Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

26 Juli 2022

Menyikapi Netizen Berpenyakit Hati Akut


Setiap permusuhan atau harapan bisa dihilangkan, kecuali permusuhan dari orang yg memusuhimu karena dengki.

Di media sosial kita berbagi konten dan berinteraksi dgn banyak orang. Tdk semua interaksi memberikan pengalaman yg menyenangkan. Ada kalanya kita bertemu dgn netizen yg menderita penyakit kebodohan yg tdk bisa diobati. Contohnya, mereka yg bertahun-tahun menggunakan materi yg sama dan bahkan sudah terbukti hoax utk mengolok-olok seseorang atau sekelompok orang yg dibencinya.

Apabila kita menunjukan kekeliruannya dan mencoba meluruskannya dgn penjelasan yg baik, mereka meresponnya dgn komentar kasar yg menghina dgn niat utk menyakiti, sebagai pertanda kondisi emosinya yg memuncak. Bahkan tdk cukup sampai di sana, mereka menyebut julukan kelompok utk menguatkan bahasa kasarnya tersebut. 

Greenawalt dalam Fighting words: individuals, communities, and liberties of speech menjelaskan bahwa seseorang dapat menyerang orang lain secara psikologis dgn perkataan yg menyinggung saat emosinya sedang memuncak. Ia memilih kata yg paling kasar utk memaksimalkan rasa sakit lawan bicaranya, termasuk menguatkannya dgn julukan kelompok. Tujuannya adalah utk membuat lawan bicaranya merasa direndahkan dan tersakiti, dan mengalami gejala fisiologis dan tekanan emosional mulai dari rasa takut, denyut nadi yg cepat, kesulitan bernafas, mimpi buruk, gangguan stres, hipertensi, psikosis, dan bahkan bunuh diri. Serangan tsb dapat berakibat balasan serangan fisik di dunia nyata.

Cohen-Almagor dalam Taking North American White Supremacist Group Seriously: The Scope and the Challenge of Hate Speech on the Internet mengatakan bahwa orang yg mengembangkan kebencian dapat menemukan pendukung di internet. Itulah sebab kenapa kita menemukan ada banyak netizen yg menyukai sikap buruk tsb dan menyatakan dukungannya dgn memberi tanda suka atau menuliskan komentar dukungan. 

Orang yg memiliki jiwa pengasih, akan merasa kasihan dgn mereka yg tersesatkan oleh hoax dan terjebak pada post truth yg membuatnya lebih menerima hoax yg sejalan dgn emosinya dari pada fakta yg menyalahinya. Ia juga akan merasa kasihan dgn orang yg membuat kesimpulan tanpa pengetahuan karena tdk mau membaca atau melakukan ricek. Orang yg pengasih ini akan menyengajakan diri utk membantu mereka dgn memberikan penjelasan, melakukan kontra ujaran dgn ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ayuhal Walad, jika terjadi permasalahan antara diri mu dgn orang lain atau sekelompok orang, kemudian engkau berkehendak utk menampakan kebenaran dan agar ia tdk hilang, maka boleh membahasnya dgn syarat menerima kebenaran dari siapapun, dan cenderung melakukannya secara private.

Namun bila pembahasan itu berfaidah utk banyak orang, sebaiknya disampaikan di ruang publik agar orang mengetahuinya, menghindari kesalahan mereka, dan ikut serta melakukan kontra ujaran.

Sekalipun kita telah memberikan penjelasan yg mudah difahami, mungkin saja itu tdk bisa memadamkan kebencian mereka, sehingga mereka terus bersikap kasar dan bahkan semakin kasar utk menguatkan rasa sakit kita. Dampak sikap kasar itu minimalnya membuat jantung berdetak lebih kencang. Dalam kondisi demikian, mereka terindikasi mengidap penyakit kebodohan yg tdk bisa diobati.

Menurut Imam al-Ghazali, mereka yg berpenyakit hati akut itu adalah orang yg pertanyaan dan sanggahannya muncul krn hasad dan kebencian. Setiap kali kita menjawabnya dgn jawaban yg paling bagus dan paling jelas, maka itu hanya akan menambah kebencian, permusuhan, dan kedengkiannya. Jalan paling baik hendaklah kita tdk usah repot menjawabnya, berpaling darinya, dan tinggalkan mereka bersama penyakitnya. Allah SWT berfirman, "Maka berpalinglah dari orang yg berpaling dari peringatan Kami, dan tdk mengingini kecuali kehidupan duniawi" (an-Najm [53]: 29)

Isa AS berkata, "Aku bisa menghidupkan orang yg sudah mati, akan tetapi aku tdk bisa mengobati orang yg dungu".

#PersepsiCahyana
#LiterasiDigital

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya