Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

28 Oktober 2021

Jihad Digital: Pembebasan Masyarakat dari Buta Digital



Di masa lalu, Kartini memperjuangkan kesetaraan gender dengan menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak perempuan dengan tujuan agar memiliki kecakapan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai ibu, pendidik pertama bagi anak. Gagasan tersebut terungkap dalam surat yang ditulisnya berikut ini:

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kartini, 1901)

Di masa kini, anak-anak perempuan harus memperoleh kecakapan literasi digital dari sekolah atau pegiat literasi digital, agar di masa depan mereka dapat menjadi seorang ibu yang mampu melaksanakan kewajibannya dalam melindungi anak-anaknya dari beragam ancaman digital dan mendorongnya untuk memperoleh daya saing dengan perangkat digital. Oleh karenanya pemerintah Indonesia berupaya dengan sungguh-sungguh / berjihad untuk mewujudkan layanan dan akses universal dengan membangun infrastruktur TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) melalui BAKTI Kominfo dan menyelenggarakan pembangunan sumber daya manusia dalam bidang TIK melalui Gerakan Nasional Literasi Digital. Harapannya semua jihad tersebut dapat mewujudkan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk setara dengan bangsa lain, sebagaimana disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa:

"Teknologi informasi dan komunikasi merupakan jembatan antara negara maju dan berkembang, alat pembangunan ekonomi dan sosial, mesin pertumbuhan, pilar utama bangunan masyarakat dan ekonomi basis pengetahuan global, serta kesempatan bagi negara untuk membebaskan diri dari tirani geografi. Oleh karenanya harus ada layanan dan akses universal, kesamaan kesempatan, keragaman konten, serta kebebasan berekpresi dan akses" (International Telecommunication Union, 2002).

Untuk mewujudkan keuntungan kompetitif dari TIK itu, setidaknya dilakukan daur hidup yang meliputi pembangunan infrastruktur, mobilisasi warga sebagai Relawan yang melaksanakan peran Pandu Digital, dan pembangunan kompetensi literasi digital. Pandu Digital harus terdepan dalam menghantarkan bangsanya ke depan pintu gerbang kemerdekaan dari buta digital yang berdampak pada penambahan populasi melek digital di area geografis tertentu. Mereka dapat melewati tahapan pembangunan literasi digital berikut ini: 1) Penyadaran kebutuhan sektoral terhadap TIK; 2) Pelatihan bagi mereka yang telah memiliki kesadaran tersebut untuk membangun kompetensi literasi digitalnya; 3) Penerapan kemampuan literasi digital dalam kegiatan sektornya; dan 4) Perubahan yang dicapai dengan kreatifitas dan inovasi yang diterapkan dengan piranti digital. Saat mereka berhasil menghantarkan bangsanya ke tahap kedua, saat itu mereka telah membebaskan bangsanya dari buta digital.

Dari kegiatan survei yang melibatkan dua kelompok responden dari Relawan TIK Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, Ikatan Guru Vokasi Indonesia, dan Jaringan Sekolah Digital Indonesia diperoleh gambaran kebutuhan prioritas kompetensi literasi digital dengan urutan sebagai berikut:

  1. Penciptaan konten digital, mencakup pengembangan konten digital sebagai informasi atau pengetahuan baru;
  2. Keamanan, mencakup proteksi perangkat dan kesehatan pengguna, akurasi data dan proteksi berkas, proteksi lingkungan, etika dan privasi, serta akurasi, proteksi, dan properti Konten; 
  3. Melek informasi, mencakup pencarian, pemilihan, evaluasi dan pengelolaan informasi atau konten digital;
  4. Komunikasi dan kolaborasi, mencakup interaksi sosial, berbagi informasi atau pengetahuan, pelibatan, dan kolaborasi; dan
  5. Melek Teknologi Informasi, mencakup pengenalan aktivitas, pengguna, dan komponen teknologi informasi.

Kelima jenis literasi digital tersebut dikutip dari A Global Reference on Digital Literacy Skills for Indikator 4.4.2 yang dipublikasikan oleh Universitas Hongkong. Gerakan Nasional Literasi Digital membangun empat pilar literasi digital, yakni Digital Skills yang mencakup melek teknologi informasi, melek informasi, penciptaan konten digital, komunikasi dan kolaborasi; serta Digital Culture, Digital Ethics, dan Digital Safety yang mencakup keamanan. 

Selain dengan komunitas TIK selaku relawan dan komunitas sasaran yang didampinginya, pemerintah juga harus bermitra dengan perusahaan. Pemerintah harus membangun fasilitas digital yang bersifat publik guna mewujudkan kesetaraan akses bagi warga negara. Pemerintah juga harus membangun iklim investasi yang baik untuk perusahaan digital agar mereka nyaman dan menyediakan banyak solusi digital bagi bangsa ini. Komunitas TIK dapat mendampingi komunitas sasaran dalam pemanfaatan solusi digital tersebut. Pemerintah memberdayakan komunitas TIK agar dapat melaksanakan perannya dengan baik dan memberikan dampak yang signifikan bagi pembangunan masyarakat informasi Indonesia. Perusahaan juga dapat memberdayakan komunitas TIK dengan memberikan bantuan program atau berbagi usaha agar komunitas TIK dapat terus menjalankan program pendampingannya di tengah masyarakat.   

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk membebaskan warga negara Indonesia dari tirani geografis yang membatasi akses internet merupakan #JihadDigital kecil - perjuangan / upaya bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kemerdekaan digital. Jihad besarnya adalah upaya kita semua selaku warga negara Indonesia yang baik untuk tidak merespon jihad kecil tersebut dengan ekspresi buruk (ujaran kebencian, hoax, dan lain sebagainya), tetapi dengan turut serta di dalam jihad kecil tersebut dalam beragam peran. Oleh karenanya, merdeka di era digital itu apabila kita dapat mengakses internet di mana saja untuk keuntungan kompetitif, dan dapat mengendalikan diri untuk tidak berekspresi negatif di dunia maya.

Materi:

23 Oktober 2021

Mewujudkan Simbol Agama di dalam Hati


Dulu semasa bujang, saya sering menggunakan gamis, baik di dalam dan di luar kegiatan mengaji, dan bahkan mengusulkannya sebagai seragam organisasi. Kemudian ada yg menasihati agar saya jgn berislam secara simbolis, sebab berislam itu tdk bisa disimpulkan dari penampilan, tetapi dari apa yg kita fikirkan dan perbuat.

Sekarang ini saya mendengar nasihat yg sama dari Gus Men di hari Santri Nasional, agar santri tdk terjebak dgn simbol sarungan yg sdh menjadi identitas santri dari dulu. Saya termenung, menyadari kalau sudah lama sekali sarung dan peci tdk digunakan, bahkan saat salat Jum'at sekalipun. Bahkan celana cingkrang pengganti sarung, yg membuat saya dianggap terafiliasi kelompok tertentu, sudah saya tinggalkan juga.

Saya ingin lebih bermakna dgn menjadi sosok pelayan tanpa ikatan simbol apapun. Simbol terpenting bagi seorang pelayan adalah lafadz Tuhan yg harus senantiasa terpasang dan terbayang di mata, sehingga orang lain lebih mudah atau kuat ingatannya kpd Sang Khlaiq dari pada kpd sang pelayan.

#BiografiCahyana

18 Oktober 2021

Di Antara Positivis dan Post-Positivis

Perbedaan pendapat antara penganut aliran pemikiran induktif dengan deduktif di antaranya terkait demarkasi yang menentukan posisi Metafisika di dalam Science. Kalangan Induktif atau Postivis mengeluarkan Metafisika dari Science dengan alasan melawan prinsip pengalaman inderawi. Sementara kalangan Deduktif yang belakang menjadi aliran pemikiran Post-Positivisme menyanggahnya dengan mengatakan bahwa temuan itu di antaranya bersumber dari intuisi yang dapat dibuktikan dengan pengalaman rasional. 

Kalangan Post-Positivis ini telah meninggalkan fase yang menyandarkan pengetahuan pada Teologisme semata, tetapi tidak meninggalkan Rasionalism untuk menjadi seorang Positivis. Sementara Positivis secara ekstrem meninggalkan dua fase sebelumnya, yakni Teologisme dan Rasionalism. Post-Positivis berusaha untuk bersikap moderat terhadap aliran-aliran pemikiran yang telah memberikan kontribusi berharga bagi umat manusia. 

Dalam pemikiran Karl Propper, klaim atau temuan apapun harus dapat diuji dengan falsifikasi tertentu. Semakin kokoh klaim tersebut, maka semakin dekat dengan kebenaran. Falsifikasi ini senantiasa terbuka untuk dilakukan, sehingga tidak ada kebenaran yang merupakan kebenaran absolut; atau dengan kata lain, semua kebenaran yang diperoleh dari pengalaman itu bersifat nisbi. Di sisi lain ada sebagian yang menolak falsifikasi dengan fallacy, menganggap benar klaimnya yang telah runtuh. Hal demikian membawanya dirinya kepada non science, atau pseudo science

Seorang periset harus menguji temuan (hasil) penting dari pengalaman risetnya; bukan untuk membenarkannya dengan logika-logika yang dipaksakan, tetapi untuk mengukur seberapa logis temuan tersebut dapat menjawab pertanyaan penelitian dan menyelesaikan masalah penelitian. Semakin logis, semakin temuan tersebut dikuatkan (corroborated). Apabila kokoh, maka temuan itu merupakan Science. Kalau falsifikasi para penguji membuktikan temuan itu tidak menjawab pertanyaan penelitian atau tidak menyelesaikan masalah penelitian, maka temuan itu non science yang non sense.

17 Oktober 2021

Perdebatan

Perdebatan merupakan aktivitas yang banyak dihindari oleh kalangan berilmu. Namun al-Ghazali dalam Ayyuhal-Walad membolehkannya dengan menentukan syaratnya, yakni utk kebenaran, di mana kita tdk membedakan kebenaran yg datangnya dari lisan sendiri atau dari orang lain. Imam Syafi'i dalam Adabu Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu berkata, "Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat". Beliau juga berkata dalam Tabyinu Kadzbil Muftari, "Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru". Oleh karenanya, sikap default dalam perdebatan adalah semangat untuk memperbaiki kebenaran yang sudah diketahui. Fokusnya pada apa (kebenaran) yg dikatakannya (diyakininya), bukan pada siapa yg mengatakannya. Dalam daur hidup pengelolaan pengetahuan, memeriksa relevansi dan akurasi suatu pengetahuan itu merupakan tahapan terpenting untuk menumbuhkan pengetahuan. 

Dalam lingkungan kebebasan berekspresi, setiap orang bebas utk menentukan cara mengekpresikan sesuatu, dan bebas pula utk menentukan cara meresponnya. Sesuatu yang bermanfaat akan ditemukan oleh kedua belah pihak yg berkomunikasi saat pesan yg mengalir di antara keduanya hampir tidak terpengaruh oleh noise psikologis, seperti ketidaksukaan kepada pribadi seseorang.

Fokus perdebatan itu adalah utk menguji kekokohan suatu kebenaran, bukan fokus pada siapa yg meyakininya sebagai kebenaran. Setiap orang berangkat dari kesadaran bahwa kebenaran yg diyakininya itu nisbi, belum tentu selalu benar, atau setidaknya belum tentu merupakan kebenaran yg sempurna. Dan kebenaran itu datangnya bisa dari siapa saja, dari sudut pandang manapun. 

Apabila mereka yg berdebat tdk fokus melainkan kpd kebenaran, tdk akan ada keperluan dari siapapun utk melihat pribadi lawan debat. Demikian pula apabila muncul ujaran kebencian pada salah satunya yg menargetkan karakteristik yg dilindungi (ras, agama, dls), orang yang menjadi target ujaran kebenciannya tdk akan terganggu selama tetap fokus pada kebenaran.

Apabila lawan debat berputar-putar dgn ujaran buruknya tanpa bisa mencegah robohnya kebenaran yg ia yakini, hal demikian menunjukan ia mengalami fallacy, sebab ia mentolerir sesuatu yg telah runtuh (special pleading) atau menolak keruntuhannya secara tdk logis. Saat seseorang berpaling dari kebenaran yang kokoh dengan modal cemoohan, ia tengah bersikap sombong. Dalam kondisi demikian, siapapun yang telah memetik kebenaran yang kokoh harus menghentikan segera perdebatannya, dan berlalu dari siapapun yg terkungkung oleh fallacy. Perdebatan yg berakhir dgn penampakan kebenaran yg kokoh telah cukup sebagai counter-speech bagi hate-speech.

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).

#PersepsiCahyana

09 Oktober 2021

Rasa Bersalah


Rasa bersalah itu akan terasa beragam bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, rasa bersalah kpd orang yg dikenal, terasa berbeda dgn rasa tsb kpd orang yg tdk dikenal. Bahkan ada yg mengalami rasa itu demikian: 1) Semakin dekat, semakin terasa, dan semakin jauh, semakin tak terasa; 2) Semakin terlihat jati diri, semakin terasa, dan semakin tersembunyi, semakin tak terasa.

Tetapi inti rasa bersalah itu sama utk segala kondisi yg beragam tsb. Dari inti itu terpancar ketidaknyamanan yg diletupkan dgn kekuatan, di mana kekuatannya beragam tergantung syarat kondisinya. Misalnya, kalau kondisi dirinya terlihat, dan objeknya dekat atau dikenal, letupannya akan besar, sehingga pancaran ketidaknyamananya akan sangat kuat dan membebani fikiran.

Inti tersebut sering dirujuk utk membuat pengertian umum dari makna bersalah dan rasanya. Inti dari rasa tersebut adalah bahan baku ketidaknyamanan yg akan diletupkan. Inti tersebut adalah pengabaian komitmen. Artinya, semua orang yg mengalami rasa bersalah seperti apapun kondisinya atau sebesar apapun rasanya, penyebabnya sama, yakni pengabaian komitmennya kpd objek, baik komitmen alami atau disepakati.

Misalnya kita punya komitmen utk bersikap lembut kpd siapapun. Apabila suatu saat bersikap sebaliknya, kita akan merasa tdk nyaman. Semakin berkomitmen, semakin tdk nyaman. Oleh karenanya, selain kondisi subjek (nampak/tersembunyi) dan objek (jauh/dekat, dikenal/tdk) yg menentukan seberapa kuat letupan rasanya, kondisi inti (komitmen) juga turut menentukannya.

#PersepsiCahyana

07 Oktober 2021

Mengelola Stress

Stress adakalanya menimbulkan masalah saat bebannya berlebih. Stress tidak selalu timbul karena adanya fikiran negatif. Semangat positif yang dibangun oleh fikiran positif terkadang menimbulkan stress saat fikiran menjadi sangat penuh. Ada beberapa jurus pengelolaan stress yang saya kutip dari beberapa pustaka.

Dari karya tulis Ibn Arabi saya menemukan satu konsep Raja Hati. Gagasan utamanya adalah aku yang harus menunggangi fikiran atau perasaan ku,  jangan fikiran dan perasaan yang menunggangi ku, atau selain ku yang menunggangi fikiran dan perasaan tersebut. Fikiran dan perasaan itu seringkali diidentifikasi sebagai sosok lain. Dalam perbincangan psikologi ada istilah Dualisme Kepribadian yang gagasan utamanya adalah "aku" bukanlah "aku yang berlawanan". Dihubungkan dengan konsep Raja Hati, aku sebagai raja di dalam hati, bukanlah aku yang berlawanan, dan aku yang berlawanan harus ditundukan untuk mempertahankan kedudukan ku sebagai raja hati.  

Dari karya tulis al-Ghazali saya menemukan konsep untuk mengurangi fikiran dan perasaan yang tidak penting, yakni selalu berpaling dari bisikan negatif dalam hati sampai pembisiknya patah semangat. Sama seperti kita yang bersifat diskrit, memiliki batasan usaha, aku yang berlawanan juga memiliki batasan usaha. Apabila usahanya mandeg, aku yang manapun mungkin akan berhenti dengan sendirinya.

Dari karya tulis Ibnu Athaillah saya menemukan konsep istirahat sebagai upaya mengurangi tekanan. Wujud istirahatnya adalah kontemplasi. Tujuannya dua:

Pertama, berpegang terus pada "tonggak yg sama" dalam fikiran utk mencegah diri terbawa arus negatif di dalam diri. Bagi muslim, "tonggak" itu berupa ingatan kepada Tuhan, di mana berpegang terus padanya itu diwujudkan dalam dzikrullah. Aku dapat menghindari dari keinginan aku yang berlawanan dengan mengarahkan "wajah" ku kepada "wajah" Nya, kepada nama-Nya.     

Kedua, mensugesti diri dalam kontemplasi tersebut untuk mengarah kepada fikiran dan perasaan yang baik, sehingga aku yang berlawanan mendapat penghalang tebal untuk mengganggu ku.

Dari semua konsep yang telah disampaikan, kunci pengelolaan stress adalah pengetahuan baik dan buruk yang berasal dari beragam sumber pengetahuan yang dipercaya. Selain itu adalah dengan menyeimbangkan aku dengan aku yang berlawanan, yin-yang. Artinya kita tidak mungkin lepas dari stress, hanya bisa menyeimbangkan kemampuan aku dengan aku yang berlawanan. Stress itu benar-benar hilang saat aku tidak ada.

#PersepsiCahyana

Keyakinan dan Sains

Istilah naik ke langit dan turun ke bumi telah menjadi bagian dari sistem kepercayaan manusia dari dulu, di mana orang pilihan tertentu dipercaya telah mengalaminya. Misalnya, Isa naik ke langit; Adam, Hawa, dan Isa turun ke Bumi; Muhammad naik ke langit dan turun kembali; beberapa Nabi yg telah meninggal ditemui di lapisan atau dimensi langit tertentu. Beberapa teks suci mendeskripsikan kendaraan yg digunakannya. Hal ini serupa dgn keyakinan bangsa Mesir dan kebudayaan tinggi lainnya di masa lalu, di mana raja mereka setelah meninggal, jiwanya akan menetap di langit. 

Urusan ketuhanan dan metafisika ini telah menjadi teori umum di masa lalu, sumber inovasi manusia. Dan sekarang ini, Positivis menolak klaim yg tdk bisa dibuktikan tsb, dan menyebutnya sebagai omong kosong, sampai datang pengalamannya kpd diri mereka sendiri yg dapat diuji. Selama klaim pengalaman apapun tdk dapat diuji, mereka menganggapnya sebagai pseudoscience.

Namun sebagian ilmuan memilih jalan moderat dgn mengatakan, bahkan tdk ada satupun kebenaran dari pengalaman manusia yg merupakan kebenaran krn mungkin suatu saat falsifikasi akan menunjukan kebenaran yg tertunda/sebenarnya. Itulah sebab knp tdk bijak menjadikan pengalaman manusia yg kebenarannya nisbi sebagai dalil kebenaran bagi pengetahuan mutlak Tuhan, sehingga dlm urusan keyakinan kpd Tuhan, pilihan kita hanya percaya hingga datang keyakinan ☺️

#PersepsiCahyana

04 Oktober 2021

Perjalanan Menemukan Kebenaran dari Tangga Korespondensi hingga Pragmatis



Teori kebenaran Koresponsensi menjadikan pengideraan sebagai dasar kebenaran, di mana seseorang meyakini kebenaran dari adanya sesuatu atau hal tertentu apabila telah menginderanya sendiri. Sementara dalam teori Koherensi,  kebenaran akan adanya sesuatu atau hal tertentu tidak cukup hanya apabila telah terindera saja, tetapi harus rasional atau sesuai dengan akal sehat. Namun adakalanya mereka yang telah mengindera dan menggunakan akal sehatnya membuat kesimpulan tentang kebenaran adanya sesuatu atau hal tertentu yang berbeda karena berdiri pada sudut pandang berbeda atau sempit. sehingga menurut teori Konsensus semuanya dapat duduk bersama untuk merangkai setiap kesimpulan yang diperoleh dari sudut pandang sempit yang beragam menjadi kesimpulan yang lebih luas lagi. Adapun teori Pragmatik mensyaratkan kebermaknaan atau manfaat dari kesimpulan tersebut, apabila tidak demikian maka adanya sesuatu atua hal tertentu tidak perlu dianggap sebagai kebenaran.

Contoh perjalanan manusia dari teori kebenaran Korespondensi hingga ke Pragmatik bisa kita lihat dari ajaran Budha Gautama yang diceritakan dalam Tipitaka tentang kisah sejumlah orang buta yang belum mengetahui Gajah dan berusaha mengidentifikasi kebenaran adanya Gajah. Pada awalnya, setiap orang buta berdiri di sudut yang berbeda dan dengan alat indera yang masik dimilikinya berusaha mengidentifikasi adanya Gajah. Dengan berhasil menyentuhnya, setiap orang buta meyakini kebenaran adanya Gajah. Hal tersebut telah memenuhi teori kebenaran Korespondensi

Ada kalanya seseorang itu skeptis, sehingga tidak langsung begitu saja percaya dengan apa yang diideranya. Orang buta yang menyentuh belalai Gajah dan pernah memiliki pengalaman menyentuh Ular mungkin perlu menggunakan logikanya untuk memastikan apa yang disentuhnya bukan Ular. Dengan menyamakan pengalamannya sekarang dengan pengalamannya menyentuh Ular ia akan berhasil melihat perbedaannya dan meyakini bahwa yang disentuhnya bukan Ular, sehingga lebih percaya dengan kebenaran adanya Gajah. Proses demikian telah memenuhi teori kebenaran Koherensi.

Apabila semua orang buta dikumpulkan, lalu diminta untuk menjelaskan karakteristik Gajah, akan ada perdebatan di antara orang buta tersebut. Hal demikian dikarenakan satu orang buta mengindera Gajah dari belalai, satu orang lainnya dari kaki, satu orang lagi dari tubuh, dan ada pula yang dari ekor. Apabila semua orang buta rendah hati, semuanya akan duduk bersama dan merangkai wujud Gajah dari pengalaman yang berbeda, sehingga tercipta dalam benak semuanya citra Gajah yang lebih lengkap. Hal demikian telah menghantarkan semua orang buta pada tahapan kebenaran menurut teori kebenaran Konsensus.

Pertanyaan terpenting yang harus difikirkan oleh semua orang buta adalah tentang kemanfaatan mahluk yang besar tersebut, lepas dari apakah sebelumnya telah melewati perjalanan dari kebenaran Korespondensi hingga Konsensus atau tidak. Apabila tidak ada manfaat yang diperoleh diri sediri dan masyarakatnya, keberadaan Gajah tidak perlu diindahkan dan cukup disikapi seperti kaum Positivis mengacuhkan Metafisika. Namun saat satu atau beberapa atau semua orang menganalogikannya dengan hewan serupa yang telah memberi manfaat, semuanya akan merasa optimis dengan keberadaan Gajah sebagai kebenaran yang layan diindahkan. Sampai tahap ini, semuanya telah sampai pada teori kebenaran Pragmatik

#PersepsiCahyana

30 September 2021

Saya Muak dengan Eksploitasi Bayi


Maghrib itu laju kendaraan saya terhenti di perempatan jalan Proklamasi karena lampu lalu lintas menyala merah. Seorang anak mengunjungi beberapa kendaraan di depan saya utk meminta uang. Nampak seorang bayi dibawa sertanya. Tadinya saya mau membuka kaca mobil utk mengekspresikan sikap "protes" atas tindakan anak tsb, tetapi anak itu tdk melewati kendaraan saya.

Beberapa hari sebelumnya, ada seorang ibu yg mengenakan jas hujan sambil membawa bayi di sisi perempatan lainnya. Saat itu memang sedang hujan. Ibu itu menghampiri utk meminta uang. Saya tdk memberinya krn tdk ingin menjadi orang yg mendukung bayi dibawa2 seperti itu, apapun alasan ibu tsb.

Di tempat lain, tepatnya di depan ATM pinggir hotel Alamanda, seorang ibu duduk di trotoar sambil menggendong bayi saat malam hari. Di pinggirnya ada karung yg entah berisi apa. Saya jadi teringat seorang ibu yg selalu duduk di atas trotoar dekat jembatan Cimanuk sambil mengais bayi setiap kali lewat ke sana saat malam hari.

Lepas dari pengalaman tersebut, jauh sebelum heboh pemberitaan ttg bayi yg dicat, saya sudah lama merasa muak dgn eksploitasi bayi oleh orang dewasa utk mencari uang di jalanan. Saya tdk pernah akan mendukungnya, sehingga tdk ingin memberinya uang. Seorang peminta-minta yg membawa bayi tdk membuat saya iba, tetapi membuat saya muak. Bayi itu bukan alat utk mencari uang, tetapi sosok rentan yg harus dijaga kesehatannya. Apakah ada yg juga merasa muak seperti saya?

#BiografiCahyana

25 September 2021

Anti Komunis Simbolis atau Substantif?

Di era digital ini, masih ada kalangan yg terpaku pd bulan September utk menunjukan sikap anti Komunis. Padahal perilaku insan bertuhan yg netral / melepaskan agama ada di sekitar kita dan terlihat setiap saat dlm interaksinya thd konten atau netizen lainnya di medsos. Dalam kongres Sarekat Islam 1922, Sukendar yg mewakili kalangan Komunis mengatakan bahwa mereka percaya kpd Tuhan tetapi bersikap netral agama. Fikiran demikian dimiliki oleh kalangan Sarekat Islam "Merah".

Di internet, ada banyak orang yg mengalami post-nasionalism, di mana atribut Keindonesiaannya ditanggalkan saat masuk ke ruang maya, sehingga tdk terlihat citra dirinya sebagai bagian dari bangsa yg santun dan ramah yg merupakan karakter khas orang Indonesia yg telah lama dikenal di luar sana. Hal demikian juga menunjukan citra baru mereka di dunia maya yg menanggalkan agama pembentuk akhlak mulia. Dlm kemasan, dirinya nampak seperti insan Bertuhan; namun dlm tindakan, mereka sangat jauh dari ajaran Nya. Saat mereka mengemas diri sebagai insan anti Komunis dgn perilaku netral agama di medsos, hal demikian menunjukan sikap penolakannya secara simbolis, namun tdk secara substantif. 

16 September 2021

Tips Bertahan di Sekolah Pascasarjana

Tips bertahan di Sekolah Pascasarjana berikut ini berdasarkan artikel Kuther - Department of Psychology at Western Connecticut State University:

  • Memahami diri dengan mempelajari kapan atau bagaimana menjadi produktif dan sebaliknya, di mana setiap faktor pemicunya dapat dikenali dan dikelola dengan baik;
  • Fokus lebih banyak pada proses belajar dari pada hasil, sehingga dapat mempertahankan proses yang telah baik, atau meningkatkannya menjadi jauh lebih baik;
  • Memilih peluang dengan memperhatikan prioritas kebutuhan, sehingga tidak perlu mengambil semua peluang yang tidak akan termanfaatkan dalam waktu yang singkat. 
  • Memilih promotor dengan alasan yang dapat dijelaskan, sehingga dapat mengambil manfaat positif dari interaksi dengannya;
  • Konsultasi kepada mahasiswa lain yang lebih dahulu melalui proses belajar, agar dapat menangani kelemahan diri dan hambatan eksternal yang sama, serta mengulangi praktik terbaiknya.
  • Mengelola waktu agar semua pekerjaan dapat tuntas sesuai perkiraan waktu yang realistis;
  • Ujung perjalanan tidak ada batasnya, di mana proses belajar itu harus berlangsung sepanjang hayat;
  • Mengelola berkas yang sesuai dengan dengan minat, kebutuhan atau tujuan pekerjaan;
  • Membaca secara cerdas dengan hanya pustaka atau bagian tertentu di dalamnya yang sesuai dengan minat, kebutuhan atau tujuan pekerjaan;
  • Menulis secara rutin apa yang telah dibaca, baik secara langsung dengan tangan sendiri, atau dengan menggunakan bantuan alat pengenalan suara;
  • Kehidupan luar kampus harus merupakan upaya pemeliharaan diri yang secara efektif dapat mengurangi tekanan pekerjaan; 
  • Dukungan keluarga yang tercipta dengan adanya pemahaman akan alasan dan manfaat kesibukan dapat mencegah penambahan beban fikiran atau pekerjaan.


13 September 2021

10 Pembelajaran dari Film Concussion


Berikut ini 10 point pembelajaran yang saya dapatkan dari film Concussion terkait sikap peneliti dalam mengawal minatnya terhadap sesuatu:

  1. Seorang ahli dapat memiliki topologi saintis yang religius, hal ini sebagaimana pribadi dr Bennet Omalu yang merupakan dokter dengan spesialisasi Anatomic Pathologist, Clinical Pathologist, Forensic Pathologist, Neuropathologist dan Epidemiologist, penganut agama Katolik taat yang menghormati jasad orang meninggal sebagaimana orang hidup. 
  2. Seorang ahli memperhatikan pengalaman empiris dalam penelitiannya, hal ini sebagaimana dr Omalu yang melakukan pengamatan empiris dari video pertandingan NFL (National Football League) dan latihan klub-klubnya. 
  3. Seorang ahli menyimpulkan sebab-akibat berdasarkan bukti, hal ini sebagaimana dr Omalu yang menyimpulkan kematian Mike Webster sebagai akibat efek jangka panjang pukulan berulang ke kepala yang mengakumulasi Chronic Traumatic Encephalopathy berdasarkan bukti neurotrauma.
  4. Peneliti mengoptimalkan sumber dayanya sendiri untuk membuktikan hipotesisnya, sebagaimana dr Omalu yang melakukan otopsi dengan biaya sendiri demi mendapatkan bukti 
  5. Temuan seorang ahli tidak serta merta akan diterima oleh siapapun, hal ini sebagaimana publikasi Dr Omalu bersama ahli lainnya atas temuannya di Bedah Syaraf yang ditolak oleh NFL
  6. Seorang ilmuan menyebarluaskan temuannya melalui beragam cara, sebagaimana dr Omalu yang mensosialisasikan temuannya melalui publikasi dan kegiatan penyadaran kepada masyarakat
  7. Temuan ilmiah dapat dianggap sebagai kebohongan tanpa bukti ilmiah untuk melindungi kepentingan tertentu, sebagaimana yang dilakukan oleh NFL terhadap dr Omalu hanya karena dipandang membahayakan otoritas pengelola liga
  8. Serangan terhadap temuan ilmiah dapat menggunakan sentimen tertentu, hal ini sebagaimana serangan dengan sentimen berdasarkan karakteristik tertentu (ras dan kewarganegaraan) yang ditujukan kepada dr Omalu
  9. Perlawanan terhadap ilmu pengetahuan menargetkan ilmuan dan pendukungnya, sebagaimana perlawanan terhadap temuan dr Omalu yang tidak hanya mengancam karirnya, tetapi juga kolega dan keluarga yang mendukungnya
  10. Temuan ilmiah dapat mencegah akibat buruk, seperti dialami oleh Mike Webster yang menunjukkan tingkah aneh, merasa kesakitan, gelisah, hingga akhirnya bunuh diri
  11. Peneliti berbuat untuk kemaslahatan, sebagaimana kegigihan dr Omalu dalam memberikan kesadaraan untuk mencegah banyak kematian


03 September 2021

Kembalikan Baliku padaku

Sebagaimana bencana pd umumnya yg berdampak ekonomi, pandemi ini telah menunjukan dampaknya di Bali. Seminggu work from Bali, berpindah dari hotel melati, ke hotel berbintang, hingga ke villa, ada pengalaman yg membuktikan dampak tsb. Gubernur Bali dalam kesempatan membuka Festival TIK mengungkapkan bagaimana terdampaknya sektor wisata, dan betapa pentingnya model bisnis di luar sektor wisata yg berbasis digital. 

Dlm perjalanan dari awal mendarat di Bali, saya melihat rasa bahagia pengemudi Grab saat mendapat penumpang. Saya mendengarkan cerita pengemudi lainnya tentang penurunan jml penumpang, sampai merasa kasihan dan setuju utk membekalinya makan malam. Saya melihat kebenaran cerita pengemudi tsb tentang objek wisata yg menjadi sepi. Rumah makan yg hendak saya tuju malam ini ternyata ditutup, demikian pula dgn sejumlah toko kecil hingga mini market non mainstream.

Kita semua harus segera mewujudkan kekebalan komunal dgn vaksinasi, agar cerita dan pemandangan yg menyedihkan ini segera berakhir. Sebelumnya saya telah mengunjungi Bali dua kali, dan melihat ada banyak orang yg menerima manfaat keberadaannya. Sekarang ini seakan Bali sedang menghadapi pandemi dgn karakter diam yg bukan khasnya. Semua penikmat Bali tentunya akan setuju dgn seruan ini, "Kembalikan Baliku padaku". Mengembalikan Bali dgn menuntaskan pandemi ini. 

#BiografiCahyana

27 Juli 2021

Memperluas Penetrasi Literasi Digital

Tantangan terbesar pemerintah dlm #literasidigital adalah menjangkau masyarakat yg enggan atau tdk punya waktu utk membangun kemampuan literasi digitalnya. Saya menduga, warganet yg berinteraksi secara tdk etis di sosmed atau buta digital umumnya enggan menyengajakan diri mendengar ceramah etika digital. Dugaan ini menarik utk dibuktikan melalui survei.

Cara efektif utk menjangkau seluruh pengguna perangkat digital mungkin bukan dgn seminar insidental, tetapi dgn mengintegrasikannya ke dlm sistem / kurikulum pendidikan wajib. Integrasi tsb menjadi jaminan setiap WNI yg melewatinya akan mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap literasi digital. Kurikulum memberi kesempatan bagi stakeholders utk mengukur kemampuan kompetensi literasi digital setiap jenjang dan setiap tahunnya.

Buta digital di era digital seperti buta aksara di masa kolonial.

#PersepsiCahyana

Logika Makan 20 Menit

Entah sebagian warganet itu usil atau benar-benar julid sehingga tidak mau menanggapi aturan makan 20 menit di RM (Rumah Makan) secara logis. Fahami dan terapkan saja aturannya dengan logis, 20 menit terhitung setelah makanannya tersaji. Kalau ada makanan yg waktu memakannya lebih dari itu, take away saja. 

Aktivitas menyiapkan makan tidak bisa diatur secara kaku, setiap jenis dan ukuran makanan punya durasi waktu penyiapan yang berbeda. Kalau durasinya tidak terpenuhi, makanan tidak akan tersaji secara layak, dan tentunya pelanggan akan kecewa. Sementara aktivitas pelanggan setelah makan bisa diatur. 

Di masa PPKM, kebiasaan sebagian pelanggan seperti saya yg menjadikan kunjungan ke RM sebagai rekreasi / kumpulan dengan keluarga / teman harus ditiadakan dulu demi kepentingan umum. Dicukupkan hanya dengan memuaskan keinginan menyantap makanannya saja, khususnya yang hanya tersedia di RM tersebut; setelah selesai makan langsung pergi. Di beberapa RM, saya harus menunggu waktu penyajian yang tidak secepat RM Padang. Di masa menunggu itulah kita bisa ngobrol atau internetan dengan tetap menerapkan prokes.

Pembuat konten bisa menjadikannya sebagai konten pembuktian, apakah benar memakan makanan yang tersaji di RM itu membutuhkan waktu lebih dari 20 menit? Tapi aktivitasnya makan saja ya, jangan sambil ngobrol di dunia maya atau di dunia nyata. Pengalaman saya pribadi, kalau makan sambil ngobrol, kerja daring, atau interaksi sosial yang penting di dunia maya, memang membutuhkan waktu makan yang lebih lama. Harapannya bisa teridentifikasi jenis makanan apa yang bisa dimakan di RM, dan mana yg harus take away.

Hari ini, 27 Juli 2021, saya makan siang di rumah makan nasi Padang. Di sana hanya ada 3 pengunjung saja yg makan di lokasi. Saya memilih ruang belakang yg tdk ada pengunjung sama sekali. Duduk rapat dinding utk menjauh dari perlintasan pengunjung. 

Setelah makanannya tersaji, stop watch pun dinyalakan. Saya berusaha utk bersikap senatural mungkin. Setelah selesai makannya, stop watch pun dihentikan. Ternyata saya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit utk makan siang tsb, hanya setengah persen dari waktu yg ditentukan oleh pemerintah.


#PersepsiCahyana

Saat Saya Kelaparan

Suatu hari di masa muda saya pernah kelaparan, tidak punya uang yang cukup untuk membeli makan. Lalu Tuhan mengaruniakan fikiran utk memakan buah-buahan yg tumbuh di kebun dengan bumbu sekedar garam. Itulah usaha yang dilakukan kala itu untuk mengisi perut. Memang bukan makanan yang mengenyangkan, tetapi terasa lebih dari cukup. 

Apabila melihat ibadah pada Tuhan Sang Pemberi Rejeki yang belum seberapa, dosa yang ada, nikmat tersebut terasa belum layak saya terima. Saya tidak meminta bantuan kepada lingkungan sekitar, atau keluarga, atau kepada Tuhan selama Tuhan masih menunjukan jalan keluarnya. Cukuplah sabar dan syukur sebagai wasilah untuk mendapatkan pertolongan Nya, Tuhan memberikan jalan rejeki yang tidak disangka-sangka kepada hambanya yang bertakwa. 

Syekh Abdul Qadir Jailani r.m. mengajarkan kepada muridnya, bahwa beliau meminta kepada Tuhan apabila sudah sama sekali tidak mampu berusaha.

25 Juli 2021

Organisasi dan Luapan Out-of-the-Box

Dialog antar personal secara tertutup atau sesi berbagi pengetahuan secara terbuka dapat menjadi media pengukuran keselarasan setiap orang dgn organisasinya. Setiap gerak langkah atau putaran roda organisasi hrs sejalan dgn visi, misi, tujuan, sasaran, dan prokernya. 

Setiap orang harus dapat mengendalikan gerakannya dan setiap elemen yg menggerakannya. Setiap kekuatan di dlm organisasi dan kesempatan yg ada di luar organisasi, serta sumber daya yg dapat diakses di kedua sisi tsb harus dimanfaatkan utk melengkapi, menggerakan, meningkatkan kecepatan, atau memperbaiki roda organisasi. 

Pemikiran atau usaha orang2 yg out-of-the-box berikut hasil kerjanya merupakan hasil interaksinya dgn dunia luar yg kondisinya berbeda dgn kondisi organisasinya. Interaksi tsb merupakan kebiasaan orang yg tdk "kurungbatokeun" atau tdk "seperti katak dlm tempurung". Pemikiran atau usaha tsb baru bisa dimengerti atau diterima oleh organisasinya di saat kebutuhan masa depan organisasi yg telah diupayakannya sdh mulai muncul ke permukaan, atau ada praktik terbaik dari pesaing yg memperoleh daya saing atau keuntungan kompetitif dgn menerapkan pemikiran atau melakukan usaha tsb.

Organisasi hrs memberi ruang inovasi & kreativitas selama tdk melemahkan organisasi atau menimbulkan hambatan eksternal organisasi. Inovasi dan kreativitas merupakan kunci sukses organisasi, fase akhir literasi organisasi yg tdk boleh diabaikan. Secara teori, lingkungan yg inovatif dan kreatif tdk mudah terwujud dlm sistem kepemimpinan terpusat. 

Sementara itu, luapan inovasi dan kreatifitas itu merupakan kecenderungan, sehingga cenderung sulit dibendung. Luapannya bisa menggenangi organisasinya saja, atau meluap hingga sampai ke pesaingnya apabila kondisinya bukan merupakan aset bernilai bagi organisasinya atau organisasinya tdk memproteksi aset tsb. 

21 Juli 2021

Altruisme Mengokohkan Pembatasan Sosial Luas

Sumber Gambar: https://news.detik.com/berita/d-5026437/banyak-cara-antarkansemangat-untuk-pejuang-transportasi-saat-pandemi

Saya memperhatikan, di kita bansos menjadi satu2nya yg sering disebut warganet sebagai penyambung hidup di kala terdampak kebijakan pembatasan sosial secara luas. Padahal di medsos, saya melihat ramai penggalangan dana oleh NGO di saat terjadi krisis kemanusiaan atau konflik di LN. 

Masih teringat kisah penggalangan dana utk pembelian kapal selam yg sukses mengumpulkan banyak dana, sekalipun tdk sampai berhasil membelinya. Sementara itu potensi zakat di Indonesia tdk kalah besarnya. 

Ketika Pakistan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial lebih luas untuk memerangi virus corona, sebuah hukum Islam tentang kedermawanan (zakat) telah membantu menyelamatkan mereka yang sedang tidak bisa bekerja. 

Lihat: https://www.google.co.id/.../indonesia/vert-tra-52194435.amp

Warganet hanya perlu mengkampanyekan Altruisme dan melawan Egoisme utk menguatkan ikhtiar pembatasan sosial yg luas utk menangani pandemi. Idul Adha mengajarkannya kpd penduduk muslim. Sumber dayanya sdh ada, hanya apakah mau bahu membahu dgn mengabaikan perbedaan dan ketidaksukaan, atau tdk? Ingatlah bahwa kita ini manusia, dan kita ini satu bangsa. 

#PersepsiCahyana

19 Juli 2021

Tipu Daya Ketaatan yg Merupakan Ketidaktaatan


Syarat yg hrs dipenuhi utk berhaji adalah telah divaksin 2x dan disiplin menjaga jarak. Di sini, vaksinasi dan salat dgn menjaga jarak masih dipermasalahkan. Begitu pula dgn wacana vaksinasi 2x sebagai syarat perjalanan. 


Dgn mudahnya kalangan awal menyebut ketaatan kpd upaya vaksinasi dan prokes yg diberlakukan oleh pemerintah sebagai ketaatan kpd selain Allah, entah siapa yg mempengaruhinya. Padahal sdh jelas ulama telah menunjukan kesesuaian vaksinasi dan prokes tsb dgn ajaran agama, bahkan sudah dipraktikan di tanah suci. 

Wajib bagi kalangan Aswaja utk mentaati kebijakan pemerintah yg sejalan dgn agama. Hal berbeda dgn kaum Khawarij dan semisal lainnya yg menjual agama demi syahwat politik. Istilah yg digunakan kalangan radikal utk ketaatan model demikian adalah ketaatan kpd toghut atau arbaban min dunillah.

Kalau membaca fatwa al-Azhar Mesir terkait salat ied di rumah, dapat disimpulkan bahwa ketaatan kpd prokes yg seperti demikian itu sama dgn ketaatan kpd Allah, dan pelanggarannya merupakan perbuatan dosa. 

Dewan Ulama Senior Al-Azhar menyatakan di dalam fatwanya, "Setiap orang yang mengundang kerumunan massa seperti itu untuk berdoa dan memohon ampunan, padahal telah nyata bahaya yang mengancam, dinilai telah berdosa dan melanggar hukum Allah. Agama meminta agar mereka berdoa kepada Allah di rumah masing-masing, dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati, memohon agar Allah menganugerahkan kesehatan, mengangkat wabah ini, dan bencana segera sirna dari semua orang".


Bahkan Dewan Ulama Senior Al-Azhar memutuskan, diperbolehkan secara syar’i untuk meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah sementara waktu sebagai upaya menghentikan penyebaran virus corona yang membahayakan. Walau demikian, tetap wajib hukumnya mengumandangkan azan pada setiap waktu shalat. Pada setiap azan, muazin diperbolehkan mengumandangkan “Shollu fii buyuutikum (shalatlah di rumah kalian)”.


Lucunya, ada kalangan awam yg mempertanyakan, apakah ulama yg berfatwa seperti itu tergolong ulama baik atau buruk?. Ia berupaya menolaknya hanya berbekal kitab kitab Safinah. Selevel gurunya saja banyak yg menaruh hormat kpd Dewan Ulama al-Azhar dan ingin belajar di Universits al-Azhar. 

Sungguh merupakan talbis iblis apabila seseorang berfikir utk mentaati Allah, atau tdk mentaati selain Allah, tetapi dgn cara yg berlawanan, yakni menegakan ketaatan dgn amal ketidaktaatan. Hidup kita akan kembali normal baru kembali dgn herd immunity setelah kebijakan vaksinasi dan prokes ditaati dan sukses dilaksanakan.

#PersepsiCahyana

14 Juli 2021

Ikhtiar Tanpa Atribut Agama

Mencari uang hrs seperti akang beca ini. Ia punya tanggung jawab menafkahi keluarganya. Tdk berhenti kerja dan berharap bansos, walau mungkin jumlah konsumennya menurun terimbas PPKM. Memang serba salah, dgn PPKM konsumennya menurun krn banyak yg diam di rumah; tanpa PPKM pun mungkin kondisinya sama krn banyak konsumennya yg sakit dan meninggal.

Saat ditemui, akang becanya bilang beberapa hari ini blm mendapat penumpang. Sebenarnya penumpang menurun sejak ojek online tumbuh berkembang. Dan di masa PPKM ini, penumpangnya semakin sepi. Menurut saya, ada dua solusi utk akang ini, perusahaan digital memberi layanan digital sebagaimana halnya ojek, atau upgrade usahanya menjadi ojek online.

Lembaga penggalang dana kemana ya? Kenapa iklannya muncul di medsos saat ada krisis kemanusiaan di luar negeri. Bahkan penggalangan dananya dilakukan di perempatan jalan sambil bawa bendera negara yg dibantu dan atribut agama. Saat PPKM, atribut agama itu di lingkungan saya hilang di telan bumi, seakan tdk laku jadi "alat pemasaran" utk penggalangan dana bagi warga terdampak PPKM. Yang terlihat anak kecil yg membawa kotak dan orang berjoget dalam baju karakter sedang mencari sesuap nasi.

Kita sebenarnya tdk butuh atribut agama utk membantu kesulitan orang seperti akang penarik beca, cukup bermodalkan rasa kemanusiaan saja, dan usaha semampunya, minimal berbagi konten informasi atau gagasan di medsos, dukungan imateri atau bantuan materi. Kalau hati tdk tergerak, agama bisa dijadikan terapi bagi mereka yg punya agama, tdk perlu "dijual" utk mengambil keuntungan bisnis penggalangan dana.

10 Juli 2021

Penapisan Sebelum Mengabsolutkan


Semuanya kembali kpd hati dan lingkungan. Kalau rumus absolut diterapkan di dalam hati, maka semua masukan berupa data negatif bisa diproses menjadi informasi yg positif. Tetapi kalau intensitas data negatifnya tinggi sehubungan dgn arus data yg besar dari lingkungan interaksi sosialnya, pemrosesan absolutpun bisa jebol juga. 

Kalangan intelek hanya tertolong oleh satu hal, yakni sikap rasional, atau kemampuan menapis di fase sebelum mengabsolutkan yg membuatnya hanya bisa menerima masukan berupa data valid. Ada banyak dari mereka yg akhirnya menemukan kebenaran walau berangkat dari kondisi skeptis. Sebesar-besarnya arus data, kaum rasionalis bisa mendayung ke tepian, sehingga tdk tenggelam dan terliputi data negatif yg menghilangkan akal dan rasa.

#PersepsiCahyana

Guyub dan Solutif di Masa Bencana


Saat ada ruang kosong yg belum terisi oleh pemerintah, maka biasanya dlm lingkungan guyub/rukun yg solutif, masyarakat berinisiatif mengisinya utk membantu pemerintah, terpanggil oleh negaranya utk mengabdi. Misalnya, kalau dana bansos di masa PPKM tdk ada atau kurang, maka masyarakat dapat berpartisipasi dgn mengadakan atau menambahinya. Di lingkungan sebaliknya, masyarakat memberatkan beban pemerintah dgn doa buruk atau lainnya.

Di lingkungan yg baik, masyarakatnya mengembangkan prasangka baik, misalnya: mungkin pemerintah lupa, sehingga perlu diingatkan; atau mungkin pemerintah punya beban pembiayaan lain yg sama pentingnya, seperti vaksinasi, pengobatan, atau lainnya, sehingga perlu dibantu. Saya pribadi percaya, di lingkungan yg demokratis dan modern seperti sekarang ini, di mana penguasa dipilih oleh rakyat secara langsung, tdk ada penguasa yg bertujuan utk menghilangkan kesejahteraan rakyatnya utk meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri seperti halnya raja atau kaisar atau pewaris tahta kekuasaan dari keluarga di masa lalu.

Kembali ke sampel solusi. Kalau masyarakat tdk bisa melunasi cicilannya krn penghasilannya menurun akibat terdampak penanganan bencana pandemi, ada dua pilihan bagi masyarakat: 1) Menjual aset cicilan tsb bila tdk produktif; atau 2) Gerakan pembebasan hutang memperbesar kampanyenya, sehingga tersedia dana yg besar utk menutupi banyak cicilan aset produktif masyarakat terdampak bencana. Produktif dlm arti mempengaruhi kebutuhan mendasarnya. Kalau asetnya konsumtif, misalnya aset lebih, seharusnya dijualpun tdk apa2, sekiranya tdk lagi punya tabungan yg bisa dimanfaatkan. Kalau tdk mau menjualnya, ya berarti tamak atau tdk ingin berkorban utk kepentingan bangsa dan negara.

Bencana harus dijadikan ajang menambah kawan dan bukan musuh, agar psikologi kita tdk terganggu. Bencana harus dijadikan ajang menambah pahala kebaikan dan bukan keburukan, agar masa depan kita lebih baik. 

#PersepsiCahyana

08 Juli 2021

Ulah Sompral

Waktos seeur jalmi nu kainfeksi dirawat di RS, aya sapalih jalmi nu nyapirakeun kondisi eta ku cariosan, "Ah, paling oge covidisasi, nu puguh mah nuju perubahan musim"

Disangki na kalangan Medis mutuskeun jalmi kainfeksi teh ku cara ngetang kancing. Disangki na jalmi nu ngantri ka IGD teh olo-olo, teu keresa ngobatan nyalira panyawat na di bumi ku jajamuan. 

Teras urang teh ku Allah diuji deui. Nu seeur kajantenan teh ayeuna mah jalmi nu parupus. Pasti aranjeuna ayeuna bingung bade nyalahkeun kanu musim naon, da saumur-umur nu karaos ku abdi mah asa nembean hampir sadaya WhatsApp Group aya wae berita nu pupus. 

Kade ujang, nyai ... eta cariosan na kedah dijagi. Ulah sompral deui kanu ujian Allah. Hayu sauyunan sareng pamarentah dina ikhtiar nurunkeun penularan virus. Sing sabar mayunan kebijakan nu ngabates lengkah urang di luar bumi. Naon hartos na "Bebas ti na Batesan", pami bebas na eta aya di luhureun layon jalmi nu rentan ku infeksi virus nu sakitu seeur na.

06 Juli 2021

Pakar dan Pemerintah Harus Bersinergi di Masa Pandemi


Dlm kondisi bencana luar biasa seperti ini, siapapun yg merasa diri sebagai pakar tdk boleh merasa paling benar, sekalipun pendapatnya memang benar. Sebab ada banyak jalan benar menuju satu tujuan dgn efektifitas yg beragam yg dimiliki oleh banyak pakar. Para pakar cukup memberi nasihat jalannya kpd pemerintah, setelah itu kewajibannya gugur.

Bila pemerintah mengambil jalan pakar lain utk tujuan yg sama dan ternyata belum efektif, maka masih ada kewajibannya utk memberi nasihat jalan ke depan. Tdk perlu menyalahkan apa yg sdh terjadi di masa lalu, apalagi ekspresinya disampaikan di ruang publik. Sikap tsb tdk bermanfaat utk penanganan bencana; hanya membuka pintu pengakuan, di mana ada banyak orang yg akan membenarkannya dan menyalahkan selainnya.

Sekarang ini kita semua perlu solusi dan kerjasama, bukan pengakuan siapa yg paling benar, bukan sekedar menyatakan kesalahan atau kekurangan. Ancaman terhadap keselamatan banyak jiwa akan terus ada selama waktu dan energi ini habis dgn perdebatan, mempromosikan diri sebagai manusia paling benar, dan saling menyalahkan. Kesatuan pakar dan pemerintah sangat diperlukan utk menangani pandemi ini.

#PersepsiCahyana

05 Juli 2021

Duka dan Suka di Masa PPKM Darurat


Beberapa minggu ini, saya merasa sedih krn ada lebih dari satu berita meninggal setiap minggunya yg mengisi ruang kelompok2 WhatsApp dan beranda2 Facebook. Di awal pandemi, saya melihat kenaikan angka positif di bawah 100 orang. Sekarang ini seakan jumlah konten pasien positif tsb terkalahkan oleh jumlah konten kematian krn dampak Covid-19. Bukan hanya suara ambulance yg lalu lalang, malaikat maut tak bersuara pun seakan nampak berlalu lalang.

Saya tdk takut dgn kondisi tsb, tetapi sedih. Tahun yg lalu Tuhan menunjukan lonjakan angka kasus paska mudik, dan tahun ini kita tdk berhasil memperbaiki nasib krn masih banyak yg tdk perduli dgn angka statistik tsb. Saya tdk ingin menyebut kita terkutuk krn mengalami kondisi yg lebih buruk dari tahun kemarin. Saya ingin menyebutnya sebagai peringatan yg lebih keras, agar kita dapat memperbaiki diri, menjadi pribadi yg lebih terdidik, perduli dgn ujian Tuhan ini, serta bahu-membahu utk menangani kondisinya.

Pagi tadi saya berencana pergi ke dua tempat utk urusan yg penting, yakni ke bank dan klinik internis. Tempat pertama yg akan dituju adalah bank di Pengkolan. Di bunderan jalan Pramuka saya harus berbelok arah ke Ramayana krn ada penyekatan. Rupanya skenario penyekatannya seperti malam takbiran, semua jalan masuk menuju Pengkolan ditutup dan dijaga aparat gabungan. Ikhtiar ini dilakukan oleh pemerintah utk menurunkan angka kasus yg mengalami outbreak.

Saya tdk merasa kesal dgn penutupan tsb, sekalipun harus berputar2 mencari jalan keluar, krn saya berharap angka kasusnya segera menurun. Saya suka dgn adanya ikhtiar tsb. Harapannya, dgn ikhtiar tsb berdampak pada penurunan intensitas informasi kematian di WhatsApp Group dan beranda Facebook teman, menurunkan rasa sedih dan khawatir. Sebagai pemimpin keluarga, saya sangat mendukung langkah apapun yg diambil oleh pemerintah, ilmuan, dan ulama yg dapat melindungi diri, anak dan istri, orang tua dan saudara. Bersusah-susah dahulu, hidup normal baru kemudian.

Malam sebelumnya saya mendebat teman yg membagikan konten menyesatkan yg kontra ikhtiar tsb di grup WhatsApp dan sejumlah thread Facebook. Ruwaibidhah yg berbicara tanpa ilmu dan merasa diri lebih ahli dari ahli memang menyebalkan. Mereka dan kampanyenya di medsos merupakan hambatan penanganan pandemi, membuat banyak orang yg literasinya rendah menjadi orang yg tdk terdidik karena menyangkal pendapat ahli dgn rumor dan prasangka.

Saya percaya, semakin banyak orang yg terdidik, semakin cepat bencana ini mereda. Oleh krnnya saya tdk mendiamkan Ruwaibidhah dan pasukannya yg ingin meraih kebebasan seperti yg akan terjadi negara maju tanpa mau berusaha. Mereka kehilangan akal dan rasa, sehingga lupa kalau Tuhan tdk akan merubah nasib bangsa mayoritas muslim ini menjadi seperti bangsa di luar sana, termasuk seperti bangsa Cina, kalau bangsa ini tdk berusaha.

Semoga amal sukarela yg diniatkan utk ikut berpartisipasi bersama pemerintah tsb bernilai ibadah, walau ada orang yg menyebut saya sebagai sales Covid-19 atau buzzer pemerintah. Saya senang dgn sebutan tsb dari pada disebut sales atau buzzer Ruwaibidhah yg buruk di mata Rasulullah SAW.

#BiografiCahyana

03 Juli 2021

Sepenggal Ingatan Masa Kecil

Semakin berumur ingatan masa kecil semakin kabur. Sebelum menghilang, saya tuliskan dulu apa yg masih diingat semasa usia TK ke bawah. 

Saya masih ingat dibawa main oleh kakak dan teman-temannya ke tempat yg ada banyak bunga kuning. Saya juga pernah dipangku oleh kakak dan diperlihatkan cicak di depan rumah. Saya pernah dibelikan oleh kakak mobil jeep plastik berwarna hijau. Saya juga pernah dibawa nonton film layar tancab, tapi lupa lagi siapa yg bawa. Saat itu entah sdh masuk TK atau belum. 

Saat bersekolah di TK PTPN XIII Subang, saya melihat gambar polisi menempel di dinding. Lalu teman sebangku bilang, gambar tsb dibuat oleh teman kami. Saat itu saya tdk mempercayainya. Seperti umumnya anak TK saat itu, kami diajari menggambar pemandangan yg berisi dua gunung, jalan, sawah, dan burung. 

Saat jam istirahat, saya suka pergi ke meja yg di atasnya ada tumpukan balok2 kayu membentuk istana. Di rumah, saya menjadikan kotak kaset tape utk membuat bangunan. Kotak2 kasetnya banyak yg pecah krn saya mainkan. Walau demikian, saya tdk pernah mendengar orang tua marah krn hal tsb. Sampai anak pertama lahir, saya mencari balok2 tsb di toko mainan utk dimainkan anak. Tetapi yg ada di masa kini adalah lego.

Suatu saat saya dan teman2 dibawa ke luar TK, menyusuri jalanan desa sekitar TK sambil berbaris. Di depan TK ada perosotan dan lainnya. Saat itu saya tdk berani menaiki palang besi bertingkat krn merasa terlalu tinggi. Walau demikian, di rumah saya malah suka memanjat lemari tiga tingkat hingga ke atasnya. Perkiraan, tinggi saya saat itu hampir sama dgn dua tingkat lemari. 

Suatu ketika ada kunjungan ke LANUD Kalijati yg tdk jauh dari TK. Saat itu pesawat nampak tinggi, mungkin krn tubuh saya saat itu masih kecil. Di sana saya dgn salah seorang teman bermain di unit kendaraan pemancar yg ada banyak instrumennya. 

Pernah suatu ketika saya dibawa ibu ke pasar utk membeli baju aparat militer. Seingat saya warnanya putih / Angkatan Laut. Rupanya baju itu digunakan utk keperluan pentas dlm acara di TK. Waktu itu saya dilatih menyanyikan lagu anak-anak, lalu manggung bersama teman lainnnya dgn mengenakan seragam tsb. 

Sepulang dari TK saya singgah dulu di rumah teman sampai dijemput bapak atau temannya bapak. Rumah teman adalah rumah milik perkebunan, bentuknya panggung. Teman yg tinggal di rumah itu memiliki banyak mainan mobil yg tertata di dalam lemari. Saat itu mobil tsb nampak berukuran besar. 

Kami sering main di bawah rumah panggung nya. Permainan yg sering dimainkan adalah membuat serabi. Awalnya tanah dikumpulkan, lalu air dituangkan di tengahnya. Setelah itu tanah basah itu dipisahkan dari tanah lainnya, sehingga terbentuklah kue serabi tanah. 

Kami juga pernah diajari cara membuat senjata dari pelapah daun pisang. Sangat mudah membuat dan memainkannya. Yg sampai sekarang tdk bisa ditiru adalah membuat wayang dari daun singkong. 

Kami juga pernah main ke pabrik tempat bapak bekerja. Di sana ada lori yg biasa digunakan utk mengangkat lateks. Rel lori tsb menarik perhatian saya, dan saat itu saya sama sekali tdk tahu kereta api. 

Saya berangkat dgn bapak naik motor dgn duduk di atas tanki bensinnya. Pulangnya saya suka dijemput teman bapak dan naik mobil jeep biru inventaris kantor di kursi belakang. Dgn menggunakan mobil yg sama saya pernah diajak bapak pergi ke Ciamis. Saat itu saya blm memiliki rasa kesal atau bosan menempuh perjalanan jauh tsb, sehingga dgn psikologi demikian, perkiraan usia saya masih sangat kecil.

#BiografiCahyana

02 Juli 2021

Mendulang Pahala di Rumah Saat Penyakit Merajalela

Outbreak atau wabah adalah ujian yg mendatangkan pahala syuhada.

Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).

Dari 'Uqbah bin 'Amir RA, suatu ketika, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?"

Rasulullah SAW menjawab, "Jaga lisanmu, tetaplah di rumahmu, tangisilah dosa-dosamu."

(HR. Tirmidzi, 2406)

Menurut Tuhfah Al-Ahwadzi, ungkapan "tetaplah di rumahmu" dapat dimaknai agar menyibukkan diri beribadah kepada Allah di rumah. Sementara menurut Faidh Al-Qadir, maksudnya adalah tindakan menjauh dari kerumunan yang lebih-lebih dilakukan pada masa fitnah, yakni ujian atau bala. Dan ungkapan "tangisilah dosamu" dapat dimaknai sebagai imbauan agar umat bertaubat.

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri  (QS An-Nisa, 79), dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS asy-Syura, 30)

#PersepsiCahyana

01 Juli 2021

Bersyukur Tidak Di-PHK

Sore tadi saya belanja ke salah satu supermarket di Garut dgn berbekal daftar belanjaan yg dikirimkan oleh istri melalui WhatsApp. Biasanya istri yg belanja, dan saya hanya mengantarnya saja. Namun krn istri baru melahirkan, kegiatan rutin bulanan tsb saya tangani. Beberapa jam sebelumnya, saya juga menggantikan kegiatan belanja istri utk memenuhi stok makanan anak selama satu bulan. Kami melakukannya utk mencegah anak keluar rumah selama kondisi pandemi masih outbreak. 

Ternyata belanja itu melelahkan, karena ada aktivitas selain berjalan, yakni menafsirkan sejumlah item dlm daftar belanja tsb. Ada beberapa item yg saya tdk mengetahuinya, seperti misalnya bumbu dapur merk tertentu. Google membantu saya menemukan kemungkinan wujud item tsb. Dan saya merasa risi saat membeli pembalut wanita, apalagi di sana hanya ada kaum hawa saja.

Di lift itu saya turun ke GF bersama pegawai supermarket. Saya bertanya kepadanya tentang jam tutup supermarket. Ia menjawab supermarket tutup jam 7. Dari jawaban tersebut saya menyimpulkan kalau kebijakan pembatasan jam operasional Pemkab Garut sudah efektif berjalan. 

Teteh pegawai supermarket tersebut mengatakan kalau sekarang kerjanya tdk setiap hari, tetapi selang satu hari, di hari genap saja atau ganjil saja. Ia bersyukur masih bisa bekerja dan tdk di-PHK.

Saya merasa sedih mendengarnya, ternyata pandemi ini sangat memukul ekonomi banyak perusahaan dan pekerjanya. Dgn informasi tersebut saya lebih meyakini arti penting kebijakan, protokol kesehatan, dan vaksinasi yg merupakan ikhtiar penanganan pandemi. 

Saya semakin heran dgn orang yg melawan ikhtiar tsb, sehingga pada akhirnya ia mengeluh atas dampaknya. Tdk sedikit orang seperti mereka yg menyebut dampak tsb sebagai kondisi yg sengaja diciptakan oleh kalangan medis atau farmasi utk bisnis, dan diciptakan oleh pemerintah utk menyulitkan rakyat. Bagi saya, orang yg kondisinya demikian itu sangat menyedihkan, karena ia tdk menyadari keburukannya dan tdk berhenti menambah keburukannya. Ada banyak orang yg terdampak olehnya, seperti mengalami kesulitan beraktivitas dan keuangan, hingga kehilangan orang yg dikasihinya atau kehilangan nyawanya sendiri. 

Saat iktiar tsb diindahkan, secara tdk langsung kita telah turut serta memulihkan kondisi ekonomi. Semakin cepat pulih, para pegawai seperti teteh tsb akan dapat bekerja seperti sedia kala. Ikhtiar ini harus dilakukan oleh kita semua, utk kesejahteraan bersama.  

#BiografiCahyana

27 Juni 2021

Derajat Manusia Menurut Dua Agama


Di dalam kitab suci umat Budha terdapat ajaran demikian:

Setiap kasta memiliki kedudukan yang sama dalam pensucian, yang meninggikan derajatnya hanyalah ilmu dan kemuliaan akhlak (Majjhima Nikaya 93: Assalayana Sutta dalam Tipitaka Tematik Bhikkhu Bodhi).

Islam mewariskan nilai baik kpd umat manusia yg telah diwariskan oleh ajaran agama pd masa sebelumnya. Hal tsb bagi penikmat jalan kebaikan terasa seperti pengingat dan penguat nilai kebenaran yg diyakininya. Di dalam kitab suci umat Islam terdapat pengajaran demikian:

"Dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (QS. Az-Zuhruuf: 32)

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu (QS. Al-Hujuraat :13).

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Mujaadalah :11).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian." (HR. Tirmidzi no. 1941.)

#PersepsiCahyana

25 Juni 2021

Hambatan Ikhtiar Bangsa Berketuhanan

 KH Abdullah Margani Musaddad meminta saya utk mengawali siaran radio dgn surat Yasin setiap hari, tentunya permintaan ini bukan tanpa alasan. Bagi rakyat Brunei, pembacaan surat Yasin setiap hari melengkapi ikhtiar penanganan Covid-19, dan meyakininya berdampak positif terhadap ikhtiar tsb. Ada banyak netizen kita yg memuji kebijakan pemerintah Brunei yg menjadikan agama sebagai pelengkap ikhtiar. Secara psikologis doa dan dzikir memang bisa menenangkan, hal tsb membantu imunitas. Di sisi lain, mengamalkannya setiap hari memang memberikan manfaat lain, entah itu efek samping positif dari ketenangan itu sendiri, atau lainnya. 

Lihat https://kalam.sindonews.com/read/463116/786/brunei-bebas-corona-3-semua-warganya-wajib-baca-yasin-setiap-hari-1624345597

Di negara kita yg katanya berketuhanan YME, di mana seharusnya mudah utk mengajak semua pemeluk agama utk berikhtiar dan berdoa setiap hari, nampaknya masih berkutat dgn konten2 hoax dan jahil yg berusaha mempengaruhi banyak orang utk melawan ikhtiar penanganan Covid19 dgn membawa2 agama. Saat doa bersama secara live digelar oleh pemerintah, coba tengok berapa banyak netizen yg ikut dan berapa banyak yg nyinyir? Saat prokes diberlakukan oleh pemerintah di tempat ibadah seperti yg dilakukan di Mekah sana, ada banyak konten jahil penuh prasangka yg menyebut pemerintah sedang berikhtiar mematikan cahaya agama. 

Kisah tersukses provokator dan para pengikut setan Miswath dlm melawan ikhtiar penanganan pandemi ini setiap tahunnya adalah lonjakan kasus yg sekarang kita alami ... sungguh menyedihkan. Semoga saja kita tdk termasuk bangsa merugi krn selalu mengalami kekalahan dari mereka setiap tahunnya.

#PersepsiCahyana

24 Juni 2021

Mengenang Latif

Selamat jalan kawan ... Terkenang saat diri mu menyengajakan diri berkunjung ke rumah, selepas melaksanakan kegiatan literasi digital Relawan TIK Jabar dgn Diskominfo Jabar di Garut. Hal itu menunjukan baiknya silaturahmi mu. Ada banyak yg kita diskusikan saat itu tentang Relawan TIK kita, tentang transformasi organisasi besar ini menjadi mandiri dan madani. 

Terkenang saat di kendaraan sepulang dari kegiatan Disdik Jabar itu kita berbincang tentang penerbitan. Saya mendengarkan pandangan mu tentang buku-buku yang saya tulis, dan diri mu menawarkan diri utk menerbitkan buku tentang Relawan TIK yg saya buat.

Kita pun membiacarakan tentang gagasan dan pengalaman relawan TIK yg harus kita disebarluaskan. Diri mu adalah sarjana bahasa yg mampu berbicara di dalam komunitas TIK tanpa melepas kompetensi bidang ilmu, memoles perkembangan organisasi ini dgn kompetensi tsb. Diri mu adalah bukti bahwa setiap orang bisa menjadi relawan TIK dan memberikan manfaat dgn ilmu apapun yg bernilai. 

Pengetahuan adalah warisan terpenting organisasi, yg harus dieksplisitkan dlm wujud buku, artikel, dan lainnya ... agar generasi penerus memahami alam fikir, mimpi, dan praktik terbaik yg bisa terus diterapkan, diupayakan wujudnya, dan diajarkan, sehingga menjadi keberkahan, amal jariyah yg tdk terputus bagi pemilik ilmunya. 

Perjalanan literasi kita masih panjang, tetapi insya Allah ada banyak kawan literasi yang bisa melanjutkan mimpi kita.

22 Juni 2021

Saya Heran

Saya heran konten "Anggaran Hilang, Covid Hilang" banyak ditemukan di beberapa thread dlm banyak bentuk. Konten demikian jadi semacam "ayat suci" bagi mereka yg tdk percaya adanya Covid-19 dan terkungkung syahwat politik, materi edukasi buruk bagi kalangan awam. 

Dlm situasi kebencanaan seperti sekarang ini, pemerintah hrs lebih represif thd penolak dan pelanggar ikhtiar penanganan pandemi. Semua akun medsos yg sengaja menyebarkan konten melawan ikhtiar ditangguhkan saja / suspended. Masa demo dan penerobos yg menolak ikhtiar tsb harus dibubarkan, sampai tahap di mana gas air mata ditembakan dan provokator dipenjarakan. Tdk ada kompromi !!!

Mereka yg suka cita melabrak ikhtiar sama sekali tdk bisa berbuat apa2 utk menurunkan angka kasus positif dan kematian, malah berkontribusi meningkatkannya. Semua orang harus faham, nyawa orang banyak itu jauh lebih penting dari pada hak asasi atau kebebasan seperti itu. Nyawa manusia tdk bisa ditawar2.

Kita pada akhirnya tdk hanya harus memerangi virus Covid-19, tetapi juga memerangi mereka yg tdk faham arti penting ikhtiar penanganan pandemi utk kesejahteraan orang banyak. Bila terlalu bebal diperangi dgn konten penyadaran, maka perangi dgn hukum administratif yg berat seperti di Singapura dan negara lainnya.

18 Juni 2021

Meningkatkan Aksesibilitas Amal Baik dengan Internet

Malam kemarin, sekitar pukul 9, saya terbangun dari tidur. Saya melihat pesan Whatsapp setelah melihat jam di smartphone. Ternyata ada pesan dari ketua pengurus yg meminta saya mewakili DPP DIS utk mengikuti kegiatan Tahlilan Daring yg diselenggarakan oleh anggota organisasi. Dari isi pesannya saya menyimpulkan acaranya sdh lama selesai. Kemudian saya mengirimkan private chat kpd ketua pengurus yg berisi permintaan maaf krn tdk dapat memenuhi tugas pengurus tsb. 

Saya tengok grup Whatsapp DPP DIS, ada pesan dari teman pengurus yg menginformasikan bahwa vicon Tahlilan Daring nya tdk bisa dimasuki krn jumlah peserta sdh sampai di angka 100 orang. Ini hal yg luar biasa. Dgn teknologi, peserta yg mendoakan keluarga yg meninggal bisa sangat banyak dan berasal dari berbagai daerah. 

Tentunya ini bukan hal baru di era Pandemi ini. Di awal Pandemi, PBNU pernah menggelar doa bersama atau Istighasah secara Live yg diikuti oleh jemaahnya. Pemerintah Indonesia pun menggelar acara serupa dan diikuti oleh rakyatnya. Saya termasuk yg mengikutinya malam itu krn terdorong oleh semangat yg sama, ingin agar bangsa ini terlindungi dari dampak buruk Pandemi. Internet memberi kesempatan utk mengakses amal baik seperti itu. Setiap orang secara sinkronus dapat mengikutinya dari mana saja.

#BiografiCahyana

13 Juni 2021

Menjaga Diri dan Keluarga dengan Akal Sehat

Saya dan istri selalu saling ingat mengingatkan utk tetap menjaga akal sehat di masa pandemi demi menjaga keselamatan diri dan keluarga. Kami tdk mendatangi titik-titik ekonomi yg dibuka seperti tempat wisata dan belanja di waktu biasanya ramai dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah. Kami tdk menerobos masuk ke tempat yg ditutup, apalagi mencela siapapun yg menutupnya krn hendak melindungi kami.

Saya dan anak mengganti salat Jum'at dgn Dzuhur saat zona lingkungan berubah menjadi merah, sesuai arahan MUI. Salat lima waktu adalah kewajiban, demikian pula dgn menjaga keselamatan jiwa, dua kewajiban yg tdk boleh kami labrak.  

Saat anak disuruh membuka masker oleh orang lain, saya fahamkan kpd anak bahwa orang tsb tdk akan mengambil peran bila anak terpapar virusnya. Alhamdulillah anak memahaminya dgn baik. Anak relatif baik literasi pandeminya, sehingga ia sdh terbiasa mengenakan masker saat ke luar rumah, serta mencuci tangan setiap kali pulang dari luar rumah atau masuk ke dalam kendaraan.

Saat menjelang hari raya, saya dan istri memutuskan belanja kebutuhan di pertengahan Ramadhan, sebab memahami kebiasaan ramainya pengunjung di penghujung Ramadhan. Saya sudah divaksin dan keluarga tdk menunjukan gejala sakit, tetapi saya memutuskan utk tdk mudik ke luar kota setelah ada larangan. Saya dan keluarga tdk berkunjung ke tempat wisata tertentu di masa libur hari raya, sebab memahami kebiasaan ramai orang dari berbagai daerah datang ke sana di masa tersebut. 

Apabila infeksi virus ini seumpama neraka dunia krn menimbulkan kesulitan mendunia, maka kami seakan diperintah agama utk menjaga diri dan keluarga dari padanya. Kami merasa tdk perlu mencela pembukaan dan penutupan tempat apapun oleh pemerintah atau siapapun dgn alasan pertimbangan terbaiknya. Kami mencukupkan diri dgn sifat alami menghindari bahaya dan akal sehat utk membuat keputusan melakukan atau tdk melakukan sesuatu.

10 Juni 2021

Membangun Ikatan Hati dengan Pengulangan


Teringat di masa lalu, saat masih menjabat sebagai direktur operasional PT Radio Yamusa Pratama, saya memastikan operator radio utk membuka siaran setiap hari dgn pemutaran surat Yasin dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kekhasan tersebut sangat saya perhatikan mengingat KH Abdullah Margani Musaddad yg mengamanatkan kpd saya agar surat Yasin selalu menjadi awal aktivitas.

Di masa menjabat sebagai ketua prodi, saya membuat tata tertib kelas yg mengharuskan mahasiswa utk menyanyikan lagu wajib nasional setiap tgl 15, dan sebelum perkuliahan dimulai melaksanakan kuliah agama tujuh menit. Tata tertib demikian sengaja saya buat utk membentuk pribadi nasionalis yg religius.

Mengulang aktivitas yg sama merupakan cara pembiasaan yg dapat menjadi tradisi yg melekat pd insan yg melakukannya, khususnya setelah aktivitas tsb dianggap sebagai kekhasan atau kebutuhan. Apabila telah terbiasa, penghentiannya akan terasa seperti kehilangan sesuatu yg berharga.

Hal tsb seperti yg saya rasakan saat SMA dulu, di mana setiap istirahat yg kedua, saya bersama beberapa teman mengisi waktunya dgn menjalankan ibadah sunnah. Bila suatu hari tdk melakukannya, terasa seperti meninggalkan sesuatu yg wajib.

Kalau di dalam konteks agama, pengulangan ini seperti dzikir. Menjadi warid apabila dorongan pengulangannya datang dgn sendirinya. Hal ini seperti di masa kuliah dulu, di mana dzikir yg tdk putus itu bisa bersambung dari sebelum tidur hingga saat bangun kembali dgn sendirinya. Dan pengulangan ini menjadi teknik edukasi Nabi SAW, di mana beliau seringkali mengulang kata sebanyak tiga kali utk menanamkan ingatan.

#BiografiCahyana

07 Juni 2021

Produktif Dengan Smartphone

Tugas kita semua menjadikan diri dan anggota keluarga menjadi lebih produktif dgn smartphone. 

Kita tdk boleh hanya menjadi pengguna level konsumtif yg menghabiskan kuota data internet utk hiburan semata, tetapi harus beranjak ke level produktif yg mana smartphone memberi tambahan daya saing dlm belajar dan berbisnis, silaturahmi dan relasi bisnis, kompetensi dan penghasilan, serta amal kebaikan. 

Waktu adalah uang, dan sedikit waktu hiburan utk menekan stres kerjanya. Jgn mencari hiburan yg bikin stres, semisal menghabiskan uang utk hiburan daring yg lebih besar pasak dari pada tiang, atau menambah dosa atau permusuhan di medsos.

#salamliterasidigital

02 Juni 2021

Al-Quran atau Pancasila?


Saya dapat memahami pertanyaan pilihan "al-Quran atau Pancasila?" dgn tdk mempertentangkan keduanya yg berbeda. Saya mengetahui bahwa Pancasila itu digali dari kearifan lokal, dan al-Quran merupakan salah satu dari sumber kearifan lokal tsb, baik secara langsung ataupun tdk langsung. Jawaban dari pertanyaan tsb menggambarkan apakah kita termasuk kalangan Pancasilais Simbolis, atau Pancasilais Substantif?

Al-Quran dgn Pancasila itu tdk bertentangan. Simbol Pancasila berupa teks memang tdk ditemukan di dalam al-Quran secara persis, tetapi substansinya ada. Dgn substansi itu Pancasila tdk akan hanya sebatas simbol, tetapi dapat menjadi wujud amal baik yg mencerminkan karakter bangsa Indonesia dan sesuai dgn konteks kebutuhannya.

Soekarno menggali Pancasila dari kearifan lokal bangsa Indonesia, di antaranya adalah nilai agama. Di antara nilai agama yg beliau ungkapkan adalah taqwa sebagai cara menyusun Indonesia Merdeka. Umat Islam berpedoman di antaranya kpd al-Quran utk bertaqwa. Saat umat Islam Indonesia memegang teguh al-Quran dlm mewujudkan amal taqwanya yg disifati Soekarno sebagai berkebudayaan dan berkeadaban, hal tsb sama seperti mengejawantahkan Simbol Pancasila dalam kenyataan hidup.

Mereka yg menjadi Pancasilais Simbolis hanya bangga dgn teks Pancasila, tetapi tdk mampu mengamalkannya sesuai kearifan lokal yg merupakan sumber penggaliannya. Mereka yg menjadi Pancasilais Substantif mampu menafsirkan teksnya dan mengamalkannya sesuai kearifan lokal, dgn wujud seperti yg telah atau blm terbetik dlm benak Soekarno.

Apakah kita akan memilih simbol teks "Pancasila", atau kitab suci yg mengandung Pancasila secara substantif dan menunjukan cara ber-Tuhan yg berkebudayaan / madani dan cara pengamalan agama yg berkeadaban / berakhlak?

#PersepsiCahyana

Ketuhanan YME sebagai Falsafah yang Utama

Saya telah mengemukakan empat prinsip: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Internasionalisme, atau perikemanusiaan, (3) Mufakat, atau demokrasi, (4) Kesejahteraan sosial. 

Prinsip yang kelima hendaknya menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip ketuhanan, bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan, Tuhannya sendiri ... 

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ”egoisme-agama”. 

Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama ... dengan cara yang berkeadaban. Apakah 
cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu dengan lain.

Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip kelima dari pada negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. 

Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Mengingat bangsa Indonesia meliputi orang-orang berbagai macam agama, namun tetap bersatu, kami menempat Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kita. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan karaktersitik bangsa Indonesia.

Ir. Soekarno

Dikutip dari artikel Dwi Siswoyo (2013), Pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Pendidikan, Cakrawala Pendidikan 30(1).

29 Mei 2021

Kegiatan Local Guide di Cisewu


Beberapa waktu yg lalu saya menemani tim PkM CT Skill Sekolah Tinggi Teknologi Garut ke MTsN 3 Garut. Seperti biasa saya menggunakan panduan Google Maps utk sampai ke lokasi. Namun malam itu kami diarahkan ke lokasi yg tdk tepat. Kami putuskan mengakhiri perjalanan di sebuah losmen di ibu kota kecamatan Cisewu.

Keesokan harinya, saya tiba di sekolah tsb. Lokasi di mana saya berada digunakan utk menandai lokasi baru sekolah di Google Maps. Tidak lupa ditambahkan beberapa foto fasilitas sekolah dan foto bersama dgn kepala sekolahnya. Lokasi yg tdk akurat ditandai sebagai lokasi yg tdk ditemukan. Dgn cara demikian saya membantu diri sendiri dan orang lain yg menggunakan layanan Google utk menemukan lokasi sekolah tsb dgn tepat. 

Ada 1001 cara utk bersedekah dgn teknologi yg kita genggam.