Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

16 Mei 2022

Ratisejiwa dan Filsafat Stoikisme


Suatu saat saya mengajarkan tali temali kepada dua orang adik kelas dalam kegiatan Kepramukaan di SMP. Ada satu simpul yg harus saya urai. Kepada keduanya saya katakan bahwa kita perlu menenangkan diri saat berhadapan dgn masalah tersebut, sehingga kedamaian tercapai, dan segala sesuatunya dapat dikuasai. Beberapa saat kemudian simpulnya terurai.

Tenang, damai, dan kuasai segalanya adalah buah dari Ratisejiwa (Meraba Hati dan Mensejahterakan Jiwa). Hanya dgn memahami hati dan mengendalikan apa yg bergerak di dalamnya manusia dapat mencapai ketenangan. Apabila hati telah tenang, kedamaian akan menghampiri, berdamai dgn dirinya dan apapun yg ada di sekitarnya. Hal demikian membuat apa yg tercapai atau terlepas menjadi suatu nilai yg dikuasai dan bermanfaat.

Rupanya pemikiran di masa lalu itu selaras dgn perkataan Marcus Aurelius. Penganut filsafat Stoikisme atau filsafat teras itu berkata, bahwa semakin dekat seorang pria dgn pikiran yang tenang, semakin dekat dia dengan kekuatan.

Ada banyak pemikiran Stoikisme yg dapat mengendalikan pikiran ini. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Semakin kamu memikirkan hal-hal di luar kemampuan mu, semakin sedikit kemampuan yang kamu miliki. Kamu akan lebih sering menderita dalam imajinasi, daripada dalam kenyataan.

Jangan menganggap sesuatu itu tidak mungkin hanya karena terasa sulit. Kamu telah melewati hidup tanpa lawan. Tidak ada yang pernah tahu apakah kamu mampu, bahkan diri mu sendiri. Sadarilah bahwa jika orang lain mampu melakukannya, kamu pun dapat melakukannya. Kesejahteraan diwujudkan dengan langkah-langkah kecil, tetapi sebenarnya itu bukan hal kecil.

Kamu diberi dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tanyakan pada diri mu setiap saat, apakah kamu perlu melakukan langkah kecil tersebut?. Bila kamu merasa memiliki sedikit waktu utk melakukannya, ketahuilah bahwa bukan waktu mu yg singkat, tetapi kamu telah menyia-nyiakan banyak waktu.

#BiografiCahyana

15 Mei 2022

Pilihan Jalan Ekstrem dari Google


Hari ini saya ke Istana BEC di Bandung. Nampak kemacetan mengular dari Nagreg hingga Parakan Muncang dalam perjalanan saya menuju Bandung. Pulangnya saya melihat ada kemacetan menuju arah Nagreg. Seperti biasa Google menawarkan jalur alternatif.

Kali ini Google mengarahkan saya ke jalur ekstrem utk menghindari kemacetan di Nagreg. Masuk dari Cicalengka, dan keluar dari jalan raya Cijapati. Rupanya itu adalah jalanan desa yg sdh dibeton, hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Seharusnya saya mengobservasi dulu jalurnya dgn melihat melalui mode satelit.

Di suatu tanjakan, ada kendaraan dari arah berlawanan yg nampak kesulitan menanjak dan didorong oleh sejumlah orang. Beruntung di titik puncak ada ruang yg membuat kendaraan bisa saling melewati.

Namun tantangannya tdk selesai sampai di sana. Ada jalan yg mengalami kerusakan, sehingga kendaraan sempat selip saat melewatinya. Konsentrasi saya agak buyar oleh suara istri yg panik. Beruntung saya dapat mengendalikan kendaraan yg mengarah sendirinya ke kanan dan ke kiri, sehingga tdk ke luar jalur.

Istri saya nampaknya sdh mulai menyerah dan meminta balik arah. Saya pun hampir demikian, sampai muncul pengendara motor dari arah berlawanan. Saya bertanya, seberapa jauh lagi ke jalan raya Cijapati. Ia mengatakan jaraknya tdk jauh lagi. Dan saya menerima informasi darinya kalau jalur yg saya lewati itu tdk dilewati kendaraan roda empat.

Saya sempat berputar dua kali di daerah Kadungora. Tempat keluar dari Kadungora ke arah Leles tdk bisa dilalui karena sedang diberlakukan one way. Saya ingin menghindari jalur bypass Kadungora ini krn kondisi jalannya yg serasa off-roading sampai daerah Banyuresmi.

Akhirnya saya menggunakan jalur Banyuresmi. Setelah melewati Cipicung, nampak kemacetan di depan mata. Saya memutuskan utk balik arah dan melalui jalur Cinunuk. Alhamdulillah, jalanan lancar hingga sampai rumah. Semoga tol segera masuk ke Garut, agar ketidaknyamanan ini pergi.

#BiografiCahyana

13 Mei 2022

Tutup Kepala Ala Manusia Gurun


Ada ujaran yg ramai diperbincangkan, isinya demikian:

"Jadi 12 mahasiswi yg saya wawancarai, tdk satupun menutup kepala ala manusia gurun."

Pernyataan tsb merupakan kiriman Prof Budi Santoso Purwokartiko di media sosial. Hari ini, teman di lab riset saya berpendapat bahwa pernyataan tsb dapat dianalisis kandungan ujaran kebenciannya. Selepas bangun tidur malam ini, saya menyempatkan utk menganalisisnya dgn bersandar pada apa yg telah saya baca dlm proses memahami ujaran kebencian.

Ada anggapan netizen bahwa istilah "manusia gurun" dalam ujaran tsb merupakan label buruk yg menargetkan karakteristik yg dilindungi (ras), sehingga memenuhi syarat utk dianggap sebagai ujaran kebencian atau hate speech. Prof Dr Suteki, SH, M.Hum, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro dalam acara Catatan Demokrasi TVOne menduga kuat pernyataan tsb sebagai perasaan kebencian SARA. Istilah "manusia gurun" hampir mirip dgn "kadal gurun".

Suatu isim juz'iy atau kata khusus pada awalnya dapat bersifat netral, seperti misalnya "manusia perahu" dan juga "manusia gurun". Dlm istilah "manusia gurun" dan "kadal gurun", kata "gurun" nya mengindikasikan wilayah gurun seperti di Timur Tengah. Berbeda dgn "manusia gurun" yg digunakan sebagai al-haqiqah (sesuai makna sebenarnya), "kadal gurun" dlm ujaran tertentu digunakan sebagai al-majaz (tdk sesuai makna sebenarnya). Oleh krnnya tdk aneh bila suatu saat kita menemukan kamus istilah mengartikan "kadal gurun" tdk hanya terkait dgn hewan kadal, tetapi juga manusia, yakni orang yg dipengaruhi oleh gerakan ekstremisme Timur Tengah.

Suatu ketika, istilah atau isim, baik kulliy (umum) atau juz'iy (khusus) bisa dianggap offensive atau non-offensive saat muncul dlm ujaran yg menargetkan karakteristik yg dilindungi atau kelompok tertentu. Misalnya istilah "Ajam" yg berarti non-Arab. Kamus Hatebase memberi keterangan bahwa istilah tsb mungkin digunakan dlm ujaran rasis yg menargetkan kelompok kebangsaan Iran atau etnis Persia. Istilah "Ajam" populer di Argentina dan Venezuela dlm ujaran yg menargetkan kelompok tsb. Walau demikian, "Ajam" dianggap sebagai non-offensive.

Dalam Q&A Hatebase dijelaskan, bahwa suatu kosa kata dianggap sebagai ujaran kebencian apabila merujuk kelompok tertentu, dan bukan penghinaan umum; serta berpotensi digunakan dgn niat jahat. Apabila digunakan utk penghinaan umum saja tdk dianggap sebagai ujaran kebencian, apalagi ujarannya bukan penghinaan. Contoh ujaran yg menggunakan kata "Ajam" dan bukan penghinaan, tetapi niat baik menyamakan kedudukan terkait kebangsaan dan ras dapat ditemukan dlm khutbah Nabi SAW saat Haji Wada:

"Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (Adam). Ingatlah. Tdk ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang Ajam atas orang Arab, tdk ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dgn ketakwaan ..." (Musnad Ahmad)

Kembali ke istilah "Manusia Gurun" atau "Kadal Gurun", apakah keduanya digunakan dlm ujaran yg berpotensi niat jahat dan menargetkan kelompok tertentu? Bila ya, maka dianggap sebagai ujaran kebencian. Tetapi terindikasi menargetkan kelompok tertentu saja blm tentu dilabeli offensive, seperti misalnya istilah "Ajam" dlm kamus Hatebase. Pertanyaannya, seberapa offensive nya istilah "Manusia Gurun" bila pernyataannya terbukti menargetkan kelompok tertentu?

Istilah "Kadal Gurun" atau "Manusia Gurun" dapat digunakan oleh siapapun dlm ujarannya yg netral atau positif, sebagaimana penggunaan istilah "Ajam" oleh Nabi SAW saat Haji Wada. Ujaran yg ramai diperbincangkan merupakan kesan Prof Budi terhadap mahasiswi yg diwawancarainya. Beliau mengidentifikasi mahasiswi lain yg menutup kepala ala manusia gurun.

Menurut saya pribadi, menyebut seseorang menutup kepala ala manusia gurun, ala manusia kutub, atau ala manusia manapun bukanlah ujaran kebencian yg menargetkan kebangsaan atau etnis, dan istilah yg digunakan bukan offensive. Makna "manusia gurun" itu sama seperti "manusia kutub" atau "manusia perahu", tdk bermuatan sentimen negatif.

Kata "ala" menurut KBBI bermakna "secara". Misal, dlm konteks model, "ala Barat" bermakna mengikuti model secara Barat. Bila tutup kepala adalah model, dan manusia gurun dimaknai orang Timur Tengah, kalimat, "menutup kepala ala manusia gurun" dapat difahami sebagai model secara orang Timur Tengah. Modelnya boleh jadi berbeda dgn manusia kutub atau orang Eskimo.

Penggunaan istilah "manusia XYZ" lajim dlm percakapan kita. Buktinya dalam KBBI ada contoh istilah "manusia perahu", yg bermakna orang-orang yg berbondong-bondong meninggalkan negerinya menuju negara lain dgn menggunakan perahu. Oleh karenanya kita akan menemukan satu dua pernyataan yg menggunakan istilah manusia gurun, manusia kutub, manusia neadherthal, atau manusia bodoh.

Tdk ada yg salah dgn pernyataan Prof Budi bila memang pengalaman beliau demikian adanya, di mana faktanya 12 mahasiswi yg diwawancarainya tdk satupun yg mengenakan tutup kepala secara orang Timur Tengah. Penggunaan istilah manusia gurun utk orang timur tengah sudah ditunjukan lajim dlm percakapan sehari-hari. Alasan beliau menggunakan istilah tsb ada kaitannya dgn agama Islam yg muncul dari Timur Tengah, karena beliau menyinggung soal kata2 langit yg bersumber dari teks Islam, seperti Insya Allah, Barakallah, Syiar, Qadarullah, dsb.

Pendapatnya ttg otak mahasiswi yg open minded tentu saja subjektif, dan setiap orang boleh setuju atau tdk di ruang pendebatan atau kebebasan berekspresi. Siapapun boleh berpendapat bahwa orang yg open minded itu mencari Tuhan ke negara2 maju dan bukan ke negara2 yg pandai bercerita tanpa karya teknologi; dan boleh juga tdk menyepakatinya. Hal tsb sebagaimana pendapat Prof. Dr. Henri Subiakto, S.H., M.Si, Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga yg disampaikannya dlm kesempatan acara Catatan Demokrasi di TVOne yg mengatakan bahwa Prof Budi boleh berpendapat demikian di alam demokrasi.

Dlm pernyataan klarifikasinya, Prof Budi menyatakan tdk bermaksud merendahkan atau mendiskriminasi muslimah berkerudung. Pernyataan ini menjelaskan tdk ada niat buruk, sehingga istilah "manusia gurun" yg digunakannya adalah istilah lajim dan tdk masuk kategori hate speech menurut Q&A Hatebase.

Kebetulan saja Prof Budi saat itu tdk bertemu dgn mahasiswi berkerudung ala manusia gurun yg memenuhi kriteria open minded nya, sebab semua mahasiswi yg diwawancarai tdk berkerudung semua. Oleh krnnya beliau mengatakan tdk ada kaitannya berkerudung dgn open minded, kebetulan saja mahasiswi yg open minded itu tdk berkerudung. Beliau menyatakan tdk membedakan antara mahasiswi yg berkerudung dgn selainnya.

Dalam klarifikasi tersebut, beliau menjelaskan bahwa tulisannya tsb merupakan harapan agar mahasiswi tdk terkena lingkungan yg mengutamakan kulit dari pada isi. Dlm tulisannya beliau bercerita bhw mahasiswi yg open minded itu mencari Tuhan tdk di negara yg "orang2nya pandai bercerita tanpa karya teknologi". Saya dapat menerima kalimat dlm tanda kutip tsb sebagai orang2 yg cuma kulit (pandai bercerita) tanpa isi (karya teknologi).

Di sisi lain saya juga membayangkan, sikap mengutamakan kulit tanpa isi juga seperti orang yg penampilannya agamis, tetapi sikap atau perbuatannya jauh dari agama, suka mempersulit hal yg mudah, mempermasalahkan sesuatu yg bisa dibuat tdk menjadi masalah; atau dgn kata lain tukang bikin masalah yg pada akhirnya merusak citra agama, dan menimbulkan antipati.

Sebenarnya menyikapi pengalaman Prof Budi itu sederhana, cukup dgn meyakini bahwa pengalaman manusia itu bisa berbeda dan persepsinya dipengaruhi oleh pengalaman tsb. Ikhtiarnya bagi muslimah adalah cukup dgn menjadi kandidat penerima beasiswa yg open minded, yakni menjadi insan yg tdk hanya kulit (agamis) tetapi juga berisi (bereputasi).

#PersepsiCahyana

04 Mei 2022

Pulang Mudik Bersama Google


Alhamdulillah, saya hanya bertemu pelambatan di Warung Peuteuy hingga pertigaan jalan Prof Anwar Musaddad saja, dan sedikit di perempatan Cipanas saat pulang mudik. Tadinya saya mengikhlaskan diri bermacet ria setelah melihat kondisi lalu lintas Nagreg di Google Maps yg berwarna merah tua. Kondisi jalan tol tdk membuat saya risau, karena tdk seperti pantauan malam hari yg terlihat padat.

Sebelum sampai di Nagreg, tepatnya di daerah Ranca Ekek, Google membantu saya mencarikan jalan alternatif yg tdk terfikirkan, dan meminta persetujuan utk memandu ke jalan tersebut. Tentunya saya berhati-hati dalam memberikan persetujuan, mengingat pengalaman di masa lalu pernah masuk ke jalanan tdk lazim krn mengikuti panduannya. Google nampak berkali-kali melakukan kalkulasi rute. Hal tsb membuat saya berfikir, kecerdasan buatan ini tengah bekerja keras utk memberikan layanan terbaik bagi penggunanya. Saya memutuskan utk mengikutinya dan meninggalkan jalur menuju Nagreg.

Akhirnya saya sampai di rumah setelah menempuh waktu berkendara selama kurang lebih empat jam, ditambah waktu istirahat di tiga tempat sekitar satu jam. Waktu tempuhnya relatif sama dgn di luar mudik. Google memandu saya melewati jalan tikus di daerah Cijapati dan Tarogong Kaler utk menghindari kemacetan. Jalannya sempit, sehingga kendaraan harus mepet dgn kendaraan lain bila berpapasan.

Kemudahan ini merupakan amal kebaikan yg mengalir deras utk siapapun yg menemukan dan mengoperasikan layanan Google Maps. Saya mengatakan kpd anak, mereka harus punya perusahaan yg mengoperasikan layanan seperti Google Maps bila ingin mendapat pahala yg terus mengalir. Saya selalu teringat, sebaik-baiknya manusia adalah yg memberi manfaat bagi banyak orang.

Terima kasih Google Maps Google

#PersepsiCahyana

29 April 2022

Perubahan TV

Perubahan itu hal biasa saja. Pernah ada masanya di mana Televisi (TV) bergambar hitam putih, kemudian menjadi berwarna. Setiap rumah memasang menara tinggi dari pipa besi utk antena, lengkap dgn penguat daya tangkap sinyalnya. Perlahan menara itu banyak menghilang. Dan sekarang ada perubahan format data yg dikirimkannya menjadi digital, sehingga pengguna TV lama harus membeli perangkat tambahan. 

Di keluarga saya, anak-anak sudah tdk lagi berminat menonton TV. Mereka lebih cenderung menikmati informasi atau memenuhi kebutuhan hiburannya dgn internet / smartphone. Acara TV gaya lama hanya laku di sebagian besar kalangan digital migrant. Saya sendiri lebih suka nonton acara TV gaya baru yg dikelola oleh pesohor. 

Smart TV adalah jenis TV yg lajim di masa depan, sehingga harga jualnya lebih murah dibandingkan sekarang. Semua rumah akan online pada masanya. Perumpamaan kondisi rumah online dgn offline seperti rumah yg teraliri listrik atau belum di masa lalu. Maka kita hanya perlu mengucapkan selamat datang perubahan, di mana kita bisa menonton acara TV di mana saja, dan jeda iklan bisa kita interupsi dgn membayar sejumlah uang kpd penyedia jasanya secara periodik.

#PersepsiCahyana

22 April 2022

Nilai Berita

Saya pernah menjadi direktur operasional radio swasta yg sesekali ngisi waktu jadi penyiar acara penutup tengah malam. Saya sedikit tahu soal bagaimana media memilih berita. Kelayakan suatu berita utk ditayangkan oleh media memperhatikan nilai beritanya yg secara umum mencakup: ketepatan waktu berita dgn kejadiannya, dampak peristiwa terhadap banyak orang, konflik yg menimbulkan pro kontra, segala hal terkait mata uang, kejadian tak terduga, kedekatan kejadian dgn audien, ketertarikan manusia, kejadian yg menonjol (melibatkan tokoh). 

Beberapa waktu yg lalu ada banyak teman jejaring yg mengirimkan pertanyaan di medsosnya, knp demo mhs kemarin sunyi pemberitaan. Ya mungkin krn nilai beritanya tdk dapat. Tapi begitu ada pendapat aneh dari wakil BEM SI ttg ORBA, atau kejadian menonjol terkait penganiayaan AA yg menimbulkan pro-kontra, barulah muncul beritanya kan ya? 

Demikian pula saat pandemi menerpa dan berdampak luas, pemberitaannya terus menerus sampai sebagian orang merasa mual. Sebagian masyarakat yg tdk mengetahui soal nilai berita ini bahkan menghubung-hubungkan pemberitaan masif pandemi dgn teori konspirasi. Konflik Rusia-Ukraina yg menimbulkan pro-kontra juga menimbulkan nilai berita, sehingga beritanya pasti akan terus tayang sampai pro-kontranya menurun atau tdk ada lagi nilai berita lainnya. 

#PersepsiCahyana

Etika Menyanggah Komentar di Medsos


Sayyid Abdullah Ba‘alawi Al-Haddad dalam An-Nasha’ihud Diniyyah wal Washayal Imaniyyah mengatakan bahwa etika terpenting dan terkuat perihal amar makruf dan nahi mungkar adalah menjauhi kesombongan, kekerasan, hinaan, dan cacian terhadap orang yang bermaksiat. Etika tersebut dapat diterapkan sebagai etika digital saat kita melakukan counter speech atau menyanggah komentar orang lain di media sosial.

Hingga saat ini kita masih menemukan sikap tdk etis seseorang di medsos, di mana ia menyanggah komentar orang lain dgn menyertakan hinaan dan cacian. Dalam konteks kerancuan berfikir kita mengenal Argumentum ad Hominem, yakni menyerang pribadi seseorang.

Mungkin seseorang akan terpengaruh dgn sikap tdk etis tsb dan melakukan tindakan yg sama sebagai balasan, sehingga pada akhirnya menjadi pertunjukan tdk etis. Kita semua berpotensi mengalaminya saat tdk mengetahui atau lepas dari kesadaran akan pentingnya etika tsb. Seseorang tdk akan berubah dgn cacian atau hinaan, tetapi dgn masuknya pengetahuan yg membangun pemahaman baru atau mengkoreksi pemahaman yg ada.

#LiterasiDigital
#PersepsiCahyana

19 April 2022

Post-Truth dan Patologi Komunikasi

 


Dijejali dengan teori-teori konspirasi, ujaran-ujaran kebencian dan fitnah-fitnah, demokrasi tidak lagi menjadi arena adu argumen, melainkan berubah menjadi sesi-sesi provokasi yang menghipnosis massa dengan sentimen-sentimen kolektif. Tujuan utamanya bukanlah menyampaikan informasi yang bernas, namun sekadar menggugah emosi bahkan kemarahan atau kebencian pada yang lain. Reproduksi hoaks, ujaran kebencian, fitnah, teror dan berbagai kekerasan simbolis lainnya memang meningkatkan kompleksitas sosial dan dapat menggiring pada chaos, namun hukum qua sistem mereduksi kompleksitas itu. 

Berbagai komponen demagogi post-truth, seperti hoaks, berita palsu, ujaran kebencian, sentimen dikenal sebagai patologi komunikasi. Post-truth semakin mudah menyebar bila disertai dengan atribut kesakralan dengan sentiment keagamaan. Akbatnya timbul rasa kebencian dan intoleransi. Persatuan nasional mendapat ancaman dari maraknya berita bohong, ujaran kebencian dan intoleransi.

Daya nalar akan nilai-nilai etik menghilang dikalahkan ego pribadi yang menolak untuk memercayai informasi akurat sekalipun didukung data dan fakta empiris dari sumber yang bereputasi dan terpercaya. Post truth pada akhirnya mudah dan cap berkelindan dengan xenophobia, bigotry dan hipocrycy. Pada akhirnya yang tersisa adalah kedangkalan pemahaman akan realita, glorifikasi kebencian pada siapapun yang tidak sepaham dan merosotnya nalar-etis. 

Dikutip dari Putro dkk. (2020)

#LiterasiDigital

Penangkalan Provokasi Beraroma Agama


Agama sejatinya merupakan petunjuk hidup ke arah yg lebih baik. Utusan Nya menggunakan agama sebagai katalis yg mempercepat perubahan yg baik. Namun sebagian kelompok menggunakan agama sebagai katalis yg mempercepat dampak provokasinya yg mengarah kepada tindakan diskriminasi atau kekerasan yg luas. Nama Tuhan dibawa-bawa dalam provokasi buruknya, baik dalam perkataan yg disampaikannya secara langsung, atau tdk langsung melalui beragam format konten digital di media sosial.

Provokasi seperti itu dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi. Provokasi yg tdk terkendali berakhir pada konflik yg tdk berkesudahan. Penindakan terhadap provokator yg menggunakan agama sudah seharusnya jauh lebih cepat dari pada selainnya, mengingat bahaya besar yg ditimbulkannya.

Selama level dampaknya masih dapat ditolerir, aparat tdk melakukan pendekatan hukum. Ruang perdebatan masih terbuka bagi kelompok tersebut, pendukung dan penentangnya, sebagai wujud perlindungan terhadap hak kebebasan berekspresi. Namun level dampak buruknya dapat meningkat dgn cepat saat kelompok pendukungnya meluas, sementara kelompok penentang tdk berhasil menahan atau menghentikannya dgn kontra ujaran.

Saat levelnya mulai memuncak yg ditandai oleh kemunculan tindakan kekerasan, negara menutup ruang perdebatan dan memberikan sanksi hukum kpd para pelanggar, terutama kpd penggerak utamanya. Pelibatan tokoh elit agama yg didengar secara luas dalam menangkal provokasi dan fikiran keliru yg berkembang merupakan penggunaan agama sebagai katalis perubahan ke arah sebaliknya, menurunkan level dampak provokasi dgn cepat.

#PersepsiCahyana

18 April 2022

Perubahan Suara Masjid


Bukanlah suatu keanehan bila adzan di tempat tinggi tdk banyak dilakukan lagi oleh Muadzin setelah adanya sound system. Menara Masjid yg awalnya ditempati Muadzin, kini ditempati oleh speaker. Suara dari dalam Masjid tersiar ke semua orang yg berada di luar melalui speaker.

Dan bukan suatu keanehan pula bila suara Muadzin dapat menjangkau tempat yg sangat jauh setelah adanya internet. Menara Masjid yg awalnya ditempati speaker, kelak menjadi tempat antena jaringan. Suara dalam Masjid tersiar kepada orang tertentu yg berada di tempat-tempat jauh.

Di masa depan, lingkungan Masjid mungkin nyaris sunyi, tdk terdengar suara speaker luar. Tetapi di dalamnya, suara dzikr bergema, terdengar ke tempat terjauh di mana jemaahnya berada. Tdk perlu konsumsi listrik yg besar utk menyiarkan suara sejauh itu. Sepinya suara masjid saat itu bukanlah sepi di luar, tetapi sepi di dalam.

#PersepsiCahyana

Jokowi dan ESEMKA


Kenapa dulu Jokowi menggunakan mobil ESEMKA? Menurut saya sangat wajar bila sebagai kepala daerah, Jokowi mempromosikan karya putra daerahnya, dan mengapresiasinya dgn mendorongnya sebagai kendaraan dinas pd tahun 2012.

Program teaching factory yg memunculkan ide ESEMKA thn 2007 adalah program Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud RI. Ada banyak SMK di berbagai wilayah yg terlibat dlm pengembangan otomotif. Thn 2010 hasilnya diuji di Jakarta, namun belum lolos laik jalan. Jokowi meminta agar diuji kembali setelah ingin menjadikannya sebagai kendaraan dinas. Pada awalnya tdk lolos uji emisi, namun akhirnya lolos uji tahun 2012.

Setelah pindah tugas ke Jkt, fikiran Jokowi sebagai gubernur DKI tentunya tdk lagi di Solo. Sangat wajar bila beliau tdk lagi mendorong produk siswa Solo, sebab beliau bukan kepala daerahnya lagi. Bila dorongan itu hrs tetap ada, maka yg tepat utk mendorongnya adalah kepala daerah Solo.

Namun setelah beliau jadi Presiden, di mana fokus beliau tdk sebatas wilayah tertentu, mobil ini kembali menjadi perhatian. Terutama setelah ratusan mobil ini tersebar di beberapa wilayah dari tahun 2012 hingga tahun 2015. Beliau menghubungkan PT ESEMKA dgn PT ACL, sehingga berdirilah PT ACEH. Thn 2019 Pabriknya diresmikan Presiden.

Dari tahun 2019 s.d. 2021, penjualan Esemka hanya 300 unit. Sementara penjualan Avanza sepanjang tahun 2021 mencapai 66.109 unit. Dgn jumlah sebesar itu, kita bisa melihat Avanza ada di mana-mana, sampai kendaraan tersebut mendapat julukan mobil sejuta umat. Kemungkinan kita melihat Esemka dibandingkan Avanza hanya 0.5%. Mobil tsb sangat populer di kalangan yg menikmati opini politik, namun krn jumlahnya yg sedikit, mereka tdk akan melihat keberadaannya di jalanan sebagaimana Avanza.

Mobil Esemka yg dipromosikan oleh Jokowi saat menjadi kepala daerah Solo nampak seperti tipe SUV. Kemungkinan ribuan pemesan itu minatnya ke tipe tsb yg belum diproduksi pd level pabrikan. Saat ini fokus PT ACEH adalah memproduksi tipe pikup. Kalau tipe SUV keluar dgn harga kompetitif, tdk mustahil angka penjualannya akan naik.

Lepas dari tudingan mobil ESEMKA yg digunakan Jokowi saat menjadi kepala daerah Solo sebagai mobil jiplakan, kita harus tahu bahwa mobil tsb dibuat oleh anak-anak SMK. Mengapresiasinya sama dgn mengapresiasi anak SMK, mengolok2nya sama dgn mengolok2 anak SMK. Saat diwawancarai oleh Tempo, beliau menjelaskan alasannya mendukung produk anak SMK tsb: 

"Apa yang saya lakukan, hanya sebagai komitmen moral untuk anak-anak didik kita,”

Saat ini mobil ESEMKA sudah merupakan produk bisnis perusahaan swasta nasional. Sudah bukan saatnya lagi menjadikannya sebagai amunisi politik. Kendaraan tsb lebih pas menjadi objek review vloger otomotif dari pada objek politik.

#PersepsiCahyana

16 April 2022

Kepercayaan dan Kesempatan

Suatu ketika beberapa teman Pramuka menghadap Kepala Sekolah. Kemudian mereka datang menemui saya dan menyampaikan informasi bahwa Kepala Sekolah tdk menandatangani proposal. Sebagai Pratama atau ketua Dewan Penggalang saya terpanggil utk menyelesaikan masalah tersebut. 

Saya menghadap Kepala Sekolah dgn berusaha menjaga sikap hormat, dan menyampaikan maksud kedatangan, yakni utk meminta persetujuan beliau atas kegiatan Dewan Penggalang. Tanpa bertanya, beliau menandatangani proposal yg saya bawa. Dari pengalaman tersebut saya berkesimpulan, bahwa kepercayaan adalah pintu kesempatan.

#BiografiCahyana

15 April 2022

Keluar dari Post-Truth dengan Tabayun


Seseorang mengucapkan pernyataan keliru karena tahu ucapan itu keliru, namun sengaja mengucapkannya untuk tujuan tertentu; atau tidak tahu kalau itu keliru sehubungan dengan terbatasnya ilmu. Kita memastikan kondisinya itu tidak bisa dengan cara menduga-duga, tetapi dengan tabayun.

Ia layak mendapatkan hukuman apabila memiliki kondisi pertama, sehingga diharapkan rasa takutnya kepada hukuman tersebut mencegahnya dari perbuatan serupa di masa depan. Ia layak mendapatkan asupan ilmu apabila memiliki kondisi kedua, sehingga diharapkan pengetahuan dapat mencegahnya dari perbuatan serupa di masa depan.

Seseorang mengalami kondisi post-truth saat ia memastikan kondisi orang lain dengan tanpa melakukan tabayun, di mana ia meyakini orang lain pasti akan seperti apa yang difikirkannya. Post-truth dan keterbatasan pengetahuan merupakan sebab tindakan main hakim sendiri. Salah satu jalan keluar dari post-truth adalah mencari fakta, dan membebaskan diri dari perasaan atau keyakinan pribadi yg menyelisihi fakta

#PersepsiCahyana

14 April 2022

Panggilan Buzzer di Era Post-Truth


Menurut kamus daring Collins, Buzzer adalah orang atau sesuatu yg berdengung, yakni suara yang panjang dan terus menerus, seperti suara yang dihasilkan lebah saat terbang. Di media sosial, Buzzer dikenal sebagai orang atau sekumpulan orang yg dibayar jasanya utk membangun opini publik tentang seseorang atau sesuatu. Buzzer memiliki jumlah pengikut yg jauh lebih sedikit dibandingkan Key Opinion Leader (KOL) yg merupakan sosok terkenal. Buzzer digunakan oleh KOL utk menaikan engagement dari opini KOL agar menjadi viral dan mempengaruhi masyarakat.

Menurut kamus Cambidge, post-truth berkaitan dengan situasi di mana orang lebih suka menerima argumen berdasarkan perasaan dan keyakinannya, dibandingkan berdasarkan fakta. Menurut Katherine Connor Martin, kepala divisi Kamus AS Oxford, post-truth menunjukan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dari pada daya daya tarik perasaan dan kepercayaan pribadi. Oleh karenanya, opini publik dapat terbentuk oleh hoax atau kecurigaan.

Internet memberi kesempatan bagi setiap orang utk membuat dan menyebarkan berita di media sosial tanpa melalui proses pemeriksaan yg ketat sebagaimana halnya media mainstream. Hal demikian memungkinkan beritanya merupakan opini yg dibangun oleh perasaan dan kepercayaan pribadi yg tdk sesuai dgn fakta sebenarnya. Sebagian di antara opini tersebut merupakan hasil pengaruh kampanye KOL dan/atau Buzzer. Berbeda dgn Buzzer, para pembuat opini ini tdk mendapatkan bayaran, tetapi mendapatkan manfaat lain, misanya terpenuhinya perasaan suka atau bencinya kepada seseorang atau sesuatu.

Dalam struktur pohon yg melibatkan KOL dan Buzzer, para pembuat opini ini merupakan daun dari ranting Buzzer yg terhubung ke akar KOL. Namun banyak pula yg tdk terhubung dgn Buzzer atau KOL, mereka membuat opini atas inisiatifnya sendiri. Menariknya, sebagian kalangan menyebut mereka sebagai Buzzer karena opininya sejalan dgn opini yg dibangun oleh Buzzer atau sejalan dgn kepentingan Buzzer. Padahal mereka membangun opini atas inisiatifnya sendiri, bukan berdasarkan kontrak bisnis seperti Buzzer.

Istilah Buzzer kini digunakan oleh sebagian orang utk melabeli orang lain yg pendapatnya di medsos dianggap memihak seseorang atau sesuatu yg tdk disukainya. Pelabelan ini terjadi karena post truth, di mana yg menjadi sandaran pelabelannya bukanlah fakta, tetapi perasaan atau keyakinan pribadi. Faktanya, orang lain yg disebut sebagai Buzzer tersebut bukanlah orang yg dibayar jasanya utk membangun opini publik tentang seseorang atau sesuatu.

Seseorang dapat menganggap buruk Buzzer yg membangun opini baik tentang seseorang atau sesuatu yg tdk disukainya. Saat mengalami fallacy berupa generalisasi keliru, Ia menyebut siapapun yg membangun opini seperti itu dgn panggilan Buzzer, sekalipun faktanya orang yg dituduhnya itu tdk memiliki kontrak jasa kampanye seperti Buzzer.

Fallacy adalah salah satu faktor yg mempengaruhi perasaan atau keyakinan pribadi yg buruk atau aneh. Fallacy menjauhkan siapapun yg mengidapnya dari kebenaran, di mana antara fakta dgn selainnya nampak tdk ada perbedaan, di saat perasaan atau keyakinan pribadi menjadi lebih dominan. Dengan demikian, kunci dari seluruh masalah yg disampaikan sebelumnya adalah kemampuan berfikir. Setiap orang harus mampu berfikir dgn berbagai pendekatan teori kebenaran, dan terbiasa utk cek fakta. Peningkatan indeks literasi dapan membangun kemampuan tersebut.

#PersepsiCahyana

13 April 2022

Dakwah Ramadhan

Bulan suci bukan hanya saat di mana sorang muslim menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga saat di mana ia menampilkan sikap sosial yg baik sebagai wujud semangay beragama dan hasil pengekangan hawa nafsu. Kebaikan yg terbentuk dari puasa menjadi dakwah yg menimbulkan simpati umat manusia dgn sendirinya tanpa perlu dicari. Sebaliknya bila puasa tdk mencegah muslim dari keburukan, antipatipun datang menghampiri. Pada tingkat yg parah, munculah islamophobia.

Kyai Miftachul Akhyar berkata, bahwa dakwah itu mengajak bukan mengejek sebagaimana yang kita ketahui. Merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, mencari solusi bukan mencari simpati, membela bukan mencela. 

Sangat penting bagi kita utk menjaga diri agar Puasa tdk hanya sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga. Kita harus menjaga lisan dari mencaci dan tangan dari memukul. Nabi SAW bersabda yg artinya, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang pada Hari Kiamat dengan banyak pahala shalat, puasa, zakat, dan haji. Tapi di sisi lain, ia juga mencaci orang, menyakiti orang, memakan harta orang (secara bathil), menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Ia kemudian diadili dengan cara membagi-bagikan pahalanya kepada orang yang pernah dizaliminya. Ketika telah habis pahalanya, sementara masih ada yang menuntutnya maka dosa orang yang menuntutnya diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun dilemparkan ke dalam neraka." (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad).

Simpati terhadap Islam dan dakwahnya dipengaruhi oleh sikap muslim terhadap sesama mahluk Allah dlm pergaulan sehari-hari. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah engkau bersikap lembut. Karena tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti memperindahnya. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu, kecuali pasti memperjeleknya.” (HR. Muslim no. 2594). Keindahan adalah hidangan yg digandrungi oleh pecinta kebaikan dari latar belakang apapaun. Mereka akan seperti laron yg berdatangan dan mengerumuni cahaya hingga maut menjelang. 

Menganiaya itu tdk hanya terlarang utk ditujukan kpd sesama muslim, juga terhadap selainnya. Dalam Adab an-Nafs dan Riyadhat an-Nafs Hakim at-Tarmidzi menuliskan riwayat berikut ini:

Rasyid ibn Abu Rasyid berjalan bersama Khalid ibn Abu Ma'dan di salah satu pasar kota Hamasha. Tiba2 keduanya melihat orang Nasrani menampakan kemusyrikannya kepada Allah SWT. Khalid berkata kepada Rasyid, "Lepaskan zirahmu lalu hantamkan ke hidung orang itu!". 

Rasyid segera melakukan perintah Khalid. Mendapatkan perlakuan buruk orang Nasrani tersebut pergi menemui saudaranya untuk membalaskan sakit hatinya. 

"Mengapa kau lakukan itu kepadanya?", tanya saudara Nasrani tersebut. 

"Allahlah yang mencederai hidungnya dan hidung oranng-orang yang tidak disukai-Nya, supaya mereka tidak menampakan kemusyrikan dan salib kepada kita. Allah melakukan itu supaya mereka tidak lagi mempertontonkan kemusyrikannya di muka umum", jawab Khalid. 

(Diriwayatkan oleh Abd al-Karim ibn Abd Allah dari Ali ibn al-Hasan, dari Abd Allah, dari Abu Bakr ibn Abu Maryam) 

Melihat kafir dzimmi teraniaya, Amir ibn Abd Qays (Tabi'i di Basrah hidup tahun 661-680) segera menyelamatkan orang itu lalu berkata, "Demi Allah, tidak boleh ada kafir dzimmi teraniaya selama aku masih hidup"

(Diriwayatkan Abd Allah ibn Abu Ziyad dari Sayyar, dari Hafs ibn Sulayman, dari Malik ibn Dinar)

Bila kafir dzimmi saja dilindungi Tabi'i dari penganiayaan, apalagi muslim. Perlindungan inilah jalan yg ditempuh Nabi, Sahabat, Tabi'i hingga pewarisnya sampai sekarang. Penganiayaan yg telah terjadi adalah Qadarullah, tetapi bukan berarti muslim akan membiarkannya, apalagi merasa senang dgn tindakan tsb.

Nabi pernah bersabda:

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti ... (HR. Bukhori). Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampas) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini (HR. Bukhari)

Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah yang menimpa saudaramu. Karena jika demikian, Allah akan merahmatinya dan malah memberimu musibah ... Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut (HR. Tirmidzi)

#PersepsiCahyana

12 April 2022

Post-Truth dan Ujaran Kebencian

Post-truth adalah keadaan di mana seseorang mengutamakan keyakinan dan emosi subjektifnya dibandingkan fakta objektif dalam membentuk opini publik mengenai suatu kebenaran. Post-truth semakin mudah menyebar di media sosial bila ada polesan agamanya. Tidak sedikit cendikia mengabaikan fact-checking karena merasa terhibur dengan berita yang memenuhi hasrat emosionalnya. Mereka tidak lagi menikmati kebenaran. 

Sebagian di antara post-truth mewujudkan ujaran kebencian, yakni pernyataan diskriminasi, permusuhan, dan tindak kekerasan berdasarkan agama, etnis, afiliasi politik, dan karakteristik lainnya yang ditujukan pada individu atau keompok tertentu. Pada akhirnya post truth ini membuat manusia Indonesia melupakan pengamalan sila ketiga Pancasila, yakni mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

25 Maret 2022

Ikhtiar Muwahid dan Qadarullah

Ikhtiar manusia dan Qadarullah itu tdk seharusnya dibentrokan, sebab keduanya tdk setara. Semua ikhtiar manusia akan mengarah kpd takdir Nya. Manusia bisa berikhtiar dgn merekayasa cuaca melalui cara apapun sesuai dgn kapasitasnya, baik dgn pendekatan metafisika atau fisika. Hal demikian krn memang manusia adalah mahluk yg menerima takdirnya sebagai khalifah di bumi yg tdk hanya mampu menaklukan apa yg ada di bumi, tetapi juga di langit dgn kekuatan / sulthon. 

Sulthon itu tdk mempersyaratkan bertauhid atau tdk, sebab sulthon dikaruniakan Nya kpd semua manusia. Itulah sebab utk menaklukan lautan misalnya dgn perahu, atau langit misalnya dgn pesawat, manusia hanya perlu menggunakan potensi di dalam dirinya yg sebagian di antaranya tdk berhubungan dgn keimanan. 

Memang ada penaklukan yg memerlukan keimanan kpd Allah, seperti mukjizat membelah lautan. Seandainya nabi Musa tdk percaya, maka beliau tdk akan meletakan tongkatnya ke atas permukaan laut. Misal lainnya adalah menurunkan hujan dgn doa. Tetapi ada pula penaklukan yg tdk memerlukan keimanan, seperti membangun terowongan yg membelah lautan atau menurunkan hujan dgn rekayasa awan. Dlm keyakinan Muwahid, keduanya ada campur tangan Allah. 

Perbedaan manusia yg bertauhid dgn selainnya di antaranya terletak pd tawakal. Manusia yg bertauhid akan bertawakal hanya kpd Allah saja selepas berikhtiar dan berdoa, sebab ia tahu kelemahannya dan meyakini kekuatan Allah dlm mewujudkan apa yg sedang ia ikhtiarkan. Setelah terwujud, ia tetap akan berendah hati, didorong oleh keyakinannya bhw ia telah mendzalimi diri sendiri krn kelemahannya, baik terasa atau tdk.

#PersepsiCahyana

21 Maret 2022

Dukun atau Pawang itu Musyrik?

Supaya tdk terjadi generalisasi keliru, kita perlu meletakan definisi dukun atau pawang sesuai dgn makna yg difahami oleh bangsa ini. Dukun atau pawang itu merupakan kearifan lokal, sebutan utk orang yg bisa menolong. Makna tsb bisa kita temukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. 

Ada sebagian orang yg menganggap semua praktik dukun atau pawang itu syirik, mendatanginya merupakan kekufuran. Padahal mengkufurkan tanpa memeriksa praktiknya itu merupakan perbuatan gegabah, sebab bisa berbalik kpd si penuduh bila tuduhannya tdk benar.

Tdk semua praktik dukun atau pawang itu syirik, sebab ada yg permintaannya semata ditujukan kpd Allah. Bahkan ada dukun yg hanya perlu pengalaman saja utk menolong, seperti dukun beranak atau pawang pukat. Tdk semua sesaji yg digunakan oleh dukun atau pawang itu syirik, sebab mungkin saja sesaji tsb hanya filosofi atau sedekah utk mahluk hidup.


#PersepsiCahyana

17 Maret 2022

Inductive Learning dalam Pengenalan Logo


Perancang akan memperhatikan detail bentuk logo, hingga pemilihan kata, dalam bahasa apa, dan disajikan seperti apa. Namun penglihatan pengguna tdk akan sedetail itu, mereka hanya akan berusaha mengenali pola bentuk atau warnanya dalam proses identifikasi logo, mengklasifikasikan logo tsb sebagai objek yg hendak diprediksinya atau bukan.

Pola itu mudah diidentifikasi bila pengguna memiliki pengalaman berinteraksi dgn logonya dan membedakannya dari logo lainnya lebih dari sekali. Kemampuan pengguna dlm mengidentifikasi logo dgn benar merupakan hasil dari proses inductive learning. Kecepatan identifikasinya tergantung pada keunikan logonya, terlepas apakah keunikan itu terwujud oleh kata pada logo yg ditulis dgn benar atau tdk menurut pendapat tertentu, atau bagaimana teks dan bentuknya disajikan oleh perancang. 

Kemiripan logo dgn logo lain pada awalnya menimbulkan kesalahan identitikasi, misalnya logo halal MUI dianggap logo organisasi MUI. Namun sedikit perbedaan saja, semisal sisipan teks Arab di tengahnya membuat logo tsb tampil sedikit unik. Disebut sedikit unik krn bentuk pembedanya dari logo lain hanya sekian persen / minor, sementara kemiripannya dgn logo lain lebih dominan. 

Kemiripan teks dgn teks pada logo lainnya, misalnya teks halal dlm bahasa Arab, mempercepat kategorisasi label halal, tetapi kategorisasi berdasarkan penerbitnya membutuhkan objek pengenal lain. Proses identifikasinya akan lebih cepat atau lebih mudah apabila logo memiliki pembeda yg dominan / mayor dibandingkan logo lainnya. 

Logo halal Indonesia yg baru hampir tdk memiliki kesamaan bentuk dgn logo halal lainnya. Hal tsb memudahkan pengguna utk membedakan logo halal yg diterbitkan oleh lembaga sertifikasi Indonesia dgn selainnya, sekalipun pada awalnya penguna memerlukan latihan pengenalan pola dari awal krn tdk adanya tulisan "halal" dalam bahasa Arab yg telah dikenalinya pada banyak logo halal. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa seiring dgn waktu, pengguna akan terbiasa dgn bentuk baru dan lebih mudah mengklasifikasinya sebagai label halal Indonesia dibandingkan logo lainnya atau logo sebelumnya yg mirip label organisasi.

05 Maret 2022

Nikmatilah Sendiri Hobi Berisik Itu


Adakah yg pernah berada di pinggir jalan, lalu merasa kesal krn ada motor yg lewat dgn suara knalpot yg sangat mengganggu? Saya biasanya tdk bisa menahan diri dan langsung mengekspresikan kekesalan di tempat seraya berkata, "Seperti jalan punya sendiri saja!".

Padahal mungkin saja motornya ganteng dan dapat membuat banyak orang terkesima. Tetapi suara knalpotnya yg mengganggu itu telah membuat banyak orang tdk menikmati kegantengan motornya. Tapi ada pula yg sudah motornya tdk ganteng, suara knalpotnya menggagu pula.

Pengendaranya hrs faham kalau haknya di ruang publik dibatasi oleh hak orang lain. Bila ia ingin menikmati kerasnya suara knalpot motornya di ruang publik, sebaiknya dengarkan suaranya dgn headset saja, biarkan ruang publik tetap tenang. Dgn demikian, si pengendara dapat menikmati suara berisik knalpot motornya, dan orang lain bisa menikmati kegantengan motornya ... kalau ganteng.

#PersepsiCahyana

04 Maret 2022

Peran Masjid di Era Digital


Masjid dapat berperan dalam upaya mewujudkan inklusi digital, di mana menara masjidnya berfungsi sebagai bagian dari infrastruktur jaringan, madrasahnya sebagai tempat pembelajaran literasi digital, koperasinya sebagai pengelola lapak ecommerce dan layanan digital lainnya. Masjid adalah pusat pembangunan budaya digital yg diharapkan dapat meningkatkan indeks keadaban digital dan menurunkan resiko hoax, ujaran kecencian dan diskriminasi di Indonesia.

Tdk perlu speaker yg banyak dan power yg kuat utk menjangkau audien yg banyak, hanya perlu studio dgn perangkat lunak yg dapat menghantarkan suara atau layanan masjid ke seluruh dunia melalui jaringan. Studio sangat cocok utk pengurus yg senang memutar multimedia player dan berkomunikasi melalui microphone. Jema'ahnya tdk hanya di lingkungannya saja, tetapi juga dari berbagai pelosok negeri.

#LiterasiDigital

03 Maret 2022

Meninjau Analogi dari Definisi


Di masa lalu ada kaum sofis, yakni kelompok pendatang di Athena yg gemar memutar balikan pernyataan utk mengacaukan kondisi masyarakat. Plato melihat mereka berbicara dgn istilah yg tdk difahaminya dan menggunakannya utk menjatuhkan orang lain. Saat itulah Plato menggunakan definisi utk menyanggah mereka.

Kusmayadi (2007) dalam bukunya yg berjudul Think Smart Bahasa Indonesia mendefinisikan analogi sebagai perbandingan yang bersifat sistematis dari dua hal yang berbeda, tetapi dengan memperlihatkan kesamaan segi atau fungsi dari kedua hal tersebut untuk mengilustrasikan atau menggambarkan sesuatu yang sepadan.

Kalau pernyataan Menag dianggap sebagai analogi, maka kesamaan atau kesepadanan aspeknya itu bukan pd sumber suaranya, tapi gangguan yg ditimbulkannya. Jadi bukan suara dari rumah ibadah muslim yg disamakan dgn suara anjing, tetapi gangguan yg ditimbulkannya.

Mengkritisi analogi itu dapat dimulai dgn pertanyaan, apakah aspek gangguan suaranya dari sumber suara yg berbeda itu sepadan atau tdk? Utk menguji kesepadanannya, bisa dilihat kasus nyata. Apakah ada kasus di mana orang merasa terganggu dgn suara dari rumah ibadah, dan suara anjing? Bila ada, maka semua suara dlm analoginya sudah sepadan.

Mempersoalkan anjing sebagai sampel gangguan suaranya hanya krn mahluk tsb najis sama sekali tdk relevan, sebab analogi boleh membandingkan hal apapun yg berbeda dan aspeknya sepadan. Lagi pula tdk semua anjing itu hina, sama seperti manusia yg tdk semuanya mulia. Menurut Kyai Husen bin Aziz (Slawi), semua ulama sepakat bahwa anjing yg berguna termasuk mahluk yg mulia dan haram dibunuh, sebagaimana tersebut dlm Syarh Safinah. Suara mahluk yg mulia tdk lah sepenuhnya hina.

Hal berbeda dgn penggunaan speaker yg mengganggu, Syekh Mutawalli Sya'rawi - Ulama Kharismatik Universitas al-Azhar menganggapnya sebagai sikap beragama yg kacau dan meresahkan, dan speaker adalah petaka terbesar umat di era modern. Apakah suara speaker yg disebut petaka tsb merupakan hasil perilaku yg mulia, dan apakah perilaku tsb lebih baik dari pada perilaku mahluk yg mulia dan tdk mengganggu? Bila suara mahluk yg mulia itu mengganggu, maka kondisinya tdk jauh beda dgn suara speaker dari rumah ibadah yg mengganggu, dan keduanya masuk akal utk dianalogikan krn ada kesepadanan aspek.

#PersepsiCahyana

01 Maret 2022

Jangan Berujar Kebencian


Jangan hinakan bahasa Anjing hanya karena air liurnya dihukumi najis dan dagingnya haram dimakan. Bukankah kotoran kita juga najis dan daging kita haram dimakan, sekalipun level najisnya berbeda. Adanya najis tdk menyebabkan mahluk itu tdk mulia, sebab kemuliaan mahluk di antaranya terletak pd kemanfaatannya. Jangan ikuti kaum yg suka membuat dan menyebarkan ujaran kebencian kpd sesama manusia dan hewan ciptaan Allah yg menargetkan karakteristik bawaan.

Setiap hewan itu bertasbih kepada Tuhan, dan dapat beriman kepada Nya. Sebagaimana dikisahkan dalam riwayat Anas bin Malik, bahwa seekor Anjing milik fulan yg munafik hendak dibunuh karena telah menggigit seorang sahabat. Namun Anjing itu berkata kpd Nabi SAW dan para sahabat bahwa ia beriman kpd Allah dan Rasul Nya. Ia menggigit krn diperintahkan utk menggigit siapa saja yg mencela Abu Bakar dan Umar.

#PersepsiCahyana

28 Februari 2022

Topik Tren Adzan


Indeks literasi bangsa ini memang rendah, sehingga tdk heran bila pernyataan yg tdk menyebut adzan, dianggap menyebut adzan; pernyataan yg menyebut pengeras suara bukan utk memanggil Tuhan, dianggap adzan utk memanggil Tuhan. Kata adzan ini selalu disisipkan, sudah seperti hastag utk mewujudkan topik tren di jagat media. Tren adalah tujuan perekayasa sosial atau pebisnis konten.

Selain itu, indeks keadaban digital bangsa ini rendah, di mana hoax menjadi resiko puncak di negara ini. Oleh krnnya wajar bila kita menemukan banyak netizen yg mudah dibohongi hoax yg mengada-ada tentang adzan tanpa mau ricek atau menerima hasil ricek. Konten hoax adalah makanan populer di ruang media sosial utk memuaskan rasa dengki di hati. Perekayasa sosial memanfaatkan hal demikian utk kepentingan profit hingga politik. Kita bisa melihat, tren topik adzan ini utk kepentingan apa dari ujung ceritanya.

#LiterasiDigital

27 Februari 2022

Kerancuan Berfikir

Fallacy secara etimologis berasal dari kata fallacia yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah menipu. Dengan memperhatikan pendapat Irving M Copi dkk. (2014) dapat difahami bahwa kerancuan berpikir atau logical fallacy merupakan jenis argumen yang terkesan benar, di mana tipuannya akan teruangkap setelah menggunakan logika berpikir yang benar.

Seseorang mempraktikan fallacy karena tidak menyadari logika berfikirnya yang keliru, atau sengaja dilakukan untuk berpaling dari kebenaran atau untuk membuat dirinya nampak tidak salah atau terkalahkan. Tujuan kesengajaan ini dapat difahami dari 19 jenis kerancuan berpikir berikut ini:

  1. Irrelevant Conclusion / Ignoratio Elechi, yakni membuktikan suatu perkara dengan perkara lain yang tidak relevan;  Contohnya, seseorang ingin mengganti komputernya untuk mengikuti tren tipe tertentu, tetapi mengungkapkan alasan lain, yakni merasa tidak nyaman menggunakan komputernya yang terasa lambat;
  2. Argumentum Ad Baculum / Appeal to Force, yakni memaksakan kehendak dengan penyataan yang mengancam; Contohnya, seseorang yang menuntut organisasinya untuk membelikan komputer yang sedang tren agar tugas pekerjaannya ia selesaikan; 
  3. Argumentum Ad Hominem / Abusive, yakni menyerang pribadi seseorang; Contohnya, atasan yang menyebut pegawainya tidak layak mendapatkan komputer high-end yang diperlukannya untuk melaksanakan tugas pekerjaan dengan alasan posisi jabatannya yang masih rendah; 
  4. Argumentum Ad Hominem / Circumstantial, yakni sindiran secara tidak langsung dengan menyasar kondisinya; Contohnya, atasan yang mengatakan kepada pegawainya bahwa kepatuhan itu adalah menuntaskan tugas pekerjaannya dengan tanpa mengeluh; 
  5. Argumentum Ad Ignorantiam, yakni meyakini suatu kondisi yang belum ada bantahannya; Contohnya, atasan yang menganggap pegawainya loyal selama tidak mengeluh di hadapannya;
  6. Argumentum Ad Misericordiam / Appeal to Pity, yakni memancing rasa iba untuk membenarkan suatu perkara; Contohnya, seorang pegawai yang terbukti mencuri komputer kantor meminta kepada atasannya untuk tidak dikeluarkan dari perusahaan dengan alasan orang tuanya sedang sakit keras;
  7. Argumentum Ad Populum, yakni mempengaruhi masa dengan pernyataan yang tidak relevan; Contohnya, seorang pegawai senior yang akan dijatuhi sanksi oleh perusahaan atas kesalahan yang diperbuatnya mempengaruhi pegawai lainnya dengan menyatakan dirinya sedang didzalimi oleh perusahaan; 
  8. Argumentum Ad Verecundiam, yakni menyandarkan tindakannya kepada sosok terkenal; Contohnya, seorang pegawai menganggap dirinya seperti Mahatma Gandi karena berjuang melawan penindasan perusahaan yang akan menjatuhkan sanksi kepada dirinya; 
  9. Non Causa Pro Causa, yakni meyakini suatu sebab tanpa mempelajari kronologinya; Contohnya, seseorang meyakini kolega seniornya sedang didzalimi oleh perusahaan karena hendak diberhentikan;
  10. Post Hoc Ergo Propter Hoc, yakni meyakini peristiwa pertama yang menyertai peristiwa kedua sebagai penyebab terjadinya peristiwa kedua; Contohnya, seseorang yang mengetahui adanya atasan baru sebelum pegawai senior menerima tugas pekerjaan, kemudian ia berpikir bahwa atasan tersebutlah yang menyebabkan pegawai senior tidak dapat melaksanakan tugas pekerjaannya; 
  11. Complex Questions, yakni pertanyaan yang membingungkan; Contohnya, seseorang yang menanyakan tempat kerja kepada orang lain yang baru saja berhenti dari perusahaannya;
  12. Staw Man, yakni memelintir suatu pendapat untuk membenarkan pendapat lainnya; Contohnya, seseorang menyatakan bahwa perusahaan dapat memberhentikan pegawai yang telah bekerja bertahun-tahun kapanpun, kemudian orang lain menuduhnya sedang mempengaruhi banyak pegawai untuk tidak loyal kepada perusahaan; 
  13. Slippery Slope, yakni menolak suatu kondisi karena meyakini akan terjadinya kondisi lain tanpa bukti yang masuk akal; Contohnya, seseorang menolak untuk loyal kepada perusahaan karena meyakini perusahaan bisa memberhentikannya kapanpun, padahal tidak semua pegawai yang loyal diberhentikan oleh perusahaan;
  14. Tu quoque, yakni melawan kritik yang mendeskriditkan dengan kritik yang sama; Contohnya, seorang atasan mengkritik atasan lainnya yang tidak bersikap baik kepada pegawainya, kemudian ia mendapat balasan kritik berupa ingatan atas tindakan buruk kepada pegawainya sendiri;
  15. Loaded question, yakni menanyakan suatu praduga secara jelas untuk mendapatkan jawaban dengan kesan bersalah; Contohnya, seorang atasan bertanya kepada atasan lainnya yang belum pernah memperlakukan buruk pegawainya, “Apakah Anda sudah menjadi orang baik atau belum?”;
  16. Burden of Proof, yakni berpaling dari pembuktian suatu klaim; Contohnya, seorang atasan yang menuduh atasan lain telah berbuat buruk kepada bawahannya tanpa bukti, kemudian berpaling dari tuntutan pembuktian karena merasa orang yang dituduh olehnya yang harus membuktikannya sendiri;
  17. The Gambler’s Fallacy, yakni meyakini sesuatu yang sering terjadi memiliki peluang kecil untuk terjadi di masa depan. Contohnya, seorang atasan meyakini pegawainya suatu saat akan loyal tanpa mengeluh setelah sering mengeluh atas perlakuan buruknya;
  18. Special Pleading, yakni pengecualian klaim yang keliru; Contohnya, seorang atasan mengklaim pegawai yang mengeluh itu tidak loyal, dan pada saat klaimnya terbukti keliru ia berdalih bahwa klaimnya pasti benar apabila yang mengeluh adalah bawahannya; 
  19. Personal Incredulity, yakni menolak suatu kebenaran karena tidak dapat  memahaminya; Contohnya, seorang atasan yang menolak sikap loyalitas pegawai yang disertai keluhan, hanya karena tidak memahami keluhan atas hambatan tugas pekerjaannya merupakan bagian dari loyalitas.



26 Februari 2022

Menyoal Terkait Surat Edaran


SE Menteri membatasi ambang batas noise level speaker masjid di angka 100 dB. Sebagian protes dgn alasan konser musik saja tdk dibatasi. Pertanyaannya, misalnya utk salat Jum'at, apa jema'ah salat Jum'at jumlahnya sama dgn penonton konser musik sehingga membutuhkan noise level yg sama, yakni di atas 100 dB?

Lalu sebagian lagi protes dgn pembatasan waktu penggunaan speaker utk keperluan selain Adzan, padahal suara yg keluar dari speaker itu sebagian di antaranya adalah dari perangkat music player yg tdk akan mendapat pahala dari apa yg dia putar. Bila yg diputar itu adalah do'a dan semisal lainnya, bukankah Tuhan itu Maha Mendengar?

Sepertiga akhir malam adalah waktu yg baik utk mendekati Nya. Keheningan mengkondisikan upaya kita utk "bercengkrama" dgn Nya. Namun hal tsb menjadi terganggu dgn suara keras dari pemutar musik yg memutar kalimat religius. Apakah "ibadahnya" pemutar musik harus mengganggu ibadah manusia? Apakah orang yg memutar musik merasa perlu mengganggu sesama Pencari Tuhan?

#PersepsiCahyana

Memikirkan Sesuatu dgn Kaidah Berfikir


Rasa terganggu itu bisa sama, lepas dari penyebab gangguannya apa. Namun membayangkannya itu tdk selalu mudah. Yg agak sulit itu membayangkan rasa terganggu oleh sesuatu yg diyakini pasti tdk mengganggu, misalnya muslim pasti tdk terganggu oleh suara adzan. Yg mudah itu membayangkan rasa terganggu oleh sesuatu yg mungkin dapat mengganggu, misalnya muslim mungkin terganggu oleh volume suara adzan yg berlebihan. Dan paling mudah itu membayangkan rasa terganggu oleh sesuatu yg pasti mengganggu siapapun, misalnya semua muslim pasti terganggu oleh suara hewan peliharaan yg berlebihan.

Ada tiga sesuatu yg tersebut dlm paragraf sebelumnya, di mana identitasnya berbeda satu sama lainnya. Hal tsb menunjukan sifat unik, sehingga tdk mungkin sesuatu yg ketiga sama dgn yg kedua, apalagi dgn yg pertama. Dalam ilmu Mantik dikenal kaidah berfikir Qanun al-Huwiyyah (Law of Identity), yakni A=A, B=B, tdk mungkin A=B atau B=A. Meskipun A dan B memiliki esensi yg sama, yakni "sesuatu", tetapi identitas keduanya berbeda, yakni "pasti" bukanlah "tdk pasti".

Bila ada orang yg berpendapat bahwa sesuatu yg ketiga itu sama dgn sesuatu yg pertama, maka pendapat tsb dgn mudah dinyatakan tdk logis. Bagaimana sesuatu yg pasti mengganggu itu sama dgn sesuatu yg pasti tdk mengganggu?

Mungkin sebagian orang yg terbiasa berfikir ascending, ia akan merasa tdk nyaman bila sesuatu yg ketiga bukan C, padahal sesuatu yg pertama adalah A, dan yg kedua adalah B. Bagi orang yg lebih memperdulikan logika, ascending itu hanyalah estetika, selama tdk ada aturan yg mengharuskan sesuatu yg ketiga itu C. Baginya sesuatu yg ketiga itu boleh apa saja, misalnya Z. Yg terpenting baginya, tdk mungkin A=Z, sebagaimana tdk mungkin A=C bila Z=C. Tanpa melibatkan estetika sekalipun, tingkat kesulitan rasa terganggu itu bisa difahami.

Bila tujuannya adalah pemahaman tsb, perhatian terhadap estetika itu hanyalah tambahan yg tdk terlalu penting. Dgn atau tanpa estetika, mau C atau Z, hewan peliharaan atau selainnya, tujuan itu tercapai. Bila seseorang memperhatikan estetika, baik ascending (A,B,C) atau descending (Z,Y,X), maka yg ditujunya bukan sekedar pemahaman tsb, atau memang bukan pemahaman tsb, atau terbiasa merepotkan diri dgn sesuatu yg tdk merubah tujuan tsb.

Namun bagi kalangan estetis, kerepotan utk mencapai estetika itu tujuan utama dari segala tujuan. Suatu tujuan tdk tercapai bila tujuan utama tdk tercapai. Baginya, memilih C itu semudah mendapatkan Z, sekalipun kenyataannya tdk demikian. Utk mendapatkan C, dia harus menghitung dgn benar urutan berikutnya dari urutan tertentu yg harus diidentifikasi dgn benar. Hal berbeda dgn hasil acak, urutan berikutnya setelah B terserah bertambah atau berkurang berapa.

Kalangan estetis mungkin akan berdebat dgn selain mereka, dgn perdebatan yg tdk perlu. Padahal utk apa mempersoalkan pilihan sekumpulan esensi yg berbeda, bila {A,B,C} dan {A,B,Z} sama-sama memiliki tujuan t, terlebih bila C itu sebagaimana Z, tdk sama dgn A. Mau suara hewan peliharaannya itu suara anjing (C) atau burung (Z), suara itu bukan adzan (A). Hubungan logika itu sudah nampak estetis bagi kalangan logis. Bagi mereka, ketidaklogisan itu tdk estetis, sekalipun ketidaklogisannya terwujud demi estetika.

#PersepsiCahyana

25 Februari 2022

Gangguan Komunikasi dan Resiko Intrusive


Gangguan dalam komunikasi interpersonal itu di antaranya semantik dan psikologis. Gangguan ini menyebabkan seseorang mudah untuk salah dalam memahami pesan (pernyataan, informasi, atau semisal lainnya). Gangguan semantik terkait kemampuan berbahasa di antaranya terjadi karena literasi yang rendah, sementara gangguan psikologis terkait kemampuan mengelola emosi di antaranya timbul karena kecerdasan emosi yang rendah. Seringkali gangguan ini dimanfaatkan oleh perekayasa sosial untuk menggerakan banyak orang dengan menggunakan konten provokatif yang sesat menyesatkan.   

Menurut survei yang dilakukan Program for International Student Assessment dan di rilis Organization for Economic Co-operation and Development pada 2019, Indonesia menempati rangking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan indeks literasi. Sementara menurut  laporan Microsoft Digital Civility Index 2020 yang dilansir Februari 2021, Indonesia menempati rangking ke 29 dari 32 negara berkaitan dengan indeks keadaban digital. Angka-angka tersebut menggambarkan kondisi Warga Negara Indonesia yang rentan terhadap resiko intrusive. Microsoft merilis tiga resiko teratas di Indonesia yang mencakup Hoaks (47%), Ujaran Kebencian (27%), dan Diskriminasi (13%).

Oleh karenanya tidak mengherankan apabila ruang media sosial Indonesia seringkali dipenuhi oleh resiko intrusive tersebut. Kondisinya begitu buruk saat ditemukan banyak netizen dalam komunitas maya atau thread media sosial yang merasa benar hanya karena konten hoaks, ujaran kebencian, dan diskriminasi yang diikutinya sejalan dengan semangat agama yang difahaminya, atau semangat eklusivisme berbasis kepentingan politik murni atau politisasi agama yang berkembang di kalangannya, sehingga siapapun yang berbeda dianggapnya telah tersesat dan memerlukan hidayah Allah untuk kembali bersama mereka. Bahkan dalam urusan yang boleh berbeda sekalipun ekspresi yang ditunjukannya sangatlah ekstrem, mulai dari pelabelan buruk hingga ancaman pembunuhan (Ujaran Kebencian). Hal tersebut merupakan tantangan edukasi bangsa Indonesia, hambatan kemajuan yang harus segera dientaskan. 

#PersepsiCahyana

Adzan

Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Zaid, ia berkata:

Ketika Rasulullah Saw memerintah memukul lonceng untuk mengumpulkan manusia untuk shalat, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya; Hai hamba Allah, apakah kamu hendak menjual lonceng itu.

Orang tersebut malah bertanya; Untuk apa? Aku menjawabnya; Agar kami bisa memanggil untuk shalat. Orang itu berkata lagi; Maukah kau kuajari cara yang lebih baik? Dan aku menjawab; Iya.

Lalu dia berkata; Kamu ucapkan; Allaahu akbar allaahu akbar, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu anna muhammadar rosulullah, asyhadu anna muhammadar rosulullah, hayya ‘alash sholaah, hayya ‘alash sholaah, hayya ‘alal falaah, hayya ‘alal falaah, allaahu akbar, allaahu akbar laa ilaaha illallaah.

Ketika esoknya, aku mendatangi Rasulullah Saw dan aku mengabarkan kepada beliau mengenai mimpi (mimpi kalimat adzan). Kemudian Rasulullah Saw berkata; Ini adalah mimpi yang benar, maka bangunlah kamu bersama Bilal karena ia lebih merdu dan lebih panjang suaranya dibanding kamu, lalu kamu diktekan padanya apa yang dikatakan padamu (dalam mimpi).

Abdullah bin Zaid berkata; Setelah Umar bin Al-Khaththab mendengar panggilan Bilal untuk shalat, dia keluar menemui Rasulullah Saw sambil menarik sarungnya, dan dia berkata ‘Wahai Rasulullah Saw, demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah bermimpi seperti apa yang dikumandangkan Bilal. Kemudian Rasulullah Saw berkata; Bagi Allah segala puji.

---------

Saat itu adzan dikumandangkan dgn dB sebatas kemampuan Bilal r.a atau manusia. Setelah muncul teknologi speaker, dB nya ditingkatkan utk menjangkau banyak audien, dan menaranya ditinggikan utk menghindarkan penduduk dari efek buruk kerasnya suara. 

Saat ini, sebagian wilayah mayoritas muslim telah menjadi kawasan padat masjid. Tanpa pengaturan dB, volume acak akan menimbulkan efek kalah megalahkan. Hal demikian tdk lebih baik dibandingkan volume seragam di angka dB tertentu. Bila dB nya tdk disesuaikan dgn kapasitas speaker, maka kualitas output suaranya akan tdk baik. Sementara itu, keseragaman volume suara menimbulkan resonansi suara yg baik, dan akan semakin baik apabila dibarengi lantunan yg indah.

Nama Anjing Tidak Najis


Najisnya anjing itu pd air liurnya, tetapi namanya tdk najis. Bukankah nama anjing disebut di dalam al-Quran beberapa kali?

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, "(Jumlah mereka) tiga (orang), yang keempat adalah anjingnya," dan (yang lain) mengatakan, "(Jumlah mereka) lima (orang), yang keenam adalah anjingnya," sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, "(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang kedelapan adalah anjingnya." Katakanlah (Muhammad), "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit" (QS al-Kahfi: 22)

Nama Anjing juga terucapkan dlm lisan Nabi SAW yg terjaga, dan tertulis dalam hadits yg merupakan rujukan kedua setelah al-Qur'an.

Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah (HR. Al Bukhari no.3321, Muslim no.2245).

Jgn memandang Anjing dgn penuh hina hanya karena air liurnya najis bila kena anggota badan dan dagingnya haram utk dimakan. Anjing itu bukan mahluk yg 100% unfaedah sehingga boleh dihinakan seperti setan. Gonggongannya saat menemukan hewan buruan adalah panggilan bagi pemburu dalam ibadahnya mencari makanan.

Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut ... (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929).

#PersepsiCahyana

24 Februari 2022

Menyamakan? Fahami dengan Baik

Pak Menag berkata, "Karena kita tahu, misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100-200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka menyalakan Toa bersamaan di atas. Itu bukan lagi syiar, tapi gangguan buat sekitarnya"

Sampai di sini saya memahami kalimat di atas memberi permisalan atau contoh seraya mengajak audien utk membayangkan gangguan suara dari rumah ibadah muslim yg dirasakan non muslim.

Selanjutnya beliau berkata, "Kita bayangkan lagi, saya muslim, saya hidup di lingkungan non muslim. Kemudian rumah ibadah saudara-saudara kita non muslim menghidupkan Toa sehari lima kali dengan kenceng-kenceng, itu rasanya bagaimana,"

Kalimat tsb mengajak audien utk membayangkan dan menjawab sendiri bagaimana perasaan muslim terhadap gangguan suara dari rumah ibadah non muslim. 

Beliau kemudian memberi contoh terakhir, "Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak?" 

Kalimat ini mengajak audien utk menjawab sendiri bagaimana perasaannya sebagai muslim ataupun non muslim terhadap gangguan hewan peliharaan tsb. 

Bukankah tdk ada kalimat yg menyamakan? Bahkan kita melihat kecerdasan Menag dalam memberikan contoh gangguan, komprehensif, mengambil contoh gangguan dari perspektif non muslim, muslim, dan keduanya. 

Oleh krn nya, tdk usah terprovokasi oleh siapa saja yg gagal faham, atau menggoreng potongan video demi ketidaksukaan kpd personal Menag. Ingat, bermusuhan itu tdk boleh lebih dari 3 hari. Salam ...

#PersepsiCahyana

Memahami Pernyataan Menag


Kalau dicermati videonya, Menag sebenarnya tdk menyamakan suara adzan dgn suara anjing, tapi memberi contoh gangguan suara. Contoh pertama, gangguan suara serentak yg tdk teratur dari rumah ibadah yg dirasakan oleh kalangan lain yg tdk satu keyakinan. Contoh kedua, gangguan suara anjing dari rumah2 tetangga yg mengganggu tetangga lainnya yg tdk memelihara anjing.

Pernyataan Menag tsb bagi saya terlalu jauh utk disebut menyamakan atau menganalogikan. Di antara dua contoh gangguan suara dipisahkan dgn kalimat, "yg paling sederhana lagi". Kata "lagi" menunjukan bahwa gangguan yg ditimbulkan adzan itu contoh paling sederhana, dan gangguan yg ditimbulkan oleh suara anjing itu contoh paling sederhana lainnya. Mari kita kontruksi kalimatnya menjadi demikian:

"Contoh paling sederhana gangguan suara adalah suara dari banyak tempat ibadah yg volumenya keras dan terasa mengganggu bagi kalangan yg tdk seiman. Contoh paling sederhana lagi adalah suara keras hewan peliharaan dari banyak rumah tetangga yg terasa mengganggu tetangga lain yg tdk memeliharanya".

Kontruksi demikian muncul dalam fikiran saya sebagai pemahaman thd apa yg dikatakan oleh Menag. Kontruksinya tentu saja akan berbeda saat pernyataan Menag saya fahami sebagai menyamakan atau menganalogikan suara adzan dgn suara anjing. Saya akan memahaminya demikian kalau ada kata "seperti" atau "seupama". Kalimat berikut ini bisa difahami sebagai menyamakan: "Suara adzan itu seperti suara anjing". Kalimat berikut ini bisa difahami sebagai menganalogika: "Suara adzan itu seupama suara anjing".

Memang tdk mudah utk memahami hal terkait keyakinan ini. Sebagian kalangan mungkin sulit utk memahami, bagaimana bisa sebagian orang merasa tdk nyaman dgn suara lonceng gereja, tetapi tdk demikian dgn lonceng lainnya. Semakin banyak sumber lonceng gerejanya, semakin kuat gangguannya. Begitu pula sebagian kalangan merasa tdk nyaman dgn suara adzan dan semakin tdk nyaman saat sumber suaranya banyak, suaranya keras dan tdk dilantunkan dgn indah.

Saya melihat pengaturan ini semacam upaya utk menurunkan level ketidaknyamanan yg dirasakan sebagian kalangan tsb, selain juga agar terwujud ketertiban suara yg merambat melalui udara. Sulit bagi kita utk merubah hati kalangan tsb, sebab yg bisa merubahnya hanyalah Tuhan. Pengaturan diharapkan bisa mencegah timbulnya ekses negatif akibat perilaku buruk kalangan tsb yg muncul saat ketidaknyamanannya memuncak. Beberapa kasus pernah terjadi krn ekses tsb.

Agama mengajarkan kita utk tdk berlebihan, termasuk dlm menggunakan volume speaker. Sikap berlebihan dalam soal apapun dapat berdampak buruk bagi diri dan orang lain, dan menimbulkan kerusakan. Instruksi Dirjen tahun 1978 terkait pengaturan volume spekaer masjid yg didorong sosialisasinya dgn surat edaran menteri merupakan ikhtiar mencegah sikap berlebih dan kerusakan yg ditimbulkannya.

#PersepsiCahyana

22 Februari 2022

Minyak Goreng


Akhirnya saya menemukan penjual yg menjejerkan banyak minyak goreng di warungnya, setelah saya sulit menemukannya di minimarket dan supermarket. Harganya mahal, tapi bagi saya itu jauh lebih baik dari pada tdk ada, khususnya bagi UMKM yg mengandalkan minyak goreng dalam usahanya. 

Beberapa hari ke belakang saya juga menemukan komentar di thread teman yg menginformasikan minyak goreng tersedia di warung tertentu. Saya berfikir, andai warung-warung tsb menjualnya di lapak e-marketplace lokal, kita tdk akan kesulitan utk menemukannya saat membutuhkan, sehingga tdk perlu mengantri panjang utk mendapatkannya.

Namun ada yg mengagetkan dlm kesempatan membeli minyak goreng tsb. Istri saya menceritakan, ada seorang ibu yg turun dari mobil dan menyatakan niatnya utk membeli 100 buah minyak goreng. Seandainya setiap keluarga dijatah 2 buah saja, berarti ibu tersebut dapat membantu 50 keluarga. Di sisi lain, ada 50 pembeli yg berpotensi tdk menemukan minyak goreng di warung tsb, kecuali stok di warung tsb sangat banyak. Saya tdk tahu motifnya membeli sebanyak itu, entah utk dijual lagi atau lainnya. Tetapi saya berfikir positif saja, mungkin ibu tsb mau membagikannya kpd tetangga atau orang yg membutuhkan ... sekalipun dgn menjualnya kembali ibu tsb akan memperoleh untung cepat krn kelangkaan. 

Kembali ke warung tsb. Saya tahu ada penyalur yg mendistribusikan minyak goreng ke penjual tsb. Tentu saja penyaluran demikian lebih menguntungkan bagi distributor krn mereka bisa menjualnya sesuai dgn biaya produksinya yg tinggi, dari pada menjualnya sesuai HET. Temuan terakhir yg diberitakan terkait tumpukan minyak goreng di distributor mengungkap motifnya, yakni utk menghindari kerugian krn penjualan sesuai HET. 

Kelangkaan ini mengingatkan saya dgn masalah kelangkaan BBM di Papua yg disebabkan krn terhambatnya distribusi oleh cuaca. Banyak SPBU yg kehabisan stok krn BBM nya dibeli banyak oleh pengecer. Di tingkat pengecer, masyarakat membelinya dgn harga yg jauh lebih mahal dari harga normal SPBU. Saya membayangkan, seandainya harga minyak goreng di distributor sudah mahal, maka harga minyak goreng yg dijual oleh pengecer bisa lebih mahal lagi.

Dalam perjalanan pulang saya membicarakan persoalan tsb dgn istri. Ia berpendapat dgn pendapat praktis ibu rumah tangga yg merasakan benar kebutuhan minyak goreng. Menurutnya, seharusnya pemerintah membiarkan minyak goreng dgn harga realistis menurut perhitungan distributor. Sementara khusus utk keluarga miskin (saya tambahkan UMKM), diberikan bantuan utk mendapatkannya dgn harga murah di tempat tertentu. Ia tdk keberatan dgn harga mahal yg dipengaruhi oleh lonjakan CPO (bahan baku), dari pada susah menemukannya.

Kenaikan harga minyak goreng saat ini dipengaruhi oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) dunia. Faktor lain yg menyebabkan kenaikan harga nabati dunia adalah gangguan cuaca. Kewajiban pencampuran minyak sawit sebanyak 30% pada solar utk menekan laju impor BBM juga turut berpengaruh. Demikian pula dgn krisis energi di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal.

Salah satu artikel dari situs berita yg saya baca mengungkapkan, bahwa meskipun Indonesia adalah produsen crude palm oil (CPO) terbesar, namun kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO. Dengan entitas bisnis yang berbeda, tentunya para produsen minyak goreng dalam negeri harus membeli CPO sesuai dengan harga pasar lelang dalam negeri, yaitu harga lelang KPBN Dumai yang juga terkorelasi dengan harga pasar internasional. Akibatnya, apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga CPO di dalam negeri juga turut menyesuaikan harga internasional.

PILIH HARGA MAHAL TAPI ADA ATAU HARGA MAHAL TAPI LANGKA?

Saat biaya produksinya naik yg membuat harga produknya menjadi mahal, muncul tuntutan utk menurunkan harganya. Saat harganya diturunkan, distributor tdk mau rugi sehingga menahan distribusinya. Akibatnya, bukannya mendapatkan harga yg rendah, tetapi produknya jadi langka dan harganya masih tetap mahal. Pelajaran pentingnya adalah bahwa bersyukur dan bersabar itu baik. Ada barang walau harganya mahal krn biaya produksi yg tinggi jauh lebih baik dari pada barangnya langka dan harganya tetap mahal.

#PersepsiCahyana

17 Februari 2022

Budaya dan Dakwah Agama


Gagasan Islam sebagai budaya atau membudayakan Islam (sebagai lawan mengislamkan budaya) tertuang dalam buku Ma'alim fii Thariq yg ditulis oleh Sayyid Qutb (tokoh Ikhwanul Muslimin) yg menjadi referensi kalangan jihadis sampai sekarang. Gagasan demikian apabila dibarengi penolakan terhadap budaya lain mencerminkan kebiasaan penguasa di masa lalu yg gemar menghancurkan produk budaya saingannya atau di luar kelompoknya saat penaklukan, seperti bangunan, tulisan, dls; termasuk membunuh pembuat atau pewarisnya agar budaya tsb musnah.

Budaya populer itu makin dilarang makin menantang, terutama apabila masih ada pelaku budaya atau kesadaran umum akan arti penting menjaga budaya. Budaya itu timbul tenggelam dgn sendirinya, seiring dgn perkembangan pengetahuan atau munculnya budaya baru yg lebih menarik. Terkadang budaya lama begitu berat utk dipertahankan krn kebiasaan manusia yg mulai berubah dan ketidaksiapan budaya tsb utk beradaptasi.

Teknologi adalah salah satu komponen budaya. Sebagian kalangan memahami wayang atau gamelan sebagai teknologi atau outputnya. Lepas dari itu, keduanya merupakan media pembelajaran audio visual, tdk jauh berbeda dgn perangkat digital yg menayangkan film animasi edukatif. Kalangan pendidikan memahami bila pembelajaran dgn audio visual jauh lebih efektif dari pada audio semata. Efektivitasnya bertambah saat media tsb sesuai dgn karakteristik audien. Sunan Bonang ataupun Sunan Kalijaga yg menggunakan gamelan dan wayang sebagai media pembelajaran merupakan contoh pendidik yg faham teknologi pendidikan dan menerapkannya sesuai lingkungan.

#PersepsiCahyana

16 Februari 2022

Menghormati Bendera

Saat aktif di Pramuka Penggalang, saya menerima pengajaran dari kakak senior yg mengharuskan saya utk memuliakan bendera Merah Putih. Saat hujan harus diturunkan, dan saat jatuh ke tanah harus segera diambil. Dan itu benar-benar dipraktikan bersama adik kelas saat kegiatan Pramuka mingguan. Dalam pemahaman saya sekarang, memuliakan bendera seperti itu semata krn menghormati para pejuang. Berkibarnya Merah Putih di masa lalu itu sangat berat, bahkan harus berkorban nyawa. 

Saat kelas 3 SMA saya menghindari upacara bendera krn mendapat pemahaman lain, sekalipun tdk sampai memandang Sang Saka sebagai thought. Satu tahun itu saya piket terus di ruang PMR. Kemudian setelah kuliah saya berada di lingkungan kalangan tradisi yg menetralisir pemahaman keagamaan yg keliru, sehingga akhirnya cara pandang saya kpd bendera kembali seperti di masa aktif Pramuka lagi.

#BiografiCahyana

14 Februari 2022

Alasan Jalan Tidak Gratis

Di musim penghujan ini ada banyak sekali lubang di jalanan. Lubang tersebut membuat kaki-kaki kendaraan bermotor mengalami siksaan, sehingga penggunanya mungkin pada akhirnya harus mengeluarkan biaya service. Tetapi kerugian demikian tdk seberapa dibandingkan kehilangan nyawa. Ada kalanya lubang di jalanan menyebabkan pengendara mengalami kecelakaan. 

Semakin panjang jalan, semakin mahal biaya pemeliharaannya. Semakin terbatas anggarannya atau panjang proses birokrasinya, semakin lambat proses pemeliharaannya. Itulah mungkin sebab kenapa sebagian jalan menjadi jalan tol yg dikelola oleh swasta, di mana biaya pemeliharaannya dibebankan hanya kepada penggunanya saja. 

Kalau semua jalan gratis, hal tsb akan sangat membebani anggaran pendapatan dan belanja daerah, membebani seluruh rakyat baik yg menggunakan atau tdk menggunakan jalan tsb. Rakyat di pelosok ikut menanggung pemeliharaan jalan di tempat lain yg kondisinya jauh lebih baik dari jalan di tempatnya. 

#PersepsiCahyana