Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

18 Mei 2020

Antara Dua Titik dan Dua Inisiatif yang Baik





MPR yg berisikan wakil rakyat telah berinisiatif membangun semangat gotong royong bangsa Indonesia dlm melawan Covid-19 dgn melakukan penggalangan dana. Kegiatannya dilakukan secara daring melalui Crowd Funding dan Provider Seluler dgn menggandeng BPIP. 

Sebagian netizen menganggapnya tdk pantas krn inisiatif tsb mengesankan MPR seperti meminta sumbangan kpd rakyat. Dgn kata lain mereka berpendapat bhw rakyat diajak bergotong royong oleh rakyat yg menjadi wakilnya itu tdk pantas. 


Tidak berhenti di sana, MPR kembali berinisiatif baik. Kali ini inisiatifnya adalah utk menguatkan rasa kebangsaan melalui pendekatan kebudayaan dlm bentuk konser virtual dgn menggandeng BPIP dan BNPB. Sama seperti inisiatif seb UUelumnya, sebagian netizen melayangkan kritiknya. Kali ini kritiknya terkait kekhilafan tim yg berfoto dgn mengabaikan protokol jaga jarak yg terjadi selepas acara, sekalipun tdk disiarkan di TV. Padahal selama acara berlangsung, protokol tsb relatif sukses diterapkan.


Memang perbedaan pandangan dan kekurangan itu kalau dicari2 pasti selalu ada. Keduanya bisa digunakan utk saling memahami. Tetapi kesenangan dlm mencari titik perbedaan & kekurangan tdk boleh sampai melupakan arti penting dua inisiatif yg baik tsb, yakni membangun semangat gotong royong dan menguatkan rasa kebangsaan. 

Yg lebih penting utk dipromosikan atau dibesar2kan oleh netizen di ruang publik adalah inisiatif tsb. Sementara titik perbedaan & kekurangan itu bisa didialogkan di ruang private. Jgn sampai dua titik itu malah digunakan utk meredupkan dua inisiatif yg sangat baik tersebut. Seandainya dua inisiatif tsb dilakukan bersama2, tentunya akan mudah utk mengutamakan apa yg lebih penting terbangun di ruang publik. Kepentingan bangsa hrs lebih didahulukan dari kepentingan golongan.

11 Mei 2020

Pemimpin yang Hidup dalam Hati Rakyatnya


Di masa lalu, ada Amir / Pemimpin yg wilayah kekuasaannya meliputi suku-suku Arab serta taklukan Romawi dan Persia yg terbentang luas. Di kisahkan, beliau melakukan peninjauan utk melihat kondisi rakyatnya. Beliau tdk dikawal pasukan bersenjata krn belum lazim dalam praktik kesukuan saat itu. Beliau hanya ditemani Aslam ra. Beliau adalah Amirul Mu'minin Umar bin Khathab ra.

Singkat cerita, beliau mendengar curhatan warganya yg kekurangan makanan. Ibu yg anaknya kelaparan itu tdk mengenal sang Amir, dan mengungkapkan kekesalannya dgn menyebut kondisinya itu disebabkan krn kejahatan beliau yg tdk mau turun melihat rakyatnya. Aslam ra merasa tdk nyaman dgn perkataan tsb dan hendak menegurnya, tetapi dicegah oleh beliau. 

Sekalipun beliau tdk seperti yg dituduhkan warganya tsb, tetapi beliau merasakan beban kesalahan di dalam hatinya. Beliau tdk menghukum warga tsb krn kelancangannya, tetapi "menghukum" dirinya sendiri. Beliau memutuskan utk mengambil sekarung gandum dari Baitul Maal. Kalau jaman sekarang, sembako dari anggaran negara. Beliau sendiri yg dgn kepayahan memikul karung tsb.

Waktu memikul karung itu, beliau ra masih ditemani oleh Aslam ra. Krn tdk tega melihatnya, Aslam ra meminta agar karung itu dipikulnya saja. Tetapi Amirul Mu'minin menolak krn tdk ingin ada orang lain yg memikul beban tsb kelak di akhirat. Beliau dgn dibantu Aslam ra kemudian memasak utk keluarga tsb. Praktiknya klo di jaman sekarang ini seperti memberi nasi kotak dan kardus sembako. 

Soal bantuannya dibawakan sendiri atau ada yg membawakannya, tergantung berapa banyak yg akan menerimanya. Utk kasus satu keluarga itu, beliau membawakannya sendiri. Tapi dlm kasus bencana kekeringan yg memicu kelaparan, beliau melibatkan sejumlah Gubernur dan para pegawainya dlm membawakan makanan kpd rakyat di wilayah bencana.

Menangkap dan Menjaga Kualitas Pengetahuan


Seringkali "mata" melihat ke sana ke mari di dalam benak saat diskusi atau membaca, dan jiwa yg cenderung pd pengetahuan tdk ingin kehilangan kalimat penting yg beterbangan di dalam benak. Sehingga begitu kalimat pentingnya tertangkap, segeralah kalimat itu dituliskan dan menjadi pengetahuan ekplisit.

Tulisannya mengikat pengetahuan, sekaligus menjadi bukti bahwa menyampaikan atau membaca pengetahuan dapat melahirkan pengetahuan baru. Bagi penikmat pengetahuan, emosi buruk yg hadir sebagai gangguan dlm penangkapan pengetahuan sama sekali tdk boleh dicampurkan dlm tangkapannya krn akan merusak kualitasnya.

09 Mei 2020

Komunikasi yang Merendahkan Hati



Perbedaan pengetahuan/pendapat yg sering dihadapi dlm proses komunikasi, tdk seharusnya dijadikan kesempatan utk menjadikan "saya yg paling benar dan yg lain salah, saya yg unggul dan yg lain tdk unggul". Sebaiknya cukup hanya sebatas utk memperkaya keilmuan saja dan diniatkan utk menambah kesyukuran. Tdk seharusnya kita yg limited merasa paling benar dan unggul secara absolut.

Dari sekian lama waktu yg dihabiskan utk saling kirim pesan dlm proses komunikasi, bukan "ping-pong pesan" nya atau "gaya ping-pong" nya yg penting, tapi "pesan apa" yg disalingkirimkannya. Pesan itu hrs dapat memperkaya pembendaharaan ilmu dan menimbulkan atau menambah kesyukuran. Dengan demikian tdk ada waktu yg terbuang percuma, dan kita mendapatkan waktu yg berkualitas dlm kesempatan interaksi antar personal.

Ada satu fase manajemen pengetahuan yg hrs selalui dilewati, yakni fase "manage" di mana pengetahuan yg tersimpan senantiasa divalidasi, dan diperbaharui atau dikokohkan, seiring dgn datangnya pengetahuan baru dari proses komunikasi dan lainnya. Fase ini menghantarkan kita pd satu kesadaran bhw pengetahuan yg kita miliki itu limited dan nisbi, hanya Tuhan saja pemilik pengetahuan yg unliminted dan absolute. Di titik ini kita bisa mengambil kesempatan utk segera merendahkan hati.

06 Mei 2020

Donasi untuk Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Program Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh sivitas akademik Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada bulan Mei 2020 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1441. Panitia pelaksananya adalah mahasiswa. Program ini dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2020, satu hari sebelum pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di kabupaten Garut.

Program ini berawal dari tawaran pak Eri Satria, salah satu dosen Teknik Informatika yang juga Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut di grup WhatsApp Komunitas TIK. Pada tanggal 30 April 2020 itu, beliau menawarkan masker kain gratis yang dapat dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat.   


Kemudian beliau mengajak anggota senior Komunitas TIK dari kalangan alumni dan dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut (termasuk saya) untuk berdonasi. Selanjutnya, beliau menunjuk Zoel Hilmi, mahasiswa Teknik Informatika yang menjabat selaku ketua Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk mengatur panitia kecil.  


Pak Eri Satria pada akhirnya berhasil mendapatkan masker gratis sebanyak 600 pcs. Beliau berharap anggota senior dapat berdonasi untuk menambah jumlah maskernya dengan cara membeli. Pada hari Jum'at, 1 Mei 2020, poster penggalangan dana ditampilkan di grup oleh Zoel Hilmi dengan judul Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Pada tanggal yang sama, pukul 14:37, ibu Rina Kurniawati selaku Wakil Ketua bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengirimkan poster tersebut di grup Whatsapp Pusat Informasi STTG di mana tenaga pendidik dan kependidikan berada. 


Pada pukul 15:36, saya bertanya kepada ibu Rina Kurniawati, apakah donasinya bisa melalui mekanisme pemotongan dari honorarium bulan depan? Beliau menjawab, bisa. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak diajak saja para dosen untuk turut serta berdonasi untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut?. Menurut pemikiran saya, berdonasi itu sama dengan terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut. Dan unit kerja LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) yang saya pimpin berkewajiban memfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan pengabdian. 

Pada pukul 21:00 saya bertanya kepada pak Hilmi Aulawi selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut tentang kemungkinan LPPM untuk menawarkan donasi kepada para dosen melalui mekanisme pemotongan honorarium bulan depan. Beliau mengizinkan.


Setelah mendapatkan izin tersebut, saya mengirim penawaran di grup WhatsApp Penelitian dan Pengabdian pada pukul 21:21.


Pada hari Senin, 4 Mei 2020, pukul 08.40 saya menutup donasi dari para dosen. Dan pada pukul 09:05 surat pengajuan pemotongan honorarium untuk donasi saya sampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, ditembuskan kepada semua wakil ketua.


Pada pukul 10:23, pengajuan tersebut disetujui oleh pak Hilmi Aulawi. Selanjutnya, dana dicairkan pada pukul satu siang oleh biro Pengeluaran Keuangan. Pukul 13:26 saya menghubungi ibu Leni Fitriani mewakili bagian Kemahasiswaan untuk menyerahkan uang tersebut agar dapat diteruskan kepada panitia. Total dana yang terkumpul dari para dosen, baik yang transfer langsung kepada panitia atau melalui pemotongan honorarium adalah sekitar 2,5 juta rupiah, dan 600 pcs masker kain. Kalau masker kain tersebut diuangkan, total bantuan dari dosen sekitar 5,4 juta rupiah. Alhamdulillah, semoga menjadi tambahan pahala berlipat di bulan Ramadhan Mubarak ini. 


Pada hari Selasa, 5 Mei 2020, pak Eri Satria mulai mendistribusikan masker sumbangan yang akan dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat. Di antaranya adalah masker sumbangan dari Alumni SD Kiarasantang angkatan 88 dan Alumni SMPN 2 angkatan 91. 


Setelah itu mahasiswa mulai membagikan masker di seputaran kampus dan beberapa lokasi lainnya. Adapun dana yang terkumpul dari donasi, rencananya tidak akan dibelikan masker, tetapi akan dibelanjakan sembako yang akan dibagikan pada tanggal 7 Mei 2020 kepada 50 keluarga yang perlu dibantu. 


Disebutkan dalam undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa organisasi mahasiswa paling sedikit berfungsi mengembangkan tanggung jawab sosial melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Saya merasa bersyukur, mahasiswa berhasil mewujudkan manfaat kampus bagi masyarakat sekitar melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada hari sebelumnya, Minggu tanggal 3 Mei 2020, saya memberikan masukan kepada mahasiswa di grup WhatsApp agar masyarakat seputaran kampus mendapatkan perhatian:

Btw, sekiranya dananya banyak, saya berharap perhatian kita tdk hanya kpd pemenuhan kebutuhan masker, tapi juga kpd kebutuhan yg teramat penting bagi masyarakat miskin di sekitar kampus, seperti beras dan/atau sembako. Bagaimanapun, kampus hrs terasa manfaatnya bagi masyarakat sekitar di mana kampus berada ... Mari kita perduli dgn masyarakat sekitar kampus, jgn dulu jauh2 ke daerah belasan hingga puluhan kilometer dari kampus. Berbagi itu dimulai dari keluarga terdekat dulu, dan keluarga terdekat bagi kampus adalah masyarakat sekitar kampus.


02 Mei 2020

Relawan TIK Tanggap Bencana Covid-19 di Garut


Pada semester genap 2019/2020 ini, saya kembali mengampu mata kuliah Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dalam kurikulum Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, mata kulah ini merupakan mata kuliah persiapan Kuliah Kerja Nyata. Mata kuliah Relawan TIK menyiapkan mahasiswa untuk dapat memahami dan mengamalkan sikap relawan dalam menyelesaikan masalah bidang TIK di tengah masyarakat. Kuliah Kerja Nyata sendiri adalah mata kuliah berbentuk Pengabdian kepada Masyarakat yang wajib diikuti oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Relawan TIK dalam Kuliah Kerja Nyata di desa Sirnajaya (16/8/2019)

Seperti biasanya, tugas lapangan mata kuliah Relawan TIK yang diberikan kepada mahasiswa dikemas dalam program Pengabdian kepada Masyarakat bernama Relawan TIK Abdimas (Abdi Masyarakat). Publikasi kegiatannya di Facebook dapat ditelusuri dari hastag #RTIKAbdimas. Sekarang ini program Relawan TIK Abdimas telah masuk periode ketiga sejak pertama kali dilaksanakan pada semester ganjil 2018/2019. Program ini merupakan pelaksanaan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, dan Relawan TIK Indonesia.  

Penandatanganan Kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia (25/12/2018)

Pada awalnya, tujuan tugas lapangan ini adalah untuk mempromosikan potensi sumber daya manusia, industri, dan pariwisata di daerah dengan memanfaatkan TIK. Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut akan berperan sebagai Agen Perubahan Informatika yang membantu promosi tersebut sekaligus menyiapkan relawan TIK lokal untuk dapat melanjutkan usaha promosinya. Tujuan harus dapat dicapai selama 14 minggu. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut:


Metode Relawan TIK Abdi Masyarakat

Saya memanfaatkan Google Classroom dalam kegiatan pembelajarannya, dengan tetap melakukan tatap muka di kelas selama 100 menit, sesuai dengan beban belajarnya sebesar 2 SKS. Ruang kelas Relawan TIK di Google Classroom yang dibuat pada bulan Februari 2020 itu digunakan untuk menyimpan bahan ajar dan pengumpulan tugas mata kuliah. Selama setengah semester, saya menugaskan mahasiswa untuk menemukan mitra penerima manfaat tugas lapangan, menganalisa lingkungan di mana mitra itu berada, dan menyusun modul praktikum dasar kerja informasi yang tepat diberikan kepada mitra tersebut. Sebagian mitra adalah Gerakan Pramuka Kwarcab Garut, dengan koordinator lokal Relawan TIK dari purna peserta Kursus Bina Usaha. Hal tersebut untuk menunjang upaya perintisan Satuan Karya Pramuka Informatika di Garut.

Komunikasi Tim Relawan TIK dengan Calon Mitra (2/3/2020)

Untuk memperkaya pengetahuannya, saya mendatangkan dua orang praktisi yang telah memanfaatkan informasi dengan TIK untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Praktisi pertama adalah Fahmi Taufiq Zain, alumni Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan praktisi penjualan online. Praktisi kedua adalah Liswanti Pertiwi, yakni Blogger asal Garut yang telah memiliki banyak pengalaman seputar edorsement produk. Materi dari praktisi diharapkan dapat memicu ide atau gagasan pada diri mahasiswa terkait pengetahuan dan ketetampilan yang akan disampaikan kepada mitranya. 

Kuliah Umum Relawan TIK bertajuk Kerja Informasi (24/2/2020)

Pelaksanaan tugas lapangan dilakukan secara berkelompok. Dari tiga kelas mata kuliah Relawan TIK, diperoleh 20 tim dengan jumlah personel antara 4 sampai 5 orang. Setiap personel tim diberi tugas penyusunan modul oleh ketua timnya. Modul dasar kerja informasi meliputi materi berikut ini yang merupakan bagian dari daur hidup kerja informasi: 
  1. Kendali informasi, yakni acuan nilai dan norma yang harus diperhatikan oleh pencipta konten;
  2. Masukan, yakni pencarian, pengambilan, dan pemilihan material dari internet atau dunia nyata menggunakan mesin pencari atau perangkat masukan pada smartphone;
  3. Pemrosesan, yakni pengolahan material menjadi konten / informasi dalam format mulitimedia yang diperlukan oleh pengguna;
  4. Penyimpanan, yakni penyimpanan konten pada simpanan internal, transfer konten ke simpanan lainnya, termasuk pencadangan ke cloud storage; dan
  5. Keluaran, yakni penyampaian konten kepada penggunanya melalui internet.
Sebelum mereka menjadi instruktur bagi mitra, terlebih dahulu saya menguji kemampuan mereka dalam melaksanakan daur hidup kerja informasi. Dalam kesempatan peringatan Safer Internet Day, saya tugaskan mereka untuk ikut serta dalam kampanye tersebut dengan membuat dan menyebarkan konten bertemakan Internet Aman. Kampanyenya ditemukan di Facebook dengan hastag #saferinternetday dan #komtiksttgarut. Tugasnya harus dilaporkan pada tanggal 11 Februari 2020.


Pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif Corona pertama kali di Indonesia. Pada tanggal 17 Maret 2020, muncul Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Menyikapi Surat Edaran tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi Garut membuat kebijakan yang mengharuskan penundaan kegiatan pembelajaran yang melibatkan aktivitas mobilisasi orang banyak atau yang membutuhkan aktivitas survei lapangan sampai tanggal 29 Mei 2020. Kondisi tersebut mengharuskan fase Pemberdayaan dari Relawan TIK Abdimas ini harus dilaksanakan secara daring.

Saya pun merubah teknik Pemberdayaan yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa dari offline menjadi online. Pelaksanaan tugas lapangan berupa pemetaan lokasi geografis objek industri dan wisata pada Google Maps ditiadakan. Kegiatan Pemberdayan difokuskan pada pembelajaran online, di mana personel tim secara bergantian menyampaikan materi dari modul praktikum Dasar Kerja Informasi yang telah dibuatnya kepada mitra. Saya memberi contoh kepada mahasiswa bagaimana teknik tersebut dilaksanakan dengan mudah dengan menggelar Kuliah Umum Relawan TIK kedua yang mengundang pembicara dari Kemenkominfo, ICTWatch, dan beberapa pengurus Relawan TIK Indonesia dari Poliwali Mandar, Bojonegoro, dan lainnya. Terdaftarnya Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam program Google Application for Education belasan tahun yang silam menyebabkan mahasiswa dapat menyimak Kuliah Umum Daring tersebut secara Live Stream.

Kuliah Umum Daring Relawan TIK (26/3/2020)

Pada tanggal 7 April 2020, Relawan TIK Indonesia menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Darurat Covid-19. Di dalam rapat, Relawan TIK Indonesia diajak oleh Pemerintah Pusat untuk ikut melakukan sosialisasi Covid-19 kepada masyarakat. Bahan sosialisasinya disediakan oleh Gugus Tugas dan dapat diakses dengan meng-klik di sini.

Pada tanggal 7 April 2020, saya menemui Kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut di Command Center. Selain untuk bersilaturahmi dengan Kepala Dinas baru, saya juga menyampaikan informasi kerjasama yang telah terjalin antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Diskominfo Garut, dan menyatakan kesiapan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam membantu Pemerintah mensosialisasikan informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat. Dalam kesempatan itu saya berkomitmen akan memobilisasi peserta mata kuliah Relawan TIK untuk membuat dan menyebarkan konten sosialisasi terkait Covid-19 kepada masyarakat melalui media sosial.

Pertemuan dengan Kepala Diskominfo Garut di Command Center (7/4/2020)

Menindaklanjuti rapat dengan Relawan TIK Indonesia dan Diskominfo Garut tersebut, saya membuat rencana baru tugas lapangan (online) setengah semester ke depan bagi peserta mata kuliah Relawan TIK. Saya memutuskan untuk menambah spesifikasi tugas lapangan / Pemberdayaan yang dilakukan oleh mahasiswa, yakni dengan menyisipkan materi sosialisasi Covid-19 di setiap sesinya dan melaporkan kegiatan tersebut melalui form laporan yang link nya disediakan oleh Relawan TIK Indonesia.


Tugas pertama dilaksanakan oleh mahasiswa pada pertemuan ke-9 perkuliahan yang diberikan tanggal 22 April 2020.

Classwork di Salah Satu Classroom Relawan TIK

Tahapan pelaksanaan tugas individu dan kelompoknya dapat dilihat dari slide berikut ini:


Ketersediaan smartphone dan quota data serta kualitas sinyal seluler menjadi hambatan para peserta pembelajaran / pemberdayaan online yang diselenggarakan oleh tim Relawan TIK. Oleh karenanya saya memberikan keleluasaan bagi peserta untuk menggunakan teknik atau platform TIK apa saja dalam pelaksanaannya. Oleh karenanya saya menemukan banyak tim melaksanakannya dengan Whatsapp, seperti yang dilakukan oleh tim Cloud 1. Pemanfaatan platform media sosial tersebut lajim dipraktikan dalam masa pemberlakuan Belajar di Rumah di banyak jenjang pendidikan.
       

Selain berbasis teks, ada pula yang menyajikan materinya dalam bentuk video tutorial, sebagaimana yang dilakukan oleh tim Cloud 2.


Aksi Relawan TIK Tanggap Bencana ini merupakan aksi kedua, setelah sebelumnya Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut pernah melaksanakannya saat terjadi banjir bandang pada tahun 2016. Dokumentasi kegiatannya bisa ditelusuri di Facebook dengan hastag #rtiktanggapbencana. Gambar berikut ini merekam kegiatan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat menangani perangkat komputer milik sekolah yang terdampak bencana yang ditinjau oleh kepala Diskominfo Garut. 

Relawan TIK Tanggap Bencana Banjir Bandang (22/9/2016-1/10/2016)

30 April 2020

Bergidik Karena Halusinasi atau Hati-Hati?



Nasi kucing, nasi anjing, nasi harimau, nasi monyet, hot-dog, ham-burger, dls, bentuknya tdk serupa dgn hewannya, cuma nama saja. Lain dgn roti buaya, bentuknya buaya banget. Memakan roti yg suka ada dlm nikahan orang Betawi apakah sensasinya seperti makan daging (haram) buaya, menjijikan? Sepertinya enggak ya, rasanya ya tetep roti. Kalau ada yg merasa jijik pasti krn terlalu kuat halusinasinya, melihat roti itu benar2 sebagai buaya. Tetapi seandainya memang dimaklumi dlm roti tsb terkandung bahan yg haram, wajar saja seorang muslim akan jijik atau ngeri saat akan memakannya, walau darurat sekalipun.

Fariduddin Attar pernah menceritakan kisah orang saleh yg punya karomah dlm karyanya Tadzkiratul-Awliya. Setiap dihidangkan kpdnya makanan haram, baik bahannya atau cara mendapatkannya haram, sekalipun ia tdk mengetahui keharamannya, tangannya pasti bergetar dan makanan itu tdk pernah berhasil masuk ke dalam mulutnya. Rasa takut atau ngeri dgn makanan haram membuatnya tercegah dan dicegah dari memakannya.

Beberapa tahun yg silam, saya pernah ngasuh mahasiswa Korsel. Saat itu kita diskusi soal makanan lokal. Kebetulan mereka bawa makanan dlm kemasan dari Korsel. Salah satu mahasiswanya membuka kaleng. Dia bilang makanan itu daging sapi. Mereka menawari saya mencicipinya. Saya secara spontan bergidik, bukan bermaksud tdk sopan, tapi krn takut ada komponen tdk halal di dlm makanannya. Bergidiknya saya bukan krn halusinasi, seakan-akan melihat ada label haram pd makanan tsb, tapi semata krn hati-hati.

24 April 2020

Iman atau Nekad?


Dulu ada berita Jum'atan di kecamatan zona merah yg bubar setelah ada yg meninggal.


Sekarang ada berita Tarawihan di zona merah yg bubar setelah ada pria yg ambruk.


Kalau blm ada tanda-tandanya, takutnya itu tdk ada, sekalipun jelas-jelas berada di zona merah; tetap berjamaah walau ujung-ujungnya mungkin hrs jadi ODP atau OTG. Padahal sdh ada fatwa MUI utk zona merah. Iman atau nekad ya? 


Mungkin setelah kejadian itu akan ada yg takut dan tdk datang, dan mendapat sebutan lemah iman atau pengikut Dajjal. Bahkan kalau yg tdk datang itu ustadznya sehingga jumatan atau tarawihannya bubar, mungkin ustadz tsb akan ditolol2 atau dibego2 oleh mereka yg tdk bisa menggantikan fungsi ustadz tsb krn kapasitas ilmu agamanya yg pas2an. Orang kadang amalnya mendahului ilmu; padahal imam al-Ghazali rm dlm Minhajul Abidin bilang, ilmu itu imamnya amal.


Saya pribadi memilih utk membantu pemerintah berjihad mengentaskan bangsa kita dari Covid-19, utk memberi kesempatan tenaga medis menurunkan jml pasien Covid-19, agar Garut segera kembali menjadi zona hijau. Pastinya pemerintah telah mendapat masukan dari alim ulama. 

#JabarLawanCovid19

23 April 2020

Usaha dan Doa Melawan Covid-19

Gambar Ilustrasi

Check-point adalah titik di mana aparat mempraktikan ar-Ribath (jaga perbatasan) dlm jihadnya (upaya sungguh2) melawan musuh tak kasat mata Covid-19 dgn memeriksa asal pendatang & kesehatannya utk mencegah pembawa Covid-19 menularkan virusnya kpd masyarakat. Di pintu masuk desa, ar-Ribath dipraktikan oleh relawan desa.
Ibn Athaillah mengatakan, sekeras apapun usaha kita, hal tsb tdk dapat merobek tirai taqdir. Tetapi Allah tdk akan merubah suatu kaum kalau kaum itu tdk berusaha. Artinya, sekeras apapun kita berusaha, hasil perubahannya akan tetap sebatas apa yg Allah tentukan. Walau bagaimanapun, usaha lebih dekat kpd perubahan. 

Oleh krn itu, jihadnya aparat dan relawan desa saja tdk cukup, perlu dilengkapi jihadnya masyarakat yg dilindungi dgn mengikuti protokol dan memanjatkan do'a kpd Tuhan Sang Penentu. Do'a dipanjatkan agar Allah mengaruniakan takdir perubahan yg signifikan, mengembalikan kondisi daerah kita menjadi zona hijau dlm waktu yg singkat. Utk itulah banyak dzikr digelar di malam Nisfu kemarin, dan mari kita berdoa di bulan suci esok.

21 April 2020

Tidak Meminta di Saat Masih Mampu


Di media ada berita mengungkap keluarga yg kelaparan selama 2 hari krn terdampak wabah Corona. Mungkin sebagian orang merasa tdk habis fikir dgn orang yg kelaparan tetapi tdk mau meminta. Tapi percayalah, di luar sana ada kalangan yg kekurangan hingga kelaparan tetapi menahan tangannya dari meminta.

Di masa bujang dulu saya pernah mengalaminya. Pilihan yg saya miliki di saat kehabisan uang saat itu adalah mengutang nasi goreng ke mang jualannya di malam hari atau menahan lapar. Sebenarnya tdk sulit bagi saya utk meminta nasi ke dapur pondok, tetapi saya tdk punya hak utk itu.

Siang itu, saya menghilangkan laparnya dgn memakan buah gedang muda dari pohonnya yg tumbuh liar di belakang gedung. Ada sedikit uang yg bisa saya gunakan utk membeli garam. Buah tsb saya makan bersama garam. Hasilnya, tdk membuat perut kenyang.

Walau dalam kekurangan, saya selalu berusaha utk memberi. Hiburan terbaik yg saya rasakan adalah melihat roman wajah teman yg senang setelah ditraktir makan, atau membiarkan teman mengutip uang koin di atas lemari buku yg sengaja saya kumpulkan. Semoga menjadi hadiah dan sedekah yg bermanfaat dan menjadi jalan kemudahan saya di dunia dan akhirat. Amin.

Saya mesti bersyukur, sebab pernah juga merasakan nikmatnya dimudahkan. Saya suka dihibur oleh santri-santri Salafiah yg suka mengajak mayoran, makan bareng satu alas. Saya tdk perlu marah dgn tape yg terbakar oleh teman, sebab saya harus ingat pernah diberi sarung oleh teman lainnya. Saya memberikan satu kamar kobong dan kasur utk ditempati teman, dan Allah menggantinya dengan tiga tempat tinggal.

Meminta, Bagi Sebagian Kalangan adalah Tabu.

Mungkin ada yg berfikir kalau saya ini konyol krn tdk mau meminta nasi ke dapur pondok. Tetapi fahamilah, tdk semua orang bisa meminta, bukan krn tdk mampu utk berkata, tetapi enggan saja. Bila fikiran ini telah terliputi ide tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, akan berat baginya utk menggerakan tangannya ke bawah, walau tangan itu dihadapkan kpd keluarganya sendiri.

Di luar konteks keduniaan, Syekh Abdul Qadir Jailani rm pernah berkata yg kalau dibahasakan sendiri kira-kira isinya begini: Mintalah kpd Allah bila segala usaha telah buntu. Maka bagaimana bisa diri ini meminta kepada manusia bila usaha yg dilakukan baru menahan lapar dan makan ala kadarnya?

Kisah ini saya sampaikan bukan utk menunjukan apapun pada diri ini yg bukan siapa2 dan tdk ada, tetapi utk mengingat kembali betapa banyak kesyukuran yg bisa muncul dari kekurangan. Dgn mengingat kisah ini saya bisa tercegah dari kekufuran.

Btw, foto ini mewakili wajah saya di masa cerita tsb. Saya terlihat kurus bukan krn terpaksa lapar, tetapi memilih lapar dgn kesadaran sendiri bukan krn kekurangan. Saya membiasakan diri makan sehari sekali dlm kurun waktu yg lama, hingga dinasihati utk berhenti oleh pak Bunyamin Musaddad rm. Alhamdulillah, kekurangan yg membuat saya ngutang nasi atau menahan lapar hanya sesekali saja. Masih banyak kekurangan lain yg lebih penting dari materi, yakni kurangnya amal ibadah yg dapat menggugurkan dosa dan mendekatkan. 

22 Maret 2020

Membangun PKS secara Daring


Saat menyelenggarakan UTS daring pertama kali pd semester ganjil lalu (2019/2020) dgn Google Form, sebagian peserta kuliah Sistem & Teknologi Informasi agak kaget. Mrk ingin ujian tertulis seperti mata kuliah lainnya. Saya tdk bergeming. Mrk dibawa kpd pengalaman tsb agar tdk sebatas tahu Cloud Apps tsb ada. Teknologi tsb akan bermanfaat saat mrk berinteraksi dgn masyarakan dlm program KKN dls.

Di UAS saya tambahkan pengalamannya. Mrk diharuskan mengirim artikel melalui Google Classroom. Tantangannya adalah menuliskan hasil bacaan dgn bahasa sendiri. Skor similarity yg diberikan oleh Turnitin menjadi dasar penilaiannya. Ada beberapa yg berhasil mencapai similarity 0, dan ada juga beberapa yg copas sehingga similarity nya di atas 70. Dgn pengalaman tsb mereka mengevaluasi PKS (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) nya.

Saat itu saya jelaskan bhw mrk hrs siap dgn pembelajaran daring, terlebih mrk adalah mhs informatika yg tdk boleh gaptek. Semester yg akan datang, akan ada banyak mata kuliah yg mempraktikan blended learning seperti yg saya lakukan. 

Dan ternyata, di semester genap ini semua mata kuliah harus mempraktikan pembelajaran jarak jauh krn wabah Corona. Setiap dosen dan mahasiswa, dan termasuk kampus harus menghadapi pergeseran cara belajar tsb. Pemerintah telah membuat kebijakan pemberlakuan cara tsb selama dua minggu hingga minggu akhir bulan Maret 2020. Dgn atau tanpa wabah, blended learning sudah menjadi tuntutan jaman.

20 Maret 2020

Salat Jum'at Minggu Pertama Masa Pemberlakuan Social Distancing


Hari ini saya mengikuti Jum'atan setelah mempertimbangkan status wabah Corona di Garut, surat edaran / protokol dari pemerintah, serta fatwa dan surat edaran beberapa organisasi Islam. Dlm kondisi wabah yg masih terkendali, MUI memfatwakan kewajiban salat Jum'at. Walau demikian, bila saya takut akan bahaya Corona, sebenarnya hal tsb sdh cukup utk menggugurkan kewajiban tsb, sebagaimana dijelaskan oleh Ulama Kontemporer Syafi'iyah, Prof Dr Wahbah az-Zuhaili.

Jum'atan hari ini di masjid besar Ponpes terlihat sepi, sepertinya hanya sekitar tiga shaf. Saya duduk di shaf depan sehingga tdk bisa menghitung persis jumlahnya. Santri-santrinya saat ini belajar di rumah mengikuti arahan pemerintah. 

Khatib menyampaikan khutbah dgn ringkas dlm bhs arab, hanya menyajikan beberapa hadits saja. Hal tsb sesuai dgn arahan pemerintah dan organisasi Islam. Ada jarak duduk antara saya dgn jemaah lain saat mendengarkan khutbah. Tapi begitu akan salat, seperti biasa barisannya rapat setelah imam menyampaikan arahannya.

Gatalnya tenggorokan ini cukup mengganggu, sehingga sesekali batuk kecil tanpa membuka mulut. Di sudut lain terdengar suara yg sama dari beberapa orang. Cuaca sekarang ini memang memicu sakit flu dan batuk. Sebenarnya hal tsb biasa saja sebelum Corona datang. 

Wabah ini membuat saya berfikir, betapa nikmatnya hidup sebelumnya, hampir tdk banyak kekhawatiran dan kehati2an dlm menjaga kebersihan dan kesehatan. Seakan hidup sebelumnya adalah surga yg hilang. Nabi Adam tentunya menanggung perasaan yg jauh lebih berat dari apa yg saya rasakan setelah meninggalkan surga. 

رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ
وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ  
وَأَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku Ibu Ayahku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS an-Naml: 19)

18 Maret 2020

Mimpi Jaringan Area Kota Gratis


Teringat 2012 yg silam saat membangun mimpi pemanfaatan TIK utk pendidikan bersama teman-teman RadNet. Saat itu saya memimpikan adanya ISP yg menyediakan metro area network gratis utk keperluan akademik di Garut. Dlm mimpi itu, semua sekolah berjejaring, saling berbagi resources, dan berkomunikasi secara gratis. 

InterYamusa merupakan piloting MAN yg berhasil menghubungkan beragam organisasi di beberapa kecamatan. Tadinya InterYamusa ini akan diintegrasikan dgn Laboratorium Jaringan sekaligus menjadi Balai Latihan Kerja ISP bagi mahasiswa. Saat itu pembicaraannya sudah sampai penyiapan kantor bersama utk keperluan BLK di gedung D STTG.



Bila saja mimpi itu terwujud, setiap sekolah yg berjejaring akan menjadi titik akses intranet yg terpancar melalui antena. Melalui jaringan tsb, komunitas akademik dapat mewujudkan pembelajaran daring dan saling berkomunikasi tanpa quota data. Bila dihubungkan dgn pemancar di kantor kecamatan atau desa, maka komunitas akademik bisa mengakses sumber daya di area yg lebih luas lagi.

22 Februari 2020

Wafatnya Guru Tauhid Kami


Hari ini, Sabtu, 22 Februari 2020, guru Tauhid kami, alm. ust Bubun Bunyamin  wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun.

Melalui beliau kami mendapat ilmu bermanfaat dari kitab Tijan. Beliau adalah jembatan yg menghubungkan kami dgn ilmu Tauhid Kyai Choer Affandi. Dgn ilmu tersebut kami memahami keragaman pemahaman akidah; dan bagaimana ASWAJA memposisikan diri di antara akidah tersebut, seperti bagaimana meluruskan pemahaman Wahdatul Wujud dgn ASWAJA.

Selama menimba ilmu, soal Tauhid lah yg menarik perhatian saya. Alam fikir ini senantiasa berkutat dgn Dia, sehingga seringkali lesatan cahaya muncul saat dzikr dan maujud sebagai rangkaian kalimat yg membahas seputar akidah Islam. Setelah rangkaian kalimat itu memenuhi buku tulis, saya hadapkan bukunya kpd almarhum. Saya ingin memeriksakan isinya sebab merasa khawatir dgn talbis Iblis. 

Setelah beberapa hari berlalu, beliau menyerahkan buku itu kembali dengan tanpa sedikitpun komentar. Roman wajah beliau baik2 saja. Tdk adanya komentar membuat saya merasa sendirian. Tetapi sekarang saya memahami, sekiranya dalam buku itu ada isi yg bermasalah, sebagai guru, beliau pastinya akan memberitahukan hal tsb. Sebagaimana dulu saat saya mengkonsultasikan isi surat, beliau mengomentari apa yg kurang tepat. Saya memahami, diamnya guru sebagai tanda keridhaan. Apa yg tertulis dalam buku itu, merupakan keberkahan dari ilmu yg telah beliau sampaikan.

Dgn bekal ilmu tersebut, saya mengenal Allah, dapat membedakan rasa kedekatan dan kejauhan dgn Allah, memiliki kesempatan utk memahami cinta Nya. Beliau adalah guru yg diharapkan nasihatnya atas tulisan yg saya buat saat mendekati dan menjauhi Nya. Oleh karena itu, semoga manfaat ilmu yg beliau sampaikan, menjadi manfaat bagi beliau di alam Barzakh.

Selepas salat jenazah, ust Murgo Suryono bercerita, bahwa sebelum wafat, almarhum pernah berkata, bahwa mungkin usianya tdk akan sampai 50 tahun. Hari ini beliau meninggal saat beliau berusia 49 tahun. Hanya orang saleh yg benar-benar mempersiapkan perjumpaan dgn Rabb nya. 

Semoga beliau memaafkan segala sikap dan perilaku saya yg tdk baik. Dan tdk ada sedikitpun maaf yg harus diminta dari para murid. Sesakit apapun rasanya sikap guru kpd murid, hal tersebut adalah sebuah nikmat perhatian yg sangat disyukuri sezarah demi sezarah. Sebaliknya, ketidaksantunan murid kpd gurunya, merupakan kepedihan di hati murid yg dirasakan sezarah demi sezarah. Jazakallah Khairan. Amin.


21 Februari 2020

Anak Asuhan Sungai

Gambar Ilustrasi

ANAK ASUHAN SUNGAI

Saya merasa sedih dgn adanya musibah yg menimpa siswa sekolah yg terseret arus sungai yg datang tiba2 saat menjelajahi sungai. Saya pun merasa bersyukur karena Allah memberikan perlindungan dari musibah tersebut semasa saya melakukan kegiatan yg sama di masa kecil dulu.

Semasa SMP dulu, saya mengikuti berbagai jenis kegiatan terkait rute perjalanan. Umumnya dalam rutenya terdapat pos ujian. Seperti dlm kegiatan perjalanan malam PERSAMI dari sekolah, makam, dan kembali ke sekolah berjalan berdua; atau kegiatan melewati pos ujian secara berkelompok pd saat JAMBORE Kwarcab di siang hari; atau kegiatan Hicking di luar agenda organisasi, di mana kakak dan adik Pramuka semuanya berbaur.

Berjalan adalah bagian dari kegiatan kami. Saat menonton film Tjoet Njak Dhien, kami berjalan dari SD Panglejar ke Bioskop, sekitar 1.7 km. Menjelang pembagian raport kami melakukan botram (makan bersama) di kolam renang Ciheuleut, sekitar 1.3 km. Dan saat upacara nasional, kami berjalan menuju alun-alun Tugu Benteng Pancasila, sekitar 1 km.

Saya masih mengingat kegiatan Hicking yg penah diikuti. Kami jalan bersama dari pangkalan SMPN 2 Subang menuju area Bumi Perkemahan Ranggawulung melalui jalanan perdesaan, sungai, dan jalan setapak di hutan. Ada satu sungai di daerah Pasirkareumbi yg kami lintasi.

Saat akan melintasinya, terlebih dahulu kakak Pramuka memeriksa dan menentukan jalan yg harus kami lalui. Selanjutnya kami menyebrangi sungai dgn berpegangan tangan. Saya agak grogi krn kakak Pramuka meminta saya untuk berpegangan tangan dgn adik anggota puteri. Kegiatan tsb dilaksanakan hanya setengah hari.

Hicking juga saya lakukan bersama teman-teman GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin). Kami menyebutnya Rihlah yg dilaksanakan pd bulan Ramadhan. Sangat mudah menemukan praktik Kepramukaan di GMA mengingat founder dan anggota angkatan awal banyak dari kalangan Pramuka.

Rihlah dilaksanakan selepas salat Isya. Sama seperti di Pramuka, kakak dan adik angkatan semuanya bersatu dlm satu barisan. Ada sebagian yg membawa obor, jenis penerangan yg dibawa selain senter. Berbeda dgn Pramuka, barisan dikelompokan menjadi dua berdasarkan jenis kelaminnya.

Malam itu kami menempuh rute yg sama, melewati daerah Pasirkareumbi. Hanya saja kami tidak belok kanan menuju sungai, tetapi belok kiri menuju hutan. Di tengah kegelapan hutan itu kami mengikuti jalan beraspal sambil melantunkan dzikr bersama. Hingga tiba lah kami di desa dan bermalam di masjid dan madrasah yg ada di sana.

Pagi harinya di waktu Dhuha, kami pun berangkat dari desa tsb utk melanjutkan perjalanan. Saat itulah kami menemukan ada sungai besar yg harus dilewati. Sungai Cipunagara yg kami lewati ini memiliki pemandangan khas pertanian. Ada sejumlah kincir air yg terpasang utk membawa air ke tempat di atasnya di mana sawah berada. Dan kami pun sampai di daerah Nyimplung menjelang Dzuhur yg panas. Ujian berpuasa yg luar biasa.

Rupanya penjelajahan sungai itu terasa sangat mengasikan. Dalam kegiatan Pramuka dan GMA, melintasi sungai hanyalah bagian kecil dari rute saja. Saya pernah mengikuti aliran sungai dari titik awal di Pasirkareumbi hingga ke titik akhir di Nyimplung bersama teman bermain. Ada keasikan saat mengikuti aliran sungainya, seakan sedang menguak misteri ujung sungai.

Mungkin ketertarikan saya terhadap aliran sungai sangat dipengaruhi oleh masa bermain yg tdk jauh dari sungai. Rumah orang tua berada dekat dengan sungai. Hampir sering saya melihat sungai itu berarus deras dan kering. Sesekali saya turun utk menemukan benda menarik yg terbawa arus sungai. Permainan yg menyenangkan di sungai pd masa TK - SD itu adalah melayarkan perahu kecil di pintu air. Saya pegangi tali yg terikat ke perahu tersebut, dan mata ini takjub melihat perahu bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti arus deras sungai di pintu air tsb.

Kami boleh lah disebut anak2 air. Lingkungan bermain kami dekat air. Saya tdk pernah sengaja berenang di sungai tsb, tapi pernah mengalami tercebur dua kali. Pertama, saat memainkan mainan roda di atas jembatan, tercebur krn gagal menjaga keseimbangan. Kedua, saat berusaha menangkap bola dlm permainan boy2an, tercebur krn gagal melihat pijakan yg sdh berakhir di ujung sungai. Atraksi yg dianggap hebat oleh remaja di desa saya adalah meloncati sungai. Sewaktu kecil dulu sungainya nampak sangat lebar, sekarang tdk perlu menjadi hebat utk meloncatinya.

Saya merasa penasaran, ke mana sungai tempat saya pernah tecebur itu mengalirnya? Saya pun mengikuti aliran sungainya sendirian, melewati jalan raya, mengikuti jalan pinggir sawah, dan tentu saja yg terlihat aliran ini tdk bertepi. Dari sana saya mencukupkan diri seraya membuat dugaan kalau sungai itu mengarah ke kebun Karet Wanareja tempat di mana bapak saya bekerja.

Kami sepertinya memang anak asuh sungai. Saat SD dulu, saya suka bermain di sungai pinggir kantor kelurahan Soklat, dekat Masjid al-Muhajirin tempat saya berkegiatan bersama GMA beberapa tahun kemudian. Teman bermainnya adalah Iwan, yg rumahnya tdk jauh dari kantor kelurahan. Di sungai itu kami menemukan tanaman air tumbuh lebat. Kami menjadikannya sebagai rumah. Utk saat itu, permainan tsb nampak menyenangkan.

Semua sungai yg saya ceritakan bukanlah sungai jernih sebagaimana sungai di dusun dekat hutan. Maklum saja, rumah orang tua saya, tempat di mana saya bermain adalah daerah perkotaan. Saat itu sungainya hanya berbau lumpur sawah berwarna coklat, seperti warna tanah setelah tergenangi air hujan. Walau demikian, ibu selalu menyuruh saya lekas mandi bila tercebur ke sungai tsb.

Saat SMA, saya juga beberapa kali menjelajahi sungai di daerah Sompi yg berbatasan dgn bumi perkemahan Ranggawulung. Saya dibawa teman-teman PMR menuju air terjun kecil yg katanya indah. Rute nya melewati pesawahan, lalu menapaki jalan yg di kanannya mengalir air dari mata air yg terlihat bening. Kemudian kami menjelajahi sungah, meloncati bebatuan, menemui banyak serangka yg terbang di atas air ataupun berenang. Hingga tibalah kami di air terjun tersebut. Suara gemercik airnya menyegarkan fikiran, membebaskan diri dari penat rutinitas belajar mingguan.

Sepertinya pengalaman menjejaki sungai itu sangat berkesan, sehingga saya memimpikan penjelajahan yg lebih menakjubkan lagi. Dlm mimpi itu saya menemukan gua yg tersembunyi di balik sungai. Gua itu mengarah ke Ranggawulung. Mimpi itu terasa sangat nyata, bahkan hingga saat ini. Hampir saja saya meyakini mimpi itu sebagai sesuatu yg benar adanya.

Saya bersyukur karena saat itu tdk mengalami musibah sebagaimana dialami oleh para siswa tsb. Tdk bisa membayangkan betapa ngerinya bila musibah semacam itu menimpa saya dan teman-teman. Semoga dlm setiap hobi yg kita jalani, kita senantiasa dilindungi Nya, bersama orang2 yg mengawasi resiko, dan tdk lupa selalu mengingat Nya di awal dan akhir perjalanan.

http://rindacahyana.sttgarut.ac.id/2020/02/anak-asuhan-sungai.html

Keberadaan Teori dan Praktik Pancasila



Keberadaan praktik moral dlm kenyataan, bersandar pada keberadaan pengamalannya; tetapi keberadaan teori moral tdk bersandar kpd keberadaan para pengamalnya. Ada atau tdk ada para pengamalnya, teori itu ada sejak ia dinyatakan hingga ia dilupakan.

Pancasila bukanlah agama dan tdk satu level utk disejajarkan. Pancasila adalah 5 prinsip berkehidupan yg dianggap dapat mewujudkan dan sekaligus kompatibel dgn karakteristik umum bangsa Indonesia. Sumber penggalian prinsipnya adalah dari mana bangsa Indonesia memperoleh karakter tsb, yakni kearifan lokal bangsa Indonesia, baik agama dan selainnya.

Membuktikan Pancasila sebagai prinsip yg benar berdasarkan keberadaan manusia Indonesia yg dapat menjadi "Kearifan Lokal Indonesia yg Hidup" sangatlah berlebihan. Pancasila bukanlah agama atau kitab suci, dan tdk ada satupun manusia Indonesia yg diutus Tuhan utk menjadi "Pancasila yg Hidup", sebagaimana Nabi SAW yg merupakan al-Quran yg Hidup. Selalu pasti ada cacat cela pada diri pemimpin manusia biasa, baik besar ataupun kecil, terbuka ataupun tertutupi.

Menjadikan Islam sebagai dasar negara belum tentu melahirkan pemimpin yg moralnya sejalan dgn Islam, baik di depan rakyatnya, ataupun di ruang private di antara kalangannya sendiri. Bahkan sebelum dikatakan menyalahi moral Islam oleh kalangannya, pemimpin tsb sangat mungkin dikatakan menyalahi moral oleh lawan politiknya. Oleh krn nya, sangat perlu juga utk mempertanyakan kembali kpd mereka yg mempertanyakan pengamalan moral, pengamalan menurut teori atau penafsiran siapa?

Bangsa yg bersepakat utk hidup bersama di bawah prinsip berkehidupan yg benar menurut kearifan lokal yg diyakininya telah berpijak pada titik awal perjalanan yg benar. Manusia yg dlm berkehidupannya senantiasa berpegang pada kearifan lokal, tdk akan dapat hidup bersama atau tdk akan berikatan dgn kokoh bila kearifan lokal yg menjadi pegangannya tdk diakomodasi dlm prinsip berkehidupan bersama yg disepakati bersama. Timbul tenggelamnya penerapan kearifan lokal dlm keseharian hidup merupakan dinamika peradaban, dan para penjaga kearifan lokal lah yg senantiasa hadir menjaga warisan kearifan lokalnya agar tetap ada dan menjadi pegangan.

17 Februari 2020

Memperhatikan Kesan Turis akan Kebersihan Kota


Saat macet di dekat jembatan kereta jln Ciwalen, saya sempat memotret bak sampah yg berada di bahu jalan. Jalanan menjadi tersendat krn terjadi penyempitan jalan yg disebabkan oleh hambatan yg ada di bahu jalan kiri dan kanan, yakni bak sampah dan tumpukan batu proyek reaktivasi Kereta Api. Kendaraan yg lewat jembatan tsb harus giliran melalui jalan yg hanya cukup utk dilewati satu mobil tsb. 

Rupanya bak sampah yg diletakan di bahu jalan bukan hanya di sana saja. Ada beberapa titik di seputaran kota yg saya lihat kondisinya demikian. Terbayang apa yg ada di dalam benak turis asing dari negara maju saat melewati jalanan tsb. Jadi teringat mahasiswa Korea Selatan yg sangat sensitif thd sesuatu yg kotor. Mereka mungkin akan merasa sangat jijik saat melewati bak sampah di jalanan. 

Yg dikhawatirkan dari kondisi tsb adalah kesan tersebut digeneralisir sehingga pendatang dari negara maju menyimpulkan secara keseluruhan tempat yg mereka kunjungi itu jorok, dan mereka tdk berani nyicipi makanan yg dijajakan pedagang kecil yg menjajakan dagangannya bukan di mall atau kios yg besar. Kalau kondisinya demikian, para pedagang kecil mungkin tdk akan mendapat manfaat dari kehadiran pendatang dari negara maju selain sebatas jadi objek foto saja. Jadi teringat mahasiswa Korea Selatan yg enggan meminum air di warung pinggir jalan yg menurut kita relatif bersih. 

Tetapi semoga itu hanya anomali saja, tdk semua pendatang dari negara maju seperti itu. Tetapi tdk salah juga bila kita memperhatikan cara kita mengelola kebersihan utk membuka peluang adanya kesan dlm benak para turis bahwa kota kita ini bersih, sehingga turis merasa nyaman melewati jalanan kota serta mencicipi makanan dan minuman di lapak2 pedagang kecil.

14 Februari 2020

Memahami Makna Agama yg Menjadi Musuh Pancasila secara Kontekstual



Sedang ramai ghibah masal di medsos ttg pernyataan pejabat publik. Tdk sedikit ghibah tsb dibumbui caci maki, tdk hanya kpd pribadi pejabat tsb, tetapi juga kpd setiap netizen yg berusaha menyampaikan pemahaman positifnya thd pernyataan tsb. Seakan tdk senang kalau kesempatan utk menghujat pribadi dan pemerintah itu dihambat.

Siang tadi bahkan terlihat satu konten grafis di salah satu grup FB yg menyandingkan pejabat tsb dgn tokoh komunis, lengkap dgn kalimatnya. Hal tsb menggambarkan adanya upaya kelompok tertentu utk menggiring opini publik agar ucapan tsb dianggap buah fikir komunisme. Mungkin mereka berharap agar publik meyakini pemerintah ini menyokong komunisme, sebagaimana propaganda yg banyak disebarkannya beberapa tahun ke belakang. Sungguh miris.

Ucapan pejabat tsb dibuat judul di media dgn judul "Agama Jadi Musuh Terbesar Pancasila". Saya mencoba memahami pernyataan beliau secara kontekstual dgn mencermati pernyataan lengkapnya. Bagi yg tdk suka dgn hasilnya nanti, saya meminta maaf. Tdk semua orang bisa saya puaskan. 

Dalam salah satu media, saya menemukan kutipan pernyataan beliau demikian: "Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila"

Beliau menjelaskan siapa kelompok yg dimaksud: "Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas, ini yang berbahaya".

Hal berbahaya yg dianggap oleh beliau melawan Pancasila adalah sikap memaksakan kehendak. Beliau mengungkapkan hal kebalikannya sebagaimana dikutip oleh media, "Sebagai kelompok mayoritas yang sebenarnya, NU dan Muhammadiyah mendukung Pancasila. Kedua ormas ini tak pernah memaksakan kehendak."

Bagaimana kelompok minoritas ini memaksakan kehendak? Beliau menjelaskan bahwa "Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden". Tdk ada yg salah dgn membuat Ijtima tsb.

Namun kesalahan tsb barangkali muncul saat Ijtima digunakan utk memaksakan kehendak. Beliau nampaknya menyimpulkan adanya kondisi pemaksaan kehendak tsb berdasarkan indikasi adanya kekecewaan dlm diri kelompok tsb saat politisi yg disokongnya menafikan manuver tsb. Media mengutip pernyataan beliau, "Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politisi yang disokongnya mereka pun kecewa".

Ijtima merupakan urusan agama. Saya mengira yg dimaksud oleh beliau dgn "mereduksi agama" adalah menjadikan Ijtima tsb utk memaksakan kehendak. Dlm pemahaman beliau, sikap memaksakan kehendak itu tdk sejalan dgn nilai Pancasila. Sementara Pancasila itu selaras dgn Agama. Artinya, sikap memaksakan kehendak tsb bukan hanya tdk sejalan dgn Pancasila tetapi juga dgn Agama.

Saya meyakini pemahaman beliau demikian krn beliau menyatakan bahwa ormas mayoritas seperti NU dan Muhammadiyah yg mendukung Pancasila, tdk bersikap memaksakan kehendak seperti yg dilakukan oleh kelompok minoritas tsb. Mendukung dapat berarti selaras. Siapapun yg selaras dgn Pancasila tdk akan memaksakan kehendaknya dgn tindakan mereduksi agama atau lainnya.

Dari sanalah beliau membuat kalimat ringkasnya, "Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama" yg direduksi oleh si minoritas utk melawan nilai Pancasila, yakni musyawarah yg tdk ada pemaksaan kehendak di dalamnya. 

Berdasarkan konteks paparan beliau tsb, saya memahami bahwa yg dimaksud agama oleh beliau adalah agama yg direduksi dgn adanya pemaksaan kehendak. Agama seakan membolehkan pemaksaan kehendak, padahal agama tdk membolehkannya krn melawan prinsip musyawarah.

Agama menurut KBBI adalah ajaran. Dan saya memahami dari tafsir al-Fatihah bahwa ajaran Allah SWT bisa disimpangkan ke kanan dan ke kiri. Ajaran yg disimpangkan manusia itu tdk lagi disebut sebagai ajaran Nya. Oleh karenanya, agama atau ajaran yg dimaksud oleh beliau bukanlah agama atau ajaran Islam, tetapi ajaran yg telah direduksi sehingga menyalahi ajaran Islam. Ajaran atau agama yg direduksi demikian itu bukanlah agama Islam, tetapi ajaran atau agama yg menjadi musuh Pancasila. Agama Islam itu menyokong Pancasila.

Beliau meyakini adanya keselarasan Pancasila dgn Agama sehingga Pancasila dianggapnya religius, "Konsep Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia, merupakan anugerah terbesar dari Tuhan. Dari sisi sumber dan tujuan, Pancasila itu relijius karena kelima sila yang terkandung di dalamnya dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional di republik ini".

Dengan pemahaman demikian itu, tdk mungkin beliau berpandangan agama atau ajaran yg selaras dgn Pancasila itu merupakan musuh besar Pancasila. Dan menjadi yakin bahwa agama atau ajaran yg dimaksud oleh beliau sebagai musuh Pancasila adalah ajaran yg direduksi sehingga menyalahi ajaran itu sendiri. Karena penyimpangan dari ajaran sebenarnya yg menyokong Pancasila itulah ajaran yg menyimpang ini menjadi musuh Pancasila.

Pernyataan beliau yg memiliki keilmuan dan reputasi jabatan akademik tinggi tdk bisa difahami secara tekstualis hanya dgn membaca judul atau penggalan video, tetapi harus dilihat konteksnya. Bila ada yg telah berusaha memahami berdasarkan konteksnya, dan hasilnya berbeda dgn saya, hal tsb sama sekali tdk mengherankan. Setiap orang mendapat rejekinya yg telah ditentukan oleh Yg Maha Pemberi Rejeki. 

Wallahua'lam.

12 Januari 2020

Bertetangga dengan Kucing


Sepasang kucing suka datang tiap hari dgn menuruni tangga utk meminta sesuap daging kpd kami. Kucing betinanya sekarang sedang hamil, paling rewel kalau lihat orang buka tutup meja makan. Kucing tsb paling disayang sama anak bungsu, sampai pernah nangis saat kucingnya sakit. Kucing jantannya seperti biasa tdk banyak mengeong, atau mungkin tdk bisa mengeong, tapi paling sigap ngambil makanan. 

Anaknya suka tidur di atas tumpukan ban yg ada di Garasi. Dia tdk tahu rute jalan ke atas yg dipake induknya utk mendapat sesuap daging dari kami. Di musim kemarau, anak-anak lainnya dari dua pasangan tsb menjadi penghuni saluran air yg bagian atasnya tertutup beton jalan. Dua anak kucing berwarna oranye suka keluar dan main di jalanan kompleks.

Kalau dihitung, ada 7 kucing yg suka mendatangi atau tinggal di kompleks rumah. Ada dua yg berbulu hitam lebat, yakni induk jantan dan anak jantannya. Anak jantan itu tumbuh bersama kembarannya dan lahir di atas atap rumah. Saya hanya melihat salah satunya saja yg sekarang ini tumbuh hingga dewasa. Dan seperti dulu saat masih kecil, dia berkarakter kucing liar yg tdk mau dekat-dekat dgn manusia. Padahal bulunya yg lebat menposisikannya sebagai potensial kucing rumahan.

Dulu orang merasa senang dgn adanya kucing, katanya biar tdk ada tikus di rumah. Tapi sekarang ini saya lihat kucing tdk terlalu agresif dgn tikus, atau kejar2an selayaknya T&G. Pernah sekali waktu saat hendak keluar dari kompleks, saya tengok seekor kucing berpapasan dgn tikus sebesar anaknya. Mereka cuma pandang2an, lewat, dan tdk terjadi apapun 😅

Nabi SAW bersabda yg artinya, "di dalam setiap apa yg bernyawa ada pahalanya" (HR Bukhori dan Muslim)


Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.”

06 Januari 2020

Menggerutu itu Manusiawi


Sore tadi saya menyempatkan pergi ke bengkel Yamaha utk membeli sparepart. Setibanya di lokasi, lampu tanda kiri kendaraan pun dinyalakan. Kendaraan dimundurkan sedikit supaya tdk menghalangi konsumen Yamaha yg mau masuk ke bengkel. Dari samping muncul bapak muda pengendara motor ke arah depan yg terlihat menggerutu. Hal tsb membuat saya ikut menggerutu juga, heran dgn kondisi bapak tsb yg tdk sabar menunggu saya selesai memarkirkan kendaraan.

Saya bukakan sedikit jendela utk bertanya apa yg sedang disampaikannya tsb. Tapi bapaknya langsung masuk ke dalam bengkel, mendatangi dan ngobrol dgn teknisi di sana. Dlm hati saya berkata, "oh, mungkin disangkanya saya tdk akan berhenti dan tdk ada keperluan di bengkel yg sama".

Saya pun ke luar dari kendaraan, menuju ke arah bapak tsb. Di dalam hati ada niatan utk menanyakan apa yg disampaikan barusan oleh bapak tsb. Tapi saya memutuskan utk tdk melakukannya, memperhatikan kondisi saya yg emosi sebelumnya, walau sekarang sedikit mereda. Perbuatan yg dilakukan dlm liputan emosi, sekecil apapun, tdk akan berbuah baik kalau diperturutkan. Saya rasa, tdk ada informasi penting juga dari dumelannya yg perlu dikonsumsi. Roman bapaknya juga sudah berseri-seri saat saya lewat dihadapannya.

Saya pun langsung menuju teknisi dan menanyakan sparepart yg diperlukan. Alhamdulillah semuanya tersedia. Dari kampus tadi niat saya memang membeli sparepart di bengkel Yamaha. Bila ada sesuatu yg penting di dlm perjalanannya, saya pasti berusaha utk menangkap dan menyimpannya. Sesuatu yg tdk penting, cukup diambil hikmahnya saja.

Seharian tadi suasana hati ini memang tdk terlalu baik. Mungkin krn lelah dgn masalah motor yg tdk tuntas sampai larut malam tadi. Saat kolega di ruang rapat mengatakan kalau anak informatika itu moody, dgn mencontohkan kpd saya; dgn tanpa beban saya iyakan saja. Saya fikir memang no body perfect; setiap orang lulusan bidang apapun pastinya tdk bisa selalu menyenangkan orang lain, adakalanya membuat orang lain jengkel. Bukan hanya anak informatika.

Namanya juga manusia, suasana hati manusia bisa berubah dan bisa menggerutu. Lah iman saja yazidu wa yankush, hehehe. Setelah melewati banyak pengalaman, saya memahami bhw bila diri ini sedang moody, saya sebagai pemimpin diri hrs dpt memimpin diri ini hingga beroleh manfaat dari diri, bukan malah larut dlm moody diri yg tdk bermanfaat.

Perumpamaannya seperti kendaraan. Tdk setiap saat kendaraan yg saya kendarai kondisinya baik. Sebagai pengendara, saya hrs dpt menyetir dgn baik dan aman, serta memperoleh manfaat dari kendaraan yg kondisi baik dan dari kendaraan yg kondisinya buruk. Menuntut kendaraan yg kondisinya buruk agar baik saat dikendarai itu kekanak2an. Cukup fokus saja bagaimana agar dlm kondisi demikian ada banyak manfaat yg bisa diperoleh. Lebih baik lagi bila manfaat tsb membuat kita mampu memperbaiki kendaraannya.

Teorinya mudah, tetapi menerapkannya bukan perkara mudah, perlu jihad besar. Cukup tetap mengingat bahwa kita hanya manusia biasa.

02 Januari 2020

Jangan Bodoh dan Takabur atas Nama Agama

Jangan bersikap bodoh dengan menyalahkan mereka yang menyalakan kembang api atas datangnya hujan yg menimbulkan banjir di banyak tempat.


Jangan bersikap takabur, merasa diri paling suci, menganggap mereka semua yang keluar mendatangi tempat hiburan penghujung tahun sebagai orang-orang yang sedang bermaksiat, sehingga merasa berhak mencegahnya dengan mengharap turunnya hujan dan bergembira dengan kedatangan air dari langit yang besar.


Terompet-terompet yang dibunyikan itu tidak dibuat untuk prosesi keagamaan; dan perayaan tahun baru dalam peradaban manusia sudah lama tidak selalu dihubungkan dengan prosesi keagamaan dan sudah tidak lagi dianggap milik umat Masehi. Mereka yg tdk beragama Masehi merayakan pergantian tahunnya dan bukan merayakan kelahiran yesusnya. Seyogyanya setiap orang alam fikirnya hadir dalam peradaban manusia kekinian dan tidak terjebak pada peradaban yang sudah lama berlalu.


Jaman sekarang, ustadz jadi-jadian banyak yg dipercaya. Saat ustadznya ustadz di Universitas al-Azhar Mesir mengucapkan selamat Natal, eh ini malah ikut ustadz gadungan yang menyalah-nyalahkan hingga mengkafirkan muslim yang mengucapkan selamat natal.

Pada tahun 1899, RA Kartini pernah berfikir, bahwa agama seharusnya mencegah dari perbuatan dosa, tapi kenyataannya banyak dosa dilakukan atas nama agama. Kenyataan demikian masih kita lihat hingga kini. Ada banyak orang yang bersikap bodoh dan takabur dengan mengatasnamakan agama.

01 Januari 2020

Konten Bisa Merubah Sikap Anak


Sebelumnya Syazwan males salat 5 waktu. Saya tdk bertindak kasar sekalipun usianya sudah lebih dari 7 tahun. Saya dan ibunya hanya bisa ngomel bila Syazwan males salat.

Suatu ketika saya menemukan video ceramah di FB yg membahas ular yg mendatangi orang yg melalaikan salat wajib. Video tersebut saya tunjukan kepada Syazwan seraya menyampaikan pesan agar ia jgn meninggalkan salat wajib bila tdk mau didatangi ular tersebut. Dia merasa takut dan tdk mau melanjutkan nontonnya. Tetapi setelah itu Syazwan menjadi rajin salat. Walau bangun kesiangan, ia selalu bertanya apakah masih bisa salat subuh?

Hal takut tersebut sama seperti yg saya rasakan sewaktu kecil dulu. Pernah suatu ketika mamah dan teteh ngobrol di loteng rumah. Obrolannya seputar cerita siksa kubur. Saya mendengarkannya sambil bolak balik naik turun tangga. Saat ketakutan saya turun tangga.