Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

27 Februari 2022

Kerancuan Berfikir

Fallacy secara etimologis berasal dari kata fallacia yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah menipu. Dengan memperhatikan pendapat Irving M Copi dkk. (2014) dapat difahami bahwa kerancuan berpikir atau logical fallacy merupakan jenis argumen yang terkesan benar, di mana tipuannya akan teruangkap setelah menggunakan logika berpikir yang benar.

Seseorang mempraktikan fallacy karena tidak menyadari logika berfikirnya yang keliru, atau sengaja dilakukan untuk berpaling dari kebenaran atau untuk membuat dirinya nampak tidak salah atau terkalahkan. Tujuan kesengajaan ini dapat difahami dari 19 jenis kerancuan berpikir berikut ini:

  1. Irrelevant Conclusion / Ignoratio Elechi, yakni membuktikan suatu perkara dengan perkara lain yang tidak relevan;  Contohnya, seseorang ingin mengganti komputernya untuk mengikuti tren tipe tertentu, tetapi mengungkapkan alasan lain, yakni merasa tidak nyaman menggunakan komputernya yang terasa lambat;
  2. Argumentum Ad Baculum / Appeal to Force, yakni memaksakan kehendak dengan penyataan yang mengancam; Contohnya, seseorang yang menuntut organisasinya untuk membelikan komputer yang sedang tren agar tugas pekerjaannya ia selesaikan; 
  3. Argumentum Ad Hominem / Abusive, yakni menyerang pribadi seseorang; Contohnya, atasan yang menyebut pegawainya tidak layak mendapatkan komputer high-end yang diperlukannya untuk melaksanakan tugas pekerjaan dengan alasan posisi jabatannya yang masih rendah; 
  4. Argumentum Ad Hominem / Circumstantial, yakni sindiran secara tidak langsung dengan menyasar kondisinya; Contohnya, atasan yang mengatakan kepada pegawainya bahwa kepatuhan itu adalah menuntaskan tugas pekerjaannya dengan tanpa mengeluh; 
  5. Argumentum Ad Ignorantiam, yakni meyakini suatu kondisi yang belum ada bantahannya; Contohnya, atasan yang menganggap pegawainya loyal selama tidak mengeluh di hadapannya;
  6. Argumentum Ad Misericordiam / Appeal to Pity, yakni memancing rasa iba untuk membenarkan suatu perkara; Contohnya, seorang pegawai yang terbukti mencuri komputer kantor meminta kepada atasannya untuk tidak dikeluarkan dari perusahaan dengan alasan orang tuanya sedang sakit keras;
  7. Argumentum Ad Populum, yakni mempengaruhi masa dengan pernyataan yang tidak relevan; Contohnya, seorang pegawai senior yang akan dijatuhi sanksi oleh perusahaan atas kesalahan yang diperbuatnya mempengaruhi pegawai lainnya dengan menyatakan dirinya sedang didzalimi oleh perusahaan; 
  8. Argumentum Ad Verecundiam, yakni menyandarkan tindakannya kepada sosok terkenal; Contohnya, seorang pegawai menganggap dirinya seperti Mahatma Gandi karena berjuang melawan penindasan perusahaan yang akan menjatuhkan sanksi kepada dirinya; 
  9. Non Causa Pro Causa, yakni meyakini suatu sebab tanpa mempelajari kronologinya; Contohnya, seseorang meyakini kolega seniornya sedang didzalimi oleh perusahaan karena hendak diberhentikan;
  10. Post Hoc Ergo Propter Hoc, yakni meyakini peristiwa pertama yang menyertai peristiwa kedua sebagai penyebab terjadinya peristiwa kedua; Contohnya, seseorang yang mengetahui adanya atasan baru sebelum pegawai senior menerima tugas pekerjaan, kemudian ia berpikir bahwa atasan tersebutlah yang menyebabkan pegawai senior tidak dapat melaksanakan tugas pekerjaannya; 
  11. Complex Questions, yakni pertanyaan yang membingungkan; Contohnya, seseorang yang menanyakan tempat kerja kepada orang lain yang baru saja berhenti dari perusahaannya;
  12. Staw Man, yakni memelintir suatu pendapat untuk membenarkan pendapat lainnya; Contohnya, seseorang menyatakan bahwa perusahaan dapat memberhentikan pegawai yang telah bekerja bertahun-tahun kapanpun, kemudian orang lain menuduhnya sedang mempengaruhi banyak pegawai untuk tidak loyal kepada perusahaan; 
  13. Slippery Slope, yakni menolak suatu kondisi karena meyakini akan terjadinya kondisi lain tanpa bukti yang masuk akal; Contohnya, seseorang menolak untuk loyal kepada perusahaan karena meyakini perusahaan bisa memberhentikannya kapanpun, padahal tidak semua pegawai yang loyal diberhentikan oleh perusahaan;
  14. Tu quoque, yakni melawan kritik yang mendeskriditkan dengan kritik yang sama; Contohnya, seorang atasan mengkritik atasan lainnya yang tidak bersikap baik kepada pegawainya, kemudian ia mendapat balasan kritik berupa ingatan atas tindakan buruk kepada pegawainya sendiri;
  15. Loaded question, yakni menanyakan suatu praduga secara jelas untuk mendapatkan jawaban dengan kesan bersalah; Contohnya, seorang atasan bertanya kepada atasan lainnya yang belum pernah memperlakukan buruk pegawainya, “Apakah Anda sudah menjadi orang baik atau belum?”;
  16. Burden of Proof, yakni berpaling dari pembuktian suatu klaim; Contohnya, seorang atasan yang menuduh atasan lain telah berbuat buruk kepada bawahannya tanpa bukti, kemudian berpaling dari tuntutan pembuktian karena merasa orang yang dituduh olehnya yang harus membuktikannya sendiri;
  17. The Gambler’s Fallacy, yakni meyakini sesuatu yang sering terjadi memiliki peluang kecil untuk terjadi di masa depan. Contohnya, seorang atasan meyakini pegawainya suatu saat akan loyal tanpa mengeluh setelah sering mengeluh atas perlakuan buruknya;
  18. Special Pleading, yakni pengecualian klaim yang keliru; Contohnya, seorang atasan mengklaim pegawai yang mengeluh itu tidak loyal, dan pada saat klaimnya terbukti keliru ia berdalih bahwa klaimnya pasti benar apabila yang mengeluh adalah bawahannya; 
  19. Personal Incredulity, yakni menolak suatu kebenaran karena tidak dapat  memahaminya; Contohnya, seorang atasan yang menolak sikap loyalitas pegawai yang disertai keluhan, hanya karena tidak memahami keluhan atas hambatan tugas pekerjaannya merupakan bagian dari loyalitas.



0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya