Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

31 Juli 2022

Post Truth Dulu dan Sekarang


Oxford mendefinisikan post truth sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Seseorang dapat menyangkal fakta hanya karena tdk sejalan dgn emosi dan keyakinannya, dan terkadang berusaha menjaga superioritasnya dlm perdebatan dgn bahasa kasar dan julukan, semisal argumentum ad hominem yg menyerang pribadi (fisik) lawan bicaranya.

Saya jadi teringat bagaimana sikap masyarakat jahiliyah dulu terhadap Muhammad, seorang utusan Tuhan. Masyarakatnya menyangkal penjelasan yg masuk akal bukan karena tdk memahaminya, tetapi karena berlawanan dgn emosi dan keyakinan. Mereka membangun opini publik dgn menyematkan julukan kpd utusan tersebut, seperti orang gila, sekalipun selama ini mereka tahu kualitas baik sang utusan dari sisi keturunan ataupun perilaku hidup. Bahasa kasar mereka terekam dalam kitab suci:

Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila". (QS al-Hijr: 6)

Indikasi mereka mengalami post truth terekam dalam ayat lainnya:

Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila". Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu. (QS al-Mu'minun: 70)

Kata "benci" berkaitan dgn emosi yg karenanya mereka menolak kebenaran. Di antara kebenaran yg pernah diungkap oleh utusan Tuhan adalah fakta adanya kesalahan dlm sistem keyakinan mereka.

Mari kita lihat, bagaimana bapak agama Samawi menunjukan fakta tsb dalam cuplikan dialog dgn masyarakatnya yg terekam dlm surat al-Anbiya. Suatu ketika Ibrahim menghancurkan berhala hingga berkeping-keping, kecuali yang terbesar, agar ada yg bertanya kepadanya.

Sebagian bertanya, "Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim."

Sebagian lainnya menjawab, "Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim".

Lalu dikatakan saat itu, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan."

Kaum Nabi Ibrahim bertanya, "Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?"

Nabi Ibrahim menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepadanya, jika ia dapat berbicara."

Kaum Nabi Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri). Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara."

Nabi Ibrahim pun menjawab, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?"

Sebagaimana umumnya kalangan yg mengidap post truth, fakta yg masuk akal tsb dibungkam dgn tindakan menyakiti. Seseorang dapat menyakiti secara psikis dgn bahasa kasar sebagaimana yg dialami oleh Nabi Muhammad SAW, atau secara fisik seperti yg dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Kaum Nabi Ibrahim yang marah berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat."

Apabila saat ini kita menemukan ada netizen atau kalangan tertentu yg menolak fakta kesalahan mereka atau fakta kebenaran dgn cara melakukan serangan seperti itu, ternyata itu sudah menjadi karakter manusia jahiliyah dari masa lalu. Mereka menjadi demikian krn fanatisme yg terbangun oleh loyalitas atau kesukaan emosional, bukan krn akal yg sehat.

Sebagaimana kondisi kaum Nabi Ibrahim yg fanatik thd keyakinannya krn ikut-ikutan. Mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya." Kalau sekarang, sikap ikut-ikutan netizen yg membuat mereka menolak fakta terjadi krn pengaruh teman dekat dalam jejaringnya yg mempercayai sesuatu dgn penuh emosi.

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

28 Juli 2022

Pengaruh Pertemanan di Medsos


Apakah anda sempat mengira bila medsos dapat membaca pikiran? Kemampuan medsos belum sampai di sana, tetapi algoritma dlm medsos mengumpulkan kita dgn orang lain yg memiliki pola kiriman dgn kita, sehingga ada kalanya pikiran mereka adalah jawaban utk masalah kita, menguatkan pendapat atau perasaan kita. Hal demikian membuat lingkungan medsos menjadi tempat yg menyenangkan, sebab kita bertemu atau berinteraksi dgn orang dan konten yg digemari.

Nabi SAW pernah bersabda, "Kamu bersama orang yang kamu cintai" (HR. Bukhari). Konteks hadits tsb adalah tentang kebersamaan di akhirat. Tetapi di dunia ini, kebersamaan seperti itu terlihat di medsos. Kita cenderung berteman atau mengikuti (follow atau subscribe) siapapun yg gemar mengirimkan konten yg dicintai, bahkan meminta utk diberi tahu oleh medsos bila ada kiriman barunya. Sehingga kita setiap saat berkumpul dgn pengguna dan konten yg dicintai, dan berinteraksi walau sebatas memberi tanda ❤️ atau ๐Ÿ‘. Bahkan kita menunjukan sikap kontra terhadap konten yg menyelisihinya.

Nabi SAW juga pernah bersabda, bahwa seseorang akan terpengaruh oleh temannya. Beliau membuat perumpamaan demikian:

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikan mu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap. (HR. Bukhari).

Ada banyak cara bagi siapapun utk membangun pertemanan di medsos. Mereka yg fokus pada jumlah pengikut tdk memperhatikan baik atau buruknya akun yg mengikutinya. Media yg mendapat keuntungan dari berita kontroversi yg menimbulkan perdebatan yg ramai justru memelihara akun antagonis, termasuk akun anonim atau akun ternak milik buzzer. Tetapi kita biasanya membatasi diri dgn hanya memilih berinteraksi dgn siapa saja yg berinteraksi baik, dan cenderung menjauhi mereka yg tdk mau lepas dari interaksi buruknya. Bahkan sebagian pengguna medsos hanya berteman dgn siapa saja yg dikenal. Pemilihan teman di medsos bertujuan utk mendapatkan pengaruh yg baik dan menjaga suasana medsos yg baik.

Itulah sebab kenapa kita dapat memperkirakan pengguna medsos berada dalam lingkaran pertemanan seperti apa dari kiriman, komentar, dan cara interaksinya. Bila seseorang menggunakan materi (termasuk konten hoax) yg bertahun-tahun banyak digunakan oleh banyak orang utk menghina seseorang atau sekelompok orang, kemungkinan besar ia berteman atau berada dlm jaringan pertemanan yg sering membicarakan penghinaan tersebut dlm medsosnya. Perilaku seseorang dibentuk atau dipengaruhi oleh perilaku atau konten dalam jejaring pertemanannya, sehingga ia akan seperti yg dicintainya.

Imam al Mubarakfuri menjelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi, "Jika seseorang mencintai kalangan saleh dengan ikhlas, maka sebagaimana dinyatakan Nabi, ia termasuk golongan mereka kendati amalannya tidak seperti yang dilakukan orang-orang saleh tadi, sebab keterpautan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar bisa berbuat serupa."

Dalam konteks kecintaan di medsos, bila kita berteman dgn pengguna medsos yg saleh, di mana kesalehannya tercermin dari kirimannya yg berisi pemikiran, pengalaman, atau konten lainnya yg saleh, maka kita termasuk kalangan mereka krn terpaut hati dgn kontennya, sehingga kita tergerak utk menirunya di dunia maya ataupun nyata. 

Oleh krn nya, kiriman konten di medsos terkait amal saleh yg telah dilakukan tdk lah buruk selama tdk ada niat riya' atau ujub. Apalagi bila kiriman tsb dimaksudkan utk mempengaruhi orang lain agar berbuat sama yg mungkin akan lebih hebat dari amal yg ada. Ini adalah upaya utk memicu semangat berbuat baik.

"... Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan ..." (QS. al-Baqarah: 148)

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

27 Juli 2022

Post Truth

Gambar di atas adalah isi artikel Cahyowati dalam Putro dkk (2020) berkaitan dengan aliran post-truth dan hate speech yang dapat bermuara ke konflik sosial.

Truthiness atau kebenaran adalah sesuatu yang terasa benar, bahkan tidak harus didukung oleh fakta (Colbert, 2005). Filsuf Harry Frankfurt berkata, ketika seseorang membual, dia tidak harus berbohong, cukup hanya menunjukan ketidakperdulian terhadap apa yang benar. Post-truth  atau paska kebenaran berkaitan dengan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dari pada perasaan dan kepercayaan pribadi (Oxford Dictionary). Post-truth adalah ketika seseorang berpikir bahwa reaksi orang banyak benar -benar mengubah fakta tentang sebuah kebohongan. Post-truth merupakan suatu bentuk supremasi ideologis, di mana para praktisinya mencoba memaksa seseorang untuk percaya pada sesuatu, apakah ada bukti yang baik untuk itu atau tidak

#PendidikanCahyana
#LiterasiDigital

26 Juli 2022

Menyikapi Netizen Berpenyakit Hati Akut


Setiap permusuhan atau harapan bisa dihilangkan, kecuali permusuhan dari orang yg memusuhimu karena dengki.

Di media sosial kita berbagi konten dan berinteraksi dgn banyak orang. Tdk semua interaksi memberikan pengalaman yg menyenangkan. Ada kalanya kita bertemu dgn netizen yg menderita penyakit kebodohan yg tdk bisa diobati. Contohnya, mereka yg bertahun-tahun menggunakan materi yg sama dan bahkan sudah terbukti hoax utk mengolok-olok seseorang atau sekelompok orang yg dibencinya.

Apabila kita menunjukan kekeliruannya dan mencoba meluruskannya dgn penjelasan yg baik, mereka meresponnya dgn komentar kasar yg menghina dgn niat utk menyakiti, sebagai pertanda kondisi emosinya yg memuncak. Bahkan tdk cukup sampai di sana, mereka menyebut julukan kelompok utk menguatkan bahasa kasarnya tersebut. 

Greenawalt dalam Fighting words: individuals, communities, and liberties of speech menjelaskan bahwa seseorang dapat menyerang orang lain secara psikologis dgn perkataan yg menyinggung saat emosinya sedang memuncak. Ia memilih kata yg paling kasar utk memaksimalkan rasa sakit lawan bicaranya, termasuk menguatkannya dgn julukan kelompok. Tujuannya adalah utk membuat lawan bicaranya merasa direndahkan dan tersakiti, dan mengalami gejala fisiologis dan tekanan emosional mulai dari rasa takut, denyut nadi yg cepat, kesulitan bernafas, mimpi buruk, gangguan stres, hipertensi, psikosis, dan bahkan bunuh diri. Serangan tsb dapat berakibat balasan serangan fisik di dunia nyata.

Cohen-Almagor dalam Taking North American White Supremacist Group Seriously: The Scope and the Challenge of Hate Speech on the Internet mengatakan bahwa orang yg mengembangkan kebencian dapat menemukan pendukung di internet. Itulah sebab kenapa kita menemukan ada banyak netizen yg menyukai sikap buruk tsb dan menyatakan dukungannya dgn memberi tanda suka atau menuliskan komentar dukungan. 

Orang yg memiliki jiwa pengasih, akan merasa kasihan dgn mereka yg tersesatkan oleh hoax dan terjebak pada post truth yg membuatnya lebih menerima hoax yg sejalan dgn emosinya dari pada fakta yg menyalahinya. Ia juga akan merasa kasihan dgn orang yg membuat kesimpulan tanpa pengetahuan karena tdk mau membaca atau melakukan ricek. Orang yg pengasih ini akan menyengajakan diri utk membantu mereka dgn memberikan penjelasan, melakukan kontra ujaran dgn ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ayuhal Walad, jika terjadi permasalahan antara diri mu dgn orang lain atau sekelompok orang, kemudian engkau berkehendak utk menampakan kebenaran dan agar ia tdk hilang, maka boleh membahasnya dgn syarat menerima kebenaran dari siapapun, dan cenderung melakukannya secara private.

Namun bila pembahasan itu berfaidah utk banyak orang, sebaiknya disampaikan di ruang publik agar orang mengetahuinya, menghindari kesalahan mereka, dan ikut serta melakukan kontra ujaran.

Sekalipun kita telah memberikan penjelasan yg mudah difahami, mungkin saja itu tdk bisa memadamkan kebencian mereka, sehingga mereka terus bersikap kasar dan bahkan semakin kasar utk menguatkan rasa sakit kita. Dampak sikap kasar itu minimalnya membuat jantung berdetak lebih kencang. Dalam kondisi demikian, mereka terindikasi mengidap penyakit kebodohan yg tdk bisa diobati.

Menurut Imam al-Ghazali, mereka yg berpenyakit hati akut itu adalah orang yg pertanyaan dan sanggahannya muncul krn hasad dan kebencian. Setiap kali kita menjawabnya dgn jawaban yg paling bagus dan paling jelas, maka itu hanya akan menambah kebencian, permusuhan, dan kedengkiannya. Jalan paling baik hendaklah kita tdk usah repot menjawabnya, berpaling darinya, dan tinggalkan mereka bersama penyakitnya. Allah SWT berfirman, "Maka berpalinglah dari orang yg berpaling dari peringatan Kami, dan tdk mengingini kecuali kehidupan duniawi" (an-Najm [53]: 29)

Isa AS berkata, "Aku bisa menghidupkan orang yg sudah mati, akan tetapi aku tdk bisa mengobati orang yg dungu".

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

24 Juli 2022

Membangun Kolaborasi untuk Pengentasan Buta Digital di Garut


Membantu program pemerintah terkait literasi digital yg bermanfaat bagi masyarakat adalah kewajiban saya selaku pengabdi dan sedekah saya selaku relawan TIK. Pagi itu di Kampung Sampireun ada pertemuan antara Direktur PI (Pemberdayaan Informatika) Kemenkominfo RI dgn tiga kampus di Garut. Pelibatan ketiga kampus tersebut dlm program semacam itu bukanlah kali pertama. Pada tahun 2021, ketiga kampus tersebut saya ikut sertakan dalam kegiatan Gerakan Nasional Literasi Digital dgn memberi kesempatan kepada dosennya sebagai pemateri webinar. Ketiga kampus tersebut memiliki program studi dalam bidang komputasi.

Pertemuan tersebut berawal dari komunikasi digital pada malam hari. Saat itu saya membagikan informasi Kedaireka yg sangat diperhatikan oleh Direktur PI utk menjalankan program literasi digital. Kemudian beliau berniat mengunjungi Garut utk menindaklanjuti pelaksanaan program tsb bersama kampus di Garut yg melaksanakan KKN. Saya menginformasikan ada kampus di Garut yg akan melaksanakan KKN dalam waktu dekat.

Program ini tdk bisa hanya melibatkan ITG, mengingat banyaknya target warga terliterasi digital yg harus dicapai oleh pemerintah bersama perguruan tinggi. Oleh karenanya saya menyarankan kepada beliau utk melibatkan UNIGA. Alhamdulillah rektor UNIGA menyambut baik rencana tersebut.

Bersama ITG, peserta KKN dapat menyasar wilayah utara dan tengah Garut. Namun saya tdk ingin melewatkan wilayah Selatan, sehingga mencoba menghubungi rektor IPI Garut utk mendapatkan informasi KKN. Alhamdulillah, ternyata kampus tsb melaksanakan KKN di wilayah Selatan. Dan Direktur PI sangat setuju melibatkan kampus ketiga yg saya usulkan.

Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya direktur PI menggelar FGD di Garut dgn mengundang ketiga kampus. Pertemuan menyepakati pelaksanaan kegiatan pembekalan pada hari Sabtu utk semua pembimbing dan peserta KKN dari tiga kampus. Kemudian saya diminta oleh tim literasi digital direktorat PI utk menentukan moderator dan narasumber. Saya menawarkannya kepada ketiga kampus melalui kepala LPPM masing-masing kampus.

Saat itu ada yg bertanya, kenapa saya tdk menjadi narasumber atau moderator? Saya jelaskan bila tugas tsb tdk wajib saya emban, dan kebetulan pada hari yg bersamaan saya memiliki janji sebelumnya utk kegiatan lain. Beberapa waktu kemudian ada yg berkata kalau saya mendapatkan insentif dari kegiatan pembekalan. Saya jelaskan bahwa insentif itu berkaitan dgn pelaksanaan tugas, dan saya tdk mengemban tugas apapun.

Fokus saya bukan insentif, tapi bagaimana agar warga Garut terentaskan buta digitalnya, dan bagaimana agar upaya pengentasannya terwujud melalui kolaborasi antar stakeholders yg melibatkan banyak kampus. Saya sangat senang pada akhirnya lebih dari satu kampus dapat melaksanakan program yg sama dlm KKN nya masing-masing. Saya terus membantu direktorat PI utk mewujudkan perjanjian kerjasama tiga kampus di Garut dgn Ditjen APTIKA Kemenkominfo RI, agar kolaborasinya tdk berhenti sebatas KKN.

#BiografiCahyana

22 Juli 2022

Islamophobia atau Extremophobia?

Adakalanya penggunaan istilah #Islamophobia oleh sebagian kalangan itu merupakan generalisasi keliru. Secara teks bermakna "takut Islam", padahal yg ditakuti oleh mereka yg dituduh Islamophobia itu hanya "pemahaman Islam politis yg ekstrem ala Khawarij". Mungkin lebih tepatnya bukan Islamophobia, tapi extremophobia atau istilah lain yg lebih tepat. 

Generalisasi keliru lainnya misal klaim serangan terhadap "umat Islam", padahal hanya terhadap kelompok tertentu. Maksud generalisasi semacam itu adalah utk menghasut agar ada dukungan kpd kelompoknya. Cara berfikir rancu seperti ini biasanya krn pengaruh ekslusivisme. 

Contoh ajaran agama yg menganut ekslusivisme: seseorang bisa mengucilkan atau menyebut muslim di luar kelompoknya sebagai kafir atau ahli neraka hanya krn beda pemahaman keagamaan. Bahkan ajaran tsb dapat memicu kekerasan fisik hingga genosida, menumpahkan darah saudara seagama sendiri. Tidak mengherankan bila korban terbesar khilafah Baghdadi aka ISIS adalah kalangan muslim. Sangat wajar bila ada masyarakat Islam dan selainnya yg phobia terhadap model Islam ekstrem seperti itu. 

#PersepsiCahyana