Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

28 Oktober 2021

Jihad Digital: Pembebasan Masyarakat dari Buta Digital



Di masa lalu, Kartini memperjuangkan kesetaraan gender dengan menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak perempuan dengan tujuan agar memiliki kecakapan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai ibu, pendidik pertama bagi anak. Gagasan tersebut terungkap dalam surat yang ditulisnya berikut ini:

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kartini, 1901)

Di masa kini, anak-anak perempuan harus memperoleh kecakapan literasi digital dari sekolah atau pegiat literasi digital, agar di masa depan mereka dapat menjadi seorang ibu yang mampu melaksanakan kewajibannya dalam melindungi anak-anaknya dari beragam ancaman digital dan mendorongnya untuk memperoleh daya saing dengan perangkat digital. Oleh karenanya pemerintah Indonesia berupaya dengan sungguh-sungguh / berjihad untuk mewujudkan layanan dan akses universal dengan membangun infrastruktur TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) melalui BAKTI Kominfo dan menyelenggarakan pembangunan sumber daya manusia dalam bidang TIK melalui Gerakan Nasional Literasi Digital. Harapannya semua jihad tersebut dapat mewujudkan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk setara dengan bangsa lain, sebagaimana disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa:

"Teknologi informasi dan komunikasi merupakan jembatan antara negara maju dan berkembang, alat pembangunan ekonomi dan sosial, mesin pertumbuhan, pilar utama bangunan masyarakat dan ekonomi basis pengetahuan global, serta kesempatan bagi negara untuk membebaskan diri dari tirani geografi. Oleh karenanya harus ada layanan dan akses universal, kesamaan kesempatan, keragaman konten, serta kebebasan berekpresi dan akses" (International Telecommunication Union, 2002).

Untuk mewujudkan keuntungan kompetitif dari TIK itu, setidaknya dilakukan daur hidup yang meliputi pembangunan infrastruktur, mobilisasi warga sebagai Relawan yang melaksanakan peran Pandu Digital, dan pembangunan kompetensi literasi digital. Pandu Digital harus terdepan dalam menghantarkan bangsanya ke depan pintu gerbang kemerdekaan dari buta digital yang berdampak pada penambahan populasi melek digital di area geografis tertentu. Mereka dapat melewati tahapan pembangunan literasi digital berikut ini: 1) Penyadaran kebutuhan sektoral terhadap TIK; 2) Pelatihan bagi mereka yang telah memiliki kesadaran tersebut untuk membangun kompetensi literasi digitalnya; 3) Penerapan kemampuan literasi digital dalam kegiatan sektornya; dan 4) Perubahan yang dicapai dengan kreatifitas dan inovasi yang diterapkan dengan piranti digital. Saat mereka berhasil menghantarkan bangsanya ke tahap kedua, saat itu mereka telah membebaskan bangsanya dari buta digital.

Dari kegiatan survei yang melibatkan dua kelompok responden dari Relawan TIK Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, Ikatan Guru Vokasi Indonesia, dan Jaringan Sekolah Digital Indonesia diperoleh gambaran kebutuhan prioritas kompetensi literasi digital dengan urutan sebagai berikut:

  1. Penciptaan konten digital, mencakup pengembangan konten digital sebagai informasi atau pengetahuan baru;
  2. Keamanan, mencakup proteksi perangkat dan kesehatan pengguna, akurasi data dan proteksi berkas, proteksi lingkungan, etika dan privasi, serta akurasi, proteksi, dan properti Konten; 
  3. Melek informasi, mencakup pencarian, pemilihan, evaluasi dan pengelolaan informasi atau konten digital;
  4. Komunikasi dan kolaborasi, mencakup interaksi sosial, berbagi informasi atau pengetahuan, pelibatan, dan kolaborasi; dan
  5. Melek Teknologi Informasi, mencakup pengenalan aktivitas, pengguna, dan komponen teknologi informasi.

Kelima jenis literasi digital tersebut dikutip dari A Global Reference on Digital Literacy Skills for Indikator 4.4.2 yang dipublikasikan oleh Universitas Hongkong. Gerakan Nasional Literasi Digital membangun empat pilar literasi digital, yakni Digital Skills yang mencakup melek teknologi informasi, melek informasi, penciptaan konten digital, komunikasi dan kolaborasi; serta Digital Culture, Digital Ethics, dan Digital Safety yang mencakup keamanan. 

Selain dengan komunitas TIK selaku relawan dan komunitas sasaran yang didampinginya, pemerintah juga harus bermitra dengan perusahaan. Pemerintah harus membangun fasilitas digital yang bersifat publik guna mewujudkan kesetaraan akses bagi warga negara. Pemerintah juga harus membangun iklim investasi yang baik untuk perusahaan digital agar mereka nyaman dan menyediakan banyak solusi digital bagi bangsa ini. Komunitas TIK dapat mendampingi komunitas sasaran dalam pemanfaatan solusi digital tersebut. Pemerintah memberdayakan komunitas TIK agar dapat melaksanakan perannya dengan baik dan memberikan dampak yang signifikan bagi pembangunan masyarakat informasi Indonesia. Perusahaan juga dapat memberdayakan komunitas TIK dengan memberikan bantuan program atau berbagi usaha agar komunitas TIK dapat terus menjalankan program pendampingannya di tengah masyarakat.   

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk membebaskan warga negara Indonesia dari tirani geografis yang membatasi akses internet merupakan #JihadDigital kecil - perjuangan / upaya bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kemerdekaan digital. Jihad besarnya adalah upaya kita semua selaku warga negara Indonesia yang baik untuk tidak merespon jihad kecil tersebut dengan ekspresi buruk (ujaran kebencian, hoax, dan lain sebagainya), tetapi dengan turut serta di dalam jihad kecil tersebut dalam beragam peran. Oleh karenanya, merdeka di era digital itu apabila kita dapat mengakses internet di mana saja untuk keuntungan kompetitif, dan dapat mengendalikan diri untuk tidak berekspresi negatif di dunia maya.

Materi:

23 Oktober 2021

Mewujudkan Simbol Agama di dalam Hati


Dulu semasa bujang, saya sering menggunakan gamis, baik di dalam dan di luar kegiatan mengaji, dan bahkan mengusulkannya sebagai seragam organisasi. Kemudian ada yg menasihati agar saya jgn berislam secara simbolis, sebab berislam itu tdk bisa disimpulkan dari penampilan, tetapi dari apa yg kita fikirkan dan perbuat.

Sekarang ini saya mendengar nasihat yg sama dari Gus Men di hari Santri Nasional, agar santri tdk terjebak dgn simbol sarungan yg sdh menjadi identitas santri dari dulu. Saya termenung, menyadari kalau sudah lama sekali sarung dan peci tdk digunakan, bahkan saat salat Jum'at sekalipun. Bahkan celana cingkrang pengganti sarung, yg membuat saya dianggap terafiliasi kelompok tertentu, sudah saya tinggalkan juga.

Saya ingin lebih bermakna dgn menjadi sosok pelayan tanpa ikatan simbol apapun. Simbol terpenting bagi seorang pelayan adalah lafadz Tuhan yg harus senantiasa terpasang dan terbayang di mata, sehingga orang lain lebih mudah atau kuat ingatannya kpd Sang Khlaiq dari pada kpd sang pelayan.

#BiografiCahyana

18 Oktober 2021

Di Antara Positivis dan Post-Positivis

Perbedaan pendapat antara penganut aliran pemikiran induktif dengan deduktif di antaranya terkait demarkasi yang menentukan posisi Metafisika di dalam Science. Kalangan Induktif atau Postivis mengeluarkan Metafisika dari Science dengan alasan melawan prinsip pengalaman inderawi. Sementara kalangan Deduktif yang belakang menjadi aliran pemikiran Post-Positivisme menyanggahnya dengan mengatakan bahwa temuan itu di antaranya bersumber dari intuisi yang dapat dibuktikan dengan pengalaman rasional. 

Kalangan Post-Positivis ini telah meninggalkan fase yang menyandarkan pengetahuan pada Teologisme semata, tetapi tidak meninggalkan Rasionalism untuk menjadi seorang Positivis. Sementara Positivis secara ekstrem meninggalkan dua fase sebelumnya, yakni Teologisme dan Rasionalism. Post-Positivis berusaha untuk bersikap moderat terhadap aliran-aliran pemikiran yang telah memberikan kontribusi berharga bagi umat manusia. 

Dalam pemikiran Karl Propper, klaim atau temuan apapun harus dapat diuji dengan falsifikasi tertentu. Semakin kokoh klaim tersebut, maka semakin dekat dengan kebenaran. Falsifikasi ini senantiasa terbuka untuk dilakukan, sehingga tidak ada kebenaran yang merupakan kebenaran absolut; atau dengan kata lain, semua kebenaran yang diperoleh dari pengalaman itu bersifat nisbi. Di sisi lain ada sebagian yang menolak falsifikasi dengan fallacy, menganggap benar klaimnya yang telah runtuh. Hal demikian membawanya dirinya kepada non science, atau pseudo science

Seorang periset harus menguji temuan (hasil) penting dari pengalaman risetnya; bukan untuk membenarkannya dengan logika-logika yang dipaksakan, tetapi untuk mengukur seberapa logis temuan tersebut dapat menjawab pertanyaan penelitian dan menyelesaikan masalah penelitian. Semakin logis, semakin temuan tersebut dikuatkan (corroborated). Apabila kokoh, maka temuan itu merupakan Science. Kalau falsifikasi para penguji membuktikan temuan itu tidak menjawab pertanyaan penelitian atau tidak menyelesaikan masalah penelitian, maka temuan itu non science yang non sense.

17 Oktober 2021

Perdebatan

Perdebatan merupakan aktivitas yang banyak dihindari oleh kalangan berilmu. Namun al-Ghazali dalam Ayyuhal-Walad membolehkannya dengan menentukan syaratnya, yakni utk kebenaran, di mana kita tdk membedakan kebenaran yg datangnya dari lisan sendiri atau dari orang lain. Imam Syafi'i dalam Adabu Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu berkata, "Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat". Beliau juga berkata dalam Tabyinu Kadzbil Muftari, "Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru". Oleh karenanya, sikap default dalam perdebatan adalah semangat untuk memperbaiki kebenaran yang sudah diketahui. Fokusnya pada apa (kebenaran) yg dikatakannya (diyakininya), bukan pada siapa yg mengatakannya. Dalam daur hidup pengelolaan pengetahuan, memeriksa relevansi dan akurasi suatu pengetahuan itu merupakan tahapan terpenting untuk menumbuhkan pengetahuan. 

Dalam lingkungan kebebasan berekspresi, setiap orang bebas utk menentukan cara mengekpresikan sesuatu, dan bebas pula utk menentukan cara meresponnya. Sesuatu yang bermanfaat akan ditemukan oleh kedua belah pihak yg berkomunikasi saat pesan yg mengalir di antara keduanya hampir tidak terpengaruh oleh noise psikologis, seperti ketidaksukaan kepada pribadi seseorang.

Fokus perdebatan itu adalah utk menguji kekokohan suatu kebenaran, bukan fokus pada siapa yg meyakininya sebagai kebenaran. Setiap orang berangkat dari kesadaran bahwa kebenaran yg diyakininya itu nisbi, belum tentu selalu benar, atau setidaknya belum tentu merupakan kebenaran yg sempurna. Dan kebenaran itu datangnya bisa dari siapa saja, dari sudut pandang manapun. 

Apabila mereka yg berdebat tdk fokus melainkan kpd kebenaran, tdk akan ada keperluan dari siapapun utk melihat pribadi lawan debat. Demikian pula apabila muncul ujaran kebencian pada salah satunya yg menargetkan karakteristik yg dilindungi (ras, agama, dls), orang yang menjadi target ujaran kebenciannya tdk akan terganggu selama tetap fokus pada kebenaran.

Apabila lawan debat berputar-putar dgn ujaran buruknya tanpa bisa mencegah robohnya kebenaran yg ia yakini, hal demikian menunjukan ia mengalami fallacy, sebab ia mentolerir sesuatu yg telah runtuh (special pleading) atau menolak keruntuhannya secara tdk logis. Saat seseorang berpaling dari kebenaran yang kokoh dengan modal cemoohan, ia tengah bersikap sombong. Dalam kondisi demikian, siapapun yang telah memetik kebenaran yang kokoh harus menghentikan segera perdebatannya, dan berlalu dari siapapun yg terkungkung oleh fallacy. Perdebatan yg berakhir dgn penampakan kebenaran yg kokoh telah cukup sebagai counter-speech bagi hate-speech.

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).

#PersepsiCahyana

09 Oktober 2021

Rasa Bersalah


Rasa bersalah itu akan terasa beragam bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, rasa bersalah kpd orang yg dikenal, terasa berbeda dgn rasa tsb kpd orang yg tdk dikenal. Bahkan ada yg mengalami rasa itu demikian: 1) Semakin dekat, semakin terasa, dan semakin jauh, semakin tak terasa; 2) Semakin terlihat jati diri, semakin terasa, dan semakin tersembunyi, semakin tak terasa.

Tetapi inti rasa bersalah itu sama utk segala kondisi yg beragam tsb. Dari inti itu terpancar ketidaknyamanan yg diletupkan dgn kekuatan, di mana kekuatannya beragam tergantung syarat kondisinya. Misalnya, kalau kondisi dirinya terlihat, dan objeknya dekat atau dikenal, letupannya akan besar, sehingga pancaran ketidaknyamananya akan sangat kuat dan membebani fikiran.

Inti tersebut sering dirujuk utk membuat pengertian umum dari makna bersalah dan rasanya. Inti dari rasa tersebut adalah bahan baku ketidaknyamanan yg akan diletupkan. Inti tersebut adalah pengabaian komitmen. Artinya, semua orang yg mengalami rasa bersalah seperti apapun kondisinya atau sebesar apapun rasanya, penyebabnya sama, yakni pengabaian komitmennya kpd objek, baik komitmen alami atau disepakati.

Misalnya kita punya komitmen utk bersikap lembut kpd siapapun. Apabila suatu saat bersikap sebaliknya, kita akan merasa tdk nyaman. Semakin berkomitmen, semakin tdk nyaman. Oleh karenanya, selain kondisi subjek (nampak/tersembunyi) dan objek (jauh/dekat, dikenal/tdk) yg menentukan seberapa kuat letupan rasanya, kondisi inti (komitmen) juga turut menentukannya.

#PersepsiCahyana

07 Oktober 2021

Mengelola Stress

Stress adakalanya menimbulkan masalah saat bebannya berlebih. Stress tidak selalu timbul karena adanya fikiran negatif. Semangat positif yang dibangun oleh fikiran positif terkadang menimbulkan stress saat fikiran menjadi sangat penuh. Ada beberapa jurus pengelolaan stress yang saya kutip dari beberapa pustaka.

Dari karya tulis Ibn Arabi saya menemukan satu konsep Raja Hati. Gagasan utamanya adalah aku yang harus menunggangi fikiran atau perasaan ku,  jangan fikiran dan perasaan yang menunggangi ku, atau selain ku yang menunggangi fikiran dan perasaan tersebut. Fikiran dan perasaan itu seringkali diidentifikasi sebagai sosok lain. Dalam perbincangan psikologi ada istilah Dualisme Kepribadian yang gagasan utamanya adalah "aku" bukanlah "aku yang berlawanan". Dihubungkan dengan konsep Raja Hati, aku sebagai raja di dalam hati, bukanlah aku yang berlawanan, dan aku yang berlawanan harus ditundukan untuk mempertahankan kedudukan ku sebagai raja hati.  

Dari karya tulis al-Ghazali saya menemukan konsep untuk mengurangi fikiran dan perasaan yang tidak penting, yakni selalu berpaling dari bisikan negatif dalam hati sampai pembisiknya patah semangat. Sama seperti kita yang bersifat diskrit, memiliki batasan usaha, aku yang berlawanan juga memiliki batasan usaha. Apabila usahanya mandeg, aku yang manapun mungkin akan berhenti dengan sendirinya.

Dari karya tulis Ibnu Athaillah saya menemukan konsep istirahat sebagai upaya mengurangi tekanan. Wujud istirahatnya adalah kontemplasi. Tujuannya dua:

Pertama, berpegang terus pada "tonggak yg sama" dalam fikiran utk mencegah diri terbawa arus negatif di dalam diri. Bagi muslim, "tonggak" itu berupa ingatan kepada Tuhan, di mana berpegang terus padanya itu diwujudkan dalam dzikrullah. Aku dapat menghindari dari keinginan aku yang berlawanan dengan mengarahkan "wajah" ku kepada "wajah" Nya, kepada nama-Nya.     

Kedua, mensugesti diri dalam kontemplasi tersebut untuk mengarah kepada fikiran dan perasaan yang baik, sehingga aku yang berlawanan mendapat penghalang tebal untuk mengganggu ku.

Dari semua konsep yang telah disampaikan, kunci pengelolaan stress adalah pengetahuan baik dan buruk yang berasal dari beragam sumber pengetahuan yang dipercaya. Selain itu adalah dengan menyeimbangkan aku dengan aku yang berlawanan, yin-yang. Artinya kita tidak mungkin lepas dari stress, hanya bisa menyeimbangkan kemampuan aku dengan aku yang berlawanan. Stress itu benar-benar hilang saat aku tidak ada.

#PersepsiCahyana

Keyakinan dan Sains

Istilah naik ke langit dan turun ke bumi telah menjadi bagian dari sistem kepercayaan manusia dari dulu, di mana orang pilihan tertentu dipercaya telah mengalaminya. Misalnya, Isa naik ke langit; Adam, Hawa, dan Isa turun ke Bumi; Muhammad naik ke langit dan turun kembali; beberapa Nabi yg telah meninggal ditemui di lapisan atau dimensi langit tertentu. Beberapa teks suci mendeskripsikan kendaraan yg digunakannya. Hal ini serupa dgn keyakinan bangsa Mesir dan kebudayaan tinggi lainnya di masa lalu, di mana raja mereka setelah meninggal, jiwanya akan menetap di langit. 

Urusan ketuhanan dan metafisika ini telah menjadi teori umum di masa lalu, sumber inovasi manusia. Dan sekarang ini, Positivis menolak klaim yg tdk bisa dibuktikan tsb, dan menyebutnya sebagai omong kosong, sampai datang pengalamannya kpd diri mereka sendiri yg dapat diuji. Selama klaim pengalaman apapun tdk dapat diuji, mereka menganggapnya sebagai pseudoscience.

Namun sebagian ilmuan memilih jalan moderat dgn mengatakan, bahkan tdk ada satupun kebenaran dari pengalaman manusia yg merupakan kebenaran krn mungkin suatu saat falsifikasi akan menunjukan kebenaran yg tertunda/sebenarnya. Itulah sebab knp tdk bijak menjadikan pengalaman manusia yg kebenarannya nisbi sebagai dalil kebenaran bagi pengetahuan mutlak Tuhan, sehingga dlm urusan keyakinan kpd Tuhan, pilihan kita hanya percaya hingga datang keyakinan ☺️

#PersepsiCahyana

04 Oktober 2021

Perjalanan Menemukan Kebenaran dari Tangga Korespondensi hingga Pragmatis



Teori kebenaran Koresponsensi menjadikan pengideraan sebagai dasar kebenaran, di mana seseorang meyakini kebenaran dari adanya sesuatu atau hal tertentu apabila telah menginderanya sendiri. Sementara dalam teori Koherensi,  kebenaran akan adanya sesuatu atau hal tertentu tidak cukup hanya apabila telah terindera saja, tetapi harus rasional atau sesuai dengan akal sehat. Namun adakalanya mereka yang telah mengindera dan menggunakan akal sehatnya membuat kesimpulan tentang kebenaran adanya sesuatu atau hal tertentu yang berbeda karena berdiri pada sudut pandang berbeda atau sempit. sehingga menurut teori Konsensus semuanya dapat duduk bersama untuk merangkai setiap kesimpulan yang diperoleh dari sudut pandang sempit yang beragam menjadi kesimpulan yang lebih luas lagi. Adapun teori Pragmatik mensyaratkan kebermaknaan atau manfaat dari kesimpulan tersebut, apabila tidak demikian maka adanya sesuatu atua hal tertentu tidak perlu dianggap sebagai kebenaran.

Contoh perjalanan manusia dari teori kebenaran Korespondensi hingga ke Pragmatik bisa kita lihat dari ajaran Budha Gautama yang diceritakan dalam Tipitaka tentang kisah sejumlah orang buta yang belum mengetahui Gajah dan berusaha mengidentifikasi kebenaran adanya Gajah. Pada awalnya, setiap orang buta berdiri di sudut yang berbeda dan dengan alat indera yang masik dimilikinya berusaha mengidentifikasi adanya Gajah. Dengan berhasil menyentuhnya, setiap orang buta meyakini kebenaran adanya Gajah. Hal tersebut telah memenuhi teori kebenaran Korespondensi

Ada kalanya seseorang itu skeptis, sehingga tidak langsung begitu saja percaya dengan apa yang diideranya. Orang buta yang menyentuh belalai Gajah dan pernah memiliki pengalaman menyentuh Ular mungkin perlu menggunakan logikanya untuk memastikan apa yang disentuhnya bukan Ular. Dengan menyamakan pengalamannya sekarang dengan pengalamannya menyentuh Ular ia akan berhasil melihat perbedaannya dan meyakini bahwa yang disentuhnya bukan Ular, sehingga lebih percaya dengan kebenaran adanya Gajah. Proses demikian telah memenuhi teori kebenaran Koherensi.

Apabila semua orang buta dikumpulkan, lalu diminta untuk menjelaskan karakteristik Gajah, akan ada perdebatan di antara orang buta tersebut. Hal demikian dikarenakan satu orang buta mengindera Gajah dari belalai, satu orang lainnya dari kaki, satu orang lagi dari tubuh, dan ada pula yang dari ekor. Apabila semua orang buta rendah hati, semuanya akan duduk bersama dan merangkai wujud Gajah dari pengalaman yang berbeda, sehingga tercipta dalam benak semuanya citra Gajah yang lebih lengkap. Hal demikian telah menghantarkan semua orang buta pada tahapan kebenaran menurut teori kebenaran Konsensus.

Pertanyaan terpenting yang harus difikirkan oleh semua orang buta adalah tentang kemanfaatan mahluk yang besar tersebut, lepas dari apakah sebelumnya telah melewati perjalanan dari kebenaran Korespondensi hingga Konsensus atau tidak. Apabila tidak ada manfaat yang diperoleh diri sediri dan masyarakatnya, keberadaan Gajah tidak perlu diindahkan dan cukup disikapi seperti kaum Positivis mengacuhkan Metafisika. Namun saat satu atau beberapa atau semua orang menganalogikannya dengan hewan serupa yang telah memberi manfaat, semuanya akan merasa optimis dengan keberadaan Gajah sebagai kebenaran yang layan diindahkan. Sampai tahap ini, semuanya telah sampai pada teori kebenaran Pragmatik

#PersepsiCahyana