Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

28 Desember 2022

Phobia Agama


Terkadang sikap phobia agama seperti penolakan ibadah umat lain yg tertayang dlm konten medsos sdh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita. Sebagian orang dlm lingkungan pergaulan saya dulu memiliki sikap demikian, sehingga saat masih kecil saya terpengaruh dan merasa tdk suka dgn kemunculan dua tempat ibadah yg berdekatan di wilayah tempat tinggal tanpa bisa menjelaskan alasannya. Anak kecil memang meniru perilaku orang dewasa tanpa perlu alasan detail. Asal orang yg dilihatnya mengekspresikan hal tsb buruk, anak kecil akan mudah percaya bahwa hal itu buruk. Oleh krn nya konten intoleran akan menjadi materi pembelajaran yg negatif bagi anak dan remaja, sehingga perlu direspon oleh netizen yg membina toleransi.

Semua warga negara bersamaan kedudukan dan haknya dlm beribadah. Komunitas muslim dapat membangun masjid besar atau kecil di mana saja utk memenuhi kebutuhan ibadah warga sekitar, melakukan aktivitas keagamaan di rumah pribadi atau fasilitas umum yg diikuti oleh banyak orang dari luar wilayah, dan hal itu pastinya tdk serta merta membuat semua non muslim di sekitar menjadi mualaf. Saya sedari dulu bisa salat di masjid mana saja yg saya mau. Hal serupa harusnya berlaku sebaliknya, rumah ibadah non muslim boleh dibangun di mana saja, aktivitas ibadah bisa dilakukan di rumah sendiri atau fasilitas publik, di mana hal tsb tdk serta merta membuat muslim di sekitar akan menjadi murtad.

Tentang aktivitas keagamaan di rumah, saya melihat ada kesamaan antara komunitas muslim dan non muslim. Dlm video Kristian Hansen, penjelajah nusantara asal Denmark, saya melihat ada tradisi seperti tahlilan dlm suku Dayak Iban di Sungai Utik. Saat ada kematian salah satu warganya yg beragama Kristen, semua warga menyiapkan makanan utk beberapa kali seremoni. Apakah kita harus keberatan dgn aktivitas seperti itu, sementara non muslim tdk keberatan dgn tahlilan yg biasa dilaksanakan kalangan tradisi di lingkungannya? 

Dulu saya pernah mendengar cerita dari teman di lingkungan tentang seorang Kristen yg terungkap jati dirinya dari kalung salib yg tertutupi kerudung. Selama ini ia ikut pengajian utk mendengar tausiah yg menyejukkan. Ia dituduh sebagai mata-mata. Istilah mata-mata memiliki nilai polaritas negatif, sehingga orang dapat dgn mudah menyimpulkan non muslim tdk boleh berada di antara jema'ah pengajian. Dan akhirnya memang non muslim tsb tdk diperbolehkan lagi berada di lingkungan tsb. 

Padahal saya sering mendengar pengakuan non muslim yg senang menyimak acara pengajian di televisi. Bahkan di luar negeri sana, non muslim dapat mengunjungi masjid utk mengambil manfaat apapun. Tdk sedikit dari mereka yg memperoleh pengalaman keagamaan yg baik. Tentu saja tdk harus selalu berakhir dgn mualaf, sebab hidayah itu hak Allah semata. Boleh jadi pengalaman tsb menjadi bahan perbaikan bagi praktik keagamaannya yg tdk harus selalu dianggap utk kebutuhan kristenisasi atau semisal lainnya. 

Banyak cerita di lingkungan pergaulan saya dulu bahwa orang bisa murtad krn bantuan makanan. Tetapi masa iya alasannya hanya krn mendapat satu kardus mie instan?. Saya percaya orang bisa pindah agama krn melihat jema'ah agama lain lebih baik akhlaknya dari jema'ah agamanya sendiri. Saya meyakini demikian berdasarkan dialog dgn seseorang yg berniat pindah agama krn alasan buruknya perilaku sebagian kelompok umat Islam. Alasannya bermotif phobia krn generalisasi keliru yg juga dialami masyarakat barat. Oleh sebab itu saya pikir, cukup perbaiki saja kualitas ajaran agama dan perilaku beragama di tengah masyarakat utk menjaga keimanan warga agamanya yg berakal dan bernurani baik, tdk perlu dgn bersikap intoleran yg hanya memicu phobia di kalangan yg memiliki kerancuan berpikir. 

Saat sebagian kelompok muslim mempersulit pemenuhan kebutuhan agama umat lain, mungkin mereka lupa akan perjanjian Nabi Muhammad SAW utk melindungi ibadah umat Kristen di Najran. Mereka lupa bahwa beliau pernah bersabda, "Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.” (HR Imam Thabrani); "Ketahuilah, bahwa siapa yang menzalimi seorang mu’ahad (non-Muslim yang berkomitmen untuk hidup damai dengan umat Muslim), merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat" (HR imam Abu Dawud).

#BiografiCahyana

21 Desember 2022

Can’t move the folder because there is a folder in the same location that can’t be redirected

Ever had trouble moving the Documents location to another location and seeing this message: Can't move the folder because there is a folder in the exact location that can't be redirected? The Documents location is always in a OneDrive subfolder, so all files stored in that folder will be backed up by Microsoft to OneDrive. Here are the steps you can take to change the document location so it is not in a OneDrive subdomain:

  1. Open Settings
  2. Select the Accounts menu, then Windows Backup
  3. Click the Manage sync settings button, then turn off backup for Documents

Good luck!

Yang Lebih Bermakna dari Gelar Duniawi


Alhamdulillah, akhirnya dua mahasiswa yg saya bimbing dapat mengikuti wisuda tahun ini. Salah satu di antaranya memiliki IPK di atas 3.8 yg bila saja tepat waktu akan menjadi lulusan dgn predikat Cum Laude. Saya yakinkan dirinya bahwa bekal terpenting di dunia nyata itu bukan predikat tsb, tetapi apa yg bisa dia lakukan dgn gelar akademik yg dimilikinya sekarang.

Mungkin ada banyak mahasiswa sarjana yg begitu senang karena mendapat tambahan gelar akademik di belakang namanya, hal yg tdk pernah diperoleh selama menempuh pendidikan dari jenjang dasar. Seandainya mereka tdk tahu konsekuensi dari gelar tsb, mereka tdk akan pernah menjadikan gelar sebagai tujuan studinya, tetapi manfaat dari proses studi yg dijalaninya. Imam al-Ghazali dlm Ayyuhal-Walad menganggap tujuan belajar utk mendapatkan gelar sebagai motif tercela. 

Gelar akademik adalah pengakuan terpenuhinya kompetensi sesuai jenjang dlm bidang ilmu yg dipelajari. Setiap mahasiswa yg menyandang gelar tsb harus menunjukan manfaat nyata dari kompetensi tsb. Kompetensi yg dapat ditunjukannya sepanjang manfaat yg dipetiknya dari proses studi. Tentunya tdk harus semua bisa dikuasai, tetapi setidaknya ada satu yg dikuasai mendalam sesuai pilihan topik penelitiannya. Sayangnya, sejumlah wisudawan yg merasa senang dgn gelar tsb tdk mampu menunjukannya di dunia nyata krn selama ini ia bersandar pada hasil pekerjaan teman kuliahnya atau alumni.

Oleh karenanya saya memberi nasihat kepada mahasiswa tingkat satu yg saya ajar pada semester ini agar mereka tdk menjadikan gelar dan status sosial sebagai tujuan. Mereka harus fokus pada setiap manfaat yg diperoleh dari proses studinya. Tdk perlu terlalu memikirkan nilai, sebab proses tdk akan mengkhianati hasil, dan tiada guna nilai baik bila diperoleh bukan hasil jerih payah sendiri. Mereka harus mengerjakan semampunya dgn hasil akhir atau nilai seberapapun. Hasil atau nilai itu bahan evaluasi yg penting dlm upaya pembangunan diri. Evaluasi tdk bisa dilakukan bila hasil atau nilai itu tdk murni upayanya. 

Apabila mereka berhasil membangun diri, masyarakat akan merasakan manfaat kehadiran mereka dlm masalah sesuai kompetensi dan bidang yg tercermin dari gelar akademiknya. Kompetensi dlm diri ini yg lebih penting dari gelar. Mahasiswa yg merasa kompetensinya masih perlu berkembang akan bersikap tawadhu dan tdk menyebut-nyebut gelar akademiknya. Mahasiswa yg beriman akan senantiasa insyaf bahwa gelar terpenting itu di sisi Allah dan hanya utk dilihat oleh Allah, yakni taqwa yg diejawantahkan dlm pribadi baik yg banyak memberi manfaat bagi umat manusia. Bila gelar terpenting saja tdk utk dibanggakan kpd manusia, apalagi gelar keduniaan.

#BiografiCahyana

18 Desember 2022

Tergores itu Menyakitkan


Baru terlihat goresan-goresan pada tubuh kendaraan pada malam hari ini. Saya paling malas parkir kendaraan di tempat parkir umum yg berdempetan krn terkadang kendaraan kita yg masih mulus saat datang bisa menjadi ada baret di mana-mana saat pulang. Di parkiran mall pernah dapat oleh-oleh berupa lekukan pada pintu, nampaknya bekas pintu mobil lain. Terlihat dari cat mobilnya yg menempel.

Jangankan di parkiran yg berdempetan, sekalinya parkir di depan kampus, dapat oleh-oleh berupa goresan tulisan di atas kap mobil. Mobil parkir di rumah pun dapat goresan gambar khas buatan anak kecil. Saya baru faham, knp banyak orang melapis body kendaraannya. Rupanya utk mengurangi dampak goresan. Saya dan istri termasuk orang yg tdk suka dgn baret-baret pada kendaraan. Terkadang kalau sedang ada rejeki, part yg baret itu diganti dgn part baru. Apa mungkin saya perlu pasang dash cam sekedar utk mempelajari orang seperti apa yg suka menggores kendaraan? Tapi rasanya itu bukan pekerjaan yg penting.

Saya selalu mengingatkan anak saat mau turun di parkiran agar berhati-hati saat membuka pintu mobil, jgn sampai mengenai kendaraan di sebelah. Saya teringat sebiji debu yg kita ambil dari rumah tetangga akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat sana, dan menimbulkan kerugian bila tetangga tdk mengikhlaskannya. Oleh krn nya saya meminta izin ke tetangga saat mau ikut menempel atap garasi.

Demikian pula cacad pada kendaraan orang lain yg disebabkan oleh kendaraan kita akan dimintai pertanggung jawaban. Beruntung kalau kita bertemu dgn pemilik kendaraannya dan meminta maaf, masalahnya selesai di dunia ini. Pengurangan beban amal baik atau penambahan amal buruk di akhirat sana lebih menakutkan dari pada kehilangan dunia dan segala isinya.

Keberagamaan idealnya dapat membuat kita menjadi insan yg baik. Namun kenyataannya kebiasaan kita terkadang tdk lebih baik dari pada orang Jepang. Seorang wanita yg menabrak kendaraan saya dari belakang malah berlalu sambil tertawa, bukannya berhenti dan meminta maaf. Mungkin karena merasa kejadian itu tdk disengaja, sehingga ia merasa tdk perlu utk meminta maaf. Setelah memeriksa keadaan bumper, saya tdk mengingat wanita tsb dlm perjalanan. 

Namun beda hal nya dgn dua bocah yg melajukan motor dari arah berlawanan yg sengaja mendekat ke arah kendaraan saya. Bocah yg diboncengnya memukul spion dgn helm, sehingga kaca kendaraan pecah krn terkena bantingan spion. Suara kaca pecah itu sangat keras. Saya sempat menghentikan kendaraan dan mau ke luar, tapi tdk jadi krn khawatir dgn kaca yg sudah retak dan hanya tertahan plastik anti UV. Sepanjang jalan dan hingga saat ini saya masih teringat kejadian tsb, mungkin karena trauma. Saya selalu membayangkan, dosa kita kpd orang lain yg blm dimaafkan dapat menjadi penghambat datangnya rejeki. Semoga Allah mengampuni dosa lalu dan yg akan datang, amin.

#BiografiCahyana.

Menjaga Akidah dengan Akhlak Toleran

Miris sekali bila ada sekumpulan penduduk lokal yg agamanya diakui oleh negara, tetapi tdk punya rumah ibadah di lingkungannya, sampai beribadah di rumah dan disarankan beribadah hari raya di tempat ibadah yg berada di luar lingkungannya. Padahal umat beragama lain dapat membangun tempat ibadah kecil dgn mudah dan beribadah hari raya di luar tempat ibadah. Terkadang orang begitu khawatir akidahnya berubah dgn keberadaan simbol-simbol agama. Padahal yg mendorong pencari agama yg sebenarnya bukanlah kehendak utk menyematkan simbol agama yg hanya sekedar tampilan saja, tetapi ajaran yg membuat hidupnya menjadi lebih baik dan damai.

Mungkin kita bisa belajar dari penjual produk makanan, di mana kemasan merupakan simbol  yg dapat menimbulkan daya tarik, sehingga konsumen tertarik utk membelinya. Tetapi yg membuat konsumen terus mengkonsumsi bukan kemasannya, tetapi rasa makanannya. Desain kemasan semenarik apapun kalau rasa makanannya tdk lebih enak dibandingkan produk lain atau bahkan tdk enak sama sekali, sudah pasti bakal ditinggalkan. Kesuksesan bisnis makanan itu terletak pada rasa makanan.

Demikian pula dgn agama. Ada banyak pembangunan rumah ibadah yg megah, indah, dan unik, tetapi bila minat orang ke sana hanya sekedar penasaran ingin melihatnya secara langsung dan selfie, itu baru sebatas upaya menimbulkan daya tarik saja. Tetapi urusan terpentingnya adalah mereka betah atau tdk, sehingga jama'ah nya banyak. Betah itu bukan sebatas betah di dlm rumah ibadah krn indah, nyaman atau adem, tetapi betah di luar rumah ibadah krn agama membuat hidupnya menjadi lebih nyaman dan adem.

Agama itu menawarkan jalan hidup yg baik. Bila kita duduk di tempat ibadah yg besar dan indah, tetapi di dalamnya ada pengajaran agama yg membentuk perilaku intoleran yg tdk indah, sehingga di tengah masyarakat audiennya menjadi sosok yg menolak kehadiran kelompok lain yg berbeda, mudah menstigma negatif thd kelompok tsb, bersikap diskriminatif dlm kehidupan sosial, dan bahkan melakukan serangan psikis hingga fisik ... para pencari jalan hidup yg baik pasti akan meninggalkannya. Bahkan bila para pencari tersebut memiliki cara berpikir generalisasi keliru yg membuatnya beranggapan sikap intoleran atas nama agama yg ditunjukan oleh sekelompok orang itu sebagai ajaran agama secara umum, sudah pasti mereka akan mencari agama lain atau memilih tdk beragama. Buat apa bangunan rumah ibadah megah dan mewah bila jema'ah nya sedikit, atau banyak dikunjungi hanya krn motif wisata saja?.

Menjaga akidah itu bukan dgn menolak keberadaan rumah ibadah yg menjadi kebutuhan umat beragama, menolak mereka beribadah di ruang publik sebagaimana umat lainnya, tetapi dgn menunjukan akhlak yg baik terhadap umat beragama yg beragam, seperti saling melayani dan melindungi sebagai konsekuensi dari komitmen hidup berbangsa dan bernegara. Sikap intoleran tdk menjaga akidah dan kontradiktif dgn syiar agama. Upaya membangun agama mula-mula bukan mendirikan bangunan ibadah, tetapi menyampaikan pengetahuan yg mengubah cara berpikir dan perilaku, atau jalan hidup. Sejarah Nabi mengajarkan kpd kita, pengajaran yg meluruskan pemahaman Ketuhanan serta membangun kesetaraan dan toleransi itu lebih dahulu dilakukan dari pada membangun rumah ibadah. Hal itu menunjukan bahwa esensi agama itu ada dlm pengajaran dan pengamalannya. Nabi diutus utk membangun akhlak yg baik. Tetapi herannya, kita melihat ada sekelompok orang yg mengatas namakan agama berlomba-lomba dalam membangun rumah ibadahnya dari besar hingga kecil di mana-mana, tetapi menolak rumah ibadah yg dibutuhkan oleh umat lain di mana saja dgn bersandar pada prasangka dan pemahaman keagamaan intoleran yg tdk dicontohkan oleh Nabi.

#PersepsiCahyana

04 Desember 2022

Gempa Garut di Penghujung Tahun


Sabtu, 3 Desember 2022. Saya merasakan mobil bergoyang lama pada sore hari itu di rest area jalan tol Padaleunyi. Saya memutar memori utk membuat dugaan apa yg terjadi. Di antara yg muncul adalah pengalaman macet di atas jembatan Cimanuk, di mana suspensi jembatan menimbulkan efek goyangan pada kendaraan. Pengalaman lainnya adalah goyangan kendaraan yg disebabkan oleh rusaknya engine mounting. Pengalaman terakhir adalah terdampak mobil diesel sebelah. Dari semua pengalaman tsb saya merasa masuk akal dgn dampak ketiga. Kemudian saya melihat ke sebelah kanan dan nampak mobil tsb sedikit bergoyang. 
Tdk lama kemudian istri masuk mobil dan bertanya perihal goyangan yg dirasakannya saat di masjid. Ia merasakan gempa dan mengkonfirmasikan perasaan tsb kpd orang lain di masjid. Tetapi orang tsb membuat kesimpulan yg sama dgn saya, yakni goyangan tsb tejadi krn kendaran yg lewat. Sebelum menduga gempa, istri saya juga memutar memorinya dan menemukan sejumlah alternatif sebab kejadian tsb, di antaranya gempa dan kondisi tubuh yg kelelahan. 

Sesaat kemudian, keluarga di Subang melakukan panggilan video conference. Orang tua dan kakak menanyakan kondisi kami. Mereka mengabarkan gempa besar yg baru saja terjadi di Garut. Kami kabarkan kondisi baik-baik saja, hanya anak tertua yg berada di rumah belum dihubungi. Setelah itu, istri menghubungi anak dan kami mendapat kabar bila ia tdk merasakan apapun. Demikian pula kabar yg sama dari saudara lainnya yg tinggal di daerah sekitar. Walau nampak aman, namun istri meminta saya utk segera meluncur ke Garut. 

Setelah saya buka smartphone, ada banyak tags di pesan WA dan pesan FB yg masuk dan menanyakan kondisi dan mendoakan keselamatan saya. Saya kabarkan kondisi saya dan Garut yg baik-baik saja. Laporan sementara dari relawan PB, hanya sedikit bangunan yg terdampak tanpa korban jiwa. Namun rilis resminya blm disampaikan oleh BNPB. Semoga saja tdk ada dampak yg berarti dan tdk ada korban jiwa, amin. 

Insiden tsb mengingatkan saat kuliah S2 dulu. Mahasiswa turun dari lantai III ke parkiran saat merasakan goncangan yg besar. Saya mendapat kabar dari teman kalau gempa tadi berpusat di Garut. Saya menjadi khawatir atas anak dan istri, sehingga meminta izin utk pulang melihat kondisinya. Dgn cepat saya melajukan Jupiter-MX dari Taman Sari ke Garut. Sesampainya di rumah saya menemukan keluarga baik-baik saja. Istri mengabarkan beberapa genting rumah berjatuhan saat gempa terjadi. 

#BiografiCahyana

28 November 2022

Afiliasi


Teringat dulu pernah duduk semobil dgn Harry Moekti yg saat itu tdk berkenan disopiri oleh perempuan. Dulu saya mengusulkan utk mengundangnya krn melihat sosok nya selaku figur publik yg bermanfaat utk promosi perusahaan, bukan krn afiliasinya yg tdk banyak saya ketahui. Sebagian orang di lingkungan saat itu mengira saya satu afiliasi.

Saat itu saya sedikit tahu tentang pertarungan ideologis antara pan islamisme dan nasionalisme sekuler, serta gesekan pemahaman antara islam tradisi dgn puritan. Tetapi saat itu saya tdk berminat pd konflik tsb, sehingga cenderung berkawan dgn siapapun yg berlatar belakang apapun. Namun saat ini saya mulai memahaminya dlm perspektif luas, sehingga cenderung berdiri di satu sisi yg dianggap paling moderat utk menangkal serangan yg merusak citra agama, bangsa, dan negara.

#BiografiCahyana

18 November 2022

Saat Energi Telah Berkurang


Kalau lagi gangguan saluran pernafasan begini jadi teringat masa kontrol ke dokter spesialis THT di rumah sakit dekat kampus. Walau dokter nya bukan muslim, tetapi beliau sering mengutip sunnah Nabi saat memberi tips menjaga lambung. Tentunya tdk dgn membaca teks Arab nya, tetapi saya tahu yg beliau sampaikan memang ada hadits nya. Beliau mengatakan bahwa Nabi SAW tdk menelan makanan dgn tergesa-gesa, tetapi melembutkan makanannya terlebih dahulu dgn banyak mengunyah. 

Dokter THT tsb yg meruntuhkan dugaan belasan tahun terkait batuk yg terjadi sejak jaman bujang dulu. Saya fikir itu krn masalah paru-paru atau THT, sehingga saya sering mengobatinya dgn obat batuk warung. Ternyata pemicu batuknya adalah radang tenggorokan yg dipicu oleh asam lambung. Saat saya menyalahkan masa lalu, dokter mencegah dan mengatakan bahwa yg terpenting adalah bagaimana kita di masa depan. 

Pola makan saya di masa bujang memang terbilang ekstrim, tdk mau makan lebih dari sekali dlm satu hari. Disiplin diri yg membuat tubuh saya kering, sampai saya mendengar keluhan diri sendiri. Teringat pak Bunyamin Musaddad pernah menasihati saya soal kebiasaan tsb dan membelikan nasi goreng. 

Sekarang saya tdk kontrol lagi ke Bandung krn sudah menemukan dokter internis yg cocok di Garut. Alhamdulillah, masalah saluran nafas selesai dgn obat racikan yg diberikan oleh dokter internis. Bagi saya mahalnya harga obat racikan tdk masalah yg terpenting sehat. Tetapi saya masih teringat nasihat pak Abdullah Margani Musaddad agar saya membatasi konsumsi obat kimia. Nasihat beliau benar sekali. Saya hampir tdk berhenti mengkonsumsi obat kimia bertahun-tahun hanya utk meredakan batuk. 

Namun yg terpenting bagi saya sekarang ini adalah mengelola pekerjaan dan pikiran, mulai membatasinya, melepaskan beban-beban yg tdk perlu sampai bisa menikmati senyum dan tertawa lagi. Dengan itu saja saya masih sesekali mengalami masalah saluran nafas lagi seperti sekarang ini. Saya tdk bisa lagi membebani diri dgn multi tasking dan kerja rodi seperti masa bujang dulu. Usia yg bertambah telah merenggut banyak energi. Mungkin hanya energi berfikir yg tdk ada habisnya, walau membaca sebagai aktivitas pendahuluannya cukup melelahkan. 

#BiografiCahyana

Meninggalkan Bayangan untuk Cahaya


Saat cahaya Nya hadir, maka segala cahaya menjadi redup dan segala wajah menjadi sirna. Hanya ada Dia dan tdk ada aku. Segala bayangan menjadi sirna.

Mengakui bayangan diri merupakan sebentuk kekhilafan akan Kekuasaan Nya yg menyirnakan segalanya. Dalam keadaan demikian lebih sulit bagi seseorang utk mengingat Nya yg mengaruniakan kebaikan dari pada berusaha melihat mahluk yg memberikan kebaikan itu. 

Walau demikian, orang tdk beruntung saat kesulitan melihat orang yg berbuat baik kpd dirinya dan kesulitan mengingat Nya, sehingga cenderung tdk menikmati perbuatan tsb. Dia tdk berhasil sampai kpd kesadaran akan kebaikan Khalik dan mahluk Nya. Orang yg beruntung mampu bersyukur kpd Khalik dan mahluk Nya.

#PersepsiCahyana

12 November 2022

Tuhan dan Sistem Biner Nya


Tuhan menciptakan sesuatu secara berpasangan. 

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)" (QS. Az Zariyat: 49).

Sebagai anak informatika saya menyebutnya sistem biner yg dapat tersaji dalam bentuk hidup dan mati, terang dan gelap, kebenaran dan kebatilan, golongan kanan dan kiri, jalan lurus dan menyimpang, atau semisal lainnya. Setiap unit terkecil nya dapat terbagi menjadi dua, seperti jalan menyimpang terbagi menjadi jalan yg ditempuh kluster sesat dan dimurkai.

"Tunjukilah kami jalan yg lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” (QS. al-Fatihah: 7)

Setiap unit terkecil memiliki intensitas positif atau negatif minimum hingga maksimum, sehingga intensitas biner nya akan membentuk polaritas negatif dan positif. Sebagai contoh gelap yg berangsur menghilang krn digantikan oleh terang yg meningkat intensitasnya secara bertahap, dan demikian pula sebaliknya. Proses tersebut menciptakan gradasi yg indah. Dalam contoh pelangi, rentang polarisasi itu membentuk beragam warna. Lapisan yg rapi itu utk mewujudkan keseimbangan, sebagaimana hal nya lapisan langit.

“Dia (Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk : 3)

Demikian pula manusia dlm proses pembentukannya, berubah dari pendek atau kecil menjadi tinggi atau besar, dan dalam rentang usia tertentu manusia diberikan pelayanan dan tempat yg khusus. Dgn adanya sistem biner dan polaritasnya, kita dapat memahami kenapa manusia tdk dapat menjadi satu kelompok saja di dunia ini. Bahkan di akhirat sana, Tuhan menyediakan 7 surga dan 7 neraka yg akan diisi oleh kelompok berbeda. Semua terjadi karena sistem biner yg Tuhan ciptakan agar manusia melihat kehebatan Nya.

"Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan". (QS. an-Nahl: 93)

Sistem biner itu hanya ada dua dan tdk ada yg ketiga. Keduanya saling bertentangan, sehingga tdk ada sesuatu yg memiliki keadaan bertentangan sekaligus. Sebagaimana kebenaran yg berlawanan dgn kebatilan dan tdk dapat tercampur.

"Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. Padahal kalian menyadarinya,” (QS. Al-Baqarah: 42).

Larangan mencampur menunjukan sifat keduanya yg berlawanan. Salah satu unsurnya memiliki dua kondisi yg berlawanan, yakni tersembunyi dan terekspos. Setiap unitnya memiliki polaritas dgn rentang sangat tersembunyi hingga sangat terekspos. 

Aturan tersebut merupakan tiga kaidah berfikir, mencakup 1) law of identity, di mana A=A, dan B=B, tdk mungkin A=B; 2) Law of Non-Contradiction, di mana tdk mungkin kondisinya A dan B; dan 3) Law of Ecluded Middle, di mana salah satunya harus benar, tdk mungkin ada yg ketiga. 

Pilihan banyak itu hanya ada dalam A atau B. Bila A adalah kebenaran, maka a1, a2, ... an mewarisi kebenaran tsb, sehingga kita bisa memilih lebih dari satu a. Walau a1 berbeda dgn a2, tetapi nilai keduanya sama, yakni benar. Seperti kita boleh memilih lebih dari satu cara hidup, tetapi tdk boleh memilih satu pun cara utk mati (bunuh diri). 

"Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

07 November 2022

Kemudahan yang tidak bisa Dipaksakan


Kemarin ada seorang pria datang ke rumah dan meminta nasi utk anaknya. Saya lihat dia bersama istri dan anak-anaknya. Istri dan anak perempuannya bercadar, sementara dia dan anak laki-lakinya mengenakan pakaian khas tertentu. Kemudian saya meminta istri untuk segera menyajikan nasi dan lauk di ruang tamu.

Saya memanggil dia utk datang bersama keluarganya. Pria berlogat Jawa tersebut menceritakan musibah yg menimpanya. Tasnya yg berisi uang hilang diambil orang saat berada di kendaraan umum. Dia berniat pulang ke Solo dgn berjalan kaki atau menumpang truk. Saya pun iba mendengarnya, terlebih dia membawa anak  kecil.

Setelah selesai salat Dzuhur, saya menghampirinya. Saya menawarkan bantuan, mengantarkannya dgn kendaraan. Saya berniat membelikan tiket bus utk mereka. Saya berkata, "Ikutlah dgn saya agar perjalanan pulangnya lebih ringan".

Tetapi pria itu menolak dan mengatakan hidangan nasi saja sudah sangat cukup. Saya mencoba meminta istrinya utk menjawab tawaran saya, tetapi istrinya tdk berkata apa-apa. Kemudian saya berkata, "Baiklah, setidaknya saya sudah menawarkan bantuan".

Sebenarnya secara alami, manusia akan cenderung pada kemudahan. Saat manusia berada dlm kesulitan dan melihat ada kemudahan, manusia akan melihatnya sebagai kemudahan dari Allah. Tetapi tdk semua orang terbiasa menerima sesuatu dari orang lain.

Saya bisa saja memaksanya utk menerima bantuan ini, terlebih saya mengharapkan kemudahan yg Allah janjikan bagi siapa saja yg memberi kemudahan bagi orang lain. Tetapi saya merasa khawatir paksaan itu malah menjadi kesulitan bagi dirinya, sehingga saya dgn berat hati membiarkannya berjalan bersama keluarganya.

#BiografiCahyana

30 Oktober 2022

Nikmat Berlebih

Saya membaca kutipan perkataan kyai Gus Baha. Kemudian saya mulai berfikir bahwa semua yg kita nikmati, baik kecukupan atau kebahagiaan, hakikatnya adalah pemberian Allah. Hal tsb mengharuskan kita utk lebih berharap kpd Allah dari pd harapan kpd siapapun, krn selain Allah pastinya memiliki keterbatasan dlm memenuhi semua harapan. 

Apa yg kita nikmati, mungkin akan terasa tdk layak bagi kita, terlalu mewah, bila mengingat segala kekurangan yg ada pada diri, sehingga pemberian Nya itu benar-benar merupakan pemberian berlebih. Bila pemberian itu kemudian terasa kurang atau berkurang, kita tdk berani mengeluhkannya krn merasa malu kpd Nya.

#PersepsiCahyana

27 Oktober 2022

Peran Agen Teroris dalam Kampanye Distrust


Kemenangan terorisme itu ternyata tdk perlu meletuskan peluru, cukup meletuskan prasangka. Di saat aksi teroris digagalkan oleh aparat keamanan di dunia nyata, akan ada netizen yg melanjutkan serangan mereka kpd aparat keamanan di dunia maya dgn beragam prasangka. Netizen tsb menjadi agen yg melaksanakan kampanye distrust meluas di media sosial secara sukarela. Teroris akan merasa senang bila distrust dapat melemahkan pemerintah.

Kampanye tsb merupakan dukungan secara tdk langsung terhadap terorisme. Netizen yg menjadi agen boleh jadi tdk terafiliasi dgn organisasi teroris dan hanya sekedar memanfaatkan pemberitaan utk meluapkan emosi. Aparat keamanan harus menangani terorisme dgn baik agar tdk ada peluang kesalahan yg dimanfaatkan oleh para agen sebagai bahan kampanye distrust. Agen yg tengah melakukan kampanye buruk dlm kondisi mabuk emosi harus segera disiram dgn air pengetahuan.

#PersepsiCahyana

21 Oktober 2022

Kembali lah sebagai Nyai


Beberapa tahun ke belakang saya bertemu dgn seorang mantan nyai - istri kyai. Ia bercerita bahwa pada awalnya ia adalah seorang mualaf, bertemu dgn kyai di pesantren, dan dinikahkan sebagai istri ke sekian. Ia memutuskan utk berhenti jadi nyai krn tdk cocok dgn lingkungan pesantren yg berbeda dgn lingkungan keluarganya. Perbedaan itu membuatnya merasa tdk bebas, sehingga akhirnya memutuskan utk berhenti menjadi nyai. Padahal kyai dan anak tiri nya sangat sayang dan berharap ia kembali. Namun dlm kebebasan yg dijalani nya ia merasa tdk bahagia. Ia merasa tdk nyaman dgn sikap santri yg menurutnya terasa feodal dan ia tdk siap dimadu.

Saya jelaskan kpd nya bahwa sikap santri itu bukan feodal, tetapi sikap hormat kpd orang yg memiliki keutamaan ilmu. Hal berbeda dgn sikap merendah seseorang kpd penguasa krn jabatan atau kpd hartawan krn kekayaannya yg merupakan sikap feodal yg tdk diperbolehkan di dalam Islam. Saya pun menjelaskan kpd nya bahwa kyai yg sejalan dgn Nabi itu menikahi banyak wanita bukan krn memperturutkan hawa nafsu, tetapi utk menyambung tali kekerabatan dgn keluarga besar pesantren lainnya atau dgn kelompok masyarakat tertentu yg dipandang berpengaruh, dan tujuan lain yg mengarah kpd syiar Islam.

Setelah ia memahami penjelasan tsb dan dapat menerimanya, saya menyarankannya utk kembali kpd kyai dan anak tiri yg disayanginya. Saya katakan, kembali lah sebagai nyai dan lupakan pria lain yg ingin mempersuntingnya sebagai istri ke sekian. Saat itu ia kaget karena saya menyebut nama pria yg bermaksud mempersuntingnya. Saya memberi nasihat demikian karena berhasil diyakinkan oleh dirinya kalau kyai selalu menanti kepulangannya ke pondok pesantren. Dan Alhamdulillah, beberapa hari kemudian ia mengabarkan akan kembali, dijemput oleh anak tirinya. Ia berjanji akan mengundang saya ke pesantren apabila sudah kembali ke sana.

Sebenarnya saya tdk ingin mengingat pengalaman tsb, sehingga saya tdk menyimpan nomor kontak nya atau akun facebook nya. Dan saya tdk memandang penting janjinya, krn yg penting bagi saya ia dapat kembali ke lingkungan yg jauh lebih baik dari lingkungan bebas nya. Dalam cerita ini saya tdk menyebutkan nama pesantren dan lokasinya di mana, sebab yg terpenting adalah pelajaran yg dapat saya petik dari pengalaman tsb, bahwa seseorang dapat merasa tdk cocok dgn lingkungan karena belum memahaminya dgn baik, dan lingkungan lain yg menurutnya baik belum tentu menyediakan kasih sayang yg tulus dan masa depan yg baik.

Selamat Hari Santri Nasional
#BiografiCahyana

09 Oktober 2022

Kesetaraan dan Daya Tarik

Sabtu, 8 Oktober 2022, saya menghadiri acara Alumni GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin). Sebelum berangkat ke sana, saya memikirkan kalam Allah tentang kemuliaan orang bertakwa di sisi Allah dan kisah Adam dan Iblis di surga. Kisah tersebut ternyata menjadi bahasan mas Mury dalam acara tsb, hanya saja firman Allah tersebut tdk masuk dlm materi ttg sifat sombong. 

Selepas sesi materi tsb, saya diminta oleh mas Lucky untuk menyampaikan pendapat ttg komunitas Alumni GMA. Saya mengawalinya dgn pengertian kata komunitas dari Kamus Besar yg berarti sekumpulan orang yang meminati sesuatu. Apa yg alumni minati terganbar dari perjalanan mereka dari awal bergabung. Saya pribadi dari awal bergabung sangat tertarik dgn pengkayaan pengetahuan, sehingga sampai sekarang masih sering membagikan tulisan dan membangun diskusi keilmuan di WAG GMA. Pengkayaan tsb bagi saya merupakan jalan mencintai diri sendiri dan teman diskusi yg meminati ilmu.

Selanjutnya saya fokus pada isi materi pembahasan dlm dua pertemuan alumni yg mengangkat pesan tentang kesetaraan. Kebetulan pesan tsb berkaitan dgn ayat al-Qur'an yg relevan namun belum muncul di dua pertemuan tsb. Saya kutip firman Allah SWT tentang kedudukan mulia dari ayat berikut: 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS al-Hujurat: 13)

Saya sampaikan bahwa atribut terpenting dari alumni bukanlah atribut keduniaan seperti harta atau jabatan, sehingga atribut tersebut seharusnya tdk menjadi gangguan dlm interasi. Atribut terpenting adalah takwa yg hanya diketahui secara persis oleh diri masing-masing dan Allah selaku penilai. Sekalipun setiap orang dapat beramal takwa dan berlomba-lomba di dalamnya, tetapi tdk ada seorang pun yg dapat merasa paling bertakwa dari orang lain sebab tdk ada yg bisa menilai secara persis kecuali Allah saja. 

Demikianlah alumni dari awal bergabung dan seharusnya sampai sekarang, yakni senantiasa beramal takwa semata krn mengharap ridha Allah, sebagaimana diajarkan oleh al-maghfurllah mas Yudho semasa kepemimpinannya di GMA. Dlm pertemuan terakhir sebelum meninggal beliau berpesan dgn mengutip firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)

Pesan itu bagi saya pribadi merupakan isyarat agar alumni GMA yg telah berkeluarga mulai berperan sebagaimana beliau di GMA, yakni mengajarkan mardhatillah kpd keluarga masing-masing, menjadikan rumah sebagai representasi GMA di level keluarga. Peran alumni tdk lagi menjadi pendengar pesan mardhatillah, terlebih sumber pesannya telah melanjutkan perjalanan di alam lain, tetapi sebagai penyampai pesan berdasarkan pengalaman yg selama ini diperoleh di GMA.

Selepas acara saya singgah di rumah mas Lucky. Bagian yg selalu saya sukai dari interaksi dgn nya adalah diskusi. Sebagian besar anggota GMA berbagi pengetahuan tdk dgn menjadi pemateri, tetapi menjadi mitra diskusi. Malam itu kami mendiskusikan banyak persoalan, mulai dari pemikiran ulama dlm garis keilmuan syadziliyyah, seperti syekh Ibn Athoillah dan Imam al-Ghazali, hingga pembelajaran mesin yg menjadi topik riset saya. 

Kami bersepakat dgn berdasarkan pendapat Ibn Athaillah bahwa menjadi hamba Allah itu dimulai dari meniatkan semua amal baik krn Allah. Ini sejalan dgn konsep mardhatillah yg secara luas dapat merubah amal baik apapun sebagai ibadah. Sebagai anak informatika, saya akan menjadi hamba Allah dgn meniatkan semua amal profesi semata krn mardhatillah. Imam al-Ghazali secara khusus menyusun tangga-tangganya dalam kitab Minhajul Abidin. 

Dulu ibu berharap setelah saya menimba ilmu di pondok dapat melaksanakan tugas keagamaan. Sebagai orang yg lebih mendalam dlm bidang informatika, saya menghindari tugas yg tdk dikuasai secara keilmuan. Saya memilih tugas relawan TIK atau literasi digital yg secara substantif sejalan dgn ajaran Islam. Melawan ujaran kebencian dan hoax adalah amal ibadah yg saya lakukan sebagai anak informatika. Mengingatkan keluarga besar GMA di WAG alumni akan bahaya konten hoax merupakan pengamalan pesan menjaga keluarga dari api neraka. Terkadang saya harus berdebat utk melaksanakan tugas tersebut.

Saya mengutip pendapat Imam al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad, bahwa berdebat itu boleh dgn niat utk menyampaikan kebenaran dan mengambil kebenaran dari siapapun. Kebenaran manusia itu nisbi, sehingga kebenaran itu menjadi kebenaran selama belum ada yg meruntuhkannya. Oleh karena itu, sikap saya yg meyakini suatu kebenaran harus memastikan kebenaran tsb kokoh sampai ada argumentasi yg meruntuhkannya. Dalam upaya tersebut, orang mungkin akan merasa saya sedang memaksakan kebenaran yg diyakini. Padahal sebenarnya bukan memaksakan pendapat, tetapi menunjukan kekokohan argumentasi yg mendasari kebenaran yg diyakini. 

Keyakinan itu harus kokoh, sehingga setiap orang harus memiliki argumentasi yg kuat. Apabila nampak ketidak kokohannya, seseorang harus memilih utk merevisi kebenaran yg diyakininya atau memperbaiki argumentasinya. Revisi pengetahuan merupakan bagian dari daur hidup manajemen pengetahuan. Di fase tersebut manusia menyadari sifat nisbi pengetahuannya, sehingga dapat berendah hati, mengamalkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. 

Dalam kaitan ujaran buruk, mas Lucky menolak siapapun yg berharap musibah bagi orang lain. Ia mengatakan bahwa semua manusia adalah hamba Allah Yang Maha Pengasih kepada umat Manusia. Kita tdk bisa membayangkan bagaimana Allah saat mendengar seorang hamba memohon kebinasaan bagi mahluk ciptaan yg selalu ditunggu Nya di pintu ampunan dan hidayah. Saya mengatakan kpd mas Lucky bahwa menurut ulama (imam al-Ghazali dalam Bidayah al-Hudayah), di akhirat sana Allah tdk akan bertanya apakah kita sudah menghujat Iblis, tetapi kenapa kita menghujat sesama manusia?. 

... Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggung jawabannya oleh Allah SWT)

Oleh karenanya hamba Allah harus baik dlm menggunakan lisan ini agar tdk menimbulkan ketidakridhaan Allah dan konsekuensi buruk. 

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam (HR Bukhari dan Muslim)

Diskusi tersebut saya pungkas dgn pembahasan tentang pembelajaran mesin. Saya berpendapat bahwa di masa depan, saat manusia mengendalikan kualitas mesin dgn ketat, mesin akan tampil sebagai contoh perilaku baik bagi manusia. Di masa lalu, manusia menarik mesin yg berperilaku buruk sebagai akibat interaksinya dgn perilaku buruk manusia di media sosial. Hal tsb menunjukan kecenderungan manusia utk menjadikan mesin sebagai karya ciptanya yg bermanfaat bagi umat manusia, mesin sebagai cerminan manusia yg rahmatan lil alamin. 

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya: 107)

#BiografiCahyana

07 Oktober 2022

Kesaksian dan Pensucian


Seseorang bertanya di dalam mimpi, apakah saya sudah dibaptis? Saya menjawab, bahwa "pembaptisan" bagi (dlm pemahaman saya selaku) seorang muslim terjadi di alam Azali ketika ruh bersaksi atas Ketuhanan Allah, sehingga ia terlahir dalam keadaan suci dan memiliki satu Tuhan.

Pertanyaannya cukup menarik, sebab seharian kemarin saya tdk berinteraksi dgn istilah tsb atau persoalan terkait. Biasanya mimpi saya itu mengulang apa yg saya lalui seharian hingga aktivitas terakhir sebelum tidur, setelah itu bangun. Selepas salat Subuh saya buka internet utk mengetahui istilah tsb, sehingga saya memahami kenapa jawabannya seperti itu. Tentu saja istilah tsb tdk dikenal dlm Islam, namun ada rutinitas muslim yg mirip dgn tujuan kesaksian dan pensucian yg berbeda. 

Aktivitas salat merupakan realisasi pengakuan atas Ketuhanan tsb di alam dunia ini, di mana seorang abid berdo'a atau bersujud hanya kepada Ma'bud nya dalam keadaan telah bersuci atau berwudhu. Sebelum salat seorang muslim berwudhu, membasuh anggota tubuh dari tangan hingga kaki. Menurut suatu riwayat, dosa seorang muslim terhapus saat berwudhu. Seorang muslim yg baik melakukan aktivitas tsb minimal lima kali dalam sehari.

Aktivitas tsb sangat bermanfaat bagi seorang muslim. Seorang bayi atau mualaf yg awalnya suci dari dosa suatu saat pasti akan melanggar larangan Tuhan atau melakukan dosa kembali, sehingga ia memerlukan penghapusan dosa atau pahala kebaikan yg dapat mengalahkan beban dosa. Ada banyak fasilitas selain wudhu dan salat yg disediakan Tuhan utk kebutuhan tsb. Dosa dan fasilitas tsb menjadi pengingat sepanjang hidup di dunia bahwa seorang abid akan selalu membutuhkan Ma'bud nya dlm segala kelemahan atau kekurangan dirinya.

#BiografiCahyana

19 September 2022

Nasihat Sumber dan Nasab Pengetahuan


Prof Dwi Hendratmo adalah guru besar yg telah memberi bekal dan material riset yg banyak dalam mata kuliah metodologi penelitian. Berkat beliau kami membaca puluhan artikel dalam topik riset yg diminati. Dengan bekal itu saya dapat melewati seminar penelitian dan ujian kualifikasi. 

Beliau adalah guru yg baik karena berkenan merespon pertanyaan melalui WA dan memberikan jawaban yg menenangkan kekhawatiran saya terkait kesenjangan pengetahuan. Namun sayangnya saat itu saya sudah mengontrak mata kuliah lain sebelum menerima jawaban tersebut, sehingga belum berkesempatan utk menghubungkan nasab pengetahuan kpd beliau.

Dalam ujian kualifikasi beliau mengingatkan saya utk memperhatikan sumber atau nasab pengetahuan yg mempengaruhi kualitas keilmuan dalam kecerdasan buatan. Beliau juga mengingatkan saya utk tdk melupakan bekal yg telah beliau berikan dalam mata kuliah Metodologi Penelitian di perjalanan studi yg sedang saya lalui. Saya mengucapkan terima kasih atas nasihat tersebut di akhir sesi ujian kualifikasi dan setelahnya melalui WA.

Setahun kemudian, pada semester ini saya berencana mewujudkan keinginan lama utk menautkan nasab keilmuan kepada beliau dgn mengontrak mata kuliah Pembelajaran Mesin Lanjutan. Tetapi datang kabar sedih tentang kondisi kesehatan beliau yg menyebabkan saya harus membatalkan kontrak mata kuliahnya. Saya ikut bersama ikatan alumni yg mendukung pemulihan kondisi beliau.

Namun takdir berkata lain, hari Senin ini, 19 September 2022, beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sebagai murid beliau saya bersedih ... dan bersaksi beliau sebagaimana al-Maghfurlah Prof Iping adalah guru yg sangat baik dan bermanfaat bagi murid-muridnya. Semoga husnul khatimah, dan Allah mengampuni serta merahmati beliau, amin. 

#BiografiCahyana

02 September 2022

Seminggu Work from Bali (SEA IGF 2021)

SEA IGF (Southeast Asia Internet Governance Forum) adalah perhelatan internasional yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI (Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia). Kegiatan ini merupakan akhir kontribusi saya terhadap almamater dalam jabatan struktural di Institut Teknologi Garut, setelah berkhidmat selama 18 tahun sejak tahun 2003. Alhamdulillah, dalam masa khidmat tersebut saya telah berupaya memajukan almamater sejauh jalan yang Allah bukakan. Setidaknya ada tiga kontribusi level internasional yang telah saya persembahkan: 1) Pembelajaran pengabdian kepada masyarakat di luar negeri (International Telecommunication Union Thailand) pertama kali yang diikuti oleh mahasiswa pada tahun 2013 dalam program Indonesian ICT Volunteer; 2) Pengabdian kepada masyarakat Sekolah Internet Komunitas Common Room yang pertama kali disponsori oleh lembaga luar negeri, Association Progressive for Communication; dan 3) Inisiasi kegiatan level internasional pertama kali di SEA IGF yang difasilitasi oleh Kemenkominfo RI. Semua pintu kesempatannya saya temukan di Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang saya upayakan kerjasama dengan kampus sejak tahun 2012 dan telah menjalani dua periode kerjasama selama 6 tahun.

Kesempatan SEA IGF saya peroleh setelah ibu Mariam Barata yang saat itu menjabat sebagai plt Dirjen APTIKA Kemenkominfo RI mendorong saya di WAG Relawan TIK Indonesia untuk mengusulkan inisiatif kegiatan. Tawaran beliau saya tindak lanjuti dengan mengirimkan proposal inisiatif kegiatan atas nama Relawan TIK Institut Teknologi Garut dengan judul The Urgecy of Integration of Information and Communication Technology Volunteers with Education System in Digital Transformation in Southeast Asia dalam kategori Youth and Innovation Development. Saya berencana mendiseminasikan kegiatan #RTIKAbdimas yang merupakan realisasi kerjasama Institut Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia dan Kemenkominfo RI dalam bidang pendidikan, tepatnya dalam mata kuliah Relawan Teknologi Informasi pada program studi Teknik Informatika. Saya mendapat bantuan dari bapak Dr. M. Said Hasibuan - Sekjen Relawan TIK Indonesia dalam upaya menemukan narasumber dari luar negeri. Alhamdulillah, Prof. Ts. Dr. Ali Selamat dari Malaysia yang sangat rendah hati berkenan untuk turut serta dalam usulan inisiatif kegiatan tersebut tanpa honorarium. Saya tidak kesulitan untuk meminta Prof. Dr. M. Ali Ramdhani - Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI dan Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto, M.Eng - Direktur Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo RI sebagai narasumber mengingat hubungan baik yang telah terbangun sejak lama.


 Bersama ibu Mariam Barata (tengah)

Saya menerima konfirmasi dari panitia SEA IGF yang menyatakan usulan inisiatif kegiatan diterima oleh panitia. Kegiatan yang bertempat di Nusa Dua Bali tersebut diundur menjadi tanggal 2 September 2021. Relawan TIK Indonesia menyelenggarakan kegiatan Festival TIK sebelum tanggal tersebut, sehingga saya berangkat lebih awal dari jadwal SEA IGF. Setibanya di Bali, saya dengan dua rekan Relawan TIK Garut, ibu Leni Fitriani dan ibu Dewi Tresnawati, langsung menuju venue Festival TIK di Puri Saron Hotel Denpasar Bali. Suasana di sana sudah sangat ramai oleh kegiatan yang diikuti oleh Relawan TIK se Indonesia. Kebetulan siang itu ada tugas instruktur pelatihan Junior Office Operator dari Kemenkominfo RI yang harus saya tunaikan, sehingga saya memutuskan untuk merogoh kocek pribadi untuk menyewa satu kamar yang masih tersisa agar leluasa dan tenang dalam melakukan pelatihan daring tersebut. Niat kami menghadiri Festival TIK adalah untuk menghormati dan mensyukuri nikmat kesempatan yang diberikan oleh Relawan TIK Indonesia dalam program Gerakan Nasional Literasi Digital Kemenkominfo RI dan Siberkreasi sepanjang tahun 2021. 


Keesokan harinya, saya pindah ke Sofitel Nusa Dua Bali, fasilitas gratis yang diberikan oleh Kemenkominfo RI. Jarak dari venue Festival TIK lumayan jauh, dan ongkos Grab nya lumayan mahal, sehingga saya memutuskan untuk tidak kembali ke venue dan menyiapkan kegiatan SEA IGF. Saya berkesempatan untuk bercengkrama dengan teman-teman Relawan TIK dan Kemenkominfo RI seputar program Pandu Digital pada malam hari di tempat tersebut.

Keesokan harinya, pada tanggal 1 September 2021, saya pindah ke Westin Resort Nusa Dua Bali, fasilitas gratis yang diberikan oleh panitia SEA IGF untuk narasumber dan moderator.


Pada akhirnya, kegiatan yang diinisiasi oleh Institut Teknologi Garut itu pun digelar pada tanggal 2 September 2021. Sebenarnya usulan kegiatannya atas nama Relawan TIK Institut Teknologi Garut, tapi panitia menulis hanya nama institusi kampusnya saja. Alhamdulillah, kegiatan hibrida itu berjalan lancar, diikuti oleh audien umum dan Relawan TIK Indonesia secara luring dan daring. 


Bersama Pengurus Relawan TIK Indonesia selepas kegiatan SEA IGF

Saya berencana pulang esok hari, namun ternyata ada masalah dengan penerbangannya, sehingga harus menginap satu hari lagi di Bali. Dalam kondisi keuangan pribadi yang menipis saya berusaha mencari penginapan yang murah. Dalam proses pencarian itu, saya teringat teman kakak yang punya resort di Bali. Setelah kakak berkomunikasi dengan temannya itu, akhirnya saya dihubungi oleh pihak resortnya. Harganya lumayan, sekalipun katanya sudah dikorting, sehingga saya berniat mencari alternatif lain. Tapi teman kakak yang merupakan owner resort tersebut mentransfer uang agar saya menginap di resortnya. Akhirnya saya bisa menginap di Mutiara Mutiara Bali Boutique Resort Villas dan Spa hanya mengeluarkan tambahan uang sebesar seratus ribu rupiah saja untuk semalam. Alhamdulillah, rejeki anak saleh, dapat hotel gratisan terus. Mungkin Tuhan kasihan karena niat saya untuk berkontribusi ini tidak diimbangi oleh kemampuan finansial yang memadai, hehehe. 

Sore hingga malam harinya saya isi dengan kegiatan refreshing, mengunjungi pantai di sana dan menikmati makan malam. Cuplikan perjalanan di masa pandemi yang sangat berdampak pada kegiatan pariwisata di Bali saya tuliskan dalam artikel berjudul Kembalikan Baliku Padaku


Keesokan harinya saya diantar ke bandara oleh pengelola hotel. Saya berikan uang secukupnya untuk mengganti biaya akomodasi, sekalipun beliau tidak memintanya. Alhamdulillah, perjalanan menuju Bandung tidak ada kendala, hanya ada insiden keterlambatan masuk pesawat yang disebabkan karena antrian pemeriksaan test Covid-19. Saya harus terengah-engah dan berkeringat karena berlari mengejar pesawat yang akan tinggal landas. 

Sesampainya di Bandung, saya langsung menuju tempat kost kakak, tempat di mana kendaraan saya terparkir selama lima hari. Awalnya saya tidak tahu, kenapa kendaraannya tidak bisa dihidupkan, tapi belakangan saya mengetahui penyebabnya adalah inverter yang belum dimatikan sejak hari pertama. Syukurlah bapak Grab berbaik hati mengisi ACCU dari kendaraannya sehingga kendaraan saya bisa dihidupkan. Masalahnya tidak selesai sampai di sana. Tiba-tiba kendaraan mati saat akan mengisi bensin. Akhirnya saya putuskan mengeluarkan uang untuk membeli ACCU baru agar bisa segera pulang. 

Tidak semua niat baik dalam pelaksanaannya berjalan mulus, tetapi Allah menunjukan ada banyak orang baik yang membantu niat tersebut. Sebagai insan beriman saya begitu mensyukuri karunia Nya, mulai dari memperoleh kesempatan kegiatan dan niat melaksanakannya, serta memperoleh kemudahan di dalam pelaksanaannya. Saya selalu percaya kebenaran firman Allah, "dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah (dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya) (2) Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga (terlintas di hatinya)" (Qs. At – Tholaq: 2-3)


#BiografiCahyana

01 September 2022

Di Jalur Subsidi


Sore ini dua jalur pengisian BBM di SPBU sudah terpasang plang jalur subsidi. Saya sodorkan smartphone yg menampilkan barcode #MyPertamina ke petugasnya. Seperti biasa petugasnya memindai dgn gawai khusus. Kemudian ia berkata, "Lebih cepat dgn barcode ya pak". Tentu saja hal itu membuatnya senang. Sebelumnya saya melihat ia harus menginput nomor kendaraan secara manual.

Setelah selesai terisi BBM, saya menanyakan kpd nya limit BBM dalam satu hari. Jawabnya, "40 liter". Ia bertanya tentang lama waktu saya memperoleh barcode tersebut. Saya jawab, "Satu minggu". Sekalian saya sampaikan masukan agar Pertamina membuka pos di SPBU yg membantu masyarakat utk mendapatkan barcode tsb.

Dalam perjalanan menuju pulang saya berfikir, seandainya Relawan TIK Indonesia di Garut, Zoel Hilmy dkk membuka pos tersebut, tentunya itu akan sangat membantu masyarakat dan pemerintah. Walau saya belum dapat berbuat banyak, setidaknya saya cukup senang dgn nikmat memikirkan kebaikan seperti itu. Semoga Allah memudahkan kita semua, bangsa yg memperoleh kemerdekaannya atas berkat rahmat Nya.

#BiografiCahyana

27 Agustus 2022

Tetap Berkarakter di Dunia Maya


Budaya adalah warisan cara hidup turun temurun. Salah satu unsur kebudayaan adalah teknologi yang mengikuti perkembangan pengetahuan manusia. Teknologi memberikan dampak positif dan negatif yang tidak jarang penerapannya menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Dalam artikel blog ini saya akan menceritakan perubahan budaya dan tantangannya yang pada akhirnya menjadi pesan penting untuk tetap berkarakter di dunia maya. 

Perubahan Budaya   

Pada awalnya manusia bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan cara berjalan kaki. Setelah manusia dapat menaklukan dan menunggangi hewan, cara tersebut berubah dan memberikan dampak efisieni waktu dan tenaga. Setelah manusia menemukan pedati, cara bepergian menjadi lebih murah karena satu keluarga tidak perlu memiliki hewan tunggangan yang banyak. Cara baru ini menciptakan bentuk usaha baru transportasi umum yang dapat diikuti oleh banyak orang di berbagai tempat. Kondisi tersebut menggambarkan perubahan budaya yang timbul karena penemuan baru atau kontak dengan budaya lain.

Penemuan mesin uap memulai era industri dan mengubah alat transportasi umum yang pada awalnya menggunakan tenaga hewan menjadi tenaga mesin. Keberadaan alat transportasi modern yang lebih baik membuat masyarakat cenderung meninggalkan alat transportasi lama. Hal tersebut mempengaruhi pendapatan, sehingga pengusaha transportasi lama yang tidak berdaya saing terkadang memilih cara kasar untuk menolak keberadaan pesaing. Namun gerak kemajuan tidak akan terbendung dan setiap orang pada akhirnya akan bermigrasi dari cara lama kepada cara baru yang lebih baik. Apalagi bila cara baru menjanjikan penghasilan yang jauh lebih baik bagi pengusaha dan kenyamanan yang jauh lebih baik bagi konsumen. 

Oleh karenanya, penolakan kusir pedati terhadap sopir kendaraan bermotor sangat mungkin terjadi dalam kondisi adanya kondisi persaingan usaha. Demikian pula setelah manusia memasuki era digital, ojek atau taksi konvensional akan merasa tersaingi oleh mode digital yang menawarkan fleksibilitas dan kenyamanan yang jauh lebih baik. Apakah setelah taksi konvensional bermigrasi ke cara digital tidak akan ada pesaing lagi? Tentu saja tidak. Di era industri 4.0, peran manusia selaku sopir alat transportasi umum diambil alih oleh kecerdasan buatan. Manusia perlu meningkatkan kemampuannya agar dapat beralih pekerjaan menjadi penjaga kinerja banyak kendaraan otomatis di belakang layar komputer. 

Budaya Digital dan Asimilasi Budaya

Budaya digital terwujud saat teknologi informasi merubah cara manusia dalam berinteraksi; serta dalam membuat, menyampaikan dan menerima produk dan jasa. Internet menyediakan kesempatan bagi siapapun untuk memperluas interaksi dengan manusia, mesin, dan konten sehubungan dengan tidak adanya batasan lokasi geografis. Kondisi tersebut menimbulkan interaksi dan asimilasi budaya, di mana manusia saling mempertukarkan dan memperbaiki budayanya. Contohnya, mereka yang mendapatkan informasi makanan di luar negeri yang menarik dari internet mungkin akan mencoba untuk mencicipinya saat ada kesempatan. Setelah makanan itu terasa sangat enak, ia akan mengubah masakannya agar hasilnya terasa seenak makanan tersebut. Bahkan ia bisa memodifikasi masakan lokal berdasarkan pengalaman tersebut, sehingga menjadi komoditas baru yang diminati oleh banyak pecinta kuliner karena rasanya menyamai makanan yang sedang populer di internet.

Masalah Emosi

Internet memberi kesempatan bagi siapa saja untuk memproduksi dan menyebarkan informasi dan gagasannya secara luas tanpa melalui meja editor. Sayangnya, ada banyak kiriman informasi atau komentarnya yang merupakan ekspresi yang kasar. Sebagian dari pengirim informasi atau komentator tersebut tidak berani melakukannya di dunia nyata, sehingga kita melihat auman singa di media sosial ternyata berasal dari kucing imut bersuara menggemaskan. Banyak orang merasa takut saat berhadapan dengan sikap buruknya di dunia maya, namun sebaliknya dia merasa ketakutan di dunia nyata saat berhadapan dengan orang yang terganggu oleh sikap buruknya.

Mereka yang tidak banyak bermain di internet mungkin terkejut saat Microsoft menerbitkan hasil survei yang menyatakan netizen Indonesia paling tidak sopan di ASEAN. Dari dulu bangsa Indonesia terkenal dengan sikap ramah, sehingga rasanya hampir tidak masuk akal bila netizen Indonesia berkarakter seperti itu. Boyd mengatakan bahwa sebagian orang mengira keberadaan dirinya di internet tidak akan ditemukan oleh siapapun, sehingga mereka bisa melakukan hal mengerikan di media sosial. Kondisi tersebut serupa dengan orang yang melakukan pencurian karena merasa tidak ada yang melihat tindakannya. 

Di internet kita banyak menemukan netizen yang terlihat seperti sosok pemarah hanya karena perbedaan pendapat dalam merespon komentar atau informasi. Menurut Greenawalt, seseorang menggunakan bahasa kasar saat emosinya memuncak. Ia menyebut julukan kelompok dalam kalimatnya untuk menguatkan bahasa tersebut. Mungkin saja marahnya itu karena terdorong oleh rasa cinta pada tanah airnya. Tetapi emosi terkadang sangat melupakan dan membuat ekspresinya menjadi sangat berlebihan, sehingga ia menghasut tindak kekerasan kepada kelompok tertentu berdasarkan ras, agama, kebangsaan, dan karakteristik lainnya. Hal tersebut menjadikan ekspresi bencinya yang nasionalis berubah menjadi ujaran kebencian yang melawan hukum. Akibatnya ia berhadapan dengan kelompok yang tersinggung dan mungkin saja terancam sanksi hukum pidana. Sikap temperamental dalam interaksi di media sosial berdampak buruk pada kesehatan diri dan lawan bicaranya. Greenawalt menyebutkan dampak buruk yang dirasakan oleh lawan bicara berupa gejala fisiologis dan tekanan emosional mulai dari rasa takut di usus, denyut nadi cepat dan kesulitan bernapas, mimpi buruk, gangguan stres pasca trauma, hipertensi, psikosis, dan bunuh diri.

Karakter Indonesia

Bagi bangsa Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa, perbuatan netizen yang tidak berkarakter merupakan kekhilafan karena lupa kepada Tuhan yang maha mengetahui semua perbuatan di dunia nyata dan dunia maya. Tuhan tahu siapa netizen yang tersembunyi di balik akun anonim seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Tidak ada seorang pun kecuali meninggalkan jejak di internet, dan ahli forensik dapat dengan mudah menemukannya.  

Bapak Sukarno menyebut Ketuhanan YME adalah karakteristik bangsa Indonesia. Beliau  menyeru kepada bangsa ini untuk mengamalkan agama dengan cara yang berkeadaban, yakni hormat menghormati satu dengan lain. Netizen yang mewarisi karakteristik tersebut akan menghormati netizen lain sekalipun tidak dikenalnya. Ada banyak nilai dari agama yang dapat membentuk karakter seperti itu. Contohnya, agama Islam mengajarkan kepada netizen muslim Indonesia untuk bersikap lemah lembut, berkata baik (QS. 2:83, 15:88, 3:159), santun dan tidak pemarah (QS. 3:134, 26:37), serta memaafkan dan memaklumi orang lain (QS. 3:134, 26:40) yang berbuat salah di dunia maya. Islam mengajarkan mereka untuk bersikap jujur dan tidak berdusta (QS. 9:199), sehingga secara sadar akan menjauhi hoax. Mereka juga tidak akan berkata dan berbuat tanpa ilmu (QS. 17:36), sehingga tidak mudah mencela, berburuk sangka (QS. 49:11-12), membicarakan aib orang lain, dan mencari-cari kesalahan (QS 49:12) dalam urusan yang tidak difahaminya. Mereka akan bekerjasama dalam kebaikan dan tidak dalam keburukan (QS. 5:2), seperti mencegah kelicikan dan penipuan dalam jual beli (QS. 83:1-3, 6:152) di virtual marketplace

Peran Perempuan

Pada tahun 1901, Kartini menuntut pendidikan bagi kaum perempuan agar dapat menjalankan kewajibannya sebagai ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. Perhatian kepada kaum perempuan sangat penting di era digital sekarang ini. Perubahan budaya menyebabkan kebiasaan anak berubah karena pengaruh smartphone atau perangkat teknologi informasi lainnya. Banyak ibu yang kebingungan mendampingi anaknya menggunakan smartphone dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19. Kondisi tersebut disebabkan karena ibu belum memiliki pengalaman tersebut saat bersekolah dulu. Banyak ibu yang juga merasa bingung apakah harus memberikan anaknya smartphone atau tidak, sementara anaknya membutuhkan smartphone untuk beragam keperluan. Kekhawatiran para ibu adalah sikap kecanduan terhadap smartphone yang mengancam kesehatan dan masa depan anaknya, sementara mereka belum pernah mendapatkan pengajaran di sekolah atau di Posyandu tentang pengasuhan digital.

Orang tua telah mendekatkan anak dengan perangkat digital, sehingga anak memiliki ikatan emosional atau ketertarikan terhadap perangkat digital. Anak telah mendengarkan suara digital dari alam kandungan, ia bisa membedakan suara ibunya dengan suara lantunan ayat suci atau nyanyian yang berasal dari pemutar musik digital. Anak lebih dulu melihat kilatan cahaya kamera smartphone dari pada suara ayahnya, sehingga pengenalannya terhadap audio visual perangkat digital  menjadi lengkap. Ibu mengajak anak balitanya menonton film dari televisi, dan memberikan smartphone atau tablet agar dapat mengerjakan aktivitas rumah tangga atau memenuhi kebutuhan dirinya tanpa interupsi dari anaknya. Anak berebut smartphone dengan ibu dan kakaknya yang kebutuhan hariannya bergantung pada perangkat tersebut, sehingga orang tua pada akhirnya memberikan gawai untuk setiap anaknya. 

Dalam kondisi demikian, orang tua harus memiliki kemampuan untuk mendisiplinkan anaknya agar fungsi pengawasan digital berjalan dengan baik. Lebih lanjut, orang tua perlu menggunakan aplikasi smartphone untuk memonitor dan membatasi aktivitas anaknya. Untuk itu semua, kita memerlukan  pengajaran dan pendidikan literasi digital kepada anak-anak wanita agar mereka lebih cakap melakukan kewajiban sebagai ibu pendidik anak digital yang pertama-tama. Anak perempuan harus pandai melakukan asimilasi budaya dan menciptakan model hibrida, di mana cara lama yang baik dan berlaku di dalam lingkungan keluarga tidak perlu hilang sepenuhnya. Seorang anak muslimah dapat mengaji menggunakan aplikasi mushaf digital pada waktu antara Maghrib dan Isya, di mana dulu orang tuanya menghabiskan waktu tersebut dengan mengaji menggunakan mushaf tercetak. 

Seorang anak dapat melakukan aktivitas baik atau buruk baik dengan smartphone atau tidak. Smartphone hanya menguatkan pengaruh atau mempercepat proses anak menjadi baik atau buruk. Faktor penentunya bukan smartphone, tetapi orang tua yang memiliki tanggung jawab harian dalam mengawasi anak. Oleh karenanya, orang tua tidak perlu menjauhkan anak dari perangkat digital yang telah didekatkannya sedari dalam kandungan. Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membangun kesadaran pentingnya menjadi orang baik. Kesadaran dapat membangun sikap mawas diri, sehingga tidak mudah terseret arus deras di dunia maya yang mengarah pada dampak negatif. Orang tua harus memastikan anaknya untuk tetap berkarakter di dunia maya.  

#PersepsiCahyana

  

26 Agustus 2022

Cuek Terhadap Penampakan


Ada seseorang yg mengatakan kita bisa kehilangan syahadat lantaran mengaku bisa melihat jin. Saya akan menanggapinya dgn pengalaman sendiri di masa silam.

Dulu waktu jaman kuliah sarjana, tepatnya malam hari, saya mencuci pakaian di kamar mandi masjid, dekat gedung sekolah yg sedang dalam tahap pembangunan. Gedung itu dibangun di atas lahan yg dulunya adalah deretan kamar mandi santri dan kolam besar. Saya pernah mandi di kamar mandi tsb.

Beberapa saat kemudian, saya melihat sosok wanita berpakaian putih berdiri di depan gerbang masuk gedung tsb. Saya mengabaikannya, krn penampakannya tdk sejelas wujud fisik manusia. Saya melanjutkan pekerjaan dan kembali ke kamar setelah selesai mencuci. Lokasi kamarnya tepat di belakang masjid. Di sana ada banyak kamar yg diisi oleh banyak mahasiswa teknik dan guru ngaji.

Beberapa saat kemudian, seorang teman yg dikenal sangat antusias dgn persoalan ghaib datang menemui dan bertanya, apakah saya melihat penampakan di gedung yg sedang dibangun? Saya jawab apa adanya sesuai pengalaman tadi. Seingat saya, dia ke kamar mandi yg sama utk mencuci peralatan makan setelah saya kembali ke kamar.

Dari sana saya menyimpulkan, saat itu ada dua orang yg melihat penampakan tsb, yakni saya dan teman tetangga kamar yg suka membaca majalah Misteri dan takut dgn cermin di depan tempat tidur. Semoga sosok tsb tdk menggerutu krn penampakannya sama sekali tdk mempengaruhi saya, bahkan tidak merinding sama sekali. Masih teramat jauh utk sampai menggoyahkan iman yg membuat saya harus bersyahadat lagi. Pria bujang itu bisa goyah imannya oleh wanita beneran yg cantik, bukan oleh sosok yg wajahnya tdk jelas seperti itu.

#BiografiCahyana

07 Agustus 2022

Keanehan Netizen KC (Kurang Cermat)


Setiap pembangunan ada perencanaan dari pakar dan pasti ada manfaatnya. Tinggal bangsa ini bekerja keras bersama-sama, seraya memohon kpd Tuhan agar mampu mewujudkannya dgn baik. Kita punya rasa takut dgn risiko, tetapi kita punya banyak ahli yg mumpuni, dan kita punya Tuhan yg selama ini telah memberikan banyak hal luar biasa kpd Indonesia melalui tangan para ahli.

Ini adalah kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Setiap orang yg selama ini baru melihatnya di Jepang, Cina, dan negara maju lainnya melalui layar TV atau internet pasti penasaran dan ingin melihatnya langsung, atau bahkan mencoba menaikinya, sekalipun sebelumnya mencibir. Sebagaimana jalan layang MBZ, sebagian pengguna tol yg mencibir pembangunannya sekarang mulai merasakan nikmatnya pengurangan waktu tempuh.

Oh ya, masih banyak yg menggunakan materi lawas utk mencemooh proyek nasional ini, misalnya Jakarta-Padalarang masih jauh ke Bandung, padahal stasiunnya sudah dibangun di Tegalluar Bandung. Terlihat di Google Maps, stasiun Kereta Api Cepat berdekatan dgn jalan tol yg terhubung ke berbagai gerbang masuk ke kota Bandung. Ini menunjukan sebagian dari netizen kurang cermat dalam memilih materi, dan mendaur ulang materi lama utk cemoohan.

Beberapa tahun kemudian, apabila diizinkan Allah stasiun tsb terhubung ke tol, penumpangnya tdk hanya bisa mengarah ke Bandung, tetapi juga ke Garut dan bandara Kertajati. Ini semacam harapan saya selaku warga Garut, semoga di masa depan bisa menggunakan jalan tol dari Garut menuju stasiun kereta api cepat di Tegalluar utk meeting di Jakarta, atau naik pesawat terbang di Kertajati utk meeting di kota selain Jakarta, dan utamanya utk mudik ke Subang.

#PersepsiCahyana

Keanehan Netizen BBM (Buru-Buru Marah)

Saya pernah males ngantri di SPBU, sehingga memutuskan utk membeli Pertamax Turbo. Mengisi tangki dgn sekian liter Pertamax Turbo seharga 100rb serasa 50rb pertalite. BBM tsb memang tdk diperuntukan bagi konsumen seperti saya yg cuma pake kendaraan LMPV dgn CC di bawah 1500. 

#Pertamina sendiri menyebut ketiga jenis BBM nonsubsidi itu hanya menyasar pada 5 persen pelanggan Pertamina secara nasional. Kalau melihat daftar kendaraan yg cocok dgn jenis BBM ini kita pastikan pelanggan yg dimaksud adalah pemilik mobil mewah. Buat kalangan tsb yg uang saku hariannya bisa ratusan ribu hingga jutaan, kenaikan sekian ribu per liter itu tdk berpengaruh. Beda dgn kita yg kondisinya berbeda jauh, mungkin ada sedikit rasa penyesalan setelah mengisi tanki mobil dgn jenis BBM tsb.

Anehnya, banyak netizen yg tdk pernah mengkonsumsi jenis BBM tsb sumpah serapah atas kenaikan harganya, sampai bawa-bawa hutang negara, keadilan sosial, dan azab Tuhan. Konsumen yg setiap hari mengisi kendaraannya dgn BBM non subsidi tsb sepertinya menahan tawa melihat reaksi semacam itu, atau bahkan tdk perduli krn tdk ada pentingnya sama sekali. 

Dari sini saya melihat memang ruang medsos kita masih dilingkupi post truth, di mana opini publik dikembangkan oleh netizen dgn emosi buta dari pada fakta. Indeks literasi kita memang rendah, terlebih semangat ricek juga masih lemah, sehingga wajar risiko teratas Indonesia menurut Microsoft adalah penipuan dan hoax. 

#PersepsiCahyana

05 Agustus 2022

Peran Sugesti dalam Praktik Tenaga Dalam


Tenaga dalam yg pernah saya pelajari merupakan kemampuan untuk memasukan pesan sugesti. Gerakan fisik tangan merupakan bahasa tubuh yg mewakili pesan sugesti, tetapi tdk mutlak diperlukan. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa kali percobaan, di mana seseorang dapat bereaksi sesuai sugesti yg saya pikirkan tanpa perlu menggerakkan tangan.

Pesan sugesti bisa diterima atau ditolak, tergantung kemauan atau tingkat kesadaran penerima. Orang yg tdk bisa mengendalikan dirinya saat emosi memuncak lebih mudah utk menerima pesan alam bawah sadar dari siapapun. Seperti orang yg mudah terprovokasi saat emosi. Oleh krn nya, siapapun yg berperan sebagai lawan dlm praktiknya diharuskan oleh instruktur utk menyerang dgn penuh amarah. Tanpa kondisi tsb, sugesti bisa ditolak oleh lawan.

Namun tdk semua harus dalam keadaan marah. Sugesti dapat diterima oleh lawan dalam kondisi mau dipengaruhi, seperti hipnosis. Dlm kondisi demikian, siapapun dapat melepaskan pengaruhnya kapanpun juga. Kesimpulan ini berdasarkan pengalaman, di mana saya dapat bangun sendiri tanpa perlu dibangunkan oleh pengirim sugesti. Waktu itu banyak teman mempertanyakan kondisi tsb. Sayangnya saya tdk menyimak jawaban dari instruktur kpd mereka.

Ada banyak penonton yg mengatakan orang yg menjatuhkan lawan tanpa sentuhan itu bohongan. Pernyataan itu tdk sepenuhnya benar, sebab bohongan itu tdk memerlukan sugesti. Sugesti itu efeknya seperti hipnosis, di mana penerima pesan sama sekali tdk bisa melakukan apa yg menurut pengirim pesan tdk bisa dilakukan, atau akan merasakan apa yg harus dirasakannya. Misalnya, seseorang akan merasakan adanya daya dorong yg berlawanan dgn gerakannya, di mana daya tsb sebenarnya datang dari dirinya sendiri. Ia mengidentifikasi daya tsb sebagai daya orang lain, seperti anak kecil yg memainkan dua tangannya dlm pertarungan dan ia memerankan salah satunya. Istilah tanpa sadar yg saya gunakan ini maksudnya gerakan yg muncul tanpa berusaha mengadakannya. Contoh sederhana gerak tanpa sadar itu seperti gerak reflek.

Komunikasi bawah sadar itu nyata adanya, seperti kita sering mengatakan sesuatu yg sama pd waktu bersamaan dgn orang lain. Kesimpulan itu saya peroleh dari percobaan, di mana saya dgn sekumpulan orang memejamkan mata dan mengosongkan fikiran. Kemudian saya mengimajinasikan cahaya dan objek tertentu, dan ternyata ada orang lain yg mengidentifikasinya dgn persis.

Penjelasan ini hanya sebatas pengalaman pribadi. Di luar sana masih ada pendekatan lain yg digunakan dalam praktik tenaga dalam. Kita tdk berhak menyamaratakan tenaga dalam berdasarkan satu pendekatan yg kita fahami saja.

#PersepsiCahyana

31 Juli 2022

Post Truth Dulu dan Sekarang


Oxford mendefinisikan post truth sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Seseorang dapat menyangkal fakta hanya karena tdk sejalan dgn emosi dan keyakinannya, dan terkadang berusaha menjaga superioritasnya dlm perdebatan dgn bahasa kasar dan julukan, semisal argumentum ad hominem yg menyerang pribadi (fisik) lawan bicaranya.

Saya jadi teringat bagaimana sikap masyarakat jahiliyah dulu terhadap Muhammad, seorang utusan Tuhan. Masyarakatnya menyangkal penjelasan yg masuk akal bukan karena tdk memahaminya, tetapi karena berlawanan dgn emosi dan keyakinan. Mereka membangun opini publik dgn menyematkan julukan kpd utusan tersebut, seperti orang gila, sekalipun selama ini mereka tahu kualitas baik sang utusan dari sisi keturunan ataupun perilaku hidup. Bahasa kasar mereka terekam dalam kitab suci:

Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila". (QS al-Hijr: 6)

Indikasi mereka mengalami post truth terekam dalam ayat lainnya:

Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila". Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu. (QS al-Mu'minun: 70)

Kata "benci" berkaitan dgn emosi yg karenanya mereka menolak kebenaran. Di antara kebenaran yg pernah diungkap oleh utusan Tuhan adalah fakta adanya kesalahan dlm sistem keyakinan mereka.

Mari kita lihat, bagaimana bapak agama Samawi menunjukan fakta tsb dalam cuplikan dialog dgn masyarakatnya yg terekam dlm surat al-Anbiya. Suatu ketika Ibrahim menghancurkan berhala hingga berkeping-keping, kecuali yang terbesar, agar ada yg bertanya kepadanya.

Sebagian bertanya, "Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim."

Sebagian lainnya menjawab, "Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim".

Lalu dikatakan saat itu, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan."

Kaum Nabi Ibrahim bertanya, "Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?"

Nabi Ibrahim menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepadanya, jika ia dapat berbicara."

Kaum Nabi Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri). Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara."

Nabi Ibrahim pun menjawab, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?"

Sebagaimana umumnya kalangan yg mengidap post truth, fakta yg masuk akal tsb dibungkam dgn tindakan menyakiti. Seseorang dapat menyakiti secara psikis dgn bahasa kasar sebagaimana yg dialami oleh Nabi Muhammad SAW, atau secara fisik seperti yg dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Kaum Nabi Ibrahim yang marah berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat."

Apabila saat ini kita menemukan ada netizen atau kalangan tertentu yg menolak fakta kesalahan mereka atau fakta kebenaran dgn cara melakukan serangan seperti itu, ternyata itu sudah menjadi karakter manusia jahiliyah dari masa lalu. Mereka menjadi demikian krn fanatisme yg terbangun oleh loyalitas atau kesukaan emosional, bukan krn akal yg sehat.

Sebagaimana kondisi kaum Nabi Ibrahim yg fanatik thd keyakinannya krn ikut-ikutan. Mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya." Kalau sekarang, sikap ikut-ikutan netizen yg membuat mereka menolak fakta terjadi krn pengaruh teman dekat dalam jejaringnya yg mempercayai sesuatu dgn penuh emosi.

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

28 Juli 2022

Pengaruh Pertemanan di Medsos


Apakah anda sempat mengira bila medsos dapat membaca pikiran? Kemampuan medsos belum sampai di sana, tetapi algoritma dlm medsos mengumpulkan kita dgn orang lain yg memiliki pola kiriman dgn kita, sehingga ada kalanya pikiran mereka adalah jawaban utk masalah kita, menguatkan pendapat atau perasaan kita. Hal demikian membuat lingkungan medsos menjadi tempat yg menyenangkan, sebab kita bertemu atau berinteraksi dgn orang dan konten yg digemari.

Nabi SAW pernah bersabda, "Kamu bersama orang yang kamu cintai" (HR. Bukhari). Konteks hadits tsb adalah tentang kebersamaan di akhirat. Tetapi di dunia ini, kebersamaan seperti itu terlihat di medsos. Kita cenderung berteman atau mengikuti (follow atau subscribe) siapapun yg gemar mengirimkan konten yg dicintai, bahkan meminta utk diberi tahu oleh medsos bila ada kiriman barunya. Sehingga kita setiap saat berkumpul dgn pengguna dan konten yg dicintai, dan berinteraksi walau sebatas memberi tanda ❤️ atau ๐Ÿ‘. Bahkan kita menunjukan sikap kontra terhadap konten yg menyelisihinya.

Nabi SAW juga pernah bersabda, bahwa seseorang akan terpengaruh oleh temannya. Beliau membuat perumpamaan demikian:

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikan mu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap. (HR. Bukhari).

Ada banyak cara bagi siapapun utk membangun pertemanan di medsos. Mereka yg fokus pada jumlah pengikut tdk memperhatikan baik atau buruknya akun yg mengikutinya. Media yg mendapat keuntungan dari berita kontroversi yg menimbulkan perdebatan yg ramai justru memelihara akun antagonis, termasuk akun anonim atau akun ternak milik buzzer. Tetapi kita biasanya membatasi diri dgn hanya memilih berinteraksi dgn siapa saja yg berinteraksi baik, dan cenderung menjauhi mereka yg tdk mau lepas dari interaksi buruknya. Bahkan sebagian pengguna medsos hanya berteman dgn siapa saja yg dikenal. Pemilihan teman di medsos bertujuan utk mendapatkan pengaruh yg baik dan menjaga suasana medsos yg baik.

Itulah sebab kenapa kita dapat memperkirakan pengguna medsos berada dalam lingkaran pertemanan seperti apa dari kiriman, komentar, dan cara interaksinya. Bila seseorang menggunakan materi (termasuk konten hoax) yg bertahun-tahun banyak digunakan oleh banyak orang utk menghina seseorang atau sekelompok orang, kemungkinan besar ia berteman atau berada dlm jaringan pertemanan yg sering membicarakan penghinaan tersebut dlm medsosnya. Perilaku seseorang dibentuk atau dipengaruhi oleh perilaku atau konten dalam jejaring pertemanannya, sehingga ia akan seperti yg dicintainya.

Imam al Mubarakfuri menjelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi, "Jika seseorang mencintai kalangan saleh dengan ikhlas, maka sebagaimana dinyatakan Nabi, ia termasuk golongan mereka kendati amalannya tidak seperti yang dilakukan orang-orang saleh tadi, sebab keterpautan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar bisa berbuat serupa."

Dalam konteks kecintaan di medsos, bila kita berteman dgn pengguna medsos yg saleh, di mana kesalehannya tercermin dari kirimannya yg berisi pemikiran, pengalaman, atau konten lainnya yg saleh, maka kita termasuk kalangan mereka krn terpaut hati dgn kontennya, sehingga kita tergerak utk menirunya di dunia maya ataupun nyata. 

Oleh krn nya, kiriman konten di medsos terkait amal saleh yg telah dilakukan tdk lah buruk selama tdk ada niat riya' atau ujub. Apalagi bila kiriman tsb dimaksudkan utk mempengaruhi orang lain agar berbuat sama yg mungkin akan lebih hebat dari amal yg ada. Ini adalah upaya utk memicu semangat berbuat baik.

"... Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan ..." (QS. al-Baqarah: 148)

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital