Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

22 Februari 2022

Minyak Goreng


Akhirnya saya menemukan penjual yg menjejerkan banyak minyak goreng di warungnya, setelah saya sulit menemukannya di minimarket dan supermarket. Harganya mahal, tapi bagi saya itu jauh lebih baik dari pada tdk ada, khususnya bagi UMKM yg mengandalkan minyak goreng dalam usahanya. 

Beberapa hari ke belakang saya juga menemukan komentar di thread teman yg menginformasikan minyak goreng tersedia di warung tertentu. Saya berfikir, andai warung-warung tsb menjualnya di lapak e-marketplace lokal, kita tdk akan kesulitan utk menemukannya saat membutuhkan, sehingga tdk perlu mengantri panjang utk mendapatkannya.

Namun ada yg mengagetkan dlm kesempatan membeli minyak goreng tsb. Istri saya menceritakan, ada seorang ibu yg turun dari mobil dan menyatakan niatnya utk membeli 100 buah minyak goreng. Seandainya setiap keluarga dijatah 2 buah saja, berarti ibu tersebut dapat membantu 50 keluarga. Di sisi lain, ada 50 pembeli yg berpotensi tdk menemukan minyak goreng di warung tsb, kecuali stok di warung tsb sangat banyak. Saya tdk tahu motifnya membeli sebanyak itu, entah utk dijual lagi atau lainnya. Tetapi saya berfikir positif saja, mungkin ibu tsb mau membagikannya kpd tetangga atau orang yg membutuhkan ... sekalipun dgn menjualnya kembali ibu tsb akan memperoleh untung cepat krn kelangkaan. 

Kembali ke warung tsb. Saya tahu ada penyalur yg mendistribusikan minyak goreng ke penjual tsb. Tentu saja penyaluran demikian lebih menguntungkan bagi distributor krn mereka bisa menjualnya sesuai dgn biaya produksinya yg tinggi, dari pada menjualnya sesuai HET. Temuan terakhir yg diberitakan terkait tumpukan minyak goreng di distributor mengungkap motifnya, yakni utk menghindari kerugian krn penjualan sesuai HET. 

Kelangkaan ini mengingatkan saya dgn masalah kelangkaan BBM di Papua yg disebabkan krn terhambatnya distribusi oleh cuaca. Banyak SPBU yg kehabisan stok krn BBM nya dibeli banyak oleh pengecer. Di tingkat pengecer, masyarakat membelinya dgn harga yg jauh lebih mahal dari harga normal SPBU. Saya membayangkan, seandainya harga minyak goreng di distributor sudah mahal, maka harga minyak goreng yg dijual oleh pengecer bisa lebih mahal lagi.

Dalam perjalanan pulang saya membicarakan persoalan tsb dgn istri. Ia berpendapat dgn pendapat praktis ibu rumah tangga yg merasakan benar kebutuhan minyak goreng. Menurutnya, seharusnya pemerintah membiarkan minyak goreng dgn harga realistis menurut perhitungan distributor. Sementara khusus utk keluarga miskin (saya tambahkan UMKM), diberikan bantuan utk mendapatkannya dgn harga murah di tempat tertentu. Ia tdk keberatan dgn harga mahal yg dipengaruhi oleh lonjakan CPO (bahan baku), dari pada susah menemukannya.

Kenaikan harga minyak goreng saat ini dipengaruhi oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) dunia. Faktor lain yg menyebabkan kenaikan harga nabati dunia adalah gangguan cuaca. Kewajiban pencampuran minyak sawit sebanyak 30% pada solar utk menekan laju impor BBM juga turut berpengaruh. Demikian pula dgn krisis energi di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal.

Salah satu artikel dari situs berita yg saya baca mengungkapkan, bahwa meskipun Indonesia adalah produsen crude palm oil (CPO) terbesar, namun kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO. Dengan entitas bisnis yang berbeda, tentunya para produsen minyak goreng dalam negeri harus membeli CPO sesuai dengan harga pasar lelang dalam negeri, yaitu harga lelang KPBN Dumai yang juga terkorelasi dengan harga pasar internasional. Akibatnya, apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga CPO di dalam negeri juga turut menyesuaikan harga internasional.

PILIH HARGA MAHAL TAPI ADA ATAU HARGA MAHAL TAPI LANGKA?

Saat biaya produksinya naik yg membuat harga produknya menjadi mahal, muncul tuntutan utk menurunkan harganya. Saat harganya diturunkan, distributor tdk mau rugi sehingga menahan distribusinya. Akibatnya, bukannya mendapatkan harga yg rendah, tetapi produknya jadi langka dan harganya masih tetap mahal. Pelajaran pentingnya adalah bahwa bersyukur dan bersabar itu baik. Ada barang walau harganya mahal krn biaya produksi yg tinggi jauh lebih baik dari pada barangnya langka dan harganya tetap mahal.

#PersepsiCahyana

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya