Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

05 Juli 2021

Duka dan Suka di Masa PPKM Darurat


Beberapa minggu ini, saya merasa sedih krn ada lebih dari satu berita meninggal setiap minggunya yg mengisi ruang kelompok2 WhatsApp dan beranda2 Facebook. Di awal pandemi, saya melihat kenaikan angka positif di bawah 100 orang. Sekarang ini seakan jumlah konten pasien positif tsb terkalahkan oleh jumlah konten kematian krn dampak Covid-19. Bukan hanya suara ambulance yg lalu lalang, malaikat maut tak bersuara pun seakan nampak berlalu lalang.

Saya tdk takut dgn kondisi tsb, tetapi sedih. Tahun yg lalu Tuhan menunjukan lonjakan angka kasus paska mudik, dan tahun ini kita tdk berhasil memperbaiki nasib krn masih banyak yg tdk perduli dgn angka statistik tsb. Saya tdk ingin menyebut kita terkutuk krn mengalami kondisi yg lebih buruk dari tahun kemarin. Saya ingin menyebutnya sebagai peringatan yg lebih keras, agar kita dapat memperbaiki diri, menjadi pribadi yg lebih terdidik, perduli dgn ujian Tuhan ini, serta bahu-membahu utk menangani kondisinya.

Pagi tadi saya berencana pergi ke dua tempat utk urusan yg penting, yakni ke bank dan klinik internis. Tempat pertama yg akan dituju adalah bank di Pengkolan. Di bunderan jalan Pramuka saya harus berbelok arah ke Ramayana krn ada penyekatan. Rupanya skenario penyekatannya seperti malam takbiran, semua jalan masuk menuju Pengkolan ditutup dan dijaga aparat gabungan. Ikhtiar ini dilakukan oleh pemerintah utk menurunkan angka kasus yg mengalami outbreak.

Saya tdk merasa kesal dgn penutupan tsb, sekalipun harus berputar2 mencari jalan keluar, krn saya berharap angka kasusnya segera menurun. Saya suka dgn adanya ikhtiar tsb. Harapannya, dgn ikhtiar tsb berdampak pada penurunan intensitas informasi kematian di WhatsApp Group dan beranda Facebook teman, menurunkan rasa sedih dan khawatir. Sebagai pemimpin keluarga, saya sangat mendukung langkah apapun yg diambil oleh pemerintah, ilmuan, dan ulama yg dapat melindungi diri, anak dan istri, orang tua dan saudara. Bersusah-susah dahulu, hidup normal baru kemudian.

Malam sebelumnya saya mendebat teman yg membagikan konten menyesatkan yg kontra ikhtiar tsb di grup WhatsApp dan sejumlah thread Facebook. Ruwaibidhah yg berbicara tanpa ilmu dan merasa diri lebih ahli dari ahli memang menyebalkan. Mereka dan kampanyenya di medsos merupakan hambatan penanganan pandemi, membuat banyak orang yg literasinya rendah menjadi orang yg tdk terdidik karena menyangkal pendapat ahli dgn rumor dan prasangka.

Saya percaya, semakin banyak orang yg terdidik, semakin cepat bencana ini mereda. Oleh krnnya saya tdk mendiamkan Ruwaibidhah dan pasukannya yg ingin meraih kebebasan seperti yg akan terjadi negara maju tanpa mau berusaha. Mereka kehilangan akal dan rasa, sehingga lupa kalau Tuhan tdk akan merubah nasib bangsa mayoritas muslim ini menjadi seperti bangsa di luar sana, termasuk seperti bangsa Cina, kalau bangsa ini tdk berusaha.

Semoga amal sukarela yg diniatkan utk ikut berpartisipasi bersama pemerintah tsb bernilai ibadah, walau ada orang yg menyebut saya sebagai sales Covid-19 atau buzzer pemerintah. Saya senang dgn sebutan tsb dari pada disebut sales atau buzzer Ruwaibidhah yg buruk di mata Rasulullah SAW.

#BiografiCahyana

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya