagaimana cara menjelaskan sesuatu kpd orang dgn beragam karakter. 

Oleh krn nya beberapa lawan bicara ada yg merasakan kalau saya berputar dlm pembicaraan yg sama, tdk bisa diajak keluar menuju topik yg lain. Saya memang tdk ingin debat kusir, sehingga berusaha utk tdk keluar dari putarannya. Dan saya akan menghentikan putaran nya bila lawan bicara faham apa yg saya maksudkan, atau saya memahami maksud lawan bicara.

Lepas dari itu semua, tdk ada gading yg retak. Sering kali saya menggunakan jurus taichi yg membalikan pernyataan seseorang kpd dirinya, sehingga mungkin saya mengulang pernyataannya yg tdk ada adabnya. Saya melakukanya agar lawan bicara merasakan perasaan orang lain, agar di kemudian hari ia menjaga perkataannya dgn memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Tetapi memang tdk sedikit orang yg ingin diperlukan tanpa adab, sebab ia cenderung kepadanya.

10 Oktober 2020

Talbis Perekayasa Sosial

Rekayasa sosial dapat berwujud manipulasi psikologi agar orang menghindari praktik dan protokol terbaik untuk memperoleh akses tertentu yang menguntungkan secara finansial. 

Rekayasa sosial membuat orang meninggalkan atau melawan praktik dan protokol penanganan Covid-19 sehingga terjadi peningkatan angka positif. Kondisi tersebut secara tidak langsung membuka akses kepada keuntungan tertentu bagi perekayasa sosial. 

Target yang mudah dimanipulasi adalah kalangan yang memiliki kecenderungan untuk melawan pembuat protokol dalam soal apapun secara sadar atau tidak sadar. Manipulasi dilakukan dengan cara mengeksploitasi kecenderungan tersebut menggunakan konten faktual atau hoax. Konten tersebut merekayasa emosi sehingga menstimulus dan meningkatkan perlawanan.   

Kalangan yang termanipulasi ini melakukan kampanye penolakan protokol karena dianggap kepentingan bisnisnya pembuat protokol, padahal dampak penolakan tersebut memberikan keuntungan bisnis bagi perekayasa sosial.

Gambar ilustrasi

09 Oktober 2020

Otak Perusak

Mengekpresikan apapun adalah hak asasi. Namun ekspresi melawan hukum itu melawan hak asasi. Hak asasi seseorang tdk boleh melanggar hak asasi orang lain. Demonstran harus memahaminya. 

Seorang demonstran yg pada awalnya merupakan pejuang berniat suci, kemudian berubah menjadi penjahat saat ia melakukan tindak kriminal

Si perusak bilangnya, aset rakyat adalah asetnya sendiri, suka2 mau dirusak juga; lupa kalau rakyat itu bukan dia sendiri atau kelompoknya saja. Si perusak bilangnya, nanti juga dibangun lagi; seperti dibangunnya hanya pake duitnya sendiri saja. 

Di sisi lain si perusak menghancurkan tempat kawan seprofesinya mencari nafkah, yg mungkin saat itu sedang ikut melakukan demonstrasi di tempat lain. Bila si perusak menganggap kawannya sebagai bagian dari dirinya, maka perusakan itu seperti merusak tempat kerjanya sendiri. Keesokan harinya si perusak mungkin masih bisa bekerja kalau tdk di PHK, namun kawannya harus menerima takdir dirumahkan krn tempat kerjanya hacur. Ngenes kan? 

Sudah kriminal dgn merusak, tdk logis juga fikiran nya. Kenapa tdk bawa barang milik sendiri, lalu dirusak sendiri, jadinya tdk merugikan orang lain kan ya?

08 Oktober 2020

Tidak Menabrakpun tetap Ditabrak


Ada pengalaman menarik hari minggu 8 Oktober 2018 silam. Saat itu saya mau belok kanan menuju service AC, kemudian ada mobil MPV yang tidak melambat laju kendaraannya. Akibatnya mobil yg saya kendarai berhenti dalam posisi sudah berbelok. Beberapa saat setelah berhenti, terasa ada hantaman keras dari belakang. Rupanya ada kendaraan pengangkut barang yang nabrak. Sepertinya si penabrak tidak memperhatikan ada mobil yang berhenti karena pandangannya tertuju pada pemeriksaan polisi di pertigaan sana.

Setelah kejadian itu, kedua kendaraan itu melaju begitu saja tanpa sepatah kata pun yang terucap. Sepintas terlihat kedua pengendaranya tidak berani melihat ke wajah, padahal pengendara MPV itu sudah berumur dan pengendara satunya lagi masih muda. Syukurlah yang ditabraknya hanya bumper plastik yang berbentuk membulat sehingga dapat meredam tabrakan. Kalau sampai pecah lampunya, bisa jajan jutaan lagi. 

Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dihadapi oleh keduanya setelah amliah ketidaksabaran, kelalaian, dan ketidakfahamannya atas haqul adami tersebut. Kejadian tersebut mengingatkan saya akan kejadian serupa di jalan menuju Talaga Bodas, saat motor yang dikendarai ditabrak dari belakang oleh pemuda mabuk yang membonceng dua pemuda temannya. Semoga kita semua dilindungi dari para pengendara yang karakternya demikian.

07 Oktober 2020

Anda Berada di Sisi Mana?

Sebagian netizen menganggap kiriman yg mengungkap adanya hoax pd konten terkait omnibus law yg tersebar di komunitas2 maya sebagai sikap pro thd omnibus law, padahal kiriman tsb secara tegas menunjukan sikap kontra thd hoax. Ekspresi sikap anti hoax tdk harus dibawa kpd pro kontra omnibus law, cukup pada pro kontra hoax saja.

Misalnya dlm konten hoax dinyatakan bhw "uang pesangon dihilangkan". Kata "dihilangkan" membuat pembaca memahami uang pesangon itu tdk akan ada lagi atau tdk akan diberikan lagi oleh perusahaan kpd buruh karena pasalnya sudah dihapus seperti pasal 155. Padahal faktanya, ketentuan ttg uang pesangon itu tetap ada pd pasal 156 dgn perubahan. Sikap kita harus pro atau kontra terhadap hoax tsb?

Belum lagi hoax yg membawa2 isu agama, seperti cuti Baptis dan solat Jumat, pasti dgn sangat mudah membuat banyak orang tergerak emosinya dan menuduh anti agama kpd orang lain. Sikap kita harus pro atau kontra terhadap hoax tsb?

Aksi pro kontra terhadap omnibus law bisa dilakukan oleh siapapun tanpa perlu mengikutsertakan setan di dlm nya, tdk perlu menggunakan konten hoax setan Miswath yg memberi kesempatan bagi setan utk memunculkan marah pd orang yg terbiasa tdk membaca / mengklarifikasi datangnya informasi. Menyebarkan konten yg mengungkap hoax tsb dapat menyelamatkan bayak orang yg kondisinya demikian dari tipu daya setan. Kalangan anti hoax melawan siapapun yg berada di sisi setan Miswath. 

Al-Isryad pernah mengirimkan artikel yg menjelaskan bahwa para Ahli Tafsir telah membawakan riwayat dari pakar tafsir tabi’in, Qotadah Rahimahullah tentang nama-nama setan anak keturunan Iblis, diantaranya adalah “Setan Miswath”, yaitu yang suka membawa berita palsu dan bohong, yang saat ini dikenal dengan “Hoax”.

Berita palsu di antaranya dibuat utk memicu orang agar marah. Dan saat orang benar2 marah, terkadang lupa pd pesan Nabi SAW ini, "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu". (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Seyogyanya kita senantiasa mengklarifikasi informasi agar tdk tertipu setan dan koleganya. Allah mengajari kita dgn firman Nya, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (klarifikasi dan verifikasi), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Mimar Hidayat, hoax atau tdk nya suatu informasi / berita tdk bersandar pada banyak atau sedikitnya orang yg pro atau kontra pd informasi yg sebenarnya, tetapi pada sifat informasinya yg menyimpang dari informasi yg sebenarnya atau menutupi fakta yg sebenarnya. 

Hoax atau tdk nya suatu informasi / berita tdk bersandar pada banyak atau sedikitnya orang yg pro atau kontra pd informasi yg sebenarnya, tetapi pada sifat informasinya yg menyimpang dari informasi yg sebenarnya atau menutupi fakta yg sebenarnya. 

Bila hoax ikut dlm gerbong kebenaran, sikap kita yg benar adalah harus mengusirnya dari gerbong tsb. Bukan malah membiarkan hoax itu tersebar hanya krn merasa hoax atau kebohongan itu sejalan dgn kebenaran yg diperjuangkan. Gerbong kebenaran bisa bergerak tanpa perlu ada hoax / kebohongan di dalamnya, tanpa perlu melibatkan setan Miswath sebagai kolega kebenaran.

Pada akhirnya pegiat anti hoax akan bertanya, "Anda berada di sisi mana?"

03 Oktober 2020

Hujan Kecintaan

Alhamdulillah, senang mendengar suara hujan lagi. Teringat di masa kecil sewaktu hujan turun pagi hari, meniti jalan menuju sekolah sambil membawa payung besar. Sesekali meloncati genangan air dgn suka cita.

Bila hujan turun di waktu sore, saya memperhatikan halaman tetangga dari atas kasur tingkat. Menikmati air yg berseluncuran dari awan ke permukaan tanah, menciptakan genangan yg menganak sungai. Miniatur perkampunganpun tergenang air, dan otak mitigasi bencana dimainkan dlm permainan imajinatif tsb.

Saya pernah berkata kpd seorang sahabat, "Jiwa sedih jika pagi hujan, jiwa damai jika sore hujan"

01 Oktober 2020

Cita Rasa Film Tahunan 30/9

Dari usia kecil sampai dewasa, cita rasa film nya tetap sama, mengandung kekerasan yg semoga saja tdk berpengaruh buruk pd psikologi kalau menonton nya berkali2, tdk membuat sebagian anak berkhayal mempraktikkan kekerasan tsb dlm wujud apapun. Dlm konteks sejarah, pengaruhnya baik, tdk melupakan sejarah tsb. 

Di masa kecil kita sering memainkan kembali apapun yg terekam dlm ingatan kita dlm kegiatan bermain "aanjangan". Saya mengingat di waktu kecil, memainkan kembali cerita kekerasan dlm film tsb setelah melihat talang air dan belimbing muda di atas atap rumah. Belimbing muda yg masuk talang air itu, kondisinya yg kering dan membusuk setelah beberapa hari kemudian, wujudnya dlm bayangan saat itu seperti pahlawan revolusi dlm sumur lubang buaya yg disaksikan dlm film tsb. 

Seperti halnya anak kecil yg polos, saya tdk memahami pesan politiknya, hanya menerima bagian scene film tsb yg tertancap kuat dlm ingatan. Padahal saya tdk pernah berhasil menonton film horor tsb sampai tuntas, walau ditemani kakak sekalipun. Saya benar-benar ketakutan menyaksikan kekerasan di dlm film tsb yg dilakukan oleh sosok2 antagonisnya. Entah apakah belimbing dan talang air itu merupakan wujud dari efek psikologis krn rasa takut tsb atau bukan, hanya psikolog yg faham.

FIlm tsb sedikit banyak pasti membangunkan trauma keluarga penyintas setiap tahunnya, menjadi gangguan yg tdk nyaman krn membuka memori luka lama yg ada sedari belia, sejak melihat kekerasan tsb dgn mata kepalanya sendiri. Kita yg bukan penyintas tentu tdk merasakan dgn nyata seperti apa trauma atau luka tsb. Dan tentunya kita hrs menghormatinya dgn menghindarkan pengulangan rasa trauma dan luka lama tsb dari para penyintas.

Seyogyanya trauma dan luka tsb tdk dimanfaatkan utk memobilisasi masa atau membangun isu politis. Jgn merintis kekuasaan di atas trauma dan luka orang lain, seperti yg telah lama dipraktikan di masa lalu. Cukuplah film tsb sebagai sejarah yg dipelajari utk diambil hikmahnya oleh bangsa ini. Dan sudah saatnya Indonesia mempunyai film alternatif yg lebih komprehensif dan lebih "akrab" bagi para penyintas dan generasi sekarang.

30 September 2020

Pancasila Simbolis dan Substantif

Masih dgn kegiatan literasi, kali ini menggali soal sikap simbolis dan substantif terhadap Pancasila.

Saya baru tahu kalau PKI itu ternyata menerima Pancasila. Tertulis dlm AD/ART nya demikian, "PKI menerima dan mempertahankan UUD 1945 yang dalam Pembukaannya memuat Pancasila sebagai dasar-dasar negara dan bertujuan membangun suatu masyarakat yang adil dan makmur menurut kepribadian bangsa Indonesia". Sumber: Bintang Merah Nomor Spesial, "Maju Terus" Jilid I. Kongres Nasional Ke-VII (Luar Biasa) Partai Komunis Indonesia. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1963.

Sangat mungkin dlm perjalanannya, organisasi yg pada awalnya menerima Pancasila kemudian menghianatinya. Hingga kini, banyak kita lihat penghianatan terhadap nilai Pancasila yg dilakukan oleh individu ataupun kelompok / organisasi dari kalangan pemerintahan hingga masyarakat biasa. Dlm soal ini kita harus berhati2, jgn mudah menghukumi, terlebih merasa diri paling Pancasilais. 

Budayawan Sujiwo Tejo mengatakan, "Pancasila itu gak ada. Yang ada itu gambar garuda Pancasila. Teks Pancasila itu ada, tapi Pancasila itu gak ada". Yg dimaksud oleh beliau adalah "Pancasila itu gak ada karena gak ada pengamalan nyatanya". Barangkali pesan penting yg ingin beliau sampaikan adalah Pancasila itu penting utk dinyatakan secara simbolis (terdokumentasi) dan substantif (teraplikasikan). 

Kembali lagi ke soal pengakuan Pancasila yg dinyatakan organisasi dalam AD/ART nya yg merupakan sikap simbolis formal organisasi.  Kenapa sekarang ini ada organisasi yg tdk mau mencantumkan Pancasila di dalam AD/ART nya, apakah krn bersikap substantif dan mengabaikan simbolis, ataukah krn menerima satu simbolisasi (misalnya Islam) dan menolak simbolisasi yg lainnya (Pancasila)?

25 September 2020

Kampanye Keji Covidiot

Dulu mereka mengolok2 Cina di masa awal kemunculan Corona di dunia ini, seraya mengklaim bila Corona itu tdk akan menyerang muslim. 

Sekarang di saat Corona mulai menginfeksi muslim di negaranya sendiri, mereka sibuk dgn klaim lain bahwa Corona itu hoax, hanya permainan pemerintah, nakes, dan pemilik modal. Maksudnya agar banyak orang percaya kalau muslim yg diisolasi itu tdk terinfeksi virus yg diyakininya hanya menyerang non muslim saja; dan bahwa yg dialami muslim itu hanya penyakit lain yg dicoronakan oleh pemerintah dan nakes utk menyulitkan kehidupan rakyat dan mendapatkan uang. Walau demikian, sebagian di antara mereka adalah pemburu bantuan sosial pemerintah.

Sungguh yg mereka lakukan itu tipu daya yg sangat keji, seakan kampanye mereka itu dilakukan di atas pusara jenazah2 nakes dan pasien2nya yg meninggal krn Corona. Masih adakah yg berminat ikut serta dalam kampanye covidiot ini yg bawa2 agama saat menghoaxan Corona?

23 September 2020

Menghindari Ujian dengan Menyembunyikan Aib

Terpapar Covid-19 itu bukan aib. Kecenderungan utk mengolok2 orang yg terpapar Covid-19 adalah aib diri. Memperturutkan kecenderungan tsb sehingga orang lain melihatnya adalah sama dgn menunjukan aib. 

Seharusnya aib diri disembunyikan dari pandangan orang lain agar kebusukan hati tetap tersembunyi. Kebusukan hati itu harus diobati, bukan utk dipertontonkan. 

Masker yg dikenakan utk mencegah penularan penyakit lahir memang tdk dapat mencegah keluarnya perkataan buruk yg menularkan penyakit batin. Namun ingatlah, boleh jadi terbukanya aib dgn sengaja menjadi tanda datangnya ujian.

"Janganlah menampakan suatu kegembiraan kepada saudara mu (yg terkena ujian), hingga Allah merahmati nya dan menimpakan ujian itu kepadamu" (HR At-Tirmidzi)

22 September 2020

Mewujudkan Internet Sehat dengan Ilmu dan Ihsan

Suatu saat saya menyimak seorang wartawan yg menyampaikan keheranannya dgn akademisi yg pernah disaksikannya berpendapat dlm forum bahwa solusi internet sehat itu adalah ihsan. Menurut pendapatnya solusi yg tepat bukanlah ihsan, tetapi literasi digital dalam bentuk kegiatan penyadaran. 

Pendapatnya itu benar, seseorang tdk akan mengetahui nilai dan norma digital bila tdk sampai kepadanya ilmu melalui kegiatan penyadaran tsb. Tetapi nilai dan norma itu seringkali dilanggar saat menyendiri atau menggunakan akun anonim karena merasa tdk ada yg mengawasi. Hanya dengan iman dan ihsan seseorang tetap menyadari adanya pengawasan Allah sehingga memengang kuat nilai dan norma digital yg sejalan dgn ajaran Islam.

Segala perbuatan apabila diniatkan utk Allah akan menjadi ibadah. Oleh krn nya segala perbuatan di dunia maya yg diniatkan utk Allah adalah ibadah. Saat kita selalu menyadari pengawasan Allah di dunia manapun, termasuk di dunia maya, saat itu kita tengah berada dlm kondisi ihsan.

Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Nya, jika engkau tidak melihat Nya maka Dia melihat engkau (Hadits Arbain an-Nawawi)

Enam tahun yg silam, tepatnya 22 September 2014, saya pernah menulis di Facebook demikian:

Internet sehat bagi muslim bersandar kepada tiga hal : 1) Iman sebagai dasar beramal internet sehat untuk keuntungan dunia dan akhirat, 2) Islam sebagai panduan berperilaku sehat di internet, dan 3) ihsan sebagai pelindung kuat dari amal yang merugikan diri dan orang lain baik di dunia ataupun di akhirat.

Pemahaman tersebut saya sampaikan dalam acara Buka Bersama Milad Smartfren Community Garut 2017

18 September 2020

Pengembangan SDM Relawan Di Penghujung Waktu


Tidak terasa sudah di penghujung waktu, setelah sekian tahun memenuhi permintaan pak Fajar Eri Dianto di Yogyakarta untuk menyertainya dalam kepengurusan Relawan TIK Indonesia. Hal tersebut bukan sesuatu yang diinginkan, sebab keinginan yang sebenarnya adalah tetap berkontribusi pemikiran atau apapun yang membangun di luar struktur kepengurusan sebagaimana yang dilakukan di awal bergabung dengan organisasi ini. Pak Boni Pudjianto yang saat itu masih bertugas di Direktorat Pemberdayaan Informatika, sangat mendukung cara kontribusi seperti itu. 

Beberapa hari sebelum Rakernas Yogyakarta 2016, saya ditanya oleh pak Bambang dari Direktorat Pemberdayaan Informatika soal minat mengikuti bursa pencalonan ketua umum Relawan TIK Indonesia. Pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, "Ada orang di wilayah timur yang lebih bagus dari saya". Beliau menanggapinya dengan penuh canda, "Iya, sebelah timur Jakarta"

Saya yakinkan beliau bahwa saya tidak minat ikut bursa calon tersebut. Memang bukan sifat alami saya menginginkan yang demikian. Jabatan sebagai ketua program studi pun saya terima setelah sebelumnya menolak karena khawatir dengan adanya fitnah kepemimpinan dan merasa ada orang yang jauh lebih baik. Hanya saja karena profesor Ali meyakinkan saya tidak ada orang lain yang dipilihnya, dan saya telah mendapat restu dari ibu, jabatan itupun saya terima. Sekalipun saya merasakan akan adanya fitnah tersebut, namun saya bernafas lega karena saya bukanlah orang yang meminta jabatan, dan insya Allah akan ditolong Allah saat menghadapi fitnah tersebut.

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allah). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allah) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffarah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)” (HR Bukhori dan Muslim)

Di Yogyakarta, saat perhelatan Festival TIK satu hari sebelum Rakernas Relawan TIK Indonesia, saya mendapat pertanyaan yang sama dari pak Yamin Nawala. Jawabannya tetap sama, saya tidak berfikir ke arah sana, fokus saya tahun depan adalah kuliah lagi. Ada kekhawatiran bila saya kuliah, amanah jabatannya tidak terlaksana. Dalam suatu riwayat Abu Dzar bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku jabatan?". Kemudian Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar, lalu beliau bersabda, ''Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau itu lemah, sedangkan jabatan itu amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memerolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.'' (HR Muslim).  


Saya menyampaikan kepada beliau agar jabatan tersebut sebaiknya dipercayakan oleh teman-teman Relawan TIK Indonesia kepada pak Fajar Eri Dianto. Pernyataan ini bukan tanpa alasan, sebab saya merasakan benar bagaimana pengasuhan beliau kepada Relawan TIK Garut. Saya tidak menggunakan istilah pengasuhan orang tua kepada anak-anaknya, hahaha. 

Di venue, teman Relawan TIK yang berasal dari kampus menyampaikan pertanyaan yang sama. Jawaban saya tetap sama, menolaknya dengan menambahkan masukan agar teman-teman kampus mendukung pak Fajar Eri Dianto. Dan akhirnya, di Munas itu pak Fajar Eri mendapatkan dukungan suara yang banyak untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dari pak Indriyatno Banyumurti.


Setelah itu, pak Fajar Eri meminta saya untuk melengkapi kepengurusan beliau. Rasa permintaan ini sama seperti saat profesor Ali meminta kepada saya, permintaan dari orang yang pernah memberikan kebaikan yang sulit untuk ditolak. Akhirnya saya pun bersedia membantu beliau dan tampil saat dipanggil bersama teman-teman lain untuk duduk sebagai Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia. Saya dipercayakan untuk mengurusi bidang pengembangan SDM Relawan TIK Indonesia. 

Sebenarnya saya agak gundah menerima jabatan ketua dalam bidang tersebut, sebab masih teringat sewaktu di Rakernas Surabaya dan FGD Jakarta, ada sebagian Relawan TIK yang tidak setuju dengan sistem pemberdayaan Relawan TIK berjenjang yang saya buat dan diusulkan oleh Kementrian kepada Relawan TIK Indonesia. Saya hanya melihat suara yang setuju hanya berasal dari kalangan akademisi. Namun saya juga mengingat saat Rakernas di Menado, Eko Prasetya menyampaikan bahwa Relawan TIK Indonesia sudah siap dengan metode pemberdayaan saya yang disebut oleh ibu Mariam Barata dalam Rakernas tersebut sebagai sistem berjenjang. Atas dasar pertimbangan itu semua, saya memutuskan untuk menjalaninya, berkontribusi semampunya.


Selama periode kepengurusan, saya tidak mengoperasionalkan sistem penjenjangan. Saya mencukupkan diri menuangkannya ke dalam buku yang berjudul "Mobilisasi Relawan TIK Indonesia" yang disusun sebagai panduan bagi pengurus organisasi tingkat cabang dan komisariat. Tidak ada permintaan untuk di SK kan oleh ketua umum, tidak ada seremoni launcing, dan tidak ada tindak lanjut pendidikan dan pelatihannya. Saya berlaku sebagaimana sebelum menjadi pengurus, membagikan konten yang dipandang bermanfaat, dan tidak memikirkan apakan konten itu dimanfaatkan atau tidak oleh orang lain, baik sedikit ataupun banyak. Kemanfaatannya diserahkan kepada Allah saja.


Buku tersebut dibuat agar di kabupaten / kota tersedia pelatih anggota dan pengurus; pengurus komisariat dapat menjalankan program mobilisasi tahunan di mana layanannya selaras dengan program pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan mitra; dan terukurnya layanan relawan TIK berdasarkan data kinerja layanan dan kepengurusan. Saya mengelompokan SDM yang melaksanakan layanannya menjadi tiga, yakni kelompok layanan perangkat TIK, kelompok layanan pengguna akhir, dan kelompok layanan informasi. Kelompok yang melaksanakan layanan di lapangan ini disebut Relawan TIK fungsional, dan pengelola layanan dari kalangan pengurus disebut Relawan TIK struktural. Untuk menjamin pengalaman berorganisasi yang beragam, dibuatlah jenjang karir fungsional dari komisariat hingga pusat. 


Dalam konteks pengembangan SDM, saya memberikan gambaran perbedaan tugas pengembangan SDM antara jenjang organisasi komisariat, cabang, wilayah, dan pusat. Di setiap jenjang organisasi harus tersedia SDM pelatih, di mana komisariat bertanggung jawab atas pelatihan anggota (fungsional), sementara organisasi cabang hingga pusat bertanggung jawab atas pelatihan pengurus (struktural) organisasi di bawahnya. Saya mendefinisikan jenjang jabatan fungsional meliputi anggota biasa, pelatih anggota, pengelola komisariat, perintis komisariat, dan pelatih komisariat.
 

Di dalam buku Mobilisasi Relawan TIK Indonesia itu dituangkan konsep mobilisasi Relawan TIK berwujud daur hidup mobilisasi, dan work breakdown structure (WBS) proyek layanan Relawan TIK untuk pelaksanaan serentak nasional. 

Selanjutnya fikiran saya berpusat pada penerapannya di kampus, sehingga munculah gagasan tentang bagaimana relawan TIK terintegrasi dalam sistem pendidikan tinggi. Gagasan tersebut saya terbitkan dalam artikel pada Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi dengan judul "Integrasi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Sistem Pendidikan Tinggi". Gagasan tersebut berdasarkan apa yang saya kutip dalam buku "Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK". Ada sumber pustaka yang menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan TIK dapat diintegrasikan dengan sistem sekolah reguler, di mana sistem tersebut menerima budaya relawan dan menyediakan SDM relawan berkelanjutan. Oleh karenanya, saya selalu mempromosikan lembaga pendidikan sebagai basis relawan kepada siapa saja yang fokus dengan pemberdayaan relawan. 


Piloting mobilisasi ini saya laksanakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, berdasarkan piagam kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia, dalam wujud program Relawan TIK Abdi Masyarakat sebagai tugas besar mata kuliah Relawan TIK pada program studi Teknik Informatika. Mata kuliah ini dirancang sebagai turunan dari topik Komputer dan Masyarakat dan melengkapi mata kuliah Kuliah Kerja Nyata. Setelah mahasiswa mendapatkan bekal karakter nasionalis religius dari mata kuliah dasar umum, mata kuliah Relawan TIK membentuk karakter tersebut menjadi karakter pengabdi dalam bidang TIK yang lingkup pelayanannya khas TIK. Pembentukan karakter ini diperlukan sebelum mahasiswa bersentuhan dengan problem TIK yang dihadapi oleh masyarakat. Pengalaman lapangan dari para pengabdi dalam program Relawan TIK Abdi Masyarakat yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah diharapkan menjadi material pengkayaan materi ajar mata kuliah Relawan TIK.


Untuk keperluan piloting mobilisasi, saya membuat buku kedua berjudul "Relawan TIK Abdi Masyarakat". Buku yang menjadi materi mata kuliah Relawan TIK melengkapi daur hidup mobilisasi tahunan dan menunjang pelaksanaan metodenya / WBS. Sebelum melaksanakan tugas besar, peserta mata kuliah Relawan TIK mendapatkan materi pembekalan yang bersumber dari buku tersebut. Dalam WBS, kegiatannya disebut Pelatihan Tim. Alhamdulillah, Relawan TIK Abdi Masyarakat #rtikabdimas sudah dilaksankaan selama 3 angkatan. Saya terus berupaya membuat kegiatannya secara efektif berhasil mewujudkan maksud mobilisasi dan dapat dilaksanakan secara efisien. Setelah menemukan model terbaik, bila ada umur, saya akan tuangkan dalam edisi kedua "Relawan TIK Abdi Masyarakat". 


Dengan buku tersebut saya berusaha menjelaskan bahwa ormas modern memerlukan pengelolaan faktor produksi yang baik, meliputi manusia pengabdi, mesin digital yang digunakan dalam pengabdiannya, material pengabdiannya, dana kegiatan pengabdiannya, dan metode pengabdiannya. Ormas harus memikirkan sumber pendapatannya yang tidak hanya bersumber dari donasi atau sponsorship saja, tetapi juga dari kegiatan usaha yang memanfaatkan sumber daya internal yang menjadi faktor produksinya. Sumber pendapatan itu dapat beroperasi seiring dengan perjalanan karir anggotanya. Sementara anggota ini terus menerus ada karena dipenuhi oleh komisariat lembaga pendidikan. Dengan demikian, Relawan TIK tidak hanya menjadi medium mobilisasi untuk tujuan pemberdayaan masyarakat dalam konteks ekonomi digital, tetapi juga medium pemberdayaan ekonomi Relawan TIK itu sendiri.  


Mungkin hanya itu yang bisa saya kerjakan selama menjabat sebagai ketua bidang pengembangan SDM Relawan TIK Indonesia. Kalau diumpamakan sebagai proses riset, yang saya kerjakan baru sampai pada milestone pertengahan dalam lingkup kluster kampus. Saat mencapai milestone penelitian dasar, saya menghasilkan naskah "Mobilisasi Relawan TIK Indonesia"; dan saat mencapai milestone penelitian terapan, saya menghasilkan naskah "Relawan TIK Abdi Masyarakat" dan piloting moblisasi Relawan TIK kluster Kampus di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Milestone terakhir yakni pengembangan (hilirisasi) tercapai setelah ditemukan model terbaik dan generik dari praktik piloting tersebut yang akan dituangkan dalam buku Relawan TIK Abdi Masyarakat edisi berikutnya. Semoga saja peta jalannya diulang dari milestone pertama dan dilengkapi dalam pendidikan Doktoral nanti. Semoga segala amal baik yang dikaruniakan Tuhan selama berkegiatan Relawan TIK menjadi wasilah kemudahan prosesnya. Amin.

Masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan untuk menerapkan "Relawan TIK Abdi Masyarakat" ini. Di antaranya adalah mewujudkan BAKORTIKA (Badan Koordinasi Relawan TIK Kampus) yang sebenarnya hanya tinggal mengajukan SK kepada ketua umum saja karena struktur kepengurusannya sudah disusun. Idealnya BAKORTIKA ini menjadi luaran akhir dari tugas yang diberikan ketua umum kepada saya selaku "Gugus Tugas" Kampus. Rakernas Relawan TIK Indonesia di Pemalang telah menyepakati perlunya klusterisasi Relawan TIK dengan mempertimbangkan kekhasan bidang layanannya, sehingga didefinisikan sejumlah kluster, diantaranya adalah kluster kampus. 

Pembentukan BAKORTIKA sah menurut AD/ART Relawan TIK Indonesia. Disebutkan dalam pasal 14, badan merupakan satu kesatuan organisasi, bukan organisasi maya atau organisasi di dalam organisasi. Badan adalah perangkat taktis organisasi dalam menangani bidang-bidang khusus yang bersifat strategis untuk mencapai tujuan Relawan TIK Indonesia berikut ini:
  • Internal (mikro) menyiapkan anggota dalam penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan individual maupun kerjasama kelompok guna menyelenggarakan tugas‐tugas edukasi sosial, pemberdayaan maupun kegiatan insidental;
  • Organisasional (meso) menjadikan Relawan TIK sebagai sebagai satuan yang mampu bereaksi cerdas, tanggap, bergerak cepat serta bertindak cermat dalam menjalankan tugasnya;
  • Nasional (makro) berkontribusi dan partisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan, kemasyarakatan serta berperan dalam tugas kemanusiaan, dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan TIK bagi kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa Indonesia.
Kesepakatan klusterisasi Relawan TIK di Rakernas Pemalang yang ditindaklanjuti dengan sosialisasinya dalam Rakernas TIK di Cirebon menunjukan bahwa Kampus termasuk bidang-bidang khusus yang dimaksud. Terlebih kampus adalah tempat strategis yang dapat mewujudkan tiga tujuan Relawan TIK Indonesia. Piloting mobilisasi Relawan TIK Indonesia di Sekolah Tinggi Teknologi Garut menunjukan bahwa tujuan Relawan TIK Indonesia tercapai melalui program Relawan TIK Abdi Masyarakat yang sinergis dengan program pemerintah daerah dan pusat. Sekolah Tinggi Teknologi Garut berhasil menujukan kemampuan taktis Relawan TIK dalam menanggapi bencana yang ada di wilayahnya, seperti bencana banjir bandang dan covid-19


BAKORTIKA ini merupakan kelengkapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan milestone ketiga. Hilirisasi konsep integrasi Relawan TIK dengan Sistem Pendidikan Tinggi memerlukan komitmen banyak perguruan tinggi. Moblisasi Relawan TIK Kampus akan menjadi masif dan berdampak nasional bila mobilisasi kampus dijalankan dan medium koordinasinya disediakan. BAKORTIKA diharapkan menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan, sehingga organisasi Relawan TIK Indonesia dapat berdiri kokoh di atas dalil-dali ilmiah yang mendasari gerakan sosialnya.       



13 September 2020

Anda Berdiri di Sisi Khawarij?

Dlm pemahaman semantik saya, anak yg dimaksud dalam kutipan di atas bukanlah SEMUA anak hafiz yg good looking dan penguasaan bhs Arabnya bagus, tetapi HANYA anak dari kelompok MEREKA saja. Yg dimaksud mereka di sana adalah kelompok yg IDE2NYA MENAKUTKAN, seperti takfiri dls. Alasannya adalah krn anak itu bersedia dikirimkan utk melaksanakan misi kelompoknya, yakni membuka ruang pertemuan di masjid yg bisa dimasuki oleh kelompoknya sehingga ide2 tsb bisa disampaikan kpd jemaah masjid. 

Apakah ada hafiz yg menguasai bhs Arab tetapi memiliki ide2 yg menakutkan seperti itu? Ingat saja Ibnu Muljam. Dia adalah hafiz yg tentu saja menguasai bhs Arab, tetapi membunuh Sayidina Ali krn alasan yg menakutkan kita semua. Kelompok nya yg dinamai Khawarij ini senantiasa ada sampai sekarang. Wajar saja bila umat Islam, termasuk pemerintah kita mewaspadai infiltrasi kelompok ini ke dalam pemerintahan. Sangat heran bila ada dari kita yg melindungi kelompok berbahaya ini dan menyerang siapa saja yg berusaha menangkalnya. 

Pemahaman semantik terhadap isi pesan yg dikutip seperti yg saya tunjukan ini biasanya dihidari oleh mereka yg punya masalah psikologis, seperti rasa tdk suka kepada pemberi pesan. Alasannya krn tdk akan menemukan alasan utk mengarahkan "serangan" kpd pemberi pesan. Saya menuliskan ini bukan krn suka atau tdk suka kpd pemberi pesan, tetapi krn agama mengajarkan agar berlaku adil kpd seseorang walau tdk suka kpd dirinya sekalipun. 

Setelah ini mari saya bertanya, di manakah anda berdiri, di sisi Khawarij?

31 Agustus 2020

Cerita di Balik Webinar dengan KOMPAK dan KEMENDESPDTT

Pada tanggal 25 Agustus 2020, saya mendapat telpon dari mas Faun, teman Relawan TIK Bojonegoro. Mas Faun menyampaikan kepada saya bahwa tim KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan utk Kesejahteraan Kemitraan Pemerintah Australia - Indonesia) sedang mencari narasumber yang dapat menyampaikan pengalaman KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa. Mas Faun yang selama ini menyimak kegiatan Relawan TIK Abdimas di desa yang saya bagikan di komunitas maya Relawan TIK Indonesia kemudian merekomendasikan saya untuk menjadi narasumber.

Pada tanggal yang sama, teh Oli dari tim KOMPAK kemudian menghubungi. Dalam hubungan melalui sambungan telpon tersebut, teh Oli memperkenalkan KOMPAK dan apa yang menjadi fokusnya, khususnya platform teknologinya yang menjembatani komunikasi antara Perguruan Tinggi dengan Desa. Saya diminta untuk menjadi narasumber pada tanggal 31 Agustus 2020 untuk melengkapi pengetahuan yang sebelumnya sudah diisi oleh perguruan tinggi lain di Indonesia.   

Saya menyambut baik permintaan tersebut. Kebetulan sekali tanggal tersebut merupakan akhir pelaksanaan KKN STT Garut, sehingga bisa dijadikan sebagai kegiatan penutup pelaksanaan KKN yang dihadiri oleh mitra KKN berikut para pengabdi (mahasiswa dan dosen pembimbingnya). Selanjutnya saya komunikasikan rencana kegiatan ini kepada bu Ida Farida selaku ketua pelaksana KKN sekaligus wakil ketua I yang membidangi urusan Triharma. Rencana tersebut direspon baik, lalu surat undangan mengikuti kegiatan tersebut dibuat dan dibagikan kepada para pengabdi. 

Tim KOMPAK meminta ada kepala desa yang dapat dihadirkan sebagai narasumber. Proses pencariannya tidak mudah, mengingat saya harus memastikan tim KKN nya melaksanakan kegiatan penerapan TIK di desa tersebut, agar sesuai dengan tema kegiatannya. Akhirnya ada personel tim KKN di komunitas maya KomTIK Garut yang merespon pencarian tersebut dan menginformasikan kegiatannya membangun situs web desa. Selanjutnya saya meminta staf dan kang Rikza selaku dosen pembimbingnya untuk mengawal penyiapan video dokumentasi dan kesiapan kepala desa selaku narasumber.

Perkembangan tersebut saya sampaikan kepada tim KOMPAK. Akhirnya pada hari Jum'at, 28 Agustus 2020, flyer kegiatan dibuat dengan narasumber lengkap, dibagikan di media sosial dan dikutipkan dalam surat undangan STT Garut yang dibuat untuk para pengabdi dan mitra.

Sebelumnya tim KOMPAK menunjukan antusiasnya apabila Dirjen PENDIS KEMENAG dapat hadir dalam Webinar untuk menyampaikan pengalamannya sebagai ketua STT Garut saat itu dalam mendorong pendampingan masyarakat desa melalui Relawan TIK. Pada tahun 2012, di masa beliau masih menjabat, Menteri PDT yang saat itu rencananya akan menghadiri Wisuda Sarjana STT Garut, diarahkan untuk mengukuhkan Relawan TIK Garut. Dikarenakan kesibukan beliau, posisi narasumber yang disiapkan oleh tim KOMPAK kemudian saya usulkan untuk digantikan oleh pak Hilmi selaku ketua STT Garut. Kang Rikza juga diminta oleh Tim KOMPAK untuk menyampaikan testimoninya mewakili Relawan TIK dalam webinar tersebut.

Dalam kesempatan pertemuan teknis pada hari Jum'at tersebut, saya menjanjikan untuk menyerahkan slide presentasi pada hari Minggu. Slidenya baru bisa saya serahkan pukul 10 malam setelah dibuat dari pukul 09 hari Minggu pagi.  

 
Alhamdulillah, hari Senin itu kegiatan berjalan lancar. Saya lupa menyakan durasi waktu penyampaian materinya sehingga slide saya buat utk penyampaian satu jam. Syukurlah saya hanya mengambil waktu 10 menit saja dari 20 menit yang disediakan oleh tim KOMPAK. 

25 Agustus 2020

Tetap Hidup dalam Nasihat


Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Turut berduka atas wafatnya KH Umar Abdulhakim (Mama Dudu Pst Sumur). 

Pertama kali bertemu beliau beberapa tahun yg lalu saat mengunjungi Ponpes Sumur bersama teman2 Relawan TIK Jawa Timur selepas kegiatan peluncuruan program ICT4Pesantren Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Alhamdulillah rezeki kami bertemu dengan beliau. Saat itu beliau keluar dari kamar selepas salat, padahal sebelumnya dicari di sana tdk ada. 

Bertemu dgn beliau serasa terangkat seluruh beban di dalam hati. Saat itu saya bertanya kpd beliau, apa yg harus dilakukan utk kembali kpd Allah? Beliau menjawab, bacalah "Allah" terus menerus. 

Saat itu saya tertegun, sebab wirid tsb sudah lama pergi dari hati. Wirid di masa lalu yg tdk pernah berhenti sekalipun telah masuk ke alam mimpi. Wirid yg telah menghantarkan ke alam perenungan yg mendamaikan di masa kuliah dulu. Jawaban beliau tersebut saya anggap sebagai nasihat sekaligus ingatan dan ijazah. 

Warid adalah karunia, tdk mudah mendapatkannya. Tdk bisa kembali hanya dgn sebuah buku ttg Allah yg diberikan seseorang yg bisa mencerabutnya. Sampai detik ini saya blm mendapatkannya, memetik ketenangannya. Sekalipun beliau telah wafat, beliau tetap hidup dlm nasihat yg akan selalu diingat. Saat pertama bertemu dan hingga kini, perasaan saya tetap sama, bersama beliau secara ruhiyah lebih baik dari pada dunia dan isinya.

Relatifnya Penilaian Keadaban


Sombong itu berpaling dari kebenaran yg relatif. Seseorang disebut sombong oleh orang lain saat ia berpaling dari sesuatu yg dianggap benar oleh orang lain tersebut. Alasan berpalingnya dua, yakni karena ia menentang anggapan tsb yg diyakininya sebagai kekeliruan dgn alasan semantik atau lainnya, atau ia setuju dgn anggapan tsb tetapi memilih utk menentangnya dgn alasan psikologis.

Sikap seseorang yg berpaling dari sesuatu yg dianggap benar oleh orang lain karena meyakini kekeliruannya, bagi orang lain tersebut dianggap sebagai kesombongan, namun bagi dirinya dianggap sebagai kebenaran. Membalas kesombongan dgn kesombongan di antaranya adalah dgn berpaling dari kebenaran tsb sebagai wujud penentangan kpd anggapan orang lain tsb. Sikap tersebut dianggap sebagai sedekah yg adakalanya dilakukan dgn tetap menjaga adab dan ada pula yg sebaliknya. 

Adakalanya seseorang mendiamkan ketidakadaban orang lain yg disukainya, dan bersuara lantang menolak ketidakadaban orang lain yg tdk disukainya. Pada dasarnya yg ditolak bukan ketidakadabannya, dan boleh jadi bukan krn tdk setuju dgn kebenaran anggapannya, tetapi krn masalah psikologis.

22 Agustus 2020

Menyentuh Allah dalam Takdir Nya

Saat seseorang merendahkan manusia lainnya, ia tidak malu pada Allah karena tidak bisa melihat Khalik pada mahluk yg direndahkannya. 

Takdir yg ditetapkan Allah atas mahluk Nya akan berlaku pd saat yg Allah tetapkan, bukan pd saat yg dikehendaki mahluk Nya. Seorang yg melihatnya tdk akan merasa ikut mengatur berlakunya takdir pada saat tersebut. Semua gerak yg dipilihnya adalah takdir Allah, baik dgn atau tanpa merencanakannya. Tdk ada satupun mahluk yg dapat melawan pilihannya sendiri yg merupakan takdir Allah. 

Semua yg nampak adalah takdir Allah, sehingga (perbuatan) Allah nampak pd segalanya, pada mahluk yg ada di dalam takdir tersebut. Seseorang yg melihatnya bisa menyentuh (perbuatan) Allah, sehingga ia menyadari Allah tdk lah jauh. Hal tersebut membuatnya merasa senang. 

Semoga kita senantiasa berada pada pilihan takdir yg mendekatkan kpd Allah, melihat dan mensyukuri perbuatan Nya tersebut.

Pelajaran yg dipetik dari Gus Javar

19 Agustus 2020

Akan Selalu Ada

Akan selalu ada peserta didik yg tdk siap menjadi murid yg percaya jalan kompetensi yg ditunjukan oleh gurunya; tdk siap menjadi ksatria yg berani menghadapi segala tantangan yg dirancang utk kebutuhan masa depannya; dan tdk bersikap dewasa dgn menolak hasil belajar apa adanya sesuai usahanya & aturan akademik yg berlaku. 

Akan selalu ada peserta didik yg berharap dapat memperoleh kemudahan tanpa usaha keras, karena terbiasa mendapatkan sesuatu hanya dgn duduk manis. Akan selalu ada peserta didik yg tdk sepenuh hati menimba ilmu krn merasa terpaksa melakukannya, sehingga menganggap apa yg diperoleh dari proses yg tdk disukainya itu sebagai mimpi buruk. Akan selalu ada anak manja yg selalu berlari dari beban dan kenyataan hidup yg sdh menjadi takdirnya. 

Tetapi pasti ada peserta didik yg merupakan murid ksatria bersikap dewasa, berhasil memperoleh warisan pengetahuan yg banyak, sehingga hidupnya menjadi penuh berkah krn dapat memberi manfaat banyak.

09 Agustus 2020

Arti Penting Jalinan Silaturahmi antara Kampus Dengan Masyarakat


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Bila kampus melakukan amal baik kepada masyarakat, insya Allah masyarakat akan mengingatnya, membicarakanya, dan mungkin terus menjalin hubungan silaturahmi demi saling memberi manfaat secara berkelanjutan. Bila ada kepentingan menjaga hubungan silaturahmi, pastinya ada kepentingan utk saling tahu domisili. Dari sanalah kampus dan lokasinya menjadi dikenal masyarakat.

Dan tentu saja masyarakat akan sangat mensyukuri segala nilai yg telah diwariskan kampus melalui sivitas akademiknya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR. Thabrani).

Di antara wujud rezeki bagi kampus adalah mahasiswa baru, dan wujud panjang umur adalah eksistensi kampus. Semua itu dicapai dgn silaturahmi. "Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (H.R. Bukhari Muslim)

31 Juli 2020

Nalar di Pusaran Rasa


Nalar itu kalau lihat Kamus Besar, maknanya aktivitas yg memungkinkan seseorang berfikir logis. Bernalar artinya berfikir logis. Menguji kelogisan pernyataan seseorang itu cukup dgn cara membawanya ke alam realita, membebaskannya dari belenggu rasa apapun (suka atau benci). Belenggu rasa bisa membuat kita tdk bernalar; seperti misalnya cinta atau benci yg membuat kita buta tuli.

Menjadi bernalar bagi pencari kebenaran itu sejatinya tdk perlu dipengaruhi oleh keberpihakan nalar. Hanya orang sombong yg berpaling dari semua nalar yg tdk sesuai dgn kecenderungannya. Orang yg sombong itu berpaling dari kebenaran yg ia tdk cenderung kpd nya. Orang dgn tipikal demikian bisa membangun nalarnya di luar alam realita sebab perasaan yg membelenggunya berada di alam lain.

Mari kita uji nalar kita dgn realita. Bila vaksin Covid-19 dari negara Cina berhasil diproduksi Indonesia, Banglades, Brasil, Uni Emirat Arab, atau negara lainnya, maka vaksin tsb tersedia bagi umat manusia, khususnya mereka yg berada di mana vaksin itu telah disesuaikan dgn kondisi lokal, sekalipun di awal produksinya ada skala prioritas bagi tenaga medis. Manusia dapat memilih utk mencoba produk vaksin tsb sehingga menjadi kebal; atau seperti sekarang ini dgn membiarkan dirinya terpapar virus dan menjalani pengobatan hingga sembuh. Manusia yg mencoba vaksinnya bisa siapa saja, tdk perlu mengaku pendukung siapa, atau paling mengaku apa. Apakah penjelasan tsb tdk cukup logis bagi mereka yg merasa telah bernalar?

Vaksin disediakan utk kepentingan kemanusiaan bukan politik. Di manakah nalar orang yg membawa urusan kemanusiaan ini menjadi komoditas politik, membelakangi kemanusiaan demi memperturutkan kecenderungan / hawa nafsu politis partisannya? Hanya dgn membebaskan diri dari hawa nafsu politis partisan saja kita bisa melihat kehinaan pernyataan yg meletakan kemanusiaan di bawah hawa nafsu tsb.

30 Juli 2020

Wahai Ayah Bunda, Tidak Perlu Mengeluh bila Anak Belajar di Rumah


Saat rumah menjadi pusat pendidikan anak di masa bencana, hal tsb hrs menjadi kesempatan bagi kita selaku orang tua utk mengingatkan diri sendiri, bhw pendidikan anak itu merupakan tugas orang tua, baik dgn atau tanpa tambahan pendidikan di luar rumah; dan rumah tangga merupakan tulang punggung bangsa & negara. Orang tua adalah guru pertama anak, di mana dari orang tua lah anak pertama kali meniru perilaku sehingga mewarisi budi dan bahasanya. 

Bila orang tua merasa kesulitan mendidik anak di rumah, jgn melemparkan masalah & kekesalannya kpd para guru di luar rumah. Ketidakmampuan hrs dientaskan dgn belajar. Bila kita selaku orang tua tdk menguasai materi sekolah yg dipelajari anak, kita masih bisa belajar bersama orang tua lainnya dan kpd gurunya, bahu bahu membahu utk dapat membantu proses pembelajaran anak & melaksanakan pengasuhannya. Orang tua sebagaimana anak hrs terus melaksanakan pembelajaran sampai akhir hayat.

19 Juli 2020

Geliat Pariwisata Garut dan Isu Protokol Kesehatan

Hari ini saya melewati jalan menuju arah Nagreg. Tadinya mau memenuhi undangan pertemuan jejaring pertemanan Medsos di RM Cibiuk, namun juru parkirnya bilang tdk ada ruang parkir kendaraan yg tersisa. Katanya di dalam sedang ada kumpulan komunitas mobil tertentu.

Ada banyak RM di sepanjang jalan yg area parkirnya dipenuhi oleh kendaraan. Nampak banyak mobil memenuhi ruang parkir RM Astro hingga membludak ke luar gerbang. Biasanya kalau lewat atau singgah di sana, ruang parkir di dalam gerbang masih memadai. Rupanya industri pariwisata di Garut sudah mulai menggeliat.

Karena sudah lewat dzuhur, saya pun menepikan kendaraan di RM yg nampak selalu ramai dikunjungi kalau kebetulan lewat sana. Nampak tdk ada protokol kesehatan yg dijalankan, seperti pengecekan suhu, fasilitas cuci tangan di luar pintu, dan jaga jarak. Agak riskan juga di dalam sana mengingat para pengunjungnya bukan hanya masyarakt Garut yg sudah berada di zona hijau. 

Sepertinya agak sulit bagi RM nya utk mengendalikan pengunjung agar hanya setengah daya tampungnya saja. Tdk ada orang khusus yg melaksanakan fungsi kendalinya. Hampir semua pelayan tanpa masker itu sibuk melayani pengunjung yg tdk hentinya keluar masuk rumah makan laris tsb. 

Semoga para penghantar makanan yg hilir mudik melayani pelanggan dan juru parkir tanpa masker itu tetap terjaga kesehatannya. Usaha menjaga rejeki kesehatan sama pentingnya dgn usaha menambah rejeki materi.

14 Juli 2020

Meningkatkan Kapasitas Guru SMKN 2 Garut



Tanggal 13 Juli 2020 adalah hari terakhir kegiatan Pelatihan Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Pagi itu saya harus menyelang sebentar ke SMKN 2 Garut untuk menyampaikan materi seputar Google Classroom. Kegiatan di sekolah tersebut tidak bisa saya lewatkan mengingat undangannya telah lebih dulu datang sebelum undangan dari Kementrian. Saya langsung berangkat dari Hotel Harmoni Garut. Malam itu saya menginap di sana setelah saya memfasilitasi materi Online Marketplace hingga pukul 9 malam. 


Kegiatan yang saya hadiri di SMKN 2 Garut adalah IHT (In House Training) dengan judul Adaptasi Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal. Sesuai surat permintaan bantuan yang dikirimkan oleh kepala sekolahnya kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya harus menjadi pengajar yang menyampaikan materi kepada peserta. Beberapa hari sebelumnya, sebelum kegiatan tiga hari Kementrian dilaksanakan, saya telah merampungkan buku saku Google Classroom dalam format pdf untuk dibagikan kepada para guru yang menjadi peserta IHT. Malam itu di kamar hotel, saya siapkan slide presentasi materi Pengantar IHT nya. Lumayan melelahkan karena maraton dengan kegiatan Kementrian, tetapi harus saya kerjakan agar berbuah manfaat sedekah ilmu yang banyak.

Dalam kesempatan tersebut, saya menjelaskan kepada para Guru yang menjadi peserta kegiatan IHT bahwa karakteristik pribumi digital yang dimiliki oleh peserta didik merupakan kekuatan dalam penerapan teknologi pembelajaran jarak jauh. Tuntutan untuk mengarahkan peserta didik menjadi CAKAP (Cerdas, Kreatif, dan Produktif) dalam memanfaatkan teknologi informasi menjadi kesempatan dalam pemanfaatannya. Saya menunjukan beberapa contoh kasus pelanggaran UU ITE oleh siswa, guru, dan kepala sekolah di beberapa daerah sebagai sampel kelemahan komunitas akademik dalam pemanfaatan internet. Kelemahan lainnya yang saya tunjukan adalah persebaran internet hotspot yang belum merata di wilayah Garut yang harus menjadi perhatian para guru. Menurut pendapat saya, guru memiliki kewajiban untuk mengingatkan peserta didiknya agar dapat memenuhi dasar etika jaringan semata karena tanggung jawabnya selaku penyelenggara kegiatan pembelajaran di internet. Lembaga pendidikan seyogyanya memastikan peserta didik yang berada di zona internet blank spot agar dapat mengikuti pembelajaran daring, agar hak belajarnya terpenuhi.

   
Slide presentasi dapat diunduh di sini
Buku Saku Google Classroom dapat diunduh di sini
 
   

11 Juli 2020

Membantu Kemenkopukm RI Mengembangkan Kapasitas UMKM



Hari Sabtu, 11 Juli 2020 merupakan hari pertama Pelatihan Kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Kementrian Koperasi dan UKM di mana saya terlibat di dalamnya sebagai pemateri. Malam hari sebelumnya, tanggal 9 Juli 2020, pak Yadi dari Dinas Koperasi dan UKM kabupaten Garut menghubungi dan memberitahukan bahwa saya diminta untuk menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Sebagai dosen yang memiliki kewajiban pengabdian saya menerima permintaan bantuan dari pemerintah tersebut.   

Pada tanggal 10 Juli 2020, saya bertemu dengan tim pemateri akademisi lainnya, yakni ibu Urip dan pak Hendro dari STIE Yasa Anggana Garut. Pertemuan tersebut dilaksanakan untuk merumuskan lingkup materi yang akan disampaikan kepada peserta. Saat itu saya menyanggupi untuk membuatkan formulir online test bagi peserta. Peserta akan mengisi formulir tersebut sebelum dan setelah kegiatan. Data yang terkumpul digunakan untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. 


Di hari pertama itu saya tidak mengikuti kegiatan pembukaannya sehubungan harus memberikan materi pembekalan kepada peserta KKN di kampus. Acara pembekalan tsb sudah lebih dulu diagendakan sebelum undangan dari Dinas diterima. 

Saya berusaha merampungkan formulir test pelatihan di sela-sela pembekalan. Selepas acara, saya bergegas menuju Hotel Harmoni, tempat di mana kegiatan Pelatihan dilaksanakan, bergabung dgn tim pemateri akademisi untuk memastikan kelancaran pre-test dan merekap hasilnya.


Pada hari itu pula anak bungsu saya ulang tahun. Istri mengingatkan melalui Whatsapp supaya saya tidak lupa dengan hari penting tersebut. Syukurlah sore hari pemateri akademisi bisa pulang. Saya bergegas pulang menuju rumah dan menemui istri yang tengah bersiap memberikan kejutan kue ulang tahun bagi anak bungsu.

Akhirnya seremoni ulang tahun pun dilaksanakan pada waktu sore menjelang Maghrib. Anak bungsu terlihat senang dengan kuenya karena bergambarkan Sonic, karakter kartun yang disukainya.


Beberapa bulan yang lalu anak saya menyampaikan keinginannya untuk menginap di hotel. Kebetulan panitia pelatihan memberikan fasilitas kamar hotel bagi pemateri untuk menginap. Malam itu saya ajak keluarga menginap di hotel. Anak bungsu nampak senang karena keinginannya terwujud di hari istimewanya. Ini memang sudah rejekinya dari Yang Maha Mengatur.

Kegiatan ini terasa melelahkan karena tiga sebab. Pertama, karena undangan tersebut sangat mendadak sehingga saya harus menyiapkan materi dengan waktu yang tidak banyak. Kedua, karena dalam waktu bersamaan saya harus menyiapkan buku saku dan slide pengantarnya untuk kegiatan In House Training yang diselenggarakan oleh SMKN 2 Garut. Ketiga, karena maag kronis saya belum sembuh. Kehadiran keluarga dan mamah yang melakukan pemanggilan video Whatsapp di kamar hotel pada hari pertama itu sangat menghibur. 

Di hari kedua, selepas menjadi fasilitator hingga pukul 9 malam, saya menginap sendiri. Saya meras lelahan saat memasukan data kuesioner manual dari peserta yang tidak membawa smartphone ke formulir test. Setelah selesai, hasilnya saya sampaikan kepada panitia. 


Akhirnya Pelatihan selesai di hari ketiga selepas Ashar. Acara tersebut ditutup oleh kepala Dinas. Tidak lupa kami berfoto sebagai bukti kegiatan. Agak risi juga karena harus foto berdekatan, sekalipun sudah mengenakan masker. Sepanjang kegiatan, kecuali saat menjadi pemateri, saya selalu mengenakan masker. Bagian yg akan disentuh oleh saya disemprot dgn sanitizer.

Di tengah perjalanan pulang, ibu Urip menghubungi dan mengajak saya untuk menemani pak Hendro mencicipi Soto di Simpang Lima. Sotonya gratis karena dibayari oleh ibu Urip. Makan bersama di akhir kegiatan pengabdian seperti ini merupakan kebiasaan saya besama kolega di kampus.

 
Tahun ini gaji 13 diundurkan pencairannya oleh pemerintah. Gaji tersebut sangat penting bagi ASN seperti saya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak. Alhamdulillah, Allah mengaruniakan rejeki yang tidak disangka-sangka dari Pelatihan ini, sehingga kebutuhan sekolah anak bisa tercukupi.