Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

27 Juni 2021

Derajat Manusia Menurut Dua Agama


Di dalam kitab suci umat Budha terdapat ajaran demikian:

Setiap kasta memiliki kedudukan yang sama dalam pensucian, yang meninggikan derajatnya hanyalah ilmu dan kemuliaan akhlak (Majjhima Nikaya 93: Assalayana Sutta dalam Tipitaka Tematik Bhikkhu Bodhi).

Islam mewariskan nilai baik kpd umat manusia yg telah diwariskan oleh ajaran agama pd masa sebelumnya. Hal tsb bagi penikmat jalan kebaikan terasa seperti pengingat dan penguat nilai kebenaran yg diyakininya. Di dalam kitab suci umat Islam terdapat pengajaran demikian:

"Dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (QS. Az-Zuhruuf: 32)

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu (QS. Al-Hujuraat :13).

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Mujaadalah :11).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian." (HR. Tirmidzi no. 1941.)

#PersepsiCahyana

25 Juni 2021

Hambatan Ikhtiar Bangsa Berketuhanan

 KH Abdullah Margani Musaddad meminta saya utk mengawali siaran radio dgn surat Yasin setiap hari, tentunya permintaan ini bukan tanpa alasan. Bagi rakyat Brunei, pembacaan surat Yasin setiap hari melengkapi ikhtiar penanganan Covid-19, dan meyakininya berdampak positif terhadap ikhtiar tsb. Ada banyak netizen kita yg memuji kebijakan pemerintah Brunei yg menjadikan agama sebagai pelengkap ikhtiar. Secara psikologis doa dan dzikir memang bisa menenangkan, hal tsb membantu imunitas. Di sisi lain, mengamalkannya setiap hari memang memberikan manfaat lain, entah itu efek samping positif dari ketenangan itu sendiri, atau lainnya. 

Lihat https://kalam.sindonews.com/read/463116/786/brunei-bebas-corona-3-semua-warganya-wajib-baca-yasin-setiap-hari-1624345597

Di negara kita yg katanya berketuhanan YME, di mana seharusnya mudah utk mengajak semua pemeluk agama utk berikhtiar dan berdoa setiap hari, nampaknya masih berkutat dgn konten2 hoax dan jahil yg berusaha mempengaruhi banyak orang utk melawan ikhtiar penanganan Covid19 dgn membawa2 agama. Saat doa bersama secara live digelar oleh pemerintah, coba tengok berapa banyak netizen yg ikut dan berapa banyak yg nyinyir? Saat prokes diberlakukan oleh pemerintah di tempat ibadah seperti yg dilakukan di Mekah sana, ada banyak konten jahil penuh prasangka yg menyebut pemerintah sedang berikhtiar mematikan cahaya agama. 

Kisah tersukses provokator dan para pengikut setan Miswath dlm melawan ikhtiar penanganan pandemi ini setiap tahunnya adalah lonjakan kasus yg sekarang kita alami ... sungguh menyedihkan. Semoga saja kita tdk termasuk bangsa merugi krn selalu mengalami kekalahan dari mereka setiap tahunnya.

#PersepsiCahyana

24 Juni 2021

Mengenang Latif

Selamat jalan kawan ... Terkenang saat diri mu menyengajakan diri berkunjung ke rumah, selepas melaksanakan kegiatan literasi digital Relawan TIK Jabar dgn Diskominfo Jabar di Garut. Hal itu menunjukan baiknya silaturahmi mu. Ada banyak yg kita diskusikan saat itu tentang Relawan TIK kita, tentang transformasi organisasi besar ini menjadi mandiri dan madani. 

Terkenang saat di kendaraan sepulang dari kegiatan Disdik Jabar itu kita berbincang tentang penerbitan. Saya mendengarkan pandangan mu tentang buku-buku yang saya tulis, dan diri mu menawarkan diri utk menerbitkan buku tentang Relawan TIK yg saya buat.

Kita pun membiacarakan tentang gagasan dan pengalaman relawan TIK yg harus kita disebarluaskan. Diri mu adalah sarjana bahasa yg mampu berbicara di dalam komunitas TIK tanpa melepas kompetensi bidang ilmu, memoles perkembangan organisasi ini dgn kompetensi tsb. Diri mu adalah bukti bahwa setiap orang bisa menjadi relawan TIK dan memberikan manfaat dgn ilmu apapun yg bernilai. 

Pengetahuan adalah warisan terpenting organisasi, yg harus dieksplisitkan dlm wujud buku, artikel, dan lainnya ... agar generasi penerus memahami alam fikir, mimpi, dan praktik terbaik yg bisa terus diterapkan, diupayakan wujudnya, dan diajarkan, sehingga menjadi keberkahan, amal jariyah yg tdk terputus bagi pemilik ilmunya. 

Perjalanan literasi kita masih panjang, tetapi insya Allah ada banyak kawan literasi yang bisa melanjutkan mimpi kita.

22 Juni 2021

Saya Heran

Saya heran konten "Anggaran Hilang, Covid Hilang" banyak ditemukan di beberapa thread dlm banyak bentuk. Konten demikian jadi semacam "ayat suci" bagi mereka yg tdk percaya adanya Covid-19 dan terkungkung syahwat politik, materi edukasi buruk bagi kalangan awam. 

Dlm situasi kebencanaan seperti sekarang ini, pemerintah hrs lebih represif thd penolak dan pelanggar ikhtiar penanganan pandemi. Semua akun medsos yg sengaja menyebarkan konten melawan ikhtiar ditangguhkan saja / suspended. Masa demo dan penerobos yg menolak ikhtiar tsb harus dibubarkan, sampai tahap di mana gas air mata ditembakan dan provokator dipenjarakan. Tdk ada kompromi !!!

Mereka yg suka cita melabrak ikhtiar sama sekali tdk bisa berbuat apa2 utk menurunkan angka kasus positif dan kematian, malah berkontribusi meningkatkannya. Semua orang harus faham, nyawa orang banyak itu jauh lebih penting dari pada hak asasi atau kebebasan seperti itu. Nyawa manusia tdk bisa ditawar2.

Kita pada akhirnya tdk hanya harus memerangi virus Covid-19, tetapi juga memerangi mereka yg tdk faham arti penting ikhtiar penanganan pandemi utk kesejahteraan orang banyak. Bila terlalu bebal diperangi dgn konten penyadaran, maka perangi dgn hukum administratif yg berat seperti di Singapura dan negara lainnya.

18 Juni 2021

Meningkatkan Aksesibilitas Amal Baik dengan Internet

Malam kemarin, sekitar pukul 9, saya terbangun dari tidur. Saya melihat pesan Whatsapp setelah melihat jam di smartphone. Ternyata ada pesan dari ketua pengurus yg meminta saya mewakili DPP DIS utk mengikuti kegiatan Tahlilan Daring yg diselenggarakan oleh anggota organisasi. Dari isi pesannya saya menyimpulkan acaranya sdh lama selesai. Kemudian saya mengirimkan private chat kpd ketua pengurus yg berisi permintaan maaf krn tdk dapat memenuhi tugas pengurus tsb. 

Saya tengok grup Whatsapp DPP DIS, ada pesan dari teman pengurus yg menginformasikan bahwa vicon Tahlilan Daring nya tdk bisa dimasuki krn jumlah peserta sdh sampai di angka 100 orang. Ini hal yg luar biasa. Dgn teknologi, peserta yg mendoakan keluarga yg meninggal bisa sangat banyak dan berasal dari berbagai daerah. 

Tentunya ini bukan hal baru di era Pandemi ini. Di awal Pandemi, PBNU pernah menggelar doa bersama atau Istighasah secara Live yg diikuti oleh jemaahnya. Pemerintah Indonesia pun menggelar acara serupa dan diikuti oleh rakyatnya. Saya termasuk yg mengikutinya malam itu krn terdorong oleh semangat yg sama, ingin agar bangsa ini terlindungi dari dampak buruk Pandemi. Internet memberi kesempatan utk mengakses amal baik seperti itu. Setiap orang secara sinkronus dapat mengikutinya dari mana saja.

#BiografiCahyana

13 Juni 2021

Menjaga Diri dan Keluarga dengan Akal Sehat

Saya dan istri selalu saling ingat mengingatkan utk tetap menjaga akal sehat di masa pandemi demi menjaga keselamatan diri dan keluarga. Kami tdk mendatangi titik-titik ekonomi yg dibuka seperti tempat wisata dan belanja di waktu biasanya ramai dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah. Kami tdk menerobos masuk ke tempat yg ditutup, apalagi mencela siapapun yg menutupnya krn hendak melindungi kami.

Saya dan anak mengganti salat Jum'at dgn Dzuhur saat zona lingkungan berubah menjadi merah, sesuai arahan MUI. Salat lima waktu adalah kewajiban, demikian pula dgn menjaga keselamatan jiwa, dua kewajiban yg tdk boleh kami labrak.  

Saat anak disuruh membuka masker oleh orang lain, saya fahamkan kpd anak bahwa orang tsb tdk akan mengambil peran bila anak terpapar virusnya. Alhamdulillah anak memahaminya dgn baik. Anak relatif baik literasi pandeminya, sehingga ia sdh terbiasa mengenakan masker saat ke luar rumah, serta mencuci tangan setiap kali pulang dari luar rumah atau masuk ke dalam kendaraan.

Saat menjelang hari raya, saya dan istri memutuskan belanja kebutuhan di pertengahan Ramadhan, sebab memahami kebiasaan ramainya pengunjung di penghujung Ramadhan. Saya sudah divaksin dan keluarga tdk menunjukan gejala sakit, tetapi saya memutuskan utk tdk mudik ke luar kota setelah ada larangan. Saya dan keluarga tdk berkunjung ke tempat wisata tertentu di masa libur hari raya, sebab memahami kebiasaan ramai orang dari berbagai daerah datang ke sana di masa tersebut. 

Apabila infeksi virus ini seumpama neraka dunia krn menimbulkan kesulitan mendunia, maka kami seakan diperintah agama utk menjaga diri dan keluarga dari padanya. Kami merasa tdk perlu mencela pembukaan dan penutupan tempat apapun oleh pemerintah atau siapapun dgn alasan pertimbangan terbaiknya. Kami mencukupkan diri dgn sifat alami menghindari bahaya dan akal sehat utk membuat keputusan melakukan atau tdk melakukan sesuatu.

10 Juni 2021

Membangun Ikatan Hati dengan Pengulangan


Teringat di masa lalu, saat masih menjabat sebagai direktur operasional PT Radio Yamusa Pratama, saya memastikan operator radio utk membuka siaran setiap hari dgn pemutaran surat Yasin dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kekhasan tersebut sangat saya perhatikan mengingat KH Abdullah Margani Musaddad yg mengamanatkan kpd saya agar surat Yasin selalu menjadi awal aktivitas.

Di masa menjabat sebagai ketua prodi, saya membuat tata tertib kelas yg mengharuskan mahasiswa utk menyanyikan lagu wajib nasional setiap tgl 15, dan sebelum perkuliahan dimulai melaksanakan kuliah agama tujuh menit. Tata tertib demikian sengaja saya buat utk membentuk pribadi nasionalis yg religius.

Mengulang aktivitas yg sama merupakan cara pembiasaan yg dapat menjadi tradisi yg melekat pd insan yg melakukannya, khususnya setelah aktivitas tsb dianggap sebagai kekhasan atau kebutuhan. Apabila telah terbiasa, penghentiannya akan terasa seperti kehilangan sesuatu yg berharga.

Hal tsb seperti yg saya rasakan saat SMA dulu, di mana setiap istirahat yg kedua, saya bersama beberapa teman mengisi waktunya dgn menjalankan ibadah sunnah. Bila suatu hari tdk melakukannya, terasa seperti meninggalkan sesuatu yg wajib.

Kalau di dalam konteks agama, pengulangan ini seperti dzikir. Menjadi warid apabila dorongan pengulangannya datang dgn sendirinya. Hal ini seperti di masa kuliah dulu, di mana dzikir yg tdk putus itu bisa bersambung dari sebelum tidur hingga saat bangun kembali dgn sendirinya. Dan pengulangan ini menjadi teknik edukasi Nabi SAW, di mana beliau seringkali mengulang kata sebanyak tiga kali utk menanamkan ingatan.

#BiografiCahyana

07 Juni 2021

Produktif Dengan Smartphone

Tugas kita semua menjadikan diri dan anggota keluarga menjadi lebih produktif dgn smartphone. 

Kita tdk boleh hanya menjadi pengguna level konsumtif yg menghabiskan kuota data internet utk hiburan semata, tetapi harus beranjak ke level produktif yg mana smartphone memberi tambahan daya saing dlm belajar dan berbisnis, silaturahmi dan relasi bisnis, kompetensi dan penghasilan, serta amal kebaikan. 

Waktu adalah uang, dan sedikit waktu hiburan utk menekan stres kerjanya. Jgn mencari hiburan yg bikin stres, semisal menghabiskan uang utk hiburan daring yg lebih besar pasak dari pada tiang, atau menambah dosa atau permusuhan di medsos.

#salamliterasidigital

02 Juni 2021

Al-Quran atau Pancasila?


Saya dapat memahami pertanyaan pilihan "al-Quran atau Pancasila?" dgn tdk mempertentangkan keduanya yg berbeda. Saya mengetahui bahwa Pancasila itu digali dari kearifan lokal, dan al-Quran merupakan salah satu dari sumber kearifan lokal tsb, baik secara langsung ataupun tdk langsung. Jawaban dari pertanyaan tsb menggambarkan apakah kita termasuk kalangan Pancasilais Simbolis, atau Pancasilais Substantif?

Al-Quran dgn Pancasila itu tdk bertentangan. Simbol Pancasila berupa teks memang tdk ditemukan di dalam al-Quran secara persis, tetapi substansinya ada. Dgn substansi itu Pancasila tdk akan hanya sebatas simbol, tetapi dapat menjadi wujud amal baik yg mencerminkan karakter bangsa Indonesia dan sesuai dgn konteks kebutuhannya.

Soekarno menggali Pancasila dari kearifan lokal bangsa Indonesia, di antaranya adalah nilai agama. Di antara nilai agama yg beliau ungkapkan adalah taqwa sebagai cara menyusun Indonesia Merdeka. Umat Islam berpedoman di antaranya kpd al-Quran utk bertaqwa. Saat umat Islam Indonesia memegang teguh al-Quran dlm mewujudkan amal taqwanya yg disifati Soekarno sebagai berkebudayaan dan berkeadaban, hal tsb sama seperti mengejawantahkan Simbol Pancasila dalam kenyataan hidup.

Mereka yg menjadi Pancasilais Simbolis hanya bangga dgn teks Pancasila, tetapi tdk mampu mengamalkannya sesuai kearifan lokal yg merupakan sumber penggaliannya. Mereka yg menjadi Pancasilais Substantif mampu menafsirkan teksnya dan mengamalkannya sesuai kearifan lokal, dgn wujud seperti yg telah atau blm terbetik dlm benak Soekarno.

Apakah kita akan memilih simbol teks "Pancasila", atau kitab suci yg mengandung Pancasila secara substantif dan menunjukan cara ber-Tuhan yg berkebudayaan / madani dan cara pengamalan agama yg berkeadaban / berakhlak?

#PersepsiCahyana

Ketuhanan YME sebagai Falsafah yang Utama

Saya telah mengemukakan empat prinsip: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Internasionalisme, atau perikemanusiaan, (3) Mufakat, atau demokrasi, (4) Kesejahteraan sosial. 

Prinsip yang kelima hendaknya menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip ketuhanan, bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan, Tuhannya sendiri ... 

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ”egoisme-agama”. 

Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama ... dengan cara yang berkeadaban. Apakah 
cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu dengan lain.

Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip kelima dari pada negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. 

Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Mengingat bangsa Indonesia meliputi orang-orang berbagai macam agama, namun tetap bersatu, kami menempat Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kita. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan karaktersitik bangsa Indonesia.

Ir. Soekarno

Dikutip dari artikel Dwi Siswoyo (2013), Pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Pendidikan, Cakrawala Pendidikan 30(1).