Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

29 Januari 2022

Kekuatan Sugesti dan Doa


Saya pernah berinteraksi dgn ilmu kanuragan tertentu. Pertama kali memperolehnya di pesantren saat masih remaja. Ilmunya diperoleh dgn memakan beras yg sudah dibacakan doa oleh guru.

Setelah memakannya, anggota tubuh terasa seperti ada yg menggerakan. Saya dapat meminta gerakan bela diri apapun dgn bacaan tertentu dlm bahasa jawa, "Oh Gusti, kulo nyuwun pangayoman agung ..." dan seterusnya.

Tubuh ini bergerak dalam keadaan sadar. Kalau diilustrasikan, seperti wayang digerakan oleh dalang. Guru yg memberi ilmu tsb mengatakan bahwa kekuatannya akan berkurang seiring dgn bertambahnya dosa.

Pengalaman lain saya peroleh dari perguruan pencak silat. Ada gerakan dasar yg digunakan utk tenaga dalam, seperti mendorong, menarik, mengangkat, dan menidurkan seseorang dari jarak jauh. Setiap murid membuktikannya dgn praktek. Mereka yg menyerang harus dlm keadaan emosi, sehingga tenaga dalamnya bekerja.

Namun suatu ketika saya menemukan bahwa kunci dampak terhadap penyerang itu adalah sugesti yg dimasukan melalui alam bawah sadar. Dgn kemampuan tsb, saya tdk perlu menggerakan tangan, cukup membayangkan penyerang akan seperti apa. Asisten guru menyebutnya ex-nihilo, mengadakan sesuatu yg difikirkan.

Ex-nihilo kemudian lebih saya fahami tdk sebatas sugesti, tetapi juga doa. Kesimpulan tsb saya buat setelah mengalami suatu kejadian. Saat itu, ada adik kelas yg mengambil gambar saya dgn kameranya tanpa izin. Kemudian saya membayangkan fotonya tdk akan terlihat bagian wajahnya, dan saya mengatakan itu kpd dia. Dan benar saja, hasilnya seperti itu. Tdk mungkin kamera terkena sugesti, sebab ia bukan manusia. Teman-teman merasa heran dgn kejadian tsb. Saya tdk heran krn percaya dgn kekuatan doa dan sugesti. 

Kembali ke sugesti, seseorang dapat bangun dari tidurnya tanpa perlu dibangunkan orang yg menidurkannya, cukup dgn sugesti. Hal tsb seperti yg saya alami dlm praktek di perguruan pencak silat tsb. Saat semua penyerang tertidur, saya yg salah satu di antaranya mensugesti diri utk bisa bangun. Hasilnya saya tersadar, dan bangun. Salah seorang teman bertanya kpd guru sebab saya dapat tersadar dgn sendirinya.

Sugesti tdk mustahil mengalir di alam bawah sadar. Saya mendapatkan buktinya saat memejamkan mata. Saat itu, saya mewujudkan cahaya berwarna tertentu, dan teman yg ikut terpejam matanya dapat melihat cahaya tsb. Demikian pula saat guru meminta kami menutup mata, saya melihat ada tiang yg melayang di langit. Apa yg saya lihat boleh jadi merupakan imajinasi guru, atau lainnya. Di rumah saya menemukan tiang tsb dlm Durotun-Nasihin. Walau demikian, saya tdk menganggap diri telah melihatnya.

Tentang penglihatan ini, saya pernah mengalami hal lainnya. Saat mencuci baju malam hari di kobong, saya melihat dgn samar-samar ada sosok wanita berbaju putih dgn rambut terurai ke depan. Saya tdk menghiraukannya dan kembali ke kamar. Kemudian teman yg suka mengkonsumsi majalah mistis datang menghampiri dan bertanya soal keberadaan wanita tsb. Entah ia mensugestikan fikirannya kpd saya, atau kita berdua memang melihatnya.

Sampai saat ini, saya meyakini bahwa sugesti dan doa merupakan kunci terpenting utk mengubah diri dan lingkungan. Saat saya merasa lelah namun ingin bangun dari tidur, sugesti dan doa lah yg membuat keinginan itu terwujud. Dalam kondisi setengah tidur saya mensugesti diri utk bangun dan memanggil Tuhan dgn nama Nya sebagai doa / harapan.

#BiografiCahyana

28 Januari 2022

Karya Arsitektur dan Perilaku Pengguna

Karya arsitektur adalah wujud peradaban, dan musuhnya adalah kebiasaan pengguna yg merusak karya tsb. Mengeksekusi karya arsitektur itu mudah, namun menghilangkan kebiasaan manusia itu sulit, perlu intervensi sistem pendidikan. 

Sangat tdk mengherankan bila kita menerima kabar, lampu di objek wisata yg belum selesai sudah ada yg pecah; atau tembok di alun-alun yg baru diresmikan sudah dipenuhi noda tanah bekas alas kaki. Mungkin bukan krn pelakunya tdk bangga dgn karya arsitektur tsb, tetapi krn tdk memiliki kebiasaan yg dibutuhkan oleh karya tsb. Menjaga kebersihannya adalah salah satu contoh wujud apresiasi pengguna yg diperlukan oleh karya tsb.

Saya memiliki pengalaman tentang bagaimana sekolah menanamkan nilai. Hingga saat ini saya memiliki perasaan aneh saat berjalan di trotoar sebelah kanan. Perasaan tsb merupakan hasil penanaman nilai oleh guru atau sekolah. Saat bersekolah di SD, guru mengajarkan lagu tentang bagaimana berjalan menuju sekolah. Lagu tsb sering saya nyanyikan dalam hati saat pergi ke sekolah. Rasa suka dan pengulangan itu membuat nilainya tertanam. 

#BiografiCahyana

Ilustrasi gambar dari Zoel Hilmi

20 Januari 2022

Bahasa, Adab Majelis, dan Tuntutan


Menggunakan bahasa yg difahami semua orang itu sebenarnya penting utk mencegah prasangka atau rasa dianaktirikan. Sebagian orang memahaminya sebagai adab majelis yg utama utk diindahkan. Mereka meminta maaf kalau tdk sengaja melabrak adab tsb.

Pesan komunikasi dalam suatu pertemuan yg dialirkan di antara dua orang tanpa menyertakan orang ketiga dgn cara mengecilkan volume suara atau menggunakan bahasa yg tdk difahami dapat dianggap sebagai pelanggaran adab majelis. Kalau orang ketiga bersedih atas hal tsb, itu bisa dimaklumi dan kita harus bersimpati. Namun pelabrakan adab tsb cukup direspon dgn peringatan, tdk perlu dgn sanksi berat.

Menuntut sanksi berat utk pelanggaran adab itu berlebihan. Demikian pula menggiring opini dari masalah tuntutan dan adab ke masalah lain juga berlebihan. Di titik ini kita perlu mengesampingkan suka dan tdk sula kpd siapapun utk mendudukan masalahnya dgn tepat dan memberikan keadilan bagi siapapun.

#PersepsiCahyana

Cyber-Zalim

Zalim itu terwujud di antaranya krn berbuat tdk adil. Penyebab tdk adil di antaranya rasa tdk suka. Kalau sudah tdk suka, maka sebaik apapun amal perbuatan akan selalu dianggap buruk. Celah keburukannya dicari-cari dgn cara apapun, termasuk dgn prasangka buruk. Bahkan keburukan itu dibuat-buat dgn hoax. Itulah fenomena di dunia maya yg tersaksikan dari waktu ke waktu.

Ada banyak prasangka dan hoax yg diekspresikan dlm bentuk konten atau ujaran di medsos utk mendeskriditkan individu atau kelompok tertentu. Mirisnya, sebagian dari ekspresi tsb terwujud krn motif hiburan utk memuaskan rasa tdk suka.

Konten tsb menciptakan kezaliman yg populer saat menjadi topik tren atau disiarkan ulang di dunia maya. Pencipta konten terkadang memanfaatkannya utk memperoleh cuan, sebab tahu topik tsb sedang direspon oleh banyak orang. Namun sayangnya, ada saja pencipta konten yg malah terlibat dalam kezaliman tsb dan memperburuknya dgn tujuan utk mendapat perhatian audien yg banyak.

Terkadang individu atau kelompok yg terzalimi memperoleh dampak berupa perudungan. Dampak tsb buruk utk psikologi sebagian orang. Namun di balik dampak tsb, mereka memperoleh keuntungan dari kezaliman tsb, berupa penambahan beban kebaikannya dan pengurangan beban keburukannya. Sementara mereka yg berbuat zalim dan melakukan perudungan di media sosial, memiliki masalah sosiologis dan psikologis yg lebih serius.

#PersepsiCahyana

18 Januari 2022

Amal Jihad Vaksinasi

Sebenarnya kalau menerima ikhtiar penanganan pandemi dgn pendekatan ilmiah (vaksin), dan berpartisipasi dalam vaksinasi dgn niat utk membangun kekebalan komunal semata krn Allah, insya Allah menjadi amal ibadah yg dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh kalangan yg rentan saja (balita dan orang tua yg ada penyakit bawaan), tetapi oleh banyak kalangan yg terdampak (termasuk sektor pendidikan dan UMKM). 

Covid19 itu ada, diyakini oleh kita dgn penyaksian sendiri. Kita merasakan gelombangnya di masa lalu, di mana ada banyak orang dekat yg meninggal dalam waktu berdekatan, WAG ramai oleh berita kematian. Hal demikian membuat tuduhan Covidisasi kematian menjadi tdk logis, dan partisipasi dalam ikhtiar penanganannya mutlak diperlukan. 

Apabila Covid19 ini adalah masalah yg perlu dihadapi dgn jihad semesta vaksinasi, maka tdk heran bila ada sebagian orang yg melarikan diri dari jihad tsb dgn mengatasnamakan kebebasan. Jihad di sini adalah ikhtiar sungguh-sungguh utk mengentaskan pandemi.

#PersepsiCahyana

15 Januari 2022

Menemukan Kunci Perubahan Efektif dari Kisah Ibrahim


Perusakan berhala oleh Nabi Ibrahim merupakan bagian dari dialog teologis yg sedang dijalankannya. Beliau menyisakan satu berhala utk dijadikannya bahan pertanyaan logika kpd kaumnya, "Apakah berhala itu yg menghancurkan berhala lainnya?".

Saat pertanyaan logika Ibrahim tdk terbantahkan, kaumnya kemudian memutuskan utk membungkamnya dgn hukuman mati. Hal demikian menegaskan keyakinan semu kaumnya krn menolak pengujian dgn pertanyaan logika. Pemikirannya juga terbukti fallacy krn mendasarkan keyakinannya kpd praktik leluhurnya semata secara taklid buta.

Perusakan berhala terbukti tdk merubah pendirian dan menimbulkan sikap buruk pemeluknya, sehingga tdk perlu dipraktikan lagi. Ajaran pamungkas agama Abrahamic yg disampaikan oleh Nabi terakhir melarang kita menghina tuhan siapapun dan menyampaikan dakwah (logika Ketuhanan) bil hikmah (dgn baik). Larangan tsb dapat difahami sebagai petunjuk utk tdk perlu lagi mempraktikan perusakan berhala dlm proses dialog teologis, cukup sebatas menyampaikan pemikiran saja secara santun.

Pemikiran logis Ibrahim adalah output dialog yg membekas dlm jangka waktu panjang dan membuat berhala ditinggalkan dgn kesadaran sendiri. Pengikut agama Abrahamic saat ini hanya perlu mengembangkan pemikiran tsb dan menerapkannya dlm dialog teologis dgn umat manusia. Kisah Ibrahim menunjukan bahwa kunci perubahan keyakinan itu bukan pada perusakan berhala atau penghinaan tuhan, tetapi pada pemikiran Ketuhanan yg logis. Dan Nabi terakhir menyempurnakan pendekatannya dgn menggabungkan pemahaman Ketuhanan yg logis dgn kesantunan agar perubahan berlangsung secara lebih efektif dan mencegah dampak buruk yg tdk perlu dari reaksi ketersinggungan.

Pilihan seseorang utk mengabaikan cara counter yg efektif (logika Ketuhanan dan Kesantunan) dan mengandalkan counter yg tdk efektif (membungkam dgn kekerasan atau ketidaksantunan) adalah pilihan kaum yg membakar Nabi Ibrahim; pilihan yg menempatkan keyakinannya sebagai keyakinan semu yg tdk boleh didebat, dan menjadikan pemikirannya terperosok pada fallacy yg mendorongnya utk bersikap eklusif.

#PersepsiCahyana

04 Januari 2022

Isme Relawan dan Filosofi Radio

Hari Senin pagi, tiga teman Relawan TIK dari Jawa Timur berkunjung ke Garut. Ketua pengurus wilayah Jawa Timur meminta semua berkas konsep yg pernah saya buat terkait Relawan TIK dan meminta izin pemanfaatannya untuk pengembangan Kerelawanan di Jawa Timur. Sebenarnya dgn tanpa izin sekalipun, semua berkas tsb yg sejak awal diniatkan utk amal jariyah boleh dimanfaatkan oleh siapapun.

Dalam kesempatan diskusi di Pasar Ceplak malam ini, saya mengemukakan pendapat bahwa menyamakan frequensi itu sebuah keniscayaan, tetapi utk memperluas audiennya, volumenya perlu diperbesar, di mana suara terdengar indah lebih diutamakan. Pendapat tersebut mengambil filosofi radio.

Maksud dari pendapat tersebut adalah, ketua pengurus organisasi wajib "menyamakan frequensi" (isme relawan) anggota dan pengurusnya, idealnya melalui diklat berdasarkan kurikulum. Keberadaan sekumpulan personel yg satu frequensi ini merupakan komponen penting keberlangsungan organisasi.

Namun sekalipun semua orang dapat menjadi relawan, tetapi tdk semua orang mewarisi isme relawan. Oleh karenanya, sekumpulan personel yg satu frequensi itu jumlahnya terbatas, sementara target audien atau penerima manfaat layanan relawannya sangat banyak dan tersebar di wilayah yg sangat luas.

Utk melayani banyak penerima manfaat, diperlukan peningkatan "volume suaranya", melalui perekrutan atau mobilisasi warga negara sebagai relawan. Peran warga negara ini adalah utk membesarkan suara yg bersumber dari titik frequensi ini (pengurus organisasi). Dengan kata lain, mereka menjadi kepanjangan tangan pengurus organisasi yg menyampaikan layanan relawan ke tengah masyarakat sesuai rencana atau target capaian program kepengurusan.

Diutamakan "volume suaranya indah", dalam arti mereka yg direkrut itu memiliki komitmen relawan (waktu, energi, dan kemampuan) pada level moderat hingga tinggi. Mereka yg level komitmennya rendah, namun berpotensi utk dapat menyampaikan layanan relawan tetap harus dilibatkan utk mengoptimalkan jangkauan pelayanan; Contohnya, peserta didik yg mengikuti pembelajaran relawan demi sertifikat atau angka kredit semata. Pengurus dapat melihat level komitmennya dari kualitas layanan mereka dan kesinambungan status aktifnya sebagai relawan dari tahun ke tahun.

Disaat frequensi ini belum tercapai, volumenya tdk boleh besar krn akan mengganggu banyak orang. Maksudnya, prioritas utamanya adalah menyiapkan kurikulum diklat yg menghasilkan lulusan yg mewarisi isme dan kompetensi relawan. Prioritas penunjangnya adalah mobilisasi yg dapat mengakselerasi kinerja layanan relawan. Apabila banyak orang direkrut sebagai relawan, sementara isme dan kompetensinya tdk terbentuk, output layanannya akan mengecewakan pengurus ataupun mitra penerima manfaat.

#BiografiCahyana