Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

09 Agustus 2020

Arti Penting Jalinan Silaturahmi antara Kampus Dengan Masyarakat


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Bila kampus melakukan amal baik kepada masyarakat, insya Allah masyarakat akan mengingatnya, membicarakanya, dan mungkin terus menjalin hubungan silaturahmi demi saling memberi manfaat secara berkelanjutan. Bila ada kepentingan menjaga hubungan silaturahmi, pastinya ada kepentingan utk saling tahu domisili. Dari sanalah kampus dan lokasinya menjadi dikenal masyarakat.

Dan tentu saja masyarakat akan sangat mensyukuri segala nilai yg telah diwariskan kampus melalui sivitas akademiknya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR. Thabrani).

Di antara wujud rezeki bagi kampus adalah mahasiswa baru, dan wujud panjang umur adalah eksistensi kampus. Semua itu dicapai dgn silaturahmi. "Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (H.R. Bukhari Muslim)

31 Juli 2020

Nalar di Pusaran Rasa


Nalar itu kalau lihat Kamus Besar, maknanya aktivitas yg memungkinkan seseorang berfikir logis. Bernalar artinya berfikir logis. Menguji kelogisan pernyataan seseorang itu cukup dgn cara membawanya ke alam realita, membebaskannya dari belenggu rasa apapun (suka atau benci). Belenggu rasa bisa membuat kita tdk bernalar; seperti misalnya cinta atau benci yg membuat kita buta tuli.

Menjadi bernalar bagi pencari kebenaran itu sejatinya tdk perlu dipengaruhi oleh keberpihakan nalar. Hanya orang sombong yg berpaling dari semua nalar yg tdk sesuai dgn kecenderungannya. Orang yg sombong itu berpaling dari kebenaran yg ia tdk cenderung kpd nya. Orang dgn tipikal demikian bisa membangun nalarnya di luar alam realita sebab perasaan yg membelenggunya berada di alam lain.

Mari kita uji nalar kita dgn realita. Bila vaksin Covid-19 dari negara Cina berhasil diproduksi Indonesia, Banglades, Brasil, Uni Emirat Arab, atau negara lainnya, maka vaksin tsb tersedia bagi umat manusia, khususnya mereka yg berada di mana vaksin itu telah disesuaikan dgn kondisi lokal, sekalipun di awal produksinya ada skala prioritas bagi tenaga medis. Manusia dapat memilih utk mencoba produk vaksin tsb sehingga menjadi kebal; atau seperti sekarang ini dgn membiarkan dirinya terpapar virus dan menjalani pengobatan hingga sembuh. Manusia yg mencoba vaksinnya bisa siapa saja, tdk perlu mengaku pendukung siapa, atau paling mengaku apa. Apakah penjelasan tsb tdk cukup logis bagi mereka yg merasa telah bernalar?

Vaksin disediakan utk kepentingan kemanusiaan bukan politik. Di manakah nalar orang yg membawa urusan kemanusiaan ini menjadi komoditas politik, membelakangi kemanusiaan demi memperturutkan kecenderungan / hawa nafsu politis partisannya? Hanya dgn membebaskan diri dari hawa nafsu politis partisan saja kita bisa melihat kehinaan pernyataan yg meletakan kemanusiaan di bawah hawa nafsu tsb.

30 Juli 2020

Wahai Ayah Bunda, Tidak Perlu Mengeluh bila Anak Belajar di Rumah


Saat rumah menjadi pusat pendidikan anak di masa bencana, hal tsb hrs menjadi kesempatan bagi kita selaku orang tua utk mengingatkan diri sendiri, bhw pendidikan anak itu merupakan tugas orang tua, baik dgn atau tanpa tambahan pendidikan di luar rumah; dan rumah tangga merupakan tulang punggung bangsa & negara. Orang tua adalah guru pertama anak, di mana dari orang tua lah anak pertama kali meniru perilaku sehingga mewarisi budi dan bahasanya. 

Bila orang tua merasa kesulitan mendidik anak di rumah, jgn melemparkan masalah & kekesalannya kpd para guru di luar rumah. Ketidakmampuan hrs dientaskan dgn belajar. Bila kita selaku orang tua tdk menguasai materi sekolah yg dipelajari anak, kita masih bisa belajar bersama orang tua lainnya dan kpd gurunya, bahu bahu membahu utk dapat membantu proses pembelajaran anak & melaksanakan pengasuhannya. Orang tua sebagaimana anak hrs terus melaksanakan pembelajaran sampai akhir hayat.

19 Juli 2020

Geliat Pariwisata Garut dan Isu Protokol Kesehatan

Hari ini saya melewati jalan menuju arah Nagreg. Tadinya mau memenuhi undangan pertemuan jejaring pertemanan Medsos di RM Cibiuk, namun juru parkirnya bilang tdk ada ruang parkir kendaraan yg tersisa. Katanya di dalam sedang ada kumpulan komunitas mobil tertentu.

Ada banyak RM di sepanjang jalan yg area parkirnya dipenuhi oleh kendaraan. Nampak banyak mobil memenuhi ruang parkir RM Astro hingga membludak ke luar gerbang. Biasanya kalau lewat atau singgah di sana, ruang parkir di dalam gerbang masih memadai. Rupanya industri pariwisata di Garut sudah mulai menggeliat.

Karena sudah lewat dzuhur, saya pun menepikan kendaraan di RM yg nampak selalu ramai dikunjungi kalau kebetulan lewat sana. Nampak tdk ada protokol kesehatan yg dijalankan, seperti pengecekan suhu, fasilitas cuci tangan di luar pintu, dan jaga jarak. Agak riskan juga di dalam sana mengingat para pengunjungnya bukan hanya masyarakt Garut yg sudah berada di zona hijau. 

Sepertinya agak sulit bagi RM nya utk mengendalikan pengunjung agar hanya setengah daya tampungnya saja. Tdk ada orang khusus yg melaksanakan fungsi kendalinya. Hampir semua pelayan tanpa masker itu sibuk melayani pengunjung yg tdk hentinya keluar masuk rumah makan laris tsb. 

Semoga para penghantar makanan yg hilir mudik melayani pelanggan dan juru parkir tanpa masker itu tetap terjaga kesehatannya. Usaha menjaga rejeki kesehatan sama pentingnya dgn usaha menambah rejeki materi.

14 Juli 2020

Meningkatkan Kapasitas Guru SMKN 2 Garut



Tanggal 13 Juli 2020 adalah hari terakhir kegiatan Pelatihan Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Pagi itu saya harus menyelang sebentar ke SMKN 2 Garut untuk menyampaikan materi seputar Google Classroom. Kegiatan di sekolah tersebut tidak bisa saya lewatkan mengingat undangannya telah lebih dulu datang sebelum undangan dari Kementrian. Saya langsung berangkat dari Hotel Harmoni Garut. Malam itu saya menginap di sana setelah saya memfasilitasi materi Online Marketplace hingga pukul 9 malam. 


Kegiatan yang saya hadiri di SMKN 2 Garut adalah IHT (In House Training) dengan judul Adaptasi Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal. Sesuai surat permintaan bantuan yang dikirimkan oleh kepala sekolahnya kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya harus menjadi pengajar yang menyampaikan materi kepada peserta. Beberapa hari sebelumnya, sebelum kegiatan tiga hari Kementrian dilaksanakan, saya telah merampungkan buku saku Google Classroom dalam format pdf untuk dibagikan kepada para guru yang menjadi peserta IHT. Malam itu di kamar hotel, saya siapkan slide presentasi materi Pengantar IHT nya. Lumayan melelahkan karena maraton dengan kegiatan Kementrian, tetapi harus saya kerjakan agar berbuah manfaat sedekah ilmu yang banyak.

Dalam kesempatan tersebut, saya menjelaskan kepada para Guru yang menjadi peserta kegiatan IHT bahwa karakteristik pribumi digital yang dimiliki oleh peserta didik merupakan kekuatan dalam penerapan teknologi pembelajaran jarak jauh. Tuntutan untuk mengarahkan peserta didik menjadi CAKAP (Cerdas, Kreatif, dan Produktif) dalam memanfaatkan teknologi informasi menjadi kesempatan dalam pemanfaatannya. Saya menunjukan beberapa contoh kasus pelanggaran UU ITE oleh siswa, guru, dan kepala sekolah di beberapa daerah sebagai sampel kelemahan komunitas akademik dalam pemanfaatan internet. Kelemahan lainnya yang saya tunjukan adalah persebaran internet hotspot yang belum merata di wilayah Garut yang harus menjadi perhatian para guru. Menurut pendapat saya, guru memiliki kewajiban untuk mengingatkan peserta didiknya agar dapat memenuhi dasar etika jaringan semata karena tanggung jawabnya selaku penyelenggara kegiatan pembelajaran di internet. Lembaga pendidikan seyogyanya memastikan peserta didik yang berada di zona internet blank spot agar dapat mengikuti pembelajaran daring, agar hak belajarnya terpenuhi.

   
Slide presentasi dapat diunduh di sini
Buku Saku Google Classroom dapat diunduh di sini
 
   

11 Juli 2020

Membantu Kemenkopukm RI Mengembangkan Kapasitas UMKM



Hari Sabtu, 11 Juli 2020 merupakan hari pertama Pelatihan Kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Kementrian Koperasi dan UKM di mana saya terlibat di dalamnya sebagai pemateri. Malam hari sebelumnya, tanggal 9 Juli 2020, pak Yadi dari Dinas Koperasi dan UKM kabupaten Garut menghubungi dan memberitahukan bahwa saya diminta untuk menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Sebagai dosen yang memiliki kewajiban pengabdian saya menerima permintaan bantuan dari pemerintah tersebut.   

Pada tanggal 10 Juli 2020, saya bertemu dengan tim pemateri akademisi lainnya, yakni ibu Urip dan pak Hendro dari STIE Yasa Anggana Garut. Pertemuan tersebut dilaksanakan untuk merumuskan lingkup materi yang akan disampaikan kepada peserta. Saat itu saya menyanggupi untuk membuatkan formulir online test bagi peserta. Peserta akan mengisi formulir tersebut sebelum dan setelah kegiatan. Data yang terkumpul digunakan untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. 


Di hari pertama itu saya tidak mengikuti kegiatan pembukaannya sehubungan harus memberikan materi pembekalan kepada peserta KKN di kampus. Acara pembekalan tsb sudah lebih dulu diagendakan sebelum undangan dari Dinas diterima. 

Saya berusaha merampungkan formulir test pelatihan di sela-sela pembekalan. Selepas acara, saya bergegas menuju Hotel Harmoni, tempat di mana kegiatan Pelatihan dilaksanakan, bergabung dgn tim pemateri akademisi untuk memastikan kelancaran pre-test dan merekap hasilnya.


Pada hari itu pula anak bungsu saya ulang tahun. Istri mengingatkan melalui Whatsapp supaya saya tidak lupa dengan hari penting tersebut. Syukurlah sore hari pemateri akademisi bisa pulang. Saya bergegas pulang menuju rumah dan menemui istri yang tengah bersiap memberikan kejutan kue ulang tahun bagi anak bungsu.

Akhirnya seremoni ulang tahun pun dilaksanakan pada waktu sore menjelang Maghrib. Anak bungsu terlihat senang dengan kuenya karena bergambarkan Sonic, karakter kartun yang disukainya.


Beberapa bulan yang lalu anak saya menyampaikan keinginannya untuk menginap di hotel. Kebetulan panitia pelatihan memberikan fasilitas kamar hotel bagi pemateri untuk menginap. Malam itu saya ajak keluarga menginap di hotel. Anak bungsu nampak senang karena keinginannya terwujud di hari istimewanya. Ini memang sudah rejekinya dari Yang Maha Mengatur.

Kegiatan ini terasa melelahkan karena tiga sebab. Pertama, karena undangan tersebut sangat mendadak sehingga saya harus menyiapkan materi dengan waktu yang tidak banyak. Kedua, karena dalam waktu bersamaan saya harus menyiapkan buku saku dan slide pengantarnya untuk kegiatan In House Training yang diselenggarakan oleh SMKN 2 Garut. Ketiga, karena maag kronis saya belum sembuh. Kehadiran keluarga dan mamah yang melakukan pemanggilan video Whatsapp di kamar hotel pada hari pertama itu sangat menghibur. 

Di hari kedua, selepas menjadi fasilitator hingga pukul 9 malam, saya menginap sendiri. Saya meras lelahan saat memasukan data kuesioner manual dari peserta yang tidak membawa smartphone ke formulir test. Setelah selesai, hasilnya saya sampaikan kepada panitia. 


Akhirnya Pelatihan selesai di hari ketiga selepas Ashar. Acara tersebut ditutup oleh kepala Dinas. Tidak lupa kami berfoto sebagai bukti kegiatan. Agak risi juga karena harus foto berdekatan, sekalipun sudah mengenakan masker. Sepanjang kegiatan, kecuali saat menjadi pemateri, saya selalu mengenakan masker. Bagian yg akan disentuh oleh saya disemprot dgn sanitizer.

Di tengah perjalanan pulang, ibu Urip menghubungi dan mengajak saya untuk menemani pak Hendro mencicipi Soto di Simpang Lima. Sotonya gratis karena dibayari oleh ibu Urip. Makan bersama di akhir kegiatan pengabdian seperti ini merupakan kebiasaan saya besama kolega di kampus.

 
Tahun ini gaji 13 diundurkan pencairannya oleh pemerintah. Gaji tersebut sangat penting bagi ASN seperti saya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak. Alhamdulillah, Allah mengaruniakan rejeki yang tidak disangka-sangka dari Pelatihan ini, sehingga kebutuhan sekolah anak bisa tercukupi.  

03 Juli 2020

Bukan karena Cita-cita


Selepas SMA, bapak memasukan saya ke test masuk STPDN. Pertimbangannya adalah krn sekolahnya gratis, dan setelah lulus bisa jadi PNS. Saya memutuskan utk berhenti dari tesnya krn ada hal yg saat itu saya anggap tdk sejalan dgn nilai agama, seperti berdiri telanjang di atas meja utk pemeriksaan kesehatan dgn dilihat oleh banyak peserta lain yg juga dlm kondisi telanjang.

Selepas itu sempat daftar masuk informatika ITB dan manajemen industri IPB, tapi mungkin krn kurang persiapan krn waktu tersita oleh tes STPDN, atau krn peminatnya membludak, saya tdk diterima masuk di sana. Intinya, belum rejekinya masuk dua kampus tsb.

Orang tua kemudian memasukan saya ke kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut yg saat itu muatan pembelajaran agamanya sangat banyak. Mata kuliah agamanya dari semester I sampai VI. Pembelajaran agamanya ditambah selepas Maghrib dan Subuh di ponpes kampus. Pemahaman agama ini menjadi lebih terhubung sanad keilmuannya dan akademis.

Selepas kuliah, saya ikutan tes CPNS Pemkab Garut bareng teman utk bidang informatika. Tesnya tdk pernah saya ikuti krn surat panggilannya tertahan di teman tsb. Saya tdk marah dan menganggapnya angin lalu.

Saya mulai mengajar di kampus setelah ditawari oleh pak kyai yg saat itu menjabat pimpinan kampus dan bu guru yg saat itu menjabat kaprodi. Saya tdk menolak pekerjaan tsb, tetapi juga tdk memberi kepastian tetap akan bekerja di Garut. 

Sempat melamar ke perusahaan Multi-Nasional di Jakpus dan diterima, tetapi memilih pulang lagi ke kampus krn pertimbangan spirituil. Saat itu saya berfikir, lebih baik bekerja di lingkungan yg sejuk walau gajinya tdk sebanyak di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian, setelah dua tahun menjadi asisten dosen dan diberi info penerimaan CPNS di Kemendikbud RI oleh teman, saya berniat memberi tahu info tsb kpd para guru di kampus. Tapi kemudian malah ikut daftar. Sempat mau mundur dari tesnya, tapi dinasihati oleh guru utk melanjutkannya, sehingga akhirnya diterima masuk CPNS. Dan atas usaha pak kyai, alhamdulillah jadi diperbantukannya di almamater.

Orang tua tentunya senang, sebab akhirnya PNS menjadi pekerjaan kedua anaknya di tahun yg sama, dan sama2 di lembaga pendidikan bidang informatika, hanya jenjangnya saja yg berbeda. Anak lelakinya tdk perlu menjadi PNS melalui jalan yg ada pukulan fisiknya. Bila sdh ditakdirkan, pekerjaan itu tdk akan ke mana. Dan semuanya terwujud krn kesungguhan orang tua dlm mencerdaskan kehidupan anak-anaknya dgn doa dan usaha. 

Jalan karir saya memang tdk selancar kakak yg satu angkatan PNS nya. Utk naik ke golongan III/b saya hrs kuliah S2 dulu. Dan utk naik ke golongan IV seperti kakak, saya hrs kuliah S3. Kakak tdk menemui hambatan seperti itu. Ibu sempat menyarankan agar saya pindah tugas, tetapi saya memilih utk ikhlas menjalaninya. 

Orang tua sangat demokratis, membiarkan anak memilih yg terbaik dari pilihan terbaik yg ada. Orang tua mengajarkan kepemimpinan, di mana anak harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya atas diri. Hal tsb seakan kebebasan yg menyenangkan, padahal merupakan beban yg besar. Sebab anak hrs bersikap amanah thd kebebasan memilih yg diberikan oleh orang tuanya, tdk mengecewakan orang tuanya.

Saya dapat mensyukuri nikmat ilmu di almamater dgn berkontribusi apapun, seperti membawa mahasiswa asing ke kampus dan membawa mahasiswa kampus ke luar negeri. Nikmat itu ditambah oleh almamater dlm wujud bantuan biaya kuliah saat menempuh pascasarjana di ITB. Allah membukakan jalan mensyukurinya dgn membangun Unit Kerja Sistem Informasi, sesuai konsentrasi bidang ilmu komputasi saya di ITB. Sekarang unit kerja tsb sudah masuk dalam struktur organisasi, dan menjadi ujung tombak pelaporan kinerja tridharma perguruan tinggi. Jalan lainnya yg terbuka selepas kuliah adalah dgn memunculkan mata kuliah pilihan Sistem Informasi dlm kurikulum baru prodi Informatika, lengkap dgn kelompok keilmuannya.

01 Juli 2020

Bekerja untuk Bersedekah


Seorang pria, sebelum ia menikah, uang yg diperolehnya dari bekerja dinikmatinya sendiri. Tetapi setelah ia menikah, uang itu ia bagikan dgn anggota keluarganya. Ia tdk merasa sedih dgn hal itu krn dua sebab, yakni sadar akan tanggung jawabnya utk menafkahi; dan sadar betapa banyaknya keuntungan akhirat yg ia peroleh dari menafkahi. Semakin banyak uang yg dicari, dan semakin banyak dikeluarkannya, semakin banyak pula pahala sedekahnya.

Harta yg dikeluarkan sebagai makanan utk mu dinilai sebagai sedekah utk mu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah (HR. Ahmad)

Kesadaran yg pertama boleh jadi terwujud krn rasa takut kpd Allah,

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya (HR. Ibnu Hibban)

Dan kesadaran kedua boleh jadi terwujud krn dorongan harap kpd Allah agar selamat dari neraka,

Selamatkan diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma (HR. Bukhari)

Dgn bekerja & menafkahi keluarga setiap hari, seorang suami mendapatkan fasilitas ampunan dosa setiap hari,

Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api (HR. At-Tirmidzi).

Dgn demikian, seorang suami yg beriman kpd Allah dan Rasul Nya senantiasa diampuni & diselamatkan oleh Allah dari neraka setiap harinya dgn karunia kemampuan dari Nya utk bekerja yg halal, mendapatkan uang, dan menafkahi setiap hari. Dan seorang istri, ikut terciprati krn membantu suami mengelola sedekahnya.

29 Juni 2020

Pengabdian adalah Branding

Dlm Pengabdian kpd Masyarakat, sivitas akademika menyengajakan diri turun ke tengah masyarakat utk memberikan manfaat  keahlian atau luaran Tridharmanya dlm rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tsb merupakan blusukan gaya akademisi yg memberi manfaat pencitraan positif bagi kampus. 

Oleh krnnya kegiatan pengabdian merupakan bagian dari promosi kampus. Kegiatannya hrs dioptimalkan utk campus branding dgn sasaran terpenting menghasilkan intimacy antara kampus dgn masyarakat, sehingga kampus semakin dikenal dan berpengaruh.

Luaran pengabdian berupa publikasi artikel berita di media masa menjadi salah satu kunci sukses promosinya, cara personal branding yg tdk boleh dilewatkan oleh kampus, selain krn memang dapat menambah nilai kinerja di SIMLITABMAS. Setiap tim pengabdi adalah branding agent yg dapat menghasilkan citra positif kampus di tengah masyarakat dan dlm persepsi pembaca media. Semakin banyak pemberitaan pengabdian, semakin kuat upaya promosinya.

Pengelolaan media daring bisa dilakukan oleh divisi khusus di bawah unit bisnis kampus. Tentunya dikelola secara profesional dgn tim redaktur dan perizinan yg lengkap. Divisi tsb bisa menjadi medium pengembangan diri mhs dlm bidang jurnalistik, laboratorium bahasa, sekaligus menyediakan kesempatan kerja bagi alumni. Hal ini dimaksudkan agar dana mengalir di dalam lingkaran kampus.

Gambar ilustrasi: Relawan TIK Abdi Masyarakat II Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

27 Juni 2020

Pancasila Tidak Hendak Diganti, Tetapi Diberi Ciri


Kalau dicermati, pd pasal 7 RUU HIP tdk ditemukan kalimat yg arahnya mengganti Pancasila dgn Trisila atau Ekasila. Yg ada adalah penetapan Trisila sebagai ciri pokok Pancasila pd ayat (2), dan Ekasila sebagai kristalisasi Trisila pd ayat (3). 

Apakah ciri merupakan sesuatu yg sama dgn Pancasila sehingga dapat berpotensi menggantikan, atau bagian dari Pancasila sehingga melengkapi wujudnya? Mari kita ambil contoh penggunaan kata ciri pd mahluk hidup. Ciri pokok mahluk hidup itu bernapas, bergerak, iritabilitas, membutuhkan makan, tumbuh berkembang, bereproduksi, adaptasi, ekskresi. Bernafas itu bukan mahluk lain selain mahluk hidup, tetapi ia adalah atribut pengenal. Sehingga kita tdk bisa mengatakan bernafas adalah mahluk lain selain mahluk hidup yg berpotensi mengancam keberadaan mahluk hidup. 

Sampai di sini, kita sdh memahami bhw Trisila dlm pasal tsb diletakan oleh perumusnya bukan sebagai Ideologi lain yg akan menggantikan Pancasila, tetapi sebagai atribut pengenal Pancasila, di mana segala wujud Pancasila tdk akan seperti Pancasila kalau tdk bercirikan Trisila tsb. Seperti wujud mahluk tdk akan seperti mahluk hidup kalau tdk bernafas dls. 

Yg menjadi persoalan adalah apakah bangsa kita menyepakati Pancasila yg tertuang dlm UUD ini dicirikan oleh Trisila seperti pendapat Sukarno yg mengajukan nama Pancasila? Bila tdk diberikan ciri, apakah Pancasila ini tdk akan ditafsirkan keluar dari apa yg disepakati bangsa? Tentunya kita khawatir Pancasila ini dibawa terlalu ke kanan atau ke kiri. Kalangan Islam tentunya tdk suka Pancasila dibawa terlalu sekuler. Cirilah yg memastikan wujud Pancasila itu ajeg.

Oleh krnnya harus ada ciri tengahnya, tdk ke kanan atau ke kiri. Tugas perumus RUU ini mencari ciri tengahnya, menyepakati beberapa di antara banyak usulan ciri dari sisi kanan dan kiri. Sementara ini, Trisila diusulkan oleh tim perumus utk menjadi ciri tengah tsb, bukan menjadi pengganti Pancasila. 

Bila di tengah jalan ada yg tdk sepakat dgn ciri tsb, tim perumus dgn sokongan pakar bisa mengusulkan ciri yg dianggap bisa diterima oleh kalangan Nasionalis, Islam, dan lainnya. Tentunya yg memusyawarahkannya adalah politisi di parlemen yg menjadi wakil rakyat. Politisi yg memilih berjuang di luar parlemen, di luar sistem demokrasi, bukanlah entitas yg terlibat dlm musyawarah, tdk perlu dijadikan ikutan oleh rakyat Indonesia.

19 Juni 2020

Suara Gelisah Nyaring saat Kuliah Daring


Ada keresahan dlm benak sebagian mahasiswa baru yg saya ajar pada semester ganjil lalu saat mereka diberi pengalaman berbeda dari kelas lainnya, yakni tugas & ujian daring. Keresahan itu di antaranya krn beragam hambatan yg dihadapi, mulai dari keterbatasan kuota data & sinyal seluler, hingga masalah perangkat. Selebihnya adalah malas, hambatan yg tdk perlu diindahkan. Saya berusaha sebisa mungkin membantu mereka menghadapi persoalan perangkat saat pelaksanaan ujian daring.

Mungkin kesulitan yg timbul dari hambatan itulah yg membuat mereka yg mudah patah semangat mengeluhkan ujian daring & menginginkan ujian luring. Walau tdk ada yg berani menyampaikan keluhannya, kabar itu sampai juga ke telinga ini. Saya merasa perlu menjelaskan kenapa mereka diberikan pengalaman tsb.

Hari itu di kelas, saya sampaikan kpd mereka bhw pengalaman demikian seharusnya tdk terlalu sulit dihadapi oleh digital native seperti mereka yg menghabiskan waktu lama di internet, dibandingkan digital migrant seperti saya. Dan pengalaman demikian bukan hal aneh di luar kampus sana. Sdh lama praktik blended learning berjalan di lingkungan perguruan tinggi. 

Sebagai digital native yg belajar di prodi informatika, mrk hrs siap dgn praktik tsb. Apalagi yg dipelajari di kelas saya adalah teknologi informasi. Praktik tentunya sama pentingnya dgn teori. Semester genap depan, kampus berencana mulai menerapkan Elearning pd beberapa mata kuliah pilihan pd prodi Informatika. Mereka hrs senang menjadi kelompok pertama yg mendapat pengalaman blended learning. 

Beberapa bulan kemudian bencana Covid-19 pun terjadi. Di tengah semester genap itu, kampus membuat keputusan utk menerapkan Elearning sesuai arahan pemerintah. Semua prodi diperintahkan utk menyelenggarakan perkuliahan seluruh mata kuliah secara daring melalui Google Classroom. Syukurlah pd semester sebelumnya, semua dosen sdh mengikuti pembekalan Elearning oleh kampus.

Semua mhs sekarang mengikuti perkuliahan secara daring, termasuk mhs baru. Mau tdk mau mereka hrs mengelola hambatan agar pembelajarannya lancar. Di kelas yg saya ampu ada beberapa mhs yg menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan pengiriman tugas yg disebabkan krn sinyal & kuota data. Saya tdk memberikan pengecualian terhadap kasus tsb dgn maksud agar mereka dapat menghadapi takdir dgn baik, tetap tersenyum & optimis dlm kegagalannya, serta berusaha utk mengejar ketertinggalan atau memperbaiki segala kekurangan dlm pengelolaan resiko. 

Tdk hanya hambatan tsb saja yg mengemuka, ternyata ada pula yg menginginkan penurunan beban belajar / SKS dgn alasan sedang bencana. Padahal jam belajarnya sekarang ini fleksibel, bisa disesuaikan dgn kesempatan masing-masing. Saya tdk mengabulkannya krn tdk ingin mereka menukar kesempatan belajar dgn kegiatan di luar belajar yg tdk ada kepastian kemanfaatannya. Cukup ditunjukan bahwa beban belajarnya sudah sesuai dgn besaran SKS dan luarannya sesuai dgn luaran pembelajaran yg tersebut dlm rencana kegiatan pembelajaran semester.

Dlm kesempatan mengerjakan tugas selama satu minggu, masih saja ada yg mengerjakannya ala kadarnya. Sepertinya belajar di rumah membuat sebagian kecil mhs menjadi lebih malas belajar. Saat kuliah luring, saya berada di hadapan mhs. Ada di antara mereka yg terlihat malas mengikuti kuliah. Bisa dibayangkan bagaimana mereka saat belajar di rumah, di mana tdk ada mata dosen yg memperhatikan.

Di penghujung perkuliahan saya sampaikan demikian kpd mereka: 

Para pembelajar semoga memahami bhw mempelajari sesuatu itu hrs dibarengi dgn keinginan yg kuat. Setiap pengalaman baru yg berhasil dilintasi dgn susah payah akan membangun kemampuan baru. Semakin bertambah kemampuan, semakin berdaya saing. Bagi pembelajar sejati, ketidakmampuan adalah masa lalu dan kemampuan adalah masa depan, pantang menghabiskan waktu dgn kemampuan yg tdk berkembang.

Pada akhirnya, mereka memperoleh apa selama satu semester sangat bengantung dgn usaha mereka sendiri. Bila Dosen memberikan petunjuk yg tdk mudah, hal tersebut utk membukakan kemampuan menyelesaikan masalah, bukan utk terjelembab dlm keluh kesah. Mengumpulkan malas dan keluh kesah itu tdk berdampak baik bagi pengetahuan, keterampilan, dan sikap calon Sarjana. 

17 Juni 2020

Memori Sayur Kacang


Teringat di masa bujang dulu sering keluar kompleks selepas jadwal ngaji di malam hari hanya utk menikmati sayur kacang di bunderan Jayaraga / Cimanuk. Saya tahu lokasi warung tsb dari teman. Dia mengatakan kalau makan di sana suka diberi nasi yg sangat banyak sekali. Sekarang ini, istri suka menyajikan sayur tsb dgn rasa yg sama, membuat saya terkenang masa bujang tsb.

Saat itu saya sering menyantap sayurnya dgn tambahan sambel terasi dan gehu (tahu berisi toge yg digoreng dlm balutan tepung). Gehu menjadi makan cukup dikenal mengingat pondok suka membagikan kudapan tsb selepas aurod setiap malam Jum'at. Walau dulu terasa nikmat, tetapi sekarang kebiasaan makan di atas jam 9 malam tsb mulai terasa mengganggu kesehatan.

13 Juni 2020

Aku dan Buku


Teringat semasa kuliah dulu bisa membeli buku Fiqh Sunnah setelah mendapat uang beasiswa PPA dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sebelumnya pd malam itu, pimpinan ponpes mahasiswa, DR Maman Abdurrahman Musaddad rahimahullah menyampaikan kabar baik di Kopontren, bhw saya akan mendapat beasiswa tsb. Persyaratan administrasinya sdh diuruskan oleh kampus. Sungguh rejeki yg tdk disangka2. 

Adanya beasiswa itu membuat isi rak buku bertambah setiap bulannya. Saat saya memutuskan tinggal di perpustakaan pondok yg blm berfungsi, buku2 itu mengisi lemarinya. Ada banyak teman yg datang utk meminjam buku, di mana sebagian bukunya ada yg tdk kembali sampai sekarang. 

Ada juga yg meminjam buku Konsep Gerakan Terpadu Ikhwanul Muslimin utk keperluan menyusun skripsi dlm bidang Pendidikan Islam. Buku tersebut meluaskan pengetahuan saya seputar gerakan Islam modern dan kultural serta interaksinya dgn kalangan nasionalis sekuler yg sebelumnya diperoleh dari bukunya Deliar Noer.

Pertama kali mengetahui Fiqh Sunnah dari ustadz Aidid. Saat ngaji fiqh, beliau suka merujuk karya Sayyid Sabiq tsb utk meluaskan wawasan kami soal keragaman mazhab. Bila tdk faham dgn apa yg saya baca dari buku tsb, saya suka menanyakannya kpd ustadz Aidid saat main malam hari selepas ngaji ke rumah ustadz pondok.

Saat diminta kampus membantu Koordinator Labkom, saya dipercaya utk memelihara perangkat di Labkom dan memegang kuncinya. Ada ruang di bawah tangga Labkom yg saya jadikan tempat kerja. Sesekali saya tidur di sana. Utk menunjang kerja, saya diberi mess di samping kampus. Oleh krn nya, saat itu saya punya tiga tempat tidur.

Suatu saat saya menemukan lemari panjang bekas kantor teronggok dan terbuang di belakang gedung kampus, dekat mess. Bagian kulitnya yg terbuat dari triplek sudah banyak yg terkelupas. Saya membeli cat, gergaji, paku, dan palu ke toko besi dan menyulapnya menjadi lemari buku. 

Semua buku yg awalnya tersimpan di perpustakaan Ponpes dipindahkan ke lemari buku yg sudah menempati mess, menyekat tempat tidur dgn bagian lainnya. Setelah saya pindah ke mess, lemari di perpustakaan pondok pun dibongkar. Saya bergumam di dalam hati saat melihat pembongkaran itu, andai lemari itu bisa saya miliki. 

Mess itu saya tinggalkan setelah menikah. Saat pindah ke rumah mertua, semua bukunya saya masukan ke dalam dus besar. Sesampainya di rumah mertua, almarhum ayahnya istri melihat dus yg berisi buku tsb. Beliau bertanya, apakah saya jualan buku? Saya menjawab, buku tersebut koleksi dari semasa kuliah. 

Semua buku itu menempati lemari buku baru di rumah mertua. Sebelum beliau meninggal, saya diberi buku fiqh yg dulu dipakai oleh beliau saat mengaji. Satu-satunya warisan yg paling berharga krn mengingatkan saya utk terus mencintai buku. 

Kini lemari bukunya sudah rusak dan tdk bisa menampung buku-buku baru. Saya belum sempat membeli lemari baru. Pekerjaan juga membuat saya memiliki sedikit waktu utk membaca buku. Walau demikian, buku yg ditulis oleh ulama dulu masih suka menggoda hati ini utk membelinya. Dua set buku yg sampai hari ini masih ingin saya miliki adalah Ihya Ulumuddin al-Ghazali, Madarijus Salikin Ibnul Qayyim Jauziyah, dan al-Futuhat al-Makkiyah Ibn Arabi.

18 Mei 2020

Antara Dua Titik dan Dua Inisiatif yang Baik





MPR yg berisikan wakil rakyat telah berinisiatif membangun semangat gotong royong bangsa Indonesia dlm melawan Covid-19 dgn melakukan penggalangan dana. Kegiatannya dilakukan secara daring melalui Crowd Funding dan Provider Seluler dgn menggandeng BPIP. 

Sebagian netizen menganggapnya tdk pantas krn inisiatif tsb mengesankan MPR seperti meminta sumbangan kpd rakyat. Dgn kata lain mereka berpendapat bhw rakyat diajak bergotong royong oleh rakyat yg menjadi wakilnya itu tdk pantas. 


Tidak berhenti di sana, MPR kembali berinisiatif baik. Kali ini inisiatifnya adalah utk menguatkan rasa kebangsaan melalui pendekatan kebudayaan dlm bentuk konser virtual dgn menggandeng BPIP dan BNPB. Sama seperti inisiatif seb UUelumnya, sebagian netizen melayangkan kritiknya. Kali ini kritiknya terkait kekhilafan tim yg berfoto dgn mengabaikan protokol jaga jarak yg terjadi selepas acara, sekalipun tdk disiarkan di TV. Padahal selama acara berlangsung, protokol tsb relatif sukses diterapkan.


Memang perbedaan pandangan dan kekurangan itu kalau dicari2 pasti selalu ada. Keduanya bisa digunakan utk saling memahami. Tetapi kesenangan dlm mencari titik perbedaan & kekurangan tdk boleh sampai melupakan arti penting dua inisiatif yg baik tsb, yakni membangun semangat gotong royong dan menguatkan rasa kebangsaan. 

Yg lebih penting utk dipromosikan atau dibesar2kan oleh netizen di ruang publik adalah inisiatif tsb. Sementara titik perbedaan & kekurangan itu bisa didialogkan di ruang private. Jgn sampai dua titik itu malah digunakan utk meredupkan dua inisiatif yg sangat baik tersebut. Seandainya dua inisiatif tsb dilakukan bersama2, tentunya akan mudah utk mengutamakan apa yg lebih penting terbangun di ruang publik. Kepentingan bangsa hrs lebih didahulukan dari kepentingan golongan.

11 Mei 2020

Pemimpin yang Hidup dalam Hati Rakyatnya


Di masa lalu, ada Amir / Pemimpin yg wilayah kekuasaannya meliputi suku-suku Arab serta taklukan Romawi dan Persia yg terbentang luas. Di kisahkan, beliau melakukan peninjauan utk melihat kondisi rakyatnya. Beliau tdk dikawal pasukan bersenjata krn belum lazim dalam praktik kesukuan saat itu. Beliau hanya ditemani Aslam ra. Beliau adalah Amirul Mu'minin Umar bin Khathab ra.

Singkat cerita, beliau mendengar curhatan warganya yg kekurangan makanan. Ibu yg anaknya kelaparan itu tdk mengenal sang Amir, dan mengungkapkan kekesalannya dgn menyebut kondisinya itu disebabkan krn kejahatan beliau yg tdk mau turun melihat rakyatnya. Aslam ra merasa tdk nyaman dgn perkataan tsb dan hendak menegurnya, tetapi dicegah oleh beliau. 

Sekalipun beliau tdk seperti yg dituduhkan warganya tsb, tetapi beliau merasakan beban kesalahan di dalam hatinya. Beliau tdk menghukum warga tsb krn kelancangannya, tetapi "menghukum" dirinya sendiri. Beliau memutuskan utk mengambil sekarung gandum dari Baitul Maal. Kalau jaman sekarang, sembako dari anggaran negara. Beliau sendiri yg dgn kepayahan memikul karung tsb.

Waktu memikul karung itu, beliau ra masih ditemani oleh Aslam ra. Krn tdk tega melihatnya, Aslam ra meminta agar karung itu dipikulnya saja. Tetapi Amirul Mu'minin menolak krn tdk ingin ada orang lain yg memikul beban tsb kelak di akhirat. Beliau dgn dibantu Aslam ra kemudian memasak utk keluarga tsb. Praktiknya klo di jaman sekarang ini seperti memberi nasi kotak dan kardus sembako. 

Soal bantuannya dibawakan sendiri atau ada yg membawakannya, tergantung berapa banyak yg akan menerimanya. Utk kasus satu keluarga itu, beliau membawakannya sendiri. Tapi dlm kasus bencana kekeringan yg memicu kelaparan, beliau melibatkan sejumlah Gubernur dan para pegawainya dlm membawakan makanan kpd rakyat di wilayah bencana.

Menangkap dan Menjaga Kualitas Pengetahuan


Seringkali "mata" melihat ke sana ke mari di dalam benak saat diskusi atau membaca, dan jiwa yg cenderung pd pengetahuan tdk ingin kehilangan kalimat penting yg beterbangan di dalam benak. Sehingga begitu kalimat pentingnya tertangkap, segeralah kalimat itu dituliskan dan menjadi pengetahuan ekplisit.

Tulisannya mengikat pengetahuan, sekaligus menjadi bukti bahwa menyampaikan atau membaca pengetahuan dapat melahirkan pengetahuan baru. Bagi penikmat pengetahuan, emosi buruk yg hadir sebagai gangguan dlm penangkapan pengetahuan sama sekali tdk boleh dicampurkan dlm tangkapannya krn akan merusak kualitasnya.

09 Mei 2020

Komunikasi yang Merendahkan Hati



Perbedaan pengetahuan/pendapat yg sering dihadapi dlm proses komunikasi, tdk seharusnya dijadikan kesempatan utk menjadikan "saya yg paling benar dan yg lain salah, saya yg unggul dan yg lain tdk unggul". Sebaiknya cukup hanya sebatas utk memperkaya keilmuan saja dan diniatkan utk menambah kesyukuran. Tdk seharusnya kita yg limited merasa paling benar dan unggul secara absolut.

Dari sekian lama waktu yg dihabiskan utk saling kirim pesan dlm proses komunikasi, bukan "ping-pong pesan" nya atau "gaya ping-pong" nya yg penting, tapi "pesan apa" yg disalingkirimkannya. Pesan itu hrs dapat memperkaya pembendaharaan ilmu dan menimbulkan atau menambah kesyukuran. Dengan demikian tdk ada waktu yg terbuang percuma, dan kita mendapatkan waktu yg berkualitas dlm kesempatan interaksi antar personal.

Ada satu fase manajemen pengetahuan yg hrs selalui dilewati, yakni fase "manage" di mana pengetahuan yg tersimpan senantiasa divalidasi, dan diperbaharui atau dikokohkan, seiring dgn datangnya pengetahuan baru dari proses komunikasi dan lainnya. Fase ini menghantarkan kita pd satu kesadaran bhw pengetahuan yg kita miliki itu limited dan nisbi, hanya Tuhan saja pemilik pengetahuan yg unliminted dan absolute. Di titik ini kita bisa mengambil kesempatan utk segera merendahkan hati.

06 Mei 2020

Donasi untuk Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Program Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh sivitas akademik Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada bulan Mei 2020 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1441. Panitia pelaksananya adalah mahasiswa. Program ini dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2020, satu hari sebelum pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di kabupaten Garut.

Program ini berawal dari tawaran pak Eri Satria, salah satu dosen Teknik Informatika yang juga Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut di grup WhatsApp Komunitas TIK. Pada tanggal 30 April 2020 itu, beliau menawarkan masker kain gratis yang dapat dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat.   


Kemudian beliau mengajak anggota senior Komunitas TIK dari kalangan alumni dan dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut (termasuk saya) untuk berdonasi. Selanjutnya, beliau menunjuk Zoel Hilmi, mahasiswa Teknik Informatika yang menjabat selaku ketua Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk mengatur panitia kecil.  


Pak Eri Satria pada akhirnya berhasil mendapatkan masker gratis sebanyak 600 pcs. Beliau berharap anggota senior dapat berdonasi untuk menambah jumlah maskernya dengan cara membeli. Pada hari Jum'at, 1 Mei 2020, poster penggalangan dana ditampilkan di grup oleh Zoel Hilmi dengan judul Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Pada tanggal yang sama, pukul 14:37, ibu Rina Kurniawati selaku Wakil Ketua bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengirimkan poster tersebut di grup Whatsapp Pusat Informasi STTG di mana tenaga pendidik dan kependidikan berada. 


Pada pukul 15:36, saya bertanya kepada ibu Rina Kurniawati, apakah donasinya bisa melalui mekanisme pemotongan dari honorarium bulan depan? Beliau menjawab, bisa. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak diajak saja para dosen untuk turut serta berdonasi untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut?. Menurut pemikiran saya, berdonasi itu sama dengan terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut. Dan unit kerja LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) yang saya pimpin berkewajiban memfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan pengabdian. 

Pada pukul 21:00 saya bertanya kepada pak Hilmi Aulawi selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut tentang kemungkinan LPPM untuk menawarkan donasi kepada para dosen melalui mekanisme pemotongan honorarium bulan depan. Beliau mengizinkan.


Setelah mendapatkan izin tersebut, saya mengirim penawaran di grup WhatsApp Penelitian dan Pengabdian pada pukul 21:21.


Pada hari Senin, 4 Mei 2020, pukul 08.40 saya menutup donasi dari para dosen. Dan pada pukul 09:05 surat pengajuan pemotongan honorarium untuk donasi saya sampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, ditembuskan kepada semua wakil ketua.


Pada pukul 10:23, pengajuan tersebut disetujui oleh pak Hilmi Aulawi. Selanjutnya, dana dicairkan pada pukul satu siang oleh biro Pengeluaran Keuangan. Pukul 13:26 saya menghubungi ibu Leni Fitriani mewakili bagian Kemahasiswaan untuk menyerahkan uang tersebut agar dapat diteruskan kepada panitia. Total dana yang terkumpul dari para dosen, baik yang transfer langsung kepada panitia atau melalui pemotongan honorarium adalah sekitar 2,5 juta rupiah, dan 600 pcs masker kain. Kalau masker kain tersebut diuangkan, total bantuan dari dosen sekitar 5,4 juta rupiah. Alhamdulillah, semoga menjadi tambahan pahala berlipat di bulan Ramadhan Mubarak ini. 


Pada hari Selasa, 5 Mei 2020, pak Eri Satria mulai mendistribusikan masker sumbangan yang akan dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat. Di antaranya adalah masker sumbangan dari Alumni SD Kiarasantang angkatan 88 dan Alumni SMPN 2 angkatan 91. 


Setelah itu mahasiswa mulai membagikan masker di seputaran kampus dan beberapa lokasi lainnya. Adapun dana yang terkumpul dari donasi, rencananya tidak akan dibelikan masker, tetapi akan dibelanjakan sembako yang akan dibagikan pada tanggal 7 Mei 2020 kepada 50 keluarga yang perlu dibantu. 


Disebutkan dalam undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa organisasi mahasiswa paling sedikit berfungsi mengembangkan tanggung jawab sosial melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Saya merasa bersyukur, mahasiswa berhasil mewujudkan manfaat kampus bagi masyarakat sekitar melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada hari sebelumnya, Minggu tanggal 3 Mei 2020, saya memberikan masukan kepada mahasiswa di grup WhatsApp agar masyarakat seputaran kampus mendapatkan perhatian:

Btw, sekiranya dananya banyak, saya berharap perhatian kita tdk hanya kpd pemenuhan kebutuhan masker, tapi juga kpd kebutuhan yg teramat penting bagi masyarakat miskin di sekitar kampus, seperti beras dan/atau sembako. Bagaimanapun, kampus hrs terasa manfaatnya bagi masyarakat sekitar di mana kampus berada ... Mari kita perduli dgn masyarakat sekitar kampus, jgn dulu jauh2 ke daerah belasan hingga puluhan kilometer dari kampus. Berbagi itu dimulai dari keluarga terdekat dulu, dan keluarga terdekat bagi kampus adalah masyarakat sekitar kampus.


02 Mei 2020

Relawan TIK Tanggap Bencana Covid-19 di Garut


Pada semester genap 2019/2020 ini, saya kembali mengampu mata kuliah Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dalam kurikulum Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, mata kulah ini merupakan mata kuliah persiapan Kuliah Kerja Nyata. Mata kuliah Relawan TIK menyiapkan mahasiswa untuk dapat memahami dan mengamalkan sikap relawan dalam menyelesaikan masalah bidang TIK di tengah masyarakat. Kuliah Kerja Nyata sendiri adalah mata kuliah berbentuk Pengabdian kepada Masyarakat yang wajib diikuti oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Relawan TIK dalam Kuliah Kerja Nyata di desa Sirnajaya (16/8/2019)

Seperti biasanya, tugas lapangan mata kuliah Relawan TIK yang diberikan kepada mahasiswa dikemas dalam program Pengabdian kepada Masyarakat bernama Relawan TIK Abdimas (Abdi Masyarakat). Publikasi kegiatannya di Facebook dapat ditelusuri dari hastag #RTIKAbdimas. Sekarang ini program Relawan TIK Abdimas telah masuk periode ketiga sejak pertama kali dilaksanakan pada semester ganjil 2018/2019. Program ini merupakan pelaksanaan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, dan Relawan TIK Indonesia.  

Penandatanganan Kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia (25/12/2018)

Pada awalnya, tujuan tugas lapangan ini adalah untuk mempromosikan potensi sumber daya manusia, industri, dan pariwisata di daerah dengan memanfaatkan TIK. Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut akan berperan sebagai Agen Perubahan Informatika yang membantu promosi tersebut sekaligus menyiapkan relawan TIK lokal untuk dapat melanjutkan usaha promosinya. Tujuan harus dapat dicapai selama 14 minggu. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut:


Metode Relawan TIK Abdi Masyarakat

Saya memanfaatkan Google Classroom dalam kegiatan pembelajarannya, dengan tetap melakukan tatap muka di kelas selama 100 menit, sesuai dengan beban belajarnya sebesar 2 SKS. Ruang kelas Relawan TIK di Google Classroom yang dibuat pada bulan Februari 2020 itu digunakan untuk menyimpan bahan ajar dan pengumpulan tugas mata kuliah. Selama setengah semester, saya menugaskan mahasiswa untuk menemukan mitra penerima manfaat tugas lapangan, menganalisa lingkungan di mana mitra itu berada, dan menyusun modul praktikum dasar kerja informasi yang tepat diberikan kepada mitra tersebut. Sebagian mitra adalah Gerakan Pramuka Kwarcab Garut, dengan koordinator lokal Relawan TIK dari purna peserta Kursus Bina Usaha. Hal tersebut untuk menunjang upaya perintisan Satuan Karya Pramuka Informatika di Garut.

Komunikasi Tim Relawan TIK dengan Calon Mitra (2/3/2020)

Untuk memperkaya pengetahuannya, saya mendatangkan dua orang praktisi yang telah memanfaatkan informasi dengan TIK untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Praktisi pertama adalah Fahmi Taufiq Zain, alumni Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan praktisi penjualan online. Praktisi kedua adalah Liswanti Pertiwi, yakni Blogger asal Garut yang telah memiliki banyak pengalaman seputar edorsement produk. Materi dari praktisi diharapkan dapat memicu ide atau gagasan pada diri mahasiswa terkait pengetahuan dan ketetampilan yang akan disampaikan kepada mitranya. 

Kuliah Umum Relawan TIK bertajuk Kerja Informasi (24/2/2020)

Pelaksanaan tugas lapangan dilakukan secara berkelompok. Dari tiga kelas mata kuliah Relawan TIK, diperoleh 20 tim dengan jumlah personel antara 4 sampai 5 orang. Setiap personel tim diberi tugas penyusunan modul oleh ketua timnya. Modul dasar kerja informasi meliputi materi berikut ini yang merupakan bagian dari daur hidup kerja informasi: 
  1. Kendali informasi, yakni acuan nilai dan norma yang harus diperhatikan oleh pencipta konten;
  2. Masukan, yakni pencarian, pengambilan, dan pemilihan material dari internet atau dunia nyata menggunakan mesin pencari atau perangkat masukan pada smartphone;
  3. Pemrosesan, yakni pengolahan material menjadi konten / informasi dalam format mulitimedia yang diperlukan oleh pengguna;
  4. Penyimpanan, yakni penyimpanan konten pada simpanan internal, transfer konten ke simpanan lainnya, termasuk pencadangan ke cloud storage; dan
  5. Keluaran, yakni penyampaian konten kepada penggunanya melalui internet.
Sebelum mereka menjadi instruktur bagi mitra, terlebih dahulu saya menguji kemampuan mereka dalam melaksanakan daur hidup kerja informasi. Dalam kesempatan peringatan Safer Internet Day, saya tugaskan mereka untuk ikut serta dalam kampanye tersebut dengan membuat dan menyebarkan konten bertemakan Internet Aman. Kampanyenya ditemukan di Facebook dengan hastag #saferinternetday dan #komtiksttgarut. Tugasnya harus dilaporkan pada tanggal 11 Februari 2020.


Pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif Corona pertama kali di Indonesia. Pada tanggal 17 Maret 2020, muncul Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Menyikapi Surat Edaran tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi Garut membuat kebijakan yang mengharuskan penundaan kegiatan pembelajaran yang melibatkan aktivitas mobilisasi orang banyak atau yang membutuhkan aktivitas survei lapangan sampai tanggal 29 Mei 2020. Kondisi tersebut mengharuskan fase Pemberdayaan dari Relawan TIK Abdimas ini harus dilaksanakan secara daring.

Saya pun merubah teknik Pemberdayaan yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa dari offline menjadi online. Pelaksanaan tugas lapangan berupa pemetaan lokasi geografis objek industri dan wisata pada Google Maps ditiadakan. Kegiatan Pemberdayan difokuskan pada pembelajaran online, di mana personel tim secara bergantian menyampaikan materi dari modul praktikum Dasar Kerja Informasi yang telah dibuatnya kepada mitra. Saya memberi contoh kepada mahasiswa bagaimana teknik tersebut dilaksanakan dengan mudah dengan menggelar Kuliah Umum Relawan TIK kedua yang mengundang pembicara dari Kemenkominfo, ICTWatch, dan beberapa pengurus Relawan TIK Indonesia dari Poliwali Mandar, Bojonegoro, dan lainnya. Terdaftarnya Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam program Google Application for Education belasan tahun yang silam menyebabkan mahasiswa dapat menyimak Kuliah Umum Daring tersebut secara Live Stream.

Kuliah Umum Daring Relawan TIK (26/3/2020)

Pada tanggal 7 April 2020, Relawan TIK Indonesia menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Darurat Covid-19. Di dalam rapat, Relawan TIK Indonesia diajak oleh Pemerintah Pusat untuk ikut melakukan sosialisasi Covid-19 kepada masyarakat. Bahan sosialisasinya disediakan oleh Gugus Tugas dan dapat diakses dengan meng-klik di sini.

Pada tanggal 7 April 2020, saya menemui Kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut di Command Center. Selain untuk bersilaturahmi dengan Kepala Dinas baru, saya juga menyampaikan informasi kerjasama yang telah terjalin antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Diskominfo Garut, dan menyatakan kesiapan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam membantu Pemerintah mensosialisasikan informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat. Dalam kesempatan itu saya berkomitmen akan memobilisasi peserta mata kuliah Relawan TIK untuk membuat dan menyebarkan konten sosialisasi terkait Covid-19 kepada masyarakat melalui media sosial.

Pertemuan dengan Kepala Diskominfo Garut di Command Center (7/4/2020)

Menindaklanjuti rapat dengan Relawan TIK Indonesia dan Diskominfo Garut tersebut, saya membuat rencana baru tugas lapangan (online) setengah semester ke depan bagi peserta mata kuliah Relawan TIK. Saya memutuskan untuk menambah spesifikasi tugas lapangan / Pemberdayaan yang dilakukan oleh mahasiswa, yakni dengan menyisipkan materi sosialisasi Covid-19 di setiap sesinya dan melaporkan kegiatan tersebut melalui form laporan yang link nya disediakan oleh Relawan TIK Indonesia.


Tugas pertama dilaksanakan oleh mahasiswa pada pertemuan ke-9 perkuliahan yang diberikan tanggal 22 April 2020.

Classwork di Salah Satu Classroom Relawan TIK

Tahapan pelaksanaan tugas individu dan kelompoknya dapat dilihat dari slide berikut ini:


Ketersediaan smartphone dan quota data serta kualitas sinyal seluler menjadi hambatan para peserta pembelajaran / pemberdayaan online yang diselenggarakan oleh tim Relawan TIK. Oleh karenanya saya memberikan keleluasaan bagi peserta untuk menggunakan teknik atau platform TIK apa saja dalam pelaksanaannya. Oleh karenanya saya menemukan banyak tim melaksanakannya dengan Whatsapp, seperti yang dilakukan oleh tim Cloud 1. Pemanfaatan platform media sosial tersebut lajim dipraktikan dalam masa pemberlakuan Belajar di Rumah di banyak jenjang pendidikan.
       

Selain berbasis teks, ada pula yang menyajikan materinya dalam bentuk video tutorial, sebagaimana yang dilakukan oleh tim Cloud 2.


Aksi Relawan TIK Tanggap Bencana ini merupakan aksi kedua, setelah sebelumnya Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut pernah melaksanakannya saat terjadi banjir bandang pada tahun 2016. Dokumentasi kegiatannya bisa ditelusuri di Facebook dengan hastag #rtiktanggapbencana. Gambar berikut ini merekam kegiatan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat menangani perangkat komputer milik sekolah yang terdampak bencana yang ditinjau oleh kepala Diskominfo Garut. 

Relawan TIK Tanggap Bencana Banjir Bandang (22/9/2016-1/10/2016)