Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

31 Desember 2020

Sujud dengan Semurni-murninya Ketaatan

Dlm Thawasin, al-Hallaj menuangkan fikirannya yg menyatakan bhw ketidaktaatan Iblis thd perintah sujud kpd Adam sebagai ekspresi tauhid yg tdk bersujud kpd selain Allah. 

"Dia diperintahkan utk bersujud; lantas dia menjawab, 'Tdk kpd selain Engkau'. Dikatakan kpdnya, 'Engkau diperintahkan!'; dia menjawab, 'Tdk kpd selain Engkau. Penolakanku adalah demi Kebesaran Mu, demi Kesucian Mu. Alasan penolakanku adalah kegilaanku kpd Mu. Aku tdk mengenal siapapun selain Engkau, dan Adam adalah selain Engkau. Di antara Engkau dan aku, tdk ada yg lain. Jika harus ada, maka yg lain itu adalah Aku (yg tdk lain adalah Engkau juga)."

Dlm pemahaman saya, bila Iblis tdk dlm kondisi "gila", sikapnya tsb keliru krn ketidaktaatannya melawan hak Allah utk ditaati; menjaga hak Allah sebagai satu-satunya yg disembah, tetapi tdk memenuhi hak Allah sebagai satu-satunya yg ditaati. Dlm hal tsb iblis mengabaikan ketaatan kpd Allah krn mentaati keinginannya utk hanya sujud kpd Allah; Iblis mensekutukan dirinya sendiri dgn Allah dlm hak utk ditaati. Tetapi siapakah yg bisa menghukumi mahluk yg menyatakan dirinya telah gila krn Allah, kehilangan kemampuan utk membedakan dirinya dgn Tuhannya?

Pemikiran al-Hallaj bagi saya merupakan kritik kpd manusia yg telah disujudi oleh mahluk, tetapi merasa berat utk bersujud kpd Allah. Padahal derajatnya telah ditinggikan dari Iblis yg enggan bersujud kpd selain Allah. Sujudnya manusia adalah semurni-murninya ketaatan, sebab ia tdk perlu menolak bersujud kpd selain Allah.

30 Desember 2020

Permata Keluhuran Budi

 
Ada orang yg merasa heran dgn Nabi Adam AS yg tertipu perkataan Iblis, dan Nabi Yusuf AS yg sempat memiliki kecenderung berbuat tdk baik kpd Zulaikha. Padahal dia belum tentu dapat seperti Nabi Adam AS yg ikhlas meninggalkan surga krn menerima keputusan hukum dari Allah, atau seperti Nabi Yusuf AS yg mampu menghentikan kecenderungannya saat ada kesempatan yg hampir mustahil utk ditolak. Hal demikian menunjukan keluhuran budi beliau semua.

Pernyataan Nabi SAW yg akan menghukum sendiri puterinya bila terbukti bersalah merupakan sikap yg tdk selalu mudah dilakukan. Buktinya ada orang yg jangankan kpd darah dagingnya sendiri, kpd siapapun dari kalangannya yg tdk ada hubungan keluarga, ia gigih melindungi kesalahannya, padahal tdk ada satupun dalil kebenaran yg dapat menghindarkannya dari kesalahan tsb. Ketidakmudahan tsb menunjukan keluhuran budi Nabi SAW dan pengikut sunnahnya.

29 Desember 2020

Kembali kepada Ghazali


Pengenalan awal saya terhadap pemikiran Islam dimulai dari karya tulis imam al-Ghazali yg berjudul Minhajul Abidien yg ditranslasikan oleh Kyai Abdullah bin Nuh dgn judul Menuju Mukmin Sejati. Saya meminjam buku tersebut dari almarhum Mas Yudho semasa masih sekolah. Isi bukunya terasa sangat nikmat, sampai saya ekpresikan dalam wujud tulisan di atas secarik kertas yg disisipkan pd buku tersebut.

Belasan tahun kemudian saya melihat buku tsb masih ada, dan ternyata almarhum menyimpan secarik kertas itu pada sampul plastiknya. Setelah beliau meninggal, saya berusaha menghubungi keluarganya utk dapat memiliki buku tersebut. Buku tersebut merupakan kenangan terbaik saya dengan beliau.

Selain Minhajul Abidien, saya juga membaca buku Keajaiban Hati yg merupakan terjemah dari Ihya Ulumuddin juz III. Isinya sama mempesonanya dgn Minhajul Abidien. Saking terikatnya, sampai saya menyukai perilaku santun Aisyah krn kesesuaiannya dgn ajaran hati Ghazali. Saya memberi nama Aisyah kpd teman di organisasi masjid, seorang anak guru ngaji, karena wajahnya yg kemerah2an.

Saya membaca juz lain dari Ihya di perpustakaan mushola sekolah. Setiap istirahat saya sempatkan utk mengunjunginya dan membaca buku tersebut. Bukunya sangat banyak sehingga tdk semuanya bisa dibaca.

Interaksi saya dgn buku mengalir begitu saja. Terkadang saya mengikuti arus trend penerbitan, di mana setiap buku yg muncul di etalase toko buku saya beli dan baca. Terkadang saya juga memperhatikan judul buku yg disebutkan oleh penulisnya atau muncul dalam kutipannya utk kemudian saya cari di toko buku, membeli dan membacanya. Sehingga bila toko buku dibanjiri karya2 Ibnul Qayyim Jauziyah, saya banyak menghabiskan uang utk membeli karya2 beliau.

Sebelum bertemu dgn buku Ibnul Qayyim Jauziyah, saya menemukan buku Tauhid karya Ibnu Taimiyah di ponpes semasa kuliah. Buku sumbangan dari Saudi itu saya baca utk menambah pengetahuan seputar Ilmu Tauhid. Sebelumnya ustadz di ponpes memberi pengetahuan dari Tijan dan karya tulisnya Kyai Khoer.

Saat bertemu dgn sejumlah karya Ibnul Qayyim Jauziyah, saya mengetahui beliau adalah murid Ibnu Taimiyah. Karya beliau yg berkaitan dgn hati membuat saya dgn sangat mudah cenderung kepadanya. Hingga tibalah waktu saat itu bagi saya utk bertemu dgn karyanya yg berjudul Madarijus Salikin. Buku tsb dianggap setara dgn Ihya Ulumuddin.

Rupanya saya harus mendengar lebih banyak seputar kritik thd Ihya Ulumuddin, terutama terkait masalah derajat hadits. Entah kenapa setelah itu saya menjadi tdk bisa membaca Ihya. Ada kesenjangan pengetahuan yg membuat kritik tersebut sangat berpengaruh, membuat diri yg dekat kemudian menjauh. 

Setelah kesenjangan itu terentaskan berpuluh-puluh tahun kemudian, kerinduan saya utk mengkoleksi buku Ihya Ulumuddin muncul kembali. Bila ada rejekinya, saya akan melengkapi rak buku di rumah dgn karya yg pernah memikat hati tersebut, insya Allah.

#BiografiCahyana

20 Desember 2020

Suasana Hati Pak Polisi

20 Des 2019, sore hari itu saya lewat perempatan Asia dari arah toserba Asia mengarah ke Wohap, sengaja mau singgah di toko elektronik sekitaran toko Wohap. Nampak di perempatan seorang Polisi tengah mengatur lalu lintas. Setelah melewatinya beberapa meter, saya lihat ada kendaraan yg mau keluar dari parkiran. Saya pun menginjak rem dan menyalakan lampu tanda kiri dgn maksud mau mengisi ruang parkir yg akan ditinggalkan kendaraan tsb. Juru parkir nampaknya sudah mengerti maksud saya. 

Dari spion tengah saya lihat polisi pengatur lalu lintas tsb memperhatikan dgn roman wajah yg kesal. Lalu polisi tersebut menghampiri dan berdiri di depan ruang parkir tersebut. Saya memberi isyarat kpd polisinya kalau saya hendak parkir di area yg dihalanginya tersebut. Juru parkir berkumis pun ikut menyampaikan maksud saya ke polisinya. Tapi polisinya memberi isyarat supaya saya terus jalan. Dgn kebingungan saya pun mematikan lampu tanda kiri dan menjalankan kembali mobil. Setelah berjalan berapa meter, saya memberi isyarat ke juru parkir di depan, lalu saya diarahkan ke area parkir yg kosong. 

Saya memikirkan kejadian tsb sepanjang jalan seusai dari toko elektronik, mencoba memahami letak masalahnya ada di mana. Kalau dianggap saya tdk boleh parkir di area sana, tapi di sana ada juru parkir dan banyak kendaraan yg terparkir. Padahal saya bisa masuk ke area parkir bersamaan dgn sampainya polisi tsb di depan kendaraan saya yg mau parkir. 

Setelah memutari bunderan Suci dan mengarah kembali ke jln Ahmad Yani, saya berpapasan dgn polisi tadi yg tengah dibonceng rekannya naik kendaraan roda dua. Nampak ia tengah berbincang dgn rekannya tsb. Saya pun tersenyum melihat wajahnya. Ah, mungkin saja suasana hatinya saat itu sedang tdk baik, dan hal tsb sangat manusiawi. Semoga suasana hati polisinya esok hari kembali berseri-seri ๐Ÿ˜Š

19 Desember 2020

Tidak Terganggu Dengan Penilaian Manusia

Hari ini saya menemukan berita tentang seorang lelaki berjubah terekam sedang salat di tengah jalan, di antara lalu lalang kendaraan. Di luar negeri sana ada kegiatan dakwah jalanan dgn melaksanakan salat di luar ruangan, bahkan di trotoar. Tetapi tdk saya temukan yg melakukannya sampai kehilangan akal seperti lelaki itu.

Kata "jubah" dan "jalan" mengingatkan saya akan pengalaman saat remaja di masa lalu. Di malam itu, selepas ngaji, saya ke luar kompleks dgn masih mengenakan gamis. Keinginannya muncul begitu saja. Tidak ada sesuatu yg dituju, hanya ingin berjalan kaki sendirian saja.

Saya melewati Kerkoft, lalu menapaki trotoar jalan perintis kemerdekaan. Di jalan Pramuka, dekat perempatan saya menyebrang jalan. Saat itu ada sekelompok remaja berkerumun di trotoar. Salah seorang anak perempuan menyapa, "Assalamualaikum pa Haji", sambil tertawa. Saya jawab ucapan salamnya dan berlalu. Saya pun melewati masjid Agung dan berbelok di perempatan menuju jembatan Cimanuk.

Hingga detik ini, dari perjalanan tersebut hanya interaksi dgn sekumpulan anak muda itu saja yg saya ingat. Bahkan saya tdk ingat detail perjalanan menuju titik kumpulan anak muda tsb, dan dari sana ke titik awal berangkat. Mungkin diri ini digerakan hanya utk mendapatkan pelajaran dari interaksi tsb yang belum diperoleh sampai sekarang.

Hari ini saya mencoba utk memikirkannya. Di dunia ini, mungkin akan ada orang yg mengganggu kita krn atribut yg secara natural kita kenakan (tanpa maksud ingin dilihat atau dinilai oleh orang lain). Kita harus siap menerima semua isi fikiran orang lain tentang kita, termasuk segala macam prasangka dan ekspresinya. Dan kita akan merasa tenang saat kita tdk berharap penilaian dari manusia, baik yg penilaiannya mendekati atau jauh dari kondisi kita yg sebenarnya. Kita merasa cukup hanya dgn penilaian Allah saja, tanpa perlu tahu isi prasangka mahluk Nya. 

#BiografiCahyana

18 Desember 2020

Cinta dan Benci Karena Allah

Aku bertanya, "Bagaimana cara memusuhi dan mencintai krn Allah?"

Syekh Abu al-Hasan Asy-Syadzili menjawab, "Semuanya dilakukan dgn bergantung kpd Allah, bukan krn nafsu dan keinginan. Jika kamu membenci dan marah krn ilmu, maka berikanlah hak utk ilmu tersebut. Jgnlah kamu jadikan setan sebagai teman. Orang yg menjadikan setan sebagai teman, dia mendapatkan kerugian yg nyata. Jika kamu mencintai seseorang dgn ilmu, temanilah dia selama dia selalu menjalankan ketaatan. Jika dia menyimpang, maka bencilah dgn ilmu selama dia masih berada dlm penyimpangannya".

(Risalah al-Amin)

12 Desember 2020

Bisikan itu Belum Tentu Benar


Saat dawam dzikr "Allah" di masa remaja dulu, di tengah kegiatan aurod berjamaah pada waktu Maghrib, ada yg berbisik ttg akidah Islam. Seketika saya beranjak dan menuliskannya. Materi seperti itu muncul dlm beragam kondisi. Ada kalanya kalimatnya muncul dari cahaya yg melesat dlm benak, di mana saya harus "berlari" mengikutinya agar kalimatnya tdk terputus. Adakalanya dari bentuk yg kemudian berubah menjadi kalimat. Dlm kesempatan lain muncul citra sosok yg wajahnya tertutup cahaya, kepalanya mengenakan sorban, dan bersayap. 

Dari Durotun Nasihin saya mengenal sayap Malaikat, dan dari Minhajul Abidin saya mengetahui perbedaan khotir dari Allah, malaikat Mulhim, dan Setan. Namun tdk serta merta saya menganggap sosok itu sebagai Malaikat Mulhim, sebab teringat cerita Setan yg menyamar sebagai Tuhan yg dikisahkan dlm Minhajul Abidin. Demikian pula, tdk serta merta saya menganggap bisikan itu benar, sehingga setelah tercatat, saya periksa kebenarannya dgn ajaran akidah islam, atau saya konfirmasikan juga kpd guru tauhid. Saya membakar satu buku catatan yg dianggap pembahasannya bahaya bagi mereka yg tdk memiliki dasar akidah yg kuat.

Saya menuliskan hal ini di blog krn mengangap pengalaman tsb bukan apa-apa, hanya semacam tantangan yg muncul dlm dawam dzikr. Saya bukan siapa-siapa, dan apa yg tersaksikan dan terdengar itu bukan apa-apa. Walau demikian, saya menikmati pengalaman tsb. Ada beberapa buku catatan yg bisa saya kenang dan dipelajari lagi di masa depan. Dan saya bersyukur, salah satunya yg saya mintakan review nya kpd alm Ust Bubun Bunyamin, dikembalikan oleh beliau tanpa komentar. Pengajaran beliau dari Kyai Khoer cukup membekali saya saat berhadapan dgn bisikan-bisikan seputar konsep Penyatuan.

Belasan tahun kemudian, saya menemukan perkataan Imam Syadzili dlm Risalah al-Amin, bhw ketika muncul perasaan waswas yg menyerupai ilmu melalui perantara ilham atau ketersingkapan yg berasal dari prasangka, maka kita jgn menerima hal itu, harus dikembalikan kpd kebenaran yg tertuang dlm al-Quran dan as-Sunnah. Allah tdk menjamin kemaksumannya. Seandainya kita menerimanya melalui al-Qur'an dan sunnah, pikiran tdk akan menghiraukan waswas yg menipu.

#BiografiCahyana


11 Desember 2020

Jalan Cinta Nabi yang Sebenarnya

Syekh Ibnu Atha'illah atau Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari (1250-1309 M) adalah tokoh Tarekat Syadziliyah. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki.

Menurut Ibn Athaillah di dalam Bahjat an-Nufus, kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah SWT dicapai dgn mengikuti sunnah Muhammad SAW dlm aspek lahiriah seperti salat, dan batiniah seperti khusyu. Allah SWT berfirman, "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al Imran: 31). 

Sebelumnya lewat lisan Ibrahim AS, Allah SWT pun berfirman, "Siapa yg mengikutiku, sesungguhnya ia termasuk golonganku" (QS Ibrahim: 36). Dengan demikian siapapun yg tdk mengikuti Nabi, ia tdk termasuk golongannya, bahkan keluarga Nabi sekalipun. Saat Nuh AS berkata, "Sesungguhnya anak ku termasuk keluarga ku" (QS Hud: 45), Allah menjawab, "Hai Nuh, dia bukan termasuk keluarga mu. Sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan orang yg tidak baik" (QS Hud: 46)

10 Desember 2020

Akibat Mengutuk

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (450-505 H) adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Beliau berkata dalam Bidayah al-Hidayah:

Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. 

Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya, "mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?"

Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. 

Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)

Hukum Membunuh karena Membela Diri

Syekh Wahbah Az-Zuhaili atau Wahbah bin Musthofa Az-Zuhaili adalah salah satu sosok ulama fiqh ahlussunnah abad ke-20 yang terkenal dari Syiria. Namanya sebaris dengan tokoh-tokoh fiqh yang telah berjasa dalam dunia keilmuan Islam abad ke-20. Dalam Fiqhul Islamiy Wa Adillatuha (6/597) beliau menjelaskan hukum membunuh krn membela diri sebagai berikut:

Orang yang merasa bahwa kehormatan, harta, dan dirinya dalam bahaya, secara syar’iy berhak melakukan pembelaan (ad-difaa’ as-syar’iy). Sebagai contoh, ketika seseorang berhadapan dengan pelaku kriminal yang mengarahkan senjata api atau menghunus senjata tajam, bermaksud membunuhnya atau mengambil harta miliknya atau merenggut kehormatannya, maka ia disyariatkan untuk melakukan pembelaan.

Begitupun, ketika seseorang melihat orang lain dalam kondisi tersebut, maka ia pun berhak melakukan pembelan terhadapnya. Namun, pembelaan tersebut harus dilakukan sesuai dengan kadar bahaya yang dihadapinya. Kalau seseorang yang bermaksud jahat itu cukup diingatkan dengan kata-kata, seperti memintanya beristigfar,  atau teriakan meminta pertolongan kepada orang di sekitar tempat kejadian, maka haram bagi korban melakukan pemukulan.

Begitu pun jika ia dapat melakukan pembelaan itu cukup dengan memukul, maka ia tidak dibenarkan untuk menggunakan senjata. Namun bila pembelaan atas dirinya tidak mungkin dilakukan kecuali dengan senjata yang dapat melumpuhkannya, seperti dengan pentungan misalnya, maka ia boleh melakukannya, namun tidak dibenarkan baginya untuk membunuh. Akan tetapi, bila pembelaan itu hanya mungkin dilakukan dengan membunuhnya, seperti dalam kondisi yang di contohkan di atas, dimana pelaku sudah menghunus senjata tajam atau mengacungkan pistol misalnya, maka bagi korban berhak untuk membunuhnya

06 Desember 2020

Atap Kompetensi


Thn 2019 silam, saya merancang struktur kurikulum dgn filosofi seperti bangunan. Ada pondasi, tiang, pondasi atap, dan atap. Paket Konsentrasi 21 SKS berisi mata kuliah di luar bidang prodi (informatika) dlm lingkup Komputasi utk mengakomodasi minat mahasiswa dan kompetensi dosen, serta mengikuti perkembangan kekinian berdasarkan masukan alumni dan pengguna lulusan. Ada lebih dari satu paket konsentrasi yg bisa dipilih oleh mahasiswa. 

Sekarang ini, pemerintah mendorong Perguruan Tinggi utk dapat memenuhi hak mahasiswa menggunakan 20 SKS kegiatan di luar prodinya (40 SKS bila di luar perguruan tinggi) dlm beragam kegiatan KMMB (Kampus Merdeka - Merdeka Belajar). Bila tdk ada syarat harus belajar di prodi lain, sebenarnya paket Konsentrasi di luar bidang prodi ini sdh memenuhi syarat utk disebut KMMB, karena mahasiswa berkesempatan utk menghabiskan 21 SKS mengikuti pembelajaran mata kuliah dalam bidang yg diminatinya di luar bidang prodi. 

Pengguna struktur kurikulum juga dapat menambahkan paket konsentrasi KMMB 21 SKS, misalnya paket Proyek Kemanusiaan, Kewirausahaan, Proyek di Desa, dan lain sebagainya. 8 Paket Konsentrasi / KMMB ini dapat dipilih oleh mahasiswa sesuai minatnya. Paket ini menempati struktur atap utk membuat bangunan kompetensi dlm diri peserta didik berfungsi penuh, seperti bangunan yg telah diberi atap.

Merusak dan Memperbaiki Citra Agama

Merusak citra agama ini seperti menista agama, tdk menyebabkan agama yg sakral itu menjadi "terkotori", sebab kita masih bisa membedakan mana agama, dan mana yg berasal dari pelakunya. Penista agama dan perusak citra agama adalah oknum, kita menyebut perbuatannya sebagai menista agama dan merusak citra agama. 

Semangat memviralkan tindakannya tsb bahkan mewabah di kalangan tertentu saat pelakunya adalah orang di luar umat atau kelompoknya. Herannya, bila pelakunya dari kalangan sendiri, kita digiring utk melindungi pelaku melakukan sesuatu yg tdk pantas thd agama. Padahal kita harus mengingatkan siapapun yg menjadikan agama tdk semestinya, apalagi hanya utk kepentingan duniawi, seperti misalnya politik partisan; sekalipun ia tdk menyadari telah menghina agamanya sendiri, menurunkannya dari kesakralan menjadi cemoohan. 

Adakalanya perusakan citra agama direspon dgn penistaan lagi. Akhirnya kita melihat agama ini yg seharusnya sakral malah dijadikan objek yg dirusak citranya. Banyak orang yg tdk mengenal agama, masuk ke dalam pusarannya, sehingga mengira agama itu buruk seperti citra yg sedang ditampilkan. Pada tingkatan akut, muncul phobia terhadap agama. Atau mengira tindakan itu menjaga agama, sehingga tanpa sadar ikut memelihara citra buruk tsb.

Mereka yg tdk sadar telah merusak citra agama, dan mereka yg meresponnya dgn merusak citra agama secara sadar adalah pelaku atau oknum yg harus disadarkan. Bila ada satu orang yg menyadarkannya, maka tindakannya tsb telah mengugurkan kewajiban orang lain. Apakah ia menyadarkan salah satunya atau semuanya, ia telah memperbaiki citra agama dgn perbuatan baiknya tersebut.

#PersepsiCahyana

03 Desember 2020

Siapa Buzzerp?

Ada pembenci rejim yg berfikir kalau ASN itu membantu meluruskan informasi atau pemahaman keliru terkait rejim di medsos adalah demi imbalan atau agar gajinya tetap mengalir. Mereka menyebut ASN seperti itu dgn panggilan buzzer pemerintah. Padahal merekalah buzzer itu krn berkontribusi dlm penyebaran konten informasi atau pemahaman keliru di medsos dan dicopas dari sumber atau orang lain. 

Mereka menjadi buzzer anti pemerintah yg mendapat bantuan dari pemerintah. Di saat mereka atau para penikmat dan penyebar informasi atau pemahaman yg keliru itu menikmati bantuan uang atau lainnya dari pemerintah, ASN tdk mendapatkannya. Hal itu tdk membuat ASN menghentikan bantuan demi amal tsb. Dan bila bantuan itu tdk dikerjakannya, gajinya tetap mengalir.

02 Desember 2020

Beramal Harus dengan Ilmu

Kalau saya diminta utk bersangka baik, sulit bagi saya utk menyusun argumentasi yg membenarkan penyimpangan adzan atau pembajakan Islam seperti ini. Sebab begitu penjelasan dari alim ulama datang, kebatilan seperti ini menjadi lenyap. Kecuali mungkin bagi mereka yg arogan, terbiasa melawan atau memalingkan diri dari kebenaran.

Penyebaran konten seperti ini mencemarkan Islam? Justru amal tanpa ilmu yg tdk sejalan dgn Islamlah yg terbukti mencemarkan Islam. Konten seperti ini menjadi nasihat bagi diri sendiri dan siapapun yg memerlukan nasihat bahwa amal itu harus dipimpin oleh ilmu, tdk asal melampiaskan semangat atau berbuat. Jgn sampai terkena tipu daya / talbis krn ikut2an yg tdk jelas.

Semoga kita semua menyalurkan semangat Islam sesuai dgn ajaran Islam, mengendalikannya dgn ilmu, sehingga tdk merusak citra Islam dan tdk menimbulkan kerusakan. Tunjuki kami pada jalan yg lurus ya Rabb. Amin.

01 Desember 2020

Jihadnya Generasi Muslim al-Muhajirin

Teringat di masa remaja dulu, saat mengikuti kegiatan GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin). Yel-yel populer utk menyemangati anggotanya saat berkegiatan adalah salam jihad, yg dijawab dgn takbir. Misalnya, saat akan melakukan rihlah (penjelajahan) utk mentafakuri alam ciptaan Allah, instruktur menyemangati anggota dgn salam tsb. 

Cara penggunaan salam jihad meniru salam Pramuka. Hal demikian dipengaruhi oleh keberadaan beberapa pengurus atau anggotanya yg merupakan aktivis Pramuka. Ada beberapa kegiatan GMA selain rihlah yg dipengaruhi oleh pengalaman berkegiatan di Pramuka, seperti misalnya Islamic Camp. Pengaruh lainnya dlm kegiatan GMA adalah teater. Ada beberapa pengurus dan anggotanya yg merupakan pegiat teater. GMA menggunakan pertunjukan teater utk menyampaikan pesannya kpd masyarakat.

Makna jihad yg dimaksud dlm salam tersebut adalah usaha bersungguh-sungguh dlm menuntaskan kegiatan. Dlm seluruh kegiatannya, GMA tdk pernah menyajikan materi, atau melakukan pelatihan dan praktik berkaitan dgn makna jihad lainnya yg mengangkat senjata utk melawan siapapun, sehingga masyarakat tdk khawatir dgn salam jihad tersebut. 

Selain salam jihad, istilah lainnya yg pernah digunakan, tetapi kurang populer adalah satuan jihad, mengikuti istilah satuan pengamanan. Istilah tsb dibuat oleh saya yg saat itu menjadi seksi keamanan pd Islamic Camp di desa Pasirkareumbi. Fungsinya sama dgn satuan pengamanan, didefinisikan dan diterapkan hanya saat kegiatan tsb saja. Istilah tsb dan logonya tdk digunakan oleh seksi keamanan di kegiatan selanjutnya, krn tdk tertuang dlm juklak atau juknis organisasi.

#BiografiCahyana