Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

07 Oktober 2022

Kesaksian dan Pensucian


Seorang bertanya di dalam mimpi, apakah saya sudah dibaptis? Saya menjawab, bahwa "pembaptisan" bagi (dlm pemahaman saya selaku) seorang muslim terjadi di alam Azali ketika ruh bersaksi atas Ketuhanan Allah, sehingga ia terlahir dalam keadaan suci dan memiliki satu Tuhan.

Pertanyaannya cukup menarik, sebab seharian kemarin saya tdk berinteraksi dgn istilah tsb atau persoalan terkait. Biasanya mimpi saya itu mengulang apa yg saya lalui seharian hingga aktivitas terakhir sebelum tidur. Selepas salat Subuh saya buka internet utk mengetahui istilah tsb, sehingga saya memahami kenapa jawabannya seperti itu. Tentu saja istilah tsb tdk dikenal dlm Islam, namun ada rutinitas muslim yg mirip dgn tujuan kesaksian dan pensucian yg berbeda. 

Aktivitas salat merupakan realisasi pengakuan atas Ketuhanan tsb di alam dunia ini, di mana seorang abid berdo'a atau bersujud hanya kepada Ma'bud nya dalam keadaan telah bersuci atau berwudhu. Sebelum salat seorang muslim berwudhu, membasuh anggota tubuh dari tangan hingga kaki. Menurut suatu riwayat, dosa seorang muslim terhapus saat berwudhu. Seorang muslim yg baik melakukan aktivitas tsb minimal lima kali dalam sehari.

Aktivitas tsb sangat bermanfaat bagi seorang muslim. Seorang bayi atau mualaf yg awalnya suci dari dosa suatu saat pasti akan melanggar larangan Tuhan atau melakukan dosa kembali, sehingga ia memerlukan penghapusan dosa atau pahala kebaikan yg dapat mengalahkan beban dosa. Ada banyak fasilitas selain wudhu dan salat yg disediakan Tuhan utk kebutuhan tsb. Dosa dan fasilitas tsb menjadi pengingat sepanjang hidup di dunia bahwa seorang abid akan selalu membutuhkan Ma'bud nya dlm segala kelemahan atau kekurangan dirinya.

#BiografiCahyana

19 September 2022

Nasihat Sumber dan Nasab Pengetahuan


Prof Dwi Hendratmo adalah guru besar yg telah memberi bekal dan material riset yg banyak dalam mata kuliah metodologi penelitian. Berkat beliau kami membaca puluhan artikel dalam topik riset yg diminati. Dengan bekal itu saya dapat melewati seminar penelitian dan ujian kualifikasi. 

Beliau adalah guru yg baik karena berkenan merespon pertanyaan melalui WA dan memberikan jawaban yg menenangkan kekhawatiran saya terkait kesenjangan pengetahuan. Namun sayangnya saat itu saya sudah mengontrak mata kuliah lain sebelum menerima jawaban tersebut, sehingga belum berkesempatan utk menghubungkan nasab pengetahuan kpd beliau.

Dalam ujian kualifikasi beliau mengingatkan saya utk memperhatikan sumber atau nasab pengetahuan yg mempengaruhi kualitas keilmuan dalam kecerdasan buatan. Beliau juga mengingatkan saya utk tdk melupakan bekal yg telah beliau berikan dalam mata kuliah Metodologi Penelitian di perjalanan studi yg sedang saya lalui. Saya mengucapkan terima kasih atas nasihat tersebut di akhir sesi ujian kualifikasi dan setelahnya melalui WA.

Setahun kemudian, pada semester ini saya berencana mewujudkan keinginan lama utk menautkan nasab keilmuan kepada beliau dgn mengontrak mata kuliah Pembelajaran Mesin Lanjutan. Tetapi datang kabar sedih tentang kondisi kesehatan beliau yg menyebabkan saya harus membatalkan kontrak mata kuliahnya. Saya ikut bersama ikatan alumni yg mendukung pemulihan kondisi beliau.

Namun takdir berkata lain, hari Senin ini, 19 September 2022, beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sebagai murid beliau saya bersedih ... dan bersaksi beliau sebagaimana al-Maghfurlah Prof Iping adalah guru yg sangat baik dan bermanfaat bagi murid-muridnya. Semoga husnul khatimah, dan Allah mengampuni serta merahmati beliau, amin. 

#BiografiCahyana

02 September 2022

Seminggu Work from Bali (SEA IGF 2021)

SEA IGF (Southeast Asia Internet Governance Forum) adalah perhelatan internasional yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI (Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia). Kegiatan ini merupakan akhir kontribusi saya terhadap almamater dalam jabatan struktural di Institut Teknologi Garut, setelah berkhidmat selama 18 tahun sejak tahun 2003. Alhamdulillah, dalam masa khidmat tersebut saya telah berupaya memajukan almamater sejauh jalan yang Allah bukakan. Setidaknya ada tiga kontribusi level internasional yang telah saya persembahkan: 1) Pembelajaran pengabdian kepada masyarakat di luar negeri (International Telecommunication Union Thailand) pertama kali yang diikuti oleh mahasiswa pada tahun 2013 dalam program Indonesian ICT Volunteer; 2) Pengabdian kepada masyarakat Sekolah Internet Komunitas Common Room yang pertama kali disponsori oleh lembaga luar negeri, Association Progressive for Communication; dan 3) Inisiasi kegiatan level internasional pertama kali di SEA IGF yang difasilitasi oleh Kemenkominfo RI. Semua pintu kesempatannya saya temukan di Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang saya upayakan kerjasama dengan kampus sejak tahun 2012 dan telah menjalani dua periode kerjasama selama 6 tahun.

Kesempatan SEA IGF saya peroleh setelah ibu Mariam Barata yang saat itu menjabat sebagai plt Dirjen APTIKA Kemenkominfo RI mendorong saya di WAG Relawan TIK Indonesia untuk mengusulkan inisiatif kegiatan. Tawaran beliau saya tindak lanjuti dengan mengirimkan proposal inisiatif kegiatan atas nama Relawan TIK Institut Teknologi Garut dengan judul The Urgecy of Integration of Information and Communication Technology Volunteers with Education System in Digital Transformation in Southeast Asia dalam kategori Youth and Innovation Development. Saya berencana mendiseminasikan kegiatan #RTIKAbdimas yang merupakan realisasi kerjasama Institut Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia dan Kemenkominfo RI dalam bidang pendidikan, tepatnya dalam mata kuliah Relawan Teknologi Informasi pada program studi Teknik Informatika. Saya mendapat bantuan dari bapak Dr. M. Said Hasibuan - Sekjen Relawan TIK Indonesia dalam upaya menemukan narasumber dari luar negeri. Alhamdulillah, Prof. Ts. Dr. Ali Selamat dari Malaysia yang sangat rendah hati berkenan untuk turut serta dalam usulan inisiatif kegiatan tersebut tanpa honorarium. Saya tidak kesulitan untuk meminta Prof. Dr. M. Ali Ramdhani - Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI dan Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto, M.Eng - Direktur Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo RI sebagai narasumber mengingat hubungan baik yang telah terbangun sejak lama.


 Bersama ibu Mariam Barata (tengah)

Saya menerima konfirmasi dari panitia SEA IGF yang menyatakan usulan inisiatif kegiatan diterima oleh panitia. Kegiatan yang bertempat di Nusa Dua Bali tersebut diundur menjadi tanggal 2 September 2021. Relawan TIK Indonesia menyelenggarakan kegiatan Festival TIK sebelum tanggal tersebut, sehingga saya berangkat lebih awal dari jadwal SEA IGF. Setibanya di Bali, saya dengan dua rekan Relawan TIK Garut, ibu Leni Fitriani dan ibu Dewi Tresnawati, langsung menuju venue Festival TIK di Puri Saron Hotel Denpasar Bali. Suasana di sana sudah sangat ramai oleh kegiatan yang diikuti oleh Relawan TIK se Indonesia. Kebetulan siang itu ada tugas instruktur pelatihan Junior Office Operator dari Kemenkominfo RI yang harus saya tunaikan, sehingga saya memutuskan untuk merogoh kocek pribadi untuk menyewa satu kamar yang masih tersisa agar leluasa dan tenang dalam melakukan pelatihan daring tersebut. Niat kami menghadiri Festival TIK adalah untuk menghormati dan mensyukuri nikmat kesempatan yang diberikan oleh Relawan TIK Indonesia dalam program Gerakan Nasional Literasi Digital Kemenkominfo RI dan Siberkreasi sepanjang tahun 2021. 


Keesokan harinya, saya pindah ke Sofitel Nusa Dua Bali, fasilitas gratis yang diberikan oleh Kemenkominfo RI. Jarak dari venue Festival TIK lumayan jauh, dan ongkos Grab nya lumayan mahal, sehingga saya memutuskan untuk tidak kembali ke venue dan menyiapkan kegiatan SEA IGF. Saya berkesempatan untuk bercengkrama dengan teman-teman Relawan TIK dan Kemenkominfo RI seputar program Pandu Digital pada malam hari di tempat tersebut.

Keesokan harinya, pada tanggal 1 September 2021, saya pindah ke Westin Resort Nusa Dua Bali, fasilitas gratis yang diberikan oleh panitia SEA IGF untuk narasumber dan moderator.


Pada akhirnya, kegiatan yang diinisiasi oleh Institut Teknologi Garut itu pun digelar pada tanggal 2 September 2021. Sebenarnya usulan kegiatannya atas nama Relawan TIK Institut Teknologi Garut, tapi panitia menulis hanya nama institusi kampusnya saja. Alhamdulillah, kegiatan hibrida itu berjalan lancar, diikuti oleh audien umum dan Relawan TIK Indonesia secara luring dan daring. 


Bersama Pengurus Relawan TIK Indonesia selepas kegiatan SEA IGF

Saya berencana pulang esok hari, namun ternyata ada masalah dengan penerbangannya, sehingga harus menginap satu hari lagi di Bali. Dalam kondisi keuangan pribadi yang menipis saya berusaha mencari penginapan yang murah. Dalam proses pencarian itu, saya teringat teman kakak yang punya resort di Bali. Setelah kakak berkomunikasi dengan temannya itu, akhirnya saya dihubungi oleh pihak resortnya. Harganya lumayan, sekalipun katanya sudah dikorting, sehingga saya berniat mencari alternatif lain. Tapi teman kakak yang merupakan owner resort tersebut mentransfer uang agar saya menginap di resortnya. Akhirnya saya bisa menginap di Mutiara Mutiara Bali Boutique Resort Villas dan Spa hanya mengeluarkan tambahan uang sebesar seratus ribu rupiah saja untuk semalam. Alhamdulillah, rejeki anak saleh, dapat hotel gratisan terus. Mungkin Tuhan kasihan karena niat saya untuk berkontribusi ini tidak diimbangi oleh kemampuan finansial yang memadai, hehehe. 

Sore hingga malam harinya saya isi dengan kegiatan refreshing, mengunjungi pantai di sana dan menikmati makan malam. Cuplikan perjalanan di masa pandemi yang sangat berdampak pada kegiatan pariwisata di Bali saya tuliskan dalam artikel berjudul Kembalikan Baliku Padaku


Keesokan harinya saya diantar ke bandara oleh pengelola hotel. Saya berikan uang secukupnya untuk mengganti biaya akomodasi, sekalipun beliau tidak memintanya. Alhamdulillah, perjalanan menuju Bandung tidak ada kendala, hanya ada insiden keterlambatan masuk pesawat yang disebabkan karena antrian pemeriksaan test Covid-19. Saya harus terengah-engah dan berkeringat karena berlari mengejar pesawat yang akan tinggal landas. 

Sesampainya di Bandung, saya langsung menuju tempat kost kakak, tempat di mana kendaraan saya terparkir selama lima hari. Awalnya saya tidak tahu, kenapa kendaraannya tidak bisa dihidupkan, tapi belakangan saya mengetahui penyebabnya adalah inverter yang belum dimatikan sejak hari pertama. Syukurlah bapak Grab berbaik hati mengisi ACCU dari kendaraannya sehingga kendaraan saya bisa dihidupkan. Masalahnya tidak selesai sampai di sana. Tiba-tiba kendaraan mati saat akan mengisi bensin. Akhirnya saya putuskan mengeluarkan uang untuk membeli ACCU baru agar bisa segera pulang. 

Tidak semua niat baik dalam pelaksanaannya berjalan mulus, tetapi Allah menunjukan ada banyak orang baik yang membantu niat tersebut. Sebagai insan beriman saya begitu mensyukuri karunia Nya, mulai dari memperoleh kesempatan kegiatan dan niat melaksanakannya, serta memperoleh kemudahan di dalam pelaksanaannya. Saya selalu percaya kebenaran firman Allah, "dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah (dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya) (2) Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga (terlintas di hatinya)" (Qs. At – Tholaq: 2-3)


#BiografiCahyana

01 September 2022

Di Jalur Subsidi


Sore ini dua jalur pengisian BBM di SPBU sudah terpasang plang jalur subsidi. Saya sodorkan smartphone yg menampilkan barcode #MyPertamina ke petugasnya. Seperti biasa petugasnya memindai dgn gawai khusus. Kemudian ia berkata, "Lebih cepat dgn barcode ya pak". Tentu saja hal itu membuatnya senang. Sebelumnya saya melihat ia harus menginput nomor kendaraan secara manual.

Setelah selesai terisi BBM, saya menanyakan kpd nya limit BBM dalam satu hari. Jawabnya, "40 liter". Ia bertanya tentang lama waktu saya memperoleh barcode tersebut. Saya jawab, "Satu minggu". Sekalian saya sampaikan masukan agar Pertamina membuka pos di SPBU yg membantu masyarakat utk mendapatkan barcode tsb.

Dalam perjalanan menuju pulang saya berfikir, seandainya Relawan TIK Indonesia di Garut, Zoel Hilmy dkk membuka pos tersebut, tentunya itu akan sangat membantu masyarakat dan pemerintah. Walau saya belum dapat berbuat banyak, setidaknya saya cukup senang dgn nikmat memikirkan kebaikan seperti itu. Semoga Allah memudahkan kita semua, bangsa yg memperoleh kemerdekaannya atas berkat rahmat Nya.

#BiografiCahyana

27 Agustus 2022

Tetap Berkarakter di Dunia Maya


Budaya adalah warisan cara hidup turun temurun. Salah satu unsur kebudayaan adalah teknologi yang mengikuti perkembangan pengetahuan manusia. Teknologi memberikan dampak positif dan negatif yang tidak jarang penerapannya menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Dalam artikel blog ini saya akan menceritakan perubahan budaya dan tantangannya yang pada akhirnya menjadi pesan penting untuk tetap berkarakter di dunia maya. 

Perubahan Budaya   

Pada awalnya manusia bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan cara berjalan kaki. Setelah manusia dapat menaklukan dan menunggangi hewan, cara tersebut berubah dan memberikan dampak efisieni waktu dan tenaga. Setelah manusia menemukan pedati, cara bepergian menjadi lebih murah karena satu keluarga tidak perlu memiliki hewan tunggangan yang banyak. Cara baru ini menciptakan bentuk usaha baru transportasi umum yang dapat diikuti oleh banyak orang di berbagai tempat. Kondisi tersebut menggambarkan perubahan budaya yang timbul karena penemuan baru atau kontak dengan budaya lain.

Penemuan mesin uap memulai era industri dan mengubah alat transportasi umum yang pada awalnya menggunakan tenaga hewan menjadi tenaga mesin. Keberadaan alat transportasi modern yang lebih baik membuat masyarakat cenderung meninggalkan alat transportasi lama. Hal tersebut mempengaruhi pendapatan, sehingga pengusaha transportasi lama yang tidak berdaya saing terkadang memilih cara kasar untuk menolak keberadaan pesaing. Namun gerak kemajuan tidak akan terbendung dan setiap orang pada akhirnya akan bermigrasi dari cara lama kepada cara baru yang lebih baik. Apalagi bila cara baru menjanjikan penghasilan yang jauh lebih baik bagi pengusaha dan kenyamanan yang jauh lebih baik bagi konsumen. 

Oleh karenanya, penolakan kusir pedati terhadap sopir kendaraan bermotor sangat mungkin terjadi dalam kondisi adanya kondisi persaingan usaha. Demikian pula setelah manusia memasuki era digital, ojek atau taksi konvensional akan merasa tersaingi oleh mode digital yang menawarkan fleksibilitas dan kenyamanan yang jauh lebih baik. Apakah setelah taksi konvensional bermigrasi ke cara digital tidak akan ada pesaing lagi? Tentu saja tidak. Di era industri 4.0, peran manusia selaku sopir alat transportasi umum diambil alih oleh kecerdasan buatan. Manusia perlu meningkatkan kemampuannya agar dapat beralih pekerjaan menjadi penjaga kinerja banyak kendaraan otomatis di belakang layar komputer. 

Budaya Digital dan Asimilasi Budaya

Budaya digital terwujud saat teknologi informasi merubah cara manusia dalam berinteraksi; serta dalam membuat, menyampaikan dan menerima produk dan jasa. Internet menyediakan kesempatan bagi siapapun untuk memperluas interaksi dengan manusia, mesin, dan konten sehubungan dengan tidak adanya batasan lokasi geografis. Kondisi tersebut menimbulkan interaksi dan asimilasi budaya, di mana manusia saling mempertukarkan dan memperbaiki budayanya. Contohnya, mereka yang mendapatkan informasi makanan di luar negeri yang menarik dari internet mungkin akan mencoba untuk mencicipinya saat ada kesempatan. Setelah makanan itu terasa sangat enak, ia akan mengubah masakannya agar hasilnya terasa seenak makanan tersebut. Bahkan ia bisa memodifikasi masakan lokal berdasarkan pengalaman tersebut, sehingga menjadi komoditas baru yang diminati oleh banyak pecinta kuliner karena rasanya menyamai makanan yang sedang populer di internet.

Masalah Emosi

Internet memberi kesempatan bagi siapa saja untuk memproduksi dan menyebarkan informasi dan gagasannya secara luas tanpa melalui meja editor. Sayangnya, ada banyak kiriman informasi atau komentarnya yang merupakan ekspresi yang kasar. Sebagian dari pengirim informasi atau komentator tersebut tidak berani melakukannya di dunia nyata, sehingga kita melihat auman singa di media sosial ternyata berasal dari kucing imut bersuara menggemaskan. Banyak orang merasa takut saat berhadapan dengan sikap buruknya di dunia maya, namun sebaliknya dia merasa ketakutan di dunia nyata saat berhadapan dengan orang yang terganggu oleh sikap buruknya.

Mereka yang tidak banyak bermain di internet mungkin terkejut saat Microsoft menerbitkan hasil survei yang menyatakan netizen Indonesia paling tidak sopan di ASEAN. Dari dulu bangsa Indonesia terkenal dengan sikap ramah, sehingga rasanya hampir tidak masuk akal bila netizen Indonesia berkarakter seperti itu. Boyd mengatakan bahwa sebagian orang mengira keberadaan dirinya di internet tidak akan ditemukan oleh siapapun, sehingga mereka bisa melakukan hal mengerikan di media sosial. Kondisi tersebut serupa dengan orang yang melakukan pencurian karena merasa tidak ada yang melihat tindakannya. 

Di internet kita banyak menemukan netizen yang terlihat seperti sosok pemarah hanya karena perbedaan pendapat dalam merespon komentar atau informasi. Menurut Greenawalt, seseorang menggunakan bahasa kasar saat emosinya memuncak. Ia menyebut julukan kelompok dalam kalimatnya untuk menguatkan bahasa tersebut. Mungkin saja marahnya itu karena terdorong oleh rasa cinta pada tanah airnya. Tetapi emosi terkadang sangat melupakan dan membuat ekspresinya menjadi sangat berlebihan, sehingga ia menghasut tindak kekerasan kepada kelompok tertentu berdasarkan ras, agama, kebangsaan, dan karakteristik lainnya. Hal tersebut menjadikan ekspresi bencinya yang nasionalis berubah menjadi ujaran kebencian yang melawan hukum. Akibatnya ia berhadapan dengan kelompok yang tersinggung dan mungkin saja terancam sanksi hukum pidana. Sikap temperamental dalam interaksi di media sosial berdampak buruk pada kesehatan diri dan lawan bicaranya. Greenawalt menyebutkan dampak buruk yang dirasakan oleh lawan bicara berupa gejala fisiologis dan tekanan emosional mulai dari rasa takut di usus, denyut nadi cepat dan kesulitan bernapas, mimpi buruk, gangguan stres pasca trauma, hipertensi, psikosis, dan bunuh diri.

Karakter Indonesia

Bagi bangsa Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa, perbuatan netizen yang tidak berkarakter merupakan kekhilafan karena lupa kepada Tuhan yang maha mengetahui semua perbuatan di dunia nyata dan dunia maya. Tuhan tahu siapa netizen yang tersembunyi di balik akun anonim seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Tidak ada seorang pun kecuali meninggalkan jejak di internet, dan ahli forensik dapat dengan mudah menemukannya.  

Bapak Sukarno menyebut Ketuhanan YME adalah karakteristik bangsa Indonesia. Beliau  menyeru kepada bangsa ini untuk mengamalkan agama dengan cara yang berkeadaban, yakni hormat menghormati satu dengan lain. Netizen yang mewarisi karakteristik tersebut akan menghormati netizen lain sekalipun tidak dikenalnya. Ada banyak nilai dari agama yang dapat membentuk karakter seperti itu. Contohnya, agama Islam mengajarkan kepada netizen muslim Indonesia untuk bersikap lemah lembut, berkata baik (QS. 2:83, 15:88, 3:159), santun dan tidak pemarah (QS. 3:134, 26:37), serta memaafkan dan memaklumi orang lain (QS. 3:134, 26:40) yang berbuat salah di dunia maya. Islam mengajarkan mereka untuk bersikap jujur dan tidak berdusta (QS. 9:199), sehingga secara sadar akan menjauhi hoax. Mereka juga tidak akan berkata dan berbuat tanpa ilmu (QS. 17:36), sehingga tidak mudah mencela, berburuk sangka (QS. 49:11-12), membicarakan aib orang lain, dan mencari-cari kesalahan (QS 49:12) dalam urusan yang tidak difahaminya. Mereka akan bekerjasama dalam kebaikan dan tidak dalam keburukan (QS. 5:2), seperti mencegah kelicikan dan penipuan dalam jual beli (QS. 83:1-3, 6:152) di virtual marketplace

Peran Perempuan

Pada tahun 1901, Kartini menuntut pendidikan bagi kaum perempuan agar dapat menjalankan kewajibannya sebagai ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. Perhatian kepada kaum perempuan sangat penting di era digital sekarang ini. Perubahan budaya menyebabkan kebiasaan anak berubah karena pengaruh smartphone atau perangkat teknologi informasi lainnya. Banyak ibu yang kebingungan mendampingi anaknya menggunakan smartphone dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19. Kondisi tersebut disebabkan karena ibu belum memiliki pengalaman tersebut saat bersekolah dulu. Banyak ibu yang juga merasa bingung apakah harus memberikan anaknya smartphone atau tidak, sementara anaknya membutuhkan smartphone untuk beragam keperluan. Kekhawatiran para ibu adalah sikap kecanduan terhadap smartphone yang mengancam kesehatan dan masa depan anaknya, sementara mereka belum pernah mendapatkan pengajaran di sekolah atau di Posyandu tentang pengasuhan digital.

Orang tua telah mendekatkan anak dengan perangkat digital, sehingga anak memiliki ikatan emosional atau ketertarikan terhadap perangkat digital. Anak telah mendengarkan suara digital dari alam kandungan, ia bisa membedakan suara ibunya dengan suara lantunan ayat suci atau nyanyian yang berasal dari pemutar musik digital. Anak lebih dulu melihat kilatan cahaya kamera smartphone dari pada suara ayahnya, sehingga pengenalannya terhadap audio visual perangkat digital  menjadi lengkap. Ibu mengajak anak balitanya menonton film dari televisi, dan memberikan smartphone atau tablet agar dapat mengerjakan aktivitas rumah tangga atau memenuhi kebutuhan dirinya tanpa interupsi dari anaknya. Anak berebut smartphone dengan ibu dan kakaknya yang kebutuhan hariannya bergantung pada perangkat tersebut, sehingga orang tua pada akhirnya memberikan gawai untuk setiap anaknya. 

Dalam kondisi demikian, orang tua harus memiliki kemampuan untuk mendisiplinkan anaknya agar fungsi pengawasan digital berjalan dengan baik. Lebih lanjut, orang tua perlu menggunakan aplikasi smartphone untuk memonitor dan membatasi aktivitas anaknya. Untuk itu semua, kita memerlukan  pengajaran dan pendidikan literasi digital kepada anak-anak wanita agar mereka lebih cakap melakukan kewajiban sebagai ibu pendidik anak digital yang pertama-tama. Anak perempuan harus pandai melakukan asimilasi budaya dan menciptakan model hibrida, di mana cara lama yang baik dan berlaku di dalam lingkungan keluarga tidak perlu hilang sepenuhnya. Seorang anak muslimah dapat mengaji menggunakan aplikasi mushaf digital pada waktu antara Maghrib dan Isya, di mana dulu orang tuanya menghabiskan waktu tersebut dengan mengaji menggunakan mushaf tercetak. 

Seorang anak dapat melakukan aktivitas baik atau buruk baik dengan smartphone atau tidak. Smartphone hanya menguatkan pengaruh atau mempercepat proses anak menjadi baik atau buruk. Faktor penentunya bukan smartphone, tetapi orang tua yang memiliki tanggung jawab harian dalam mengawasi anak. Oleh karenanya, orang tua tidak perlu menjauhkan anak dari perangkat digital yang telah didekatkannya sedari dalam kandungan. Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membangun kesadaran pentingnya menjadi orang baik. Kesadaran dapat membangun sikap mawas diri, sehingga tidak mudah terseret arus deras di dunia maya yang mengarah pada dampak negatif. Orang tua harus memastikan anaknya untuk tetap berkarakter di dunia maya.  

#PersepsiCahyana

  

26 Agustus 2022

Cuek Terhadap Penampakan


Ada seseorang yg mengatakan kita bisa kehilangan syahadat lantaran mengaku bisa melihat jin. Saya akan menanggapinya dgn pengalaman sendiri di masa silam.

Dulu waktu jaman kuliah sarjana, tepatnya malam hari, saya mencuci pakaian di kamar mandi masjid, dekat gedung sekolah yg sedang dalam tahap pembangunan. Gedung itu dibangun di atas lahan yg dulunya adalah deretan kamar mandi santri dan kolam besar. Saya pernah mandi di kamar mandi tsb.

Beberapa saat kemudian, saya melihat sosok wanita berpakaian putih berdiri di depan gerbang masuk gedung tsb. Saya mengabaikannya, krn penampakannya tdk sejelas wujud fisik manusia. Saya melanjutkan pekerjaan dan kembali ke kamar setelah selesai mencuci. Lokasi kamarnya tepat di belakang masjid. Di sana ada banyak kamar yg diisi oleh banyak mahasiswa teknik dan guru ngaji.

Beberapa saat kemudian, seorang teman yg dikenal sangat antusias dgn persoalan ghaib datang menemui dan bertanya, apakah saya melihat penampakan di gedung yg sedang dibangun? Saya jawab apa adanya sesuai pengalaman tadi. Seingat saya, dia ke kamar mandi yg sama utk mencuci peralatan makan setelah saya kembali ke kamar.

Dari sana saya menyimpulkan, saat itu ada dua orang yg melihat penampakan tsb, yakni saya dan teman tetangga kamar yg suka membaca majalah Misteri dan takut dgn cermin di depan tempat tidur. Semoga sosok tsb tdk menggerutu krn penampakannya sama sekali tdk mempengaruhi saya, bahkan tidak merinding sama sekali. Masih teramat jauh utk sampai menggoyahkan iman yg membuat saya harus bersyahadat lagi. Pria bujang itu bisa goyah imannya oleh wanita beneran yg cantik, bukan oleh sosok yg wajahnya tdk jelas seperti itu.

#BiografiCahyana

07 Agustus 2022

Keanehan Netizen KC (Kurang Cermat)


Setiap pembangunan ada perencanaan dari pakar dan pasti ada manfaatnya. Tinggal bangsa ini bekerja keras bersama-sama, seraya memohon kpd Tuhan agar mampu mewujudkannya dgn baik. Kita punya rasa takut dgn risiko, tetapi kita punya banyak ahli yg mumpuni, dan kita punya Tuhan yg selama ini telah memberikan banyak hal luar biasa kpd Indonesia melalui tangan para ahli.

Ini adalah kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Setiap orang yg selama ini baru melihatnya di Jepang, Cina, dan negara maju lainnya melalui layar TV atau internet pasti penasaran dan ingin melihatnya langsung, atau bahkan mencoba menaikinya, sekalipun sebelumnya mencibir. Sebagaimana jalan layang MBZ, sebagian pengguna tol yg mencibir pembangunannya sekarang mulai merasakan nikmatnya pengurangan waktu tempuh.

Oh ya, masih banyak yg menggunakan materi lawas utk mencemooh proyek nasional ini, misalnya Jakarta-Padalarang masih jauh ke Bandung, padahal stasiunnya sudah dibangun di Tegalluar Bandung. Terlihat di Google Maps, stasiun Kereta Api Cepat berdekatan dgn jalan tol yg terhubung ke berbagai gerbang masuk ke kota Bandung. Ini menunjukan sebagian dari netizen kurang cermat dalam memilih materi, dan mendaur ulang materi lama utk cemoohan.

Beberapa tahun kemudian, apabila diizinkan Allah stasiun tsb terhubung ke tol, penumpangnya tdk hanya bisa mengarah ke Bandung, tetapi juga ke Garut dan bandara Kertajati. Ini semacam harapan saya selaku warga Garut, semoga di masa depan bisa menggunakan jalan tol dari Garut menuju stasiun kereta api cepat di Tegalluar utk meeting di Jakarta, atau naik pesawat terbang di Kertajati utk meeting di kota selain Jakarta, dan utamanya utk mudik ke Subang.

#PersepsiCahyana

Keanehan Netizen BBM (Buru-Buru Marah)

Saya pernah males ngantri di SPBU, sehingga memutuskan utk membeli Pertamax Turbo. Mengisi tangki dgn sekian liter Pertamax Turbo seharga 100rb serasa 50rb pertalite. BBM tsb memang tdk diperuntukan bagi konsumen seperti saya yg cuma pake kendaraan LMPV dgn CC di bawah 1500. 

#Pertamina sendiri menyebut ketiga jenis BBM nonsubsidi itu hanya menyasar pada 5 persen pelanggan Pertamina secara nasional. Kalau melihat daftar kendaraan yg cocok dgn jenis BBM ini kita pastikan pelanggan yg dimaksud adalah pemilik mobil mewah. Buat kalangan tsb yg uang saku hariannya bisa ratusan ribu hingga jutaan, kenaikan sekian ribu per liter itu tdk berpengaruh. Beda dgn kita yg kondisinya berbeda jauh, mungkin ada sedikit rasa penyesalan setelah mengisi tanki mobil dgn jenis BBM tsb.

Anehnya, banyak netizen yg tdk pernah mengkonsumsi jenis BBM tsb sumpah serapah atas kenaikan harganya, sampai bawa-bawa hutang negara, keadilan sosial, dan azab Tuhan. Konsumen yg setiap hari mengisi kendaraannya dgn BBM non subsidi tsb sepertinya menahan tawa melihat reaksi semacam itu, atau bahkan tdk perduli krn tdk ada pentingnya sama sekali. 

Dari sini saya melihat memang ruang medsos kita masih dilingkupi post truth, di mana opini publik dikembangkan oleh netizen dgn emosi buta dari pada fakta. Indeks literasi kita memang rendah, terlebih semangat ricek juga masih lemah, sehingga wajar risiko teratas Indonesia menurut Microsoft adalah penipuan dan hoax. 

#PersepsiCahyana

05 Agustus 2022

Peran Sugesti dalam Praktik Tenaga Dalam


Tenaga dalam yg pernah saya pelajari merupakan kemampuan untuk memasukan pesan sugesti. Gerakan fisik tangan merupakan bahasa tubuh yg mewakili pesan sugesti, tetapi tdk mutlak diperlukan. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa kali percobaan, di mana seseorang dapat bereaksi sesuai sugesti yg saya pikirkan tanpa perlu menggerakkan tangan.

Pesan sugesti bisa diterima atau ditolak, tergantung kemauan atau tingkat kesadaran penerima. Orang yg tdk bisa mengendalikan dirinya saat emosi memuncak lebih mudah utk menerima pesan alam bawah sadar dari siapapun. Seperti orang yg mudah terprovokasi saat emosi. Oleh krn nya, siapapun yg berperan sebagai lawan dlm praktiknya diharuskan oleh instruktur utk menyerang dgn penuh amarah. Tanpa kondisi tsb, sugesti bisa ditolak oleh lawan.

Namun tdk semua harus dalam keadaan marah. Sugesti dapat diterima oleh lawan dalam kondisi mau dipengaruhi, seperti hipnosis. Dlm kondisi demikian, siapapun dapat melepaskan pengaruhnya kapanpun juga. Kesimpulan ini berdasarkan pengalaman, di mana saya dapat bangun sendiri tanpa perlu dibangunkan oleh pengirim sugesti. Waktu itu banyak teman mempertanyakan kondisi tsb. Sayangnya saya tdk menyimak jawaban dari instruktur kpd mereka.

Ada banyak penonton yg mengatakan orang yg menjatuhkan lawan tanpa sentuhan itu bohongan. Pernyataan itu tdk sepenuhnya benar, sebab bohongan itu tdk memerlukan sugesti. Sugesti itu efeknya seperti hipnosis, di mana penerima pesan sama sekali tdk bisa melakukan apa yg menurut pengirim pesan tdk bisa dilakukan, atau akan merasakan apa yg harus dirasakannya. Misalnya, seseorang akan merasakan adanya daya dorong yg berlawanan dgn gerakannya, di mana daya tsb sebenarnya datang dari dirinya sendiri. Ia mengidentifikasi daya tsb sebagai daya orang lain, seperti anak kecil yg memainkan dua tangannya dlm pertarungan dan ia memerankan salah satunya. Istilah tanpa sadar yg saya gunakan ini maksudnya gerakan yg muncul tanpa berusaha mengadakannya. Contoh sederhana gerak tanpa sadar itu seperti gerak reflek.

Komunikasi bawah sadar itu nyata adanya, seperti kita sering mengatakan sesuatu yg sama pd waktu bersamaan dgn orang lain. Kesimpulan itu saya peroleh dari percobaan, di mana saya dgn sekumpulan orang memejamkan mata dan mengosongkan fikiran. Kemudian saya mengimajinasikan cahaya dan objek tertentu, dan ternyata ada orang lain yg mengidentifikasinya dgn persis.

Penjelasan ini hanya sebatas pengalaman pribadi. Di luar sana masih ada pendekatan lain yg digunakan dalam praktik tenaga dalam. Kita tdk berhak menyamaratakan tenaga dalam berdasarkan satu pendekatan yg kita fahami saja.

#PersepsiCahyana

31 Juli 2022

Post Truth Dulu dan Sekarang


Oxford mendefinisikan post truth sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Seseorang dapat menyangkal fakta hanya karena tdk sejalan dgn emosi dan keyakinannya, dan terkadang berusaha menjaga superioritasnya dlm perdebatan dgn bahasa kasar dan julukan, semisal argumentum ad hominem yg menyerang pribadi (fisik) lawan bicaranya.

Saya jadi teringat bagaimana sikap masyarakat jahiliyah dulu terhadap Muhammad, seorang utusan Tuhan. Masyarakatnya menyangkal penjelasan yg masuk akal bukan karena tdk memahaminya, tetapi karena berlawanan dgn emosi dan keyakinan. Mereka membangun opini publik dgn menyematkan julukan kpd utusan tersebut, seperti orang gila, sekalipun selama ini mereka tahu kualitas baik sang utusan dari sisi keturunan ataupun perilaku hidup. Bahasa kasar mereka terekam dalam kitab suci:

Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila". (QS al-Hijr: 6)

Indikasi mereka mengalami post truth terekam dalam ayat lainnya:

Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila". Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu. (QS al-Mu'minun: 70)

Kata "benci" berkaitan dgn emosi yg karenanya mereka menolak kebenaran. Di antara kebenaran yg pernah diungkap oleh utusan Tuhan adalah fakta adanya kesalahan dlm sistem keyakinan mereka.

Mari kita lihat, bagaimana bapak agama Samawi menunjukan fakta tsb dalam cuplikan dialog dgn masyarakatnya yg terekam dlm surat al-Anbiya. Suatu ketika Ibrahim menghancurkan berhala hingga berkeping-keping, kecuali yang terbesar, agar ada yg bertanya kepadanya.

Sebagian bertanya, "Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim."

Sebagian lainnya menjawab, "Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim".

Lalu dikatakan saat itu, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan."

Kaum Nabi Ibrahim bertanya, "Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?"

Nabi Ibrahim menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepadanya, jika ia dapat berbicara."

Kaum Nabi Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri). Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara."

Nabi Ibrahim pun menjawab, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?"

Sebagaimana umumnya kalangan yg mengidap post truth, fakta yg masuk akal tsb dibungkam dgn tindakan menyakiti. Seseorang dapat menyakiti secara psikis dgn bahasa kasar sebagaimana yg dialami oleh Nabi Muhammad SAW, atau secara fisik seperti yg dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Kaum Nabi Ibrahim yang marah berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat."

Apabila saat ini kita menemukan ada netizen atau kalangan tertentu yg menolak fakta kesalahan mereka atau fakta kebenaran dgn cara melakukan serangan seperti itu, ternyata itu sudah menjadi karakter manusia jahiliyah dari masa lalu. Mereka menjadi demikian krn fanatisme yg terbangun oleh loyalitas atau kesukaan emosional, bukan krn akal yg sehat.

Sebagaimana kondisi kaum Nabi Ibrahim yg fanatik thd keyakinannya krn ikut-ikutan. Mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya." Kalau sekarang, sikap ikut-ikutan netizen yg membuat mereka menolak fakta terjadi krn pengaruh teman dekat dalam jejaringnya yg mempercayai sesuatu dgn penuh emosi.

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

28 Juli 2022

Pengaruh Pertemanan di Medsos


Apakah anda sempat mengira bila medsos dapat membaca pikiran? Kemampuan medsos belum sampai di sana, tetapi algoritma dlm medsos mengumpulkan kita dgn orang lain yg memiliki pola kiriman dgn kita, sehingga ada kalanya pikiran mereka adalah jawaban utk masalah kita, menguatkan pendapat atau perasaan kita. Hal demikian membuat lingkungan medsos menjadi tempat yg menyenangkan, sebab kita bertemu atau berinteraksi dgn orang dan konten yg digemari.

Nabi SAW pernah bersabda, "Kamu bersama orang yang kamu cintai" (HR. Bukhari). Konteks hadits tsb adalah tentang kebersamaan di akhirat. Tetapi di dunia ini, kebersamaan seperti itu terlihat di medsos. Kita cenderung berteman atau mengikuti (follow atau subscribe) siapapun yg gemar mengirimkan konten yg dicintai, bahkan meminta utk diberi tahu oleh medsos bila ada kiriman barunya. Sehingga kita setiap saat berkumpul dgn pengguna dan konten yg dicintai, dan berinteraksi walau sebatas memberi tanda ❤️ atau ๐Ÿ‘. Bahkan kita menunjukan sikap kontra terhadap konten yg menyelisihinya.

Nabi SAW juga pernah bersabda, bahwa seseorang akan terpengaruh oleh temannya. Beliau membuat perumpamaan demikian:

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikan mu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap. (HR. Bukhari).

Ada banyak cara bagi siapapun utk membangun pertemanan di medsos. Mereka yg fokus pada jumlah pengikut tdk memperhatikan baik atau buruknya akun yg mengikutinya. Media yg mendapat keuntungan dari berita kontroversi yg menimbulkan perdebatan yg ramai justru memelihara akun antagonis, termasuk akun anonim atau akun ternak milik buzzer. Tetapi kita biasanya membatasi diri dgn hanya memilih berinteraksi dgn siapa saja yg berinteraksi baik, dan cenderung menjauhi mereka yg tdk mau lepas dari interaksi buruknya. Bahkan sebagian pengguna medsos hanya berteman dgn siapa saja yg dikenal. Pemilihan teman di medsos bertujuan utk mendapatkan pengaruh yg baik dan menjaga suasana medsos yg baik.

Itulah sebab kenapa kita dapat memperkirakan pengguna medsos berada dalam lingkaran pertemanan seperti apa dari kiriman, komentar, dan cara interaksinya. Bila seseorang menggunakan materi (termasuk konten hoax) yg bertahun-tahun banyak digunakan oleh banyak orang utk menghina seseorang atau sekelompok orang, kemungkinan besar ia berteman atau berada dlm jaringan pertemanan yg sering membicarakan penghinaan tersebut dlm medsosnya. Perilaku seseorang dibentuk atau dipengaruhi oleh perilaku atau konten dalam jejaring pertemanannya, sehingga ia akan seperti yg dicintainya.

Imam al Mubarakfuri menjelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi, "Jika seseorang mencintai kalangan saleh dengan ikhlas, maka sebagaimana dinyatakan Nabi, ia termasuk golongan mereka kendati amalannya tidak seperti yang dilakukan orang-orang saleh tadi, sebab keterpautan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar bisa berbuat serupa."

Dalam konteks kecintaan di medsos, bila kita berteman dgn pengguna medsos yg saleh, di mana kesalehannya tercermin dari kirimannya yg berisi pemikiran, pengalaman, atau konten lainnya yg saleh, maka kita termasuk kalangan mereka krn terpaut hati dgn kontennya, sehingga kita tergerak utk menirunya di dunia maya ataupun nyata. 

Oleh krn nya, kiriman konten di medsos terkait amal saleh yg telah dilakukan tdk lah buruk selama tdk ada niat riya' atau ujub. Apalagi bila kiriman tsb dimaksudkan utk mempengaruhi orang lain agar berbuat sama yg mungkin akan lebih hebat dari amal yg ada. Ini adalah upaya utk memicu semangat berbuat baik.

"... Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan ..." (QS. al-Baqarah: 148)

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

27 Juli 2022

Post Truth

Gambar di atas adalah isi artikel Cahyowati dalam Putro dkk (2020) berkaitan dengan aliran post-truth dan hate speech yang dapat bermuara ke konflik sosial.

Truthiness atau kebenaran adalah sesuatu yang terasa benar, bahkan tidak harus didukung oleh fakta (Colbert, 2005). Filsuf Harry Frankfurt berkata, ketika seseorang membual, dia tidak harus berbohong, cukup hanya menunjukan ketidakperdulian terhadap apa yang benar. Post-truth  atau paska kebenaran berkaitan dengan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dari pada perasaan dan kepercayaan pribadi (Oxford Dictionary). Post-truth adalah ketika seseorang berpikir bahwa reaksi orang banyak benar -benar mengubah fakta tentang sebuah kebohongan. Post-truth merupakan suatu bentuk supremasi ideologis, di mana para praktisinya mencoba memaksa seseorang untuk percaya pada sesuatu, apakah ada bukti yang baik untuk itu atau tidak

#PendidikanCahyana
#LiterasiDigital

26 Juli 2022

Menyikapi Netizen Berpenyakit Hati Akut


Setiap permusuhan atau harapan bisa dihilangkan, kecuali permusuhan dari orang yg memusuhimu karena dengki.

Di media sosial kita berbagi konten dan berinteraksi dgn banyak orang. Tdk semua interaksi memberikan pengalaman yg menyenangkan. Ada kalanya kita bertemu dgn netizen yg menderita penyakit kebodohan yg tdk bisa diobati. Contohnya, mereka yg bertahun-tahun menggunakan materi yg sama dan bahkan sudah terbukti hoax utk mengolok-olok seseorang atau sekelompok orang yg dibencinya.

Apabila kita menunjukan kekeliruannya dan mencoba meluruskannya dgn penjelasan yg baik, mereka meresponnya dgn komentar kasar yg menghina dgn niat utk menyakiti, sebagai pertanda kondisi emosinya yg memuncak. Bahkan tdk cukup sampai di sana, mereka menyebut julukan kelompok utk menguatkan bahasa kasarnya tersebut. 

Greenawalt dalam Fighting words: individuals, communities, and liberties of speech menjelaskan bahwa seseorang dapat menyerang orang lain secara psikologis dgn perkataan yg menyinggung saat emosinya sedang memuncak. Ia memilih kata yg paling kasar utk memaksimalkan rasa sakit lawan bicaranya, termasuk menguatkannya dgn julukan kelompok. Tujuannya adalah utk membuat lawan bicaranya merasa direndahkan dan tersakiti, dan mengalami gejala fisiologis dan tekanan emosional mulai dari rasa takut, denyut nadi yg cepat, kesulitan bernafas, mimpi buruk, gangguan stres, hipertensi, psikosis, dan bahkan bunuh diri. Serangan tsb dapat berakibat balasan serangan fisik di dunia nyata.

Cohen-Almagor dalam Taking North American White Supremacist Group Seriously: The Scope and the Challenge of Hate Speech on the Internet mengatakan bahwa orang yg mengembangkan kebencian dapat menemukan pendukung di internet. Itulah sebab kenapa kita menemukan ada banyak netizen yg menyukai sikap buruk tsb dan menyatakan dukungannya dgn memberi tanda suka atau menuliskan komentar dukungan. 

Orang yg memiliki jiwa pengasih, akan merasa kasihan dgn mereka yg tersesatkan oleh hoax dan terjebak pada post truth yg membuatnya lebih menerima hoax yg sejalan dgn emosinya dari pada fakta yg menyalahinya. Ia juga akan merasa kasihan dgn orang yg membuat kesimpulan tanpa pengetahuan karena tdk mau membaca atau melakukan ricek. Orang yg pengasih ini akan menyengajakan diri utk membantu mereka dgn memberikan penjelasan, melakukan kontra ujaran dgn ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ayuhal Walad, jika terjadi permasalahan antara diri mu dgn orang lain atau sekelompok orang, kemudian engkau berkehendak utk menampakan kebenaran dan agar ia tdk hilang, maka boleh membahasnya dgn syarat menerima kebenaran dari siapapun, dan cenderung melakukannya secara private.

Namun bila pembahasan itu berfaidah utk banyak orang, sebaiknya disampaikan di ruang publik agar orang mengetahuinya, menghindari kesalahan mereka, dan ikut serta melakukan kontra ujaran.

Sekalipun kita telah memberikan penjelasan yg mudah difahami, mungkin saja itu tdk bisa memadamkan kebencian mereka, sehingga mereka terus bersikap kasar dan bahkan semakin kasar utk menguatkan rasa sakit kita. Dampak sikap kasar itu minimalnya membuat jantung berdetak lebih kencang. Dalam kondisi demikian, mereka terindikasi mengidap penyakit kebodohan yg tdk bisa diobati.

Menurut Imam al-Ghazali, mereka yg berpenyakit hati akut itu adalah orang yg pertanyaan dan sanggahannya muncul krn hasad dan kebencian. Setiap kali kita menjawabnya dgn jawaban yg paling bagus dan paling jelas, maka itu hanya akan menambah kebencian, permusuhan, dan kedengkiannya. Jalan paling baik hendaklah kita tdk usah repot menjawabnya, berpaling darinya, dan tinggalkan mereka bersama penyakitnya. Allah SWT berfirman, "Maka berpalinglah dari orang yg berpaling dari peringatan Kami, dan tdk mengingini kecuali kehidupan duniawi" (an-Najm [53]: 29)

Isa AS berkata, "Aku bisa menghidupkan orang yg sudah mati, akan tetapi aku tdk bisa mengobati orang yg dungu".

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

24 Juli 2022

Membangun Kolaborasi untuk Pengentasan Buta Digital di Garut


Membantu program pemerintah terkait literasi digital yg bermanfaat bagi masyarakat adalah kewajiban saya selaku pengabdi dan sedekah saya selaku relawan TIK. Pagi itu di Kampung Sampireun ada pertemuan antara Direktur PI (Pemberdayaan Informatika) Kemenkominfo RI dgn tiga kampus di Garut. Pelibatan ketiga kampus tersebut dlm program semacam itu bukanlah kali pertama. Pada tahun 2021, ketiga kampus tersebut saya ikut sertakan dalam kegiatan Gerakan Nasional Literasi Digital dgn memberi kesempatan kepada dosennya sebagai pemateri webinar. Ketiga kampus tersebut memiliki program studi dalam bidang komputasi.

Pertemuan tersebut berawal dari komunikasi digital pada malam hari. Saat itu saya membagikan informasi Kedaireka yg sangat diperhatikan oleh Direktur PI utk menjalankan program literasi digital. Kemudian beliau berniat mengunjungi Garut utk menindaklanjuti pelaksanaan program tsb bersama kampus di Garut yg melaksanakan KKN. Saya menginformasikan ada kampus di Garut yg akan melaksanakan KKN dalam waktu dekat.

Program ini tdk bisa hanya melibatkan ITG, mengingat banyaknya target warga terliterasi digital yg harus dicapai oleh pemerintah bersama perguruan tinggi. Oleh karenanya saya menyarankan kepada beliau utk melibatkan UNIGA. Alhamdulillah rektor UNIGA menyambut baik rencana tersebut.

Bersama ITG, peserta KKN dapat menyasar wilayah utara dan tengah Garut. Namun saya tdk ingin melewatkan wilayah Selatan, sehingga mencoba menghubungi rektor IPI Garut utk mendapatkan informasi KKN. Alhamdulillah, ternyata kampus tsb melaksanakan KKN di wilayah Selatan. Dan Direktur PI sangat setuju melibatkan kampus ketiga yg saya usulkan.

Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya direktur PI menggelar FGD di Garut dgn mengundang ketiga kampus. Pertemuan menyepakati pelaksanaan kegiatan pembekalan pada hari Sabtu utk semua pembimbing dan peserta KKN dari tiga kampus. Kemudian saya diminta oleh tim literasi digital direktorat PI utk menentukan moderator dan narasumber. Saya menawarkannya kepada ketiga kampus melalui kepala LPPM masing-masing kampus.

Saat itu ada yg bertanya, kenapa saya tdk menjadi narasumber atau moderator? Saya jelaskan bila tugas tsb tdk wajib saya emban, dan kebetulan pada hari yg bersamaan saya memiliki janji sebelumnya utk kegiatan lain. Beberapa waktu kemudian ada yg berkata kalau saya mendapatkan insentif dari kegiatan pembekalan. Saya jelaskan bahwa insentif itu berkaitan dgn pelaksanaan tugas, dan saya tdk mengemban tugas apapun.

Fokus saya bukan insentif, tapi bagaimana agar warga Garut terentaskan buta digitalnya, dan bagaimana agar upaya pengentasannya terwujud melalui kolaborasi antar stakeholders yg melibatkan banyak kampus. Saya sangat senang pada akhirnya lebih dari satu kampus dapat melaksanakan program yg sama dlm KKN nya masing-masing. Saya terus membantu direktorat PI utk mewujudkan perjanjian kerjasama tiga kampus di Garut dgn Ditjen APTIKA Kemenkominfo RI, agar kolaborasinya tdk berhenti sebatas KKN.

#BiografiCahyana

22 Juli 2022

Islamophobia atau Extremophobia?

Adakalanya penggunaan istilah #Islamophobia oleh sebagian kalangan itu merupakan generalisasi keliru. Secara teks bermakna "takut Islam", padahal yg ditakuti oleh mereka yg dituduh Islamophobia itu hanya "pemahaman Islam politis yg ekstrem ala Khawarij". Mungkin lebih tepatnya bukan Islamophobia, tapi extremophobia atau istilah lain yg lebih tepat. 

Generalisasi keliru lainnya misal klaim serangan terhadap "umat Islam", padahal hanya terhadap kelompok tertentu. Maksud generalisasi semacam itu adalah utk menghasut agar ada dukungan kpd kelompoknya. Cara berfikir rancu seperti ini biasanya krn pengaruh ekslusivisme. 

Contoh ajaran agama yg menganut ekslusivisme: seseorang bisa mengucilkan atau menyebut muslim di luar kelompoknya sebagai kafir atau ahli neraka hanya krn beda pemahaman keagamaan. Bahkan ajaran tsb dapat memicu kekerasan fisik hingga genosida, menumpahkan darah saudara seagama sendiri. Tidak mengherankan bila korban terbesar khilafah Baghdadi aka ISIS adalah kalangan muslim. Sangat wajar bila ada masyarakat Islam dan selainnya yg phobia terhadap model Islam ekstrem seperti itu. 

#PersepsiCahyana

11 Juni 2022

Bakso Milik Bersama

Bakso adalah kuliner yg berkembang di tengah masyarakat Tionghoa Indonesia. Pada awalnya bakso menggunakan daging babi giling. Namun di tengah masyarakat muslim, dagingnya berubah menjadi daging Sapi atau daging halal lainnya. Bahkan makanan yg pada awalnya menggunakan daging babi itu disertifikasi halal utk membedakan mana bakso yg boleh dan tdk boleh dikonsumsi oleh muslim. Akulturasi budaya terjadi karena keleluasaan semacam itu, kelapangan suatu kaum utk berbagi manfaat atau kebahagiaan dgn kaum lainnya.

Bersyukur bakso tdk diproteksi oleh masyarakat Tionghoa, sehingga daging gilingnya boleh berbahan Sapi dan sampai sekarang merupakan makanan yg sangat populer di kalangan muslim Indonesia. Sayangnya, masih ada yg berfikir bakso tdk boleh sebagaimana awalnya, sekalipun telah diberi label non-halal dan tdk dimaksudkan utk dijual kpd komunitas muslim. Memang pada dasarnya kelompok intoleran itu tdk mensyukuri nikmat akulturasi, tdk bisa hidup di tengah keragaman.

#PersepsiCahyana

27 Mei 2022

Penilaian Salah

Malam ini saya mendengarkan seorang sahabat yang mengeluhkan saudaranya yang memberikan penilaian salah kepada dirinya, sehingga ia harus meminta maaf. 

Saya mengatakan kepada dirinya, bahwa manusia itu secara default (pada dasarnya) adalah mahluk yang memiliki kelemahan. Sekelas Nabi Yusuf saja masih berkata, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang." 

Fungsi orang di sekitar kita adalah sebagai cermin utk menunjukan kekurangan, sebagai bahan perbaikan utk peningkatan kualitas hidup. Memang penilaian manusia itu akan berbeda-beda, seperti kondisi cermin yg tdk semuanya baik. Mungkin saja apa yang dianggap kurang itu memang kekurangan, atau kekurangan yang dilebih-lebihkan, atau kekurangan bagi dia namun tidak bagi kita, atau mungkin saja penilaiannya salah. 

Kita tetap harus mendengarkan sekalipun penilaiannya saat ini kita anggap salah. Boleh jadi di masa depan kita akan dapat memahaminya, sehingga kesalahan itu terlihat. Atau dari kesalahan penilaian itu kita memperoleh sesuatu yang benar sekalipun tidak mencerminkan diri kita yg sebenarnya, sehingga baik untuk didengarkan dan diingat.

#PersepsiCahyana

20 Mei 2022

Menyelesaikan Masalah dalam Keterbatasan


Musim penghujan, aspal kalah sama genangan air yg tdk bisa mengalir, di antaranya krn sistem drainase yg blm baik. Perbaikannya yg lama boleh jadi krn dua sebab, ketiadaan perhatian atau anggaran. Kepastiannya bisa diperoleh dgn melakukan ricek ke dinas PU atau anggota Dewan, butuh berapa anggaran perbaikannya dan apakah ada alokasi anggaran di kabupaten atau provinsi yg cukup utk menyelesaikan masalah tsb?. Sebab boleh jadi masalahnya belum selesai bukan krn tdk ada perhatian padanya, tetapi krn anggarannya tdk mencukupi.

Keberhasilan Indonesia menangani pandemi adalah seperti negara lain, yakni dgn menjaga kesehatan melalui vaksinasi dan lainnya, serta menjaga ekonomi masyarakat melalui subsidi dan lainnya. Anggaran banyak diarahkan utk ikhtiar-ikhtiar tsb, sehingga pastinya akan ada urusan lain yg level urgensinya berada di bawah yg dikorbankan. Tdk perlu jauh-jauh, cek kebijakan penggunaan dana desa di masa Pandemi.

Dlm kondisi tertentu kita hrs memaklumi suatu keadaan selama keadaan tsb terjadi krn adanya urusan yg lebih penting. Mengeluh itu manusiawi dan dapat menjaga setiap orang utk terus memperhatikan urgensi solusi utk masalah yg dikeluhkan. Solusinya tdk harus sekarang. Tetapi dgn adanya perhatian, solusi akan terwujud begitu ada kesempatan. Namun keterbatasan kesempatan membuat tdk semua masalahnya selesai sekaligus. Penyelesaian masalahnya dicicil sesuai skala prioritas.

#PersepsiCahyana

16 Mei 2022

Ratisejiwa dan Filsafat Stoikisme


Suatu saat saya mengajarkan tali temali kepada dua orang adik kelas dalam kegiatan Kepramukaan di SMP. Ada satu simpul yg harus saya urai. Kepada keduanya saya katakan bahwa kita perlu menenangkan diri saat berhadapan dgn masalah tersebut, sehingga kedamaian tercapai, dan segala sesuatunya dapat dikuasai. Beberapa saat kemudian simpulnya terurai.

Tenang, damai, dan kuasai segalanya adalah buah dari Ratisejiwa (Meraba Hati dan Mensejahterakan Jiwa). Hanya dgn memahami hati dan mengendalikan apa yg bergerak di dalamnya manusia dapat mencapai ketenangan. Apabila hati telah tenang, kedamaian akan menghampiri, berdamai dgn dirinya dan apapun yg ada di sekitarnya. Hal demikian membuat apa yg tercapai atau terlepas menjadi suatu nilai yg dikuasai dan bermanfaat.

Rupanya pemikiran di masa lalu itu selaras dgn perkataan Marcus Aurelius. Penganut filsafat Stoikisme atau filsafat teras itu berkata, bahwa semakin dekat seorang pria dgn pikiran yang tenang, semakin dekat dia dengan kekuatan.

Ada banyak pemikiran Stoikisme yg dapat mengendalikan pikiran ini. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Semakin kamu memikirkan hal-hal di luar kemampuan mu, semakin sedikit kemampuan yang kamu miliki. Kamu akan lebih sering menderita dalam imajinasi, daripada dalam kenyataan.

Jangan menganggap sesuatu itu tidak mungkin hanya karena terasa sulit. Kamu telah melewati hidup tanpa lawan. Tidak ada yang pernah tahu apakah kamu mampu, bahkan diri mu sendiri. Sadarilah bahwa jika orang lain mampu melakukannya, kamu pun dapat melakukannya. Kesejahteraan diwujudkan dengan langkah-langkah kecil, tetapi sebenarnya itu bukan hal kecil.

Kamu diberi dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tanyakan pada diri mu setiap saat, apakah kamu perlu melakukan langkah kecil tersebut?. Bila kamu merasa memiliki sedikit waktu utk melakukannya, ketahuilah bahwa bukan waktu mu yg singkat, tetapi kamu telah menyia-nyiakan banyak waktu.

#BiografiCahyana

15 Mei 2022

Pilihan Jalan Ekstrem dari Google


Hari ini saya ke Istana BEC di Bandung. Nampak kemacetan mengular dari Nagreg hingga Parakan Muncang dalam perjalanan saya menuju Bandung. Pulangnya saya melihat ada kemacetan menuju arah Nagreg. Seperti biasa Google menawarkan jalur alternatif.

Kali ini Google mengarahkan saya ke jalur ekstrem utk menghindari kemacetan di Nagreg. Masuk dari Cicalengka, dan keluar dari jalan raya Cijapati. Rupanya itu adalah jalanan desa yg sdh dibeton, hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Seharusnya saya mengobservasi dulu jalurnya dgn melihat melalui mode satelit.

Di suatu tanjakan, ada kendaraan dari arah berlawanan yg nampak kesulitan menanjak dan didorong oleh sejumlah orang. Beruntung di titik puncak ada ruang yg membuat kendaraan bisa saling melewati.

Namun tantangannya tdk selesai sampai di sana. Ada jalan yg mengalami kerusakan, sehingga kendaraan sempat selip saat melewatinya. Konsentrasi saya agak buyar oleh suara istri yg panik. Beruntung saya dapat mengendalikan kendaraan yg mengarah sendirinya ke kanan dan ke kiri, sehingga tdk ke luar jalur.

Istri saya nampaknya sdh mulai menyerah dan meminta balik arah. Saya pun hampir demikian, sampai muncul pengendara motor dari arah berlawanan. Saya bertanya, seberapa jauh lagi ke jalan raya Cijapati. Ia mengatakan jaraknya tdk jauh lagi. Dan saya menerima informasi darinya kalau jalur yg saya lewati itu tdk dilewati kendaraan roda empat.

Saya sempat berputar dua kali di daerah Kadungora. Tempat keluar dari Kadungora ke arah Leles tdk bisa dilalui karena sedang diberlakukan one way. Saya ingin menghindari jalur bypass Kadungora ini krn kondisi jalannya yg serasa off-roading sampai daerah Banyuresmi.

Akhirnya saya menggunakan jalur Banyuresmi. Setelah melewati Cipicung, nampak kemacetan di depan mata. Saya memutuskan utk balik arah dan melalui jalur Cinunuk. Alhamdulillah, jalanan lancar hingga sampai rumah. Semoga tol segera masuk ke Garut, agar ketidaknyamanan ini pergi.

#BiografiCahyana

13 Mei 2022

Tutup Kepala Ala Manusia Gurun


Ada ujaran yg ramai diperbincangkan, isinya demikian:

"Jadi 12 mahasiswi yg saya wawancarai, tdk satupun menutup kepala ala manusia gurun."

Pernyataan tsb merupakan kiriman Prof Budi Santoso Purwokartiko di media sosial. Hari ini, teman di lab riset saya berpendapat bahwa pernyataan tsb dapat dianalisis kandungan ujaran kebenciannya. Selepas bangun tidur malam ini, saya menyempatkan utk menganalisisnya dgn bersandar pada apa yg telah saya baca dlm proses memahami ujaran kebencian.

Ada anggapan netizen bahwa istilah "manusia gurun" dalam ujaran tsb merupakan label buruk yg menargetkan karakteristik yg dilindungi (ras), sehingga memenuhi syarat utk dianggap sebagai ujaran kebencian atau hate speech. Prof Dr Suteki, SH, M.Hum, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro dalam acara Catatan Demokrasi TVOne menduga kuat pernyataan tsb sebagai perasaan kebencian SARA. Istilah "manusia gurun" hampir mirip dgn "kadal gurun".

Suatu isim juz'iy atau kata khusus pada awalnya dapat bersifat netral, seperti misalnya "manusia perahu" dan juga "manusia gurun". Dlm istilah "manusia gurun" dan "kadal gurun", kata "gurun" nya mengindikasikan wilayah gurun seperti di Timur Tengah. Berbeda dgn "manusia gurun" yg digunakan sebagai al-haqiqah (sesuai makna sebenarnya), "kadal gurun" dlm ujaran tertentu digunakan sebagai al-majaz (tdk sesuai makna sebenarnya). Oleh krnnya tdk aneh bila suatu saat kita menemukan kamus istilah mengartikan "kadal gurun" tdk hanya terkait dgn hewan kadal, tetapi juga manusia, yakni orang yg dipengaruhi oleh gerakan ekstremisme Timur Tengah.

Suatu ketika, istilah atau isim, baik kulliy (umum) atau juz'iy (khusus) bisa dianggap offensive atau non-offensive saat muncul dlm ujaran yg menargetkan karakteristik yg dilindungi atau kelompok tertentu. Misalnya istilah "Ajam" yg berarti non-Arab. Kamus Hatebase memberi keterangan bahwa istilah tsb mungkin digunakan dlm ujaran rasis yg menargetkan kelompok kebangsaan Iran atau etnis Persia. Istilah "Ajam" populer di Argentina dan Venezuela dlm ujaran yg menargetkan kelompok tsb. Walau demikian, "Ajam" dianggap sebagai non-offensive.

Dalam Q&A Hatebase dijelaskan, bahwa suatu kosa kata dianggap sebagai ujaran kebencian apabila merujuk kelompok tertentu, dan bukan penghinaan umum; serta berpotensi digunakan dgn niat jahat. Apabila digunakan utk penghinaan umum saja tdk dianggap sebagai ujaran kebencian, apalagi ujarannya bukan penghinaan. Contoh ujaran yg menggunakan kata "Ajam" dan bukan penghinaan, tetapi niat baik menyamakan kedudukan terkait kebangsaan dan ras dapat ditemukan dlm khutbah Nabi SAW saat Haji Wada:

"Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (Adam). Ingatlah. Tdk ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang Ajam atas orang Arab, tdk ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dgn ketakwaan ..." (Musnad Ahmad)

Kembali ke istilah "Manusia Gurun" atau "Kadal Gurun", apakah keduanya digunakan dlm ujaran yg berpotensi niat jahat dan menargetkan kelompok tertentu? Bila ya, maka dianggap sebagai ujaran kebencian. Tetapi terindikasi menargetkan kelompok tertentu saja blm tentu dilabeli offensive, seperti misalnya istilah "Ajam" dlm kamus Hatebase. Pertanyaannya, seberapa offensive nya istilah "Manusia Gurun" bila pernyataannya terbukti menargetkan kelompok tertentu?

Istilah "Kadal Gurun" atau "Manusia Gurun" dapat digunakan oleh siapapun dlm ujarannya yg netral atau positif, sebagaimana penggunaan istilah "Ajam" oleh Nabi SAW saat Haji Wada. Ujaran yg ramai diperbincangkan merupakan kesan Prof Budi terhadap mahasiswi yg diwawancarainya. Beliau mengidentifikasi mahasiswi lain yg menutup kepala ala manusia gurun.

Menurut saya pribadi, menyebut seseorang menutup kepala ala manusia gurun, ala manusia kutub, atau ala manusia manapun bukanlah ujaran kebencian yg menargetkan kebangsaan atau etnis, dan istilah yg digunakan bukan offensive. Makna "manusia gurun" itu sama seperti "manusia kutub" atau "manusia perahu", tdk bermuatan sentimen negatif.

Kata "ala" menurut KBBI bermakna "secara". Misal, dlm konteks model, "ala Barat" bermakna mengikuti model secara Barat. Bila tutup kepala adalah model, dan manusia gurun dimaknai orang Timur Tengah, kalimat, "menutup kepala ala manusia gurun" dapat difahami sebagai model secara orang Timur Tengah. Modelnya boleh jadi berbeda dgn manusia kutub atau orang Eskimo.

Penggunaan istilah "manusia XYZ" lajim dlm percakapan kita. Buktinya dalam KBBI ada contoh istilah "manusia perahu", yg bermakna orang-orang yg berbondong-bondong meninggalkan negerinya menuju negara lain dgn menggunakan perahu. Oleh karenanya kita akan menemukan satu dua pernyataan yg menggunakan istilah manusia gurun, manusia kutub, manusia neadherthal, atau manusia bodoh.

Tdk ada yg salah dgn pernyataan Prof Budi bila memang pengalaman beliau demikian adanya, di mana faktanya 12 mahasiswi yg diwawancarainya tdk satupun yg mengenakan tutup kepala secara orang Timur Tengah. Penggunaan istilah manusia gurun utk orang timur tengah sudah ditunjukan lajim dlm percakapan sehari-hari. Alasan beliau menggunakan istilah tsb ada kaitannya dgn agama Islam yg muncul dari Timur Tengah, karena beliau menyinggung soal kata2 langit yg bersumber dari teks Islam, seperti Insya Allah, Barakallah, Syiar, Qadarullah, dsb.

Pendapatnya ttg otak mahasiswi yg open minded tentu saja subjektif, dan setiap orang boleh setuju atau tdk di ruang pendebatan atau kebebasan berekspresi. Siapapun boleh berpendapat bahwa orang yg open minded itu mencari Tuhan ke negara2 maju dan bukan ke negara2 yg pandai bercerita tanpa karya teknologi; dan boleh juga tdk menyepakatinya. Hal tsb sebagaimana pendapat Prof. Dr. Henri Subiakto, S.H., M.Si, Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga yg disampaikannya dlm kesempatan acara Catatan Demokrasi di TVOne yg mengatakan bahwa Prof Budi boleh berpendapat demikian di alam demokrasi.

Dlm pernyataan klarifikasinya, Prof Budi menyatakan tdk bermaksud merendahkan atau mendiskriminasi muslimah berkerudung. Pernyataan ini menjelaskan tdk ada niat buruk, sehingga istilah "manusia gurun" yg digunakannya adalah istilah lajim dan tdk masuk kategori hate speech menurut Q&A Hatebase.

Kebetulan saja Prof Budi saat itu tdk bertemu dgn mahasiswi berkerudung ala manusia gurun yg memenuhi kriteria open minded nya, sebab semua mahasiswi yg diwawancarai tdk berkerudung semua. Oleh krnnya beliau mengatakan tdk ada kaitannya berkerudung dgn open minded, kebetulan saja mahasiswi yg open minded itu tdk berkerudung. Beliau menyatakan tdk membedakan antara mahasiswi yg berkerudung dgn selainnya.

Dalam klarifikasi tersebut, beliau menjelaskan bahwa tulisannya tsb merupakan harapan agar mahasiswi tdk terkena lingkungan yg mengutamakan kulit dari pada isi. Dlm tulisannya beliau bercerita bhw mahasiswi yg open minded itu mencari Tuhan tdk di negara yg "orang2nya pandai bercerita tanpa karya teknologi". Saya dapat menerima kalimat dlm tanda kutip tsb sebagai orang2 yg cuma kulit (pandai bercerita) tanpa isi (karya teknologi).

Di sisi lain saya juga membayangkan, sikap mengutamakan kulit tanpa isi juga seperti orang yg penampilannya agamis, tetapi sikap atau perbuatannya jauh dari agama, suka mempersulit hal yg mudah, mempermasalahkan sesuatu yg bisa dibuat tdk menjadi masalah; atau dgn kata lain tukang bikin masalah yg pada akhirnya merusak citra agama, dan menimbulkan antipati.

Sebenarnya menyikapi pengalaman Prof Budi itu sederhana, cukup dgn meyakini bahwa pengalaman manusia itu bisa berbeda dan persepsinya dipengaruhi oleh pengalaman tsb. Ikhtiarnya bagi muslimah adalah cukup dgn menjadi kandidat penerima beasiswa yg open minded, yakni menjadi insan yg tdk hanya kulit (agamis) tetapi juga berisi (bereputasi).

#PersepsiCahyana

04 Mei 2022

Pulang Mudik Bersama Google


Alhamdulillah, saya hanya bertemu pelambatan di Warung Peuteuy hingga pertigaan jalan Prof Anwar Musaddad saja, dan sedikit di perempatan Cipanas saat pulang mudik. Tadinya saya mengikhlaskan diri bermacet ria setelah melihat kondisi lalu lintas Nagreg di Google Maps yg berwarna merah tua. Kondisi jalan tol tdk membuat saya risau, karena tdk seperti pantauan malam hari yg terlihat padat.

Sebelum sampai di Nagreg, tepatnya di daerah Ranca Ekek, Google membantu saya mencarikan jalan alternatif yg tdk terfikirkan, dan meminta persetujuan utk memandu ke jalan tersebut. Tentunya saya berhati-hati dalam memberikan persetujuan, mengingat pengalaman di masa lalu pernah masuk ke jalanan tdk lazim krn mengikuti panduannya. Google nampak berkali-kali melakukan kalkulasi rute. Hal tsb membuat saya berfikir, kecerdasan buatan ini tengah bekerja keras utk memberikan layanan terbaik bagi penggunanya. Saya memutuskan utk mengikutinya dan meninggalkan jalur menuju Nagreg.

Akhirnya saya sampai di rumah setelah menempuh waktu berkendara selama kurang lebih empat jam, ditambah waktu istirahat di tiga tempat sekitar satu jam. Waktu tempuhnya relatif sama dgn di luar mudik. Google memandu saya melewati jalan tikus di daerah Cijapati dan Tarogong Kaler utk menghindari kemacetan. Jalannya sempit, sehingga kendaraan harus mepet dgn kendaraan lain bila berpapasan.

Kemudahan ini merupakan amal kebaikan yg mengalir deras utk siapapun yg menemukan dan mengoperasikan layanan Google Maps. Saya mengatakan kpd anak, mereka harus punya perusahaan yg mengoperasikan layanan seperti Google Maps bila ingin mendapat pahala yg terus mengalir. Saya selalu teringat, sebaik-baiknya manusia adalah yg memberi manfaat bagi banyak orang.

Terima kasih Google Maps Google

#PersepsiCahyana

29 April 2022

Perubahan TV

Perubahan itu hal biasa saja. Pernah ada masanya di mana Televisi (TV) bergambar hitam putih, kemudian menjadi berwarna. Setiap rumah memasang menara tinggi dari pipa besi utk antena, lengkap dgn penguat daya tangkap sinyalnya. Perlahan menara itu banyak menghilang. Dan sekarang ada perubahan format data yg dikirimkannya menjadi digital, sehingga pengguna TV lama harus membeli perangkat tambahan. 

Di keluarga saya, anak-anak sudah tdk lagi berminat menonton TV. Mereka lebih cenderung menikmati informasi atau memenuhi kebutuhan hiburannya dgn internet / smartphone. Acara TV gaya lama hanya laku di sebagian besar kalangan digital migrant. Saya sendiri lebih suka nonton acara TV gaya baru yg dikelola oleh pesohor. 

Smart TV adalah jenis TV yg lajim di masa depan, sehingga harga jualnya lebih murah dibandingkan sekarang. Semua rumah akan online pada masanya. Perumpamaan kondisi rumah online dgn offline seperti rumah yg teraliri listrik atau belum di masa lalu. Maka kita hanya perlu mengucapkan selamat datang perubahan, di mana kita bisa menonton acara TV di mana saja, dan jeda iklan bisa kita interupsi dgn membayar sejumlah uang kpd penyedia jasanya secara periodik.

#PersepsiCahyana

22 April 2022

Nilai Berita

Saya pernah menjadi direktur operasional radio swasta yg sesekali ngisi waktu jadi penyiar acara penutup tengah malam. Saya sedikit tahu soal bagaimana media memilih berita. Kelayakan suatu berita utk ditayangkan oleh media memperhatikan nilai beritanya yg secara umum mencakup: ketepatan waktu berita dgn kejadiannya, dampak peristiwa terhadap banyak orang, konflik yg menimbulkan pro kontra, segala hal terkait mata uang, kejadian tak terduga, kedekatan kejadian dgn audien, ketertarikan manusia, kejadian yg menonjol (melibatkan tokoh). 

Beberapa waktu yg lalu ada banyak teman jejaring yg mengirimkan pertanyaan di medsosnya, knp demo mhs kemarin sunyi pemberitaan. Ya mungkin krn nilai beritanya tdk dapat. Tapi begitu ada pendapat aneh dari wakil BEM SI ttg ORBA, atau kejadian menonjol terkait penganiayaan AA yg menimbulkan pro-kontra, barulah muncul beritanya kan ya? 

Demikian pula saat pandemi menerpa dan berdampak luas, pemberitaannya terus menerus sampai sebagian orang merasa mual. Sebagian masyarakat yg tdk mengetahui soal nilai berita ini bahkan menghubung-hubungkan pemberitaan masif pandemi dgn teori konspirasi. Konflik Rusia-Ukraina yg menimbulkan pro-kontra juga menimbulkan nilai berita, sehingga beritanya pasti akan terus tayang sampai pro-kontranya menurun atau tdk ada lagi nilai berita lainnya. 

#PersepsiCahyana

Etika Menyanggah Komentar di Medsos


Sayyid Abdullah Ba‘alawi Al-Haddad dalam An-Nasha’ihud Diniyyah wal Washayal Imaniyyah mengatakan bahwa etika terpenting dan terkuat perihal amar makruf dan nahi mungkar adalah menjauhi kesombongan, kekerasan, hinaan, dan cacian terhadap orang yang bermaksiat. Etika tersebut dapat diterapkan sebagai etika digital saat kita melakukan counter speech atau menyanggah komentar orang lain di media sosial.

Hingga saat ini kita masih menemukan sikap tdk etis seseorang di medsos, di mana ia menyanggah komentar orang lain dgn menyertakan hinaan dan cacian. Dalam konteks kerancuan berfikir kita mengenal Argumentum ad Hominem, yakni menyerang pribadi seseorang.

Mungkin seseorang akan terpengaruh dgn sikap tdk etis tsb dan melakukan tindakan yg sama sebagai balasan, sehingga pada akhirnya menjadi pertunjukan tdk etis. Kita semua berpotensi mengalaminya saat tdk mengetahui atau lepas dari kesadaran akan pentingnya etika tsb. Seseorang tdk akan berubah dgn cacian atau hinaan, tetapi dgn masuknya pengetahuan yg membangun pemahaman baru atau mengkoreksi pemahaman yg ada.

#LiterasiDigital
#PersepsiCahyana

19 April 2022

Post-Truth dan Patologi Komunikasi

 


Dijejali dengan teori-teori konspirasi, ujaran-ujaran kebencian dan fitnah-fitnah, demokrasi tidak lagi menjadi arena adu argumen, melainkan berubah menjadi sesi-sesi provokasi yang menghipnosis massa dengan sentimen-sentimen kolektif. Tujuan utamanya bukanlah menyampaikan informasi yang bernas, namun sekadar menggugah emosi bahkan kemarahan atau kebencian pada yang lain. Reproduksi hoaks, ujaran kebencian, fitnah, teror dan berbagai kekerasan simbolis lainnya memang meningkatkan kompleksitas sosial dan dapat menggiring pada chaos, namun hukum qua sistem mereduksi kompleksitas itu. 

Berbagai komponen demagogi post-truth, seperti hoaks, berita palsu, ujaran kebencian, sentimen dikenal sebagai patologi komunikasi. Post-truth semakin mudah menyebar bila disertai dengan atribut kesakralan dengan sentiment keagamaan. Akbatnya timbul rasa kebencian dan intoleransi. Persatuan nasional mendapat ancaman dari maraknya berita bohong, ujaran kebencian dan intoleransi.

Daya nalar akan nilai-nilai etik menghilang dikalahkan ego pribadi yang menolak untuk memercayai informasi akurat sekalipun didukung data dan fakta empiris dari sumber yang bereputasi dan terpercaya. Post truth pada akhirnya mudah dan cap berkelindan dengan xenophobia, bigotry dan hipocrycy. Pada akhirnya yang tersisa adalah kedangkalan pemahaman akan realita, glorifikasi kebencian pada siapapun yang tidak sepaham dan merosotnya nalar-etis. 

Dikutip dari Putro dkk. (2020)

#LiterasiDigital

Penangkalan Provokasi Beraroma Agama


Agama sejatinya merupakan petunjuk hidup ke arah yg lebih baik. Utusan Nya menggunakan agama sebagai katalis yg mempercepat perubahan yg baik. Namun sebagian kelompok menggunakan agama sebagai katalis yg mempercepat dampak provokasinya yg mengarah kepada tindakan diskriminasi atau kekerasan yg luas. Nama Tuhan dibawa-bawa dalam provokasi buruknya, baik dalam perkataan yg disampaikannya secara langsung, atau tdk langsung melalui beragam format konten digital di media sosial.

Provokasi seperti itu dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi. Provokasi yg tdk terkendali berakhir pada konflik yg tdk berkesudahan. Penindakan terhadap provokator yg menggunakan agama sudah seharusnya jauh lebih cepat dari pada selainnya, mengingat bahaya besar yg ditimbulkannya.

Selama level dampaknya masih dapat ditolerir, aparat tdk melakukan pendekatan hukum. Ruang perdebatan masih terbuka bagi kelompok tersebut, pendukung dan penentangnya, sebagai wujud perlindungan terhadap hak kebebasan berekspresi. Namun level dampak buruknya dapat meningkat dgn cepat saat kelompok pendukungnya meluas, sementara kelompok penentang tdk berhasil menahan atau menghentikannya dgn kontra ujaran.

Saat levelnya mulai memuncak yg ditandai oleh kemunculan tindakan kekerasan, negara menutup ruang perdebatan dan memberikan sanksi hukum kpd para pelanggar, terutama kpd penggerak utamanya. Pelibatan tokoh elit agama yg didengar secara luas dalam menangkal provokasi dan fikiran keliru yg berkembang merupakan penggunaan agama sebagai katalis perubahan ke arah sebaliknya, menurunkan level dampak provokasi dgn cepat.

#PersepsiCahyana

18 April 2022

Perubahan Suara Masjid


Bukanlah suatu keanehan bila adzan di tempat tinggi tdk banyak dilakukan lagi oleh Muadzin setelah adanya sound system. Menara Masjid yg awalnya ditempati Muadzin, kini ditempati oleh speaker. Suara dari dalam Masjid tersiar ke semua orang yg berada di luar melalui speaker.

Dan bukan suatu keanehan pula bila suara Muadzin dapat menjangkau tempat yg sangat jauh setelah adanya internet. Menara Masjid yg awalnya ditempati speaker, kelak menjadi tempat antena jaringan. Suara dalam Masjid tersiar kepada orang tertentu yg berada di tempat-tempat jauh.

Di masa depan, lingkungan Masjid mungkin nyaris sunyi, tdk terdengar suara speaker luar. Tetapi di dalamnya, suara dzikr bergema, terdengar ke tempat terjauh di mana jemaahnya berada. Tdk perlu konsumsi listrik yg besar utk menyiarkan suara sejauh itu. Sepinya suara masjid saat itu bukanlah sepi di luar, tetapi sepi di dalam.

#PersepsiCahyana

Jokowi dan ESEMKA


Kenapa dulu Jokowi menggunakan mobil ESEMKA? Menurut saya sangat wajar bila sebagai kepala daerah, Jokowi mempromosikan karya putra daerahnya, dan mengapresiasinya dgn mendorongnya sebagai kendaraan dinas pd tahun 2012.

Program teaching factory yg memunculkan ide ESEMKA thn 2007 adalah program Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud RI. Ada banyak SMK di berbagai wilayah yg terlibat dlm pengembangan otomotif. Thn 2010 hasilnya diuji di Jakarta, namun belum lolos laik jalan. Jokowi meminta agar diuji kembali setelah ingin menjadikannya sebagai kendaraan dinas. Pada awalnya tdk lolos uji emisi, namun akhirnya lolos uji tahun 2012.

Setelah pindah tugas ke Jkt, fikiran Jokowi sebagai gubernur DKI tentunya tdk lagi di Solo. Sangat wajar bila beliau tdk lagi mendorong produk siswa Solo, sebab beliau bukan kepala daerahnya lagi. Bila dorongan itu hrs tetap ada, maka yg tepat utk mendorongnya adalah kepala daerah Solo.

Namun setelah beliau jadi Presiden, di mana fokus beliau tdk sebatas wilayah tertentu, mobil ini kembali menjadi perhatian. Terutama setelah ratusan mobil ini tersebar di beberapa wilayah dari tahun 2012 hingga tahun 2015. Beliau menghubungkan PT ESEMKA dgn PT ACL, sehingga berdirilah PT ACEH. Thn 2019 Pabriknya diresmikan Presiden.

Dari tahun 2019 s.d. 2021, penjualan Esemka hanya 300 unit. Sementara penjualan Avanza sepanjang tahun 2021 mencapai 66.109 unit. Dgn jumlah sebesar itu, kita bisa melihat Avanza ada di mana-mana, sampai kendaraan tersebut mendapat julukan mobil sejuta umat. Kemungkinan kita melihat Esemka dibandingkan Avanza hanya 0.5%. Mobil tsb sangat populer di kalangan yg menikmati opini politik, namun krn jumlahnya yg sedikit, mereka tdk akan melihat keberadaannya di jalanan sebagaimana Avanza.

Mobil Esemka yg dipromosikan oleh Jokowi saat menjadi kepala daerah Solo nampak seperti tipe SUV. Kemungkinan ribuan pemesan itu minatnya ke tipe tsb yg belum diproduksi pd level pabrikan. Saat ini fokus PT ACEH adalah memproduksi tipe pikup. Kalau tipe SUV keluar dgn harga kompetitif, tdk mustahil angka penjualannya akan naik.

Lepas dari tudingan mobil ESEMKA yg digunakan Jokowi saat menjadi kepala daerah Solo sebagai mobil jiplakan, kita harus tahu bahwa mobil tsb dibuat oleh anak-anak SMK. Mengapresiasinya sama dgn mengapresiasi anak SMK, mengolok2nya sama dgn mengolok2 anak SMK. Saat diwawancarai oleh Tempo, beliau menjelaskan alasannya mendukung produk anak SMK tsb: 

"Apa yang saya lakukan, hanya sebagai komitmen moral untuk anak-anak didik kita,”

Saat ini mobil ESEMKA sudah merupakan produk bisnis perusahaan swasta nasional. Sudah bukan saatnya lagi menjadikannya sebagai amunisi politik. Kendaraan tsb lebih pas menjadi objek review vloger otomotif dari pada objek politik.

#PersepsiCahyana